Hyper Boy

 

pic-7

Cr. Kyoung

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena – Joon

⌈ AU │ Oneshoot ⌋

⌈ PG – 17 ⌋

⌈ GENRE ⌋

Romance, Family

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

Queensera©2016

Sena mengusap peluh yang ada didahinya. Matanya menatap lelah kearah bocah cilik berusia tiga tahun yang sedang sibuk dengan lego. Bibir mungilnya tak berhenti menyanyikan sebuah lagu yang dia yakini orang-orang akan beranggapan anak itu sedang menyanyikan lagu dengan bahasa alien.

Sena kembali mendekat kearah anak lelaki tersebut. Setelah tadi berkeliling mengikuti kemana saja anaknya itu berkeliaran dirumah besar mereka, akhirnya dia berakhir disini lagi—ruang keluarga yang penuh dengan banyak mainan. Dengan perlahan wanita itu menyimpuhkan kaki jenjangnya agar bisa menyamai tubuh kecil itu. “Ayoo dimakan dulu. Memangnya Joon tidak lapar?” mencoba lagi mencari perhatian dari anaknya tersebut, Sena menyodorkan sendok kearahnya, namun hasilnya tetap sama bocah itu tetap menggelengkan kepalanya dan masih sibuk ‘sendiri’ dengan dunianya.

Menghela nafas lelah, Sena menyentakkan mangkuk kecil ditangannya itu pada meja kayu yang ada disana. Matanya menyipit frustasi, melihat anaknya yang benar-benar tidak tertarik pada hal disekelilingnya kecuali mainannya. Memikirkan cara apa lagi yang harus digunakan agar ada nasi yang bisa masuk kedalam perut bocah itu. Sena mungkin tidak akan sefrustasi ini jika Joon sudah memasukan makanan ‘pasti’ pada lambungnya namun sayangnya sejak tadi siang bocah itu terus mengelak untuk makan. Sedangkan ini sudah hampir pukul lima sore. Jadi, bayangkan saja bagaimana resahnya Sena menghadapi bocah tiga tahun tersebut.

“Oh lihat! Apa yang sedang dilakukan Choco disana?” dengan suara yang dibuat-buat, Sena mencoba untuk menraik perhatian Joon. Telinga Joon yang pada dasarnya memang sangat sensitif terhadap anjing kecil betina berbulu cokelat keemasan itu, langsung menolehkan kepalanya kearah yang menjadi objek pandang Sena. Well, Choco—anjing peliharaan kesayangan Kakaknya memang memiliki pengaruh lebih besar terhadap Joon dibanding dengan dirinya sendiri maupun Kyuhyun. Dia sendiri tak mengerti, bagaimana bisa Joon memiliki ketertarikan tersendiri pada salah satu makhluk ciptaan Tuhan tersebut padahal dia dan Kyuhyun sama sekali tak menyukai hewan. A-pa-pun. Mungkin ini faktor dari Pamannya.

Joon berlari kearah Choco, melihat lebih dekat apa yang dilakukan oleh anjing itu. Dengan sudut bibir yang tertarik keatas, Sena langsung menyambar mangkuk kecil berisi makanan Joon tadi lalu bergegas menyusul anaknya tersebut.

“Whoaah.. Choco sedang makan ternyata—“ wanita itu melirik Joon yang sesekali mengelus bulu halus Choco, mengajak bicara hewan kesayangnnya berbicara dengan bahasa aliennya. “Kalau begitu Joon juga harus makan ya?” tangan Sena sudah ingin menyuap namun Joon lagi-lagi menolak, “Nooo~” katanya dengan bibir yang ditipiskan dan tangan mungilnya yang mencoba menghalau pergerakan tangan Sena.

“Kenapa?” desah Sena.

Syilow!

“Joon harus makan, Sayang… Lihat Choco— Okay?”

Joon tetap menggeleng bahkan kini bocah itu sudah berpindah tempat, agar memiliki jarak yang sedikit jauh dari Sena.

Sena mendesah lagi. Dia bingung harus bagaimana. Biasanya ada Bibi Nam yang bisa membantu membujuk Joon jika sudah seperti ini. Rasanya ingin dibiarkan saja Joon tidak makan, tapi dia juga tidak mau ada masalah dengan pencernaan bocah itu.

“Hhh… kenapa kau suka sekali membuat Ibu frustasi Hyun-Joon-ah~” Sena mendesah frustasi. Tangannya terangkat untuk mengusap wajahnya. Kemudian dia berdiri dari posisi jongkoknya.

“Apa yang kau lakukan disana?” Suara seseorang yang mengejutkannya membuat dia langsung menoleh kebelakang.

“Ah Cho Kyuhyun!” Teriaknya begitu mendapati Ayah dari bocah yang sedari tadi tak mau dibujuk makan, sedang berjalan kearahnya sambil melepaskan kancing lengan kemejanya lalu menggulung kemeja putih itu sampai siku.

Alis Kyuhyun mengernyit ketika retinanya menangkap raut wajah Sena yang seakan baru saja terlepas dari ikatan tali yang mencekik lehernya. Begitu lega. Disana, dia lihat juga putranya sedang bermain dengan Choco. Mengajak hewan itu berbicara yang dia sendiri tak mengerti apa yang dua makhluk berbeda jenis itu bicarakan.

Sena pikir kehadiran Kyuhyun bisa membantunya membujuk Joon untuk makan. Well, pria itu memang memilki potensi lebih besar dibanding dengan dirinya jika menyangkut Joon. Dengan kata lain, Joon lebih mudah terayu oleh Kyuhyun.

Langkah kakinya, Kyuhyun rajut untuk menuju bocah ciliki itu. “Hai, Boy!” Joon yang merasakan adanya sapuan dikepalanya menoleh kearah Kyuhyun, detik selanjutnya bocah yang tingginya hanya mencapai setengah paha Kyuhyun itu memekik hebat, menggemakan kalimat “Ayah!”— seperti sudah lama sekali dia tak bertemu dengan Kyuhyun, padahal hanya beberapa jam saja mereka berpisah. Tak menghiraukan Choco lagi, Joon langsung memeluk leher Kyuhyun yang memang sedang berjongkok dibelakangmya—untuk minta digendong.

Dengan tangan kirinya, Kyuhyun dengan sigap menyanggga pantat mungil itu untuk digendongnya. Kemudian menciumi seluruh permukaan wajah dan leher putranya itu hingga terdengar suara kikikan geli dari bibir imut tersebut. Drama sekali ya? Well, itu memang kebiasan Kyuhyun jika sudah bertemu dengan Joon setelah pulang kantor. Selain menyukai aroma istrinya, menurut Kyuhyun membaumi aroma Hyun-Joon juga merupakan salah satu hobinya.

Sena mendesis sinis, kemudian berdecak. Tak mau memedulikan, dia berjalan ketempat dimana mainan-mainan Joon berserakan. Anak dan Ayah tersebut memang terlampau akrab. Aneh kan? Lebih tepatnya, putranya itu aneh. Biasanya, anak lelaki itu lebih dekat dengan Ibunya tapi berbeda dengan Joon, entah mengapa Sena merasa Joon lebih manja pada Ayahnya ketimbang dengan Ibunya. Bukan hanya itu, Joon juga seperti anti terhadap wanita. Dia—sangat pemilih terhadap makhluk berjenis kelamin wanita, kalau tidak dia kenal maka dia tak akan mau untuk sekadar diajak jalan-jalan oleh para wanita tersebut. Namun, mudah sekali untuk diajak atau dirayu oleh kerabat maupun teman lelaki Kyuhyun dan Sena. Percaya tidak percaya, Joon akan langsung terbuka terhadap semua makhluk yang berjenis kelamin laki-laki. Intinya seperti itu. Mengingat itu, Sena bergidik ngeri. Mudah-mudahan saja anaknya itu tak mengidap kelainan.

Kyuhyun memutar tubuh kearahnya, dia berjalan mendekati Sena yang sedang membereskan mainan putranya dengan Joon yang masih berada di gendongannya. “Tadi Hyukjae Hyung kesini?” Tanyanya sambil mengunyah sebuah biscuit cokelat yang dia temukan diatas meja. Entah bersih atau tidak, masa bodoh.

Sena mengangguk. “Tapi nanti dia balik lagi, makanya Choco ada disini”

Uh? Oh iya.. pantas saja ada hewan itu dirumahnya. “Memang kemana dia?” Tanyanya lagi. Kali ini sudah duduk diatas sofa marun, mengistirahatkan tubuhnya disana. Tetap dengan Joon yang masih berada dalam pelukannya. Tangannya yang lain mengusap-usap halus punggung mungil itu. Hah, Joon memang manja padanya. Dan sepertinya bocah itu kelihatan lelah setelah bermain.

Mengedikkan bahu Sena menjawab “Entahlah.. tadi sih dia bilang akan kembali lagi kesi—Yah Cho Kyuhyun! Jangan seperti itu, nanti dia malah tertidur!” Sungut Sena saat fokusnya melihat Kyuhyun sedang mencoba menidurkan putranya. “Biar sajalah~ lelah sekali sepertinya anak ini” Jemarinya dia gunakan untuk menjawil-jawil pipi Hyun-Joon yang memang ‘penuh’.

Sena mendelik kesal “Tsk. Dia belum makan Kyu!”

“Ini kan memang belum jadwalnya makan malam”

“Bukan itu! Lagipula Joon ingin kumandikan dulu” Sena berjalan kearah sofa. Lalu ikut menjatuhkan tubuhnya disamping Kyuhyun.

“Dia belum memakan apapun hari ini selain makanan-makanan itu!” telunjuk lentiknya Sena arahkan pada beberapa bungkus makanan ringan yang memang dikhususkan untuk seorang batita. Mata Kyuhyun menyipit, belum memakan apapun? Maksudnya? Dengan kedua alis yang terangkat keatas, Kyuhyun meminta penjelasan pada Sena. “Tsk. Aku tidak tau ada apa dengan dia hari ini. Tapi dia sulit sekali disuruh makan. Kau lihat itu—“ dagunya mengarah pada mangkuk kecil yang  tergeletak dibiarkan begitu saja diatas nakas. “Hah… aku bingung barus bagaimana lagi. Anakmu ini sangat hyper, berlari kesana-kemari tanpa peduli Ibu-nya yang kelelahan karena terus menerus mengikutinya! Sudah ku bujuk berkali-kali tetap saja tidak menghiraukan. Kupikir kau bisa membantu, tapi malah—” Bibir Sena mengerucut, kepalanya dia sandarkan pada bahu Kyuhyun sedangkan tangannya ikut mengusap kepala bocah yang sudah tertidur dipelukan ayahnya tersebut.

“Kau mengikutinya berlari-lari?” Tanya Kyuhyun skeptis. Pria itu lantas menggenggam tangan Sena yang masih mengusap kepala Joon. “Kau harus lebih hati-hati, Sena. Jangan terlalu lelah, ada nyawa lain didalam perutmu. Kalau kau kenapa-kenapa bagaimana?” lanjutnya lagi.

Ya memang, saat ini Sena tengah hamil dua bulan anak kedua mereka. Kyuhyun selalu mewanti-wanti Sena agar lebih peka terhadap sekelilingnya. Apalagi saat ini sampai minggu depan tidak ada Bibi Nam, jadi perhatian wanita itu juga sepenuhnya terbagi pada Joon dan anak yang saat ini dia kandung.

Sena menghela nafas, “Harusnya kau bicara pada bocah ini ‘Jangan membuat Ibu cemas. Jangan membuat Ibu kelelahan. Ada adik bayinya didalam perut Ibu yang harus dijaga’ seperti itu” dia menatap Kyuhyun dengan dua sudut bibirnya tertarik keatas walau senyum itu tak sampai matanya. Kyuhyun memandang Sena, kemudian menggeleng pelan. Secepat kilat istrinya itu mengecup lepas bibir Kyuhyun. Well, Kyuhyun akui kehamilan Sena yang kedua ini memang sedikit banyak membuat wanita itu manja terhadapnya atau bertingkah lebih normal dibanding waktu dia hamil Hyun-Joon.

Kyuhyun sendiri tak percaya bahwa wanita sinis, galak, dan super manja yang dia kencani lima tahun lalu dan sudah ia perisitri kurang lebih selama empat tahun ini bisa menjelma menjadi seorang Ibu yang pengertian untuk anak-anaknya. Setelah memiliki Hyun-Joon, Sena memang sedikit demi sedikit mengurangi kesinisannya tersebut. Itu merupakan suatu anugerah bagi Kyuhyun—eh tidak, dengan atau tanpa kesinisan yang wanita itu miliki, Kyuhyun tetap tidak bisa untuk tidak selalu berada disisinya. Yah.. Kyuhyun sangat cinta mati pada wanita ini.

“Hhh.. mau bagaimana lagi? Dia sudah tertidur. Baiklah Ayah.. sekarang, bawa Joon kekamar. Okay?” Sena berdiri dari duduknya, dia merapikan ikatan rambutnya yang memang sedikit berantakan kemudian berjalan menjauh dari ruang keluarga menuju dapur. “Hari ini kita akan pesan apa untuk makan malam?” Teriaknya ketika jaraknya dengan Kyuhyun sudah menjauh.

“Terserahmu saja!” balasnya dengan sedikit berteriak mengingat Joon sekarang ada didalam dekapannya.

Selagi Sena yang akan mengurus keperluan makan malam mereka, Kyuhyun melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar Hyun-Joon.

Kyuhyun meletakkan Hyun-Joon diatas kasur yang berseprai visual penguin kecil berwarna biru—Pororo. Dengan hati-hati dia membenarkan letak selimut Joon kemudian mengecup dahi putranya tersebut. “Sleep Well, Boy~

.

Hyper Boy

.

Malam sudah menunjukkan pukul tujuh. Setelah membersihkan diri selepas menidurkan Joon, Kyuhyun langsung beranjak kelantai bawah sekadar untuk membantu istrinya itu menyiapkan makan malam—walau hanya makanan delivery, sekaligus juga bertujuan untuk memiliki waktu berdua saja. Mengingat quality time mereka berdua, sudah jarang mereka miliki. Kyuhyun sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Sena sibuk mengurusi Joon. Ditambah, beberapa bulan lagi mereka akan ‘kehadiran’ Cho yang lainnya.

Semenjak Joon lahir, Kyuhyun bukanlah lagi proritas Sena. Istrinya itu, lebih senang menghabiskan waktu dengan anaknya dibanding dengannya. Walau kenyataannya, Joon memang lebih menempel padanya. Well—pesona Cho Kyuhyun setelah menjadi Ayah, tidak hilang begitu saja kan?

“Katamu si monyet bergusi berlebihan itu akan datang, kenapa sampai saat ini baunya belum tercium juga?”

Sena hampir saja tersedak dengan makanannya sendiri ketika mendengar ucapan Kyuhyun jika saja ia tidak segera mengambil air mineral untuk membantu mendorong makanannya itu ke dalam tenggorokannya. “Dia Oppa-ku Cho Kyuhyun, sopan sedikit kenapa sih!” sinisnya.

Kyuhyun terkekeh, setelah selesai dengan suapan terakhirnya dia lalu menatap Sena yang memberengut. “Gusinya itu memang berlebihan kan? Wajahnya juga sebelas duabelas dengan hewan khas Indonesia itu. Badannya juga lumayan bau. Akui sajalah..”

Mau tak mau Sena ikut terkekeh. Well—itulah ‘kelebihan’ Kakaknya, pria itu memang memilki ciri khas tersendiri yang bisa membedakan dirinya dengan keadaan orang lain pada umumnya. Eh tunggu—Setiap manusia memang memiliki ciri khas, kan? Oh salah, lebih tepatnya Lee Hyukjae bukan manusia melainkan pria itu adalah siluman. Setengah manusia, setengah monyet berikut dengan tingkahnya yang hyper. Walupun dia sering sekali di bully oleh Kyuhyun dan Kakak Sepupunya—Lee Donghae tapi dia tidak pernah marah. Lee Hyukjae memang berjiwa besar, Kakaknya itu hampir tidak pernah menunjukkan kemarahannya didepan orang lain. Wajahnya yang Kyuhyun sebut tadi sebelas duabelas dengan hewan khas Indonesia itu, menurut dia adalah assetnya karena, dengan wajah seperti itu, katanya dia bisa menghibur banyak orang. Dan jangan lupakan gusinya yang overdosis, itu menambah ke-menawan-nan seyumnya. Baiklah, walau itu hanya selentingan teori tak bermakna versi Lee Hyukjae yang tidak bisa diterima oleh nalar tapi Sena mengakuinya juga sih.

“Omong-omong, Lee Hyukjae itu lebih manly jika dibandingkan denganmu Kyuhyun~ dia juga lebih seksi, kau lihat tidak bagaimana biceps-nya?” Sena menaik-turunkan alisnya disertai satu buah smirk yang dia tujukan pada Kyuhyun, biar bagaimanapun sebagai seorang adik dia juga tetap harus membela Kakak-nya kan? Kalau Lee Hyukjae menurut Kyuhyun dan Donghae itu jelek, apa kabar dengan dirinya?

Kyuhyun menghelakan nafasnya, punggungnya dia sandarkan pada punggung kursi. Dengan sebelah alis yang dia naikkan keatas, dia berkata “Kau mau membahas tentang keseksian? Perlu kuingatkan tidak bagaimana mulutmu berucap ketika aku berada diatasmu, hm?”

Sena mengerjap. Sialan sekali Cho Kyuhyun! benar-benar sialan!

“Ahh—Kyuh-hyun.. k-kau—h”

“Yak!! Dasar sinting!” Sena melempar wajah Kyuhyun dengan serbet kemudian langsung bergegas berdiri dari duduknya. Untuk apa pria itu membahas tentang mereka diatas ranjang? Menggelikan.

Hei, Sena akui sajalah—Kyuhyun memang terlihat seksi saat bergairah kan? Kau sendiri yang mengatakannya. Tapi tidak perlu dibahas disini kan? Kyuhyun yang melihat semburat merah dikedua pipi istrinya yang menahan malu hanya tertawa keras. Hanya beberapa saat, kemudian setelah itu dalam sekejap dia langsung menghentikan tawanya begitu melihat Sena yang akan pergi.

Tangannya dengan cekatan meraih pergelangan Sena. “Kau mau kemana?”

“Kemana saja asal tidak melihat wajahmu!” alis Kyuhyun berjengit, dia menatap makanan yang berada diatas piring Sena kemudian menatap lagi wajah wanitanya yang masih memberengut seperti pantat panci, “Habiskan dulu makananmu—“

“Sudah tidak nafsu!”

“Baiklah.. baiklah.. aku minta maaf, tapi tolong habiskan makananmu,” tsk, Cho Kyuhyun bodoh! Bagaimana bisa dia lupa jika wanita hamil itu sangat sensitive? Padahal maksudnya tadi hanya ingin menggoda saja tanpa bertujuan lain membuat istrinya ini merasa kesal. “Kau baru makan sedikit, Sena. Jadi habiskan dulu, eo?” lanjutnya lagi dengan nada memohon.

Sena melirik makanannya, dia memang kesal saat Kyuhyun tadi menggodanya tapi dia juga sudah tidak nafsu makan lagi bahkan sebelum memulai makan malamnya. “Tapi—aku sudah kenyang, Kyuhyun-ah”

Kyuhyun menatap Sena dengan pandangan bertanya. Kenyang? Apanya yang kenyang jika makanan yang masuk dalam mulut wanita itu hanya tiga sendok? Tadi, Kyuhyun memang sempat memerhatikan cara wanita itu memasukan makanannya dan yang dia lihat memang hanya tiga sendok yang Sena suap.

“Sungguh—“

“Tidak. Habiskan makananmu dulu, baru boleh pergi.” Ungkap Kyuhyun tegas tanpa bantahan. Dia menuntun Sena untuk duduk lagi ditempatnya sedangkan dia sendiri yang sudah menyelesaikan makan malamnya kini duduk disamping wanita itu.

“Tapi aku benar-benar sudah kenyang!”

Kyuhyun tau selain sensitf, wanita hamil juga memiliki nafsu makan yang berubah-ubah. Dan Kyuhyun—biar bagaimanapun tidak teganya melihat raut wajah Sena yang sudah memelas, tidak memilki toleransi untuk itu. Demi Tuhan, bukan  hanya Sena saja yang membutuhkan makan tapi janin yang ada didalam perut Sena juga membutuhkannya. “Sena—please..” katanya dengan suara rendah.

“Kau sendiri tadi yang meminta risotto ‘kan? Aku-mohon-habiskan” kata-katanya memang memohon tapi kalimat yang keluar dari bibir tebal Cho Kyuhyun itu tidak lebih dari sebuah paksaan.

Sena menghela nafas. Dia harus bagaimana? Dia benar-benar tidak bisa menghabiskan makanan ini. Perutnya terasa penuh tiba-tiba, kalaupun dipaksakan dia yakin akan muntah nantinya. Dia melihat kedalam mata Kyuhyun lagi—menyampaikan pesan dengan mata yang benar-benar memelas bahwa dia benar-benar tidak bisa menghabiskannya lagi. Memang, tadi dia yang merengek meminta pesan risotto saja sebagai menu makan malamnya, tapi untuk sekarang—

Kyuhyun menggeleng, “Makan, Sena. Kau harus makan yang banyak, jangan egois,” dia mengambil satu sendok risotto, lalu menyuapkan sendok itu didepan mulut Sena. Jika wanita itu tidak bergerak juga untuk berinisiatif mengambil sendoknya maka biarkan dia yang menyuapi wanita itu.  “Didalam perutmu ada yang membutuhkan asupan makanan. Ada yang membutuhkan nutrisi, kau paham itu kan? Kau tadi hampir frustasi bagaimana Joon yang tidak mau menghiraukanmu, kau tau betul rasanya frustasi itu seperti apa dan bagaimana. Kalau aku boleh egois, jangan buat aku merasakan hal yang sama denganmu tadi. Cukup Joon saja. Kalau kau keras kepala begini, tidak ada bedanya kau dengan anakmu yang berusia tiga tahun itu.” tambah Kyuhyun pedas lagi panjang-lebar. Mau tidak mau, Sena akhirnya membuka mulutnya menerima suapan dari Kyuhyun.

Dia mengunyah makanan itu dengan setengah hati. Dia sungguh tidak suka dengan sikap Kyuhyun yang seperti ini. Mendominasi. Jadi dia tidak punya pilihan lain kan kalau seperti ini? Baru dua suap yang Sena terima, suara Joon yang menangis keras terdengar begitu saja ditelinga dua orang tua muda tersebut. Mereka saling berpandangan, Joon terbangun?

Dengan bergegas tanpa menghiraukan tangan Kyuhyun yang terulur untuk menyuapinya, Sena berlari menyusuri tangga yang mengantarkannya kelantai dua tempat dimana kamar Joon berada. Kyuhyun yang melihat itu mendesis keras, “Jangan berlari Sena!” teriaknya. “Aish—wanita itu benar-benar” selanjutnya ia membereskan sisa makanan yang ada diatas meja kemudian pergi menyusul Sena.

“Ya Tuhan, Hyun-Joon!!” teriakan Sena yang baru saja tertangkap oleh indra pendegarannya membuat Kyuhyun seketika berlari dengan langkah-langkah lebarnya.

Sesampainya diambang pintu kamar putranya,d ia melihat Sena yang sedang berjongkok disamping tempat tidur Joon dengan keadaan anak itu yang terlentang. Sena berusaha mengangkat tubuh Joon untuk berada didalam gendongannya.

Kyuhyun yang melihat itu, langsung menarik Hyun-Joon dalam dekapannya. Dia tidak akan membiarkan Sena yang sedang hamil muda itu untuk menanggung beban dari beratnya tubuh Joon. Hyun-Joon masih menangis keras. Tangannya dia gunakan untuk mengusap punggung anak itu, sedangkan matanya menatap mata Sena yang khawatir. Meminta penjelasan.

“Aku tidak tau—tadi saat aku baru memasuki kamarnya aku menemukan Joon yang sudah tergeletak diatas lantai…” Sena mengusap air mata Joon. Dengan tangannya yang lain dia menyentuh kepala belakang Joon. Mudah-mudahan saja bagian itu tidak apa-apa.

Kyuhyun ingat, tadi saat dia menidurkan Joon dia sudah meletakkan anak itu ditengah-tengah tempat tidur mini-size tersebut. Bagaimana anak itu bisa berakhir dengan jatuh seperti ini? Dia juga paham betul, Joon saat tidur tidak pernah santai. Jadi sebenarnya gaya apa saja yang dilakukan anaknya hingga bisa terjatuh?

“Sssh..” Kyuhyun mencoba menenangkan Joon.

“Ibu—“ rengeknya begitu melihat Sena. Tangannya terulur, meminta untuk digendong oleh wanita itu. Sena yang mengerti sudah akan menyambut uluran Joon ketika Kyuhyun bersuara, “Dengan Ayah saja, eo?”

“Ibu..” tubuh Joon sudah menggeliat meminta dilepaskan dari dekapan Kyuhyun. Joon memang lebih manja dan lebih dekat dengan Kyuhyun tapi tetap saja jika sudah menangis seperti ini maka hanya Sena yang ia butuhkan. Dekapan Ibu lebih hangat dibanding Ayah.

Tangisannya semakin tersedu-sedu ketika Sena tak juga mengambilnya dari Kyuhyun.

Sena meringis, merasa tak tega. “Biar Ibu saja, Ayah.” satu hal yang perlu diketahui, Kyuhyun dan Sena akan memanggil masing-masing dengan sebutan yang Joon sematkan. Mereka sepakat untuk menghilangkan kata Aku-Kau dan menggantikannya dengan Ayah-Ibu jika sedang berbicara dengan Joon yang diantara mereka.

Dengan berat hati Kyuhyun menyerahkan Joon pada Sena. Anak itu langsung memeluk leher Sena dengan begitu erat dan menyandarkan kepalanya dibahu Ibu-nya tersebut.

“Apa tidak apa-apa dengan kepalanya?” tanyanya yang sama sekali tak bisa menghindari nada khawatir dalam suaranya. Kyuhyun mendesah, mencoba berpikiran baik karena dia sendiripun tidak tau bagaimana tapi ia menjawab pertanyaan Sena dengan lugas, “Tidak apa-apa. Dia tidak akan apa-apa, jangan khawatir,” Sena mengangguk kemudian membawa Joon yang masih dalam gendongannya menuju ruang tamu.

Tangisan Joon sudah tidak sekeras tadi, tapi anak itu terus merengek. Mungkin kepalanya masih terasa sakit, atau mungkin tubuhnya juga. Bagaimana tidak, dia terjatuh dari ketinggian sekitar satu meter dengan keadaan yang masih terlelap. Pastinya Joon kaget sekali.

“Duduk dulu disana, biar aku obati.” Kata Kyuhyun dari balik punggungnya kemudian tangannya menujuk sofa. Sena menuruti perintah Kyuhyun, dia mendudukan pantatnya di atas sofa tersebut.

Kyuhyun menumpahkan minyak pada telapak tangannya, kemudian mengusap kepala Joon dengan minyak tersebut. Joon berteriak, tangisannya yang tadi sudah mulai mereda kini keras kembali ketika tangan Kyuhyun menyentuh bagian kepalanya yang terasa berdenyut itu. Kyuhyun merasakan adanya benjolan disana.

“Pelan-pelan, Ayah” ungkap Sena selagi membenarkan tubuh Joon dalam pangkuannya. “Sssh.. tidak apa-apa, Sayang.. tidak apa-apa”

“Apphoh—“ dengan suaranya yang tak jelas, Joon mencoba mengadu pada Sena.

“Appo?”

“Ck. Dasar cengeng!” ejek Kyuhyun namun juga tak tega. Bibirnya mengeluarkan kekehan kecil menyadari Joon benar-benar manja pada Sena jika seperti ini.

Bunyi bel yang ditekan dua kali, mengalihkan perhatian Kyuhyun dan Sena. Kyuhyun memandang Sena dengan alis berkerut. “Mungkin Hyukjae Oppa?” balasnya. Dengan malas Kyuhyun beranjak dari duduknya kemudia pergi menuju pintu depan. Dari intercom, sia melihat memang ada Lee Hyukjae dari balik pintu.

“Hai, Cho!” sapanya dengan senyum mahalebar begitu Kyuhyun membukakan pintu. Jangan lupakan gusinya yang berlebihan itu yang Lee Hyukjae pamerkan. Ew! Membuatnya geli saja. “Datang juga kau akhirnya,” sahut Kyuhyun.

“Oh jadi kau menungguku?” tanyanya dengan kerlingan mata menggoda Kyuhyun. Kyuhyun mendelik tak suka, apa-apaan Kakak Ipar-nya ini? Menjijikan. Apa Eunso sudah tidak mengurusnya lagi?

“Yaa aku menunggumu untuk menjemput si cokelat tua itu!” balas Kyuhyun sarkas. Coklat tua? Ya, maksudnya adalah hewan peliharaan Lee Hyukjae yang berbulu warna cokelat dan memiliki umur tua. Tiga belas tahun, terlalu tua untuk usia hewan bukan?

“Eiiish.. Kau ini! Oh, Joon—? Kenapa dia?” begitu mendapati Joon yang menangis sesenggukan dalam pangkuan Sena, Hyukjae langsung bergegas menghampirinya. “ada apa dengannya?” tanyanya lagi ketika sudah duduk disamping Sena.

“Jatuh dari tempat tidur!” sahut Kyuhyun kemudian menjatuhkan tubuhnya disana juga.

Hyukjae mendelik tak percaya. Bagaimana bisa? Tangannya terulur untuk menyentuh kepala bagian belakan Joon. Tapi yang dia dapati malah teriakan Joon. Membuat Kyuhyun dan Sena ikut memandangnya tajam. “E-eo? Kenapa? Ada apa?” tanyanya panik. “Aku saja tidak berani menyentuh kepalanya, kau malah menyentuhnya Oppa!” jerit Sena tertahan.

“Ada benjolan disana, itu membuatnya nyeri jika disentuh Bodoh!” tambah Kyuhyun.

“Apa?! Eiish.. aku mana tau! Eo—maaf Joon-ah, maaf Paman tidak tahu” Hyukjae mendesah, “Kenapa tidak dibawa kerumah sakit saja sih?” tanyanya lagi. Demi tuhan, kalau ada apa-apa dengan keponakannya ini bagaimana? Joon masih sangat kecil, ini pasti rentan untuk anak seumurannya.

“Aku juga berpikiran seperti itu~” jawab Sena dengan suara lirih, tangannya mengusap lembut punggung Joon.

“Kalau begitu apalagi? Ayo kita bawa saja kesana,” ungkap Hyukjae menggebu-gebu. Ya, untuk urusan anak-anak Hyukjae memang tidak pernah main-main. Tubuhnya sudah akan beranjak dari sana ketika suara Kyuhyun menginterupsi. “Tidak akan ada apa-apa, Hyung. Besok pasti juga sudah membaik.”

Kyuhyun bukannya tidak mau membawa anaknya itu untuk diperiksakan ke dokter atau rumah sakit—yang pastinya bisa menangani lebih baik. Kyuhyun hanya tidak mau Sena terus-terusan khwatir mengingat kondisinya juga bisa lebih mengkhawatirkan. Dokter maupun rumah sakit mengindikasikan bahwa si pasien benar-benar membutuhkan pertolongan. Sedangkan menurut Kyuhyun, Joon akan baik-baik saja tanpa harus dibawa kesana. Dia yakin itu. Dia juga tak mau membuat Sena stress nantinya.

“Tck, tidak apa-apa bagaimana? Kalau ternyata memang ada apa-apa dengan anakmu bagaimana, hm? Dia masih kecil Cho Kyuhyun—aku khawatir—“

“Percaya padaku, Hyung.”

“Ah, begini saja. Bagaimana jika kita panggilkan dokter saja kesini?”

Kyuhyun terdiam.

Well, ini memang keputusan yang lebih baik. Daripada dia harus kerumah sakit atau mengunjungi Dokter, Sena pasti akan meminta ikut dan tidak mau untuk tetap tinggal dirumah. Kyuhyun melihat tatapan Sena yang teruju padanya—seperti memohon. Lihat kan? Wanita itu pasti akan memohon padanya jika menyangkut Joon. Dia menghela nafas, kemudian mengangguk mengiyakan saran Lee Hyukjae. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga dia tidak berpikiran seperti ini dari tadi?

Setelah menghubungi dokter Kim, dokter pribadi keluarga Lee—keluarga istrinya, dan Joon juga sudah mendapatkan penanganan darinya. Disinilah mereka berada, didepan pintu kamar anak itu. Dokter Kim mengatakan bahwa Hyun-Joon akan baik-baik saja. Benjolan yang ada dikepala belakangnya tidak akan berpengaruh pada hal buruk lainnya tapi untuk saat ini anak itu terkena demam. Ini efek dari syok yang anak itu terima juga tadi saat terjatuh. Untungnya, Joon tidak sampai terkena gegar otak. Ya, untungnya saja. Kalau benar terjadi, jujur Kyuhyun tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri—karena dialah yang terakhir kali membawa Joon untuk ditidurkan sore tadi didalam kamarnya sendiri ini.

“Ini obat demamnya, pastikan anakmu meminum ini Sena-ya,” dokter Kim memberikan obat demam yang berbentuk menyerupai sirup pada Sena—obat yang memang diperuntukkan untuk anak-anak. “Jika dalam waktu dua hari Joon belum juga sembuh, bawa saja kerumah sakit,” lanjutnya.

“Kau bilang dia tidak akan apa-apa. Tidak ada hal yang buruk. Dia akan baik-baik saja kan, Paman?” Sena berharap jawaban yang diberikan Dokter Kim—yang sudah dia anggap seperti Ayah sendiri ini membuatnya lega.

Dokter Kim tersenyum tipis. “Untuk saat ini iya. Aku bilang kan jika dalam dua hari demamnya tidak sembuh. Jangan terlalu khawatir, Sena. Jaga dirimu juga baik-baik, kau sedang mengandung kan?” Dokter Kim mengusap bahu Sena pelan, kemudian memandang Kyuhyun dan Hyukjae bergantian. Berpamitan untuk pergi.

Hyukjae mengantarkan Dokter Kim sampai depan rumah sedangkan Kyuhyun masih bersama dengan Sena. “Ssh.. Ingat kata-kata dokter Kim, jaga dirimu juga. Dia akan baik-baik saja, Sayang~” Kyuhyun mengalungkan kedua tangannya pada leher Sena dari belakang, menghembuskan nafasnya disana.

“Anakmu itu—benar-benar Hyper. Hah, aku dibuat heran dengan gaya tidurnya yang tidak pernah santai itu. kurasa kita perlu memberikan tempat tidur yang lebih luas lagi untuknya.” Sena terkikik geli, well—Kyuhyun benar. Cho Hyun-Joon benar-benar hyperactive. Bagaimana ya? Dia ingin tertawa juga sebenarnya mengetahui fakta anaknya itu terjatuh dari atas tempat tidur, tapi dilain sisi juga dia merasa khawatir pada kondisi anak itu.

.:: END ::.

Advertisements

86 thoughts on “Hyper Boy

  1. Aku pilih baca cho familynya berurutan aja dr yg paling atas.. (biarpun kata author bs dibaca acak. Hehe….)

    Duh ngebaca part ini jd inget pas anak ku jato dr kasur juga…. nangis nya heboh… jd aku bisa ngebayangin paniknya sena dsini…

    Gws ya little joon 🙂

    Like

  2. Series pertama yg aku baca,
    Apakah sebelum baca yg ini ada ff yg harus dibaca terlebih dulu? Atau emang langsung yang ini?.. Hhh
    Soalnya bingung mau baca yg mana dulu, jadi aku putusin buat baca dari atas aja.. .wkwk

    Like

  3. hai aku reader bru^^ ngakak bca ff ini suka bngt karakter kyuhyun disini jadi ayah yg siap siaga.joon hyper bgt deh sampe bkn ibu nya cape sendiri ngadepin tingkah nya dia.cuss langsng bca series selnjtnya:)

    Liked by 1 person

  4. Unnie cerita ini lnjutan dri yg chapter kah?? Chapter mana yah … soalnya pengen twu cerita sebelum mrk menikah .. btw hyunjoo lucu banget mirip sama kyuhyun hypernya dan susah makannya kya sena … heheh

    Like

  5. Hahahahah i bursted of laugh during the part when kyu menirukan Sena ketika kalap di ranjang HAHAHAHAHAHA. And for Joon, saran mending kasurnya dikasi pager pembatas biar ga jatuh xD

    Like

  6. Geli juga ya sm si joon… Keras kepala tapi juga cengeng… Hahahha
    Sumpah…mereka serasi bgt jd orang tua…
    Semoga joon gak papa yak…
    Dan cara kyuhyun ngasi sebutan ke hyukjae itu keterlaluan deh…bikin geli,,

    Like

  7. hahahaha…
    merekaa kuduu ekstraa sabarrr klo punaa anak model gituu… ehhehe…
    gk bisaa diam sama skalii dan orangtuanyaa pun harus erak truss ngikutin tuhh anak… wkwkw

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s