Family Gathering

cho-family-story

Cr. Kyoung

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena – Joon

also

Lee Donghae – Lee Seungjo

⌈ AU │ Oneshoot ⌋

⌈ PG – 17 ⌋

⌈ GENRE ⌋

Family

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

Queensera©2016

 

Kyuhyun bergerak mondar-mandir didalam kamar putranya, kaki dan tangannya tidak henti untuk mengambil segala jenis kebutuhan yang Joon perlukan. Saat ini, dia sedang disibukkan dengan mengurus putranya itu, yang sedari tadi tidak mau diam untuk dipakaikan pakaian. Ada saja tingkah yang dilakukan Joon hingga menghambat pekerjaan Kyuhyun dan Si Ayah muda itu harus menahan keras kesabarannya agar kekesalannya itu tidak menyembur lalu keluar begitu saja menjadi bentakan.

“Ayah,” panggil Joon dengan senyuman manis yang terpampang pada bibirnya. Putranya yang hampir berusia tiga tahun itu menunjukkan sebuah robot miniatur yang menyerupai wujud Captain America. Entah apa yang ingin dipamerkannya, tapi yang Kyuhyun tau dari Sena, saat ini Joon sedang menggilai karakter Hero yang mem-booming ditelevisi maupun dimedia sosial itu.

“Letakkan dulu, robotnya. Joon harus pakai ini,” Kyuhyun berucap dengan kedua tangannya yang menggeenggam pakaian Joon, namun yang diajak berbicara malah tidak memedulikan.

Kyuhyun berdecak, kalau saja Sena tidak sedang disibukkan dengan urusannya dia akan dengan senang hati menyerahkan putranya yang susah diatur ini pada istrinya. Sayangnya sejak dua puluh tiga menit berlalu, Sena belum juga muncul dari kegiatan membersihkan tubuhnya dikamar mandi. Dia sendiri penasaran, sebenarnya apasih yang dilakukan para wanita selama itu didalam kamar mandi? Padahal jika sudah selesai, tetap terlihat sama saja. Tidak ada yang berubah.

“Eiyy— Joon ini susah sekali diatur sih,” gerutunya kemudian tangannya mengambil robot tersebut dari tangan anaknya lalu dengan cekatan dia memasukkan tangan kiri Joon pada lengan kemeja yang sudah dibuka semua kancingnya. Begitu seterusnya hingga kemeja itu benar-benar melekat pada tubuh putranya. “Nah! Kalau begini kan tampan,” pujinya.

“Sekarang tinggal celananya—” namun seketika itu juga Kyuhyun terdiam, memasangkan kemeja saja susah payah tadi apalagi celana? Kyuhyun yakin anak itu tidak mau berdiri dari posisi santainya yang kini sedang duduk diatas kasur tersebut. Mungkin beda ceritanya jika celana yang akan dipakaikan Kyuhyun pada Joon adalah celana biasa yang bisa langsung masuk pada kaki Joon. Tapi melihat celana berbahan dasar jeans didepannya seketika itu juga membuat Kyuhyun ragu. Well—sepertinya dia harus memulai provokasinya lagi agar Joon bisa lebih menurut.

“Joon—“ Joon menoleh pada Ayahnya, tangannya berhenti memainkan robot. “Joon mau bertemu dengan Seungjo Hyung, tidak?” Kyuhyun memasang senyum manis diakhir kalimatnya. Anaknya itu memang penggemar berat Lee Seungjo—anak dari Lee Donghae, Kakak sepupu istrinya. Entah apa yang membuat Joon begitu terobsesi pada Seungjo. Jika bertemu dengan Seungjo atau saat mereka berdua harus dihadapkan pada momen yang sama— Joon akan selalu mengikuti kemanapun anak itu pergi. Bahkan Seungjo pernah menangis dan memohon pada orang tuanya agar dijauhkan dari Joon hanya karena merasa risih dengan kehadiran Joon yang selalu mengikutinya seperti buntut.

Seungjo itu anak yang baik dan manis tapi bisa berubah menjadi cengeng dan sinis jika berhadapan dengan anaknya yang satu ini.

Mengingat itu Kyuhyun jadi ingin tertawa.

“Yuu?” kedua bola mata Joon membulat, sedangkan Kyuhyun yang tadi senyum-senyum sendiri langsung mengendalikan urat bibirnya, dahinya mengernyit—tunggu, bagaimana bisa anaknya itu melafalkan ‘Hyung’ menjadi ‘Yuu’? apa separah itu lidah Joon jika berucap? Namun, tak mau memedulikan itu sekarang—karena masalah itu bisa menjadi urusan nanti, dengan semangat dia pun mengangguk, “Mau tidak? Dirumah Granny nanti kau akan bertemu dengan Seungjo Hyung!”

“Gyeni?” Kyuhyun mengangguk lagi kemudian dia menumpukkan salah satu lututnya pada sisi tempat tidur Joon. Dengan kedua tangannya, dia mengangkat tubuh mungil anaknya tersebut hingga Joon bisa berdiri dihadapannya. Lalu tangannya lagi meraih celana jeans kecil yang ada disampingnya. “Tapi Joon harus memakai celana dulu, ya? Lihat—seperti Ayah” Kyuhyun menepuk pahanya sendiri. Memberitahu Joon jika anak itu harus memakai celana seperti yang Kyuhyun pakai.

Agak kesulitan saat Kyuhyun memakaikan kain itu pada kaki putranya. Dia harus menumpukkan kedua tangan mungil Joon pada bahunya agar berdirinya tidak goyah. Setelah berusaha, akhirnya selesai juga acara memakaikan Joon pakaian. Kyuhyun menghembuskan nafas lega.

“Bagaimana?” tanya seseorang dari ambang pintu, membuat Kyuhyun dan Joon menoleh kearah suara tersebut.

Kyuhyun menatap istrinya yang saat ini tengah berjalan kearahnya dan Joon dengan menggunakan mini-dress soft-pink— berlubang-lubang entah apa namanya dan modelnya—Kyuhyun tidak tahu dan dengan sebagian rambutnya yang diikat keatas. Kyuhyun menelan ludah, sial bagaimana bisa wanita hamil dan beranak satu ini bisa terlihat sangat memukau seperti itu?

IMG_20160713_182931

Sena merapikan peralatan Joon yang berserakan diatas tempat tidur kemudian berdiri dihadapan anaknya, “Tampan sekali anak Ibu. Siapa yang memakaikan bajunya?” tanyanya pura-pura tidak tahu.

Joon menunjuk Kyuhyun kemudian mengguman, “Ayah~”, dengan ekspresi muka terkejut Sena menerima uluran tangan Joon padanya, “Ayah? Jadi Ayah yang memakaikan baju ini?” telunjuk dan ibu jarinya dia arahkan pada kemeja putih yang Joon pakai. Joon mengangguk, kemudian melingkarkan tangannya pada leher Sena. Menghirup aroma Ibu yang disukainya itu kemudian mengecup bibir Ibu. Dan sungguh, itu membuat Kyuhyun iri setengah mati. Kalau bisa—ia juga ingin seperti Joon saat ini.

Kyuhyun kemudian menggelengkan kepalanya, tidak—tidak, tahan Cho Kyuhyun. Mungkin nanti malam kau bisa mengisolasi Sena hanya untukmu saja. Sekarang biarkan anakmu yang menguasainya.

“Ayah, kenapa?” tanya Sena dengan mengerutkan alisnya. Kyuhyun yang sadar menoleh pada istrinya itu kemudian kembali menggeleng, lalu meraih Joon dalam dekapan Sena, “Tidak—tidak apa-apa. Sudah siap? Dimana ranselnya? Kita berangkat sekarang saja!”

Sena mengagguk kemudian berkata, “Sudah aku letakkan dibawah,” hari ini memang mereka berencana menginap dikediaman Rumah Besar Sesepuh Lee.

Setelah mendapatkan ransel yang berisi pakaian dan juga perlengkapan Joon, mereka bergegas merajut langkah menuju garasi mobil. Ini sudah pukul sembilan dan acara yang akan dirayakan dimulai pada pukul setengah sepuluh. Hari ini, mereka akan mengunjungi kediaman Rumah Besar Sesepuh Lee—keluarga istrinya, yang memang selalu mengadakan Family Gathering pada setiap tahunnya. Acara ini juga diadakan sekaligus sebagai perayaan hari ulang tahun Halmeoni Lee Hayeon—satu-satunya nenek Sena dari pihak Ayah yang masih hidup. Yang berarti akan mempertemukan seluruh keluarga besar itu yang saat ini juga sudah berpencar-pencar bersama anak-cucu-cicitnya.

Kyuhyun sendiri sudah mengikuti acara pertemuan keluarga besar ini semenjak usia hubungannya dengan Sena baru menginjak dua tahun. Dan sekarang adalah tahun kedelapan bagi pria itu untuk mengikuti kegiatan turun-temurun ini karena, sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga Lee.

“Ahh.. aku tidak percaya, hari ini Halmeoni masih bisa berulang tahun lagi~” ungkap Sena dengan senyum lebarnya memecahkan keheningan saat mobil yang dikendarai Kyuhyun sudah memasuki jalan besar menuju Pyeongchang-dong.

Yeah.. bersyukurlah kalau begitu. Aku juga tidak menyangka bisa bertahan sampai saat ini dengan keluarga Lee yang absurd,” jawab Kyuhyun seraya memutar setir kearah kiri. Sena mendecih, melirik sinis suaminya tersebut. Apa-apaan itu? Apanya yang absurd? Keluarganya? Hei—pria ini juga sudah lama menjadi bagian dari keluarga Lee, apa dia sedang mengejek dirinya sendiri?

“Yayaya.. terserahmu sajalah—“ tangannya mengibas malas, kemudian dia memutar tubuhnya kebelakang, menghadap Joon yang sedari tadi bernyanyi sendiri dengan kedua tangan yang tak bisa diam menekan-nekan miniatur piano yang ada dihadapannya. “Joon sedang bernyanyi apa?” tanyanya mencari perhatian anak itu.

Joon menoleh, dia menujukkan miniatur pianonya tersebut pada Ibu, kemudian berucap “Hapi Beshde!” diakhir dengan senyumnya yang membuat Sena lagi-lagi jatuh cinta padanya. “Ah! Untuk Granny?” tanyanya dengan mengagguk-anggukan kepala. Joon menggeleng kemudian bibirnya mengerucut mengucapkan kalimat “Yuu~”

Alis Sena bertaut, apa? Yuu? Apa maksudnya?

“Hyung. Maksudnya adalah Seungjo Hyung, yang ia tahu hari ini kita akan bertemu dengan Hyung kesayangannya itu,” sahut Kyuhyun ketika mendapati raut wajah tak mengerti dari istrinya.

Sena terbengong, sesaat kemudian terkikik geli. Astaga— dia baru tau. Bahasa baru kah?

Sena mengagguk, kemudian kembali menatap Joon, “Joon senang akan bertemu dengan Hyung? Kalau begitu jangan nakal, okay?” ungkap Sena memperingati, karena sungguh dia tidak tega melihat Seungjo menangis lagi karena Joon.

.

Family Gathering

.

Acara terus berlanjut, keramaian masih terdengar. Disekitarnya,  masih  ada begitu banyak orang yang berlalu-lalang walau acara inti dari perayaaan ini sudah selesai satu setengah jam yang lalu. Didepan, dibelakang, bahkan dikanan-kiri tubuhnya banyak sekali manusia-manusia yang bertubuh lebih tinggi darinya sedang bergerak mondar-mandir menguasai seluruh ruang tamu rumah besar Halmeoni Lee yang disulap sedemikian rupa hingga yang memang awalnya sudah luas kini terlihat semakin luas.

Joon bingung, kenapa disini banyak sekali orang? Kemana perginya Ayah dan Ibu? Kenapa dia jadi sendiri disini?

Selagi dia mengokkan kepalanya kesegala arah mencari Sena atau Kyuhyun, bola matanya yang hitam jernih itu malah menangkap sesuatu didekat kolam renang sana—yang letaknya memang berada disamping ruang tamu mahaluas ini.

Dengan deretan gigi yang dia pamerkan—karena Joon merasa senang, bocah itu pun berjalan kearah sesuatu tersebut. Oh, tunggu. Itu bukan sesuatu—ya, yang dituju oleh sepasang kaki kecil Joon dan ditatap oleh dua buah bola matanya itu bukan sesuatu melainkan seseorang. Ya, seseorang.

Seseorang yang dia tuju itu mendongak ketika mendapati dirinya yang sudah berada disampingnya dengan senyum mahalebar—seperti yang Paman Hyukjae ajarkan—  namun tak berapa lama bola mata orang yang dituju itu melebar seperti ingin keluar dari kelopaknya. “Yuu!” ucapnya begitu ceria. Sedangkan orang yang disapanya itu, mendelik tak percaya—nyaris ketakutan.

Joon baru saja akan duduk disamping orang tersebut ketika Seungjo—orang yang menjadi perhatian Joon itu— dengan tergesa langsung berdiri dari posisi duduk santainya di balik pintu kaca yang ada disana. Tangannya yang tadi terampil memainkan game pada gadget-nya tadi kini sudah bertolak pinggang dihadapan Joon. Mata anak itu menyipit, “Mau apa kau kesini?!” sentaknya. Oh sungguh, dia tadi sudah berhasil menghindari si Buntut ini tapi kenapa malah kecolongan begini?

Joon—anak itu masih mempertahankan senyum diwajahnya. Tidak tahu bahwa orang yang ada dihadapannya itu menatap dengan pandangan tidak suka. Seungjo menggeram, sebenarnya apasih yang ada dipikiran bocah yang umurnya lebih mudah dibanding dirinya itu? berkali-kali dia menunjukkan rasa tidak sukanya tapi Joon selalu saja mengikutinya, mengganggunya. Menyebalkan!

“Oh, Gaem!” pekik Joon senang begitu melihat permainan yang ada di tablet milik Seungjo masih terus berlanjut menampilkan gambar-gambar berwarna bergerak yang menurutnya lucu.

Dia tahu itu, Ayah pernah menunjukkan gambar-gambar bergerak yang ada di ponsel padanya dan mengatakan bahwa gambar bergerak itu namanya gaem. Padahal yang waktu itu ditunjukkan Kyuhyun bukan ‘game’ sebenarnya melainkan gambar bisa yang berformat gif tapi karena dasarnya Cho Kyuhyun tidak tahu harus menjelaskannnya bagaimana maka pria itu menyebutnya dengan sebuah sebutan ‘game’.

Tangan Joon sudah terulur untuk mengambil alat elektronik itu. Dia penasaran. Namun baru saja menyentuh, dengan cepat Seungjo menepis tangannya. Dia tidak mau meminjamkannya pada Joon. Dia tidak suka Joon menyentuh barang-barang miliknya. Kalau ada apa-apa bagaimana? Kalau Joon merusaknya bagaimana?

Mata Joon mengerjap lucu. Kenapa?

Gaem!” serunya lagi—masih dengan bibir tersenyum namun kali ini senyum canggung, menunjuk benda yang disembunyikan Seungjo dibalik punggungnya. Kalau saja Seungjo tau, Joon hanya ingin melihat. Seungjo yang melihat senyum Joon itu jadi merasa tidak tega, senyum itu terlihat tulus. Dia jadi merasa jahat pada Joon tapi mau bagaimana? Joon itu menyebalkan!

Tidak mau berurusan dengan Joon lagi, Seungjo melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Tapi tetap saja, Joon mengikutinya. Dengan kesal dia berhenti kemudian menatap Joon yang ada dibelakangnya—ikut berhenti juga. “Jangan mengikutiku!” perintahnya dengan suara sedikit frustasi. Dia berjalan lagi, Joon mengikutinya lagi. Dia berhenti, Joon juga ikut berhenti. Apasih mau anak ini?! Makinya dalam hati. Karena semakin kesal dan bingung, dia pun berlari dengan sekuat tenaga dengan tiba-tiba—menjauh dari keramaian dan sebisa mungkin menghindari bala.

Joon yang kebingungan, kini jadi berdiam diri ditempat. Lalu memandang sekitar, karena masih tidak tau ada apa dan kenapa Hyung berlari, setelah tidak mendapatkan apa-apa dia kemudian memutuskan ikut berlari kearah dimana Seungjo tadi menghilang.

Ditempat lain, Kyuhyun dan Sena celingukan kesana-kemari begitu menyadari Joon tidak berada dalam jarak pandang mereka. Sena meremas-remas kedua tangannya karena sejak sepuluh menit berlalu ia tak menemukan Joon juga. “Kyuhyun, bagaimana ini?” desahnya.

Kyuhyun yang berada disamping Sena ikut memijat pangkal hidungnya, sedangkan tangannya yang satu lagi dia letakkan dipinggang. Ada perasaan kesal tapi juga bercampur khawatir pada anak itu. Ya Tuhan… apalagi sih yang dilakukan putranya? Kenapa bisa sampai menghilang begini? Padahal tadi Sena sudah memasukannya kedalam salah satu kamar yang ada disini, karena ini adalah waktu tidur siangnya dan dia sendiri pun sudah melihat itu. Tapi Sena bilang, selepas dia keluar dari kamar mandi yang terdapat didalam kamar tersebut, Joon malah menghilang. Well—anaknya benar-benar ajaib.

“Dia tidak akan kemana-mana, kau tenang saja. Pasti masih berada dirumah ini, tidak mungkin juga ia bisa keluar darisini,” jawab Kyuhyun yakin. Ya, lagipula mana mungkin anak berusia hampir tiga tahun bisa pergi jauh-jauh apalagi dirumah ini yang begitu besar.

“Tapi—“

“Sudahlah.. Lebih baik kau istirahat saja dikamar. Biar aku yang mencarinya,” ujar Kyuhyun lalu tangannya menggandeng lengan Sena agar mengikutinya masuk kedalam kamar. Namun baru mencapai ambang pintu, Sena melepaskan pegangan tangan Kyuhyun. Dia menggeleng, “Tidak bisa—aku ikut mencari saja, eoh?” nadanya memohon.

Kyuhyun menghela nafas, memandang istrinya dengan tatapan yang dalam. Sena yang tau arti tatapan Kyuhyun itu lantas menundukkan kepalanya, “Tck! Aku tidak bisa. Tolonglah—jangan memaksaku!” gerutunya masih dalam keadaan kepala yang tertunduk. Kyuhyun itu kenapa sih suka sekali memaksa, mana bisa dia istirahat dan santai-santai begitu saja didalam kamar kalau keberadaan Joon saja ia tidak tahu dimana.

Kyuhyun memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, “Aku juga tidak bisa, Sena. Jadi tolong jangan memaksaku—jika tidak mau kita bertengkar disini maka kali ini saja—kau mau menurut padaku,” tau akan kecemasan yang sedang melanda istrinya, Kyuhyun membungkuk, meletakkan kedua tangannya pada pundak Sena, “Kau butuh istirahat—dan kau sadar akan hal itu, biar aku yang mencarinya. Dia tidak akan kemana-mana, percaya padaku hm?”

Dengan desahan tidak terima tapi mau tidak mau dia memang harus menerima, Sena pun mengangguk. Kyuhyun sama keras kepalanya. Dan Sena tahu dirinya tidak bisa melunakkan kekeras-kepalaan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum tipis kemudian mendaratkan bibirnya dipucuk kepala istrinya, mengecup ringan daerah tersebut. “Istirahatlah. Tidur, dan jangan kemana-mana lagi,” seiring dengan selesainya kalimat yang dia ucapkan, Kyuhyun melangkah menjauhi kamar tempat Sena berada.

Kali ini, dia harus berusaha keras untuk mencari Joon. Atau kalau tidak, Sena akan lebih parah lagi khawatirnya. Oh—dia pun juga tentunya. Dalam hati Kyuhyun bertekad, kalau saja Joon sudah besar, mungkin dia akan menjewer telinganya saat bertemu nanti karena tingkah anak itu telah membuat Ayah dan Ibunya cemas serta kelimpungan seperti ini. Dan berpotensi membuat mereka stress.

.

Family Gathering

.

Donghae berjalan membawa satu mangkuk es krim yang tadi diminta oleh putranya. Kakinya melangkah kearah kolam renang—tempat dia meninggalkan putranya itu terakhir kali. Namun ketika sudah berada disana, Donghae malah dibuat bingung karena ketidak-beradaan Seungjo.

“Kemana dia?” gumamnya.

Dia kemudian bertanya pada salah satu sepupunya yang berada disana, sepupu jauh lebih tepatnya karena neneknya merupakan adik dari nenek Donghae—Lee Hayeon. “Oh, anakmu yang tadi bermain game disitu kan?” pertanyaan balik yang dilontarkan sepupunya itu membuat Donghae mengangguk.

“Kulihat tadi dia bersama adiknya, lalu masuk kedalam rumah,” lanjutnya lagi.

Donghae mengernyit, “Adik?”

Heee? Sejak kapan Seungjo memiliki adik? Kapan dia melihat Yoorin hamil dan melahirkan lagi? Kapan dia membuatnya? Merasa ada yang tidak beres dia pun mengucapkan terimakasih kemudian masuk kedalam rumah. Disana dia bertemu dengan Hyukjae. “Hei! Kau lihat dimana putraku?” tepuknya pada bahu Hyukjae yang sedang berbicara dengan sanak saudara yang lain.

Hyukjae menoleh, “Seungjo, maksudmu?” mendengar pertanyaan Hyukjae, Donghae rasanya ingin mengorek isi otaknya saja. Ya, tentu saja Seungjo. Lee Seungjo. Kapan dia punya anak lain? Lee Hyukjae ini bodohnya sudah mencapai taraf akut atau memang pria kurus dihadapannya ini sedang dalam transisi menuju masa pikunnya? Dia pikir Lee Hyukjae tidak setua itu untuk pikun. “Kau pikir siapa lagi?” tanyanya—agak sarkas.

“Aku tidak lihat. Kau lihat tidak?” tanya Hyukjae pada seorang pria disampingnya—Donghae lupa mungkin lebih tepatnya tidak tahu siapa namanya, terlalu banyak memiliki saudara membuatnya malas menghapal nama-nama mereka.

Pria berjenggot tipis dan memiliki postur yang lebih tinggi dibanding dengan mereka—bahkan mungkin tingginya tidak berbeda jauh dari Kyuhyun itu pun menjawab “Anakmu yang potongan rambutnya seperti baskom itu kan? Kulihat—sepertinya dia kesana!” tunjuknya kearah taman belakang yang ada disana.

Alis Donghae berjengit. Baskom?!

Walaupun sedikit agak keki karena rambut anaknya disamakan dengan baskom—kenapa tidak helm saja sekalian—Donghae tetap mengucapkan terimakasih, lalu bergegas pergi darisana.

“Seungjo itu anakku yang paling tampan, berani sekali dia bilang rambutnya mirip baskom! Dasar jangkung berbulu!” gerutunya seraya melewati kumpulan manusia yang berada disana menuju taman belakang.

Well—selain mem-booking ruang tamu dan area kolam renang untuk dijadikan tempat berpesta, taman belakang rumahnya juga ‘dijajah’ oleh neneknya. Wanita tua itu benar-benar suka dengan yang namanya kemewahan. Dia tidak akan tanggung-tanggung jika sedang mengadakan perayaan, pesta atau tetek-bengek lain-lainnya itu. Tapi diluar itu semua yang membuat Donghae kagum terhadap neneknya itu adalah wanita tua tersebut tidak akan segan-segan untuk berbagi. Hidup neneknya memang mewah tapi jangan ragukan dengan jiwa sosialnya yang tinggi itu. Seperti hari ini, neneknya itu mengundang seratus anak yatim untuk ikut merayakan hari jadinya yang ke tujuhpuluh.

Omong-omong Donghae kepikiran, siapa anak kecil yang tadi disebut sepupunya sebagai adik Seungjo. Apa Chaerin? Tidak, jelas Chaerin lebih besar dibandingkan dengan Seungjo, yang ada gadis cilik itu disebut sebagai Kakaknya Seungjo. Joon? Ah, mengingat anak Cho Kyuhyun itu—rasanya tidak mungkin. Seharian ini Seungjo menghindari kesempatan untuk bertemu dengan bocah itu, jadi jawabannya tidak mungkin. Lalu siapa? Donghae mengedikkan bahunya, biar dia tanya sendiri saja nanti pada anaknya.

Melihat es krim ditangannya ini dia jadi sebal sendiri, Seungjo ini bagaimana? Tadi meminta es krim tapi saat diambilkan malah menghilang begitu saja.

“Kenapa kau selalu mengikutiku?!!” pekikan suara anak kecil menghentikan langkah Donghae. Tunggu— Itu suara anaknya kan? Ya, Donghae tidak mungkin lupa dengan suara anaknya sendiri. Tapi kenapa berteriak seperti itu?

“Aku bilang pergi sana!” Donghae terkesiap, ada apa dengan Seungjo? Teriakan yang datang dari arah sudut bangunan, yang terdapat ayunan dan kolam pasir itu membuat Donghae merajut langkah kakinya kesana.

Begitu retinanya mendapati dua sosok makhluk kecil berada disana ditambah dengan atmosfer yang tidak enak, buru-buru Donghae melangkahkan kakinya. “Ada apa ini?” tanyanya, dia letakkan es krim yang dia bawa tadi di bangku semen tempat Seungjo sedang duduk. “Kenapa?” tanyanya lagi menyadari raut mendung putranya.

“Dia mengikutiku terus, Ayah!” adu Seungjo dengan tangan yang menunjuk tepat didepan hidung Joon. Ada genangan air yang Donghae lihat dikedua mata anaknya. Donghae menoleh pada Joon yang terdiam—kebingungan lebih tepatnya, kemudian menoleh lagi pada Seungjo. Menghembuskan nafasnya disana, Donghae mengerti keadaannya bagaimana sekarang. Dia menepuk-nepuk bahu Seungjo, menenangkan anak itu supaya tidak menangis. “Memangnya kenapa?” tanyanya lembut.

Seungjo menggeleng keras kemudian menjawab, “Aku tidak suka dengannya! Dia menyebalkan Ayah!”

“Kenapa begitu? Joon kan adikmu—“

“Dia bukan adikku! Aku tidak mau memiliki adik seperti dia!” telunjuknya dengan semangat menunjuk-nunjuk muka Joon yang memandang Ayah dan anak itu dengan polos.

“Eiyy.. tidak boleh begitu. Joon adalah anak Bibi Sena—adik Ayah, kalau begitu Joon juga adikmu,” jawab Donghae memberikan pengertian pada anaknya seraya menangkap telunjuk Seungjo karena itu adalah perbuatan yang menurutnya tidak sopan. Donghae tidak mau membiasakan anaknya seperti itu—menunjuk-nunjuk muka orang saat sedang emosi.

“Yuu~” gumaman Joon membuat Donghae menoleh, kemudian dia tersenyum pada putra Cho Kyuhyun itu. Walau dia tidak mengerti atas apa yang diucapkannya.

“Pokoknya aku tidak mau! Aku tidak menyukainya Ayah! Aku tidak suka! Dia selalu mengikutiku~” Donghae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Seungjo jika sudah emosi sulit untuk dikendalikan, sementara dia tidak mungkin juga menyuruh Joon untuk tidak dekat-dekat dengan anaknya lagi. Bagaimanapun, mereka tetaplah saudara. “Joon hanya ingin bermain denganmu makanya dia selalu mengikutimu kemanapun. Seungjo kan sudah besar, Seungjo sudah menjadi Hyung jadi harus bisa lebih berbesar hati untuk menghadapi Joon—” ungkapnya.

Seungjo masih tetap menggelengkan kepalanya. Dan karena merasa percuma saja dia memberitahu Donghae, lalu malas juga mendengar nasihat Donghae, akhirnya dia memilih untuk memainkan game saja. Ayah jahat. Ayah lebih membela Joon dan Seungjo tidak suka itu.

“Yuu, gaem! Gaem!” seru Joon, kemudian melangkah lagi mendekati Hyung kesayangannya itu. Ingin melihat Seungjo bermain game. Seungjo yang sudah kesal akhirnya berteriak, “Ayaaaaahh… Ish aku tidak mau dekat-dekat denganmu, Joon!!”

Donghae yang dibuat pusing oleh kedua anak itu pun berdiri dari posisi jongkoknya, kemudian membawa Joon dalam gendongannya. Mencoba menghalau gerakan Joon yang ingin mendekati Seungjo. Daripada anaknya itu terus berteriak seperti orang kesetanan seperti tidak diberi uang jajan oleh Ibunya lebih baik dia menggendong Joon untuk menjauh dari putranya kan?

Namun yang tidak dia kira, Joon malah berteriak dan menggeliat hebat dalam gendongannya. Memohon untuk diturunkan dengan suaranya yang melengking, berpotensi merusak gendang telinga Donghae. Joon hanya ingin didekat Seungjo Hyung, itu saja. Tapi kenapa sulit sekali daritadi? “Yuuuuhh~ Nooo! Haaa… Andwae! Nooo!” Donghae mendesis, Ya Tuhan sebenarnya ada apasih dengan kedua anak ini?

“Oh! Joon mau es krim? Mau?” tawar Donghae ketika ingat tujuan dia mencari Seungjo—mudah-mudahan saja dengan cara ini Joon berhenti memberontak. Dan ya, berhasil. Joon langsung menatap kedua matanya, kemudian bibir mungilnya itu menggumam, “Ice?” Donghae tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang lucu kemudian mengangguk, dia menurunkan Joon. Tangannya ingin mengambil es krim yang tadi diletakkannya disamping Seungjo ketika anak itu malah merebutnya. “Ini milikku!” tegasnya.

Donghae menghembuskan nafasnya lelah melihat mangkuk itu sudah berada dalam dekapan anaknya. Ya tuhan—kenapa Seungjo jadi kekanakan begini sih? Lee Donghae, anakmu itu—dia memang masih anak-anak, kalau-kalau kau tidak ingat. Tapi kenapa Joon mendekatinya tidak boleh? Joon ingin bermain dengannya tidak boleh? Joon ingin memakan es krim juga tidak boleh? Benar-benar. Setahunya dia dan Yoorin tidak pernah mengajari anak ini menjadi egois.

Sedangkan Joon yang perhatiannya teralihkan pada es krim itu sepenuhnya, kini tengah menatap mangkuk yang dipeluk erat oleh Seungjo. Joon juga ingin merasakan es krim itu tapi kenapa Hyung tidak mau membaginya?

Joon ingin mendekat tapi matanya kini malah menatap Donghae. Seakan bertanya, kenapa es krim itu dimakan oleh Hyung? Samchon bilang itu untuk Joon.

Donghae yang tidak tega pada keponakannya tersebut, menatap Seungjo dengan pandangan memohon. “Seungjo mau ya berbagi? Lihat—Joon juga ingin merasakannya” Seungjo tetap menggeleng. Masa bodoh, Joon bukan urusannya. Dia tidak mau peduli. “Seungjo tidak boleh egois. Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarkanmu seperti itu kan? Jadi mau ya?” bujuknya lagi.

Seungjo diam. Dia tidak memedulikan ucapan Ayahnya. Anak lelaki berusia lima tahun itu malah pergi, beranjak meninggalkan Ayah dan si Buntut pengacau mood-nya itu berdua saja. Namun baru dua kali dia mengambil langkah, Joon menarik mangkuk yang berada dalam genggamannya hingga mangkuk itu terjatuh berikut dengan isinya yang tumpah berceceran diatas rumput halus.

Maksudnya adalah dia ingin meminta es krim itu bukan malah menumpahkannya atau membuat Hyung jadi marah. Joon bingung sendiri.

Dengan geram karena semenjak tadi menahan emosi, Seungjo mendorong Joon hingga anak itu jatuh tersungkur. “LEE SEUNGJO!!!” teriak Donghae menggelegar. Pria itu sungguh tak menyangka anaknya bisa bertindak keterlaluan hanya karena semangkuk es krim.

Detik berikutnya Joon menangis, Seungjo juga menangis. Yang satu karena jatuh tersungkur, yang satunya lagi karena syok mendengar teriakannya. Donghae tidak pernah marah padanya. Ayahnya itu tidak pernah meneriakinya sekencang dan sekeras itu. Seungjo takut—tentu saja.

Donghae mengangkat tubuh Joon yang masih tersungkur, dia menggendong anak itu. Menepuk-nepuk bokongnya pelan, membersihkan wajahnya yang sedikit kotor dan mencoba untuk menenangkannya. Pandangannya lalu beralih pada Seungjo yang juga masih menangis keras. Astaga—apa yang dilakukannya tadi? Sungguh teriakan Donghae pada Seungjo adalah gerak refleks dari otot suaranya karena melihat anak itu mendorong adiknya sendiri sampai tersungkur. Seungjo memang keterlaluan tapi ini bukan sepenuhnya salah Seungjo, dia mengakui itu—anak itu hanya merasa risih dengan kehadiran Joon yang terus menempel padanya, maka kini dia lebih menyalahkan dirinya sendiri karena dia lebih keterlaluan dengan membentak anaknya sendiri.

Dengan Joon yang masih dalam dekapannya, Donghae berjongkok dihadapan Seungjo. Menyentuh pipi anak itu yang basah karena air mata. “Maaf—Ayah tdaik sengaja, Ayah hanya kaget kau mendorong Joon, Seungjo-ya,” Seungjo tak menghiraukan, dia masih menangis hingga sesenggukan. Masih takut dengan Donghae. Dan hal itu, jelas membuat Donghae tidak tega, membuatnya merasa sangat bersalah. “Seungjo mau memaafkan Ayah kan?” tetap tak ada jawaban.

Hingga sebuah suara menyapa gendang telinganya—

“Ada apa ini, Hyung?” tanya Kyuhyun begitu mendapati Joon dan Seungjo yang menangis secara bersamaan dengan Donghae yang ada diantara mereka.

Kyuhyun yang sedari tadi mencari Joon kesana-kemari—hampir mengelilingi rumah besar ini, akhirnya mendapati juga keberadaan anaknya itu. Lega sekaligus bingung karena kini anaknya sedang menangis dalam dekapan Donghae.

Berawal dari informasi yang tadi didapatnya dari Hyukjae, yang menyatakan bahwa dirinya juga sama seperti Donghae yang sedang mencari anaknya—akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk mencari Joon di taman belakang ini juga. Firasatnya sebagai Ayah mengatakan bahwa Joon pasti berulah lagi yang tidak-tidak dan berhubung Joon sangat terobsesi dengan anak lelaki Lee Donghae, Kyuhyun yakin Joon juga pasti sedang bersama dengan anak itu. dan ternyata benar kan?

Joon yang mendengar suara Ayahnya, kini menoleh kearah Kyuhyun. Tangisannya berubah menjadi semakin keras ketika retinanya mendapati sosok pria itu yang tengah berdiri menjulang dibelakang Samchon-nya. Tangannya ingin menggapai Kyuhyun. Dan Kyuhyun yang menyadari itu, dia melihat seluruh wajah anaknya kini berubah menjadi merah, bahkan pria itu bisa melihat urat leher anaknya karena tangisannya yang begitu kencang. Disudut dahinya, ada luka goresan—seperti terantuk sesuatu.

Donghae bangkit berdiri kemudian menyerahkan Joon pada Kyuhyun. “Maaf, Kyuhyun-ah—” ucap Donghae penuh sesal. Dia juga tidak tega melihat wajah Joon yang sekarang memiliki luka. “Seungjo tadi mendorong Joon saat anak ini mau meminta es krim-nya. Aku juga tidak mengerti kenapa Seungjo jadi begitu egois seperti ini,” lanjutnya lagi kini dengan tangan yang mencoba untuk mengusap punggung Seungjo agar anak itu berhenti menangis.

Kyuhyun yang bingung sekaligus khawatir, tidak tahu juga harus berbuat apa. Sena pasti akan heboh dan bertanya bagaimana bisa putra kesayangannya ini ditemukan dengan luka didahi, siku dan telapak tangannya. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Seungjo—anak itu mendorong Joon pasti karena Joon ‘mengganggunya’ jika tidak, kejadian ini tidak mungkin terjadi.

Kyuhyun menghela nafas, kemudian mengangguk. Dia mengerti, pasti Donghae juga kuwalahan menanggapi dua bocah yang seperti air dan minyak ini. “Aku tau, Seungjo pasti juga tidak sengaja untuk mendorong Joon—” katanya diakhiri dengan senyuman tipis, “Lalu kenapa dia menangis?” tunjuknya dengan dagu pada Seungjo yang juga masih sesenggukan.

Donghae mendesah, “Aku tidak sengaja membentaknya saat tadi dia mendorong anakmu. Dia pasti kecewa padaku,” jawabnya diakhiri kalimat yang terdengar miris.

Kyuhyun meringis. Dia membenarkan posisi Joon pada gendongannya yang sudah tidak betah berada disitu kemudian mengusap air mata anak itu lagi. “Sudah—tidak apa-apa, Ayahmu tidak bermaksud seperti itu Seungjo-ya. Lagipula maafkan Joon ya jika dia mengganggumu,” bujuk Kyuhyun, tangannya dia arahkan untuk mengusap rambut Seungjo.

“Ay-Ayah jah—hat hiks.. S-seungjo tidak hiks.. seng-ngajaaa~” Pada dasarnya, Lee Seungjo yang memang anak baik, dia merasa sangat bersalah selepas dirinya mendorong Joon hingga anak itu terluka. Dia takut pada Ayahnya tapi dia lebih takut jika terjadi apa-apa dengan Joon. Semengganggu apapun tingkah Joon, dia tidak pernah berniat membalas perbuatannya dengan tindakan yang kasar. Tapi hari ini—

Kedua Ayah muda itu tersenyum, kemudian Kyuhyun berkata “Tidak apa-apa. Joon tidak apa-apa. Seungjo itu kan Hyung, masa menangis? Lain kali jika Joon nakal lagi laporkan saja pada Paman, okay?”

“T-tapi—Joon memang selalu na-nakal..”

“Yuu~” Joon yang berbicara dengan nada berbeda—parau— membuat Joon yang masih menangis dilanda kebingungan. Hyung kenapa? Maka dari itu kini tubuh bocah itu sudah nyaris menukik turun minta dilepaskan oleh Kyuhyun hanya agar bisa lebih dekat dengan Seungjo.

“Lihat kan~ hiks— Ayah, Seungjo tidak m-mau de-kat-dekat hiks dengannya. Huwaaaah..”

Baiklah, jadi katakan apa yang harus Kyuhyun dan Donghae lakukan? Joon yang tidak mau menyerah untuk mendekati Seungjo atau Seungjo yang selalu menyugestikan diri sendiri bahwa Joon itu menyebalkan?

.:: END ::.

Advertisements

77 thoughts on “Family Gathering

  1. Hahaha lucu melihat tingkah joon yg ingin dekat dgn seungjoo tp seungjoo yg ndak mau di dekatin sma joon cuma karena joon itu selalu mengganggu

    Like

  2. Yaampunnn….
    Ketawa ini parah, jadi gemes sama joon. Tapi lebih heran lagi sama seongjoo yg kyaknya anti banget sama joon. Padahalnmaunya joon nempel terus… Wkwk
    Jadi kasian deh sama joon. Yg cuma bengoong mulu kebingungan liat tingkah hyungnya.. Hahaha

    Liked by 1 person

  3. Yaah ..kasian si joon..dia kan blm tau apa2.
    Dia kan cm pngn main. Tp ya emang sih, sifatnya nyebelin. Walopun msh anak kcil 😀

    Like

  4. Seru bgt pertengkaran anak kecil yak…
    Bikin dua bapak muda itu kewalahan dan serba salah, mereka itu nakal nyebelin tapi disisi lain juga masih anak2…
    Hiiiih…. Bingung kan..,
    Tapi kayanya aku.lbh respect ke joon nya deh, dia.msh kecil dan cm pngen dket sm seung jo, tp si hyung mlh nolak joon abis2an…

    Hahaha…. Lucu nyaaa

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s