(Un)Breakable – Chap.1

pic-5

Cr. NJXAEM

When the Ego and Love are Collide

 MAIN CAST 

 Cho Kyuhyun – Lee Sena

also

Shim Changmin

 AU │ Multi-Chaptered 

 PG – 17 

 GENRE 

Romance, Complicated

 DISCLAIMER 

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

 RELATED STORIES 

Unclear

Queensera©2016

And we got more shallow in time. Falling off without strength.

divider1

Kyuhyun melangkahkan kakinya dengan mulut berisul rendah. Setelah selesai memakirkan mobil digarasi, dia dengan nada terburu-buru menuju bangunan besar dimana kedua orang tuanya itu tinggal. Dia tidak sabar untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Ibunya, omong-omong. Mengingat sejak kemarin, bukannya pulang dan membantu apa-apa untuk mempersiapkan pesta yang akan diadakan nanti malam, dia malah menghabiskan semalaman suntuk dengan wanitanya.

Rapat dengan para dewan direksi telah selesai sekitar satu jam lalu, dengan mendapatkan keputusan bahwa dirinya untuk sementara akan dipindah-tugaskan lagi di Seoul. Dan meletakkan Singapore Airlines ditangan kepercayaannya—Choi Siwon. Yang lagi-lagi, hal ini, membuat dirinya tersenyum lebar.

Kinerjanya yang memang dinilai sangat apik dalam menangani masalah, membuat semua peserta rapat tadi mempercayakan Silk Air yang sedang merosot itu kepadanya.

Jika begini, waktu untuk bisa berdekatan dan bertemu dengan Sena, tidak akan seminim saat dia berada di Singapore ‘kan?

Dalam langkahnya, Kyuhyun  menggeleng seraya terkekeh geli. Merasa konyol pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya masih berpikiran seperti itu, saat semua beban yang dimiliki anak perusahannya itu sedang dilimpahkan padanya.

Well—dia memang tipikal orang yang easy going. Menganggap suatu masalah bukanlah hal yang buruk, malah menganggap hal tersebut adalah sebuah permainan. Permainan yang harus diselesaikan dengan dia yang keluar sebagai pemenangnya. Ya, Cho Kyuhyun memang menyematkan hal seperti itu dalam dirinya sehingga bisa membuatnya semangat.

Pria itu  hanya tidak mau ambil repot pada pekerjaannya, kemudian menggadaikan kehidupannya yang sekarang dengan kesibukan. Sekalipun jabatannya saat ini adalah seorang Vice President. Bayangkan saja, Vice President—jabatan seseorang dimana dia memiliki setumpuk pekerjaan diatas meja kerjanya. Tapi bagi Kyuhyun? Entahlah, antara dia memang tidak tahu aturan atau terlalu seenaknya sendiri. Walau memang harus diakui—dengan sangat, bahwa kinerjanya benar-benar menjamin keselamatan perusahaannya sekaligus manusia-manusia yang bekerja untuknya itu. Kualitas otaknya benar-benar tidak bisa diragukan.

Dia masih muda—baru berumur dua puluh sembilan tahun. Masih ingin bebas dan tidak mau memiliki wajah keriput atau rambut beruban layaknya pria berusia enam puluhan hanya karena stress memikirkan grafik dan uang. Lagipula masih ada ayahnya, paman-pamannya bahkan para sepupunya yang bisa bahu-membahu mengatasi masalah jika perusahaan itu mengalami kebobrokan. Benar bukan? Jadi, untuk apa ambil pusing.

Kyuhyun membuka pintu ganda besar yang ada dihadapannya. Matanya berkeliling, menyapu setiap sudut rumahnya yang hanya dia kunjungi olehnya itu setahun sekali—jika beruntung mungkin dua kali. Yang pertama saat perayaan natal dan tahun baru dan yang kedua adalah ketika Chuseok Day yang memang dirayakan bersama keluarga.

Oh, lagi-lagi berubah—gumamnya dalam hati.

Dia melipat bibirnya kedalam. Tersenyum maklum. Omong-omong, ibunya itu memang orang yang gampang sekali atau mungkin cepat bosan terhadap sesuatu maupun suasana, jadi dia sendiri tidak heran melihat keadaan rumahnya yang sekarang hampir sebagian besar berbeda dari yang terakhir kali dia lihat. Bahkan dulu, saat dia masih tinggal disini, Kim Hana bisa mendekorasi ulang rumahnya setiap tiga bulan sekali. Benar-benar pemborosan. Untungnya saja dia menikahi seorang pria konglomerat seperti Cho Yeunghwan, yang jarang memprotes hobi mahalnya tersebut.

Kyuhyun kembali terkekeh, kemudian melanjutkan langkahnya.

Baru saja dia akan membelokan kaki panjangnya ke arah dapur, ketika sudut matanya melihat siluet tubuh Kim Hana sedang menyirami bunga yang ditanam disamping rumah dengan ditemani sang suami yang sedang duduk santai diatas kursi ayun yang ada disana

Senyum jahil terpatri diwajahnya. Lalu, dengan langkah yang mengendap-endap, Kyuhyun mendekati wanita paruh baya tersebut.

Cho Yeunghwan yang sedang membalik lembar koran bacaannya, membulatkan mata tiba-tiba begitu menyadari bahwa Cho Kyuhyun sudah berada dirumah ini. Oh, dia yakin betul, perlakuan Kyuhyun yang seperti itu pasti karena ingin menjahili ibunya.

Melihat ayahnya mengerutkan kening curiga, bukannya membatalkan rencana jahilnya, Kyuhyun malah menyengir dan meletakkan satu telunjuknya didepan bibir—meminta sang ayah untuk tetap diam. Yang langsung disambut oleh Cho Yeunghwan dengan gelengan kepala. Dasar Cho Kyuhyun!

Tiga langkah.

Dua langkah.

Selangkah lebih dekat. Dan…

Hap!

“Ya Tuhan!” pekik Hana saat merasakan dua buah tangan kekar melingkar indah diperutnya. Memeluk tubuh tuanya dengan erat. Dilanjutkan suara tawa seseorang yang menggema tepat disamping telinganya. Dia menggeram kala menyadari siapa pemilik suara itu. Dengan cepat, dia lepaskan pelukan anaknya tersebut kemudian berbalik—memukuli Kyuhyun yang masih saja tertawa puas. “Dasar anak kurang ajar! Rasakan ini! Rasakan!”

“Adaaww… Akh… Ibu sakit! Akh.. Aw!”

“Bisa-bisanya kau membuatku kaget!” tangannya kini bukan hanya memukuli tapi juga mencubit-cubit gemas lengan atas dan pinggang Kyuhyun, yang semakin membuat pria itu merintih kesakitan.

“Awh.. Ibu! Sudah cukup… henti—Akh!”

“Jika aku jantungan bagaimana, huh? anak nakal! Ugh.. Rasakan!”

“Yayayak! Sudah.. sudah..” Kyuhyun mengusap-usap seluruh tubuhnya yang sakit, bibirnya mengerucut, mengeluarkan suara ringisan perih. “Ibu tega sekali sih… Aku kan hanya memelukmu~” katanya.

“Kau tidak hanya memelukku tapi juga mengagetkanku!” Hana memandang tajam anaknya, menatap wajah Kyuhyun yang kini masih meringis kesakitan. Namun itu hanya sebentar saja. Hanya beberapa saat karena setelahnya, wanita berusia lima puluh tahun itu tersenyum lembut dilanjutkan dengan kekehan. “Kau sendiri yang memulai Kyuhyun-ah,” tangannya terulur, ikut mengusap lengan putranya yang tadi ikut terkena cubitan. “Apa masih perih? Sakit?” tanyanya khawatir namun tetap tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya.

“Tsk. Ibu pikir saja sendiri.” Jawab Kyuhyun ketus.

Hana semkain melebarkan senyumnya. “Maafkan Ibu, hm?”

Kyuhyun ingin pura-pura marah tapi dia pun tidak bisa, yang ada malah ikut tersenyum lebar untuk kemudian meraih kepala Ibunya. Menyandarkannya didadanya yang bidang. “Selamat ulang tahun, Ibu,” bisiknya lirih. Dibalas Hana dengan memeluk tubuhnya lebih erat. Menghirup dalam-dalam aromanya tersebut.

Biar bagaimanapun jahilnya Kyuhyun, usilnya Kyuhyun, kekanakannya pria tersebut, tetapi tetap saja, Cho Kyuhyun adalah satu-satunya anak yang selalu dia rindukan kehadirannya. Berpisah selama tiga tahun—dengan anak semata-wayangnya yang hanya sesekali anak itu pulang, membuatnya tidak bisa menikmati kebersamaan mereka seperti dulu.

Hana melonggarkan pelukannya, wanita itu mendongak—menatap wajah Kyuhyun. Tangannya dia angkat untuk menyentuh pipi anaknya tersebut. Semakin gemuk ternyata— batinnya.

“Kapan terakhir kali kita bertemu?” tanyanya.

Kyuhyun mengerutkan kening, “Ehm.. tujuh bulan?” tanyanya tidak yakin.

“Dan kau terlihat semakin dewasa—” tangannya beralih menepuk-nepuk pelan tubuh anaknya, “Juga gemuk.” Lanjutnya lagi yang diakhiri dengan kekehan.

Kyuhyun memutar kedua bola matanya, dia menggenggam tangan Hana kemudian menjawab dengan mata yang menyipit “Tentu saja aku sudah dewasa, Ibu masih berpikir aku ini anak kecil?” membuat Hana mau tak mau menjadikan kekehannya tawa geli.

“Ya. Karena tingkahmu ini ‘kan memang kekanakan ,Kyuhyun-ah.” jawabnya mantap.

“Tsk. Aku ini pria dewasa! Umurku sudah dua puluh sembilan omong-omong,” ucap Kyuhyun tidak terima. Kenapa dia jadi merasa Ibunya ini mirip seperti Sena, menganggapnya tak lebih seperti anak kecil. Tadi wanita itu bilang bahwa dia menggemaskan—kata-kata yang harusnya ditujukan pada bocah, dan sekarang, Ibunya beranggapan bahwa dia kekanakan—yang mengindikasikan sifat bocah juga. Mereka ini kenapa kompak sekali?

“Aigoo… Kalian membuatku cemburu. Kenapa aku jadi merasa dilupakan seperti ini?” Sahut Yeunghwan menginterupsi keduanya, setelah sejak tadi dia hanya diam memperhatikan momen-momen yang dibuat oleh istri dan anaknya tersebut, kini dia memutuskan untuk bergabung bersama mereka.

Keduanya terkekeh melihat raut wajah yang dibuat asam oleh suami sekaligus ayah tersebut. Seasm-asamnya buah mangga muda.

“Ah! Jadi, ada yang cemburu rupanya?” goda Kyuhyun. “Ibu, suamimu itu ternyata tukang iri. ya.” tambahnya kemudian. Yang dibalas tawa geli oleh Hana.

“Memang kenapa? Tidak boleh?” balasnya dengan raut tak terima, lalu ketiganya tertawa bersama. “Ohya, bagaimana rapat tadi?” tanya Yeunghwan begitu mengingat alasan kepulangan Kyuhyun ke negaranya ini.

Kyuhyun mengedikkan bahu, “Begitulah.. aku diminta untuk menangani masalah yang menimpa Silk Air dan menetap disini untuk beberapa waktu.”

“Eh, serius Kyuhyun? Kau akan disini?” tanya Hana tak percaya sekaligus senang. Yah, siapa yang tidak, jika putra kesayanganmu akan menetap disini setelah bertahun-tahun hidup berbeda negara? Kyuhyun menjawab pertanyaan itu dengan segaris senyum, tak lupa juga dua kali anggukan kepala yang menyertai setelahnya.

Yeunghwan ikut tersenyum. Sebenarnya dia sudah tahu, pasti para dewan direksi akan meminta putranya itu untuk membantu masalah Silk Air. Dia senang, tentu saja, kinerja putranya itu nyatanya dapat dipercayai oleh banyak orang. Dan sebagai orang tua, tentunya dia bangga terhadap Kyuhyun.

Yeunghwan berdeham. “Omong-omong, kalau aku tidak salah dengar, kau bilang kalau kau itu sudah dewasa. Benarkah? Kalau begitu cepatlah menikah, Cho Kyuhyun,” ledeknya disertai dengan tepukan yang dia berikan pada bahu anaknya itu.

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. “Ya Tuhan, Ayah. Urusan itu nanti sajalah.. Biar sudah dewasa aku ini masih muda dan ingin bebas. Dan tentu saja masih ingin bersama Ibu,” jawabnya santai.

Namun senyuman lebar Kyuhyun dan kekehan suaminya, Hana balas dengan keterdiaman. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Kalimat Kyuhyun tadi… entah kenapa membuatnya sedikit takut.

“Kenapa begitu?” tanyanya kemudian setelah belasan sekon dia hanya membisu. “Benar apa kata Ayahmu. Menikahlah. Mau sampai kapan kau akan begini terus hm? Umurmu bahkan sudah dua puluh sembilan tahun, Kyuhyun.” tambahnya.

Jujur saja, dilubuk hatinya yang terdalam, Hana sesungguhnya sudah sangat menginginkan seorang cucu untuk hadir dalam keluarga mereka. Umurnya sudah mencapai setengah abad hari ini, dan dia tidak mau Kyuhyun menunda-nunda lagi. Dia hanya takut tak sempat menimang cucu karena, biar bagaimanapun bertambahnya umur, itu menandakan kesempatan dia untuk menjalani hidup semakin sedikit kan?

Kyuhyun menggeser tatapannya lagi pada Kim Hana, kemudian mendesah, “Ayolah, Bu, bukankah kita sudah pernah membicarakan hal ini? Aku akan menikah jika aku sudah ingin. Jika aku sudah siap, oke? Jadi sebaiknya—” Kyuhyun meraih tangan Hana, menatap wanita itu dan ayahnya secara bergantian kemudian melanjutkan, “Kita bersiap-siap untuk merayakan pesta ulang tahunmu nanti malam. Kau akan menjadi bintang Nyonya Cho, tapi bagaimana bisa kau masih berada disini—menyirami bunga-bunga itu? Hm? Harusnya Ibu pergi ke butik dan salon untuk mempersiapkan dan mempercantik diri. Bukan malah mengurusi tanaman!” ucapnya, lalu terkekeh geli.

Hana menghela nafas, sementara Yeunghwan menggeleng geli. Kemudian, dia menyentuhkan tangannya pada Kyuhyun, menahannya agar tidak pergi. “Boleh Ibu bertanya?” ujarnya tiba-tiba.

Kyuhyun tersenyum. “Apapun.” Ya, apapun tapi kumohon tidak dengan masalah pernikahan—batinnya.

Hana menatap Yeunghwan sejenak, kemudian memfokuskan kembali retinanya pada dua bola kelam milik Kyuhyun. “Kau… seharusnya sudah sampai di Korea sejak kemarin sore ‘kan? Tapi—kenapa baru muncul sekarang? Kenapa baru menemui Ibu? Padahal Ibu sudah berharap kita akan memakan sup rumput laut bersama pagi ini,” lanjutnya dengan nada lirih.

Kyuhyun masih diam. Menunggu kalimat yang sepertinya akan ditanyakan lagi oleh Ibunya.

“Apa kau menemuinya?” tanyanya lagi.

Yeunghwan mengalihkan pandangan. Oh, baiklah, dia mulai mengerti rangkaian cerita apa yang akan diciptakan oleh istrinya ini. Dia tahu apa yang akan menjadi topik pembicaraan istrinya. Dia—sangat mengerti bagaimana Kim Hana.

Kyuhyun mengernyit, menggeser tubuhnya untuk benar-benar berhadapan dengan wanita yang dipanggilnya Ibu tersebut. “Maksud Ibu?” tanyanya tak mengerti.

“Kau tahu benar apa maksudku, Cho Kyuhyun.” Jawab Hana dengan nada lembut namun sarat ketegasan. Matanya menatap Kyuhyun menuntut. “Kau menemuinya. Wanita itu lagi—iya ‘kan?”

Menarik nafas dalam, Kyuhyun mengerti sekarang. Bibirnya terbuka namun tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulutnya. Ibunya itu pasti sedang bertanya perihal dirinya yang menemui Lee Sena, satu-satunya wanita yang Hana haramkan untuk berada didekatnya.

Kyuhyun mengangkat bibirnya. Tertawa—agak sinis, kemudian mengangguk. “Ya, aku menemuinya. Memangnya kenapa?” tanyanya. “Tidak boleh? Ayolah, kita juga sudah pernah membahas ini ‘kan? Dan ibu tau benar seperti apa jawabanku,” lanjutnya.

Sungguh dia sangat tidak suka jika ada yang mengusik tentang dirinya dengan Sena. Siapapun. Sekalipun orang itu adalah Ibunya sendiri. Dan Kim Hana, Kyuhyun memang sudah berkali-kali mendapatkan peringatan ini dari Ibunya tersebut. Tapi dia sama sekali tidak peduli. Walau diantara dia dan Sena tidak ada ikatan apapun, tetapi dia tetap tidak bisa untuk tidak mengacuhkan kehadirannya.

Sena seperti gravitasi. Selalu menariknya untuk tetap terjatuh pada pesonanya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa merasakan perasaan seperti itu. Yang dia tahu, dia hanya tidak bisa menyingkirkan eksistensi seorang Lee Sena. Tidak sama sekali.

Bibir Hana terbuka sebesar jari kelingking, rahangnya mengetat. Apa Kyuhyun baru saja menantangnya? Hebat sekali.

“Pergi darinya Cho Kyuhyun! Cari wanita lain yang lebih pantas untukmu. Yang memiliki rasa malu terhadap dirinya sendiri. Dan sadar dimana tempatnya berada. Cari wanita yang masih memiliki harga diri!” ucap Hana dengan kalimat yang menekan padat. Topik seperti ini sebenarnya sangat sensitif untuk keduanya, tetapi harus dia angkat lagi ke permukaan mengingat Cho Kyuhyun yang begitu keras kepala. Lagipula, Hana pun sudah secara terang-terangan memberitahu Kyuhyun bahwa dia tidak akan pernah mengijinkan Lee Sena untuk masuk kedalam kehidupan mereka.

“Carilah wanita yang baik-baik. Yang tidak kau jadikan sebagai partner sex-mu Cho Kyuhyun!” lanjutnya lagi.

Kyuhyun tertegun. Dia menatap ibunya tidak percaya.

Yeunghwan menutup kedua bola matanya erat. Harusnya tadi dia tidak perlu membahas masalah pernikahan saja jika akan berujung seperti ini. Lantas membuat atmosfer menjadi sebegini smenegangkannya. Dia sendiri sejujurnya kaget atas perkataan istrinya itu. Mereka memang tahu bagaimana hubungan Cho Kyuhyun dengan model tersebut. Mereka pun tahu bagaimana tidak sehatnya hubungan kedua anak muda itu. Tapi mendengar ucapan istrinya menghujat wanita yang selama ini selalu bermain dengan putranya sendiri, dan mungkin akan terus menjadi pusat dunianya seorang Cho Kyuhyun—walau hubungan keduanya saat ini tidak jelas— membuat dia mau tak mau tertohok.

Yeunghwan memang tidak pernah setuju dengan mereka berdua jika memepertahankan hubungan yang seperti itu, tapi dia pun tidak pernah berpikir untuk sekadar mengucapkan kalimat sarat makian seperti yang sudah istrinya lontarkan disekon lalu. Sekiranya, dia hanya menempatkan diri menjadi Lee Sena dan membayangkan bagaimana sakitnya menerima perkataan tersebut. Pun ditambah dengan fakta bahwa dia juga selalu bisa memahami bagaimana tatapan Cho Kyuhyun—tatapan tidak terima sekaligus sakit setiap kali istrinya itu memintanya untuk pergi dari Sena. Yang menandakan bahwa putranya, pasti memiliki perasaan untuk wanita itu. Hanya saja—untuk saat ini kedua anak manusia itu sedang tersesat.

Yenughwan menghela napas. Jujur saja, dia dan istrinya adalah manusia-manusia kolot yang masih mengikuti nasihat nenek moyang dan masih mematuhi norma yang ada. Dia hanya tidak pernah menyangka bahwa Kyuhyun—putra biologisnya—bisa bertindak sebegini jauh dalam suatu hubungan, bahkan melewati batas norma kebudayaan mereka. Dia dan istrinya tidak pernah mendidik Cho Kyuhyun menjadi pria brengsek si penggila sex. Tidak pernah sama sekali. Tapi kenapa Kyuhyun tumbuh seperti ini?

“Ibu, kau—”

“Lepaskan dia. Sampai kapanpun Ibu tidak akan pernah mengijinkanmu bersamanya—” ucap Hana dengan suara lirih. Dia tidak mau menatap mata Kyuhyun karena, jika dia melakukan itu, perasaannya sebagai seorang Ibu akan ikut sakit.

“Kau tidak mencintainya bukan? Karena bagaimanpun, perasaan yang tidak kau miliki itu bisa memudahkanmu untuk lepas dari jeratnya.,” lanjutnya—setengah berharap.

Bohong. Dia tahu betul bahwa Kyuhyuun sebenarnya menyimpan perasaan yang dia yakini itu adalah cinta untuk Sena. Tapi sungguh, dia tidak bisa merelakan anak semata-wayangnya itu untuk seorang Lee Sena. Dia tidak bisa.

Sementara dikeadaan lain, Kyuhyun bergelut dengan perasaannya. Cinta. Benarkah perhatian dan seluruh kasih sayangnya pada Sena selama ini bukan didasari atas cinta? Benarkah dia tidak memiliki perasaan itu?

Kyuhyun membuang nafas. Bola mata kelamnya bergerak kesana-kemari, tidak fokus. Perasaannya menjadi tidak karuan. Lebih tepatnya, kenapa dia merasakan nyeri dan sesak saat Sena dicaci-maki oleh Ibunya sendiri? Kenapa dia merasa sakit saat Ibunya menyinggung tentang cinta dan ada apa dengan kerja jantungnya?

Partner sex? Sungguh, Kyuhyun sama sekali tidak pernah berpikiran seperti itu. Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadikan Sena seperti yang Ibunya ucapkan tadi. Lee Sena tidak serendah itu dimatanya. Dia bukanlah tempat dimana Kyuhyun bisa sesuka hati menyalurkan gairahnya. Dia bukan jalang yang bisa digagahi begitu mudahnya. Lee Sena wanita baik-baik. Bahkan memiliki harga diri yang tinggi hingga banyak orang yang mengira bahwa Sena itu wanita yang arogan. Dan Sena, dia selalu sadar dimana tempatnya. Setidaknya itu yang Kyuhyun tahu selama lima tahun kebersamaan mereka.

Kesalahan terletak bukan padanya. Tidak. Ibunya lah yang salah. Ibunya tidak tahu apa-apa tentang wanita itu. Dan Ibunya—yang keterlaluan.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, tatapan yang dia layangkan pada Hana sulit untuk diartikan. Dia melangkah mundur perlahan, masing-masing tangannya menggenggam erat disamping tubuhnya. Kemudian berbalik, memutar tubuhnya pergi dalam keadaan seperti terhempas dari pesawat ulak-alik. Begitu ringan. Meninggalkan Ayah dan Ibunya. Meninggalkan serpihan rasa sakitnya. Lalu menghilang ditelan rumah besar mereka.

Yeunghwan menghela nafas. Tatapannya menjadi nanar ketika tubuh putranya sudah tidak terlihat. Dia merasa bersalah. Tapi dia harus bagaimana? Hana terlalu keras.

“Aku ingin perjodohan Kyuhyun dan Hyerin dipercepat,” tegas Hana menginterupsi pikiran suaminya. Dia khawatir jika menundanya lagi, putranya itu akan semakin jatuh pada Lee Sena. Dan dia tidak mau.

Yeunghwan menoleh, menatap kedua bola mata istrinya yang kosong dengan pandanagan ‘yang benar saja!’. “Sayang—”

Hana menggeleng. “Tidak ada lagi yang harus ditunda,” katanya, kemudian membalas tatapan suaminya. “Aku benar-benar akan menjauhkan wanita itu dari kehidupan putraku,” lanjutnya, kemudian melangkahkan kakinya pergi darisana. Meninggalkan Yeunghwan yang berdiri kaku dengan perasaan berkecamuk.

“Kyuhyun bukan orang yang bisa kau paksa dengan mudah, Sayang..” bisiknya lirih. Sangat lirih hingga mungkin hanya dirinya yang bisa mendengar suaranya tersebut.

.

(Un)Breakable

.

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi,” ucap Sena dengan mata tersenyum, sebelum kemudian menyesap Strawberry Milk-nya.

Kedatangannya bersama Yoorin beberapa jam lalu ke kantor Secret Magazine benar-benar membuatnya tercengang—nyaris tidak percaya. Bahkan hampir membuatnya memalukan diri sendiri dihadapan beberapa orang yang ada disana, jika saja pria didepannya ini tidak segera menegurnya kemudian menyapanya.

Rapat yang mengusung mengenai kerjasama antara Chuu Collection—perusahaan yang selama ini menggunakan tubuhnya sebagai ikon model produknya—dengan Secret Magazine tadi membuatnya mau tak mau dipertemukan kembali dengan pria yang saat ini tengah tersenyum padanya.

Pria itu berhenti mengaduk kopi hitamnya, kemudian menatap Sena. “Berapa lama, ya? Tujuh tahun atau delapan tahun?” tanyanya.

Sena tersenyum kecil, melipat kedua tangannya didepan dada dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. “Jika tidak salah hitung, bukankah—enam tahun?” tanyanya dengan alis terangkat.

Pria itu mengangguk, “Aah ya—tapi mungkin tidak akan ada kalimat ‘tidak menyangka bertemu lagi setelah enam tahun’ diantara kita jika saja saat itu kau tidak tergoda dengannya,” ucapnya disertai satu buah senyuman yang benar-benar Sena rindukan.

Sena mendelik, membuka mulutnya. Wah.. dia benar-benar tidak percaya bahwa pertemuannya kembali dengan pria itu malah memunculkan topik seperti ini. “Tsk. Aku tidak tergoda dengannya, Changmin-ah!” gertaknya kesal.

“Benarkah?”

“Ish!” geramnya yang membuat Changmin tertawa keras.

Well, sebenarnya yang perlu diberitahukan disini adalah fakta bahwa dirinya dengan pria itu—Shim Changmin yang merupakan sepasang mantan kekasih. Ya, mereka pernah menjalin hubungan selama kurang lebih dua tahun saat masih sama-sama duduk dibangku kuliah dulu. Menjadi pasangan terideal pada saat itu. Menjadi bahan tolak ukur bagi teman-temannya, baik pria ataupun wanita, jika ingin mencari seorang kekasih. Dan mereka pernah dinobatkan sebagai maskot pasangan di Kyunghee University. Tapi itu semua—terjadi jauh sebelum Kyuhyun masuk diantara mereka. Sebelum putra konglomerat itu sedikit demi sedikit mulai merenggangkan hubungan keduanya.

Kyuhyun memang tertarik pada Lee Sena—karena pria itu akui bahwa Lee Sena memang benar-benar mempesona bahkan saat pertama kali mereka saling diperkenalkan oleh Shim Changmin. Tapi, tidak. Kyuhyun bukan orang ketiga, jika kalian pikir memang seperti itu. Sama sekali bukan. Sahabat karib yang merangkap seperti saudara bagi Shim Changmin itu, walau dirinya adalah seorang pemain, tetapi dia tidak pernah sekalipun dalam hidupnya beritikad menjadi pria yang tidak tahu diri atau bahkan tidak tahu malu hanya untuk merebut kekasih orang apalagi sahabatnya.

Lalu apa? Sena yang mengkhianati Changmin? Teknisnya mungkin begitu tapi secara keseluruhan tidak seperti itu juga. Membingungkan.

Jadi begini—pada dasarnya seserasi apapun mereka terlihat dimata teman-temannya, sesering apapun Sena menghabiskan waktunya dengan Shim Changmin, dan setergila apapun hal yang mereka lakukan bersama, disana—didalam hatinya tidak pernah ada secuil pun perasaan lebih dari sayang yang dia berikan untuk pria tersebut. Kecuali Changmin yang memang memberikan seluruh hatinya ke padanya. Dia hanya tidak pernah bisa memandang Shim Changmin sebagai kekasihnya saat itu.

Dan kemudian Kyuhyun datang diantara mereka. Merebut hampir seluruh perhatian yang Sena berikan untuk Changmin untuk beralih kepadanya. Lantas membuat seorang Lee Sena yang memang tidak pernah mencintai Shim Changmin, semakin berada dalam titik lemahnya.

Saat itu, Sena tidak tahu ada apa dengan hatinya. Dia hanya tidak mau meninggalkan Changmin yang selalu baik dan mencurahkan perhatiannya untuk dirinya tersebut, tapi dia juga menginginkan dan mendamba untuk selalu bertemu dengan Kyuhyun. Egoisnya begitu. Namun, kedua pria itu memang benar-benar telah membuat perasaannya kacau. Dulu.

Changmin yang saat itu sadar akan tempatnya— dimana dia tidak lagi menjadi fokus kekasihnya, perlahan pun mundur. Mengorbankan seluruh perasaannya demi dua orang yang menjadi sahabat dan wanitanya. Mengabaikan semua rasa sakit dihatinya demi Lee Sena dan Cho Kyuhyun. Dan memberikan peluang bagi mereka berdua agar bisa bersama.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa juga harus dia yang mengalah? Jujur saja, Changmin juga pernah berpikiran seperti itu. Tapi baginya—dalam dirinya, tersematkan sebuah kalimat yaitu; ‘Mengalah lah. Jangan pernah memaksa keinginan orang lain. Cukup diam dan hentikan’.

Anggap dia adalah pria bodoh yang dengan mudah melepaskan cintanya begitu saja. Anggap dia adalah pria yang  gampang menyerah dan tidak mau berjuang. Anggap saja seperti itu. Karena kenyataannya memang seperti itu, hingga dia sanggup membuat Sena menangis. Membuat wanita itu kecewa padanya. Dan merasa jika dirinya tidak layak dipertahankan olehnya.

Jika saja dia boleh egois, mungkin dia akan berbalik memerjuangkan hubungan mereka. Tetapi tidak bisa. Karena memang seorang Lee Sena tidak pernah mencintainya. Jadi untuk apa dia berjuang seorang diri?

Pun dengan kepekaa dirinya yang juga tahu bahwa dalam tatapan yang Kyuhyun berikan pada Sena, disana ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang juga pernah dia rasakan saat pertama kali bertemu dengan wanita bermarga Lee itu.

Kyuhyun—jatuh cinta pada kekasihnya.

“Hei, mengaku saja lah. Iya ‘kan?” tanya Changmin dengan alis yang dinaik-turunkan. Menggoda mantan kekasihnya tersebut. “Aku tahu bagaimana hubunganmu dengannya setelah aku pergi Lee Sena,” lanjutnya disertai dengan senyum jahil.

Mata Sena memicing tidak terima. Wanita itu membuang nafas kemudian berkata, “Itu karena kau yang memang lebih dulu meninggalkanku, Tuan Shim,” jawabnya datar.

Senyum Changmin berubah kecut, dia mengangguk-anggukan kepalanya. “Jadi keputusanku dulu benar bukan?”

“Tidak juga,” sahutnya. Sena menegakkan tubuhnya kemudian melayangkan tatapannya untuk tidak berhenti menatap Changmin, “Setelah kau pergi, aku juga pergi. Tidak terjadi apa-apa pada kami, hingga setahun kemudian aku dan dia kembali bertemu di Charity Event yang diadakan oleh perusahaannya. Kau puas?”

Changmin kembali terkekeh—agak canggung, “Ya. Sangat puas. Setidaknya pengorbananku tidak sia-sia kan?”

Sena mengangkat sudut bibirnya, tersenyum—walaupun sangat tipis. Changmin benar-benar licik. Dia jadi merasa lucu sekaligus jahat pada pria itu. Dia yang dulu pernah memohon untuk tidak ditinggalkan olehnya tapi sekarang malah….

“Sekadar informasi, aku tidak sedang menajalani hubungan apapun dengannya,” ucap Sena lirih, namun masih bisa didengar oleh telinga Changmin. Dia mengaduk-aduk gelasnya. Membuat si Pria Shim mengerutkan alis, “Bukankah kalian berkencan?” tanyanya hati-hati.

Sena menggeleng, dia menghembuskan nafas. “Tidak, kau salah. Hubungan kami tidak sejauh itu.”

“Tapi Hyukjae Hyung bilang—”

“Tunggu, kau sudah bertemu dengan Oppa?” repetnya memutuskan kalimat Changmin. “Kapan? Kenapa kau tidak menemuiku juga? Kenapa malah sekarang?” Dia hanya tidak menyangka Changmin sudah menemui Oppa-nya. Jadi sudah berapa lama pria itu kembali ke Korea?

Changmin mencibir, dia menggapai pergelangan tangan Sena yang ada diatas meja. “Jangan mengalihkan pembicaraan, Na-ya. Katakan padaku, ada apa dengan kalian?” tanyanya tegas.

Sena mengerjap. Na-ya. Ya tuhan, setelah enam tahun dia tidak mendengar sapaan itu kini akhirnya dia bisa mendengarnya lagi. Bahkan keluar dari mulut pria itu—prianya dulu.

“A-apa? Apa maksudmu?” tanyanya tergagap.

Changmin menggigit pipi bagian dalamnya. Merasa gemas pada Lee Sena. “Kau dengan Kyuhyun. Kalian tidak pernah berkencan. Jadi selama ini apa yang kalian lakukan huh?”

Wanita itu mendesah kemudian tersenyum tipis lagi, dia melepaskan tangan Changmin. “Tidak ada apa-apa, kami hanya menjalaninya begitu saja. Tanpa ikatan. Tanpa komitmen. Dan tanpa kejelasan.”

Changmin dibuat tercengang. Hei, dia melepaskan Sena bukan untuk menjalani hubungan yang seperti itu dengan Kyuhyun. Tapi mau apa itu tadi? Changmin mengerutkan alis tidak terima. Tanpa dia tahu, alasan Sena sebenarnya adalah karena wanita itu tidak mau seperti dulu lagi—saat dia berkencan pria tinggi ini tapi tidak ada cinta disana. Dia tidak mau kejadian seperti itu terulang lagi. Dan beralih melukai Kyuhyun seperti dia melukai Changmin. Karena sejujurnya, dia sendiri masih belum bisa menebak bagaimana perasaannya terhadap Kyuhyun.

“Aku hanya tidak mau kejadian dulu terulang lagi, Changmin. Lagipula Kyuhyun tidak pernah menuntut ataupun meminta kepastian hubungan ini padaku, begitupun denganku. Kami hanya menjalaninya sesuai dengan keinginan kami. Itu saja. Masalah nantinya Kyuhyun ataupun aku akan memilki pasangan masing-masing, itu tidak akan berpengaruh apapun pada kami. Setidaknya, tidak akan ada yang terluka diantara kami. Karena memang tidak ada cinta,” lanjut Sena dengan memberikan tatapan pengertian pada pria dihadapannya.

Changmin masih memandangnya tidak percaya. Tak lama, pria itu tertawa sinis. Sangat sinis. Tidak ada cinta? Cih, yang benar saja!

“Terserah kalian saja lah,” ucapnya mengalah. Tidak mau tahu urusan mereka.

“Nah! Jadi katakan padaku, sudah berapa lama kau berada di Korea huh?” tanya Sena mengalihkan topik pembicaraan. Oh, sungguh bibirnya sudah gatal untuk menanyakan hal tersebut.

“Kau tidak sabaran sekali sih, Nona.” Changmin berhenti sejenak, meneguk kopi hitamnya. “Mungkin sekitar lima bulan—atau enam bulan? Entahlah, aku tidak ingat,” lanjutnya dengan mata menerawang.

“Lima atau enam bulan?” Sena membulatkan kedua matanya. “Kau benar-benar Shim Changmin! Apa aku begitu buruk sampai kau tidak mau menemuiku? Dan malah lebih memilih untuk bertemu dengan Oppa? Keterlaluan.”

Changmin tersedak kopinya. Dia tertawa atas ucapan wanita itu. “Yang benar saja! Hei, aku ini bukan orang yang suka menyimpan dendam meski kau pernah menyakitiku tahu!” dia masih sibuk terkekeh, membuat Sena memandangnya dengan wajah yang mengerut masam. “Waktu itu aku tidak sengaja bertemu dengannya dan Donghae Hyung. Lagipula aku juga sedang disibukkan mengurusi ini-itu untuk membuka galeri baruku disini, jadi tidak ada waktu untuk sekadar menemuimu, Na-ya.”

Sena masih memberengut, dia menendang kaki Changmin dibawah meja sana. “Jangan bilang kau sudah bertemu dengan Kyuhyun juga.”

“Aussh… Kau ini! Kyuhyun ‘kan tidak tinggal di Korea. Jadi bagaimana bisa aku bertemu dengannya!” sahut Changmin disertai dengan ringisan perih akibat perbuatan wanita didepannya ini.

Tuh kan! Pria itu saja tahu jika Kyuhyun tidak menetap di Korea. Jadi selama ini mereka masih berkomunikasi kan?

Sena mengedikkan bahunya. “Bisa saja ‘kan kalian bertemu diam-diam dibelakangku. Kalian ‘kan sudah seperti anak kembar. Sama persis seperti Hyukjae Oppa dan Donghae Oppa,” sungutnya, yang disambut kikikan geli oleh Changmin. Pria itu menganggukan kepala, kemudian berkata, “Yayaya. Tersarah apa katamu, Nona.”

Sena kembali berdecih tapi kemudian dia ingat sesuatu. Tunggu—pria itu bilang tadi sedang mengurusi ini-itu untuk membuka galeri. Maksudnya? Bukankah pria dihadapannya ini bekerja di Secret Magazine sebagai fotografer? Dia mengernyitkan alisnya, kemudian mencondongkan tubuhnya kedepan. Menatap lebih dekat pada Shim Changmin, “Kau akan membuka galeri, Shim Changmin?” tanyanya, dan dibalas oleh si pemilik nama dengan tiga kali anggukan. Sena berdeham, “Bukankah kau bekerja untuk Secret?”

Changmin memfokuskan tatapannya pada Sena lagi, pria tersebut tersenyum. “Hanya sebagai sambilan saja. Aku memang akan membuka galeriku sendiri disini, tapi sebagian waktu aku juga bekerja untuk orang lain. Hitung-hitung mencari kesibukan lah.” jawabnya lugas.

Sena ternganga. Kemudian menggeleng tak percaya. Wanita itu menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi lagi. “Kau sama saja seperti Kyuhyun. Gila pekerjaan!”

“Bedanya, aku tidak sepintar dia yang bisa memainkan saham dan tentunya, aku amat sangat tidak cocok untuk bekerja dibalik meja dengan tumpukan kertas-kertas perjanjian yang membutuhkan tanda tangan itu.”

Sena tertawa, lantas mengangguk setuju. Well—kemampuan dan minat dua orang ini memang berbeda. Kyuhyun lebih banyak menghabiskan waktu didalam ruangan sementara Changmin lebih banyak menghabiskan waktu dilapangan. Mungkin itu yang menyebabkan warna kulit mereka sangat berbeda. Kyuhyun putih pucat, sedangkan Changmin memiliki warna kulit yang sangat eksotis untuk ukuran orang Korea. Tan Skinned. Benar-benar seksi.

“Oh ya, omong-omong memangnya selama ini kau pergi kemana?” tanya Sena penasaran. Karena sungguh, dia sendiri tidak tahu kemana Changmin pergi setelah meninggalkannya. Dia sedang patah hati saat itu jadi dia tidak mau memedulikan apapun yang ada disekitarnya bahkan tidak mau tahu kemana hilangnya si penyebab patah hatinya ini. Dan sekarang, saat mereka dipertemukan lagi, dia tidak akan menyia-nyiakan pertanyaan yang terpendam itu.

“Apa Kyuhyun tidak memberitahumu?” balas Changmin dengan kedua alis terangkat.

Sena mendengus, dia kembali menendang kaki panjang Changmin. “Kau meledekku?! Kyuhyun mana pernah sih membahasmu jika bersama denganku,” Dan aku juga cukup gengsi menanyakanmu padanya— lanjutnya dalam hati.

Changmin terkekeh, lantas mengangguk paham, “Wah.. aku paham yang seperti ini.” Lagipula, mana ada pria yang mau membicarakan mantan kekasih wanitanya dihadapan wanita itu sendiri—wanita yang mungkin dicintai olehnya. Oleh Kyuhyun. Tabok pantatnya jika Changmin salah.

Pria itu kemudian menegakkan duduknya, sebelum berujar, “Aku bekerja untuk NatGeo. Kau percaya?”

Sena membuka mulutnya sebesar dua jari. NatGeo. NatGeo yang itu? Matanya membulat tak percaya. Benarkah? Sena menelisik tatapan Changmin, siapa tahu pria itu berbohong atau bergurau. Tapi dia tidak menemukan satupun gurauan disana. Jadi dia mengerjapkan matanya seperti orang bodoh. Changmin di NatGeo. Serius?

“K-kau.. sungguh?” Changmin membalasnya dengan anggukan yakin. “N-natGeo yang itu ‘kan? Kau sungguh mendapatkannya, Shim Changmin?” pria itu kembali mengangguk  mantap, kemudian terkekeh geli melihat raut wajah mantan kekasihnya ini.

“Ya. Eiy, jangan memandangku seperti itu! Kau pikir aku tidak mampu huh?” ujarnya sarkatis.

Sena menggeleng, lima jarinya dia tunjukkan kedepan—menandakan bukan seperti yang pria itu pikirkan, kemudian dia menyeruput Strawberry Milkshake-nya lagi untuk yang terakhir kali. “Kau—itu keren sekali Changmin-ah! Kau berhasil mewujudkan keinginanmu!” katanya dengan penuh semangat.

Changmin tersenyum, tubuhnya dia condongkan kedepan kemudian ibu jarinya mengusap sisa minuman wanita itu tadi yang tertinggal diatas bibirnya. “Kau masih saja tidak benar jika meminum sesuatu. Seorang model itu harus elegan tahu tidak?” Sena berdecih, memangnya model itu tidak boleh bersikap biasa-biasa saja?

“Jawab saja pertanyaanku!” sentaknya.

Changmin mendesah. “Apa lagi? Aku sudah menjawab pertanyaanmu tadi, Nona Lee.”

“Bagaimana bisa? Dulu kita pernah berjanji akan sama-sama bekerja diperusahaan itu. Kau curang! Kau sengaja ‘kan tidak mengajakku!” tuduhnya tidak terima.

“Siapa yang curang huh? Aku ini hanya memanfaatkan keadaan patah hatiku saat itu. Jadi jangan menuduh,” tanggap Changmin tidak terima. “Tapi— terimakasih ya karena berkatmu aku menjadi bagian dari mereka,” lanjutnya lagi dengan kikikan yang membuat Sena semakin sebal. Pintar sekali Changmin memanfaatkan keadaan.

Sena mengibaskan tangan didepannya. “Lalu kenapa kau kembali? Kenapa tidak menetap disana saja selamanya.”

“Kau sudah tau jawabannya. Aku akan membangun galeri untukku sendiri disini. Lagipula aku rindu Korea, memangnya tidak boleh?”

Sena mendesah, ya terima sajalah nasibmu itu Lee Sena. Dia kemudian memandang Changmin, “Kau sudah bertemu Kyuhyun?” tanyanya lagi. Changmin mengedikkan bahu, “Belum. Mungkin nanti malam saat ulang tahun Ibu. Dia berada di Korea ‘kan sekarang?” jawabnya.

Changmin memang menyebut kedua orang tua Kyuhyun dengan sebutan Ibu dan Ayah, sama seperti ketika dia menyebut kedua orang tuanya sendiri. Ini dikarenakan Kim Hana dan Ibunya—Shin Bora adalah sahabat karib saat masih muda dulu dan memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan tersebut.

Apalagi semenjak Changmin menjadi yatim-piatu saat dia sendiri masih berada di sekolah dasar. Ayah dan Ibunya meninggal karena kecelakaan dan Cho Yeunghwan serta Kim Hana adalah sepasang suami-istri yang langsung mengulurkan tangan padanya. Menyayangi dirinya seperti Cho Kyuhyun. Merawat dirinya. Dan menjadikan dirinya sebagai anak  mereka sendiri, sebagai saudara dari Cho Kyuhyun. Itulah yang menyebabkan persahabatannya dengan pria itu begitu erat.

Hubungan mereka benar-benar seperti keluarga. Dia sudah seperti Kakak bagi Cho Kyuhyun—walau kenyataannya pria itu lebih tua dibanding dirinya limabelas hari. Bahkan ketika dia memutuskan untuk pergi dari negaranya ini, Kim Hana harus menangis tersedu-sedu dipelukan seorang Cho Kyuhyun karena tidak rela dia tinggalkan.

Mengingat itu dia jadi sangat merindukan keluarga keduanya tersebut.

“Ya. Dan harusnya siang ini kami janji untuk makan siang bersama, tetapi pria itu malah tidak bisa karena rapatnya yang berjam-berjam,” sahut Sena lesu.

Changmin mengangkat alis, “Jadi dia sudah menemuimu?” tanyanya. Sena mengangguk sambil menggumam ‘sudah’.

Tidak ada pembicaraan lagi sampai suara dering SMS dari ponsel pria itu berbunyi. Changmin tersenyum kemudian mengangkat benda elektronik tersebut setinggi wajahnya, menunjukkan pada Sena. “Maaf. Aku harus pergi..” cengirnya.

“Kemana? Kita baru bertemu.” Jawab Sena dengan bibir mengerucut. Sesungguhnya dia masih merindukan Shim Changmin, tapi jika itu adalah hal penting, dia bisa apa?

“Ah, baiklah. Kalau begitu berikan nomor teleponmu padaku agar kita bisa bertemu lagi,” Sena mengeluarkan secarik kertas lusuh dan bolpoin dalam tas tangan kecilnya kemudian menyerahkannya pada Changmin yang langsung ditulis pria itu dengan deretan angka.

“Sampai jumpa, Na-ya,” katanya, lantas mengusap rambut cokelat-panjang wanita itu, dibalas oleh si empunya dengan senyum dan anggukan secara bersamaan.

—tbc

Advertisements

181 thoughts on “(Un)Breakable – Chap.1

  1. Annyeong~~ maaf baru sempet coment lagi 😂 hubungan antara kyuhyun-sena makin sini makin membingungkan(?) menurutku perasaan mereka berdua memang ada something nya, cman bener kata appa cho mereka lagi tersesat 😱😂 penasaran sama eomma cho kenapa bisa sampe engga merestui hubungan kyu-sena

    Like

  2. Ya mereka menyimpan perasaan mereka sendiri sendiri,, coba klo saling terbuka.. Semuanya gk akan serumit ini.. Ck ayolah kalian udah dewasa
    Knp kyu eomma gk ngerestuin? Ada apa tuh

    Like

  3. Annyeong.. aku reader bru nih..
    Aku udh baca ff unclear di flying nc.. trus nyampe deh di sini.. wkwkwk
    Susah klo dlam hbungan itu gk sling trbuka, bakalan rumit dn juga gk ada ujungnya..
    Ff nya keren.. next aja deh..

    Like

  4. Cerita dan bahasanya baguuus …
    Bener yang diomongin sm appa Cho, mereka lagi tersesat, eomma Cho kenapa sebel banget sm Sena ya… bukan sebel si tp kayaknya benci bgt ama Sena… baru chapter 1 uda mulai konfliknya ni..

    Liked by 1 person

  5. Hai salam kenal authornim.. aku reader baru. Aku pernah baca un(clear) di flying dan ternyata ada sequelnya. Kayaknya bakalan seru nih, belum ada kejelasan hubungan diantara mereka ditambah lagi ibu Kyuhyun yg gk suka Sena

    Liked by 1 person

  6. Dari part awal udah berasa greget nya kak, ternyata selain bingung sama perasaannya sendiri kyuhyun-sena juga punya masalah sama ibu kyuhyun heuheu
    Makin penasaran sih kak :((
    Ijin ngebut baca deh kak pokoknya.. Ohiya kak, alasan lain yang bikin aku semangat baca cerita kakak selain ide cerita yg menarik juga karena cast cewek yang ada di cover, auranya cocok sama kyuhyun. Dia model juga kan kak ? Cantik deh, cocok sama kyuhyun. Semangat nulis cerita lainnya kak, karena cerita ini dah sampe ending dan aku telat ngikutin dr awal 😦 maaf kak huhu

    Liked by 1 person

  7. Hallo ~ aku lupa apakah aku pernah coment disini atau gak karna aku sering kali mampir ke tmpat ff yg adanya kyuhyun dan terkadang tidak meninggalkan jejak. Mianhaee 😔🙏

    Like

  8. Salam kenal, baru nemu blog ini. Suka cerita ya coz baca di blog flyingncfanfiction.
    Ibu kyu kok nggak suka banget ama sena.

    Like

  9. Wooow…menarik bgt..
    Duuh konflik udah mulai kebaca nih disini , ternyata g cuma masalah ttg perasaan kyuhyun dan sena , tp juga larangan dr ibunya kyuhyun ni yg jd perkara….

    Changmiiin…kau msh pnya perasaan ke sena gak siih ? Kalo masih, pasti tmbah seru ni alurnya, hehehe

    Like

  10. Nyesegggg bangettttt inimahhhh
    kalo sampe tante hana tau sena dulu pernah hamil, gimana tanggapannyaa?? apadia bakalan restuin atau tidak?? greget bgt ini kak TT
    rumit bgt pasti kalo udh bawa urusan ortu yg kolot ky ibunya kyuu
    apalagi perjodohan!!! adoohh semoga kyu menolak dengan keraass!!

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s