Posted in CF Series

Interlude – At Morning

pic-7

Cr. Kyoung

At Morning

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena – Joon

⌈ AU │ Series 

 PG – 17 

⌈ GENRE ⌋

Romance, Family

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

⌈ RELATED STORIES ⌋

At Midnight ¶ At Noon

Queensera©2016

“Hoeeks.. Hoeks..”

Sena bersimpuh didepan closet kamar mandinya dengan mulut terbuka sebesar tiga jari. Sepagian ini, sejak tiga puluh menit yang lalu, perutnya terasa mual. Tenggorokannya seperti ada yang mengganjal, ingin mengeluarkan sesuatu tapi sejak tadi tidak ada yang keluar darisana kecuali air liurnya saja.

Wajah wanita itu sangat pias. Keringat dingin sudah membasahi hampir seluruh permukaan dahi dan pelipisnya. Dia mulai tidak kuat untuk menahan beban tubuhnya yang kian melemas, tapi rasa mual yang menyerangnya saat ini benar-benar tidak memiliki toleransi untuk itu.

Masih dengan mulut yang mengeluarkan suara ingin muntah, Sena tiba-tiba saja merasakan jari-jari besar melingkupi seluruh bagian leher belakangnya. Memijat tengkuknya tersebut, seperti ingin membantunya menyelesaikan morning sickness yang telah mengacaukan waktu tidurnya pagi ini.

Tidak perlu menebak siapa pemilik jari-jari tersebut, karena Sena yakin, Kyuhyun pasti terganggu akibat suaranya. Itu sudah pasti. Karena sekarang masih pukul enam. Terlalu pagi bagi pria tersebut untuk terbangun dari tidurnya dan memulai aktivitasnya sebagai kepala keluarga yang akan mencari nafkah. Kyuhyun terbiasa bangun pukul tujuh omong-omong, dan saat ini lebih awal satu jam dari waktu yang seharusnya.

Merasa lebih baik, Sena menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun yang kini memang sedang berada pada posisi berjongkok dibelakang tubuhnya. Menumpu tubuh lemasnya pada tubuh gegap suaminya. Dan menormalkan kembali pernapasannya yang tersendat disana.

Kyuhyun yang melihat tidak ada apa-apa pada closet itu –kecuali saliva istrinya, hanya bisa menghela nafas. Kemudian melarikan tangan kirinya untuk sedikit merapikan rambut cokelat-madu Sena yang tampak kusut, sedangkan tangan lainnya menekan flush untuk menggilas habis apa yang baru saja dimuntahkan istrinya tersebut.

“Sudah lebih baik, heum?” tanyanya dengan sesekali menghirup aroma rambut Sena setelah beberapa saat yang lalu mereka isi dengan keheningan.

“Maaf..”

Dahi Kyuhyun mengernyit akan jawaban yang diberikan oleh gadis itu. Maaf? Untuk apa? Karena suaranya yang mengganggu tidurnya kah?

Kyuhyun diam. Menunggu istrinya itu melanjutkan kalimatnya, tapi karena tidak ada satupun kalimat yang terlontar dari mulut Sena juga maka dia dengan perlahan mengangkat tubuh wanita itu, kemudian mendudukannya diatas closet yang sudah tertutup.

Kyuhyun masih dengan posisi berjongkoknya. Meneliti wajah Sena yang tampak pucat, kemudian bangkit berdiri. Menarik handuk kecil yang tersampirkan diatas hanger lantas membasahi handuk itu dengan sedikit air. Dengan cekatan, tangannya mengusap area bibir Sena. Membersihkan sisa-sisa muntah yang dikeluarkan istrinya tadi. Sena sendiri terdiam –menurut akan perlakuan Kyuhyun dengan sesekali kernyitan didahi yang tidak lepas dari pandangan suaminya.

Setelah selesai, kedua matanya kembali Kyuhyun layangkan untuk menatap bola mata Sena. “Masih sakit?” tanyanya lembut namun sarat akan kecemasan.

Sena meringis, dia merasa bersalah pada Kyuhyun. Dengan sedikit rintihan karena perutnya kembali terasa mual, dia pun menjawab, “Aku tidak apa-apa.”

Kyuhyun mendesah, “Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu pucat sekali, Sena.”

“Ak—” Belum sempat Sena menuntaskan kalimatnya dia dengan nada terburu-buru segera berlari menuju westafel, kemudian memuntahkan sesuatu lagi disana. Yang pada dasarnya tidak ada apa-apa, dia samasekali tidak mengeluarkan apa-apa.

Kyuhyun mendengus, pria itu mengusap wajahnya kasar kemudian beranjak keluar mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas dan kembali lagi memasuki kamar mandi setelahnya, lantas melakukan kegiatan seperti tadi –memijat tengkuk Sena. Sebelah tangannya sibuk mencari kontak dr. Kim namun baru saja ia hendak menghubungi nomor itu ketika tangan Sena malah menepisnya, “Jangh-anh..” katanya dengan suara lirih yang penuh dengan kelelahan.

Kyuhyun diam, tidak melakukan apapun, dan hal itu membuat Sena jadi mengkeret. Kyuhyun menatapnya dengan tatapan tidak suka, Sena tahu itu. Pria itu sangat tidak suka jika dalam keadaan kacaunya, Sena malah menentangnya.

Bukannnya Sena mau menyombongkan diri, sudah jelas wanita itu tahu jika perasaan Kyuhyun sedang kacau karena keadaan dirinya saat ini. Dia tahu seberapa besar kecemasan yang pria itu pancarkan melalui tatapan dinginnya. Tapi sungguh, morning sickness adalah hal biasa yang terjadi pada setiap wanita yang sedang hamil muda, jadi dia rasa menghubungi dr. Kim adalah hal yang percuma. Yang ada malah mereka bisa ditertawakan oleh dokter itu.

Sayangnya, Kyuhyun tidak mengerti.

“Sungguh Kyuhyun…” ucapnya meyakinkan saat melihat alis Kyuhyun yang terangkat sebelah sebagai bentuk ekspresi lain yang pria itu tunjukkan setelah menatapnya dingin begitu lama. Seakan pria itu sedang meminta penjelasan sekaligus mencemooh dirinya yang masih saja tetap kukuh tidak mau diobati oleh dr. Kim sedangkan keadannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.

“Aku tidak apa-apa, nanti juga akan membaik lagi,” Sena menyentuhkan tangannya pada bahu pria itu kemudian terkekeh kecil, “Ini sudah biasa. Ini bukan yang pertama kali untukku. Waktu aku hamil Joon juga seperti ini kan? Jadi, tidak perlu cemas begitu.”

Kyuhyun tidak menarik tatapannya dari kedua bola mata Sena. Ada kecemasan serta kejengkelan disana. Pria itu menyelami samudra milik istrinya begitu dalam. Dan lama. Mencoba mengintimidasi wanitanya tersebut. Dan masih terus begitu meski kini Sena telah kembali muntah-muntah dihadapannya.

Menghembuskan nafas frustasi, Kyuhyun mengangkat sejumput rambut istrinya dan kembali memijat tengkuk Sena. “Aku tidak yakin ini akan baik-baik saja,” gumamnya lirih dan tak tega secara bersamaan ketika melihat betapa kesakitannya Sena.

Kyuhyun bersumpah ini akan menjadi yang terakhir kali baginya membuat Sena mengalami morning sickness. Ya, Sena seperti ini karena campur tangan dirinya kan? Seandainya saja dia tidak menghamili Sena pasti acara muntah-muntah dipagi hari tidak akan terjadi, setidaknya begitulah pikir Kyuhyun. Dia sungguh tidak tahan jika setiap hari mendapati keadaan wanitanya seperti sekarang. Kalau perlu, kehamilan Sena saat ini adalah untuk yang terakhir kalinya bagi mereka.

Setelah mereda untuk beberapa saat dan Sena juga sudah merasa benar-benar membaik, Kyuhyun menuntun istrinya tersebut untuk berbaring diatas tempat tidur. “Ku ambilkan minum sebentar,” ucapnya lantas menghilang dibalik pintu.

.

Interlude Series

.

Dua jam telah berlalu, dan saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh tujuh menit. Kyuhyun, bukannya sudah membaur dengan mobil-mobil lain dalam perjalanannya menuju Silk Air demi menunaikan pekerjaannya sebagai kepala keluarga, tapi sampai saat ini pria itu malah masih sibuk mondar-mandir seperti gasing dirumahnya.

Setelah menyeduhkan segelas teh madu hangat untuk Sena, istrinya itu dia sarankan untuk istirahat saja diatas tempat tidur. Dan hingga sekarang wanita itu masih berada didalam kamar mereka untuk melanjutkan waktu tidurnya. Membuat Kyuhyun sedikit merasa menyesal karena harus membagi waktunya demi meladeni bocah berusia hampir tiga tahun yang tidak bisa diam sejak tadi.

“Apa?!” ucapnya setengah berteriak setengah ketus pada telepon genggamnya.

Kyuhyun sudah dibuat gemas oleh tingkah Joon yang berlari kesana kemari sepagian ini dan orang yang menurutnya tidak tahu sikon, yang menghubunginya saat ini malah membuat dia semakin gemas dengan deringan teleponnya sedari tadi tidak mau diam.

“Kenapa kau membentakku, Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun terkesiap begitu mendengar suara rendah Kakeknya. Dia menatap kembali layar telepon genggamnya. Ah… benar saja. Ini adalah nomor telepon rumah Kakeknya. Tapi ada apa juga pria tua itu menghubunginya saat ini? Apa kebiasaannya membaca Koran pagi dan menyantap kopinya sudah selesai?

Kyuhyun melarikan kedua bola matanya untuk menatap jam digital yang tergantung didinding rumahnya. Pria itu mendecak begitu melihat pukul berapa sekarang. Ya, tentu saja sudah Cho Kyuhyun bodoh! Kakekmu itu sangat disiplin waktu. Kau tidak lupa kan kalau pukul tujuh pagi saja sarapan sudah harus dimulai oleh Kakekmu itu?

Hidup bersama Cho Ji-Tae selama kurang lebih lima belas tahun tidak serta-merta membuat Kyuhyun melupakan dengan mudah kebiasaan Kakeknya begitu saja. Pria tua itu sangat disiplin untuk beberapa hal. Sejak menjadi yatim-piatu diumur sepuluh tahun, Kyuhyun memang tinggal dan diasuh oleh Kakeknya tersebut. Berkat didikan Cho Ji-Tae lah Kyuhyun bisa seperti ini. Hanya pria itu yang Kyuhyun miliki setelah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya selamanya.

Sebenarnya masih ada Cho In-Gil dan Cho Tae-Ri yang masing-masing adalah kakak dan adik dari Ayahnya, Cho Yeung-Hwan. Yang merupakan Ibu dari Choi Siwon dan Park Chanyeol. Yang bersedia mengasuhnya saat itu. Namun Kyuhyun, pria itu lebih memilih untuk tinggal bersama Kakeknya saja, karena menurutnya, saat itu mereka sama-sama sendiri. Jadi, jika dua orang yang sama-sama sendiri digabungkan, bukankah akan saling melengkapi pada akhirnya? Dan beginilah mereka jadinya, Kyuhyun lebih dekat dengan Kakeknya dibanding dengan para Paman dan Bibinya.

Menghela nafas Kyuhyun pun berkata, “Baiklah, maaf. Ada apa pagi-pagi seperti ini Gramps menghubungiku?”

“Ada apa denganmu? Suaramu seperti orang terburu-buru saja.”

“Tidak, tidak ada apa-apa. Jadi, bisa beritahu aku sekarang?” Oh bukan, dia tidak sedang terburu-buru. Dia hanya merasa kesal karena sudah jam segini tapi dia belum juga bisa berangkat ke kantor.

“Nah.. benar kan! Kau kenapa? Sabarlah sedikit. Jangan suka marah-marah Cho Kyuhyun, atau keriputmu akan semakin banyak.”

“Sebaiknya kau berkaca orang tua! Cepatlah..” ketus Kyuhyun. Semakin sebal karena bertele-tele.

“Baiklah, baiklah. Jadi aku—“

“Yah! Joon! Jangan diacak-acak!” belum sempat Ji-Tae menuntaskan kalimat, Kyuhyun berteriak lalu memtuskannya begitu saja ketika melihat putranya memporak-porandakan makanan yang baru saja Kyuhyun buat untuk anak itu sendiri.

“Yah, Cho Kyuhyun! Kau sedang apa sih?” kini berganti Ji-Tae yang dibuat sebal.

“Sebentar, sebentar—” Kyuhyun mengambil mangkuk mungil berbentuk kepala bebek dari hadapan Joon lalu menaruhnya diatas meja yang lebih tinggi agar tidak tergapai oleh bocah itu.

Matanya sekali lagi melirik gemas sekaligus sinis pada putranya yang kini telah kembali sibuk berlari-lari mengelilingi ruang tamu dengan pesawat-pesawatan mainan yang dua hari lalu baru dibelikan oleh Donghae selesainya pria itu melakukan perjalanan bisnis di Jerman.

Tubuhnya yang hanya di balut kaus singlet kecil memperlihatkan betapa buncitnya perut balita itu ditambah dengan diapers yang penuh menggembung –karena memang anak itu belum dimandikan– membuatnya terlihat lucu. Seperti kurcaci.

Kyuhyun menarik sudut bibirnya, kemudian memfokuskan lagi pendengarannya pada seseorang yang diseberang telepon. “Gramps berkata apa tadi?” tanyanya.

“Aku bahkan belum mengatakan apapun, Cho Kyuhyun,” geram Kakeknya diujung sana, yang mau tak mau membuat Kyuhyun terkekeh.

“Begitukah?”

Suara disana mendesah. “Aku berencana menghadiri pesta ulang tahun temanku yang ke tujuh puluh nanti malam, kau mau menemaniku kan?”

Alis Kyuhyun berjengit. “Ulang tahun temanmu? Astaga Gramps, temanmu itu usianya sudah tujuh puluh tahun tapi masih saja mengadakan pesta? Yang benar saja!”

“Hei, anak muda. Jangan seperti itu, kami, walaupun sudah berumur tapi masih memiliki jiwa muda, tahu!”

Kali ini Kyuhyun memutar kedua bola matanya. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Apa semua Kakek-Kakek dan Nenek-Nenek memang seperti ini? Beberapa saat yang lalu Nenek Lee juga merayakan pesta untuk ulang tahunnya. Dan sekarang…

Kyuhyun berharap Ji-Tae tidak ikut-ikutan melakukan tindakan konyol seperti itu.

“Lalu kenapa Gramps memintaku untuk menemani? Aku tidak mau! Gramps bisa meminta Jonghwan Ahjussi untuk itu.”

“Tidak bisa. Kyuhyun-ah. Disana aku sekaligus ingin memperkenalkan cucunya padamu.”

“Aku sudah memiliki banyak teman, kalau-kalau Gramps lupa. Jadi aku tidak butuh perkenalan dengan orang baru.”

“Eiyy kau ini sombong sekali. Sudah ya, pokoknya aku tunggu nanti malam pukul tujuh.”

“Tidak bisa, Gramps. Ak— Halo? Halo?” Kyuhyun menatap ponselnya dengan pandangan tidak percaya. Apa-apaan Kakeknya ini?

“Aiish.. sial, menyebalkan sekali orang tua ini!” gerutunya.

“Iiyish.. syaw.. wang inih”

Kyuhyun menoleh lalu mendapati Joon yang saat ini menatap matanya dengan binaran dikedua matanya yang jernih, tidak lupa dengan bibir mungilnya yang mengerucut berulang kali melontarkan kalimat seperti kalimat yang Kyuhyun ucapkan tadi.

Kyuhyun mendecak, lalu Joon ikut mendecak juga. Kyuhyun menatapnya dengan kedua mata membulat, Joon juga ikut melebarkan matanya. Tahu bahwa ini adalah contoh yang tidak benar, dia pun dengan segera berjongkok dihadapan putranya itu lalu berkata, “Tidak, tidak. Tidak boleh seperti itu, okay?”

“Waey?”

“Ayah tidak suka. Jadi, Joon tidak boleh berkata seperti itu lagi.”

Mata Joon mengerjap lucu memandang Kyuhyun yang menatapnya serius, lalu sebuah cengiran terpampang dikedua sudut bibirnya. Menampilkan gigi-gigi susunya yang masih mungil.

Kyuhyun ikut tersenyum lalu mendesah pelan, melihat jam yang melingkar ditangannya, “Baiklah, ini sudah sangat telat. Joon berhasil membuat Ayah tidak berangkat ke kantor hari ini. Kau dan ulahmu, tentunya.” Dia melepas jas yang dipakainya lalu menaruhnya begitu saja pada lengan sofa kemudian menggulung lengan kemejanya, “Joon tidak mau makan kan?” tanyanya pada bocah itu yang dibalas dengan anggukan, “Kalau begitu saatnya kita mandiiiiiiiii~”

Joon terkikik riang, dia begitu suka jika Ayah mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi seperti sekarang ini. Dia merasa seperti menjadi pesawat mainannya. Selagi berjalan menuju kamar mandi yang berada didalam kamar putranya, Kyuhyun terus-terusan menciumi leher dan pipi Joon. “Joon bau sekali..” ucapnya dengan bibir yang tidak lepas dari leher Joon, membuat anak itu menggeliat senang sekaligus tidak tahan karena kegelian.

.

Interlude Series

.

Sinar matahari masuk, menyusup melalui tirai putih yang membentang menutupi sliding-door kaca balkon kamarnya. Sena mengerjapkan mata berulang kali, merasa terusik akan rasa hangat sekaligus silau yang menyerang tubuhnya.

Matanya kemudian terbuka, menatap keadaan sekitar dengan pandangan yang awalnya nanar karena baru saja terbangun dari tidurnya kemudian lama kelamaan berubah menjadi jernih. Dia mengusap kedua matanya, menggeliat pelan lalu menghembuskan nafas, setelahnya dia menatap jam digital yang berada diatas nakas.

Nafasnya tercekat begitu sadar saat ini jam menunjukkan pukul sembilan lewat tiga menit. Dengan gerakan tergesa, Sena menyambar kimononya, memakainya serampangan dan mengikatnya asal lalu berjalan cepat menuju pintu.

Kyuhyun sudah tidak ada disampingnya, itu berarti pria tersebut sudah pergi kekantor. Kalau begitu, Joon bersama siapa sekarang? Mengingat kebiasaan anak itu yang akan bangun pada pukul setengah delapan pagi, membuatnya cemas. Joon memang tidak pernah merengek atau menangis saat baru terbangun dari tidurnya dan tidak menemukan siapapun. Tapi anak itu akan langsung berjalan-jalan, entah kemana.

Dan sekarang parahnya, putranya itu sudah pandai membuka pintu sendiri. Lalu jika Kyuhyun sudah pergi, bagaimana dengan Joon?

“Joon..” panggilnya sesampainya dia diambang pintu kamar anaknya.

Matanya menelisik kesekitar, Joon tidak ada. Dan itu semakin membuatnya cemas. Dia pun merajut langkahnya menuju kamar mandi anaknya, tapi disana juga tidak ada. Dengan setengah berlari dia menuju keruang tamu, tapi disana juga tidak ada. Kemudian dapur, tetap tidak ada.

Kyuhyun.. bagaimana ini?, batinnya.

Pintu tidak ada yang terbuka, tidak mungkin Joon pergi dari rumah dengan membuka pintu sendiri lalu menutupnya kembali sendiri pula. Joon tidak setinggi itu untuk menyentuh kenop pintu utama rumah mereka.

Sena sudah akan menangis ketika mendengar sayup-sayup suara tertawa seseorang. Oh tidak, bukan seseorang, mungkin lebih. Dia pun dengan mantap dan harapan besar menuju dimana arah suara tersebut berasal.

Langkah kakinya mengantarkannya pada halaman belakang rumah besar tersebut. Setelah melihat siapa pemilik suara-suara itu, Sena mendesah lega. Kakinya seperti men-jelly begitu mendapati Kyuhyun dan Joon berada disana, dengan sebuah kolam karet yang menggelembung seperti pelampung dan selang panjang yang tidak berhenti memancurkan air. Jangan lupakan berbagai macam mainan yang juga ikut berada disana.

Joon tidak berhenti tertawa, tangannya terus-terusan menyipratkan air pada tubuh Ayahnya yang saat ini tengah kepayahan memandikannya. “Oh tidak, tidak. Ayah sudah basah, Joon.” gerutu Kyuhyun namun dengan cengiran lebar yang dia tunjukkan, tidak lupa juga dengan tangannya yang terus menghalau percikan air yang Joon lemparkan padanya. Sedangkan anak itu? Jelas Joon yang seperti menemukan mainan barunya tidak mau membiarkan Kyuhyun lepas begitu saja.

“Hei, kemarilah. Ayah belum membersihkan punggungmu,” perintah Kyuhyun yang samasekali tidak diindahkan oleh Joon. “berhenti sebentar, oke? Kita selesaikan mandimu dulu,” bujuk Kyuhyun sekali lagi.

Sena yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Kenapa rasanya asyik sekali bermain air seperti itu? Jujur saja, selama ini ia selalu memandikan Joon dikamar mandi, tidak pernah dengan cara Kyuhyun yang membiarkan anaknya mandi dihalaman belakang rumahnya dengan selang air. Ini terlihat seperti alami, mungkin? Entahlah menyebutnya seperti apa, Sena hanya merasa Joon seperti tengah membaur dengan alam. Hal yang tidak pernah diberikan Sena padanya ketika memulai ritual membersihkan tubuhnya.

“Kalian disini rupanya.” ucapnya menginterupsi kegiatan antara Ayah dan anak itu.

“Oh? Ibu sudah bangun ternyata,” sahut Kyuhyun ketika melihat Sena yang kini berdiri menjulang beberapa langkah dihadapannya, “Ayo cepat selesaikan mandinya.” Lanjutnya kemudian, lantas menarik tubuh Joon dan menyabuni punggung bocah itu.

“Ibu~” ujar Joon sekaligus menggerakan-gerakan tangan mungilnya yang tengah menggenggam bebek karetnya pada Sena, menyuruhnya untuk mendekat.

Sena pun berjalan mendekati dua orang tersebut, mengambil bebek karet yang berada ditangan Joon kemudian balas tersenyum dan mengusap rambut basah anaknya. Dia berjongkok disamping Kyuhyun lalu berkata, “Aku mencari-carinya, kupikir dia menghilang.”

Kyuhyun disebelahnya hanya terkekeh, lalu melirik wajah Sena yang kini menghadap padanya. “Kau memang selalu begitu kan? Panik jika menyangkut kurcacimu ini.”

Sena mengedikkan bahu. Tersenyum kecil, dia mengambil selang dari tangan Kyuhyun lalu membasuh tubuh Joon. “Bagaimana tidak, ini sudah pukul sembilan sementara aku tahu dia terbiasa bangun pukul setengah delapan. Kau tahu sendiri anakmu itu seperti apa,” sahutnya.

Kyuhyun kembali terkekeh dengan mengangguk-anggukan kepalanya. “Kau tidak berangkat?” tanya Sena kembali begitu menyadari keberadaan Kyuhyun disini.

“Bagaimana tidak, jam sudah menujukkan pukul setengah sembilan lewat tapi aku masih harus meladeni bocah ini terus, hanya karena Ibunya yang tertidur seperti beruang sementara Ayahnya tidak tega membangunkannya. Kau tahu sendiri anakmu seperti apa.” ucap Kyuhyun balik dengan alis yang ia naikkan keatas. Oh jangan lupakan senyum setengah yang pria itu tunjukkan.

Kini balik Sena yang terkekeh. Benar, Joon memang seperti itu kan?

“Sudah lebih baik?” tanya Kyuhyun, kini dengan intonasi yang sarat kecemasan. Sena mengernyit, setelah selesai membasuh Joon dia biarkan anaknya itu terus bermain air dengan melompat-lompat didalam kolam karetnya. “Seperti yang kau lihat..” jawab Sena sekenanya, dia menatap Kyuhyun yang basah kuyup kemudian tersenyum kecil, “Terima kasih Ayah..

Well, harus berapa kali Sena bersyukur pada Tuhan karena telah menjodohkannya dengan Kyuhyun. Pria itu– Sena tidak menyangka Kyuhyun yang dikenalnya dulu kini telah menjelma menjadi sosok yang sangat bertanggung jawab, sabar dan pengertian sebagai kepala keluarga. Sena berpikir, jika bukan dia yang menjadi istri Cho Kyuhyun saat ini, lalu siapa gadis beruntung itu? Dan siapa Sena yang sekarang? Haruskah dia berterima-kasih pada Kakaknya juga karena berkat dialah, mereka juga bisa bertemu?

Advertisements

Author:

also known as que(en)sera

40 thoughts on “Interlude – At Morning

  1. sweet Morning Day 🙌🙌🙌🙌🙌

    Aaaaa…..Quality Time nya Cho kyuhyun
    gk jadi kerja karena Ulah Joon jugaa

    Dasar kakek nyaa Kyuhyun
    jiwa Muda Pesta Mulu 😀😀😀😀

    tapi kenapa Kyuhyun sama kakeknya mau dikenalin sama Tuh ‘CUCU’ ????

    Liked by 1 person

  2. iseng2 buka ini blog eh tahu nya ada update an baru…
    paling ngakak pas kakek nya kyu bilang para tetua masih punya kiwa muda…
    ada2 aja..
    dan disini kyu nya manis banget, ampe ngk jd pergi kerja…

    Liked by 1 person

  3. Pagi yang sweet bnget, pingin deh ,,,
    Ia nie, beruntung bget sera, yg bisa miliki kyu seutuhnya,,,
    Bisa sabar dan sayang bget ma kluarganya,,,
    Nomer satukan kluarga, di bndingkan pekerjaannya,,, :*

    Ada lagi ga ya yg kyk kyu 😉
    Semangat trus ya nulisnya,, alnya postigan kmu salah satu yg sllu ku tunggu 🙂 🙂

    Liked by 1 person

  4. ini ff bikin meleleh pokoknya 🙂 kyu yang perhatian dan bertanggung jawab terhada anak dan istrinya 🙂 makin sweet juga huuwwwaaa mau dong punya suami seperti ini 🙂

    Liked by 1 person

  5. yang punya penyakit diabetes jangan baca ff ini, bahaya!!! nanti tambah parah :v hehehe bercanda
    keluarga idaman banget lah, hehehe sampe bingung mau komentar apa

    Liked by 1 person

  6. Sweet, perhatian dan sabar bgt kyuhyun dsini sampai” merelakan ndak masuk kerja demi mengurus joon karena sena lagi morning sickness uhhh bner” romantis dan serasi keluarga ini

    Like

  7. Pengen punya keluarga kaya mereka, kyuhyun sosok appa yg tegas dan bertanggung jawab, sena ibu yg baik dan joon anak yg lucu mmm mereka bikin envy

    Liked by 1 person

  8. sweet morning sena brtng bngt punya suami kyk kyuhyun yg ganteng bukan maen dan anak yg bikin pgn gigit saking gemes nya
    baper bca series yg ini pgn punya pcr yg se sweet ini dehh wkwk^^ lanjut dah bca series selnjtnya makin pnsrn sma crta selanjutnya 🙂

    Like

  9. Aduh.. diabetes liat keluarga ini..
    Kyuhyun suami idaman bnget..
    Joon pinter bnget sih nyusahin ayahnya biar gk bisa prgi ke kntor :v

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s