Posted in Multi-Chapter

(Un)Breakable – Chap. 4

pic-5
Cr. NJXAEM

When the Ego and Love are Collide

.

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena

also

Shim Changmin – Irene Kim

⌈ AU │ Multi-Chaptered ⌋

⌈ PG – 17 ⌋

⌈ GENRE ⌋

Romance, Complicated

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

 RECCOMENDED SONG 

Westlife – Walk Away

 RELATED STORIES 

⌈ Unclear | 1 | 2 | 3 ⌋

Queensera©2016

But did I ever tell you why I want you so much?

Cause it came to me, when you were not around.

divider1

Menjadi seorang Ayah adalah hal yang samasekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Kehidupannya yang bebas, karirnya yang menjulang, kesibukannya yang tak mengenal batas dan sedikit rasa toleransinya tidak bisa membuat Kyuhyun bisa dikategorikan sebagai Ayah yang ideal.

Tapi sejak kejadian itu. Sejak dia melakukan percintaan dengan Sena di dalam ruangan pribadinya, pikirannya seolah tidak bisa lepas darisana.

Sejujurnya tidak ada yang Kyuhyun takutkan, jikapun benar Sena memang hamil, bukankah itu sebuah kemajuan untuk hubungan mereka? Dengan begitu, janin yang berada dalam kandungan Sena bisa memperkuat ikatan mereka yang sebelumnya tidak ada apa-apa.

Tapi bukan itu masalahnya, jika saja dia bisa menyuarakan isi hatinya, dia ingin sekali berkata bahwa dirinya belum siap. Samasekali belum siap untuk menjadi seorang Ayah.

Dan lagi, sebuah pikiran tentang Sena yang hamil bukan karena dirinya ikut mengganggu kerja otaknya akhir-akhir ini. Disela pikiran serabutnya itu, selalu saja muncul sebuah pertanyaan yang bisa membuatnya menggeram tidak terima; bagaimana jika janin yang dikandung Sena adalah buah perbuatan orang lain?

Jika memang ada orang lain selain dirinya. Kyuhyun ingin tahu siapa pria itu. Siapa pria yang telah membuat Kyuhyun merasa dikhianati. Siapa pria yang berani sekali merebut Sena darinya.

Come on, mereka melakukan percintaan terakhir kali itu sekitar tiga minggu sebelum mereka melakukannya lagi ruang pribadinya. Di apartemen wanita itu. Kalaupun Sena hamil karena dirinya, apa mungkin secepat itu sel telurnya berkembang? Tidak mungkin kan?

Kyuhyun memang ingat, terakhir kali mereka bercinta, saat itu situasinya sangat tidak terkendali. Mereka berdua sangat dipenuhi oleh gairah untuk saling memuaskan, mereka melakukannya berulang kali hingga dia sendiri lupa apakah saat itu dia tetap memakai pengaman atau tidak. Tapi.. mengingat jarak antara percintaan mereka dan spekulasi tentang kehamilan Sena saat ini, hal itu tentu saja terus-terusan membuatnya ragu. Dan dipenuhi rasa curiga.

Belum lagi masalah Ibunya jika mendengar hal ini. Kyuhyun tidak tahu apa yang akan dilakukan wanita tua itu pada Sena. Dan mungkin dari semua pikiran yang saat ini menyerang Kyuhyun, hanya inilah satu-satunya yang pria itu takutkan. Ibunya bertindak atas Sena.

Pria itu mendesah, kepalanya dia tumpukan diatas meja. Tangannya saling menggenggam erat juga disana. Kacau. Semuanya terasa kacau.

Dia tidak bisa lagi fokus pada pekerjaannya karena terlalu memikirkan hal yang belum pasti ini.

Ditambah sejak hari itu pula, Sena seperti menghilang dari jarak pandangnya. Wanita itu tidak lagi muncul kehadapannya selama dua minggu ini. Ponselnya memang aktif, tapi seringnya wanita itu tidak menjawab panggilannya atau membalas pesannya. Apartemennya, lebih sering kosong tak berpenghuni. Hal itu, jelas sekali semakin membuatnya diserang rasa curiga dan cemas disaat yang bersamaan.

Tililit.. tililit..

Mendengar suara ponselnya berdering, dengan gerakan lemas, Kyuhyun mengambil benda elektronik yang berada disaku celananya tersebut. Tanpa berniat melihat siapa Caller ID penelepon, dia pun langsung menjawab dengan nada yang terdengar lemas, “Ya?”

Oh, Kyuhyun-ah! Apa aku mengaganggumu?” tanya sebuah suara diseberang sana.

Shim Changmin.

Kyuhyun menghela nafas, dia angkat punggungnya agar bisa duduk tegak seperti semula, “Tidak, ada apa?”

Kau tidak lu— kan? Ha— ni peresmi— baru ku?”

Kyuhyun menatap ponselnya dengan kedua alis yang mengernyit, “Tunggu –tunggu, aku tidak jelas mendengar suaramu Shim Changmin. Disana berisik sekali,” sela Kyuhyun dengan nada yang malas dan juga lelah.

Apa? Kau berkata apa?

Kembali mendesah, Kyuhyun kembali mengatakan kalimat seperti tadi dengan suara yang lebih keras hingga pria yang berada diujung sana mengerti.

Bagaimana? Sudah lebih jelas sekarang?, kata Changmin setelah mendapatkan ruangan yang cukup kondusif untuk mereka berbicara.

“Ya, lumayan.. memangnya ada apa disana? Ramai sekali,”

Changmin tergelak lantas berkata, “Ada Ai disini, dan dia menjadi perusuh bagi para pegawai yang kusewa untuk membantuku membenahi galeri ini. Ada saja yang dijahilinya dan dilakukannya.

Kyuhyun ikut terkekeh pelan, dia bangkit dari kursinya lalu menjatuhkan diri diatas sofa. Membaringkan tubuhnya untuk saat saat ini, dia rasa itu ide yang bagus. Kepalanya yang terasa penat akibat memikirkan Sena mungkin bisa menjadi lebih ringan, “Hemh.. Aku tidak akan heran dengan tingkah ajaib kekasihmu itu,” kepalanya, Kyuhyun sandarkan pada lengan sofa dan kembali berkata, “Jadi— bisa kau ulangi apa tujuanmu menghubungiku?”

Tunggu dulu. Suaramu terdengar lelah. Kau sakit?”

Bukannya kembali pada pembicaraan semula, Changmin malah membahas tentang dirinya. Dan itu, jelas sekali membuat Kyuhyun mendengus. Apa setara itu suaranya terdengar lelah?

“Aku tidak sakit,” jawab Kyuhyun singkat.

Diseberang sana Kyuhyun bisa mendengar suara gumaman Changmin, lalu pria yang lebih tinggi darinya lima senti itupun bilang, “Kau tidak lupa kan hari ini adalah peresmian galeri baruku?

Mendengar pertanyaan seperti itu Kyuhyun lantas melihat kalender widget yang berada diponselnya lalu menghembuskan nafas keras, “Sial!” umpatnya lalu dengan ringisan yang keluar dari mulutnya karena telah melupakan hari penting bagi Changmin itu, dia pun berkata, “maaf, aku lupa— haah, untung saja kau mengingatkanku.”

Changmin terkekeh memaklumi, dia paham jika Cho Kyuhyun itu sangat sibuk. Jadi ya, tak masalah.

Baiklah, tidak apa-apa. Oh iya—” pria itu menghentikan ucapannya. Menimbang apakah perlu dia mengatakan perihal ini pada Cho Kyuhyun atau tidak. Tapi karena hanya Kyuhyun lah satu-satunya yang bisa membantunya mencari tahu, maka dia pun berkata, “Jangan lupa ajak Sena. Aku sudah mewanti-wanti wanita itu sejak beberapa minggu lalu tapi saat aku menghubungi ponselnya malah tidak bisa. Wanita itu tidak menjawab panggilanku sekalipun. Aku juga sudah menghubungi manajernya, tapi Si Manajer itu sendiripun begitu. Tidak tahu dimana modelnya berada,” Changmin kembali terkekeh begitu mengingat pembicaraannya dengan Yoorin tempo hari, “mungkin kau tahu dimana dia..” lanjutnya dengan suara yang lebih serius.

Setelah itu tidak ada tanggapan samasekali dari mulut Cho Kyuhyun. Pria itu hanya terdiam, tidak menangggapi celotehan Changmin yang saat ini tengah memenuhi gendang telinganya.

Pikirannya kembali melayang pada wanita itu. Jadi, Sena bukan hanya menghindarinya tapi juga menghindari orang-orang terdekatnya?

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wanita itu seolah ingin menghilang dari siapapun yang mengenalnya?

Ini tidak benar.

Memiliki firasat tak enak, Kyuhyun pun berkata, “Aku harus kembali bekerja. Kau bisa mengirimkan alamat galerimu padaku kan?” dan setelah mendapat jawaban mengiyakan dari Changmin, Kyuhyun pun mematikan ponselnya tersebut.

Posisinya sudah tidak berbaring diatas sofa lagi, pria itu kini tengah duduk menunduk. Sikunya bertumpu pada kedua lututnya.

Sena tidak bisa dibiarkan seperti ini terus. Nyatanya bukan hanya dirinya saja kan yang khawatir? Bahkan Yoorin –yang dia ketahui sebagai sahabat terdekatnya pun tidak tahu dimana dia. Ini pasti ada apa-apa. Jika tidak, Sena mana mungkin akan bertindak seperti ini. Wanita itu sangat pintar menyembunyikan sesuatu darinya, omong-omong. Dan sekarang, untuk yang satu ini, Kyuhyun tidak akan tinggal diam mungkin.

Dan jika nanti dia mendapatkan informasi mengenai keberadaan wanita itu, sebisa mungkin dia akan mencecarnya. Kalau perlu sampai kedalam-dalam, sampai wanita itu mau menceritakan semua yang terjadi dan apa yang membuat wanita itu menghilang selama hampir dua minggu ini.

Teringat sesuatu, Kyuhyun membuka kembali ponselnya. Sena mungkin mengaktifkan ponselnya, jadi, setidaknya yang satu itu bisa dia gunakan untuk melacak keberadaan wanita itu melalui GPS.

Well Kyuhyun, kenapa kau tidak berpikir seperti ini sejak kemarin-kemarin huh?

Namun—“Shit!” umpatnya dengan nada yang tidak tanggung-tanggung kerasnya. Ponselnya dia banting begitu saja diatas sofa. “Bagus sekali. Kau bahkan mematikan lokasimu, Sena,” ucapnya kemudian dengan bibir yang ditipiskan.

Beridiri. Tangannya meremas kuat rambut lebatnya. Menunjukkan sekali bahwa pria itu sedang frustasi saat ini.

Mendesah sekeras mungkin, dia kembali membanting tubuhnya diatas sofa. Menyandarkan kepalanya pada punggung sofa, lantas memijat pangkal hidungnya seintens mungkin. Dadanya naik turun menahan amarah, dan perasaannya semakin tak karuan.

Wanita itu benar-benar sialan brengseknya! Bisa-bisanya dia membuat dirinya diserang rasa frustasi seperti ini.

Kalau saja Kyuhyun bisa melupakannya, sudah sejak dulu pasti Kyuhyun akan melakukan itu. Mengabaikan ketidakhadiran wanita itu dari hidupnya. Tapi Lee Sena –wanita itu benar-benar memiliki pengaruh yang besar atas hidupnya. Wanita itu pengecualian untuknya.

Sudah berapa kali dia mengatakan kalimat itu? Huh? Dan beginilah, dia dibuat seperti orang gila jadinya.

Memejamkan matanya sebentar, Kyuhyun kembali mencoba menenangkan perasaannya. Lama menghabiskan waktu dengan terdiam dan merenung. Lalu setelahnya tubuh gegap itu tersentak begitu menyadari sesuatu.

“Lee Hyukjae,” gumamnya lirih.

“Benar –Lee Hyukjae. Pria itu pasti tahu dimana keberadaan Sena,” lanjutnya dengan yakin. Maka, tanpa mau membuang waktu, Kyuhyun segera menyambar kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya.

.

(Un)Breakable

.

Penghujung Oktober, dimana musim gugur akan segera berakhir. Daun-daun cokelat-keemasan yang gugur-melayang-kemudian jatuh menyentuh bumi juga akan segera berganti dengan butiran-butiran putih lembut serupa kristal untuk menyelimuti negara empat musim ini.

Gerimis kecil salah satu penandanya, bahwa musim berwarna putih akan segera datang.

Anak hujan itu saat ini tengah mengguyur kota Seoul. Rintikannya yang awet terdengar sangat indah, bahkan telah menjadi pemandangan sekaligus nyanyian bagi seorang wanita bersurai panjang yang sedang berada di gazebo rumah besarnya. Lebih tepatnya rumah kedua orangtuanya yang kini, telah dihuni oleh keluarga Kakaknya.

Dia duduk sendiri. Tatapan matanya begitu kosong. Dia melipat kedua kakinya didepan dada, memeluknya erat seakan kaki itu adalah harta yang paling tidak ingin dia lepaskan saat ini dan menyandarkan tubuhnya disamping pilar gazebo tersebut.

Tubuhnya yang hanya dibalut pants mini berwarna dadu dan sweeter tipis, samasekali tidak membuat wanita itu menggigil kedinginan atau beranjak dari tempatnya.

Lee Sena, tetap pada posisinya. Bertahan disana. Menikmati siang hari yang serasa seperti pagi ini dengan secangkir latte. Hal yang sangat jarang dia lakukan. Mengingat bahwa dia bukanlah penikmat hujan ataupun penikmat kopi.

Dia hanya memiliki alasan untuk dua hal itu. Gerimis yang saat ini mengguyur bumi, seolah-olah telah menjadi teman baiknya –setidaknya untuk saat ini, dan secangkir latte yang berada disampingnya, mengingatkannya pada seseorang yang sangat adiktif pada jenis kopi tersebut. Membuat Sena merasa penasaran akan rasanya –yang walaupun sampai sekarang, sampai minuman itu mendingin, wanita itu belum juga mencicipinya. Sena hanya menikmati aroma yang menguar dari dalam cangkir tersebut.

Tidak ada apa-apa disana, jika gerimis itu tidak datang mungkin saat ini dia hanya ditemani dengan keheningan. Tapi, justru itulah yang akhir-akhir ini dia cari. Dia hanya butuh keheningan, dia hanya butuh sendiri dan ia hanya butuh –untuk menangis.

Sena ingin menangis –tentunya, tapi sampai saat ini, air mata yang didambakannya itu tidak juga kunjung keluar. Membuat hatinya semakin perih.

Sena juga ingin menjerit, memberitahukan pada orang-orang tentang apa yang dia rasakan saat ini, tapi dia juga tetap tidak bisa.

Sena ingin menjauh, tapi belum juga sempat melangkah, dia sudah takut untuk kehilangan.

Banyak yang ingin Sena lakukan atau sampaikan, tapi Tuhan seakan belum mengijinkannya untuk itu.

Sena hanya ingin orang lain tahu dengan keadaan dirinya saat ini tanpa dia harus memberitahu. Tapi bagaimana? Manusia tidak diciptakan memiliki sensor khusus untuk membaca pikiran orang lain bukan?

Sayangnya, memang begitu. Jadi— apa yang bisa dia lakukan selain seperti ini?

“Kau disini.”

Sena menoleh pada sebuah suara yang berasal dari samping tubuhnya. Dia mendapati Lee Hyukjae dengan setelan semi-formalnya sedang berdiri dengan jarak lima langkah dari tempatnya duduk.

Pria itu tersenyum kecil padanya lantas berjalan mendekat kearahnya, memosisikan tubuhnya untuk duduk tepat disamping Sena. “Aku mencarimu,” pria itu memulai percakapan, kepalanya dia tolehkan pada Sena yang saat ini tengah kembali memandang lurus kedepan, “Eunso bilang kau duduk disini sejak kau keluar dari kamarmu. Betah sekali,” lanjutnya.

Tetap tidak mendapatkan jawaban apapun dari adiknya, Hyukjae menghela nafas. Matanya berpendar kesekeliling tempat mereka duduk, lalu berhenti pada secangkir latte yang persis diletakkan disamping tubuh adiknya. Dia tersenyum kecil, lalu berkata, “latte, huh?”

Sena tidak menjawab tapi matanya wanita itu lirikan pula pada latte yang sudah mendingin itu.

“Kyuhyun?” tanya Hyukjae lagi. Kali ini berhasil membuat Sena menoleh padanya dengan sorot mata terkejut.

Hyukjae semakin melebarkan senyumnya, matanya mengerling jenaka pada adiknya tersebut. “Kyuhyun. Latte. Mereka memiliki aroma yang sama bukan?” tanyanya dengan salah satu sudut bibir yang terangkat keatas.

Mata Sena mengerjap lalu mengganti fokusnya kedepan lagi. Wanita itu menarik nafas dalam kemudian kembali diam. Memandangi gerimis yang tidak berhenti membasahi bumi.

“Konyol. Sangat konyol malah. Tapi aku masih ingat dengan jelas ketika kau berkata seperti itu lima tahun lalu, padaku. Hebat bukan?” ucap Hyukjae membanggakan dirinya sendiri lalu terkekeh geli.

Memorinya membawa pria itu pada masa lalu saat dulu— betapa menggebu-gebunya Sena atau bisa dibilang mengototnya wanita itu ketika dia mengatakan bahwa aroma Kyuhyun itu seperti latte. Wanginya sangat enak, bisa membuat orang ketagihan. Padahal dia tahu sendiri, Sena itu tidak menyukai kopi, apapun jenisnya. Tapi dengan pedenya, wanita itu berkata bahwa dia menyukai aroma Kyuhyun yang berarti aroma latte –yang notabene merupakan salah satu jenis kopi. Aneh bukan?

Setelah tawa Hyukjae mereda hanya keheningan yang tercipta beberapa saat, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara gerimis yang menghiasi.

Hyukjae membawa kakinya untuk dia lipat juga didepan dada, matanya ikut memandang lurus kedepan kemudian dengan sedikit berdeham pria itu mengucapkan sesuatu. “Sena—” panggilnya rendah, “disini kau memiliki aku sebagai saudaramu, Kakakmu, temanmu, atau bahkan Ayahmu. Jadi, aku mohon, untuk kali ini saja buat aku berguna sebagai salah satu seseorang yang aku sebutkan tadi.”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi melihatmu seperti ini, tentu itu membuatku juga merasakan sakitnya,” Hyukjae bisa merasakan tubuh Sena yang menegang disampingnya. Dengan sebuah senyuman kecil tak kentara, dia melanjutkan, “jangan kau pendam sendiri, Sena. Orang lain tidak akan tahu masalahmu apa jika kau hanya diam saja seperti ini. Aku bukan manusia yang memiliki indra keenam hingga bisa membaca pikiranmu,” pria itu lantas menolehkan kepalanya pada Sena, “Ceritakan padaku. Ungkapkan semuanya. Lebih baik lagi jika kau juga menangis, setidaknya hal itu bisa mengurangi bebanmu. Karena—” Lee Hyukjae menarik nafasnya dalam, pria itu menggigit bibirnya perlahan, dadanya sedikit bergemuruh, “aku sangat tidak suka melihatmu yang hanya diam seperti ini.”

“Aku menyangimu, Sena. Tidak ada seorang Kakak yang tega melihat adiknya seperti ini. Kumohon –buat semuanya menjadi mudah. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau untuk melampiaskan rasa sakit yang mungkin kau rasakan saat ini, aku akan tetap diam. Aku janji tidak akan melarangmu, asal kau kembali menjadi adikku seperti semula,” ucapnya dengan nada yang merendah. Dipandangnya adik perempuannya tersebut dengan tatapan sayang.

Tanpa mengedipkan matanya sekalipun, air yang dia dambakan itu akhirnya terjatuh juga. Sena merasakan pandangannya memburam. Dia bisa merasakan buliran-buliran lain yang turut mengalir –bahkan semakin deras, dikedua pipinya.

Dan hal itu tak lepas dari fokus Hyukjae. Dengan perlahan pria itu membawa tubuh Sena dalam rengkuhannya, “Menangislah, jika itu membuatmu lebih baik. Tumpahkan semua. Aku akan tetap disini..” ucapnya dengan tangan yang tak berhenti mengusap bahu Sena.

Wanita itu masih terus mengeluarkan air matanya. Tangisnya tidak kencang –khas tangisan seorang Lee Sena tapi isaknya, bahkan terdengar sangat pilu ditelinga Hyukjae, membuat pria itu semakin merasa tak tega dan tak berguna sebagai Kakak disaat yang bersamaan.

Tangan Sena tak berhenti meremas-remas jas hitam yang dipakai Hyukjae. Menyalurkan rasa sakit dan sesak yang dia derita selama ini. Memberitahu pria itu bahwa semua itu tak semudah yang dia tanggung.

Dan Hyukjae dapat menerima sinyal yang diberikan oleh Sena. Dadanya turut merasa sesak. Ya Tuhan… ada apa dengan adiknya ini?

“Kau masih tak ingin bercerita padaku?” tanyanya begitu lirih, bibirnya tak henti pria itu arahkan untuk mengecup puncak kepala Sena.

Sena menggeleng tertahan, malah tangisannya semakin mengencang.

Dengan desahan nafas, Hyukjae semakin mengeratkan pelukan itu, “tidak apa-apa. tidak apa-apa. aku mengerti. sshh..” gumamnya.

“ma-af— hiks.. maafkan ah-kuh.. hiks” ucap Sena terbata.

Hyukjae merenggangkan pelukannya. Dia usapkan kedua ibu jarinya pada pipi Sena yang basah dan memerah, senyuman tipis dia berikan pada wanita itu, “kenapa meminta maaf, hm? Harusnya aku yang berkata seperti itu, karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Setidaknya kali ini.” Menghembuskan nafas pelan dan diimbuhin dengan sedikit gurauan, dia berkata, “Papa pasti akan mencincangku jika mengetahui anak kesayangannya ini menangis kencang seperti sekarang.”

Sena menundukkan kepalanya. Dia benci mendapati dirinya yang cengeng seperti ini. Tangannya menggenggam tangan Hyukjae yang masih berada dipipinya, meremasnya begitu kuat. Wanita itu menggeleng perlahan lalu kembali memeluk pinggang Hyukjae. Menempatkan kepalanya kembali didada pria tersebut.

Hyukjae menyambutnya dengan sebuah usapan ringan pada punggung wanita itu. Hidungnya berulang kali dia benamkan pada rambut Sena, membaumi aroma leci yang dimiliki adiknya tersebut.

“Puaskan dirimu.” Katanya lagi.

Dia menunggu seperti itu terus selama kurang lebih sepuluh menit hingga, “Kau harus kembali pada aktivitasmu, Sena. Tidak bosan apa dua minggu mengurung disini terus?” bujuk Hyukjae setelah tangis Sena mulai mereda.

“Kyuhyun mendatangiku di C&C tadi. Penampilannya sangat kacau, sangat frustasi, benar-benar tidak terlihat seperti Cho Kyuhyun yang biasanya.”

Sena mengangkat kepalanya dengan sisa-sia air mata yang masih bertahan diatas kedua pipinya. Tanpa melepaskan pelukan itu, dia menatap Hyukjae dengan dahi yang dikerutkan, membuat pria tersebut tersenyum geli kemudian mengangguk –menyakinkan atas tatapan Sena, “Dia menemuiku, lebih tepatnya lagi dia menanyai keberadaanmu padaku,” pria itu kembali menatap Sena dengan serius, “Sena— kau pernah dengar tidak, kalau wanita sudah membuat kacau hidup seorang pria, itu berarti wanita tersebut telah memenangkan hatinya, tanpa pria itu sendiri sadari.”

Sena masih terdiam. Hanya matanya saja yang berpendar.

Hyukjae mengalihkan tatapannya kedepan, pria itu menghela nafas pelan lalu menatap kedua mata Sena lagi, “Dan yang kulihat pada Kyuhyun hari ini adalah interpretasi dari kalimat itu.” Pria itu tersenyum diakhir ucapannya.

Tertegun, pandangan mata Sena berubah menjadi kosong.

Tidak. Tidak boleh. Jangan sampai, Ya Tuhan..

“Kau tidak menghubunginya samasekali?” tanya Hyukje lagi, mengingat seperti apa bentuk aduan Cho Kyuhyun padanya tadi.

Namun yang didapatnya –lagi-lagi– hanya kebungkaman Sena. Pria itu lantas mendesah, mengangguk paham, “Kau mau tahu tidak? Aku sempat bertaruh pada diriku sendiri. Saat aku mulai melihat ada masalah yang pasti terjadi padamu.” Hyukjae menghentikan kalimatnya sebentar, dia membenarkan letak duduk dan rengkuhannya pada Sena.

“Waktu itu aku berpikir, jika Kyuhyun adalah pria yang benar-benar peduli padamu, dia pasti akan terus berusaha mencari keberadaanmu. Tidak peduli apapun kesulitannya. Tapi jika tidak, pria itu pasti sudah menikmati kehidupan bebasnya saat ini tanpamu, bersenang-senang dengan kemewahannya atau bahkan telah memiliki wanita lain. Well, Cho Kyuhyun berpotensi besar untuk melakukan hal yang aku sebutkan tadi, atau bahkan lebih,” Hyukjae terkekeh pelan, pria itu menggelengkan kepalanya.

“Nyatanya, dia malah datang padaku dengan keadaan yang—” Hyukjae menghentikan ucapannya lagi, alisnya mengerut, memikirkan kalimat apa yang cocok untuk melanjutkan perkataannya tersebut, “Eum, bisa dibilang seperti seorang suami yang telah ditinggal mati oleh istri dan anaknya. Begitu tersiksa. Hahaha…” pria itu menunjukkan senyuman lebarnya pada Sena. Tapi oleh wanita itu hanya dibalas dengan tatapan datarnya. Tidak ada raut senang. Dan itu jelas sekali membuat Hyukjae dilanda kebingungan.

Kenapa Sena? Itu menandakan bahwa Kyuhyun mencintaimu. Tapi kenapa kau terlihat tidak senang?

Pria itu kembali membuang nafas, menatap lagi lahan basah yang ada dihadapannya. “Dia ada disini. Temui dia, Sena. Jika masalah yang kau simpan ada hubungannya dengan dia, maka selesaikan. Tidak perlu bersembunyi seperti ini. Kau sudah dewasa kan?” ucapnya yang diakhiri dengan senyuman hangat.

.

(Un)Breakable

.

“Sena disini sejak dua minggu yang lalu. Apa dia tidak memberitahumu?” tanya Eunso setelah meletakkan secangkir teh hangat diatas meja. Wanita beranak dua itu duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan sofa yang Kyuhyun duduki saat ini.

Pria itu menumpukan kedua tangannya diatas lutut. Tubuhnya membungkuk, dan dagunya dia sangga menggunakan kedua tangannya tersebut. Matanya menatap Eunso lelah, memberikan jawaban bahwa wanita itu tidak mengatakan apa-apa padanya.

Tadi, setelah dia dapat menemui Hyukjae di C&C –café yang menjadi salah satu asset perusahaan Sony Titanium Entertainment yang notabene merupakan kepemilikan keluarga Lee ini— akhirnya dia bisa juga mendapatkan info tentang keberadaan Sena.

Kyuhyun merasa telah dibodohi, kenapa juga dia tidak mencari wanita itu dikandangnya sendiri?

Eunso mengangguk paham, “Sudah kuduga.”

“Maksudmu?”

Dengan mengedikkan bahu, wanita itupun menjawab, “Sena sangat berbeda, Kyuhyun-ah. Dia menjadi lebih pendiam. Dia lebih suka menyendiri. Bahkan Chaera dan Chaerin yang selalu bisa menjadi moodbooster-nya, tidak juga dia hiraukan. Aku dan Hyukjae sempat merasa khawatir padanya,” Eunso menyeruput teh-nya sebentar lalu kembali berkata, “kalau aku boleh tahu, apa kalian memiliki masalah yang begitu fatal?”

Kyuhyun terkesiap ditanyai seperti itu. Dia sendiri bahkan tidak mengetahui apapun. “Aku tidak tahu, Eunso. Sena— dia seperti menghindariku tanpa alasan. Berkali-kali aku menghubungi ponselnya, hanya pengabaian yang aku dapatkan.”

“Tidak mudah memang. Karena Sena, pada dasarnya sangat tertutup.”

Kyuhyun mengangguk. Membenarkan ucapan Eunso.

“Apa— selama disini dia baik-baik saja?” tanya Kyuhyun hati-hati.

Eunso tersenyum kecil, lalu menggeleng. “Dia sering terlihat pucat. Makannya pun susah. Hyukjae harus pandai membujuknya jika tidak mau anak itu jatuh pingsan.”

Mendengar penjelasan Eunso, semakin memperkuat dugaan Kyuhyun. Apa Sena benar-benar hamil? Tapi kenapa wanita itu seolah ingin menyembunyikan fakta tersebut darinya?

Setelah ini, dia harus memastikan hal tersebut dari mulut Sena sendiri.

Mendengar suara derap langkah yang datang dari arah kirinya, membuat Kyuhyun menoleh. Dia langsung berdiri –menegakkan tubuhnya, begitu mendapati Sena sedang berjalan dengan Hyukjae yang merangkul pundaknya.

Wanita itu hanya memakai pakaian tipis di cuaca dingin seperti ini? Apa-apaan itu?

Tatapan Kyuhyun seolah tidak bisa lepas sedektik pun dari tubuh Sena. Dia sangat merindukan wanitanya, omong-omong. Dan ia membutuhkan sebuah pelukan untuk meredakan rasa rindu itu. Tapi wanita yang ditatapnya hanya bisa menundukkan wajah, tidak mau melihatnya.

Mata Kyuhyun kian meredup begitu menyadari wanita itu secara terang-terangnya tidak mau menatapnya.

“Kalian bicaralah. Kami tinggal dulu sebentar.” Ucap Hyukjae, lantas memberikan isyarat mata pada Eunso untuk lebih dulu meninggalkan ruang tamu tersebut. Tatapannya kemudian beralih lagi pada Sena, “Selesaikan oke? Jangan tunda-tunda lagi.” Katanya, lalu mengecup sekilas pelipis Sena.

Melihat itu membuat Kyuhyun mendengus pelan, menurutnya, rasa sayang Hyukjae pada Sena sangatlah tidak wajar. Berlebihan. Kalau boleh jujur, dia sangat tidak suka melihat orang lain dengan mudahnya menyentuh Lee Sena. Sekalipun itu adalah Kakak kandung wanita itu sendiri. Konyol bukan? Tapi itulah Cho Kyuhyun.

Selepas kepergian Hyukjae dan Eunso, Kyuhyun kembali menatap Sena. Kali ini begitu dalam. “Ikut aku.” Ucapnya singkat tak terbantahkan, lalu melangkah menuju pintu keluar. Jelas sekali itu adalah sebuah perintah yang harus Sena turuti.

Kyuhyun pikir, berbicara empat mata dengan wanita itu didalam rumah sangatlah tidak efektif, terlalu banyak ruang untuk mereka. maka dia pun memutuskan untuk membawa Sena pergi menuju mobilnya. Disana, terasa lebih dekat dan kondusif bagi Kyuhyun yang ingin menanyakan beberapa hal pada wanita itu.

Setelah Sena menempatkan dirinya dibangku penumpang, Kyuhyun pun ikut masuk kedalam audi putih R8-nya itu.

“Bisa kau jelaskan kenapa kau bisa berada disini?” tanya Kyuhyun tanpa basa-basi. Tatapannya tak pria itu lepaskan sedetikpun pada wajah Sena yang berada disampingnya.

Suaranya terdengar mengintimidasi dan itu jelas sekali membuat Sena diliputi perasaan gelisah. Jika bukan karena Lee Hyukjae, dia mana mau menemui pria ini.

Sena menggigit pipi bagian dalamnya perlahan, kedua tangannya saling meremas diatas pangkuan, dia gugup omong-omong, “A-aku—itu, anu— ku hanya—ingin mengistirahatkan diri dari aktivitasku. Berlibur—begitu,” ucapnya terbata.

Kyuhyun menatapnya dengan sebelah alis yang pria itu naikkan. Lalu bibirnya terangkat sinis, “Untuk beberapa hal, kau memang pandai menyembunyikan sesuatu dibelakangku Sena. Tapi kali ini –rasanya sangat aneh jika aku juga percaya pada ucapanmu barusan.”

Sena menghela nafas dalam, lalu dengan segala kekuatannya, wanita itu memberikan sebuah senyuman palsu pada Kyuhyun, “Hei— kau ini curigaan sekali sih, hahaha.. aku serius,” katanya mencoba meyakinkan pria itu.

Tawa canggungnya masih menggema, dia berharap Kyuhyun tidak akan mengintimidasinya dengan tatapan seperti itu lagi. Karena jika tidak, dia akan semakin kesulitan untuk berbohong.

Kyuhyun menatap Sena lebih intens kali ini, mencari sebuah kebohongan yang wanita itu ciptakan tapi karena merasa bahwa Sena memang benar-benar demikian, dia pun berkata, “kau tidak sedang menipuku kan?”

“Menipumu? Untuk apa? Percayalah Kyuhyun— aku hanya, hanya sedang cuti. Yeah.. Kau bilang aku harus memeriksakan diri ke dokter kan? Aku sudah melakukannya dan dokter bilang aku harus istirahat total.”

Kyuhyun membuka mulutnya sedikit, seakan sadar, dia pun mengucapkan sebuah kalimat bernada ‘aah..’ lalu menganggukan kepalanya. Ya, dia ingat, setelah kejadian itu, dia memang memohon pada Sena untuk memeriksakan diri ke dokter. Jadi, wanita itu sudah melakukannya?

“Apa kata dokter?” suaranya berubah cemas namun melembut, tangannya yang sudah gatal ingin menyentuh wanita itu, dia arahkan untuk memainkan rambut cokelat madu Sena.

Masih dengan senyumnya –yang pura-pura– Sena menjawab, “aku hanya kelelahan, makanya terjadi pendarahan itu. Tapi sebenarnya tidak ada apa-apa, itu biasa terjadi pada perempuan. Dan dokter menganjurkanku untuk –sejenak saja berhenti dulu dari semua kegiatanku.”

Kyuhyun merasakan euphoria dalam dadanya. Lega. Sangat lega malah, begitu mengetahui segala spekulasi yang dia sematkan pada Sena akhir-akhir ini adalah sebuah kesalahan. Spekulasi itu hanya buah dari pikiran buruknya. Wanita itu tidak hamil. Wanita itu hanya kelelahan. Yeah.. hanya kelelahan.

Terima kasih, Ya Tuhan… batinnya.

Dengan sebuah senyuman kecil, Kyuhyun menarik tubuh Sena. Menghirup aroma wanita itu dalam-dalam. Ahh.. dua minggu tidak menemui wanita ini padahal mereka berada di kota yang sama membuat dia begitu merindukannya.

Tangannya Kyuhyun gunakan untuk mengusap kepala wanita itu, “Tapi –kenapa kau tidak menghubungiku hm? Semua panggilan dan pesanku tidak ada yang kau balas,” tanya Kyuhyun dengan wajah memberengut masam begitu mengingat sesuatu.

Sena meregangkan pelukannya, lalu terkekeh canggung, “Aku meninggalkan ponselku di apartemen, dan tidak berniat mengambilnya. Kau pasti sangat merindukanku kan?” ejeknya dengan mata yang sengaja dia sipitkan. Kebohongan kedua hari ini pada Kyuhyun.

Kyuhyun mendesah, jarinya menjepit bibir Sena gemas lalu membalas, “Bukan hanya merindukanmu. Tapi aku juga mencemaskanmu tahu!” dan berpikiran buruk tentangmu tentunya, lanjutnya yang samasekali tidak ucapkan, hanya dia simpan dalam hati.

Sena menepis tangan Kyuhyun, lalu dengan senyuman bangga dia menjawab, “Itu memang keahlianku.” Diakhiri dengan suara tawanya yang memecah.

“Tapi —kenapa Yoorin juga tidak tahu kau berada dimana? Kau tidak menghubunginya juga?”

Terkesiap, Sena menegang lagi ditempatnya.

“Ah—itu, aku—sudah memberitahunya untuk membatalkan semua jadwalku, aku bilang padanya ingin beristirahat tapi ya—itu dia, Yoorin sama sepertimu tidak aku beritahu kemana dan dimana aku mengistirahatkan diri,” ucapnya sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan kecurigaan pada Kyuhyun.

“Ck, kau ini keterlaluan sekali.”

Sena terkekeh melihat raut wajah Kyuhyun yang memasam.

“Tapi omong-omong—” Kyuhyun menyentuhkan tangannya pada sebelah pipi Sena, ibu jarinya bergerak lembut mengusap bagian itu, “kau masih terlihat pucat, kenapa?”

Mata Sena membelalak, ia menyentuhkan kedua tangannya dipipi, “Masa?” katanya setengah gugup.

Kyuhyun mengangguk.

“Mungkin aku hanya kedinginan. Kau tahu sendiri, gerimis tidak berhenti sejak pagi. Dan kau malah mengajakku berbicara disini –dimobilmu dan menyalakan AC yang tidak tanggung-tanggung suhunya.” Lanjut Sena berkilah. Oh, Ya Tuhan.. dia gugup sekali. Tapi semoga saja Kyuhyun percaya.

Dahi Kyuhyun mengernyit, sangat tidak terima ketika mobilnya ikut disalahkan oleh wanita itu. Lalu matanya Kyuhyun gunakan untuk menelusuri tubuh Sena, memindai pakaian yang wanita itu gunakan, kemudian dengan desahan keras ia membalas ucapan Sena dengan nada sengit khas dirinya, “Dan kau sendiri? Lihat pakaianmu, sangat tidak pantas Nona. Ini sudah di penghujung Oktober, tapi kau memakai pakaian musim panas? Kau salah melihat kalender atau hukum alam sudah berganti?”

Dibalas dengan jawaban seperti itu, Sena menampilkan deretan giginya yang rapi lantas kembali terkekeh geli. Serius, dia juga sangat merindukan kalimat sinis seorang Cho Kyuhyun.

“Tapi—” pria itu kembali menatap Sena, kali ini dengan senyuman iblisnya, “aku bertaruh, aku bisa membuat pipimu merona lagi, Nona.”

“Huh?”

Belum sempat Sena bertanya lagi apa maksud pria itu, bibirnya sudah dijajah lebih dulu oleh mulut hangat Cho Kyuhyun. Pria itu menciumnya dengan penuh hasrat. Menyampaikan rindu yang selama ini pria itu simpan sendiri. Melumatnya lembut, seperti mendamba bibir Sena yang tidak dia sapa akhir-akhir ini.

Sedangkan Sena? Wanita itu hanya mematung ditempat. Tatapannya berubah nanar. Persasaannya semakin mengacau akibat perlakuan Kyuhyun itu. Dadanya menyesak. Dan disana –ada sesuatu yang mendesak dimatanya, ingin dikeluarkan. Tapi tidak. Setidaknya, tidak untuk dihadapan pria itu. Sekuat mungkin Sena menahannya.

Kyuhyun sudah memasukan lidahnya pada mulut Sena, menyapa bagian terdalam milik wanita itu. Tapi begitu dia ingin menggerakan daging tak bertulang itu didalam sana, dia menyadari sesuatu, Sena— samasekali tidak membalas ciumannya.

Membuka kedua matanya, Kyuhyun mendapati tatapan Sena yang hanya menatap kosong kearahnya. Dan itu serta-merta membuat Kyuhyun diserang rasa curiga lagi.

Sena kembali menunjukkan sisi yang tidak pernah wanita itu perlihatkan.

Dengan perlahan dan sedikit rasa kecewa, Kyuhyun melepaskan ciuman itu. Bibirnya tersenyum kecil. Astaga— ada apa ini?

Membersihkan bibir Sena yang basah karena salivanya, Kyuhyun pun berkata, “Bersiaplah. Changmin mengundang kita untuk menghadiri peresmian galeri barunya.”

.

(Un)Breakable

.

Ada yang berbeda. Sena menurut sudut pandang Kyuhyun saat ini, sedikit berubah. Wanita itu menjadi sedikit pendiam, tak terjangkau –seperti kata Eunso. Kyuhyun menyadarinya. Tapi sayangnya, dia tidak tahu apa yang menyebabkan wanitanya bertingkah seperti itu.

Beberapa jam lalu, dia memang sudah percaya akan ucapan Sena. Wanita itu membuatnya merasakan kelegaan. Tapi kali ini, setelah ciuman dimobil tadi, dia kembali diserang rasa curiga. Ada yang tidak beres. Itu sudah pasti.

Menghela nafas pendek, pria itu kembali memusatkan perhatiannya pada beberapa foto yang terpajang di galeri milik Shim Changmin.

The Getty Images. Changmin menamainya.

Kyuhyun tidak mengerti apa seni dari memotret, tapi harus dia akui, potret-potret yang dihasilkan sahabatnya itu –sungguh tidak mengecewakan. Semua terlihat apik. Semua terlihat indah dipandang. Dan hampir semua orang yang datang kesini, menikmati karya yang ditampilkan sahabatnya.

Changmin pintar mengambil angle yang baik pada setiap fotonya. Dan itu membuatnya sedikit-banyak diserang rasa iri –karena dia tidak ahli pada pada hal tersebut. Mungkin jika dia mencintai fotografi, dia juga akan berakhir seperti Changmin.

Kyuhyun tersenyum hambar. Sayang, hidupnya sudah dibentuk dan ditakdirkan untuk meneruskan perusahaan keluarga. Da dididik untuk menjadi seorang pengusaha. Kalau saja diberi kesempatan hidup sekali lagi, mungkin Kyuhyun akan memilih menjadi seorang penyanyi saja –atau mungkin seorang pianis. Cita-citanya.

Tapi, takdir yang seperti itu tidak memihaknya.

Dan Changmin beruntung, pria itu bisa mewujudkan apa yang diimpikannya.

Menyadari apa yang dipikikannya bukanlah hal yang benar, Kyuhyun menggeleng. Mendesah pelan. Astaga… apa yang kau pikirkan?

Kyuhyun merasakan ponselnya berdering. Dia membawa benda elektronik itu kehadapannya, dan melihat nama Ayahnya tertera disana.

Berniat untuk menerima panggilan tersebut, kakinya pun melangkah keluar.

.

(Un)Breakable

.

Sena memandang takjub foto yang berada dihadapannya. Dia sungguh tidak percaya, bahwa seseorang yang ada dalam potret itu bisa terlihat begitu indah hanya dengan gaunnya yang biasa.

Matahari yang bersinar terik diufuk barat itu, menambah estetika karya Shim Changmin.

Sena tersenyum, dia merasa haru.

“Kau suka?” tanya seseorang yang kini sedang berdiri disampingnya, “atau kaget?” tanyanya lagi.

Sena melirik kearah Changmin, alisnya mengerut lucu. Matanya memandang tak percaya pada pria itu. Dan sebagai bentuk reaksi karena tengah merasa diperhatikan oleh wanita disampingnya, Changmin pun turut menoleh kearahnya dengan sebuah senyuman. Lalu kembali kehadapan foto yang ada didepan mereka.

“Tujuh tahun lalu. Jeju. Saat kita sedang berlibur bersama teman-teman seangkatan kita. Kau merajuk karena aku tidak bisa menemanimu menaiki banana-boat. Wajahmu berubah datar bahkan mengabaikanku yang ingin sekali memotretmu. Kau ingat?”

Sena kembali menoleh pada wanita yang ada dalam potret tersebut. Potret yang diberi nama ‘Girl of The Sun’.

img_20160713_182924
Girl of The Sun

Itu adalah potret dirinya di sebuah pantai. Berdiri seorang diri didepan sebuah pendopo dengan gaun kebesarannya. Dan tangannya memegang sebuah topi berawarna cokelat-kulit. Dia ingat, saat itu angin begitu kencang hingga menerbangkan anak rambutnya yang terlepas dari ikatan.

Ya, Sena ingat itu.

Hanya yang Sena tidak sangka, Changmin pernah mengambil gambarnya.

“Itu adalah pertama kalinya untukku memotret seorang manusia,” tambah Changmin lagi.

“Aku bahkan tidak tahu kau memotretku saat itu. Tatapan mataku, kenapa bisa jelas sekali sedang memandang kearah kameramu?” gumam Sena, yang tentu saja membuat Changmin menampilkan senyum kecil disudut bibirnya.

Sena tahu. Changmin lebih suka memotret alam. Itulah alasan kenapa pria itu bisa diterima di NatGeo. Dulu, Sena juga suka memotret, hanya saja hasil potretannya tidaklah seindah yang dihasilkan Changmin. Dan sekarang, malah dia yang menjadi objek potret sebuah kamera. Lucu bukan?

“Wanita disana –terlihat indah bukan? Begitu alami.”

Sena mendengus geli, lalu menjawab, “Kau memujiku? Atau ingin meledekku?”

Changmin tergelak, dia memutar tubuhnya untuk menghadap Sena. “Tentu saja tidak. Apa aku terlihat seperti itu? Hasil karyaku itu tidak pernah meragukan,” belanya pada diri sendiri yang dijawab Sena dengan senyuman kecil dan sebuah gedikan dibahunya.

Changmin mengarahkan telapak tangannya untuk menyentuh sebelah pipi Sena, pandangannya berubah meredup. Dengan menghela nafas, pria itu berkata, “Kau menghilang—”

Mmendengar suara rendah Shim Changmin, membuat bulu roma Sena meremang, ditambah oleh sentuhan hangat pria itu, “kemana saja?” tanya Changmin menuntaskan kalimatnya.

Sena menunduk, dia tidak bisa ditatap seperti itu oleh mantan kekasihnya ini.

“Tidak kemana-mana,” jawabnya lirih.

“Kau membuatku khawatir.”

Sena tersenyum tipis lalu kembali mendongak, menatap Changmin dengan sorot yang menenangkan, “Kau dan Kyuhyun sama saja—” tangannya ia sentuhkan pada tangan Changmin yang masih berada dipipinya, “tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja,” lanjutnya.

Changmin membuang nafas sedikit kasar,d ia melepaskan tangannya lalu menatap wanita itu dengan intens, “Jangan seperti itu lagi. Jangan selalu membuat orang lain merasa cemas, Sena. Dan jangan pergi lagi tanpa kabar sedikitpun.”

Tersenyum geli, Sena pun menjawab. “Alright, Captain!

Kali ini, Changmin yang tersenyum geli. Pria itu mengusap rambut Sena dengan gemas. Yang dibalas Sena dengan sebuah senyuman.

Maafkan aku… ucap Sena dalam hati.

.

(Un)Breakable

.

Ada perasaan sesak yang menggelayuti hati Irene. Mendung yang akhir-akhir ini menyelimuti kota Seoul, saat ini juga seakan tengah menyelimuti hatinya.

Irene tahu perasaannya tidak benar. Tapi mengetahui fakta bahwa dua orang yang ada dihadapannya adalah sepasang mantan kekasih, dan saat ini sedang terlibat obrolan yang intens, membuat hatinya dilingkupi perasaan gelisah.

Ditambah dengan gerak-gerik Changmin yang begitu memerhatikan Sena. Ya Tuhan.. kenapa seperti ini?

Tidak seharusnya dia seperti itu bukan? Mereka yang ada disana, hanya memiliki masa lalu bersama. Tidak lebih. Karena toh, pada kenyataannya, saat ini Shim Changmin adalah miliknya. Dan Sena, milik Cho Kyuhyun. Apa yang harus dikhawatirkan?

Kekanakan bukan jika ia merasa cemburu?

Tapi ketakutan dan kegelisahan itu datang tiba-tiba, merayap memasuki hatinya lalu seakan tidak ada belas kasih, kedua perasaan itu seperti mencubit organ vitalnya tersebut. Apa itu juga bisa dibilang kekanakan?

Bahkan Changmin menampilkan potret Sena saat mereka masih berkencan dulu. Apa itu tidak bisa dibilang berlebihan? Hubungan mereka sudah lama berakhir, tapi— kenapa Changmin seolah tidak bisa melepaskan kenangan itu? Kenapa harus ada potret Sena dalam peresmian galeri pertamanya? Kenapa harus wanita masa lalunya?

Bukankah itu bertanda bahwa pria itu masih memiliki banyak gambar wanita itu?

Ingin sekali dia menanyakan hal itu pada Changmin dan tujuan pria tersebut menjadikan Sena sebagai salah satu karyanya yang dipajang. Tapi Irene— tidak bisa melakukannya. Itu akan membuat Changmin tersinggung –mungkin.

Irene sebenarnya tidak mau berpikiran jauh-jauh. Selama ini, Changmin-nya memang tidak pernah kurang untuk menyanginya. Bahkan pria itu juga selalu mengungkapkan kalimat cintanya. Tapi –untuk saat ini, bolehkah ia meragu?

Tidak apa-apa kan? Karena Irene, tidak bisa menyangkal keraguan tersebut. Setidaknya untuk saat ini.

“Kenapa disini?” tanya seseorang mengagetkannya.

Irene buru-buru menoleh, wanita itu terkesiap dari keterpakuannya dan mendapati Cho Kyuhyun yang sudah berdiri dibelakangnya dengan dahi yang berkerut samar.

Dia tersenyum, lalu menggeleng canggung, “tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya— baru membaca pesan yang masuk.” Tangannya dia acungkan, menunjukkan sebuah ponsel sebesar lima inci kehadapan Kyuhyun.

Kyuhyun lantas mengangguk paham.

“Kau sendiri darimana?” tanyanya balik.

“Aku juga baru saja menerima telepon. galeri sudah sepi sepertinya—” mata Kyuhyun berkeliling –menyapu keadaan sekitar, lalu kembali menatap Irene, “kau melihat dimana Sena?” tanyanya lagi.

Irene mengarahkan jempolnya kebelakang tubuh, “bersama Changmin.”

Kyuhyun membulatkan bibirnya kemudian pria itu merajut langkahnya menuju arah yang baru saja ditunjuk Irene. Diikuti dengan wanita itu yang berjalan dibelakangnya.

“Kalian disini rupanya,” ucap Kyuhyun begitu melingkarkan tangannya pada pundak Sena.

Changmin tersenyum kecil lalu mengangguk, “darimana saja kau?” katanya.

Dengan gedikan bahu, Kyuhyun menjawab, “Ayah meneleponku. Dia bilang akhir minggu nanti ada acara makan malam. Penting, katanya. Dan kau harus datang.”

“Ayah tidak memberitahuku.”

“Dia menghubungimu, tapi kau tidak mengangkat teleponnya.”

Changmin menepuk dahinya keras, “Ah—haha, aku lupa. Aku meninggalkan ponselku di ruang kerja.”

Yang dibalas oleh Kyuhyun dengan sebuah cibiran. Sedangkan kedua wanita yang ada disana hanya tersenyum geli.

“Oh! Gambar ini—” Kyuhyun menatap potret Sena yang ada dihadapan mereka, membuat ketiganya juga ikut memandang objek mata Kyuhyun, “aku sudah melihatnya tadi. Kenapa kau pajang yang ini huh? Bukankah dia sangat terlihat jelek disana?”

Sena mencubit pinggang Kyuhyun, membuat pria itu langsung merintih. Yang langsung dihadiahi gelak tawa oleh Changmin dan Irene.

“Jangan sembarangan!” ucap Sena dengan mata yang sedikit wanita itu pelotkan.

Kyuhyun terkekeh, pria itu mendekatkan wajah mereka lalu menyentuhkan ujung hidungnya pada ujung hidung Sena. Menggesekannya sebentar disana, lantas mengecup dahi Sena. Membuat wanita itu merasakan panas dikedua pipinya.

Astaga.. Kyuhyun. Pria itu tidak tahu tempat apa? Disini ada Changmin dan Irene omong-omong.

“Ahh… kalian manis sekali~” ucap Irene dengan kedua tangan menangkup pipinya yang memerah. Jangan lupakan senyum lebar khas wanita itu, “Changmin tidak pernah seperti itu padaku,” tambahnya lagi sambil melirik sinis kekasihnya tersebut.

Sena tersenyum canggung sedangkan Kyuhyun terbahak keras.

“Pria-mu itu memang sangat kaku, Ryn-ah!” sahut Kyuhyun tidak menghentikan tawanya.

“Kau saja yang tidak bisa menahan diri.” Sungut Changmin tidak terima, yang ditambah dengan dengusan geli. Lagipula Irene ini apa-apaan?

Dia lantas melihat jam yang melingkar ditangannya, dan berkata, “Sudah hampir pukul delapan. Bagaimana jika kita makan malam lebih dulu?” tawarnya.

“Aku setuju! Aku setuju! Aku sudah sangat kelaparan omong-omong.” Jawab Irene dengan satu telunjuknya yang dia angkat keatas. Dan sebelah tangannya yang dia usap-usapkan diatas perut datarnya. Membuat Changmin merasa gemas.

“Terserah saja..” sahut Kyuhyun.

Ketiganya pun menoleh pada Sena yang masih terdiam, “bagaimana Sena?” tanya Irene kemudian.

“Aaa— ya, boleh. Aku juga sudah lapar,” jawabnya.

“Baiklah, ayo kita pergi sekarang. Ayo.. ayo!” Irene menarik-narik tangan Changmin untuk segera keluar darisana. Ia sudah ingin cepat-cepat mengisi perutnya. Yang dibalas Changmin dengan gerutuan sepanjang mereka berjalan.

Sedangkan Kyuhyun dan Sena masih tetap disana. Pria itu menatap mata Sena ragu, “kau yakin?” tanyanya.

“Huh?”

“Kalau kau ingin pulang, kita batalkan saja.”

Sena tersenyum manis lantas menjawab, “tidak baik menolak tawaran teman bukan? Setelah datang menemuiku dirumah tadi, kau juga belum memasukan apa-apa kedalam lambungmu. Jadi, kita makan malam saja lebih dulu.”

Kyuhyun terkekeh, lalu mengeratkan rangkulannya, “Ya, kau menang. Baiklah –kita makan malam dulu setelah itu pulang. Kajja!

.

(Un)Breakable

.

Sepanjang makan malam, Sena kembali terdiam. Wanita itu jelas sekali tidak menikmati makan malamnya. Meja yang mereka tempati pun, hanya berisik oleh keributan yang berasal dari mulut Irene— yang sedari tadi tidak mau diam mengatakan ini dan itu pada Changmin.

Wanita berponi itu tidak berhenti bicara sejak tadi. Kyuhyun sampai heran, kenapa Changmin bisa betah dengan wanita secerewet Irene.

“Ini enak Changmin, cobalah.” Bujuk Irene tidak mau kalah.

“Astaga, aku tidak tertarik pada makanan itu Ai.”

“Tapi ini enak! Kau harus mencobanya sekali-kali.”

“”Tidak— tidak, untuk kau saja.”

“Ayolaaah~ bantu aku, ini terlalu banyak. Kalau aku gendut, bagaimana?”

“Itu salad, Ai. Berlebihan sekali jika kau gendut hanya karena makanan itu!”

“Kau tega sekali—” ucapnya dengan raut wajah yang memberengut, “kau mau mencoba Kyuhyun?” tanyanya dengan mata yang dimiripkan seperti mata anak anjing.

Kyuhyun tertawa hambar, lantas menggeleng, “Aku bukan penikmat sayuran, kalau kau mau tahu.”

Irene melebarkan matanya maksimal, “Masa?” kepalanya ia tolehkan pada Changmin, “benarkah dia seperti itu?”

Changmin mendengus geli, lalu menjawab, “Kau tidak lihat jerawatnya huh?” yang langsung dibalas Kyuhyun dengan melemparkan serbet kepadanya.

Irene menatap Kyuhyun lagi, lalu meringis kecil. Benar juga sih… batinnya.

Arah matanya ia geser pada Sena yang sejak tadi hanya diam, “kalau kau Sena? Kau kan model, pasti tidak jauh-jauh dari salad kan?”

Sena meliriknya sejenak, lalu bergumam, “Ya.. tentu saja.”

Dengan senyuman lebarnya, Irene menunjuk salad yang ada dihadapannya, “kau mau?”

Alis Sena berjengit, menatapnya tidak mengerti. Menghela nafas, Irene berkata lagi, “Aku tidak mungkin menghabiskan makanan ini. Kau mau membantuku memakannya?”

Sena tersenyum canggung. Wanita itu menatap Kyuhyun dan Changmin bergantian, meminta bantuan. Perlu diketahui, Sena itu tidak bisa memakan dengan satu piring yang sama pada orang lain. Dia menyukai salad, tapi jika itu dari piring orang lain, dia tidak bisa menerimanya. Dia sendiri bingung, kenapa bisa seperti itu.

“Kalau memang tidak bisa menghabiskannya, tinggalkan saja.” Desah Changmin.

“Tapi sayang sekali, Changmin-ah!”

“Aku ini yang membayar.”

“Itu tetap saja!”

“Astaga— Ai. Kalau kau tidak bisa menghabiskannya, kenapa memesan itu?” geram Changmin tidak tahan. Lantas pria itu menyodorkan steik miliknya yang sudah habis seperempat pada Irene, “makan ini. Kau lapar bukan?”

Irene menampilkan deretan giginya yang rapi lalu segera menyambar steik itu, membawa daging lembut yang sudah dipotongg kecil-kecil oleh Changmin itu kedalam mulutnya, mengunyahnya dengan cepat, lantas berkata, “terimakasih..”

Changmin hanya mendengus.

“Lain kali, jangan memesan makanan seperti itu. Aku bahkan tidak pernah melihatmu memakannya, gaya-gayaan saja sih. Sok-sok memesan, kau pikir aku akan terkesan melihatmu memakan salad huh?” gerutu Changmin panjang-lebar.

Kyuhyun dan Sena yang ada dihadapan mereka, masing-masing terkekeh dan tersenyum tipis. Jarang sekali Changmin menunjukkan ekspresi seperti itu. Irene benar-benar sesuatu.

“Wah.. sepertinya aku yang dibuat terkesan dengan gerutuanmu Tuan Shim.” Sahut Kyuhyun dengan cengiran mahalebarnya. Membuat Changmin lagi-lagi mendengus.

“Whoah Sena.. akhirnya –kau menunjukkan ekspersi lain selain wajah diammu itu!” sahut Irene senang dengan sebuah tepukan ditangannya, yang seketika itu juga menghentikan kekehan Kyuhyun dan gerutuan Changmin.

Kedua pria tampan itu lantas menoleh pada Si Objek, menyadari bahwa kalimat yang tadi diucapkan Irene ada benarnya. Sena yang sejak tadi hanya terdiam kini sedang menarik kedua ujung bibirnya. Wanita itu tersenyum. Walau, senyuman itu tidak serta-merta membuat matanya ikut tersenyum.

“Kau berlebihan, Irene.” Ucap Sena setelah menormalkan kembali wajahnya.

Wanita itu balas menatap Changmin dan Kyuhyun bergantian. Dan tatapannya jatuh terpaku pada Kyuhyun yang –menurutnya seperti sedang menyelami raut wajahnya. Pria itu seakan sedang menilainya, entah dari apa. Tatapan pria itu bahkan tidak berubah setelah waktu berselang selama lima menit. Dan itu, jelas sekali membuat Sena diserang ketakutan.

.

(Un)Breakable

.

“Hah..”

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya pada sofa kulit berwarna hitam didalam apartemen Sena. Pria itu lelah sekali setelah seharian ini harus bolak-balik mengemudi. Ditambah dengan staminanya yang akhir-akhir ini juga ikut menurun.

Sena memang memutuskan untuk kembali ke apartemennya yang sudah dia tinggalkan selama dua minggu ini setelah Hyukjae memintanya –dengan sedikit memohon, untuk kembali pada aktivitasnya semula.

Wanita itu juga tidak mungkin meninggalkan kesehariannya selama ini hanya untuk terus terdiam dan merenungi nasibnya dirumah besar Orangtuanya. Hidupnya, harus terus berjalan jika tidak ingin berhenti pada sebuah luka –yang mungkin akan semakin mendalam nantinya.

“Kau ingin kubuatkan sesuatu? Latte mungkin,” tawar Sena setelah meletakkan tas kecilnya diatas meja tamu.

Sena berharap jawaban Kyuhyun adalah tidak. Karena untuk saat ini, dia hanya ingin Kyuhyun cepat menghilang dari hadapannya.

Sena masih menyimpan ketakutan itu, dia belum siap jika Kyuhyun akan mencercanya malam ini juga. Sena masih butuh waktu untuk bisa menjelaskan perubahan apa yang dialaminya akhir-akhir ini. Dan Sena tidak ingin –setidaknya untuk saat ini– Kyuhyun tahu.

Biar dia menjadi egois sekali saja. Biar dia yang menyimpannya sendiri saja. Tanpa perlu orang lain mengetahui. Hanya itu.

Kyuhyun yang tengah menyadarkan kepalanya pada punggung sofa, mendongakkan kepalanya keatas hingga lehernya yang jenjang itu semakin terlihat jelas kemudian menatap wanita itu dengan alis berkerut, “Eum— boleh juga,” ucapnya kemudian yang diiringi desahan lelah.

Mendengar jawaban itu –Sena menelan harapannya. Jika seperti ini, Kyuhyun akan tetap bertahan didalam apartemennya. Dan Sena tidak bisa menebak selama apa pria itu akan berada disini. Maka dengan berat hati, ia melangkahkan kakinya menuju dapur.

Wanita itu mengambil cangkir yang biasa Kyuhyun gunakan saat sedang bersantai diapertemennya ini dari laci atas, tangannya bergerak lambat menuangkan bubuk kopi, cream dan gula.

Hingga sebuah pelukan dari tangan besar seseorang disekeliling pinggangnya mengagetkannya. Sena hampir saja menumpahkan air panas ketangannya jika dia tidak sigap.

“K-kyuhyun… a-apa yang kau lakukan?” tanyanya terbata ketika merasakan bibir Kyuhyun bergerak dibalik telinganya.

“Aku merindukan wanitaku,” jawab pria itu dengan nada suaranya yang merendah.

Sena membelalakan matanya. Tubuhnya menegang seketika.

Tidak, jangan— kumohon.. batinnya.

Memejamkan matanya erat, Sena pun berkata, “B-bisa kau lepaskan pelukanmu? Latte-nya sudah jadi kubuat.” Namun kalimatnya, tidak juga dihiraukan oleh pria itu.

Bibir Kyuhyun mulai bermanuver pada tengkuk, leher dan bahunya. Pria itu terus-terusan menciumi tiga daerah tersebut secara bergantian, dan itu membuat Sena harus menahan nafasnya.

“Kyuhyun –hentikan,” ucap Sena mulai menegas. Tapi masih tetap tidak dihiraukan, oleh Kyuhyun, tubuhnya langsung diputar, dihadapkan pada pria itu. Dan tanpa mau menunggu waktu lagi, Kyuhyun kembali menyerang Sena dengan ciuman bertubi-tubinya. Kali ini bahkan bagian dadanya ikut menjadi objek serangannya.

“Kyuhyun kubilang hentikan!” jerit Sena kemudian mendorong tubuh Kyuhyun dengan sentakan yang kencang hingga punggung pria itu menabrak kursi makan yang ada dibelakangnya.

Wanita itu menatap Kyuhyun dengan mata yang membelalak ketakutan. Dadanya jelas sekali terlihat kembang-kempis karena nafasnya yang berubah menjadi tidak teratur. Bibirnya yang sedikit terbuka, bergetar. Dan wajahnya, berubah menjadi sangat pias.

Kyuhyun –pria itu hanya menunjukkan wajah dengan raut datarnya. Pria itu terdiam, tidak melakukan apapun. Kecuali memindai Sena dengan mata tajamnya.

Menyadari bahwa emosinya sempat tidak terkendali, Sena pun menundukkan kepala. Tangannya dia usapkan pada wajahnya.

Astaga.. Sena, penolakanmu bisa semakin memancing Kyuhyun! Dia akan semakin curiga, kau tahu? Hah. Bagus benar.

“A-aku— aku lelah. Ingin beristirahat. Lebih baik kau pulang—” lalu dia pun pergi meninggalkan Kyuhyun sendirian yang –tanpa wanita itu tahu– hati dan pikiran pria itu sedang diselimuti emosi dan kecurigaan yang semakin menumpuk.

Ya, Kyuhyun sedang menyambungkan segala hal yang terjadi hari ini akibat ulah Sena. Semua.

.:: TBC ::.

Advertisements

132 thoughts on “(Un)Breakable – Chap. 4

  1. Greget sama sikapnya Sena, gak terbuka. Bahkan sama Hyukjae – keluarganya sendiri. Jadi kesel kaan huhu Sena sakityah? Aku curiga jangan – jangan … hehehe
    Kalo aku jd kyu udah capek pasti ngadepin sena yg kayak gini @_@

    Like

  2. Aduhh,, sena sebenernya kenapa sih,, kalo hamil ga mungkin juga sikapnya spt itu, karna takut kyuhyun ga mau menerima anaknya, takutnya dia ada penyakit lain yg aneh2 ..

    Sena makin bikin penasaran bgt, jangan sampai kyuhyun berpikiran macam2 dengan nuduh sena sembarangan ..

    Like

  3. Aku yakin sena pasti hamil dehh tuu. Aaaaa knp harus kyu belum siap cobaaa. Gmnaa yaa tanggapannya kyu kalo tau sena dulu prnah keguguran. Sedih kah at bahagia

    Like

  4. Sena menghindari Kyuhyun ????
    Ada apakah ??
    Entah kenapa penjabaran segala keprustasian Kyuhyun membuatku ikut sakittt
    Kyuhyun tolong dong lebih tegas lebih pertegas hubungan kalian
    Wanita butuh kepastian kyuuuuuu

    Like

  5. greget bngt sma sikap nya sena knpa dia ga mau terbuka coba?sbnrnya apa yg disembunyiin sma sena coba sampe ketakutan kyk gitu?smga sena cpt berubah kyk dlu lagi deh

    Like

  6. Kayanya fix sena hamil deh .. tpi knp dia ga mau kyuhyun twu yah .. kyuhyun juga udh curiga tpi kok sempat2 nya curiga klo itu bkn anak dia .. masa ga percaya sama sena ..

    Like

  7. Aishh.. gw gregetan sendiri sama couple ini, sama2 keras kepalanya.
    Menurut gw, Sena hamil deh.. dan kalo emang bener, kira2 kpn Sena bakal ngaku ke Kyuhyun ya? Dan gimana reaksi Kyuhyun nanti
    Fighting buat next part !!!

    Like

  8. Greget sama sikapnya Sena, gak terbuka. Bahkan sama Hyukjae – keluarganya sendiri. Jadi kesel kan Sena sakit yah? Aku curiga jangan – jangan … hehehe
    Padahal Password chapt 3 belum ketemu #otakdangkal

    Like

  9. Waaa alo kak, nemu ffnya di flying nc wkwk ketauan suka baca nc bhaa. Penasaran ga sanggup jadi coba cari2 di google kali aja authornya punya blog, taunya ada yeeeeeee. Soalnya greget part 3 nya di flying nc ehehe. Mau lanjut baca dulu deh sampe abis hamdallah udh complit wkwk.

    Bagus loh kak alur ceritanya dr part 1 sampe part 3.suka suka suka pokoknya

    Liked by 1 person

  10. Ini sena knapa?? Hamil atau kenapa nih..
    Tpi smga sena baik-baik aja deh.. trus gmna nih kjelasan hbngan sena dan kyuhyun.. hrapannya sih sgera ad kjelasan dehhh.. hahaha

    Like

  11. Kalau aku jadi Irene pasti jg bakal mikir yg enggak enggak ke Changmin..
    Iiih sebel bgt sm sikap Sena, tertutupnya tak tersentuh, kenapa dia menghindari semua orang..

    Like

  12. Sena kenapa sih? Hamil beneran? Terus takut Kyuhyun gak mau tanggung jawah. Ih lagian Kyuhyun berani berbuat harus berani tanggung resiko

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s