(Un)Breakable – Chap. 5

pic-10

When the Ego and Love are Collide

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena

also

Shim Changmin – Irene Kim

⌈ AU │ Multi-Chaptered ⌋

⌈ PG – 17 ⌋

⌈ GENRE ⌋

Romance, Complicated

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

 RECCOMENDED SONG 

Westlife

All or Nothing

Leaving

 RELATED STORIES 

⌈ Unclear | 1 | 2 | 3 | 4 

Queensera©2016

And we are so fragile.

And our cracking bones make noise.

And we are just breakable, breakable, breakable girls and boys.

divider1

“Kau ingin kubuatkan sesuatu? Latte mungkin,”

Mendengar penawaran yang dilontarkan oleh Sena, Kyuhyun pun mendongak. Ditatapnya wajah yang berada diatasnya itu dengan seksama. Dan seakan wanita itu tengah mempermudah jalannya, dia pun menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil, “Eum— ya, boleh juga.”

Sejak dalam perjalanan pulang tadi, dia memang sudah merencanakan sesuatu. Entah apa, yang jelas sesuatu itu bisa membuatnya mengerti. Dan hanya dengan alasan dia yang sangat kelelahan karena telah bolak-balik mengemudikan mobil, akhirnya dia bisa sampai disini.

Wanita itu memang pandai berbohong tapi, wanita itu juga, sangat mudah untuk dibohongi. Seperti sekarang.

Kyuhyun bukannya tidak peka atau tidak bisa merasakan aura ketidak-inginan yang Sena tunjukkan. Pria itu, jelas sekali bisa merasakan ketegangan yang tengah melanda tubuh wanitanya. Dan hal tersebut, semakin membuatnya yakin bahwa Sena memang sedang ingin menghindarinya. Paling tidak ada hal yang sengaja wanita itu sembunyikan darinya.

Kyuhyun sendiri juga sudah paham betul bagaimana karakter Sena. Tipikal wanita introvert yang tidak bisa dipaksa. Tidak mudah untuk dibujuk. Dan tidak bisa diberi peringatan baik-baik.

Menghadapi Sena itu perlu taktik. Seperti saat ini, sebisa mungkin dia akan memanfaatkan keadaan. Dan berterimakasihlah pada Lee Hyukjae yang telah meminta wanita itu untuk pulang ke apartemennya sehingga jalan baginya bisa lebih mudah tanpa harus merasa tidak enak pada pria itu. Jika nantinya, mungkin dia harus berbuat ‘kasar’ pada wanita itu.

Kyuhyun bangkit dari posisi santainya, lalu dengan langkah yang mengendap, dia mengikuti kemana langkah kaki Sena berakhir. Kaki panjangnya kemudian berhenti pada sekat dinding yang membatasi antara ruang tamu dan dapur yang juga merangkap sebagai ruang makan.

Matanya, Kyuhyun fokuskan pada wanita yang sedang berkutat didepan  coffee-maker. Melihat gerak lambat yang wanita itu lakukan saat akan membuat secangkir latte untuknya, membuat Kyuhyun tersenyum sinis, “Aku paham betul bagaimana kau Sena. Berhentilah bermain-main denganku,” ucapnya dengan sorot mata yang mendingin.

Selagi masih menatap Sena, sekelebat bayangan tentang perkataan Minho berputar melintas didalam otaknya. Dulu sekali. Tapi, masih membekas dalam ingatannya. Pria yang lebih muda hampir empat tahun darinya itu pernah mengatakan bahwa, taktik untuk melemahkan kekuatan lawan adalah dengan cara membuatnya emosi.

Dan Kyuhyun yakin betul, saat ini Sena sedang menyimpan berbagai macam emosi dalam dirinya. Entah besar atau kecil tapi ketika emosi itu Kyuhyun bakar, yang pasti akan terjadi selanjutnya adalah— Boom! Energi dari emosi itu akan meledak.

Dan urusan untuk membuat Sena emosi.. itu kecil menurutnya.

Menghirup nafas dalam, Kyuhyun kembali melanjutkan langkahnya menuju Sena. Setelah tak ada jarak diantara dirinyaa dan wanita itu, lengannya Kyuhyun lingkarkan dipinggang ramping favoritnya. Memeluk tubuh Sena seseduktif mungkin agar wanita itu dapat merasakan ‘kehadirannya’.

“K-kyuhyun… a-apa yang kau lakukan?” mendengar kalimat terbata yang Sena ucapkan, Kyuhyun malah semakin mengeratkan pelukan itu, lalu berkata dengan suara rendah, “Aku merindukan wanitaku.”

Tidak ada suara selanjutnya, tapi Kyuhyun yakin wanita itu sedang berperang dalam hatinya. Dan sebentar lagi dia akan mendapatkan penolakan.

“B-bisa kau lepaskan pelukanmu? Latte-nya sudah jadi kubuat.”

Benar bukan?

Tapi tidak semudah itu Sena Sayang… Kau sudah terlanjur membuatku curiga, dan inilah saatnya.

Tak memedulikan kalimat itu, bibir Kyuhyun bermanuver menyerang seluruh bagian tubuh Sena yang dapat tergapai. Sebisa mungkin dia menulikan telinganya atas permohonan yang Sena lontarkan. Yang menginginkan dirinya untuk berhenti melakukan genjatannya sekarang juga.

Hingga kemudian dia merasakan sebuah dorongan yang sangat keras dan berakhir dengan punggungnya yang lebar itu membentur kursi makan yang berada dibelakangnya.

Nyeri memang. Tapi saat ini, bukan rasa sakit itulah prioritas utamanya.

Kyuhyun bisa merasakan adanya sorot ketakutan dari lensa cokelat-madu milik Sena, yang saat ini wanita itu pancarkan. Wajah wanita itu berubah sangat pias. Tapi, bukan itu yang membuatnya terdiam dan menatap wanitanya begitu dingin dan tajam, melainkan emosi wanita itu yang akhirnya dia dapatkan.

Sena menolak dirinya. Bukan secara fisik.

Dan itu sungguh membuat hati Kyuhyun mencelos. Jadi benar, tentang apa yang dipikirkannya itu? Bahwa Sena memang sedang menghindarinya atau— menyembunyikan sesuatu darinya.

Rasanya Kyuhyun ingin tertawa membodohi dirinya sendiri karena telah terhasut oleh permainan wanita itu beberapa jam yang lalu. Satu yang dapat dia simpulkan bahwa tadi, Sena hanya sedang berpura-pura. Ya, apalagi kalau bukan itu? Dan Kyuhyun baru menyadarinya? Miris sekali dirimu Cho Kyuhyun!

“A-aku— aku lelah. Ingin beristirahat. Lebih baik kau pulang—”

Bahkan setelah mendapatkan penolakan itu. Dia juga harus ditinggalkan dengan cara yang seperti ini?

.

(Un)Breakable

.

Sena hampir saja akan menutup pintu kamarnya, ketika kaki Kyuhyun malah menyela hingga sepatu kulit berwarna hitam itu menahan daun pintunya agar tidak tertutup. Wanita itu mengangkat kepalanya dan mendapati tatapan Kyuhyun yang tajam menghunus sedang menatapnya.

Ya Tuhan.. apalagi ini? Tidak, jangan sekarang Cho Kyuhyun..

Tanpa peringatan apapun, Kyuhyun kemudian mendorong pintu itu kedalam dengan sedikit kasar hingga Sena yang berada dibelakang daun pintu itu juga ikut terdorong kebelakang. Kekuatan seorang wanita memang tidak sebesar kekuatan pria, kan?

Wanita itu meringis tertahan akibat perlakuan kasar yang pria itu tunjukkan. Lengannya memerah akibat gebrakan pintu itu. Dan raut wajahnya, berubah menegang saat menyadari bahwa aura Kyuhyun tidak main-main menyeramkannya saat ini. Jantungnya berdegup dengan kencang. Dia sangsi dirinya akan selamat dari percikan kemarahan Kyuhyun jika seperti ini.

Bodoh Lee Sena! Kau sendiri yang telah membuatnya begitu. Seandainya kau bisa menjaga emosi, mungkin Kyuhyun tidak akan berbuat semenyeramkan ini. Sena juga yakin, rasa curiga Kyuhyun itu kini semakin menumpuk setelah gelagatnya tadi mencurigakan.

Masih dengan tatapan tajamnya, Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju Sena. Yang setiap langkahnya dibalas dua langkah mundur oleh wanita itu. Rahangnya mengetat begitu menyadari penolakan yang benar-benar wanita itu tunjukkan.

Lalu pada langkah ketiganya, saat betis wanita itu sudah menyentuh bibir ranjang, Kyuhyun berhenti. Jarak mereka yang terpaut tiga meter, membuat Kyuhyun bisa melihat betapa gemetar dan ringkihnya tubuh wanita itu.

Sena masih menunduk dalam ketakutannya, dia tidak berani menatap Kyuhyun saat ini. Pria itu jelas berbeda. Kyuhyun yang berada dihadapannya, jelas bukan Kyuhyunnya yang penyayang. Sena tahu pria itu memiliki kontrol emosi yang rendah, tapi selama mereka bersama, sebelum semua ini terjadi, Kyuhyun sebisa mungkin merendahkan dirinya untuk bisa memahami Sena. Dan sekarang, dengan kecerobohannya Sena malah memanggil jiwa gelap pria itu untuk muncul dihadapannya.

Dan seperti ada yang mencubit hatinya, setetes air mata itu jatuh. Karena setelah ini, mungkin tidak akan seperti dulu lagi.

“Katakan padaku. Semuanya. Sekarang juga—” melepaskan kalimat itu dari mulutnya, Kyuhyun mengepalkan masing-masing kedua tangannya yang berada disamping tubuhnya dengan erat, “sebelum aku melakukan hal yang mungkin akan membuatmu tidak suka.”

Sena menggelengkan kepalanya kaku. Dia akan memberitahu Kyuhyun tapi bukan saat ini. Dia hanya butuh waktu, karena dia sendiri belum menerima keadaannya.

Mendapatkan gelengan darinya, Kyuhyun jelas semakin naik pitam.

“Sena— jangan buat aku melakukan hal yang tidak wajar,” ucapnya lagi dengan gigi yang gemertak. Jujur saja, Kyuhyun ingin sekali melempar atau membanting semua benda yang berada dikamar itu agar emosinya yang sejak tadi tertahan bisa terlampiaskan. Wanita itu benar-benar pintar membuatnya marah.

Namun oleh wanita itu, peringatannya hanya dibalas oleh sebuah gelengan lagi. Yang tentu saja membuat Kyuhyun menggeram lalu, berteriak, “LEE SENA!!!”

Keras. Sangat keras hingga tubuh Sena semakin bergetar.

Dengan langkah-langkah panjangnya, Kyuhyun menarik kedua bahu Sena kasar hingga wajah pias wanita itu kini bisa menatapnya. Masih ada ketakutan disana, bahkan kedua matanya sudah memerah. Dan hal itu, membuat hati Kyuhyun seketika mencelos lagi.

Kyuhyun tidak mau berpikiran buruk, dia ingin semuanya baik-baik saja. Tapi wanita dihadapannya ini seakan meminta Kyuhyun untuk jangan berpikiran baik. Seolah menolak kecemasannya. Seolah mengabaikan kekhawatirannya. Dan seolah membiarkannya terkubur dalam pikiran serabutannya. Tersesat didalam sana tanpa mengetahui jalan untuk keluar.

Tatapan wanita itu terluka. Kyuhyun bisa merasakannya. Hanya yang dia tidak tahu, luka itu disebabkan olehnya atau karena hal lain? Dan Kyuhyun membutuhkan jawaban itu segera agar dia tidak salah mengambil langkah dan malah semakin menyakiti wanita itu.

“Ada apa denganmu?”

Bukan itu yang ingin Kyuhyun ucapkan. Intonasinya –seharusnya tidak seperti itu. Kyuhyun ingin menunjukkan pada Sena bahwa dia lah Si Superior. Yang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan yang dia mau. Tapi ketika menyangkut wanita itu, tubuh, perasaan bahkan pikirannya berubah melemah. Seperti tidak diijinkan untuk bekerja yang semestinya. Seperti saat ini, dia dibalut oleh kemarahan tapi intonasi yang keluar dari mulutnya, bukanlah sebuah kemarahan melainkan kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan.

Harus berapa kali Kyuhyun mengulangi kalimat itu?

Sena meneteskan air mata itu lagi. dia memejamkan matanya sejenak kemudian menatap Kyuhyun lelah. “aku—”

“Jangan mengatakan bahwa kau baik-baik saja! Karena aku tidak bisa melihat itu dari dirimu!” nafas Kyuhyun bergerak tidak teratur. Demi Tuhan.. saat ini, sebisa mungkin dia menekan keras amarahnya sampai kedalam dasar hatinya. Dia benci mengakui, tapi sungguh, melihat Sena terintimidasi olehnya, bukanlah hal yang dapat menenangkan. Karena sejatinya, Kyuhyun takkan pernah sanggup membuat orang yang dicintainya itu takut padanya.

Cinta?

Kyuhyun tidak tahu dengan apa yang dirasakan dan dipikirkannya. Tapi ucapan Hyukjae tadi siang saat dia mengunjunginya di café, sedikit-banyak membuatnya mengerti atas apa yang terjadi padanya.

Dan perasaan itulah jawaban yang paling tepat dan konkret atas apa yang mengacaukan hidupnya selama dua minggu ini. Mungkin lebih.

Flashback On

“Aku senang akhirnya kau datang menemuiku,” ucap Hyukjae begitu dia menyusul Kyuhyun yang dia suruh tadi untuk menunggu diruangannya.

“Huh?”

Hyukjae tersenyum tipis, pria itu mendudukan dirinya ditepi meja kerjanya. Dia menghela nafas sebentar sebelum menjawab kebingungan Kyuhyun, “Walau aku berharap kau bisa datang lebih cepat, tapi— tidak apa-apa. Better late than never, right?”

Kyuhyun semakin mengernyitkan dahinya. Apasih maksud Lee Hyukjae ini?

Menyadari bahwa lawan bicaranya semakin kebingungan, Lee Hyukjae lantas tertbahak keras. Wow, dia tidak menyangka Kyuhyun akan terlihat sebodoh ini. Apa otaknya bekerja lamban karena adiknya itu?

Berdeham sejenak, Hyukjae membenarkan posisi duduknya, “aku tahu kau kesini untuk mencari adikku, benar bukan?”

“Kau tahu dimana dia?” tanya Kyuhyun cepat. Terlalu cepat hingga dia bisa melihat kuluman senyum yang Hyukjae tak bisa sembunyikan.

Hyukjae mengangguk.

“Dimana dia?”

“Yang pasti bukan disini.”

“Lee Hyukjae, aku serius.”

“Aku juga serius, Kyuhyun.”

Kyuhyun mendengus kasar, dia lantas berdiri dari duduknya diatas sofa dan berjalan mendekat kearah pria yang tingginya itu tidak lebih dari dirinya. Dengan tatapan mengintimidasi, dia berkata, “jangan mengajakku bercanda. Aku serius, Hyukjae-ssi. Jadi beritahu aku dimana dia sekarang.”

“Wow.. wow, santai saja Tuan. Aku juga sedang tidak dalam mood baik untuk bercanda denganmu,” balasnya tak kalah serius.

Sekali lagi, Kyuhyun dibuat menggeram. Dan itu jelas saja membuat Hyukjae terkikik kecil. Pria itu lantas menepuk-nepuk bahu Kyuhyun ringan, “dia ada bersamaku—” ucapnya perlahan dan langsung dihadiahi Kyuhyun dengan tatapan meminta penjelasan.

Dengan mengedikkan bahunya, Hyukjae melanjutkan, “Sena tinggal dirumah besar kami. Sejak dua minggu lalu. Dan kau pasti kelimpungan mencarinya kan?”

“D-dia… bersamamu?” ada kelegaan dalam ucapan Kyuhyun. Setidaknya, dia tahu bahwa Sena tidak pergi kemana-mana. Setidaknya, wanita itu masih berada dikota yang sama dengannya. Dan yang terpenting, wanita itu bersama dengan orang yang dapat melindunginya. Lee Hyukjae.

Hyukjae mengangguk.

Terjadi keheningan selama beberapa detik hingga kalimat yang Hyukjae ucapkan setelahnya, membuat sekujur tubuh Kyuhyun menegang, “Perlu kau tahu Kyuhyun, seburuk apapun hubungan yang kau jalani dengan adikku itu, tapi aku cukup yakin dengan mengandalkan Sena padamu. Dan sebagai seseorang yang lebih tua darimu ataupun dirinya, aku hanya akan mengingatkan, bahwa hubungan tanpa komitmen tak akan pernah mendatangkan kebahagiaan pada kalian,”

Kyuhyun diam. Pria itu tetap pada posisinya. Kedua telinganya bahkan terpasang baik-baik untuk mendengarkan kalimat Hyukjae.

Pria bermarga Lee itu tersenyum getir, pandangannya dia alihkan pada sebuah foto keluarga yang memang selalu dia pajang diatas mejanya, kemudian berkata lagi, “Aku ingin memberitahumu juga bahwa, apa yang kau lakukan adalah salah,” Berhenti sebentar untuk kemudian mengambil nafas, “Ah— tidak. Maksudku, kalian lah yang salah. Tapi seharusnya—jika pun memang Sena tidak bisa mengerti atau terlalu keras untuk menolak kenyataan maka kau yang harus menyadari itu, Kyuhyun. Terlepas dari fakta bahwa bukanlah kau satu-satunya yang menikmati hubungan tidak sehat itu.

“Apa kau akan terus menggantungkan hubungan kalian ini pada waktu? Memangnya apa yang menghalangi kalian? Apa lagi yang kalian tunggu? Yang kau tunggu? Perlu kau tahu, pasangan yang telah memiliki komitmenpun bisa saja berpisah, apalagi kalian yang tidak memiliki pilar itu. Kyuhyun—kutegaskan sekali lagi, perjelaslah apa yang kalian jalani saat ini. Karena aku dan Papa, tidak akan tinggal diam melihat Sena yang terus-terusan begini. Dia wanita, Kyuhyun. Itulah yang kutakutkan. Dan sebagai seorang pria, kau tidak boleh seperti ini. Kau harus mampu membuat diri kalian berada didalam sebuah hubungan yang pasti. Kalian mungkin bisa bermain aman saat ini, tapi nanti— aku tidak menjamin akan baik-baik saja. Apalagi dengan keadaan Sena saat ini—dia pergi darimu tanpa sepatah kata—itu bisa menjelaskan semuanya. Tidak perlu aku bertanya, karena aku yakin hal yang saat ini mengganggu adikku bisa berkaitan denganmu,”

Kyuhyun masih tidak bisa bergerak dari tempatnya. Pandangannya berubah kosong. Benar, apalagi yang dia tunggu? Menggantungkan hubungan tak berkomitmen pada waktu, bukanlah sesuatu yang benar. Dan pengabaian yang Sena lakukan padanya, jelas sekali membuatnya takut.

Kyuhyun tidak bisa kehilangan dia. Tidak mungkin bisa. Karena hanya dengan begini saja, dia sudah merasa seperti kehilangan arah.

Hyukjae berdiri dari sandarannya pada tepi meja. Tangannya, dia tepukan lagi pada pria yang lebih muda darinya itu, lalu tersenyum, “Jika kau ingin dia kembali, maka jemputlah. Bawa dia bersamamu. Aku yang berbicara seperti tadi bukan berarti aku akan menghalang-halangi kalian. Bukan berarti aku memaksamu. Kalian sama-sama sudah dewasa, tapi aku meminta sekali ini saja, cobalah berpikir untuk sekadar menjadi dewasa. Aku mempercayakan Sena padamu maka kau harus menjaga kepercayaanku. Aku tahu kau bisa, Kyuhyun. Aku tahu—  karena aku yakin, kau mencintainya.”

Kyuhyun tertegun. Tatapannya dia fokuskan pada Lee Hyukjae.

Cinta?

Dan seakan ingin menegaskan pernyataan tadi, Hyukjae menambahkan, “Kecemasanmu. Kekhawatiranmu. Kekacauanmu saat ini, itu karena dia bukan? Jangan mengelak, karena aku paham benar rasanya seperti apa menjadi dirimu. Aku juga seorang pria. Atau kau ingin bertaruh? Aku bisa saja mengirim Sena ke Macau dan tinggal bersama Papa disana sekarang juga, karena jujur saja aku sudah tidak tahan melihatnya yang seperti mayat hidup. Tapi setelahnya, aku tidak akan menjamin bahwa kau akan baik-baik saja. Percayalah Kyuhyun, wanita bisa menjadi sosok yang sangat menakutkan bagi seorang pria saat pria itu sendiri sedang jatuh cinta pada wanita tersebut. Dan penampilanmu saat ini, sudah mencerminkan semuanya.”

Flashback Off

“Aku harus bagaimana?” Kyuhyun melepaskan tangannya dari kedua bahu Sena, kepalanya menunduk dan tubuhnya yang tadi terlihat gagah saat ini seakan sudah tidak bernyawa. Pria itu mendesah dengan segenap hatinya yang mulai tak karuan.

“Apa aku telah membuat kesalahan?” tanyanya lagi dengan tatapan nanar.

Hati Sena didalam sana seperti tersayat akibat ucapan Kyuhyun tersebut. Tidak, bukan itu. Dia samasekali tidak bermaksud melukai perasaan Kyuhyun. Sungguh. Kenapa pria itu harus mengambil kesimpulan bahwa dia telah melakukan kesalahan padanya?

Sena menggeleng dengan cepat sebagai jawabannya.

“Lalu ada apa denganmu, Sena? Jangan membuatku takut— jelaskan padaku. Ungkapkan semuanya, beritahu aku apa yang telah terjadi” sahut Kyuhyun dengan tatapan menyendu, “Ada apa?”

“Aku— tidak bisa…”

“Kenapa?”

“Kyuhyun— kumohon, jangan paksa aku,” Sena berbalik memunggungi Kyuhyun. Dia bingung harus berbuat apa, dia ingin menceritakan semuanya pada Kyuhyun tapi dilain sisi lain, dia tidak sanggup mengatakannya. Bibirnya seolah direkat oleh lem setiap kali dia ingin menceritakan masalahnya pada semua orang.

Sungguh.. entah kenapa rasanya sangat sulit.

Sena berjalan menjauhi pria itu, namun baru dua langkah dia ambil, ucapan Kyuhyun seketika menghentikan kerja jantungnya.

“Aku mencintaimu.”

Akhirnya, tanpa peringatan, kalimat itu terlontar juga. Bukan –bukan karena ucapan Hyukjae siang tadi. Tapi karena dia memang sudah merasakannya sejak bertahun-tahun yang lalu dan baru kali ini dia menyadarinya. Dan dipertegas oleh Kakak dari wanita yang ada didepannya itu.

Kyuhyun tidak akan menunggu waktu lagi. Dia tidak mau kehilangan Sena. Cukup dua minggu ini wanita itu pergi darinya, dan dia tidak mau lagi. Sena adalah separuh jiwanya, jika wanita itu pergi, maka dia tidak bisa merasakan apapun walau raganya masih utuh.

Sekarang.. Kyuhyun sudah menjatuhkan seluruh egonya untuk Sena. Karena yang dia inginkan, apapun yang terjadi, Sena akan berlari kepadanya. Bukan pergi darinya.

I love you, that means I’m not just here for the pretty parts. I’m here no matter what.

.

(Un)Breakable

.

Sena menatap tubuhnya yang hanya dibalut dengan bra dan celana dalamnya didepan cermin. Ingatannya masih tertuju pada kejadian semalam. Ketika Kyuhyun menyatakan sebuah kalimat yang samasekali tidak pernah dia sangka namun sangat dia nantikan selama ini.

“Aku mencintaimu.”

Wanita mana yang tidak akan bahagia jika diberikan sebuah kalimat sederhana namun sangat berpengaruh itu dari seorang pria yang selama ini mengisi hatinya? Ya, Sena akui, dia telah jatuh cinta pada Kyuhyun. Sejak lama. Bahkan sebelum mereka memulai hubungan. Dan semalam, Kyuhyun telah mengakuinya.

Hatinya— hati pria itu, kini telah berlabuh pada miliknya.

Tapi kemudian dia ingat, jika kebahagiaan hanya sementara, bukankah itu keterlaluan?

Tidak ada yang salah memang. Mereka sudah bersama selama bertahun-tahun belakangan ini, dan ketika cinta itu datang, itu bukanlah sesuatu yang baru. Dan seharusnya dia menerima. Harusnya dia bahagia. Harusnya dia berbalik dam memeluk Kyuhyun ketika pria itu sudah memenuhi penantiannya selama ini.

Sena juga tidak akan mengatakan bahwa Kyuhyun telah terlambat, karena dia pun masih memilki perasaan itu sampai saat ini. Dan mungkin sampai nanti. Entah kapan pastinya.

Hanya… seringnya takdir selalu memainkan nasib seseorang bukan?

Dan saat yang ditunggu telah datang, saat itu juga yang menunggu harus pergi.

Sena tidak bisa egois untuk tetap bertahan pada pria itu. Sena juga tidak bisa menerima kehadiran seseorang jika dia saja tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri.

Dan yang Sena lakukan semalam, pasti menyakiti pria itu. Dia tetap melangkah, meninggalkan Kyuhyun dalam kebisuan. Meninggalkan pria yang dicintai dan disayanginya dalam ketidakpastian.

Satu hal yang perlu Sena ingat, Kyuhyun tidak boleh mencintainya. Kyuhyun tidak boleh melabuhkan perasaannya pada hatinya. Karena pria itu, tidak akan bahagia jika bersama dengannya.

Satu titik air, dia rasakan jatuh dari sudut matanya. Semalaman, setelah Kyuhyun pergi, dia hanya bisa menangis. Ditengah pekat dan dinginnya malam, air mata itu tidak bisa membeku. Terus mengalir seakan tidak diijinkan untuk berhenti sebentar saja. Padahal dia sangat berharap, dengan membekunya hati yang dia miliki, maka matapun bisa membekukan air duka itu. Tapi tidak bisa.

Sena mengusap perutnya yang masih datar. Dia tersenyum getir. Untuk saat ini, iya, perutnya tetap mendatar. Tapi jika dia tidak segera mengambil tindakan, beberapa minggu lagi atau kapanpun itu –secepatnya, bagian yang datar itu akan segera membuncit.

Dan semua orang… akan mengetahuinya.

Kyuhyun pun—mungkin—akan mengetahuinya.

.

(Un)Breakable

.

Hana yang baru saja meletakkan kopi untuk suaminya diatas meja makan, dikejutkan oleh kedatangan Kyuhyun dengan penampilan yang sangat jauh dari kata rapi. Anak semata-wangnya itu tetap pada pakaian formalnya, hanya saja penampilannya tidak seperti pada hari-hari sebelumnya. Tidak biasa.

Pria itu tidak mengancingkan kerah kemejanya, jasnya hanya disampirkan pada pundak, tidak ada dasi dan yang terpenting rambut tebalnya tidak tersisir dengan benar. Penampilannya yang seperti ini terlihat lebih pantas disematkan pada orang yang baru saja pulang kerja, bukan akan bekerja.

Hana melirik Yeunghwan dengan tatapan bertanya, yang dibalas oleh suaminya tersebut dengan gedikan bahu. Menghela nafas, dia pun mendudukan diri disamping Yeunghwan.

“Kyuhyun, kau baik-baik saja?” tanyanya pelan ketika Kyuhyun mulai menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.

Putranya itu hanya meliriknya sebentar, kemudian mengangguk pelan sebanyak dua kali.

Tidak ada kalimat sapaan seperti ‘selamat pagi’ atau ‘bagaimana kabar kalian pagi ini?’ atau ‘ah.. aku lapar sekali, mari kita sarapan’ yang Kyuhyun selalu lakukan setibanya pria itu bergabung dengan mereka dimeja makan. Dan itu, jelas saja membuat Hanna dan Yeunghwan saling mengerutkan dahi. Ada yang tidak biasa dari sikap anaknya.

Karena Kyuhyun hari ini, berbeda dengan Kyuhyun pada hari-hari sebelumnya. Tapi sebenarnya Hana menyadari Kyuhyun yang seperti ini sudah dari kemarin-kemarin sih, hanya saja yang sekarang ini terlalu menonjol perbedaannya. Apa yang kira-kira menyerang pikiran anaknya?

Yang dia tahu, Kyuhyun –walaupun sedang dihadapkan pada sebuah masalah, seringnya tidak sampai seperti ini. Anaknya itu sangat easy-going, menempatkan masalah bukanlah sebagai musuhnya. Jadi, jelas saja ini sangat mengherankan baginya.

Tanpa Hana dan Yeunghwan ketahui bahwa Kyuhyun masih memikirkan tentang kejadian semalam. Ketika kejujurannya hanya dibalas oleh kebisuan Sena. Kyuhyun tidak tahu mana yang salah. Mana yang tidak pantas. Dan mana yang kurang meyakinkan dari kalimat yang diucapkannya itu. Tapi pengabaian Sena dan memilihnya wanita itu untuk berbaring saja diatas tempat tidur tanpa menoleh kepadanya samasekali, benar-benar membuat Kyuhyun dihujam rasa sakit.

Yang dia tidak sangka, Sena akan menolaknya sebesar dan separah ini.

Wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Tidak ‘ya’ tapi juga tidak mengatakan ‘tidak’. Mereka tidak bertengkar, dia tidak bersalah tapi Sena membuatnya seolah mereka memang sedang bertengkar lalu melakukan perang dingin dan kesalahan terletak pada dirinya.

Kyuhyun jelas tidak bisa berhenti memikirkan itu.

Jika memang wanita itu tidak mencintai dirinya, seperti yang semestinya, lalu apa arti kebersamaan mereka selama ini? Apa Sena tidak memiliki perasaan seperti dia memiliki rasa itu? Apa begitu sulit bagi wanita itu untuk mengatakan ‘ya’ ataupun ‘tidak’? Setidaknya, jangan buat Kyuhyun seperti ini. Setidaknya, pria itu bisa paham dengan apa yang dirasakan olehnya. Dan setidaknya, buatlah Kyuhyun untuk memahami medan.

Kyuhyun tidak bisa menebak ataupun membaca pikiran orang lain. Kyuhyun memang yakin benar bahwa ada yang disembunyikan oleh wanita itu tapi dia tidak tahu masalahnya tentang apa? Dan bagaimana? Jika memang masalah itu menyangkut dirinya, maka dia akan memperbaikinya. Kyuhyun bukan orang yang suka lari dari masalah, dan Sena, seharusnya bisa mempercayakan hal itu pada dirinya. Bukan malah bersembunyi dibalik sikapnya dan membuat Kyuhyun diserang rasa frustasi dan penasaran secara bersamaan.

“Apa—” Hana menuangkan air mineral pada gelas Kyuhyun dan Yeunghwan secara bergantian, lalu dengan berhati-hati, wanita paruh baya itu melanjutkan, “banyak kesulitan yang kau dapatkan dari Silk Air? Apa masih belum terkendali juga? Ibu pikir kedaannya sudah membaik berkat dirimu.”

Ya, Hana yang memang tidak tahu, pikirannya menyimpulkan bahwa apa yang terjadi pada Kyuhyun pagi ini adalah dampak dari anaknya itu mengurus Silk Air yang memang sedang bermasalah. Memangnya apalagi kalau bukan itu?

Kali ini Kyuhyun menggeleng lalu dengan sangat singkat, dia menjawab, “tidak.”

Hana mengangguk paham. Oh, mungkin mood Kyuhyun sedang tidak baik saat ini jadi, pembicaraan tentang Silk Air sebaiknya tidak usah dilanjutkan. Dia pun melirik Yeunghwan sekali lagi tapi dibalas oleh suaminya dengan gelengan, dan hal tersebut tentu saja membuatnya mendesah. Suaminya itu tidak bisa diandalkan memang. Padahal dibanding dengannya, Hana pikir, Yeunghwan lebih mengerti tentang Kyuhyun.

“Oh ya,” ucapnya dengan suara yang riang hingga membuat Kyuhyun menatap kearahnya. Mengingat sesuatu yang dia nantikan selama ini maka dengan mata yang penuh binaran dan senyum yang begitu lebar, Hana berkata, “apa kau sudah tahu bahwa akhir pekan nanti kita akan mengadakan acara makan malam bersama?”

Kyuhyun mengernyitkan dahinya, lalu mengangguk malas.

“Aku sudah memberitahunya kemarin, Sayang.” sahut Yeunghwan juga dengan nada malas. Dia pikir ada apa, tapi ternyata… Istrinya itu berlebihan sekali bahagianya.

Hana terkekeh kecil, kemudian melanjutkan, “kalau begitu, apa Changmin sudah kau beritahu juga?”

Yeunghwan mengedikkan bahu, lalu mengusap bibirnya dengan serbet. Menandakan bahwa dia telah selesai dengan sarapannya, “Ponselnya tidak bisa kuhubungi. Eum— bisa sih tapi tidak dijawab olehnya.”

“Jadi?”

“Aku menyuruh Kyuhyun untuk memberitahunya,” sahut Yeunghwan dengan dagu yang menunjuk Kyuhyun.

Hana membuka mulutnya sebesar dua jari lalu mengangguk. Dia mendesah sebentar kemudian berbicara dengan nada menyesal, “Ah.. benar. Pasti kemarin anak itu sibuk sekali hingga tidak bisa menjawab teleponmu. Dia sibuk— iyakan Kyuhyun?”

Sekali lagi, Kyuhyun hanya mengangguk.

“Aku merasa bersalah sekali tidak bisa datang pada peresmian galerinya.”

“Changmin pasti bisa mengerti.”

“Tetap saja aku merasa bersalah. Seandainya kita tidak menghadiri pesta pertunangan anak temanmu, pasti kita bisa menemui Changmin.” lalu tatapannya berubah berbinar saat mengingat sesuatu, “Oh ya Kyuhyun… kau tidak terlalu sibuk kan hari ini?”

“Tidak.”

Dengan senyum yang melebar lagi Hana berkata, “Kalau begitu, kau mau kan mengantarkan makan siang untuknya? Ck, anak itu, sudah bertahun-tahun tinggal di Amerika tapi setelah pulang hanya menemuiku sekali saja. Apa itu tidak keterlaluan? Lihat saja jika nanti bertemu, tubuhnya yang tinggi itu akan kubuat menjadi pendek!”

“Eiyy— Sayang, kau menyeramkan sekali. Lagipula mana bisa begitu.”

“Oh, aku tentu saja bisa melakukannya.”

Sementara Kyuhyun yang mendengar gerutuan Ibunya, akhirnya bisa mendengus geli. Yang lagi-lagi membuat Hana dan Yeunghwan kembali saling berpandangan. Lalu dengan dehaman kecil, pria itu menyahut, “Ibu, kita itu sudah dewasa. Sudah memiliki kesibukan masing-masing. Apa Ibu belum sadar juga? Umur kita bahkan sudah duapuluh sembilan tahun. Jadi, maklumi sajalah.”

“Tapi ada saatnya, kau dan dia tetaplah menjadi putra kecilku. Lagipula apa salahnya jika orang tua mengharapkan kehadiran anaknya huh?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya tak percaya. Ibunya ini ada-ada saja. Pria itupun lantas meletakkan sumpit dan dan sendoknya diatas piring, dan terakhir, yang dia lakukan adalah menatap Ibunya lagi, “Aku selesai. Ibu bisa menitipkan makan siang itu pada Paman Joo nanti,” katanya singkat kemudian pergi darisana, meninggalkan kedua orangtuanya yang dilingkupi berbagai pertanyaan atas perubahan sikapnya pagi ini.

.

(Un)Breakable

.

Untuk yang kesekian kalinya, dalam kurun waktu kurang lebih tiga puluh enam menit, Changmin terus-terusan mendengar Kyuhyun yang mendesah. Pria yang diamanati oleh Ibu angkatnya itu untuk mengantarkan makan siang—dengan menu kesukaannya—untuknya, kini tengah tertelungkup lemas diatas meja kerjanya yang ramai berisi foto-foto hasil kerjaannya.

Changmin yakin, sesuatu telah terjadi. Karena sejak mereka menikmati makan siang tadi, lebih tepatnya dia yang menikmati makan siang sendirian sedangkan Kyuhyun enggan, pria itu terlihat sangat tidak bersemangat.

Haruskah Changmin bilang bahwa Kyuhyun terlihat seperti Zombie?

Hei, orang yang baru pertama kali melihat Kyuhyun saat inipun pasti berpikiran yang sama dengannya. Kyuhyun –pria itu terlihat kacau sekali. Persis seperti monster penyebar virus dalam serial The Walking Dead yang selalu dia tonton. Bedanya, Kyuhyun masih terlihat tampan dan menawan. Well, agak menggelikan sebenarnya dia mengakui ini karena mereka itu sesama pria, tapi toh seperti itu juga kenyataannya. Kyuhyun masih terlihat tampan.

Dia sendiri yang sejak tadi menyeleksi foto-foto yang pantas untuk dipamerkan, akhirnya menyerah juga karena melihat Kyuhyun yang seperti itu. Jujur saja, Changmin tidak bisa berkonsentrasi jika kehadiran pria itu –yang walaupun kerjaannya hanya mendesah—sangat mengganggu waktunya.

Dengan ikut menghela nafas, dia pun berkata, “Pulang sana. Istirahat. Kau mengganggu sekali.”

Kyuhyun yang mendengar kalimat tidak ada manis-manisnya dari mulut Shim Changmin, akhirnya mengangkat kepala sedikit. Mendesah lagi sebelum kemudian menjawab, “Sebentar lagi. Aku janji.”

“Ck. Aku tidak masalah kau berlama-lama disini, Cho Kyuhyun. Hanya saja—” Changmin menatap pria yang ada dihadapannya dengan mata yang memicing, lalu menarik nafas, “kau terlihat sedang tidak baik. Dan itu jelas menggangguku.”

“Benarkah?”

“Jangan bertanya padaku. Aku hanya mengatakan apa yang kulihat.”

“Kalau begitu kau benar.”

Apa?

Mendapat jawaban yang seperti itu dari sahabat yang memerangkap juga sebagai saudaranya, Changmin buru-buru menegakkan punggungnya. Alisnya terangkat tak percaya. Benarkah? Kyuhyun sedang tidak baik? Tumben sekali.

Oh, dia tahu. Memangnya siapa lagi yang bisa membuat Kyuhyun seperti ini jika bukan dia?

“Masih belum selesai juga ya.” Itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Kyuhyun paham itu. Dan Changmin, adalah salah satu orang yang memiliki kepekaan diri yang sangat tinggi terhadapnya –itu menurutnya. Jadi, dengan malas, dia juga ikut untuk menegakkan tubuh. Hanya saja matanya kini tertuju pada tumpukan foto diatas meja—yang akhirnya, kini terabaikan juga oleh Changmin.

“Kau tahu itu?” tanyanya basa-basi.

Changmin mendengus, “Tentu saja. Terlihat sekali perbedaannya kemarin. Ditambah dia yang menghilang dua minggu. Apa perlu kujabarkan lagi?”

Kyuhyun terdiam. Bibirnya terangkat sinis, bahkan Changmin saja menyadarinya. Itu sudah bisa dipastikan bahwa masalah yang menimpa wanitanya, menyangkut dirinya.

Come on, Kyuhyun. Lakukanlah sesuatu, jangan hanya meratapi diri sendiri seperti ini. Tidak ada gunanya, kau tahu? Lagipula Kyuhyun yang kukenal tidak seperti ini. Kau terlalu melankolis!”

Mendengar kalimat sarat sindiran yang diberikan oleh Changmin, Kyuhyun mendengus. Pria itu menjawab dengan nada frustasi, “Masalahnya tidak semudah itu, Changmin.”

“Apanya? Kau paham betul Sena itu sangat mudah untuk kau taklukan, apalagi yang kau ragukan sih?”

“Ck. Kau tidak mengerti!”

“Apa yang aku tidak mengerti dari hubungan kalian? Coba katakan!” Changmin ikut mendengus. Pria itu menatap Kyuhyun setengah jengkel. Lalu kembali berkata dengan sedikit memajukan tubuhnya, “Oh, ya. Aku ingat. Kalian yang sama-sama sangat egois. Itu yang tidak kumengerti,” lanjutnya dengan menekankan kalimat sangat egois.

Menghentakkan kaki, Kyuhyun bangkit dari duduknya dengan cara yang sedikit kasar. Matanya yang memerah karena kurang tidur, kini menatap nyalang kepada pria itu. Dia sedang dalam keadaan tidak baik tapi kenapa pria yang ada dihadapannya itu malah semakin membuatnya terlihat buruk.

Apa katanya tadi? Egois? Bisa tolong beritahukan, siapa yang egois diantara dirinya dan Sena? Ha-ha-ha, rasanya Kyuhyun ingin menertawakan diri sendiri jika seperti ini.

Dan Changmin, pria itu kini balas menatap Kyuhyun dengan tatapan santainya. Akhirnya, umpan terpancing juga kan? Kyuhyun itu gampang sekali disentil jika emosinya sedang tidak terkendali, dan kini, dia berhasil. Pria itu menatapnya nyalang seakan dirinya adalah seorang musuh yang harus disingkirkan.

Kyuhyun yang menyadari bahwa sudut dibibir Changmin tengah terangkat keatas, kini menggeram kesal. Sialan! Dia dijebak ternyata. Shim Changmin brengsek!

“Biar kutebak—”

“Aku mengakuinya.”

Changmin yang jelas merasa tidak terima karena kalimatnya dipotong oleh Kyuhyun, kini malah balik merasa penasaran. Mengakui? Mengakui apa?

“Aku sudah mengakuinya. Maksudku—aku sudah mengatakan bahwa aku mencintainya. Semalam.”

Seakan baru saja menyaksikan sebuah bom Molotov yang meledak didepan matanya, Changmin membelalak tidak percaya. Dan lebih ternganga lagi ketika Kyuhyun melanjutkan kalimatnya dengan suara rendah, “Tapi dia meninggalkanku.”

Merasa bahwa dia salah mendengar, Changmin mengangkat tubuhnya. “Apa?” tanyanya menyerupai sebuah bisikan.

“Kau mendengarnya dengan jelas tadi.”

“Tidak—maksudku, Kyuhyun.. aku—itu tidak benar kan? Bagaimana bisa?”

Kyuhyun tertawa getir. Ya, Kyuhyun juga berharap seperti itu. Bahwa Sena tidak pergi meninggalkannya. Bahwa wanita itu akan tetap tinggal dengannya. Bahwa wanita itu mampu bertahan dengannya. Bahwa apa yang dikatakannya semalam, mendapatkan sebuah sambutan yang dapat mendamaikan hatinya. Tapi ternyata…

Kyuhyun tidak pernah tahu bahwa ditinggalkan. Atau diabaikan. Atau ditolak, akan sesakit ini rasanya. Seumur hidupnya, dia pikir, dengan menuruti kemauan kedua orangtuanya untuk menjadi seorang pengusaha besar adalah satu-satunya kesakitan yang harus dia terima seumur hidupnya. Tapi tidak, itu salah. Karena yang paling dia takutkan saat ini adalah Sena yang pergi darinya. Karena dia sungguh tidak bisa.

Kali ini, balik Changmin yang mendengus sinis, membuat Kyuhyun mau tak mau memandangnya dengan sorot menajam. “Lalu kau akan menyerah begitu saja? Kau percaya bahwa dia bisa pergi darimu? Kau benar-benar berpikir bahwa dia memang akan meninggalkanmu? Kau percaya itu semua, Kyuhyun?”

Kyuhyun tidak mengerti dengan jalan pikirannya yang tiba-tiba berubah menjadi dramatis. Tapi kalimat bertubi-tubi yang Changmin katakan memang ada benarnya. Sena mungkin tidak akan sanggup jika kehilangan dirinya. Seperti dirinya yang kini tengah merasakan perasaan itu.

Tapi mengingat hal yang tengah mengganggu wanita itu akhir-akhir ini, jelas saja itu sudah merampas habis kepercayaannya. Apapun yang Sena lakukan hanya membuahkan kepesimisan untuk dirinya. Apapun yang menyangkut wanita itu, telah membuat Kyuhyun kehilangan kepercayaan dirinya.

“Mungin, ya, dan mungkin, tidak.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak bisa memastikannya, tapi dia—telah membuatku kehilangan sebagian rasa percaya diriku.”

“Apa? Kau tidak bisa seperti itu, Kyuhyun! Jangan termakan oleh pikiranmu. Dengar—apapun masalah yang terjadi diantara kalian, Sena tidak mungkin akan meninggalkanmu.”

“Bagaimana bisa kau seyakin itu? Sedangkan apa yang—”

“Jika bukan kau yang berjuang, maka tidak ada diantara kalian yang akan bahagia.”

Kyuhyun tertegun. Matanya memandang nanar pria yang ada dihadapannya. Benarkah? Bahkan jika wanita itu yang memilih pergi? Sena tetap tidak akan bahagia tanpanya.

.:: TBC ::.

Advertisements

153 thoughts on “(Un)Breakable – Chap. 5

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s