(Un)Breakable – Chap. 6

pic-10

Cr. ByunHyunji @PosterChannel

When the Ego and Love are Collide

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena

also

Shim Changmin – Irene Kim

⌈ AU │ Multi-Chaptered ⌋

⌈ PG – 17 ⌋

⌈ GENRE ⌋

Romance, Complicated

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

 RECCOMENDED SONG 

Jung Seung-Hwan — Wind

KRY — Let’s Not

EXO — Moonlight

 RELATED STORIES 

⌈ Unclear | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 

Queensera©2016

Nothing is worse than when someone who’s supposed to love you just leaves.

divider1

“Apa?”

Tidak. Dia salah dengar kan tadi? Perjodohan? Irene menatap panas wanita paruh baya yang sedang berdiri memunggunginya itu. Seakan tidak ada yang salah dengan ucapannya barusan, Kim Boyoung, Ibunya kembali berkonsentrasi pada grafik saham Hanhwa yang tampil pada aplikasi gadget-nya.

“Katakan bahwa ini hanya akal-akalan Mom saja,” tekan Irene ketika samasekali tidak mendapatkan perhatian.

“Kau sudah mendengar dengan jelas tadi Irene, tidak perlu menulikan telingamu jika indra itu masih berfungsi.”

Irene menarik nafas berat. Tidak bisa. Perjodohan itu tidak boleh terjadi. Dan dia pun tidak mau. Dia sudah bersama Shim Changmin, dan pria itu sudah memiliki seluruh hatinya. Jadi bagaimana bisa Ibunya mengatur semua perjodohan ini?

“Aku menolak!”

“Mom tidak meminta pendapatmu. Tapi jikapun kau berpendapat, keputusan tetap ada pada Mom.” Boyoung memutar tubuhnya hingga tatapan nanar anak gadisnya tertangkap oleh kedua lensanya. Dia melipat kedua tangannya didepan dada kemudian melanjutkan lagi, “Kau akan tetap Mom jodohkan dengan Kyuhyun. Apapun itu alasanmu.”

“Kenapa? Mom tau sendiri ak—”

“Kau mencintai Shim Changmin. Si fotografer itu. Itu yang ingin kau katakan bukan? Mom tahu.”

Irene diam tak menggubris. Ibunya tahu tentang hal itu, dan dia yakin wanita itupun tahu jika Changmin adalah anak angkat dari keluarga Cho –orangtua Kyuhyun. Bagaimana bisa dia menyetujui semua ini? Bagaimana bisa dia menghadapi dua pria bersaudara tersebut?

“Tapi Irene, dia bukanlah pria yang pandai mengelola perusahaan. Dia hanya bisa bermain dengan kamera kesayangannya itu. Dia tidak seperti Cho Kyuhyun. Sedangkan kau… Kau membutuhkan pendamping untuk bisa bersama-sama mengurus Hanhwa, Irene. Kau membutuhkan seseorang seperti Kyuhyun agar Hanhwa tetap berdiri.”

Seperti ada yang meneteskan cuka pada hatinya yang tercabik-cabik, Irene merasa sakit sekali mendengar pernyataan seperti itu keluar dari mulut Ibunya. Changmin dan Kyuhyun jelas berbeda. Kenapa harus dibanding-bandingkan?

“Tidak cukupkah denganku saja? Kenapa harus dengan perjodohan? Kenapa harus Cho Kyuhyun?! Mom selalu mengatur hidupku! Mom selalu mengambil keputusan tanpa pertimbangan! Mom selalu seperti itu!”

Irene terengah ditengah emosinya yang tidak terkendali. Dia sebenarnya benci menjadi dirinya yang berada diluar batas kodratnya sebagai seorang anak. Tapi menurutnya, Kim Boyoung sudah keterlaluan. Haruskah membawa-bawanya dengan perjodohan? Apa dengan dirinya saja yang memimpin Hanhwa itu tidak cukup? Dia bisa tanpa Kyuhyun. Dia bisa membuktikan itu.

“Mom tahu betul bagaimana aku mencintai Shim Changmin. Tapi kenapa Mom setega itu mengatur semua ini?! Jika begini, bukan aku yang membutuhkan pria seperti Kyuhyun tapi Hanhwa!”

Kim Boyoung mendengus sinis. Meremehkan pola pikir putrinya yang menurutnya begitu pendek. Tidak tahu apa-apa. “Kau wanita cerdas, Irene. Gunakan otak berhargamu untuk berpikir. Cinta—tidak akan pernah cukup.” Ucapnya dengan tegas. Wanita paruh baya itu pun berbalik meraih blazernya, dan tanpa memedulikan Irene, dia melangkah pergi menjauh.

“Mom selalu mementingkan bisnis. Mom terlalu terobsesi. Aku tidak heran kenapa Dad memutuskan untuk pergi meninggalkanmu.” tembak Irene yang serta-merta menghentikan langkah Ibunya. Kim Boyoung merasakan panas yang menyulut ulu hatinya.

“Katakan aku dan Kyuhyun memang dijodohkan, tapi apa kau—ah bukan, kalian bisa mengerti perasaan kami? Persaaanku? Kyuhyun? Changmin?”

Dengan perlahan, Boyoung kembali memutar tubuhnya lalu berkata, “Tahu apa wanita sepertimu tentang perasaan ha? Kau besar dalam keluarga yang tidak utuh. Seharusnya kau mengerti, Kim Hyerin.” lantas pergi menjauh tanpa sekalipun berbalik lagi.

Irene mengepalkan kedua tangannya. Tahu apa? Justru karena rusaknya rumah tangga kedua orangtua-nya, dia menjadi tahu. “Kumohon—untuk kali ini saja, jangan paksa aku. Batalkan rencana perjodohan itu.”

.

(Un)Breakable

.

Saat masih kecil dulu, Sena pernah berharap bahwa suatu saat Ibunya akan kembali hidup. Hidup bersamanya, bersama Ayahnya dan bersama Kakaknya. Berempat mereka menjalani hidup bersama. Menjadi sebuah keluarga yang sempurna. Seperti teman-temannya yang lain.

Kalau boleh jujur, Sena sangat mendamba sentuhan lembut seorang Ibu. Dia begitu iri mengetahui fakta bahwa teman-temannya bisa bermanja dengan Ibu mereka sedangkan dirinya tidak. Dia hanya memiliki dua pria yang sangat menyayanginya tapi jarang bahkan hampir tidak pernah memiliki waktu untuk sekadar bersamanya. Sebagian besar hidupnya, dia habiskan dengan Bibi Nam –perawat yang mengasuhnya sejak dia masih berusia dua tahun. Ya, dua tahun. Umur yang terlalu muda baginya. Sebelum kemudian Ibunya –yang sangat dia dambakan kehadirannya harus pergi setelah berjuang keras melawan kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya perlahan-lahan.

Yang bisa Sena syukuri adalah dia hanya pernah merasakan kasih sayang yang dia sendiri tidak akan pernah bisa mengingat dan merasakan kasih sayang itu seperti apa. Ibunya terlalu cepat pergi meninggalkannya.

Hingga dia dewasa saat ini, Sena masih menginginkan hak itu. Hak untuk bisa dipeluk oleh wanita telah yang telah melahirkannya. Hak untuk dihibur dengan pengertian dan perhatiannya. Hak untuk merasakan buaiannya. Dan hak untuk ditenangkan oleh suara merdunya saat dia tidak bisa tidur.

Seperti saat ini, ditengah keramaian taman rumah sakit dan dengan segenggam amplop cokelat berisi surat persetujuan yang membuat hatinya melebur, dia membutuhkan wanita itu. Wanita yang tidak pernah dia temui tapi sangat dia rindukan.

Sungguh— bisakah dia memilikinya? Hanya sebentar saja. Sena menginginkannya untuk sebentar saja.

Mengusap pipinya yang basah, Sena meremas erat tepi badan amplop cokelat tersebut, lalu berkata dengan suara bergetarnya, “Aku memang bersalah, tapi Mam, haruskah seperti ini? Haruskah aku dihukum seperti ini?” wanita itu menarik nafasnya dalam saat merasa dadanya sesak lalu melanjutkan, “Kenapa Tuhan –kenapa jahat sekali padaku?”

“Aku takut, Mam… aku takut dan tidak tahu harus bagaimana.”

Flashback On

Sena tahu ada kabar buruk yang akan disampaikan oleh dokter Kim. Tanpa perlu bertanya, Sena sudah mengerti. Dia begitu handal membaca ekspresi orang. Dan ekspresi dokter Kim saat ini, sudah menjelaskan bahwa kabar buruk pasti sedang menimpa dirinya.

Maka dari itu, bahkan sebelum dia sampai kesini, dia sudah menguatkan hatinya untuk tetap tegar. Karena sebenarnya, dia juga merasakan ada hal yang aneh yang hinggap ditubuhnya. Entah pada badian yang mana.

Terbukti dari tidak nafsunya dia saat makan, kenyang yang tiba-tiba padahal dia hanya menyuap dua sendok, mual yang sering dia rasakan dan yang terakhir adalah pendarahan yang terjadi padanya saat bercinta dengan Kyuhyun.

Sena tidak menganggap bahwa itu adalah tanda-tanda kehamilannya –kalau itu benar bahwa dia memang hamil karena faktanya, masa periodenya tetap berjalan seperti biasa walau dengan tenggang waktu yang mulai mengacak.

Dokter Kim yang sebelumnya menelepon dan memintanya untuk datang hari ini, kini tersenyum padanya. Walau dia tahu, dibalik senyum ramahnya saat ini, tersimpan beribu bahkan mungkin berjuta kabar yang mungkin saja bisa menjatuhkan mental Sena.

Tiga hari lalu dia sudah mendatangi dokter ini untuk membicarakan tentang keluhannya, dan sekarang, adalah waktunya dia mendapatkan informasi yang dia tunggu.

“Apa kabar Sena?”

Sena hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa tapi, untuk saat ini hanya itulah yang bisa dia berikan.

“Hasil CT Scan-mu sudah keluar pagi tadi—” Dokter Kim berkata pelan, sangat pelan hingga terdengar seperti orang yang sedang malas berbicara. Pria seumuran mendiang Kakeknya itu tersenyum lirih disudut bibirnya. Seperti memberitahu Sena, bahwa pria itu tidak tahu harus memulai darimana. Karena biar bagaimanapun, dokter Kim adalah dokter pribadi keluarganya yang berarti mereka juga sudah saling mengenal. Dan kabar tidak menyenangkan untuk salah satu anggota keluarga Lee harus keluar lagi dari mulutnya.

Kim Do-Joon mendesah ringan sedangkan Sena hanya bisa menunduk. Menggenggam erat sling-bag nya yang berada diatas pangkuan. Siap tidak siap dia harus mendengar penjelasan dokter paruh baya tersebut. “Aku minta maaf untuk mengatakan ini tapi— hasil CT Scan menunjukkan bahwa kau didiagnosa terkena kanker ovarium, Sena-ya..”

Bagaikan dihempas dari tepi jurang, Sena merasakan tubuhnya terbang-melayang dan lautan biru mahaluas yang berada jauh dibawahnya. Yang sedang menunggu kehadirannya untuk digulung bersama ombak-ombak nakal. Dan sekuat apapun Sena meminta hatinya untuk tetap tegar, mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh dokter Kim tetap saja membuatnya seperti kehilangan nyawa.

Kanker ovarium. Sena harap telinganya bermasalah saat ini. Dan kalimat yang baru saja diucapkan oleh dokter Kim hanya gurauan semata.

Namun, sayangnya tidak. Telinganya tetap sehat. Dan raut wajah dokter Kim tidak menunjukkan adanya kepura-puraan disana.

Yang dia tidak habis pikir, dia akan melalui tahap hidup seperti ini. Dimana dirinya telah menjadi korban dari sekian miliar wanita yang ada dibumi untuk menjadi objek penyerangan penyakit ganas tersebut.

Kanker. Demi Tuhan, mendengar namanya saja Sena sudah ketakutan setengah mati. Bagaimana nanti dia menjalaninya? Apa hidupnya akan berakhir dengan kepala yang membotak seperti yang selama ini dia ketahui? Sena pun paham betul, bahwa penyakit kanker jarang sekali memiliki obat. Ini adalah penyakit langka. Dan dokter Kim bilang tadi—kanker ovarium? Untuk pertama kalinya dari semua jenis kanker yang dia ketahui, bahwa penyakitnya lah yang paling jarang dia dengar.

Apa ini sejenis penyakit langka? Apa dia mengidap penyakit semacam itu?

Sena memejamkan matanya erat, disaksikan oleh dokter Kim yang hanya bisa menatapnya lirih. “B-bagai—bagaimana bisa?”

Menghirup nafas dalam, dokter Kim menjawab, “Umumnya peyakit ini memang diderita oleh wanita-wanita pada usia lanjut. Yang sudah mengalami masa menapouse. Hanya sedikit saja wanita usia muda dan produktif yang bisa mengalami hal seperti ini,”

Sena menggigit bibir bawahnya kencang. Kenapa juga dia harus menjadi bagian dari sedikit wanita usia produktif itu? Kenapa harus dia?

“Penyakit ini sulit untuk dideteksi pada tahap awal. Karena gejalanya, seperti yang kau keluhkan—mual, cepat kenyang, perut selalu merasa kembung atau penuh, sering buang air kecil atau tidak teraturnya menstruasi. Hal-hal yang terlihat biasa saja tapi sebenarnya tidak. Bahkan penyakit ini bisa menimbulkan rasa sakit saat berhubungan seks atau pendarahan yang tiba-tiba.”

Jadi, ini alasan kenapa dia selalu merasa tidak nafsu makan? Ini alasan kenapa dia mengalami pendarahan saat bercinta dengan Kyuhyun saat itu? Ini alasan kenapa dia merasa aneh dengan tubuhnya sendiri?

Ya Tuhan. Bisakah Kau hilangkan saja penyakit ini?

“Jika kau bertanya bagaimana bisa—besar kemungkinan ini karena Ibumu,” Sena mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Dia menatap dokter Kim dengan pandangan bertanya. Ibu? Ibunya? Dokter Kim mengangguk lirih lalu berkata, “Apa kau tahu karena apa Ibumu meninggal?” berganti Sena yang mengangguk kali ini, “Kanker payudara—benar. Ini faktor genetik, Sena. Risiko untuk terkena kanker ovarium akan meningkat jika ada anggota keluarga kandung yang mengidap penyakit kanker payudara, rahim bahkan ovarium sendiri. Dan Ibumu, menurunkan gen itu padamu. Ditambah pula… kau memakai alat kontrasepsi IUD.

“Untuk apa kau memakai alat itu Sena? Kau tid—” dokter Kim menghentikan kalimatnya tiba-tiba. Dia merasa ada yang janggal. Tunggu—pria usia lanjut itu seketika terperangah ketika menyadari sesuatu. Membelalakan matanya tak percaya kemudian mendesah, dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Gadis kecilnya dulu sudah menjadi wanita dewasa saat ini, itu yang dia lupakan. Hanya saja dia tidak tahu—bahwa Sena akan berani mengambil keputusan seperti ini. Siapa pria itu? Siapa pria yang membuat gadis kecilnya yang dulu manis menjadi seperti ini?

Sena sendiri hanya bisa menghembuskan nafas tak percaya. Jujur saja, dia memang melakukan kontrasepsi itu untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu dia dan Kyuhyun tidak terkendali dan Kyuhyun melupakan batasannya lalu mereka kecolongan lagi, seperti waktu itu. Tapi ternyata beginilah risikonya.

Dan sekarang, pikirannya macet. Dia tidak bisa menemukan jalan keluar selain pertanyaan ‘bagaimana bisa?’ secara terus-menerus. Seakan pertanyaan itu menuntutnya untuk dimintai klarifikasi sedangkan pada keadaan lain dia sangat takut. Takut jika dia menanyakan beberapa hal yang ingin dia tahu lagi tapi dokter Kim membalasnya dengan jawaban yang mungkin akan lebih menyeramkan daripada ini.

Dan fakta bahwa Sena ternyata belum siap menghadapi itu semua akan membuatnya semakin hancur.

“Ada dua hal buruk lagi yang harus kau dengar Sena—” mendengar suara rendah sekaligus menekan yang dokter Kim keluarkan, rasanya Sena seperti akan diberikan vonis yang mematikan saja. Ah tidak, dia memang sudah divonis kan? Dan itu juga bisa menjadi mematikan. Jadi, bertambah sedikit lagi beban itu, Sena rasa tak apa. “Yang pertama, sel kanker yang kau derita saat ini menyerang pada bagdian sel-sel penghasil telur. Tumor germinal. Itulah alasan kenapa wanita muda sepertimu bisa mengidapnya karena memang tumor inilah yang paling sering menyerang ovarium wanita muda dan produktif.”

Sena menelan ludahnya berat, kemudian berkata, “Dengan kata lain, kanker ovarium terbagi dari beberapa jenis maksudmu? Dan aku mendapatkan tumor germinal. Begitu?”

Dokter Kim mengangguk.

“A-apa.. apa bisa d-disembuhkan?” Sena tidak tahu bagian mana dari dirinya yang berkhianat. Dia memang ingin menanyakan hal ini walau kecil kemungkinannya mendapatkan jawaban terbaik. Tapi dia tidak pernah merencanakan kalimat itu akan terucap langsung dari mulutnya. Dan dengan tidak tahu dirinya, bibir itu malah mengeluarkan kalimat keramat yang sudah berhasil dia simpan beberapa saat lalu.

Sena tahu itu tidak akan mudah. Benar. Karena tatapan dokter Kim, telah mematahkan harapannya. Sena yakin betul bahwa inilah berita buruk kedua yang akan dokter Kim ungkapkan padanya.

Merasa sesak, Sena meremas blus biru tuanya didepan dada. Menatap kosong pandangan yang ada dihadapannya.

“T-tidak bisa?” ucapnya sekali lagi. Mencoba meyakinkan diri bahwa dirinya memang tidak memiliki harapan itu.

“Mungkin.” jawab dokter Kim agak ragu. Mendengar pernyataan itu, Sena kembali memfokuskan tatapannya lagi pada sang dokter. “Dengan kecil kemungkinan—” dokter Kim menghela nafas sebentar untuk kemudian melanjutkan, “Entahlah Sena—aku hanya seorang dokter. Aku hanya bisa memprediksi. Kau mungkin bisa disembuhkan tapi aku tidak yakin kau bisa menerima ini semua dengan baik.”

“Maksudmu?”

“Jika tidak segera ditindak-lanjuti, kau akan mengalami pembengkakan pada bagian bawah perut dan sel-sel kanker akan menyebar, bukan hanya pada sel telurmu.” Menghentikan kalimatnya sebentar, dokter Kim melanjutkan, “Karena kau masih berada pada tahap stadium 1C, kau tidak perlu melakukan kemoterapi diawal. Masalahnya adalah—yang menyerang kau itu tumor germinal, Sena. Satu-satunya cara agar sel kanker itu tidak berkembang dengan cepat, kau harus melalui proses sterilisasi terlebih dahulu. Operasi pengangkatan sel telur dan kemungkinan juga dengan tuba fallopinya.”

“Pengangkatan?” tanya Sena lirih. Tidak lupa dengan kedua bola matanya yang membelalak tak percaya. Bagi Sena, tidak perlu menjadi bodoh untuk dapat merangkai kabar buruk itu. Walau dokter Kim belum menuntaskan kalimatnya, Sena bisa memahami alur yang akan diungkapkan dokter Kim.

Sterilisasi. Pengangkatan sel telur. Artinya dia—

“Ya. Kecil kemungkinan yang aku maksud adalah kau akan sulit untuk mengandung karena sel telur yang telah diangkat. Jika kau cepat mengambil tindakan, mungkin kau memiliki harapan yang lebih besar daripada ini.”

Sena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya seperti terkunci oleh sebuah gembok besar hingga rasanya berat sekali untuk sekadar membuka saja. Setelah mendapat vonis yang begitu buruk, haruskah dia mengobatinya dengan mengambil risiko yang buruk pula?

Jika itu memang adalah satu-satunya cara maka Sena akan menjadi seorang wanita yang impotent. Itu terburuknya. Dia akan menjadi wanita yang cacat secara harfiah.

Dan seperti ada yang mengikat lehernya, Sena merasakan sesak itu lagi. Dia kembali mengingat akan kejadian enam bulan lalu ketika dirinya mengalami keguguran. Jika dikaitkan dengan keadaan yang menimpanya saat ini, berarti janinnya yang luruh saat itu adalah harapan terakhirnya?

Demi Tuhan, tenggorokan Sena rasanya sakit sekali. Dia tercekat. Seandainya saat itu dia menyadari keberadaannya pasti saat ini dia telah memiliki seorang bayi. Setidaknya dia pernah memiliki kesempatan untuk mengandung buah cintanya bersama Kyuhyun sampai dia lahir. Meskipun dia tahu, Kyuhyun mungkin tidak akan senang mendengar kabar bahwa pria itu telah memiliki seorang anak darinya.

Dan sekarang—kesempatan itu seperti hal yang fana untuknya.

Dia benar-benar memiliki kesempatan yang begitu kecil untuk mengandung lagi. Dia nyaris bahkan mungkin tidak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk mengandung, melahirkan dan menjadi seorang Ibu.

Seandainya saja dia bisa lebih berhati-hati.

Seandainya saja dia menyadari kehadirannya.

Seandainya saja Ibunya tidak memiliki riwayat penyakit yang mematikan dan menurunkannya padanya.

Seandainya saja dia tidak mengalami hal seperti ini.

Seandainya.

Jika ‘bagaimana bisa?’ adalah hal yang membuatnya ketakutan setengah mati maka ‘seandainya’ adalah kalimat yang membuatnya harus menyesal seumur hidup. Dan saat sudah begini, tidak ada hal yang bisa dia perjuangkan lagi.

Mimpi, harapan, penantian bahkan cita-citanya untuk bisa membangun sebuah ikatan dengan Kyuhyun suatu saat nanti—musnah sudah. Dia cacat, tidak mungkin dia mengharapkan Kyuhyun untuk tetap berada disisinya jika seperti ini

“Aku tahu ini sangat sulit bagimu, tapi begitulah adanya.” Sena tertarik kembali pada dunia nyatanya ketika mendengar suara dokter Kim. Pria paruh baya itu tersenyum tipis kepadanya lalu memberikan hasil CT-Scan yang beberapa hari lalu dia jalani. “Temui aku seminggu lagi, kita akan melakukan tes darah untuk mengetahui seberapa jauh sel kanker itu menyebar.”

Flashback Off

Sena kembali memandang amplop yang berada ditangannya tersebut. Tiga puluh menit lalu, dia baru saja menemui dokter Kim untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dan tes darah yang dia lakukan menunjukkan bahwa sel kanker mulai bermanuver dengan cepat.

Tidak ada yang bisa dia lakukan jika ingin selamat kecuali mengikuti saran dokter Kim untuk segera menjalani operasi pengangkatan sel telur. Dan Sena—tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Dia takut dan bingung, tentu saja.

Dia bahkan belum mengatakan apapun pada Kakaknya perihal ini. Dia belum bisa mengungkapkan semuanya. Dia belum bisa menerima keadaannya yang— yang dia sendiri tidak tahu akan seperti apa akhirnya.

“Aku harus a-apa, Mam? Ak-kuh h-harus bagaimana?” terisak, Sena merasakan dadanya bergemuruh hebat. Untuk pertama kalinya dia harus bertarung melawan semua ketakutan dan penyakitnya –seorang diri.

Hal yang paling menyakitkan dalam hidup adalah ketika kau merasa sendiri. Dan Sena mengalami tahap itu. Dia memang masih memiliki sahabat dan keluarga tapi, kondisinya yang seperti ini membuatnya selalu merasa ingin sendiri walau dilain hal dia juga tidak menyukai kesendiriannya itu. Sena hanya tidak tahu harus menceritakan kabar buruk itu bagaimana dan seperti apa.

“Oppa belum kuberitahu. Pap juga. Aku tidak tahu bagaimana caranya, Mam…” Sena mengusap air mata yang mengalir jatuh diatas pipinya. Wanita itu menghirup nafas dalam lantas memandang taman rumah sakit itu.

Saat ini suasana tidak terlalu ramai tapi Sena bisa melihat segelintir pasien-pasien yang menghabiskan waktunya disini ditemani oleh seorang suster atau keluarganya. Padahal cuaca sedikit mendung dan berangin. Hingga kemudian matanya menangkap seorang gadis cilik yang duduk diatas kursi roda dengan kepalanya yang membotak dan punggung tangannya yang diberi selang infus.

Apa hidupnya juga akan seperti itu nanti?

Dokter Kim memang pernah mengatakan bahwa dia tidak perlu menjalani pengobatan kemoterapi diawal tapi pria baya itu juga mengatakan jika operasi pengangkatan tidak bersih dia harus menjalani proses kemoterapi setelahnya agar dapat mencegah kambuh yang mungkin saja bisa hadir sewaktu-waktu.

Dia akan terlihat seperti gadis cilik itu mungkin. Walau dia tidak tahu seberapa parah risikonya nanti. Tapi setidaknya, mahkota cokelatnya ini perlahan-lahan akan berguguran jika dia menjalani kemoterapi itu.

Sena tersenyum getir. Akan seperti apa penampilannya nanti tanpa rambut? Apa Kyuhyun akan tetap mencintainya?

Kyuhyun. Menyebut nama itu membuatnya seketika merasa sesak. Tidak. Jangan membuatnya sakit lagi Sena. Kau yang memintanya pergi maka jangan mengharapkannya kembali. Sudah cukup luka yang kau torehkan padanya malam itu, jangan biarkan dia merangsek masuk kedalam hidupmu yang cacat ini. Itu tidak akan membuatnya bahagia.

Sena memukul-mukul dadanya pelan. “Maaf.. maafkan aku, Kyuhyun-ah.” Katanya lirih dengan mata yang memejam erat.

Setelah puas meratapi dirinya sendiri, wanita itu bangkit berdiri kemudian. Hendak meninggalkan taman rumah sakit tersebut tatkala kepalanya yang menunduk mendapati sepasang heels yang menyapa indra penglihatannya. Dengan perlahan, Sena mengangkat kepalanya sedikit. Dan bola matanya yang masih mmerah akibat menangis beberapa saat lalu melebar seketika. Jika saja Sena tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik, mungkin dia sudah terjengkang kebelakang karena begitu terkejut melihat wanita yang dia ketahui menjadi Ibu dari pria yang dicintainya, kini sedang berdiri dihadapannya.

Kim Hana.

Entah apa yang membuat wanita itu berada ditempat yang sama dengannya hingga mereka harus bertemu seperti ini. Tapi yang saat ini Sena harap, wanita itu tidak tahu dengan keadaannya sekarang. Dia berdoa, semoga Kim Hana tidak melihatnya menangis. Karena dia tidak bisa memberikan alasan yang konkret jika wanita itu bertanya mengenai dirinya yang seperti tadi.

Sedangkan wanita baya itu, setelah tadi dia selesai melakukan check-up rutinnya karena menderita hipertensi, dia menemukan Sena sedang duduk sendiri ditaman rumah sakit—yang memang letaknya pula ada didekat pintu masuk-keluar. Dan seperti mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan apa yang perlu dia sampaikan, Kim Hana akhirnya memutuskan untuk menemui wanita yang selama ini dia ketahui selalu menjadi bayang-bayang bagi putranya itu untuk bicara empat mata.

“Lee Sena.” Ungkap Hana dengan raut ketegasan yang nyata. Sena baru sadar, tatapan Kyuhyun yang tajam dan sikap dominan yang dimiliki pria itu, mungkin hasil gen yang Kim Hana turunkan padanya. Ya benar, siapa lagi memang? Dia pernah bertemu dengan Cho Yeunghwan tapi pria itu terlihat ramah-ramah saja padanya tidak seperti wanita yang ada dihadapannya saat ini.

“Y-ye?” jawab Sena gugup.

“Aku perlu bicara denganmu. Ikut aku sebentar,” katanya dengan nada yang menurut Sena samasekali tidak ada ramah-ramahnya. Bahkan Kim Hana langsung memutar tubuhnya untuk beranjak pergi darisana.

Rasanya sangat tidak asing ketika telinganya mendengar kalimat perintah seperti itu. Rasanya, ini seperti Cho Kyuhyun sekali.

Sena menepuk pelipisnya pelan lalu menggeleng, “Hah.. apa yang kau pikirkan!” gumamnya begitu nama Cho Kyuhyun kembali masuk kedalam benaknya. Dia pun kemudian merajut langkahnya mengikuti kemana Kim Hana dan seorang pria yang—entah siapa, mungkin tangan kanannya atau apalah—melangkah. Wanita itu kembali tersenyum getir, Kim Hana benar-benar dominan. Tapi kenapa juga dia mau mengikuti perintah wanita tua itu?

.

(Un)Breakable

.

Perlu diketahui, bahwa dirinya bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang lain. Sena cenderung menjadi pendiam ketika dirinya dihadapkan pada situasi dimana dia harus seperti ini. Duduk berdua dengan orang asing. Ya, baginya Kim Hana adalah orang asing. Jadi, bisa bayangkan bagaimana gugupnya dia saat ini? Bersama dengan orang yang jelas-jelas bisa menerimanya saja terkadang dia canggung apalagi bersama dengan orang yang terlihat seperti tidak menginginkannya?

Setelah pelayan café—yang terletak disamping gedung Seoul Hospital—mengantarkan pesanan mereka, Kim Hana memulai pembicaraannya. Sena tidak yakin ini akan berjalan dengan baik walau ini adalah pertama kalinya bagi mereka untuk bertemu. Hanya saja, firasat tentang ketidaksukaan wanita paruh baya itu terhadapnya bisa dia rasakan.

“Kau sakit?” tanyanya. Sena yang jelas sejak tadi hanya menundukkan kepalanya, kini mendongak. Tanpa perlu berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing, Kim Hana langsung menembaknya dengan pertanyaan singkat namun berpengaruh untuknya itu.

Ya, untuk apa manusia berada dirumah sakit jika dia tidak sakit? Ah.. menjenguk. Alasan itu memanglah yang paling masuk-akal selain alasan dia sakit. Tapi, Kim Hana sepertinya tidak mau repot-repot menanyakan hal tersebut jika memang benar dirinya berada disana untuk menjenguk seseorang. Atau mungkin saat ini wajahnya terlihat pucat hingga wanita itu bisa menyimpulkan bahwa dia sakit? Entahlah.

“Sedikit,” jawabnya lirih. Sena tidak tahu harus membalas seperti apa, tapi memberikan alasan kedua untuk menjawab pertanyaan Kim Hana tadi juga bukan ide yang baik—menurutnya. “Kenapa B-bibi ingin bertemu denganku? Apa ada yang ingin Bibi sampaikan?”

Sena bisa mendengar kekehan sinis seorang Kim Hana. Mungkin menertawakan dirinya yang memanggil beliau dengan sebutan Bibi. Entah apa yang salah dengan ucapan itu tapi sungguh, Sena merasa diremehkan.

Wanita paruh baya itu meletakkan cangkir yang berisi teh hijaunya diatas meja setelah beberapa saat lalu disesap. Kemudian berkata, “Ini pertama kalinya kita bertemu seperti ini kan?” Sena mengangguk kikuk atas pertanyaan itu. Ya, memang benar.

Mendesah ringan, Hana kembali melanjutkan ucapannya, “Aku tidak tahu kalimat baik, sopan atau halus seperti apa yang bisa aku sampaikan padamu. Hanya saja—untuk pertama dan terakhir kalinya kita berada disituasi seperti ini, ada yang ingin kubicarakan padamu,” Kim Hana mengunci kedua lensa Sena lekat dengan tatapan tegasnya, “Sena, aku ingin kau pergi dari kehidupan putraku.”

Sena tertegun. Tatapannya yang terfokus pada meja dihadapannya kini mulai menanar. Ada sejumput kristal disana.

Selapang apapun hati belajar untuk menerima tapi saat kalimat yng tidak pernah diingkan terungkap juga, rasanya akan tetap terasa sesak. Dan Sena masuk kedalam jerat itu. Harus berapa banyak lagi telinganya menerima kalimat-kalimat yang tidak ingin didengarnya? Harus berapa kali dia mencoba melapangkan dada dan menguatkan hatinya? Harus berapa kali dia merasakan sesak yang seperti ini?

Sena memang sudah menolak Kyuhyun. Dia sudah meninggalkan pria itu –secara fisik. Tapi hatinya? Didalam hatinya yang terdalam, dia masih amat sangat mencintai pria tersebut. Dia masih ingin memiliki Kyuhyun. Dia masih mengharapkannya saat dia tahu, seharusnya itu tidak boleh terjadi.

Dan sekarang—Kim Hana seolah mempertegas keadaannya bahwa dia memang tidak diperbolehkan untuk bersama dengan pria itu. Kim Hana menolaknya. Sama seperti dia yang menolak putranya. Bedanya, dia masih memiliki perasaan pada Kyuhyun, sedangkan Kim Hana terhadapnya—entahlah. Sena tidak bisa merasakan perasaan seseorang.

“Aku tahu ini keterlaluan. Tapi Sena—Kyuhyun bukan kapasitasmu. Aku tidak mungkin menyerahkan Kyuhyun pada wanita sepertimu.” lanjut Hana tanpa mengurangi intonasi ketegasannya.

Sepertimu. Memang, seperti apa dirinya itu? Apa begitu buruk hingga dia harus pergi dari Kyuhyun? Ck, Lee Sena ayolah… kau sendiri paham kalau kau memang buruk. Kau cacat. Perlukah diumumkan secara lantang?

“Aku tidak menyukaimu, itu yang perlu kau tahu. Kasar memang, tapi aku bicara jujur. Aku sungguh sangat tidak menyukaimu. Aku tidak bisa menyukai wanita yang bisa dengan mudahnya menyerahkan seluruh hartanya pada seorang pria begitu saja. Meskipun pria itu adalah anakku sendiri. Aku tidak bisa menyukai wanita yang miskin akan kehormatan.” Sena bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan karena senang. Tapi karena sedih. Sedih saat tahu ada seseorang yang bisa secara terang-terangan mengatakan bahwa mereka tidak menyukai dirinya.

“Terlebih, Kyuhyun juga tidak membutuhkan seorang wanita seperti dirimu. Kau harus tahu, hidupnya dalam dunia bisnis sudah cukup mengkhawatirkan karena akan ada banyak manusia-manusdia serakah yang bisa saja menjatuhkannya suatu saat nanti. Entah kapan. Jadi—tidak perlu ditambah dengan dirimu yang memiliki karir sebagai seorang model—yang selalu berhadapan dengan kamera ataupun media untuk lebih memberatkannya lagi. Aku tidak bisa menyaksikan putraku menghadapi itu semua jika bersama denganmu, Sena.”

Sena hanya bisa terdiam ditempat. Kata-kata Kim Hana begitu menusuknya. Tubuhnya seperti disetrum listrik dengan tegangan ribuan volt hingga dia tidak bisa apa-apa. Kalimat tadi menyatakan bahwa dia bukan hanya sekadar buruk tapi menjijikan bahkan mungkin tidak pantas untuk Kyuhyun. Samasekali.

Selama ini dia memang selalu menikmati kebersamaannya dengan Kyuhyun. Dia selalu terbuai dengan kehadiran pria itu tanpa pernah memikirkan risiko apa yang akan diterima pria itu jika mereka tetap bersama. Dan setelah Kim Hana mengungkapkan semuanya, dia paham. Akan semakin buruk jika mereka tetap bersama. Setidaknya, jika dengan orang lain, Kyuhyun tidak akan seburuk dengannya.

Tapi, apa dia sanggup?

“Aku juga tidak mau dia kau sakiti. Aku tahu betul bagaimana hubunganmu dengan Changmin. Putraku yang pergi karena kau mematahkan hatinya. Jika dulu saja kau bisa menyakiti Changmin, tidak menutup kemungkinan bahwa kau juga bisa menyakiti Kyuhyun. Dan aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Kyuhyun terlalu berharga untukku. Maka, sebelum perasaannya mulai membesar dan mengembang kepadamu, aku minta—pergilah darinya. Jauhi dia.”

Aku bahkan sudah menyakitinya. Aku sudah mengabaikannya. Dan aku sudah melukai putramu. Batin Sena.

Hana menyesap kembali teh-nya perlahan. Wanita itu menarik kembali nafas dalam kemudian berdiri duduknya. “Kuharap kau mengerti dengan apa yang telah aku sampaikan. Jika kau mencintainya maka tinggalkan dia.” Ucapnya kemudian berbalik pergi. Namun baru dua langkah dia ambil, dia memutar tubuhnya pada Sena lagi. “Ah… Ada satu hal lagi yang perlu kau tahu—”

Sena memandang Kim Hana dengan tatapan menanti. Penasaran, berita buruk apalagi yang akan disampaikan wanita baya itu kepadanya.

“Kyuhyun akan kujodohkan dengan wanita yang kupilih. Wanita yang mampu menjaganya dan bisa dia andalkan.” nafas Sena tercekat tatkala mendengar pernyataan itu. Dari semua kabar buruk yang dia terima hari ini, hal inilah yang menurutnya amat terburuk.

Dengan segera Sena ikut bangkit dari posisi duduknya. Matanya menatap nanar Kim Hana, berharap bahwa dia salah mendengar tadi.

Kyuhyun—dijodohkan? Apa itu berarti bahwa dia memang tidak akan pernah memiliki kesempatan bersama pria itu? Apa Kyuhyun akan benar-benar meninggalkannya? Apa dia akan benar-benar sendiri?

“Pergilah secepat mungkin sebelum kau semakin merasakan sakitnya, Sena. Aku minta maaf telah berkata seperti ini, tapi kupikir kau memang perlu tahu. Agar kau sadar dimana tempatmu.”

Habis sudah semuanya. Tidak ada yang tertinggal kecuali cinta itu yang masih bertahan.

.

(Un)Breakable

.

Dua hari telah berlalu sejak kejadian dimana dia bertemu dengan dokter Kim dan Kim Hana. Namun sampai saat ini, dia belum juga mengabarkan perihal keadaannya pada Hyukjae ataupun Ayahnya. Padahal dokter Kim meminta persetujuan wali dari surat pengajuan operasi yang akan dijalaninya itu secepatnya.

Sena masih bimbang. Pikirannya masih bercabang. Penyakitnya. Kyuhyun. Perjodohan. Operasi. Semuanya melebur menjadi satu. Dan tidak ada satu hal pun dari semua pikiran itu yang berujung pada kebaikan. Semuanya terasa buruk dan sulit untuk diputuskan.

Terlebih tentang Kyuhyun. Dia memang meninggalkan pria itu tapi dia tidak pernah benar-benar meninggalkannya.

Lama dia terpaku pada pikirannya sendiri, Sena pun akhirnya mengerjap begitu merasakan benda dingin menempel pada pipinya. Dia menoleh, lalu mendapati Changmin yang duduk disamping dengan senyum bocah yang pria itu miliki.

Apa Changmin tahu tentang perjodohan itu? Tapi jika Sena teliti dari tingkahnya, pria itu seperti tidak tahu apa-apa. Apa Kim Hana sengaja menyembunyikan hal itu dari putra-putranya? Apa Kyuhyun juga tidak mengetahuinya?

“Melamun lagi.” Ucap Changmin begitu Sena tidak bereaksi atas perbuatannya. Biasanya, Sena akan membalasnya dengan cubitan atau memukulinya jika dia melakukan hal yang tidak disukai oleh wanita itu. Seperti tadi.

Sena menampilkan senyum manisnya, walau tidak sampai mata. Dia melirik kaleng cola yang berada ditangan Changmin, meraihnya lalu meneguknya beberapa kali demi menghindari tatapan curiga pria itu. Changmin adalah orang yang peka dan saat ini, dia sedang tidak ingin membahas yang mungkin saja nantinya akan Changmin tanyakan. Otaknya terlalu beku untuk diajak berpikir.

“Kenapa?” tanya Changmin tiba-tiba. Membuat Sena mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Kenapa meninggalkannya padahal kau sendiri tidak bisa pergi?” lanjut pria itu, kali ini dengan tatapan yang begitu dalam. Seakan meminta Sena agar bisa memberikan alasan logis kenapa wanita itu harus bertindak sejauh itu.

Sena membalas tatapan Changmin selama sepersekian detik lalu setelahnya dia mendesah kasar, mengalihkan pandangannya pada kru-kru yang sedang merapikan peralatan habis pakai tadi, “Aku tidak ingin membahas itu.” jawabnya ketus.

Changmin tersenyum sinis, “Kenapa? Takut jika apa yang aku katakan adalah benar? Bahwa kau tidak bisa pergi darinya. Tidak akan pernah bisa?”

Sena bergegas berdiri dari dudukya lalu dengan tatapan memicing dia berkata, “Berhenti mencampuri urusanku, Shim Changmin! Berhenti menjadi sok tahu! Kau tidak mengerti apa-apa!” lantas setelah mengatakan itu, Sena pergi menjauhi mantan kekasihnya tersebut.

Namun pada langkah kelimanya, dia mendengar sesuatu yang dia tidak sangka akan keluar dari mulut pria itu. “Kau pernah meninggalkanku. Apa kau juga akan meninggalkannya seperti kau melakukannya padaku saat itu? Begitu?”

Kedua tangan Sena mengepal dimasing-masing tubunya. Kalimat itu, mengantarkannya pada sebuah luka lama. “Tahu apa kau tentang aku?” tantang Sena dengan tubuh yang kini menghadap Changmin.

“Aku tahu benar seperti apa kau, Sena.”

“Kubilang berhenti menjadi sok tahu! Ini urusanku dengan Kyuhyun, kau tidak berhak ikut campur.”

“Kenapa tidak? Kyuhyun menjadi begitu gila karenamu. Dan kau seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlanjut. Aku peduli pada kalian. Aku menyayangimu. Ak—”

“Jika kau menyayangiku. Jika benar kau memang menyayangiku, kau tidak akan pernah memutuskan untuk pergi saat itu Changmin.” Lalu membiarkan aku semakin jatuh pada Kyuhyun dan kami harus berakhir seperti ini, tambahnya dalam hati.

Kedua bola mata Changmin melebar. Menatap Sena dengan tertegun sekaligus tidak percaya. Bukan itu maksudnya. Dia hanya—

“Nyatanya kau pergi kan? Seharusnya kau bertahan disisiku bukan pergi dan menghilang selama bertahun-tahun. Kau yang meninggalkanku bukan aku yang meninggalkanmu!”

“Sena—” Changmin hendak melangkah demi mendekati wanita itu namun tertahan saat Sena kembali melanjutkan kalimatnya, “Satu yang perlu kau tahu. Aku tidak pergi. Aku tidak meninggalkannya. Kalaupun iya, aku tidak akan meninggalkannya dengan cara yang sama seperti yang aku lakukan padamu.”

.

(Un)Breakable

.

“Bukan ini yang kumaksud, Yura! Tapi rekap hasil rapat CA (read; Codeshare Agreements) dengan Garuda Indonesia. Kau ini paham atau bodoh sih? Sudah berapa lama kau bekerja denganku hah?! Kertas ini—tidak ada hubungannya sama sekali. Cepat carikan lagi!”

Mendengar omelan beruntun dari Bos-nya yang jarang sekali terjadi, seketika itu juga membuat Yura bergidik ngeri. Wanita itu sudah berwajah pias saat ini. Dan Kyuhyun samasekali tidak mengindahkannya.

Ini sudah hari keempat Kyuhyun terlihat berbeda. Pria itu selalu marah-marah tidak jelas, Tidak tersentuh samasekali. Dan biasanya, yang membuat Bos-nya uring-uringan seperti ini adalah Sena. Tapi biasanya juga, tidak akan selama ini. Bayangkan saja, ini sudah empat hari. Dan Yura rasanya ingin mengajukan surat pengunduran diri saja jika Kyuhyun terus-terusan begini.

Sedangkan Minho, pria itu juga sama seperti dirinya. Tidak berani melawan Kyuhyun.

“B-baiklah.. akan saya carikan lagi.”

“Kalau begitu cepat keluar.”

“Y-ye..”

Yura menghembuskan nafasnya lelah setelah menutup pintu berpelitur ruangan Bos-nya. Raut wajahnya menggambarkan kefrustasian dan Minho yang sejak tadi menunggunya diluar menatap cemas. Biar bagaimanapun, dia adalah teman seperjuangan Yura. Dia sendiri sudah terkena semprot oleh Kyuhyun tadi pagi dan sekarang giliran Yura.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya hati-hati.

“Tck. Tidak apa-apa bagaimana?! Aku sudah bolak-balik tiga kali tapi Bos tetap saja begitu. Astaga Minho-ya aku tidak mengerti rekap rapat seperti apa yang Bos minta. Telingaku sudah sakit sekali mendengar omelannya sejak tadi. Huwaaah…”

Minho menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Dia pun sama, tidak mengerti. Terlebih pada rapat saat itu, dia memang tidak hadir. Jadi harus bagaimana? Bos-nya itu kalau sudah marah akan menjadi sangat merepotkan.

“Oii..”

Minho dan Yura menoleh serentak pada suara yang menyapa mereka. Keduanya seketika langsung membungkukan badan begitu mengetahui bahwa suara tadi adalah milik Shim Changmin. Yang mereka ketahui juga sebagai putra dari keluarga Cho.

“Sedang apa kalian disini?” tanya Changmin bodoh. Pasalnya, ini akhir pekan—hari sabtu—apa Kyuhyun menyuruh mereka untuk datang juga hari ini? Wah.. Changmin pikir Kyuhyun memang sudah gila. Bahkan akhir pekan yang harusnya menjadi hari istirahat bagi karyawannya, pria itu eksploitasi.

“Apa kabar Hyung? Kau ingin bertemu dengan Bos?” tanya Minho mengalihkan pembicaraan.

Changmin menoleh kemudian mengangguk, “Baik. Aku baik-baik saja.” Jawabnya sambil menunjukkan senyum terbaiknya.

“Kalian—dipekerjakan juga oleh Kyuhyun?” tanyanya ambigu yang membuat kedua pemuda dihadapannya seketika itu juga langsung mengerutkan kening. “A-ah maksudku, ini akhir pekan. Apa kalian harus masuk juga? Atau memang peraturan perusahaan sudah berganti?”

Minho dan Yura sama-sama melemaskan kedua bahunya. Mereka mendesah secara bersamaan. Changmin tidak tahu saja, Bos mereka sedang sangat menyebalkan akhir-akhir ini.

Yeah.. Bos meminta kami masuk hari ini, Oppa.” Jawab Yura tak bersemangat. Namun sedetik kemudian, wanita itu memekik seraya menepuk dahinya berulang kali. “Ah! Shit.. eum— aku pergi dulu! Ada hal yang harus kuselesaikan. Annyeong Oppa!” lanjutnya lagi lantas pergi keruangannya dengan nada yang terburu-buru.

“Dia—kenapa?”

Mendengar pertanyaan itu, Minho mengedikkan bahu. “Kau tanyakan sendiri saja pada saudaramu itu, Hyung. Akhir-akhir ini Bos menyebalkan sekali. Aku yakin ini pasti karena Sena Noona,” Wajah Minho memberengut masam. Membayangkan penjajahan apalagi yang akan Kyuhyun lakukan padanya dan Yura. “Iya kan? Benar kan? Karena memang hanya wanita itu yang bisa membuat Bos uring-uringan tidak jelas. Kau tahu, dia gampang sekali meledak. Tidak tersentuh. Seperti Hulk. Menyeramkan,” jawab Minho dengan bibir yang mengerucut sebal.

Changmin yang paham akan situasi hanya mengangguk-anggukan kepala. Pria itu menyimpan tawanya agar Minho tidak tersinggung. Well, siapa yang tidak bisa mengenal bagaimana Kyuhyun tanpa wanita itu. Atau bagaimana tingkah Kyuhyun ketika sedang bermasalah dengan wanita itu? Semuanya pasti akan terasa menyeramkan bagi orang-orang yang berada disekitarnya. Seperti hari ini, dia mendapati Minho dan Yura yang keki dengan tingkah saudaranya.

“Kau tahu dimana dia?”

“Huh?”

“Sena Noona. Kau tahu? Hah.. rasanya aku ingin sekali menyeret wanita itu kehadapan Bos. Jadi aku dan Yura tidak akan menjadi korban lagi disini.”

Tawa Changmin seketika meledak. Astaga.. apa mereka berdua sefrustasi itu menghadapi Kyuhyun? Changmin tidak percaya. Dia menepuk bahu Minho sekali dengan sisa tawanya, kemudian menjawab, “Kau jangan sok tahu. Siapa tahu memang bukan Sena yang membuat Bos kalian seperti itu. Sudah, bantu Yura sana! Kasihan sekali sahabatmu itu jika harus berhadapan dengan KyuHulk lagi. Kau juga tidak mau kan menghadapi kegilaan Bos-mu itu lagi hari ini? Pergilah, bantu dia!”

“KyuHulk?” Minho mengulangi. Sedangkan Changmin hanya balas mengangguk. “Joha! Kau benar sekali! Dia memang pantas diberi label seperti itu. Baiklah, aku akan membantu Yura. Eh—eum.. tapi bagaimana kau tahu Yura sedang kesusahan karenanya?”

“Sshh.. Kau banyak sekali bertanya. Aku ini memiliki indra keenam makanya aku tahu.”

“Benarkah? Wah.. kau keren sekali!”

Alis Changmin berjengit. Ah.. Minho ini polos atau bodoh? Sudah jelas pria itu sendiri yang menyuruhnya bertanya pada Kyuhyun jadi otomatis, Yura kesusahan karena saudaranya itu. Lagipula mana mungkin dia memiliki indra keenam. Cih, memangnya dia apa?

“Ya. Aku tahu, aku keren. Jadi, sudah sana pergi.”

Setelah akhirnya Minho mengikuti ucapannya, Changmin berbalik menatap pintu ganda berpelitur ruangan Kyuhyun. Senyum yang tadi dia tunjukkan pada Minho seketika itu juga menguap. Hilang entah kemana.

Baiklah.. sekarang waktunya dia menghadapi Hulk. Changmin menghela nafas panjang sebelum kemudian melangkah dan memutar kenop pintu itu.

“Kenapa lama sekali?! Kau benar-benar seperti kura-kura, Kim Yura.” Gerutu Kyuhyun begitu Changmin membuka pintu. Pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu samasekali tidak menolehkan kepalanya dari layar enam belas inci dihadapannya hingga tidak tahu jika yang tadi membuka pintu bukanlah asistennya.

“Kenapa hanya berdiri disana? Kau itu— kau?”

Kyuhyun mendengus malas begitu mengetahui bahwa Changmin lah yang berdiri didepan sana. Pria itu kembali menyibukkan dirinya dengan angka-angka yang terpampang dilayar komputernya. Masa bodoh dengan kehadiran Changmin.

Sementara Changmin, kini mulai melangkahkan kakinya agar bisa lebih dekat dengan pria itu. Sesampainya dia didekat meja kerja Kyuhyun, pria itu mengambil bolpoin yang tersedia disana lalu memainkannya sebentar, “Aku tadi pulang kerumah. Rumah besar, maksudku. Kupikir kau akan ada disana karena—seperti yang kau katakan, ada acara makan malam bersama. Penting atau apalah. Tapi ternyata kau tidak ada. Dan ternyata firasatku benar, kau ada disini.”

“Aku tidak memintamu mencariku.”

Well, kau memang tidak meminta. Tapi aku yang ingin.”

Kyuhyun kembali mendengus. Tangannya menghempaskan mouse yang sejak tadi dibawah kuasanya begitu saja. Dia menatap Changmin malas. “Kau sudah bertemu denganku. Lalu?”

Changmin mengedikkan bahu. Pria itu memutar tubuhnya untuk berdiri didepan jendela besar ruangan Kyuhyun. Menyaksikan arus lalu lintas sore itu dengan sedikit decakan kagum bercampur miris. Sabtu sore. Macet. Tidak heran sih, karena anak-anak muda memang akan menghabiskan waktunya disaat-saat seperti ini. Changmin mendengus geli, dia jadi teringat saat dia masih kuldiah dulu. Pemuda-pemuda seumuran dirinya saat itu memang selalu menjadi faktor utama kemacetan jalanan kota Seoul.

Berkumpul bersama teman-teman. Atau mungkin juga konvoi.

“Sedang apa kau disini?” tanya Changmin tanpa mengalihkan pandangannya dari arus lalu lintas dibawah sana.

“Bekerja tentu saja. Apa kau buta?” balas Kyuhyun sengit.

Tersenyum. Changmin membenarkan perkataan Minho tadi. Kali ini Kyuhyun benar-benar tak tersentuh. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu bernada sinis.

“Aku tahu. Hanya saja—apa akhir pekan juga kau gunakan untuk bekerja? Tidak biasanya.”

Kyuhyun menatap punggung Changmin dengan mata yang memicing. Pria itu tersenyum sinis kemudian kembali berhadapan pada layar pintarnya. “Jika kau datang hanya untuk mengganggu, lebih baik pergi saja.”

Oh—ini seperti kejadian beberapa hari lalu saat Kyuhyun datang ke kantornya dan mengganggunya. Ha-ha. Persis sekali.

Memutar tubunya menghadap Kyuhyun, Changmin kembali tersenyum. “Acara makan malam yang kau bilang, diadakan hari ini. Kalau-kalau kau lupa. Tapi memang sepertinya begitu sih. Jadi, aku datang kesini untuk menjemputmu.” Ujarnya seraya melangkah mendekati Kyuhyun.

“Aku sibuk.”

“Tck. Sibuk apanya? Sibuk memarah-marahi bawahanmu begitu?” Changmin tertawa begitu melihat ekspresi tak bersahabat yang Kyuhyun tunjukkan. “Hei ayolah.. apa kau tidak tahu bahwa mereka begitu frustasi menghadapimu akhir-akhir ini? Kyuhyun, kuberitahu ya, kau sendiri yang memilih untuk menyerah jadi jangan bebankan masalahmu itu pada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya denganmu ataupun dengannya. Itu tidak akan berhasil.”

Mungkin sedikit tidak enak jika harus membahas masalah ini lagi. Mengangkat topik tentang Kyuhyun dan Sena kembali ke permukaan. Tapi menurut Changmin, Kyuhyun perlu digertak agar mengerti. “Dan tidak adil bagi mereka yang memang tidak tahu apa-apa.” tegasnya sekali lagi.

Kyuhyun hanya terdiam. Lagi-lagi Changmin menamparnya dengan kalimat-kalimat seperti itu. Kenapa tidak menjadi agen konsultan saja si Changmin itu? Kenapa harus fotografer? Menurutnya menjadi konsultan lebih cocok bagi pria tersebut.

Changmin melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya kemudian kembali berkata, “Sebaiknya kita pergi sekarang untuk bersiap-siap jika tidak ingin membuat Ibu dan Ayah menunggu. Ah—” Changmin mengacungkan satu telunjuknya keatas lalu melanjutkan, “kupikir kau juga harus meringankan pekerjaan Minho dan Yura. Setidaknya, hargailah mereka yang selalu berada disisimu. Bahkan ketika kau sedang patah hati seperti ini. Ini week-end Kyuhyun, waktunya mereka mengistirahatkan diri. Kalau kau mengerti maksudku, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan.”

.

(Un)Breakable

.

Tubuhnya menegang begitu kakinya menapak disebuah pintu masuk restoran tempat Ibunya bilang tadi mereka akan bertemu dengan rekan kerja Hanhwa—perusahaan yang akan menjadikan dirinya sebagai pemimpin disana.

Matanya terpaku pada empat manusia yang duduk meriung disebuah meja—yang dia yakini sudah direservasi sebelumnya. Entah kenapa udara menjadi begitu dingin menurut Irene, padahal musim dingin belum tiba. Ini masih dipenghujung musim gugur. Dan seperti terjepit diantara dua tembok besar, Irene merasa tidak bisa menggerakan tubuhnya samasekali. Bahkan nafasnya mulai tidak teratur. Pendek-pendek seperti tercekik.

“Kenapa diam saja? Ayo masuk,” ajak Ibunya begitu menyadari dirinya yang tak juga beranjak darisana.

Masih dengan tatapan nanar dan tertuju pada empat manusia didepan sana, Irene menjawab dengan suara lirih, “Apa yang sedang Mom rencanakan?” Dia tidak bodoh untuk mengetahui rangkaian yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak pikun dengan permasalahan yang beberapa hari ini mengganggunya.

Didepan sana dia melihat ada Changmin, Kyuhyun dan sepasang suami-istri paruh baya yang dia yakini adalah orang tua mereka. Itu berarti hal yang paling dia hindari beberapa hari ini akan terjadi malam ini juga.

Sialan! Dia ditipu oleh Ibunya sendiri. Jika tahu seperti ini, dia tidak akan sudi menuruti Ibunya untuk menemani wanita tersebut bertemu dengan –orang-orang yang disebutnya sebagai rekan kerja. Tidak, ini tidak benar. Ini tidak boleh terjadi.

Baru saja dia akan memutar tubuhnya untuk keluar menjauhi restoran tersebut, ketika dirasanya sebuah tangan yang mencekal pergelangan tangannya. Ibunya. Dia tahu itu.

“Jangan gegabah, Kim Hyerin. Kau tidak mau memalukan Mom kan?” desis wanita itu tepat ditelinganya. Dan jelas, itu membuat Irene ketakutan.

“Kenapa? Kenapa Mom melakukan ini? Aku sudah mengatakan bahwa aku menolak. Tap—”

“Oh, Youngie-ah!” seru Kim Hana begitu mendapati sahabatnya sudah datang. Yang seketika itu juga membuat kedua putranya ikut menoleh kearah dimana Hana memanggil.

Terkejut. Tentu saja Kyuhyun dan Changmin menunjukkan ekspresi seperti itu diwajahnya masing-masing. Pasalnya, orang tua mereka tidak memberitahu siapa orang yang mereka tunggu sejak tadi. Mereka hanya mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin dikenalkannya. Tapi melihat Irene berdiri disana—entah kenapa dunia rasanya sempit sekali.

Jadi, orang yang akan dikenalkan pada mereka adalah Irene? Tapi untuk apa?

Sedangkan Irene merasa semuanya terlambat. Kalau sudah begini, dia tidak mungkin pergi begitu saja. Kyuhyun ataupun Changmin akan curiga. Dan dia akan mempermalukan Ibunya sendiri. Dengan langkah terseret karena Kim Boyoung menggandeng tangannya dengan meremasnya lembut, Irene akhirnya mau tak mau mengikuti langkah wanita itu.

“Akhirnya kau datang juga,” sapa Hana dengan wajah berbinar. Kedua wanita paruh baya itupun saling berpelukan.

“Dia—” ucap Kim Hana dengan nada menggantung.

“Dia Kim Hyerin.”

“Yeah.. tentu saja. Kau manis sekali Hyerin-ah. Apa kau masih mengingatku?” ditanyai seperti itu oleh Kim Hana, Irene hanya tersenyum ragu. Matanya sesekali mencuri pandang pada Changmin yang memang duduk persis disamping tempatnya berdiri.

“Hyerin?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. Memutuskan percakapan para wanita itu dan tentu saja membuat semua kepala menoleh padanya.

“Apa kau mengenalnya Kyuhyun? Ah! Apa kalian bertemu di pesta ulang-tahunku saat itu?” tanya Hana antusias.

Kyuhyun mengangguk pelan, “Yeah.. tapi yang kutahu namanya Irene. Irene Kim,” jawabnya bodoh sekaligus bingung.

Hana dan Boyoung seketika itu juga tertawa lalu Boyoung menjawab, “Irene adalah nama baratnya. Itu karena dia terlalu lama tinggal di Amerika.”

Kyuhyun menatap Changmin seolah bertanya, ‘Benarkah?’ yang dijawab oleh pria dihadapannya dengan gedikan bahu. Karena pada dasarnya, Changmin memang tidak tahu nama Korea kekasihnya tersebut.

“Dia lama tinggal di Amerika? Kalau begitu sama seperti Changmin. Iya kan, Sayang?” ucap Hana dan sebagai jawaban, Changmin hanya tersenyum kemudian mengangguk pelan.

“Oh! Aku sampai lupa menawarkan kalian untuk duduk. Mari.. mari..” ajak Hana diikuti oleh Kim Boyoung dan Irene untuk duduk juga ditempatnya masing-masing.

.

(Un)Breakable

.

Acara makan malam berlangsung membosankan bagi Kyuhyun. Tidak ada yang menarik samasekali. Percakapan didominasi oleh Ibunya dan Ibu dari Irene yang dia ketahui memiliki nama Korea Kim Hyerin. Ayahnya terlihat lebih pendiam, pria itu lebih sering menimpali percakapan dua wanita membosankan itu dengan sebuah anggukan atau senyuman.

Changmin yang memang pada dasarnya tidak banyak omong, sejak tadi ya begitu saja. Makan dalam diam. Sedangkan Irene—entah kenapa Kyuhyun merasa ada yang berbeda dengan wanita itu. Dia terlihat resah dan tegang secara bersamaan. Seperti ingin cepat-cepat menghilang dari jamuan makan malam bersama ini. Wanita itu tidak seperti biasanya. Bahkan tidak ribut, karena seringnya, Irene akan selalu ribut jika bertemu Changmin. Entah karena memang seperti itulah sikapnya atau memang karena wanita itu ingin dimanja oleh Changmin. Kyuhyun tidak tahu.

Dia sendiri tidak nafsu makan sejak tadi. Dia hanya ingin cepat-cepat pulang dan merebahkan tubuhnya yang remuk karena dipaksa untuk bekerja beberapa hari ini diatas kasur.

“Hyerin-ah.. apa kau menikmati makan malam ini?” tanya Hana begitu dia selesai menuntaskan makan malamnya.

Ditanyai seperti itu, tentu saja Irene gugup. Dia belum siap, omong-omong. Bagaimana jika pembicaraan ini akan berakhir dengan perjodohan itu?

Mengangguk ragu, dia pun menjawab dengan terbata, “Y-ya. T-tentu saja Bibi.” Seraya menunjukkan segaris senyum tipis—terpaksanya.

Alis Hana berjengit, “Bibi?” tanyanya.

“N-ne?”

Hana dan Boyoung saling melempar senyum kemudian menatap Hyerin lagi, “Panggil aku Ibu. I-bu. Oke?”

Irene melirik kearah Kyuhyun dan Changmin yang sama-sama sedang mengerutkan kening. Kedua pria itu pasti heran mengetahui Ibu mereka begitu ramah padanya. Bahkan sampai meminta dirinya untuk memanggil dengan sebutan Ibu.

“K-kenapa?” tanya Irene ragu. Bodoh! Kau tahu benar maksud dari permintaan itu, Irene. Kenapa harus bertanya?!

“Tentu saja karena kau akan menjadi bagian dari keluarga Cho, Sayang..” Irene memejamkan matanya erat begitu mendengar suara Ibunya menjawab yang diikuti senyuman hangat Kim Hana.

Kyuhyun dan Changmin masing-masing melebarkan matanya ditempat hingga suara salah satu diantara mereka bertanya, “Maksudnya?”

“Ah.. Ibu dan Ayah berencana menjodohkan Hyerin dengan Kyuhyun, Changmin-ah. Bagaimana menurutmu? Mereka sangat cocok bukan? Hyerin manis sekali..” jawab Hana dengan senyum yang tak memudar sedikitpun dari wajahnya.

Terdiam. Irene merasa bahwa dia seperti telah berkhianat pada kekasihnya. Tidak, itu tidak benar Changmin. Jangan dengarkan.

Changmin—yang tadi sempat bertanya—kini merasa bahwa seluruh hatinya jatuh berhamburan diatas lantai restoran. Perjodohan? Tatapannya dia arahkan pada Ibu angkatnya tersebut. Seakan menanti bahwa semua ini adalah lelucon.

Sementara Kyuhyun—wajah pria itu terlihat sangat pias dan tegang.

Perjodohan.

Astaga. Dalam mimpi pun mereka tak pernah memikirkan situasi seperti ini sebelumnya. Dan sekarang.. hanya dalam sepersekian detik, kalimat Ibunya meruntuhkan segala apa yang dia bangun selama ini.

Bagaimana bisa?

Perlahan, Kyuhyun mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Ibunya tajam. “Katakan bahwa ini hanyalah gurauan Ibu,” ucapnya dengan nada rendah namun sarat akan ketegasan.

Hana mendesah, dia yakin betul bahwa Kyuhyun akan menolak. Maka dengan segenap hati yang mantap, dia pun menjawab, “Ibu tidak pernah main-main dengan ucapan Ibu sendiri, Kyuhyun.”

Dengan gerakan tergesa, Kyuhyun berdiri dari posisi duduknya. Hingga kursi tempat dia bernaung tadi, jatuh terlempar kebelakang. Membuat semua mata yang berada di restoran tersebut memandang kearahnya.

“Aku menolak! Apa-apaan ini! Perjodohan?! Apa Ibu pikir aku tidak memiliki cinta hingga harus menjalani ritual kampungan seperti ini? Hah?!” Ini tidak bisa dibiarkan. Dia adalah pria dewasa yang masih mampu untuk mencari pasangan. Dia bukan anak belasan tahun yang masih harus mematuhi perintah orang tua. Terlebih perintah konyol seperti ini. Lucu sekali.

Yeunghwan yang merasa bahwa situasi sudah tidak nyaman, ikut berdiri. Mencoba menenangkan putranya. “Kyuhyun—jaga sikapmu.” Ucapnya tegas. Dia hanya tidak mau menjadi perhatian masyarakat jika sudah seperti ini.

Kyuhyun menepis tangan Ayahnya yang hendak mencoba menyetuh bahunya. “Ayah sudah tahu ini bukan?” pria itu terkekeh sinis, “Wah.. bagus benar.” Dia kembali melirik bergantian pada Ibunya dan Ibu dari wanita yang akan dijodohkan padanya. “Dengar. Aku – tidak – akan – pernah – menerimanya. Perjodohan ini maupun wanita itu.” matanya mengarah pada Irene yang hanya bisa terdiam dengan tubuh yang menegang. Matanya berkaca-kaca menatap Kyuhyun. Dan Kyuhyun bisa merasakan ada senyum samar yang tersirat seakan berterima-kasih padanya karena telah menolak perjodohan ini.

Hanya orang-orang bodoh  saja yang mau saja menjalani perjodohan ini. Dan dia pun paham betul bahwa Irene juga tidak menginginkannya. Sama seperti dirinya.

“Perhatikan ucapanmu Cho Kyuhyun!” pekik Hana setelah bangkit dari duduknya. Dia merasa tidak enak pada Kim Boyoung, karena biar bagaimanapun, wanita itu adalah sahabatnya. Sama seperti Shin Bora –ibu kandung Changmin. Matanya dia picingkan kearah Kyuhyun lalu melanjutkan lagi, “Kalian akan tetap kami jodohkan. Bahkan kami sudah menentukan tanggal pernikahan kalian. Kau tidak akan bisa kemana-mana. Sekalipun kembali pada pelacurmu itu!”

“IBU!!!” teriak Kyuhyun membahana. Siapa saja akan kaget jika mendengar teriakan pria itu. Tentu saja Kyuhyun akan melakukannya. Hatinya seperti dirajam oleh ribuan besi panas mengetahui wanita yang dicintainya begitu rendah dihina oleh Ibunya sendiri.

Changmin yang sejak tadi menundukkan kepalanya, kini pun ikut terperangah. Bukan karena teriakan Kyuhyun melainkan karena ucapan Ibunya. Dia hanya tidak menyangka Ibunya akan sekejam itu memberi label pada Sena.

Wanita itu juga korban dari perjodohan ini tentunya. Tapi kenapa—kenapa Ibunya setega itu? Apa ibunya tidak pernah menyukai Sena? Kalau iya, kenapa dia bisa alpa akan hal ini?

Changmin melirik kearah Kyuhyun dan dia bisa melihat bagaimana mata Kyuhyun yang mulai memerah menahan emosi. Jika dibanding dengan yang lain, mungkin Kyuhyun lah yang paling menderita disini. Pria itu baru saja kehilangan cintanya. Dan sekarang—

Walau dia sendiri juga harus menerima sekali lagi kekalahannya. Dulu dia pernah kehilangan Sena untuk Kyuhyun. apa sekarang dia juga harus melepaskan Irene untuk Kyuhyun? Bukankah ini tidak adil untuknya?

Pria itu menggeser bola matanya pada kekasihnya. Dan dia mendapati wanita itu hanya bisa menunduk dengan tangan yang saling meremas diatas pangkuannya. Ini semua berat untuk mereka. Tapi Ibu-nya begitu menginginkan pernikahan ini, bahkan waktunya pun sudah ditentukan. Changmin mendengus getir. Apa harus seperti ini?

.

(Un)Breakable

.

Setelah memakirkan mobilnya di basement apartemen tempat Sena tinggal, Kyuhyun langsung bergegas memasuki apartemen itu lalu menuju lantai tujuh—dimana kamar wanita itu berada.

Kyuhyun yakin, Sena sudah mengetahui ini semua. Sena sudah tahu bahwa dia akan dijodohkan lalu dengan bodohnya wanita itu memilih mundur dan meninggalkannya begitu saja. Wanita itu pasti diancam oleh Ibunya. Dia yakin itu. Melihat begitu banyak pancaran ketidaksukaan yang ibunya tunjukkan, dia tidak akan heran.

Dan malam ini, Kyuhyun akan membongkar semua itu dihadapan Sena. Dia tidak bisa membiarkan wanita pemilik hatinya itu pergi tanpa penjelsan apa-apa. Terlebih dirinya yang harus menikahi wanita yang dicintai saudaranya sendiri. Cih.. benar-benar permainan takdir.

Setelah lift yang dia tumpangi mengantarkannya pada lantai tujuh. Dengan gegas, Kyuhyun melangkahkan kakinya pada pintu bernomor 7030. Tak mau sabaran, dia menekan password yang sudah dia hapal diluar kepala.

“Brengsek!” umpatnya begitu password yang dia masukkan salah. Pasti Sena telah meresetnya. Dan seakan tak bisa berpikir lagi, akhirnya dia menekan bel dengan gerakan tidak tanggung-tanggung. Seolah tidak peduli bahwa tombol itu bisa saja jebol karena ulahnya. Dan masa bodoh jika orang yang berada didalam sana terganggu atau menggerutu tak terima. Yang jelas, dia harus menemui wanita itu secepatnya.

Dan ketika locker-key dari dalam sudah berbunyi klik, Kyuhyun langsung menerjang masuk. Bahkan ketika Sena belum membuka pintu sepenuhnya. Wanita itu tentu saja terkejut. Terlebih saat menyadari bahwa orang yang bertamu itu adalah Kyuhyun. Yang datang dengan keringat bercucuran. Dan nafasnya yang terengah-engah. Bercampur antara pria itu yang habis lari kesini dan amarah yang mungkin saja sedang ditahan oleh pria itu sendiri.

“Kyuhyun?” tanyanya lirih. Tangannya mengambang, ingin membersihkan keringat yang ada didahi pria itu namun kemudian dia urungkan. Tidak. Tidak boleh. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menghiraukan Cho Kyuhyun lagi.

“Kau sudah tahu.”

“Huh?”

Kyuhyun memejamkan matanya dengan erat sebentar, kemudian kembali menatap Sena dengan kedua matanya yang memerah. “Kau mengetahuinya kan? Kau mengetahuinya tapi kau lebih memilih untuk pergi.”

Sena mengerutkan keningnya, tidak mengerti. “Kyuhyun aku samasekali tidak paham maksudmu. Kau ke—”

“JANGAN BERPURA-PURA BODOH LEE SENA!!”

Mata Sena membelalak lebar begitu terdiakan Kyuhyun memenuhi ruang apartemennya. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Mengetahui. Mengetahui apa? Apa yang Kyuhyun bic—sekelebat percakapannya dengan Kim Hana tempo hari lantas memenuhi otaknya dalam waktu sekejab. Sena membawa salah satu telapak tangannya didepan mulut. Apa ini tentang perjodohan? Apa Kyuhyun sudah mengetahui perjodohan itu? Apa Kim Hana benar-benar mewujudkan perkataannya tempo hari? Apakah secepat ini?

“Kau tahu aku akan dijodohkan dengan Irene! Kau tahu itu! Ibu memberitahumu bukan? Itukah alasan kenapa kau menghindariku? Itukah alasan kenapa kau lebih memilih pergi, begitu? Demi Tuhan Sena, kau bodoh! Kau sangat tolol!!” ucap Kyuhyun berapi-api dengan telunjuknya yang menunjuk-nunjuk wajah Sena. Mengisyaratkan bahwa wanita itu benar-benar tidak memiliki otak. Bisa-bisanya lebih memilih pergi hanya karena pria itu dijodohkan. Padahal sudah jelas, bahwa Irene—wanita yang dijodohkan dengannya adalah kekasih sahabatnya sendiri. Dan Kyuhyun tidak mungkin menerima itu. Tapi Lee Sena dengan tololnya seolah berlagak seperti pahlawan.

Sena tidak bereaksi apa-apa selain matanya yang memancarkan kekosongan. Sudah cukup dia menderita, apa Kyuhyun juga harus menyebutnya sebagai orang yang tolol? Apa dia salah? Dia memang meninggalkan Kyuhyun tapi bukan karena perjodohan itu. Demi Tuhan, kalimat tadi kasar sekali untuk Sena dengar.

Tunggu—Sena menggeser bola matanya agar dapat menatap bola kelam Kyuhyun, “Irene?” tanyanya lirih.

Kyuhyun mendengus sinis, “Kubilang jangan berpura-pura bodoh, Sena. Kau sudah tahu itu!”

Tidak. Dia samasekali tidak tahu. Kim Hana hanya mengatakan bahwa dia akan menjodohkan Kyuhyun dengan wanita yang dia pilih.

“Wanita yang mampu menjaganya dan bisa dia andalkan.”

Baiklah, Sena melewatkan yang satu ini. Wanita yang mampu menjaganya dan bisa dia andalkan. Tapi—Irene? Kenapa harus wanita itu? Bukankah—

“Dia pemilik Hanhwa Engineering & Construction, perempuan. Rekan kerja baru Silk Air.” (read; Chap. 3)

Kaki Sena terhuyung kebelakang. Dia merasa kepalanya berdenyut dan berputar tak tentu arah. Memang benar bahwa Irene adalah wanita yang mampu berada disamping Kyuhyun. Mereka sama-sama berkecimpung didunia bisnis. Tapi—lalu, bagaimana dengan Changmin? Bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan dirinya?

.:: TBC ::.

Advertisements

150 thoughts on “(Un)Breakable – Chap. 6

  1. changmin jangan mundur lagi dong……. irene juga salah,kenapa mau nya d ajak ibunya makan malam,jadi ketahuan kalau berhianat ma changmin.sena jujurlah apa adanya,jangan buat kyu tambah frustasi.setidaknya kalau terbuka pasti ada jalan keluar,jangan saling menyakiti

    Liked by 1 person

  2. Aduuhh,, rasanya ga sanggup baca part selanjutnya, karna pasti keadaannya bakal lebih rumit,, pengen banget kyuhyun melawan ibuknya, walaupun dosa, tapi mau gimana lagi,ibunya pasti ttp ga mau merubah keputusannya,, apalagi kalo sampai dia tau penyakit sena ..

    Liked by 1 person

  3. Part ini banyak nyakitinnya tp gak nyampe bikin nangis , nyesek aja bacanya ;(
    pas ibunya kyu nolak sena to the point, perjodohan -_- aku bayangin gimana perasaan changmin *aduh* gak kuat ..
    soal penyakit sena aku no coment ah, berharap dia jujur aja dan berharap dia sembuh
    ohh satu lagi, aku selalu baca 2 part abis itu baru balik lg ke part sebelumnya dan ninggalin jejak jd wktu comentnya deketan wkwkwkw biar sekaligus gitu hehe

    Liked by 1 person

  4. Haaaaa…,
    critanya makin rumit dan menegangkan ..

    Kirain sena hamil, trnyta sakit?

    Bner kan irene dijodohin sama kyuhyun.
    Aish..hrs cpet2 baca part briktnya ini

    Like

  5. Nyesekkkj nyesekkkj😭😭😭😭
    GA sanggupppp GA kuattt
    Duhh Changmin gimana perasaannyaa jugaaa
    Hatiku teriris GA nyangka segitu teganya NY.Cho menilai Sena
    Emosi naik turun di part ini
    Entah entah entahhhh

    Authornim daebakkkkk

    Like

  6. greget dehh sama ibu kyuhyun,pengen gue jitak tau gk si
    kenapa harus ada perjodohan segala?dan sena bukan hamil tapi kanker?huaaa sedih bacanya

    Like

  7. greget bgt sma ibu nya kyuhyun knpa si pake dijodoh jodohin segala kuno bngt pemikiranya.sedih bngt pas tau trnyata sena kena kankerT.T semoga sena cpt sembuh dan smga mrka cpt baikan deh ga kuat liat mrka kyk gini
    dipart ini aku udh bnyk bngt ngeluarin air mata buat mereka berdua T.T

    Like

  8. Baca pas part ini .. ternyata dugaan aq salah besar .. bukan hamil Tpi sakit .. sumpah bacanya sambil nangis .. jadi sena kasian banget kesedihannya dateng bertubi tubi .. tpi penyakitnya bisa sembuh kan ka .. dia bisa hamil ..

    Like

  9. Wah ternyata bener Irene kan yg dijodohin sama Kyuhyun.
    Yg nggak nyangka adalah Sena kena kanker ovarium, dari awal sebenernya udah curiga kalo yg Sena sembunyiin bukan sekedar kehamilannya aja, pasti ada yg lain. Tp nggak nyangka kalo ternyata penyakit kanker
    Semoga mereka semua berakhir happy ending deh
    Fighting buat next post !!!

    Like

  10. knpa ibuny kyuhyun benci bngt sma sena jhat bnget …
    iren jngan mau lah dijdohin hrus bisa mmperthankan changmin bdoh bnget kalu kyu sma sena mau dijdohin huhu…

    Like

  11. Aduhh.. shrusnya kan cho Hana nikahin kyu ama sena krna dah tau mreka dah begituan , lagian kan Sena anak cheobol jga… Benci bgt si dy ama sena

    Like

  12. Ternyata sena gk hamil, dan dia sakit keras,, yaampun kenapa harus gini…
    Kyuhyun mau dijodohin? Please Irene jangan mau, ayodong changmin berjuang,, kyuhyunnya juga gk mau.. Kyu kau kabir aja kek sana

    Like

  13. Kirain sena hamil yaolo.
    Hamdallah Irene nolak perjodohannya. Aing kira Irene bakal suka sama Kyuhyun. Taunya ga ehe.
    Keren kak. Mau lanjut lagi ke part 7 ah

    Like

  14. Itu org tua kok kuno bnget sih, emng msih jaman jodoh2an.. sena sakit ya.. sedih bnget deh
    Tpi syukur deh irene nolak prjdohan sma kyuhyun..

    Like

  15. Kasihan… complicated.. nyesek..
    Sena uda sakit, digituin lagi sm eomma Kyuhyun…
    Takdir sedang mempermainkan mereka berempat..huhuhu

    Like

  16. eh bukan hamil ternyata kanker..kasian sena
    duh semoga changmin mau memperjuangkan irene..biar bagaimana pun kyuna harus tetep bersama…greget banget bacanya..complicated 😥 😥

    Like

  17. Sena sakit ternyata😭 dan kyuhyun dijodohin sama Irene😭 terus nasibnya Changmin giman dong, parahnya lagi sena gamau cerita sama siapapun mengenai penyakitnya.
    Itu ibunya kyuhyun parah ucapannya pedes amat🙊kasian Sena lagi nanggung beban berat malah di omongin kayak gitu

    Like

  18. Kebongkar akhirnya :(((
    Yaampun sedih banget sumpah kak, baca chapter ini nguras emosi. Gatau harus gimana kak
    Maaf banget, aku penasaran sama next chapter kak. I love you kak wkwk
    Ijin baca next chapter yaaah

    Like

  19. aigooo diriku kira sena itu hamill
    tpi knytaam sena skit huhu
    sena prnh keggurn dan kyuhyun pun ta tau wah wah

    jleb bngt jd sena
    udh mh klwt terttup klwt baik pla
    qo ny.cho dsni nyebelinnn
    harta mllu yg dya fikirkn
    lga mkirin kbahagian ank sndri ckck

    itu ibuny hyerin ko bkin emosi
    ktrlluan bngt duh mnyepelkn changmin

    ksiam sena gtau apa2 di bntk2 kyuhyun hhu

    Like

  20. Kenapa takdir yang kau ciptakan nyakitin bgt utk sena , nyonya author???
    Ya ampuuun….aku udah mewek waktu mbaca flashback sena di rumah sakit denger vonis dari dr kim, sumpah…rasanya gak adil buat sena,
    Kukira di part sebelumnya yg dimaksud perutnya akan membucit itu krna hamil anak kyuhyun, ternyataa…..masalah gak sesederhana itu, bahkan mungkin skrg dia milih hamil aja drpd kena penyakit gitu..

    Aku harap next part keadaan berangsur pulih…
    Jd balik respect bgt ke sena … 😭😭

    Like

  21. Sumpah ya kenapa ibu ibu malah jahat bgt gitu sih?
    Sedih.
    Kasian kyuhyun-sena.
    Tapi sebenernya changmin juga nyesek bgt. Dia pendiem dan kalem harus nerima kayak gitu ckck

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s