Selfish

tumblr_nn9sxpdHez1spqhdqo1_1280

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena – Joon

⌈ AU │ Oneshoot ⌋

⌈ PG – 17 ⌋

⌈ GENRE ⌋

Romance, Family

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

Queensera©2016

My mind is so impatient. So quick. In some ways so desperate.

Malam sudah menunjukkan pukul 00:10. Waktu yang terlalu dini baginya untuk sampai didepan sebuah bangunan yang sudah hampir dua tahun ini dia huni bersama keluarga kecilnya. Bangunan yang dia buat dengan uangnya sendiri. Dengan kerja kerasnya sendiri. Dan dengan jerih-payahnya sendiri. Hanya untuk membuktikan pada orang-orang bahwa dia mampu untuk bisa menjamin masa depan istri dan anak-anaknya, melalui wujud yang sungguh luar biasa megah dari rumah yang dia bangun tersebut. Sekaligus menunjukkan bahwa dia lah Si Superior yang bisa melakukan apa saja untuk hal yang dia inginkan. Termasuk hidup bersama dengan istrinya sekarang ditempat yang lebih dari kata layak.

Dengan langkah kaki tersaruk, Kyuhyun menyeret tubuh lemasnya untuk memasuki bangunan maha-megah itu. Sesuatu yang memang menjadi risiko karena telah memiliki rumah sebesar ini dengan jarak antara garasi dan pintu utama yang lumayan jauh.

Penampilannya sangat kacau saat ini. Ya, bagaimana tidak, sudah tiga hari ah mungkin lebih, Kyuhyun tidak ingat kapan menghitungnya—pria itu dipusingkan dengan perusahaan sekuritas tempat Silk Air berinvestasi baru-baru ini. Perusahaan sekuritas itu mendapat sanksi dari otoritas bursa minggu lalu dan assetnya yang tertanam disana, terancam hangus.

Kyuhyun tidak pernah seteledor ini dalam memilih sesuatu, apalagi jika menyangkut tentang masa depan perusahaannya. Dia selalu mempertimbangkan segala hal secara baik-baik. Tapi sekarang, dia telah lalai. Walau asset yang tertanam di perusahaan itu tidak seberapa, tapi tetap saja itu asset. Harta perusahannya.

Mengacak rambut frustasi, Kyuhyun membuka daun pintu rumahnya. Sudah lewat tengah malam, dia yakin Sena sudah tertidur seperti kemarin-kemarin saat dia pulang larut juga. Mengingat kebiasaan wanita itu untuk selalu tidur tidak lebih dari jam sepuluh.

Hah.. Kyuhyun butuh berendam sekarang juga. Tubuhnya terasa lengket dan ototnya seperti kaku semua. Dia butuh sesuatu yang bisa menyegarkan kembali kondisi fisiknya dan itu hanya bisa dia dapatkan melalui cara berendam saja. Masa bodoh dengan iming-iming akan terkena rematik nantinya jika mandi malam-malam, dia sungguh tidak peduli—setidaknya malam ini.

Namun begitu Kyuhyun melangkahkan kakinya melewati ruang keluarga, dia mendapati istri dan anaknya tengah berdiskusi—entah apa yang mereka bicarakan, Kyuhyun tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi bisa dilihat olehnya. Sena sedang mengajarkan Joon menggambar. Kyuhyun kembali menatap Calvin Klein yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, meyakinkan bahawa dirinya tidak salah. Dan sekali lagi untuk memastikan, dia mengarahkan matanya memandang keluar lewat celah gorden yang menutupi sliding-door, yang menunjukkan bahwa keadaan diluar sana memang sudah gelap. Dia tidak salah. Sekarang benar-benar sudah lewat tengah malam. Lalu apa yang dilakukan dua orang itu diwaktu-waktu berharga seperti ini?

“Sena,” panggilnya dalam namun cukup keras untuk sampai ketelinga istrinya itu. Wanita yang dipanggil itu menoleh, lalu berdiri dari duduknya begitu melihatnya. “Apa yang sedang kalian lakukan?” Oh, Kyuhyun sudah jelas tahu apa yang sedang istri dan anaknya itu lakukan. Hanya saja, kalimat tadi adalah bentuk pertanyaan lain yang memiliki maksud, ‘Kenapa belum tidur? Ini sudah sangat malam. Bahkan sudah berganti tanggal.’

Berjalan menuju tempat dimana suaminya berdiri dan mengambil alih mantel serta jas yang Kyuhyun lepaskan, Sena menjawab, “Dia baru terbangun jam sembilan tadi. Tidak mengantuk, katanya. Dan yeah… seperti yang kau lihat. Sudah jam segini tapi belum juga mau beranjak ke tempat tidur.”

Kyuhyun menghembuskan nafas lelah. Apa lagi sekarang? Dia tidak mungkin menemani Sena menjaga Joon malam ini. Tubuhnya sudah terlampau remuk untuk diajak kompromi. Selepas berendam, dia membutuhkan tidur. Tapi tidak mungkin juga dia membiarkan istri dan anaknya begadang sampai larut seperti ini. Biar bagaimanapun, dua-duanya membutuhkan istirahat. Mereka semua membutuhkan ritual tidur.

“Memang tidur jam berapa dia?”

“Selepas petang. Sekitar jam enam. Kelelahan karena terus bermain bersama anak-anak yang lainnya tadi,” jawab Sena sambil tertawa kecil. Kyuhyun melirik lagi putranya yang sedang asyik sendiri. Ah.. dia lupa jika Sena telah mendaftarkan Joon yang hampir berusia tiga tahun itu di ECLC (Early Childhood Learning Center) – Montessori School sejak Senin kemarin. Sekolah pengembangan kepribadian dan potensi yang memang diperuntukkan untuk anak-anak berusia 2 sampai 6 tahun.

“Masukkan saja kekamar. Ini sudah larut sekali,” ucapnya tanpa bantahan. Lalu dengan segera, Kyuhyun beranjak darisana dengan Sena yang mengikutinya dibelakang. Untuk meletakkan pakaian Kyuhyun dikeranjang kotor.

.

Selfish

.

“Sini. Disini saja. Ayah sedang tidur..” bisik Sena lirih pada Joon yang mulai bertingkah. Sekarang sudah hampir pukul setengah dua. Tapi anak itu masih saja kuat menahan matanya untuk tetap terbuka. Padahal, bibirnya sudah menguap sejak tadi. Dia sendiri sudah sangat mengantuk. Tapi mau bagaimana lagi.

Sena mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh kecil Joon yang hendak menaiki perut Kyuhyun. Setelah membersihkan badannya, pria itu lantas langsung jatuh tertidur. Tidak ada ucapan apa-apa. Sena tahu bahwa akhir-akhir ini ada masalah dengan Silk Air. Yang membuat suaminya itu terlihat sangat lelah. Bahkan sudah tiga hari ini, Kyuhyun pulang lebih lama dari waktu biasanya. Dan tadi adalah momen dimana akhirnya dia mendapati Kyuhyun karena biasanya, dia sudah jatuh tertidur lebih dulu. Dan karena itu pula, saat Kyuhyun menyuruhnya untuk membawa Joon ke kamar, dia langsung menuruti perintah pria tersebut. Dia tidak mau membuat Kyuhyun emosi jika dia menolak, walau memang pada kenyataannya Joon memang sulit sekali untuk dijinakkan.

Seperti sekarang ini, mereka bertiga sedang berada dikamarnya dan Kyuhyun. Dan Sena sudah kuwalahan setengah mati dengan Joon yang tidak mau diam. Ada saja yang ditanyakan bocah itu dengan bahasa alien padanya. Ada saja topik yang membuat Joon tidak mau berhenti bicara dan memberitahunya ini dan itu. Atau ada saja akal-akalan bocah itu yang membuat Sena harus menahan geramannya.

“Joon-ah.. Sudah malam. Tidur ya? Ibu mengantuk sekali.”

Joon langsung mengibaskan tangan didepan wajah Ibunya. Kepalanya menggeleng keras lantas berkata dengan nada merengek, “No! Andwaee..”

“Lihat. Ayah saja sudah tidur, memangnya Joon tidak mengantuk hm? Tidur disini..”

Sena menepukkan tangannya pada ruang antara dia dan Kyuhyun. Menyuruh Joon yang sedang duduk untuk ikut membaringkan tubuhnya. “Kemarilah..” tangannya Sena ulurkan untuk menarik tubuh Joon. Lalu dengan cekatan dia mengusap-usap perut buncit putranya. Memberikan ketenangan untuk bocah itu agar bisa diam dan tidak beranjak bangun lalu bertingkah lagi.

Selang tiga menit, barulah Sena bisa menangkap pendar-pendar yang tadi masih berbinar dikedua mata putranya mulai meredup. Gadis itu mendengus kecil. Dasar. Sena yakin betul sebenarnya Joon sudah mengantuk sejak tadi, hanya saja tubuhnya masih ingin bergerak-gerak mencari perhatiannya. Maka dimenit-menit setelahnya, barulah Joon mulai menutup kedua matanya. Dan Sena yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil. Akhirnya dia bisa juga menjinakkan putranya itu walau harus mengorbankan waktu tidurnya sampai larut seperti ini.

.

Selfish

.

Sabtu pagi. Pukul Sembilan. Biasanya di jam-jam seperti ini Kyuhyun selalu menghabiskan waktunya bersama Joon diruang keluarga sampai sore nanti. Atau mungkin sampai malam. Asal bersama dengan anak itu. Lalu mereka akan melakukan apa saja. Menonton. Bernyanyi. Mengajarkannya membaca dan menulis. Atau bermain dengan tumpukan lego-legonya. Kyuhyun selalu melakukan aktivitas itu. Karena akhir pekan seperti ini adalah waktu briliannya untuk bisa bersama dengan Joon sepanjang hari. Dia bisa menguasai bocah itu dari Sena dan bocah itu bisa bermanja-ria padanya.

Begitulah siklus biasanya.

Tapi sayang, untuk kali ini tidak. Kyuhyun tidak bisa melakukan aktivitas mingguannya bersama Joon. Pria itu masih dipusingkan dengan masalah yang terjadi pada perusahaan sekuritas itu. Dia masih disibukkan. Dan dia masih dibuat frustasi. Asset perusahaannya sedang terancam, maka yang harus dia lakukan saat ini adalah memperjuangkan hak-nya sebagai pemilik asset itu agar tidak hangus.

Dengan cuaca cerah pagi ini, Kyuhyun memutuskan untuk memindahkan berkas-berkas penting kantornya dan seperangkat alat yang mendukung pekerjaannya, ke sebuah meja berpayung yang terletak disamping rumahnya. Meja yang memang disediakan untuk berteduh di pinggiran taman sekaligus kolam renang yang tersedia disana.

Kyuhyun membutuhkan sesuatu untuk menyegarkan pikirannya. Maka keputusan untuk melakukan pekerjaannya di luar ruangan menurutnya adalah hal yang tepat. Seperti yang sekarang dia lakukan.

“Tiga puluh persen?” Kyuhyun berbicara pada Minho—asistennya melalui pesawat telepon. Pria itu memijat pangkal hidungnya intens. Ada denyut nyeri yang dirasanya disana.

“Ya, Bos. Kita hanya bisa menarik tiga puluh persen dari total semuanya. Pihak dari otoritas bursa yang baru saja mengatakannya,” sahut Minho diujung sana.

Kyuhyun mendengus kasar. Ya Tuhan.. ini benar-benar.

“Bos sudah mengecek e-mail yang aku kirimkan tadi?” tanya Minho lagi.

“Belum. E-mail apa?”

“Surat dari Otoritas Bursa—”

“Oh, baiklah. Nanti akan aku cek,” jawabnya seraya membuka browser yang berada di laptopnya. “Ah..  Minho-ya—” panggilnya lagi begitu mengingat sesuatu.

“Ye?”

“Tolong buatkan dan kirimkan memo pada semua dewan direksi serta kepala divisi bagian keuangan untuk rapat Senin nanti. Kita adakan rapat mengenai masalah ini pukul sebelas siang.”

“Tapi Bos, bukankah Senin nanti dan dua hari kedepannya kita akan meninjau proyek yang ada di Daegu?”

Kyuhyun mengernyitkan alis, mencoba mengingat-ingat agenda untuk minggu depan. Dan seketika itu juga ia mengumpat, “Ah.. shit!” Benar juga. Hal ini tidak bisa disepelekan. Tapi dewan direksi juga akan protes padanya jika dia tidak memberitahukan perihal masalah ini pada mereka semua. Dan mereka akan menganggap dirinya tidak kompeten untuk memimpin Silk Air.

Sementara Minho yang berada diujung sana juga ikut cemas. Ini baru pertama kalinya sejak tiga tahun dia bekerja dengan Kyuhyun, dia mendapati Bos-nya itu dalam posisi begitu sulit.

“Baiklah. Nanti akan kukabarkan lagi, untuk sementara hanya lakukan apa yang menjadi tugasmu saja, Minho-ya.” Tanpa menunggu jawaban apapun dari Minho, Kyuhyun gegas menutup teleponnya. Pria itu mendesah frustasi. Dia menjatuhkan bokongnya pada kursi yang tersedia disana. Kepalanya terasa berdenyut. Pusing karena memikirkan masalah yang akhir-akhir ini menimpa Silk Air dan pusing juga akibat kurangnya waktu tidur yang ia miliki.

Pria itu kembali menekuni pekerjaannya yang belum juga selesai karena masalah-masalah yang mengganggu itu, ketika merasakan adanya sebuah tangan kecil sedang menarik-narik ujung celana selutut yang dipakainya. Pria itu menoleh dan matanya menangkap wajah Joon yang tengah tersenyum sumringah padanya. Dia tahu maksud dari bocah itu, namun untuk saat ini, dia tidak bisa.

“Sedang apa disini, hm?” tanyanya pura-pura tidak tahu.

Joon yang masih menggunakan kaus singlet dan diapersnya, mengacungkan sebuah crayon pada Kyuhyun lalu berkata, “Daowing!” (read; drawing)

“Bersama Ibu saja, oke?” suruhnya dengan senyum tipis yang dia coba tunjukkan pada putranya itu. Sebisa mungkin.

Menggeleng keras, Joon menolak perintah Kyuhyun. Dan tetap berdiri disana. Putra Cho Kyuhyun itu memang belum bisa menghitung hari. Atau tepatnya, dia tidak tahu kapan Ayahnya itu akan terus berada dirumah sepanjang hari. Tapi yang dia tahu, jika dia sudah terbangun dari tidur lalu menemukan Ayahnya masih berada dirumah, itu berarti Ayahnya akan berada disini. Dirumahnya. Menemaninya. Dan mereka akan menghabiskan waktu bersama seperti yang sudah-sudah. Dan sekarang, dia memang sedang menginginkan itu. Mengingat dia hanya bisa bersama Kyuhyun diwaktu-waktu tertentu saja. Padahal dibanding dengan Sena, dia lebih manja pada pria itu.

Maka dari itu, saat melihat Kyuhyun berada disini, Joon langsung mengambil satu crayon-nya yang berwarna biru—warna kesukaannya— lalu berlari dan menunjukkannya pada Ayah. Mengajak pria dengan beda umur dua puluh enam tahun itu untuk menggambar bersama. Dia sedang sangat senang menggambar akhir-akhir ini. Apalagi saat bertemu dengan anak-anak seumurannya kemarin, mereka menggambar bersama. Walau yeah… gambar yang dibuat olehnya hanyalah kumpulan coretan tidak bermakna yang saling menumpuk satu sama lain. Dengan warna yang berbeda pula. Persis seperti cacing kepanasan. Oh tidak, cacing kepanasan saja masih memiliki arti seni. Tapi lukisan atau gambar yang dibuat Joon, sama sekali tidak berarti.

“Ayah tidak bisa. Lihat, Ayah sedang bekerja,” Kyuhyun mencoba memberikan pemahaman baru untuk putranya itu. Walau apa yang dia katakan dan tunjukkan, sangat tidak seimbang untuk anak yang baru berumur hampir tiga tahun itu. Joon mana tahu ia sedang bekerja. Yang putranya tahu itu, dia sedang berada dirumah. Dan saat ini adalah waktunya mereka untuk bermain bersama.

Pria itu menunjukkan kertas yang menumpuk dan laptop yang terbuka diatas meja setinggi kepala Joon itu, lalu tersenyum tipis lagi. “Jadi, Joon menggambar bersama Ibu saja, ya?” bujuknya sekali lagi. Lagipula dimana Sena sekarang? Sudah tahu ia sedang tidak bisa diganggu tapi malah melepas Joon begitu saja hingga anak itu bisa berakhir dengan berdiri didepannya seperti ini. Padahal dia sudah mewanti-wanti istrinya itu untuk bersiaga karena dia tidak bisa diganggu.

Sementara Kyuhyun memberikan pemahaman dan bujukan itu, Joon samasekali tidak mengalihkan pandangannya pada kertas-kertas yang menumpuk disana dengan bibir yang mengerucut lucu. Kakinya mejingkat-jingkat kecil untuk tetap melihat selembaran diatas meja itu. Karena memang tingginya, tidak melampaui tinggi meja tersebut.

Kyuhyun menghela nafas melihat anaknya samasekali tak beranjak darisana, lantas dia memanggil—lebih tepatnya meneriakkan nama istrinya, “Sena! Lee Sena! Sena-ya…” Dia tidak bisa mengerjakan pekerjaannya jika Joon tetap berada disini. Anak itu terlampau aktif untuk diberitahu, jadi, tidak akan nyaman jika ada Joon yang berkeliaran ditengah-tengah konsentrasinya.

Mendengus kasar karena yang dipanggil tidak juga menyahut apalagi datang padanya, Kyuhyun memutuskan untuk pergi mencari wanita itu. Namun langkahnya terhenti ketika dia menengokkan kepalanya kebelakang dan mendapati Joon sedang mencoret-coret kertas yang berada diatas meja itu.

Mata Kyuhyun membelalak lebar. Dan secara otomatis pula kakinya langsung berbalik arah lalu merampas kertas yang ternyata merupakan Surat Izin Gangguan (HO; Hinder Ordonantie) atas proyek yang sedang dioperasikan perusahaannya di Daegu itu dari ulah tangan Joon. Yang mau tak mau membuat berdiri anak itu oleng dan terjatuh begitu saja hingga menimbulkan suara berdebum dan rintihan dari bibir mungil Joon.

Kyuhyun mengumpat keras. Surat yang baru saja dibuka dari amplopnya itu, kini teronggok penuh coretan. Dengan suara frustasinya, Kyuhyun membentak Joon yang masih jatuh terduduk diatas bebatuan, “Tck. Ayah sudah bilang menggambar saja dengan Ibu! Joon dengar kan Ayah bilang apa tadi? Aish.. kau ini bisanya mengacau saja sih!” Dan tanpa memedulikan Joon, pria itu lantas melihat berkas-berkas lainnya. Siapa tahu ada bagian lain yang juga tercoret karena ulah anak itu.

Sena yang sejak tadi didapur untuk menyiapkan sarapan Joon, segera bergegas keluar dari sana begitu Kyuhyun memanggilnya. Dia tahu, pasti Joon menemukan Kyuhyun yang sedang berada disamping rumah dan pria yang sedang sibuk itu merasa kerepotan karena terganggu. Tapi yang Sena tidak sangka, dia akan melihat seluruh adegan itu. Saat Kyuhyun memutar langkahnya kembali yang hendak menemuinya, lalu berjalan cepat dan menyentak tubuh anaknya hingga terjatuh. Sena tahu itu hanya gerak refleks atas keterkejutan Kyuhyun saat melihat Joon mencoret-coret berkas pentingnya. Hanya saja, saat Joon terjatuh dan merintih kesakitan, kenapa Kyuhyun tidak tanggap untuk menolongnya? Dan kenapa Joon harus diberi bentakan juga? Dia masih kecil omong-omong.

Melihat putranya tidak juga dihiraukan oleh Kyuhyun, Sena melangkahkan kakinya mendekat. Dan saat itu pulalah, Kyuhyun menyadari kehadirannya lalu menatapnya dengan mata yang memicing.

“Kemana saja kau?! Kupanggil daritadi tidak menyahut juga,” ucap Kyuhyun sinis. Pria itu benar-benar kacau sekarang. Bahkan tidak memedulikan intonasi suaranya yang selama ini sebisa mungkin dia jaga untuk tidak didengar oleh putranya itu.

Sena tidak menanggapi Kyuhyun. Gadis itu terlalu muak untuk membalas ucapan suaminya. Dia tidak menyangka hanya karena Joon tidak sengaja mencoret-coret salah satu berkas pentingnya, Kyuhyun sampai setega itu tidak memedulikan anaknya yang terjatuh. Meraih Joon dalam gendongannya, Sena hendak pergi lagi. Namun terhenti ketika sebelah lengan atasnya dicekal oleh Kyuhyun. “Aku bicara padamu dan kau main pergi begitu saja?” lanjut Kyuhyun tanpa mengurangi kesinisannya.

Menghela nafas, Sena balas menantang Kyuhyun dengan suara rendahnya, “Kau tidak suka bukan jika putramu berada disini? Jadi daripada membuatmu semakin emosi, lebih baik aku membawanya pergi. Lagipula, itu kan alasan kau memanggilku?”

“Cih. Sekarang kau berlagak seakan akulah yang tidak menginginkannya. Daritadi kemana saja! Kau lihat, karena kelalaianmu, anakmu itu mencoret-coret berkas penting ini yang dia pikir adalah media untuk dirinya menggambar! Kau lihat ini!” Kyuhyun menggeleng tak percaya saat menatap hasil ulah tangan anaknya.

“Kelalaianku? Demi Tuhan Cho Kyuhyun, memangnya kau tidak bisa menungguku lebih lama lagi? Aku sedang membuatkannya sar—”

“Kau tahu aku sedang tidak bisa diganggu Sena!” bentak Kyuhyun, “Banyak masalah akhir-akhir ini. Seharusnya kau tidak meninggalkan dia sembarangan!”

“Dia hanya ingin bermain dengan Ayahnya. Apa itu salah?!” balas Sena dengan nada membentak juga.

“Sudah kubilang aku tidak bisa diganggu! Kau mengerti tidak sih?!”

Sena tertegun. Dia ingin sekali membalas kalimat Kyuhyun dengan bentakan lagi. Tapi mengingat ada Joon diantara mereka, maka dia urungkan niat tersebut. Jika Kyuhyun bisa lepas kendali, dia tidak boleh ikut terbawa suasana. Saat ini saja, Joon sudah menatap mereka dengan tatapan bingungnya. Tangan putranya itu sudah mencengkram erat kausnya. Mungkin heran atau bisa jadi takut karena tidak pernah menyaksikan orangtuanya berbicara dengan suara keras seperti ini.

“Baiklah, anggap aku memang tidak mengerti. Aku minta maaf atas ulah anakku kalau begitu. Tapi Cho Kyuhyun, menurutku kau terlalu berlebihan. Surat yang penuh dengan coretan anakku itu, bisa kau ajukan lagi. Tidak perlu seperti ini,” ucap Sena dengan menekankan kata ‘anakku’ disetiap kalimatnya. Dan Kyuhyun menyadarinya, tapi karena emosinya yang belum stabil, pria itu malah semakin terpancing.

Mendegus sinis, dia kembali berkata, “Ya, tentu saja. Orang sepertimu memang tidak mengetahui apa-apa tentang bisnis. Selalu menganggap enteng segala hal,” Kyuhyun merapikan semua berkas-berkas dan peralatannya. “Anak dan Ibu sama saja. Merepotkan,” lanjutnya lagi lalu berjalan pergi menjauhinya.

Kalimat tadi tentu saja membuat hati Sena seketika panas. Semua pengendalian dirinya runtuh sudah bersama kalimat yang baru saja Kyuhyun ucapkan. Maka dengan suara seperti orang yang tercekik, Sena berkata, “Keterlaluan sekali kau, Cho Kyuhyun! Tadi itu hanya ulah dari seorang balita! Anakmu juga! Dan umurnya baru akan mencapai tiga tahun, tapi kau menganggap seolah dia mengerti dan melakukannya dengan sengaja?!”

Mendengar ucapan Sena, saat itu pula lah langkahnya terhenti. Dia memejamkan matanya erat lalu menolehkan kepalanya menghadap Sena yang berada dibalik punggungnya. Dan seketika itu juga tenggorokannya tercekat melihat istrinya menatap penuh luka pada dirinya. Ya Tuhan.. apa yang telah dia lakukan?

Sena menarik napas dalam, kemudian berkata lagi, “Kau bahkan sadar bukan kalau kau sudah membuatnya terjatuh tadi? Tapi kenapa hanya diam saja?” gadis itu merasakan matanya memanas ketika mengingat kejadian tadi. Dia benar-benar kecewa atas sikap pria itu. Apa pengaruh pekerjaan bisa semengerikan ini?

“Ibuu..” Joon yang tidak tahu apa-apa ikut memendungkan wajahnya begitu mata melihat Ibunya yang berkaca-kaca. Seperti ikatan batin yang kuat, Joon tidak suka melihat tatapan Ibunya yang seperti itu. Mata Ibunya menyiratkan kesakitan dan kekecewaan, itu yang Joon tahu. Tangannya beralih memeluk erat leher Sena dan menenggelamkan wajahnya dipundak wanita itu. Yang dibalas Sena dengan tepukan sayang dipunggungnya.

“Aku kecewa padamu, Kyuhyun.”

“Aku tahu. Aku tahu betul masalah apa yang menimpamu sekarang ini. Dan kau boleh menyalahkanku. Tapi—” Sena menghentikan kalimatnya sebentar, tatapannya berubah tajam, “Tapi tidak dengan anak kita. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti.”

Telapak tangan Kyuhyun menggenggam erat diudara begitu Sena beranjak pergi meninggalkannya. Dia menghembuskan nafas keras. Melepas sesak yang sesaat tadi menjeratnya. Astaga.. ini masih pagi. Haruskah ia melalui hari yang seperti ini?

Bodoh. Kau sendiri yang membuat pagi ini kacau, Cho Kyuhyun! Seandainya saja kau bisa mengendalikan dirimu. Semua tidak akan seperti ini. Pekerjaan sialan!

Advertisements

76 thoughts on “Selfish

  1. Ahse says:

    sabar joon mungkin saking riyetnya kerjaan kyuhyun semua jadi di salahin, kalo kyuhyun cewe pasti nangis pusing mikirin kerjaannya😌. sena semangat ya jaga joon nya, iseng banget ya joon

    Liked by 1 person

  2. hyokwang says:

    rasanya pingin marah sama kyuhyun, tapi g bisa krna emang dia lagi pusing ngurusin perusahaan… mau nyalahin joon juga g bisa krna dia cuma anak kecil… mau nyalahin sena juga g bisa karena g bisa masak sambil ngejagain joon juga….
    tapi kyuhyun ngeselin banget, kirain pas dia dateng kerumah malem2 lihat anak istrinya dia bakal kembali seger ternyata g….

    Like

  3. ya ampuun kyu ktrlaluan bgtt..emng sih km lg nyari nafkah buat kluarga km putar otak dn bnting tulang mjuin prusahaan..tp jgn ktlaluan gtu dong..joon tkut tuh!sena jg trluka sm km..jdi gra2 ini ya prtngkrn mrka.ahh kyu yg harus mnta maaf ini mah..km jga jgn ngrmehin wnita kyu..

    Liked by 1 person

  4. fitrihajizah says:

    Kyuhyun hilang kendali gara2 pusing sama kerjaan dan secara engga langsung Joon jadi pelampiasan kekesalan Kyuhyun.
    Kyuhyun kerja keras demi keluarganya.

    Like

  5. mmatsutomo1 says:

    Sllu suka dg cerita yg spt ini. Karena bapernya bgt bgt bgt!! Ditambah lg dg penulisannya yg baguss!
    satu kalimat buat kyuhyun “Karena pekerjaan bisa ngerubah orang” haha

    Like

  6. Ckckkckc cho kyuhyun. Tapi nurutaku bener juga sii… seharusnya dy sebagai istri ngertilah ada saat nya si suami bener2 gag bisa diganggu sekalipun itu oleh anaknya sendiri. Tapi disisi lain juga sena nya seharusnya jangan lepasin joon. Dah tau kyu sibuk… ahhhh biasa ini mah …. rumah tangga namanya

    Like

  7. Baca ini serasa ngaca. Seringnya kita (kita? Gue aja kalik ya wqwq) itu susah ngebedain hal pribadi dan pekerjaan in term of emotion. (ok, maafkeun, grammar amburadul).

    Like

  8. Baru kali aku baca ff diimana kyuhyun jd ayah sinis dan marah bahkan ke anak istrinya… Kereeeen… Dan menyedihkan, tp menarik, krna beda dr yg lain, ,,,
    Hahhahaha… Kasian juga sm joon dan sena , tp gk bs jg nyalahin Kyuhyun sepenuhnya…
    Otte…??

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s