Posted in Multi-Chapter

(Un)Breakable – Chap. 7

pic-10
Cr. ByunHyunji @PosterChannel

When the Ego and Love are Collide

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena

also

Shim Changmin – Irene Kim

⌈ AU │ Multi-Chaptered ⌋

⌈ PG – 17 ⌋

⌈ GENRE ⌋

Romance, Complicated

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

 RECCOMENDED SONG 

Kyuhyun 3rd Album

Love In Time

Last Good-Bye

Davichi — Forgetting You

 RELATED STORIES 

⌈ Unclear | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 ⌋

Queensera©2016

In the end they can’t always choose what to keep. They can only choose how to let it go.

divider1

Langit-langit melengang. Ketegangan yang beberapa saat lalu terjadi kini mulai terkendali. Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Tidak ada yang memulai pergerakan lagi. Hanya berdiri ditempat masing-masing. Otak Sena bahkan masih lumpuh setelah memproses informasi yang beberapa saat lalu baru muncul lagi diingatannya. Wanita itu tidak berani menatap pria tinggi dihadapannya. Masih belum. Karena setiap ucapan yang dikeluarkan oleh Cho Kyuhyun, akan terasa seperti bahan bakar atas semua kekacauan yang dihadapinya akhir-akhir ini. Dan karena itu pulalah dia tidak berani memulai percakapan lagi.

Keadaan menjadi hening. Hanya suara hembusan nafas yang terdegar. Kyuhyun sudah tidak seemosi tadi. Pria itu hanya berdiri kaku didekat pintu. Baik dia maupun Sena, mereka sama-sama sedang berperang dalam pikirannya masing-masing. Sena yang masih tidak percaya bahwa pria yang dicintainya itu dijodohkan dengan kekasih sahabatnya sendiri. Dan Kyuhyun yang masih tidak mengerti kenapa Sena dengan begitu tololnya menyembunyikan semua ini darinya, lalu lebih memilih untuk bungkam.

Kyuhyun merasa dibodohi oleh wanita itu. Selama enam tahun mereka saling mengenal, baru kali inilah dia merasa ragu dan kecewa pada Sena. Tidak ada perasaan lain yang Kyuhyun rasakan selain perasaan itu untuk saat ini. Dia bukanlah pria yang mudah menaruh hati pada seseorang. Dia pria yang sangat mencintai kebebasan. Dan dia samasekali tidak tertarik pada sebuah ikatan. Tapi dia yakin bahwa diantara mereka pasti ada sebuah benang merah yang membentang. Ada sesuatu yang benar-benar kuat diantara mereka hingga untuk mendekati wanita lain pun dia tidak tertarik. Setelah dia bertemu Lee Sena. Lalu kini, saat dia benar-benar yakin atas apa yang hatinya rasakan, kenapa dia harus menelan semua kekecewaan ini? Bahkan sebelum semuanya dimulai.

Atau mungkin sudah? Dia hanya terlalu terbuai saja dulu sehingga tidak menyadarinya. Apa benar begitu? Jika benar maka dialah manusia terbodoh yang pernah ditemui oleh dirinya sendiri.

Menghela nafas dalam, Kyuhyun berkata lirih, “Kau mencintaiku.”

Tidak ada jawaban apapun yang diberikan oleh wanita itu. Sena masih tetap berdiri pada posisi semula. Dengan kepala yang menunduk dalam. Dan kedua tangan yang saling meremas didepan perut.

“Kau hanya takut. Takut untuk melukai sekali lagi. Benar?” tetap tidak ada tanggapan apapun, hanya tarikan nafas yang terdengar lebih berat, tapi Kyuhyun bisa melihat dari remangnya cahaya malam ini. Disana setetes air jatuh mengenai lantai. Wanita itu menangis. Sena-nya sedang bersedih, itu pasti.

Aku memang takut untuk melukai. Tapi apa yang kau pikirkan itu salah, Kyuhyun. Bukan tentang perjodohan itu. Tapi jauh sebelumnya — batin Sena.

Kyuhyun tersenyum getir. Menelan ludah pahit karena tenggorokannya tercekat, pria itu lantas berdeham halus. Mencoba melegakan apa yang dirasanya sesak. Dia ingin sekali berteriak didepan wajah wanita itu lalu mengatakan, ‘Kenapa? Kenapa kau begitu bodoh Lee Sena?!’ tapi sebisa mungkin dia tahan kalimat itu. Karena mungkin akan berakibat lebih buruk bagi wanitanya didepan sana. Hah. Lihatlah, bahkan untuk hal seperti itupun dia masih memikirkan perasan wanita itu. Dia masih memedulikannya. Miris benar.

Maka yang selanjutnya keluar dari mulutnya adalah, “Tapi sekarang—kau bahkan bukan hanya telah melukaiku, Sena. Kau membuatku seolah tidak berarti apa-apa.”

Barulah setelah selesainya kalimat itu dia ucapkan, Sena mengangkat kepalanya. Bisa dilihat oleh Kyuhyun, mata bulat bening yang sangat disukainya itu kini memerah. Pipi yang selalu pas dalam tangkupannnya kini membasah, mengalirkan anak sungai air mata yang berujung didagu. Dan bibir yang selalu menjadi candunya, bergetar rapat. Menahan isakan. Benar-benar ciri khas Lee Sena. Menangis tapi tidak pernah mengeluarkan suara.

Inilah yang membuatnya semakin benci. Entah pada dirinya yang mudah dibodohi atau pada Sena yang begitu tega. Kyuhyun benci wanita yang lemah dan cengeng. Kyuhyun membenci air mata. Dan wanita yang berdiri beberapa langkah darinya itu, selalu berhasil membuatnya menggeram tidak suka. Wanita itu berhasil mengeluarkan air mata disaat dirinya mencoba untuk tidak mau peduli.

Dalam keadaan seperti ini, Kyuhyun ingin sekali berlari kearahnya. Mendekapnya erat. Lalu mengatakan semua akan baik-baik saja. Tapi luka itu begitu parah, hingga Kyuhyun tidak berani melakukannya. Karena jika dia berani melakukan hal itu, maka hatinya yang akan semakin berdarah.

Dia menginginkan Sena. Tapi jika Sena tidak menginginkannya, apalah arti dirinya.

.

(Un)Breakable

.

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Dan hari akan selalu berganti dengan minggu. Sebanyak apapun detik terus berdetak, sebanyak itu pula Sena menjalani hidup barunya. Sendiri. Dimana dia benar-benar mengasingkan raganya.

Dirinya dan Kyuhyun sudah benar-benar berakhir. Bahkan sebelum ikatan itu terjalin. Sebelum dia dengan lantang membalas perasaannya. Dia tetap bungkam dan Kyuhyun memilih menyerah. Pria itu mundur karenanya. Tanpa memperjuangkan apapun.

Sena memang memutuskan untuk diam dan pergi tapi tidak pernah meninggalkan. Disebut apa perasaan itu?

Empat minggu sejak keputusan Kyuhyun dan Irene yang dijodohkan terdengar olehnya, kegiatan Sena sekarang lebih lengang. Dia menolak semua tawaran pekerjaan yang datang padanya. Sampai Yoorin bertanya-tanya, ada apa dengan dirinya yang berubah begitu drastis. Manajernya itu selalu memaksa meminta alasan kenapa dia seperti ini, kenapa seperti itu tapi dia masih sama. Tetap bungkam.

Empat minggu pula dia tidak melihat Shim Changmin. Entah kemana perginya pria tinggi itu. Tapi yang Sena inginkan adalah melihat kondisinya. Changmin pasti terluka parah. Mendapati wanita yang dicintainya —sekali lagi— harus ditakdirkan dengan Kyuhyun. Memangnya apa yang lebih buruk dari fakta tersebut?

Sementara Irene, karena sejak awal Sena memang tidak dekat wanita itu, dia tidak tahu bagaimana kabarnya. Tapi bisa Sena pastikan, Irene pasti juga sedang berkabung. Perjodohan atas nama bisnis bukanlah sesuatu yang mudah ditolak apalagi dengan latar belakang keluarga yang memiliki nama besar. Sedangkan dia sendiri tahu bagaimana watak mantan kekasihnya itu, Changmin—bisa jadi mengalah sekali lagi. Dan berakhir melukai wanita itu.

Mengetahui fakta tersebut, dia menyeri sendiri. Seandainya saja keadaannya tidak seperti ini, sebisa mungkin dia akan tetap berada disamping Kyuhyun. Membuat pria itu tetap bertahan disisinya. Lalu mereka—berempat—sama-sama menolak usulan perjodohan itu. Tapi sekarang.. jangankan untuk menolak, membuat Kyuhyun bertahan pun dia tidak bisa.

Sena tidak akan bertanya-tanya bagaimana Kyuhyun. Apa yang dilakukan pria itu. Dan dimana dia. Terlalu tidak tahu diri jika dia berani menanyakan itu. Walau pada kenyataannya, memanglah Cho Kyuhyun yang selalu memenuhi pikirannya setiap hari. Membayangkan seperti apa kehidupan pria itu setelah malam dimana mereka benar-benar berpisah. Apakah sama sepertinya yang selalu diliputi kesedihan? Atau memang hanya dia yang merasakannya?

Sena tidak tahu. Tapi dia selalu dihantui rasa ingin tahu.

Tiit.

Klek.

Suara pintu terbuka. Sena yang memang sedang menghadap luar melalui jendela balkonnya pun menoleh. Dia melihat Yoorin sedang mengibas-ibaskan mantel yang baru saja dipakainya. Membersihkannya dari butiran salju yang menempel disana.

Musim dingin sudah mulai tiba. Ini pertengahan bulan Desember.

Setelah meletakkan mantelnya diatas punggung sofa, Yoorin dengan desisan karena kedinginan pun berjalan kearah dapur. “Sshh.. salju membuatku begitu buruk. Parah. Parah sekali keadaan diluar, Sena.” katanya sambil menyeruput secangkir teh hangat yang baru saja dia tuang dari teko.

“Kau sudah makan? Aku membelikanmu pangsit dikedai biasa. Saat dijalan tadi tiba-tiba aku ingin ini. Mumpung masih hangat, bagaimana jika kita makan dulu? Kau belum makan kan pastinya?”

Sena tersenyum kecil. Yoorin ini sangat cerewet. Tapi karena kecerewetanya itu pula wanita itu menunjukkan perhatian yang lebih padanya. Itulah kenapa Sena sangat haru bisa memiliki sahabat sekaligus rekan kerja seperti Yoorin.

“Aku tidak lapar.”

“Tck. Aku sangat tidak suka dengan kalimat itu. Ayolah Sena..” Yoorin kembali sibuk mengambil mangkuk dan piring kecil untuk meletakkan pangsit. Wanita itu bergerak gesit kesana-kemari untuk menyiapkan semuanya. Namun begitu tak mendapat respon apa-apa dari Sena, gadis itu lantas menoleh. Dia menatap Sena yang sedang menatapnya dalam diam. Menarik nafas, dia pun kembali berkata, “Apa sesuatu yang ingin kau bicarakan itu benar-benar sangat penting?” Ya, Yoorin memang diminta untuk datang ke apartemennya karena ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin sahabatnya itu sampaikan padanya.

Sena mengangguk.

“Tidak bisa disela dengan makan terlebih dulu?”

Terdiam sebentar lantas Sena menggeleng.

“Tapi ini sedang hangat-hangatnya lho Sena. Kau yakin tidak mau?”

Sena kembali menggeleng. Kali ini dengan sedikit sudut bibir yang terangkat.

Yoorin mendesah pasrah. Wanita itu menatap pangsit yang sudah tersaji didalam mangkuk dengan tatapan sedih. Ahh.. dia jadi lapar melihatnya. Eiy—tidak. Dia memang sedang lapar saat ini.

Mengangguk sungkan, dia pun berkata, “Baiklah.. kita bicarakan masalah yang penting itu dulu. Baru setelahnya, kita makan. Sekarang katakan,” katanya menekankan kalimat masalah yang penting itu.

Sena terkekeh kecil. “Ikut aku sebentar,” katanya pelan.

“Memangnya tidak bisa dibicarakan disini?”

“Yoorin..”

“Baiklah. Baiklah..” Yoorin mengikuti langkah Sena memasuki kamarnya. Ia sendiri heran, di apartemen ini hanya ada mereka berdua. Apa harus mereka membicarakannya didalam kamar juga? Apa sesuatu yang akan dikatakan Sena benar-benar sangat penting? Yoorin menggeleng keras. Ah, dia mana tahu.

Memasuki kamar Sena, wanita itu memutuskan untuk duduk disofa besar yang tersedia disana selagi menunggu sahabatnya yang menghilang dibalik walk in closet. Kamar Sena sangat luas. Bagaimana tidak, ini Galleria Foret. Apartemen termewah yang berada di Seoul. Jadi tidak heran jika didalam kamarnya pun tetap ada satu set ruang duduk plus TV. Ahh.. Lagipula selain karena pekerjaannya yang memang memiliki bayaran mahal, Sena juga merupakan salah satu cucu dari pemilik perusahaan adidaya sih. Jadi Yoorin tidak perlu berdecak kagum dengan kemewahan ini.

Sena kembali dengan membawa serta sebuah amplop. Berisi apa itu, Yoorin tidak tahu. Tapi yang pasti sesuatu penting itu dia yakini ada disana. Wanita itu duduk disebelahnya. Sedangkan amplop yang dibawanya, dia letakkan diatas pangkuan.

“Apa itu Sena?”

Sena menghembuskan nafas kemudian berkata, “Nanti akan kuberitahu.”

“Jadi—” Yoorin mengangkat bahunya tak peduli lalu menyandarkan tubuhnya dipunggung sofa. Ahh.. nyaman sekali. Setelah tadi dia berlari-lari dari halte—karena tidak membawa mobil—untuk menghindari salju, dia bisa beristirahat juga akhirnya.  “Apa yang ingin kau bicarakan?” lanjutnya lagi dengan mata yang terpejam. Menikmati hangat dan nyamannya kamar Sena.

“Aku ingin vakum, Yoo.” jawab Sena pelan.

Yoorin membuka matanya sekejab. Memandang langit-langit kamar yang lengang memenuhi kedua bola matanya, “Apa?” tanyanya lambat.

“Aku ingin berhenti dari aktivitas ku. Entah itu enam bulan. Setahun. Dua tahun. Atau mungkin tidak melanjutkannya lagi samasekali. Aku tidak tahu. Tapi aku ingin vakum.”

Wanita bertubuh mungil itu menegakkan tubuhnya tiba-tiba. “Kau ini bicara apa!” tolak Yoorin mentah-mentah. Pura-pura tak mengerti, walau sebenarnya dia paham betul maksud dari perkataan Sena. Yang benar saja! Vakum? Berhenti?

“Aku serius, Yoo. Aku ingin berhenti. Mungkin ini akan membuatmu kehilangan salah satu pekerjaanmu. Sebagai manajerku. Tapi aku benar-benar ingin berhenti. Setidaknya untuk saat ini,” terang Sena dengan suara yang melirih. Wanita itu memandang sahabatnya dengan tatapan tidak enak. Tapi inilah yang harus dia lakukan. Penyakitnya semakin memburuk. Dan dia tidak mungkin terus-terusan beraktivitas sementara dia membutuhkan istirahat dan waktu yang dia pikir tidak akan lama lagi.

Yoorin terdiam. Wanita itu hanya menatap Sena dengan raut penuh pertanyaan. “Aku janji, aku akan menuntaskan kontrak dengan Chuu sampai akhir bulan ini. Tapi untuk selanjutnya, aku tidak bisa. Aku min—”

“Tidak. Tidak. Bukan itu masalahku. Aku masih memiliki café, kau ingat? Aku masih bisa bekerja di café-ku sendiri. Dan menuai penghasilan darisana. Jadi aku tidak benar-benar akan menjadi pengangguran. Hanya saja—kau yakin dengan keputusanmu?”

Sena terdiam. Yakinkah dia? Sena sangat menikmati kehidupannya yang dulu. Sena sangat menyukai pekerjaannya. Tapi saat dalam kondisi seperti ini, bagaimanapun atau seperti apapun pekerjaan yang dia lakoni, bukankah keputusan untuk berhenti akan jauh lebih baik? Walau harus mengorbankan kesenangan itu.

Dengan perlahan, wanita itu menyerahkan amplop yang berada dipangkuannya sejak tadi pada Yoorin. Dibalas dengan sebuah kernyitan didahi oleh si wanita tubuh mungil. Tapi Sena hanya mengangguk. Mengijinkan sahabatnya untuk membuka dan membaca apa isi dari amplop itu.

Dengan penuh keraguan juga, Yoorin membuka amplop tersebut lantas membaca isinya. Dan sesuatu yang pertama kali direspon oleh otaknya adalah fakta bahwa Yoorin tidak mengerti dengan istilah-istilah yang tertera disana. Dia hanya tahu surat yang berada digenggamannya berasal dari sebuah rumah sakit ternama. Terlihat dari bagian kop-nya. Alisnys mengernyit berulang kali tanda tidak mengerti. Sementara Sena masih terus memerhatikan ekspresi wajah sahabatnya dalam diam. Hingga kemudian kedua mata Yoorin melebar begitu memasuki halaman kedua surat tersebut. Tubuhnya menegang. Bulu kuduknya meremang dan jantungnya dibuat berdegup kencang. Ini..

Tidak berniat meneruskan apa yang diterangkan disana, Yoorin menatap Sena yang kini sedang tesenyum getir padanya. Sena tahu Yoorin pasti sudah menangkap keselurahan isi dan maksud dari surat tersebut. Mata Yoorin memanas dan tiba-tiba saja dia merasa tercekat. “Se-sena.. Ini—kau. K-kau.. Ah tidak, ini past-ti—”

Sena menganggukan kepalanya pelan. Menghela nafas, wanita itu lantas berkata dengan lirih, “Aku sakit.”

Yoorin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Degup jantungnya semakin mengencang hingga rasanya dia takut jika organ vitalnya itu tiba-tiba akan terlepas lalu kemudian jatuh tidak tertolong diatas lantai. Matanya sudah tidak fokus. Dan pikirannya sudah melanglang-buana dipenuhi dengan hal-hal yang negatif. Sekeras apapun dia berusaha untuk tetap tenang, tapi rasanya akan tetap sia-sia, ketika wanita dihadapannya malah membuat apa yang dia baca tadi seolah menjadi kenyataan. Yoorin tidak ingin percaya. Yoorin yakin semua ini adalah akal-akalan Sena saja agar wanita itu bisa mendapatkan ijinnya untuk berhenti. Tapi..

“Aku tidak mungkin meneruskan semua aktivitasku. Aku harus berhenti.”

Yoorin kembali menggeleng keras. Tidak mungkin. Bagaimana bisa?

“Aku tahu kau memang tidak percaya. Tapi memang begitulah adanya—aku sakit dan aku harus berhenti, Yoo.” tegas Sena sekali lagi. Menatap lirih sahabatnya.

“B-bagai—bagaimana bisa?”

Sena mengangkat kedua bahunya lemah. Menggeleng miris. Karena dia sendiri pun masih memiliki pertanyaan itu. Walau sudah jelas diberitahu oleh dokter Kim tentang apa yang membuatnya bisa memiliki riwayat penyakit seperti ini.

“Sena, kau—”

“Apa aku terlihat seperti berbohong?” Wanita itu menatap terluka pada sahabatnya. Dibalas oleh Yoorin dengan tatapan—masih—tidak percayanya. “Ini yang aku takutkan, Yoo. Semua orang tidak akan percaya. Semua orang akan bertanya-tanya. Lalu aku harus bilang apa jika memang inilah kebenarannya?” Setetes air itu kembali jatuh melewati pipinya.

Yoorin yang ikut merasakan sesaknya, menggeser tubuhnya agar lebih dekat. Wanita itu mendekap tubuh Sena dengan erat. Menangis dibahunya dengan isakan yang tergugu. Berulang kali mengatakan bahwa dia tidak bisa mempercayai ini semua.

“Kenapa baru sekarang, Sena? Kenapa?”

Sena tidak ingin menangis. Dia sudah lelah. Tapi begitu melihat sahabatnya tergugu, dia juga tidak bisa menahannya. Dia terlalu menyedihkan. Dengan tangan yang masih balas memeluk Yoorin, Sena menghela nafas dalam. “Aku tidak bisa menerima diriku sendiri. Aku juga takut. Aku membutuhkan waktu. Dan aku sama tidak percayanya denganmu.”

Hening. Hanya suara isakan Yoorin yang terdengar. Wanita itu merasa tak berguna sebagai sahabat. Bagaimana bisa dia alpa akan hal ini? Dari semua ketidak-wajaran yang Sena tunjukkan, kenapa dia tidak peka? Sahabatnya menanggung semua beban ini sendiri, sementara dia malah asyik-asyikan tidak tahu. Dia benar-benar buruk.

“Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan… Aku..”

“Tidak. Jangan berkata seperti itu. Tidak ada yang bersalah disini. Tidak ada. Kalaupun ada, itu hanya aku. Bukan kau,” ungkap Sena menenangkan walau hatinya sendiri bahkan menjerit didalam sana.

Yoorin melepaskan pelukannya. Wanita itu mengusap kedua pipinya dengan kasar lantas bertanya dengan nada menuntut, “Hyukjae Oppa?”

Sena menatap mata Yoorin mencari tahu. Setelah paham akan maksud dari wanita itu, dia lantas menggeleng.

“Kyuhyun?”

Sena menunduk. Menggeleng sekali lagi.

“Jadi aku yang pertama?”

Sena terdiam.

Yoorin lantas mendesah gemas. Bagaimana bisa Sena menempatkannya sebagai yang pertama? Sedangkan wanita itu masih memiliki keluarga. Masih memiliki seseorang yang bisa dia andalkan.

“Kenapa?” Yoorin bertanya sekali lagi.

“Aku tidak tahu, Yoo.”

Hening. Wanita itu terdiam menatap sahabatnya. Air matanya masih mengaloir deras disana, membasahi sebagian besar wajahnya. Lantas berkata, “Kau takut.” Yoorin mengangguk paham. Dia bisa merasakan bagaimana dirinya jika berada diposisi wanita itu. Dan Sena juga mengerti, kalimat tadi adalah sebuah pernyataan.

“Tapi mereka harus tahu, Sena. Kau tidak bisa menyembunyikan ini terus-menerus.”

“Aku tahu. Aku akan memberitahunya nanti.”

“Nanti. Nanti kapan? Kau bahkan—kau bahkan membutuhkan Hyukjae Oppa untuk menandatangani surat itu.”

Sena menggeleng tegas. “Nanti, Yoo..”

“Sena jangan keras kepala!” sentak Yoorin kesal sekaligus frustasi. “Aku mohon. Ini demi kau juga..” Wanita itu menangis lagi. Begitu heran dengan kekeras-kepalaan sahabatnya. Dia tahu rasanya bagaimana ketakutan, tapi ini bukanlah masalah sepele yang bisa didiamkan begitu saja. Ini juga menyangkut hidup.

Lama mereka terdiam. Tidak ada tanggapan samasekali dari Sena. Sahabatnya itu hanya terus menunduk. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya tapi menurut Yoorin, jalan untuk mempermudah semua ini adalah dengan Sena yang memberitahu keluarganya. Yoorin tidak sanggup melihat sahabatnya terkurung sendirian disini. Sena membutuhkan mereka.

“Sena..” suaranya sedikit agak meninggi. Demi Tuhan.. ini masalah serius. Sena tidak boleh berdiam diri terus seperti ini. “Kalau begitu biar aku yang akan memberitahukan semua ini pada Hyukjae Oppa,” Yoorin tanpa tedeng aling-aling langsung menyambar surat-surat itu beserta amplopnya. Wanita itu bergegas berdiri. Jika Sena tidak bisa mengatakannya, maka dia yang akan menjadi mulut tangan wanita tersebut. Dia akan menyerahkan semua bukti ini pada Lee Hyukjae.

“Yoo!” teriak Sena gelagapan begitu sadar sahabatnya tidak main-main. Namun oleh Yoorin, teriakan itu tidak ditanggapi. “Yoorin.. kumohon—” Sekali lagi dengan suara yang berada diujung tenggorokan Sena memanggilnya. Wanita itu dengan gegas mengikuti langkah Yoorin yang lebar-lebar dan cepat. Keluar dari kamarnya, melewati ruang tengah lalu menuju pintu keluar. Hingga kemudian—karena tidak hati-hati—tulang kakinya menubruk sebuah meja rendah yang ada disana dan membuatnya terjatuh. Dia merintih. Ini sakit. Tapi Yoorin harus dihentikan. Dia belum sanggup memberitahu orang lain sekarang juga.

“Aku mohon jangan Yoorin!” pekik Sena dengan nada frustasi saat melihat tangan sahabatnya sudah meraih gagang pintu. Suaranya melengking hebat. Penuh ketakutan. Dan begitu Yoorin memutar tubuhnya menghadap Sena, dia bisa melihat seberapa deras air matanya yang keluar. Tubuhnya bergetar tak terkendali disamping meja bundar kecil disana. Wanita itu bersimpuh memohon padanya. Yoorin bersumpah, ini adalah pertama kali baginya melihat Sena menangis begitu kencang.

Apa kau setakut itu Sena?

Yoorin mengkaku ditempat. Matanya menatap nanar sahabatnya. Hatinya mencelos tidak terima. Demi Tuhan.. dia tidak tahu harus mengambil tindakan seperti apa. Dia hanya ingin segera memberitahukan perihal ini pada Lee Hyukjae, karena pria itu adalah Kakak Sulung sahabatnya. Keluarga kandung yang Sena miliki di Seoul. Tapi disisi lain, dia begitu tidak tega melihat wanita itu memohon – bersimpuh – menangis padanya.

Bisa dilihat oleh matanya yang telah membasah, Sena menggelangkan kepalanya berulang kali. Seraya merapalkan kalimat ‘Jangan..’ secara terus menerus. Menghela nafas, memejamkan matanya begitu erat, Yoorin memutuskan untuk tetap menuruti Sena. Dengan langkah tersendat, wanita bertubuh mungil itu berjalan mendekatinya. Meraih bahu Sena lalu memeluknya sekali lagi. Begitu erat. Lantas mengucapkan, “Maafkan aku.. Maaf..”

.

(Un)Breakable

.

Empat minggu bagi Cho Kyuhyun terasa bagaikan neraka. Empat minggu bagi Cho Kyuhyun yang terasa begitu hampa. Empat minggu bagi Cho Kyuhyun terasa bagai bertahun-tahun lamanya.

Dan selama empat minggu itu pula Kyuhyun sudah tidak tinggal dirumahnya. Setelah kejadian itu, hubungannya dengan Ibunya kian merenggang. Kyuhyun memutuskan untuk tinggal disebuah apartemen yang pernah dibelinya dulu. Atau paling tidak, dia tinggal dikantornya. Yang jelas, dia sedang menjauhi semuanya. Termasuk bagaimana kabar Shim Changmin dan Irene Kim setelah perjodohan itu tercetus pun dia tidak tahu. Tidak mau tahu. Hidupnya saja sudah rumit, untuk apa dia memikirkan orang lain?

Tapi faktanya, Kyuhyun tidak bisa mengabaikan itu semua. Seberapa keras dia berusaha melupakan, mengabaikan, dia tetap saja memikirkan itu semua. Apapun yang dia lakukan akan berujung pada hal yang itu-itu lagi.

Terdengar drama sekali untuk seorang pria yang sedang patah hati. Tapi memang begitu adanya, harus bagaimana? Hati sakit. Hati Senang. Hati terluka. Hati damai. Siapa yang tahu? Manusia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada hidupnya bahkan pada detik dia bernafas. Semuanya misteri. Termasuk saat mengalami patah hati. Itu juga sebuah misteri. Sejauh apapun kita menghindarinya, tapi jika Tuhan menghendaki kita memiliki hati yang terluka, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kecuali bersabar dan menerima.

Dan Cho Kyuhyun sedang menjalaninya.

“Nah! Aku benar kan kau ada disini,” sahut suara keras seseorang tiba-tiba. Menepuk punggungnya lumayan kencang. Tapi tidak membuat Kyuhyun menoleh sedikitpun. Fokus pria itu masih tertuju pada segelas sampanye dihadapannya. Atau malah dia hanya menatap kosong kearah benda bening berisi cairan keemasan itu. Tidak dihiraukannya suara lega itu.

Susana malam ini sangat ramai. Karena memang dia sedang berada disebuah pub terkenal yang terletak didaerah Junghwa-dong. Pub yang selalu dia datangi saat merasa lelah karena pekerjaan. Atau saat dia sedang bosan lalu ingin mencari hiburan. Pub yang—kebetulan—posisinya tidak begitu jauh dari apartemen wanita itu. Hanya sepelemparan batu saja.

Lihatlah! Bukankah dirinya terlihat begitu kasihan? Bilang tidak mau berurusan dengannya lagi. Bilang tidak mau peduli. Tapi nyatanya, bahkan setelah menyelesaikan—lebih tepatnya mangkir dari pekerjaan kantornya, dia langsung mengemudikan mobilnya menuju apartemen wanita itu. Berdiam diri lama di basement-nya. Hingga kemudian menyadari ketololannya lalu memutuskan untuk berada disini.

Hal ini bukan yang pertama kalinya terjadi sejak hari itu. Sugesti yang dia ucapkan pada dirinya sendiri tidak berbuah apa-apa. Kyuhyun selalu mendapati dirinya seperti ini. Pergi – berdiam – sadar lalu berakhir lagi-lagi di tempat ini. Melamun.

Empat minggu berlalu bukannya lebih baik tapi pikirannya makin kacau. Mungkin beda jika jalan ceritanya mereka hanya terpisah jarak antara Seoul-Singapure lalu mereka tidak bisa bertemu berbulan-bulan. Seperti waktu itu. Tapi ini? Setelah kalimat itu tercetus dari mulutnya, jangankan untuk saling bertemu, dengan jarak yang begitu dekat pun mereka tidak bisa saling menyapa. Entah Sena bisa merasakannya juga atau tidak, tapi dengan jarak yang sedekat ini, rindu yang Kyuhyun miliki itu malah semakin menumpuk. Minta dilepaskan dari tempatnya. Tapi sekali lagi, memangnya dia bisa apa?

“Bos?” Minho—si pemilik suara lega itu, sekali lagi menepuk bahu Kyuhyun. Dan masih tetap, tidak ada sahutan dari orang yang dia panggil itu.

“Hyung..” lagi-lagi dia memanggil. Kali ini dengan sebutan yang lebih akrab. Lagipula Kyuhyun pernah memintanya memanggil dengan sebutan itu jika mereka sudah berada diluar jam kantor. Atau jika mereka kebetulan bertemu disuatu tempat yang tidak melibatkan bisnis.

Pikirnya, dengan panggilan ini Kyuhyun mungkin akan sudi menatapnya.

Tapi nyatanya tidak. Minho memberengut masam. Kyuhyun samasekali tidak menyahut panggilannya. Padahal kepala mereka sudah peris bersisian. Yang artinya jarak mereka sudah dekat, hanya dipisah sepenggal lengan saja.

Minho hampir akan memanggil Kyuhyun lagi saat Bos-nya itu berkata dengan nada malas, “Berhenti mengikutiku terus Minho-ya.” Lalu mengangkat wajahnya menatap tidak suka pria muda dihadapannya.

Minho menelan ludah. Kenapa Kyuhyun bisa tahu? Bukankah selama ini dia selalu pandai bersembunyi? Dia jadi gugup sendiri.

Akhir-akhir ini, pria dengan usia yang terpaut hampir empat tahun dengan Kyuhyun itu memang selalu memperhatikannya bahkan seperti yang Kyuhyun bilang—mengikutinya. Hal ini Minho lakukan tepatnya setelah dia tahu bahwa kehadiran KyuHulk itu merasuki jiwa atasannya. Awalnya hanya penasaran saja pada apa yang membuat Kyuhyun selalu uring-uringan tidak jelas saat dikantor tapi lama-lama dia malah jadi asyik sendiri mengikuti Kyuhyun diam-diam. Tidak setiap hari memang, hanya diwaktu-waktu tertentu. Makanya hampir tujuh puluh delapan persen kemanapun Kyuhyun pergi, dia selalu tahu. Dan malam ini, tebakannya memang benar. Kyuhyun sedang berada di pub. Perlakuan yang sama persis seperti hari-hari bahkan minggu-minggu sebelumnya ketika Bos-nya itu selalu mangkir dari jam kerja.

“Eh—itu..”

“Pulanglah.”

“Eh?”

Kyuhyun mendesah berat. Menuang sampanye lagi pada isi gelasnya yang sudah tandas. Dia enggan menjawab. Malas. Terserah si Minho itu akan tetap disini atau tidak. Peduli apa dia?

Berdeham sejenak, Minho lantas berkata, “Ada yang ingin bertemu denganmu..”

Kyuhyun menolehkan kembali wajahnya pada Minho. Mengerutkan alisnya. Sementara Minho menunjuk seseorang yang berada dibalik punggungnya. Seseorang yang ingin bertemu dengan pria itu. Kyuhyun lantas menggeser kepalanya. Menatap lama orang tersebut untuk kemudian mendengus. Tak mau memedulikan orang tersebut apalagi Choi Minho, dia kembali sibuk dengan minumannya. Menyesapnya pelan seakan tak ingin kenikmatan yang dia rasakan itu cepat-cepat berlalu.

“Kyuhyun..” panggil orang itu. Namun seperti tadi, Kyuhyun enggan menghiraukan. “Kyuhyun, kita perlu bicara!” sentak orang itu menarik siku Kyuhyun hingga tubuh mereka kini berhadapan.

“Kau tidak bisa seperti ini terus. Bantu aku. Ban—”

“APA YANG KAU HARAPKAN KIM HYERIN!! APA LAGI?!” Kyuhyun meledak seketika. Berdiri menjulang dihadapan Irene, membuat kursi yang tadi dia duduki terjungkal kebelakang. Teriakannya begitu menggema. Sarat akan emosi dan kefrustasian. Hingga membuat keadaan disekitar mereka mendadak hening. Orang-orang yang berada disana menatap mereka dengan raut wajah penasaran. Namun kemudian, seolah memahami medan bahwa ini hanyalah kisah kacangan pertengkaran antara sepasang kekasih, mereka kembali pada kesenangan masing-masing.

Mata Irene berkaca-kaca. Bukan karena teriakan Kyuhyun melainkan karena kalimat pria itu. Apa yang dia harapkan? Jelas banyak yang dia harapkan. Apa dia harus mendaftarnya lalu menunjukkannya pada Kyuhyun agar pria itu mengerti?

“Dengar,” Kyuhyun mencengkram dua bahu Irene kencang. Matanya menatap nyalang pada gadis itu. “Kekasihmu itu—dia bahkan tidak memperjuangkanmu, benar? Dia pergi. Dan para orang tua itu semakin memaksa kita. Kau tahu itu? Se-ma-kin memaksa. Mereka terlalu keras,” lanjutnya dengan suara tercekat.

“Changmin tidak seperti itu, Kyu.. Dia tidak pergi.”

“Lalu bisa kau jelaskan kenapa dia menghilang dan diantara kita tidak ada yang tahu kemana dia?! Kau bisa menjelaskannya?! Tidak bukan?”

“Kau sendiri? Kau akan menyerah begitu saja? Kau akan tetap membiarkan pernikahan itu berlangsung Cho Kyuhyun?” Kedua tangan Irene menggenggam erat jas Kyuhyun, memohon pada pria itu untuk tidak mengatakan ‘iya’ atas pertanyaannya tadi. Dia yakin Changmin pasti akan kembali. Changmin akan menariknya lalu membuat perjodohan dan pernikahan itu batal.

“Tidak bukan?” katanya sekali lagi, “Kumohon.. Bantu aku. Aku tidak mungkin hidup bersamamu Cho Kyuhyun. Kau tahu betul bagaimana kami. Aku mencintainya.”

Kyuhyun tersenyum sinis. Tangannya melepas kedua tangan Irene yang mencengkram jasnya erat, “Kau pikir aku tidak memiliki cinta huh?”

“Kalau begitu perjuangkan cintamu! Setidaknya ada diantara kita yang memiliki alasan Kyuhyun! Seperti yang kau bilang, para orang tua itu akan terus menekan kita. Mom akan menekanku. Jika aku tidak bisa membawa Changmin kehadapan Ibumu, kau bisa membawa Sena!”

“Jangan menyebut namanya dihadapanku Kim Hyerin!” sentak Kyuhyun lagi. Pria itu mengusap wajahnya frustasi. Nafasnya memburu. Sial! Wanita dihadapannya ini tidak tahu apa-apa mengenai hubungannya dengan Sena. Dan lagi, apa dia bilang? Membawa Sena kehadapan Ibunya? Yang benar saja!

“Kau—kau kenapa?” tanya Irene perlahan. Gadis itu memandangnya tidak mengerti. Menatap awas raut wajah Kyuhyun yang memerah karena menahan emosi. Hingga kemudian suara Kim Hana saat mereka makan malam bersama waktu itu melintas bagai hembusan angin ditelingnya, “Kalian akan tetap kami jodohkan. Bahkan kami sudah menentukan tanggal pernikahan kalian. Kau tidak akan bisa kemana-mana. Sekalipun kembali pada pelacurmu itu!”(Chap. 6). Irene menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Apa itu.. apa yang dimaksud dengan pelacur itu adalah Sena? Jika begitu, apa Kim Hana tidak menyukai Sena?

“Jangan pernah lagi menyebut namanya. Kau dengar itu? Jika sekali saja kau mencoba menyebut nama itu lagi dihadapanku aku tidak akan segan merobek mulutmu,” ucap Kyuhyun tegas lantas beranjak pergi darisana. Meninggalkan Irene dalam kebingungan. Dan Minho yang tidak tahu apa-apa.

.

(Un)Breakable

.

Sementara ditempat lain, seseorang baru saja menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur. Melenguh lelah setelah berminggu-minggu melarikan diri. Tubuhnya yang tinggi menjulang dibiarkan menggeletak bagaikan barang bekas pakai diatas kasur.

Changmin tidak menyangka dia akan mengalami patah hati untuk yang kedua kali. Ah tidak—ini bukan yang kedua kali. Kali ini bukan patah hati yang dia rasakan, melainkan ketidak-mampuan. Dia payah. Dia tidak bisa melawan sesuatu untuk kepentingannya sendiri. Untuk kebahagiaannya sendiri.

Kim Hana—Ibu angkatnya yang begitu dia sayangi layaknya Ibu sendiri, setelah malam menyesakkan itu, bilang padanya bahwa dia sangat mengharapkan perjodohan itu. Perjodohan yang tanpa wanita paruh baya itu ketahui telah melibatkan kekasih dan saudaranya sendiri. Perjodohan yang membuat hatinya yang memang tidak bertulang seketika meremuk. Runtuh bersama harapan-harapan masa depan yang ingin dia bangun.

Changmin resah. Banyak pertanyaan yang bersarang pada otaknya. Bukan karena tidak percaya pada kekasihnya ataupun Kyuhyun. Dan menduga bahwa mereka bermain curang dibelakangnya. Dia—sungguh amat percaya bahwa kedua orang itu tidak mungkin akan menyakitinya seperti ini. Irene sangat mencintainya. Sama seperti Kyuhyun yang mencintai mantan kekasihnya itu.

Ini lebih ke persoalan balas budi. Dia hidup. Dia besar. Dia sukses. Semua karena bantuan dan dukungan dari orang tua angkatnya. Dan saat mengetahui serta memahami keinginan terbesar Ibu angkatnya saat ini, perasannya dibuat bimbang. Pertanyaan-pertanyaan akan apa jalan yang harus dia ambil memenuhi kepalanya. Dilemma. Memilih antara tetap hidup bersama gadis pilihannya tapi mengecewakan Ibu dan Ayah angkatnya atau mengundurkan diri dan memberikan kesempatan pada hatinya untuk terluka sekali lagi.

Tidak ada yang baik diantara keduanya. Pilihan-pilihan itu sama menyakitkannya. Tidak bisa membantunya samasekali.

Dan karena itu pulalah dia pergi. Mengasingkan diri ditempat yang bisa membuat hatinya damai. Tapi sekali lagi, sejauh apapun dia melangkah. Sepandai apapun dia bersembunyi. Pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu mengikutinya. Keputusan tentang apa yang harus dia ambil, akan selalu menghantuinya.

.

(Un)Breakable

.

Chaerin menuruni tangga dengan semangat begitu mendengar bunyi bel. Kaki-kaki lincahnya sangat gesit meniti setiap anak tangga. Membuat Eunso yang ada disana menggeram gemas melihat kelakuan gadis berusia enam tahun itu

“Astaga.. Chaerin! Jangan terburu-buru begitu!” teriaknya dari belakang. Mengikuti langkah anaknya. “Nanti kau terjatuh..” ungkapnya sekali lagi namun tidak dihiraukan samasekali oleh Lee Chaerin.

Begitu sampai didepan pintu utama, Chaerin dengan cekatan langsung membuka salah satu daun pintunya. “Welcome Home, Aunty!” teriaknya seraya merentangkan tangan minta dipeluk oleh seorang wanita yang ada dihadapannya.

Sena—wanita itu, dibuat terkekeh melihat betapa riangnya Chaerin menyambutnya didepan pintu. Dengan hati yang menghangat, dia membungkukkan badannya lantas memeluk tubuh mungil gadis dihadapannya.

“Chaerin rindu sekali pada Aunty..” ucap gadis cilik itu lagi.

Sena melepas pelukan itu. “Oh ya?”

Chaerin mengangguk kuat, lantas berkata, “Ya! Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Mama dan Papa. Eh.. Chaera Unnie juga. Tanyakan saja pada mereka.”

“Baiklah.. Aunty percaya padamu. Lagipula Aunty juga merindukan Chaerin,” jawab Sena dengan menjawil hidung bangir keponakannya. Dia lalu berdiri, tersenyum pada Eunso sejenak lalu mengusap surai cokelat Chaerin.

“Dia sangat antusias sekali saat kuberitahu kau akan datang hari ini. Makanya begitu mendengar suara bel, dia langsung terlonjak bangun dan berlari kearah pintu. Tidak sadar Mama-nya dibuat gemas karena kecepatannya berlari menuruni tangga,” jelas Eunso pada Sena seraya menggelengkan kepalanya heran. Mereka kini tengah berjalan memasuki rumah menuju ruang tamu.

“Yee.. Mama saja yang gendut jadi lambat larinya!” sahut Chaerin tidak mau disalahkan. Tangannya menggelayut manja pada Sena. Gadis cilik itu memang sangat manja padanya. Anak bungsu dari Lee Hyukjae dan Jo Eunso yang terkenal tidak bisa diam ini, entah kenapa sangat menyukai Lee Sena. Pernah bilang, alasannya karena Aunty itu sangat cantik. Chaerin sangat suka melihat-lihat wanita cantik. Dan dia juga ingin seperti Aunty, yang wajahnya bisa berada didalam majalah-majalah fashion milik Mama. Lagipula selain cantik, Aunty itu sangat sayang pada Chaerin makanya Chaerin suka jika Sena Aunty datang kerumah.

Sena tergelak mendengar kalimat Chaerin barusan. Gadis ini persis sekali seperti Ayahnya—Lee Hyukjae—saat mereka masih kecil dulu. Selain tidak bisa diam. Juga sangat menyebalkan. Lihatlah, dia mengejek Ibunya sendiri gendut. Padahal dari sudut manapun, tidak ada bagian yang membengkak dari tubuh Jo Eunso. Wanita yang mulai menginjak usia tiga puluhan itu terlihat sangat manis dengan tubuh semampainya. Caherin berbeda sekali dengan Chaera yang memiliki pembawaan lembut. Kakaknya itu lebih bisa dimiripkan dengan Eunso.

Omong-omong soal Chaera, dimana anak itu?

“Dia sedang berada dikamar,” kata Eunso seraya mendudukan bokongnya pada sofa kulit sewarna cokelat dadu begitu melihat mata adik iparnya yang mengeliling. Dia tahu bahwa Sena sedang mencari Lee Chaera—anak sulungnya. “Menjajal semua pakaian yang berada dilemarinya. Memilih mana yang cocok untuk acara nanti malam,” lanjutnya lagi.

“Bukan cuma itu! Unnie juga sangat ribut saat memilihnya, Aunty. Seperti akan terlihat cantik saja setelah menemukan pakaian yang terbaik.” Sena menatap gadis cilik itu dengan sebuah senyuman tertahan. Chaerin itu suka sekali menjelek-jelekan Chaera dihadapannya.

“Chaerin juga sama ributnya tadi. Malah Chaerin membuat berantakan seluruh isi lemari,” sahut Eunso.

“Tidak kok!”

“Mengaku saja lah.”

“Tidak, Ma!”

“Bohong.”

“Sungguh!”

“Masa? Mama lihat sendiri kok tadi. Kalau Chaerin—”

“Yaa.. kalian ini ada apa sih siang-siang begini ribut?” tanya sebuah suara dari arah samping rumah yang memutus perdebatan antara Ibu dan anak itu. Lee Hyukjae dengan pakaian santainya sedang melangkah kearah mereka, “Oh! Kau sudah datang, Sena?” sapanya begitu melihat wujud Sena ada diruang tamu.

“Papa terlalu sibuk membersihkan kolam ikan sih,” celetuk Chaerin.

“Kapan sampai?” tanya Hyukjae lagi tanpa menghiraukan anaknya. Dia kemudian duduk disamping Eunso.

“Baru saja.”

“Aunty nanti malam akan ikut kan?”

Sena mengangguk tersenyum, “Tentu saja. Makanya Aunty ada disini,” jawab Sena mengusap surai Chaerin gemas. “Ah.. hampir saja lupa. Ini untuk Chaerin. Dan ini untuk Chaera.”

“Apa ini?” tanya Chaerin dengan mata berbinar begitu menerima bingkisan yang diberikan Aunty kesayangannya. “Whoaah.. ini cantik sekali. Terima kasih Aunty.”

Hyukjae dan Eunso yang melihatnya hanya bisa menghela nafas. Heran melihat anaknya yang begitu norak. Itu kan cuma mantel musim dingin. Tapi memang dasar Lee Chaerin, apapun yang diberikan oleh Sena, mungkin akan dia anggap sebagai berlian.

“Aku akan menunjukkan ini pada Unnie juga!” ungkapnya lagi dengan nada yang bersemangat lantas bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Kakaknya.

“Jangan berlari, Chaerin!” teriak Eunso—sekali lagi—yang dihiraukan oleh anaknya. Ibu dua anak itu mendesah gusar. Disambut tawa oleh dua kakak-beradik yang ada disana.

“Biar saja lah Eunso. Anak-anak kan memang suka berlarian seperti itu,” kata Sena dengan tawa yang tak kunjung hilang.

“Aku sudah sering memberitahunya. Tapi dia tetap saja begitu,” sahut Hyukjae.

“Kau akan merasakannya saat memiliki anak juga, Sena. Terlebih jika anakmu aktif seperti Chaerin. Hah.. rasanya hari-harimu tidak ada tenangnya,”

“Kau berlebihan, Sayang.”

“Aku tidak berlebihan, Jae. Tck. Chaerin itu anak gadis, tapi lihat larinya? Kelakuannya? Astaga..”

“Hahaha. Bukankah dia itu lucu? Lagipula dia masih kecil. Kau ini—”

Percakapan antara Hyukjae dan Eunso masih terus berlanjut. Membahas bagaimana Chaerin—anak mereka selalu membuat Eunso tidak tenang dan Hyukjae menganggap bahwa tingkah Chaerin itu adalah sebuah kewajaran. Sementara Sena, jangankan untuk ikut terlibat dalam percakapan itu. Tawa dan senyum yang tadi sempat hadir menghiasi wajahnya pun kini sudah menghilang. Lepas Eunso memberitahunya jika dia akan mengalami hal seperti itu saat dia telah memiliki anak, seluruh perasaan senang yang dirasanya tadi seketika raib. Menguap bersama kalimat yang Eunso lepaskan untuknya.

Memiliki anak. Mungkin itu adalah hal fana yang akan terjadi pada dirinya. Kesempatan itu bahkan sudah hilang sejak delapan bulan lalu saat dia keguguran. Dia tidak bisa memilikinya. Dia hanya bisa mendamba. Hidupnya sudah tidak sempurna. Itupun kalau benar dia akan berakhir hidup setelah melawan penyakitnya ini. Tapi jika dia berakhir seperti Ibunya yang kalah, bagaimana? Lengkap sudah takdirnya, bukan?

.

(Un)Breakable

.

“Cepat, Ma! Cepat!” perintah Chaerin rusuh begitu Hyukjae selesai mematikan mesin mobilnya. Gadis cilik berusia enam tahun itu tidak sabaran memasuki restoran tempat mereka akan makan malam sekarang. Dia sendiri langsung keluar dari mobil bahkan sebelum mesin mobil dimatikan oleh Ayahnya. Katanya, dia sudah sangat kelaparan sejak tadi. Sengaja tidak memakan cemilan apapun agar bisa memasukan makanan apa saja sepuasnya nanti. Lagipula dia sudah tidak sabar ingin memamerkan mantel barunya yang dibelikan oleh Sena Aunty pada seseorang. Bahkan dia sudah berulang kali mematut dirinya didepan cermin, agar terlihat manis.

“Astaga.. anak ini tidak sabaran sekali,” gerutu Eunso saat sedang membenarkan dandanannya melalui spion mobil. “Sebentar, Sayang..” jawabnya dengan nada malas.

“Ah, Mama lambat sekali! Chaerin sama Aunty saja. Ayo, Aunty!” ucap Chaerin sebal dan langsung menyeret tangan Sena untuk memasuki restoran seafood itu.

Malam ini, mereka memang akan mengadakan makan malam bersama. Tepatnya di restoran favorit mereka yang letaknya dipinggir pantai. Tidak ada rencana apa-apa. Hanya saja rutinitas ini memang selalu diterapkan sebulan sekali pada keluarga Lee. Dimaksudkan untuk tetap saling menjaga ikatan dan komunikasi, mengingat mereka sudah memiliki kesibukan masing-masing.

Hyukjae, Eunso dan Chaera—anak sulung mereka yang berusia sembilan tahun, memasuki restoran itu. Bisa dilihat oleh tiga orang tersebut, meja yang telah direservasi olehnya sejak kemarin, kini bukan hanya sudah ditempati oleh Sena dan Chaerin tapi disana juga sudah ada Donghae dan Ibunya. Kerabat dekat Hyukjae dan Sena. Dimana, mendiang Ayah Donghae adalah Kakak dari Ayahnya. Yang berarti mereka adalah saudara sepupu.

Sebenarnya, ada satu lagi orang yang seharusnya ikut rutinitas keluarga ini. Yaitu, Lee Jung-Jae. Ayah dari Hyukjae dan Sena. Hanya saja, Ayah mereka sedang berada di Macau. Bekerja sebagai ketua diplomat (Dubes) Kedutaan Besar Korea Selatan disana. Jadi, sangat sulit meminta waktunya untuk ikut serta dalam acara ini.

“Kalian sudah lama?” tanya Hyukjae seraya menarik kursi untuk dia duduki.

“Sudah,” Chaerin yang menjawab. Asal dan tak acuh. Dihadiahi kekehan oleh Donghae, Im Haera dan Sena.

“Papa itu tidak bertanya padamu, Chaerin. Tapi pada Halmeoni dan Paman,” balas Chaera yang sudah tidak tahan dengan mulut ramai adiknya.

“Memang sudah lama kan Granny dan Uncle disini,” ucap Chaerin gigih. Kali ini bahkan meminta pertegasan pada dua orang itu bahwa kalimatnya tadi adalah benar. Dijawab oleh Donghae dengan anggukan. Walau sebenarnya dia dan Im Haera baru sampai sepuluh menit yang lalu. Tidak lama. Tapi demi menghindari keributan yang mungkin saja akan keponakannya tunjukkan, lebih baik mengiyakan saja.

“Tidak sopan seperti itu, Chaerin..” Eunso mengingatkan.

“Tapi kan memang benar. Uncle saja mengangguk kok.”

Hyukjae menghela nafas, “Sudah. Sudah. Lebih baik kita pesan sekarang saja makanannya. Bukankah katanya ada yang kelaparan?” ucapnya dengan mata yang mengerling jahil.

.

(Un)Breakable

.

Makan malam berlangsung khidmat. Diselingi dengan tawa dan ejek yang saling dilemparkan. Chaerin yang biasanya cerewet kini mendadak kalem. Bagaimana tidak, dia sudah bertemu dengan makanan. Jadi mulutnya dia sibukkan dengan mengunyah semua makanan yang tersaji diatas meja.

“Bagaimana kepitingnya, Chaerin?” tanya Haera melihat cara makan gadis berusia enam tahun itu.

“Lezat, Granny!” jawab Chaerin. Tangannya masih berususah payah membuka cangkang. Sedangkan bibir dan pipinya, sudah belepotan karena saus tiram. Gadis itu jika sudah ditanya soal makanan, jawabannya pasti akan selalu sama. Seperti tadi, Lezat. Seolah dia adalah pemakan segala dan lambungnya tidak menolak makanan apapun. Tapi benar faktanya, Chaerin memang doyan memakan apa saja. Keuntungan yang dimiliki oleh Hyukjae dan Eunso, anaknya yang satu ini jika disuruh makan tidak susah.

“Apa susah sekali?” tanya Haera sekali lagi dengan senyuman tertahan. Dibalas oleh Chaerin dengan gelengan namun sedetik kemudian anggukan lalu menggeleng lagi. Tidak jelas. Membuat semua orang yang ada disana tertawa melihatnya.

“Hah.. aku jadi ingin cepat-cepat memiliki cucu,” kata Haera penuh harap.

Donghae yang mendengar itu tentu saja langsung tersedak. Aduh! Ibunya memulai lagi.

“Tenang saja Bibi.. Donghae Oppa sudah menemukan calonnya,” celetuk Sena yang diakhiri kekehan begitu Donghae mendelik kearahnya.

“Benarkah?” dua orang dewasa lainnya lantas bertanya spontan. Dibalas Sena dengan sebuah anggukan takzim.

“Siapa?” kali ini Eunso yang bertanya.

“Si gadis mungil.”

“Gadis mu—si—a, Ah! Jadi dia?!” pekik Eunso begitu sadar siapa calon Donghae yang disebut Sena. “Aigoo.. Donghae-ya, Chukae~” katanya dengan senyum yang mahalebar. Eunso jelas tahu siapa gadis mungil itu. Han Yoorin. Sahabat adik iparnya yang merangkap sebagai manajer Sena pula.

“Tidak. Tidak. Bukan seperti itu. Aiish.. Sena-ya, kau ini—”

“Siapa sih? Aku kenal tidak?” sela Hyukjae yang masih tidak mengerti.

“Oppa, jika Eunso saja mengenalnya, kau juga pasti mengenalnya,” sahut Sena.

“Tidak. Jangan dengarkan kata-kata adikmu. Dia hanya sok tahu!”

“Aku tidak sok tahu. Aku memang benar.”

Donghae melemparkan serbet pada Sena namun oleh gadis itu dia dihadiahi dengan juluran lidah. Meledek. “Mengaku saja lah, Oppa.”

“Kau lama-lama seperti Chaerin saja. Menyebalkan,” sungut Donghae.

“Yak! Anakku tidak seperti itu,” sahut Hyukjae tidak terima.

Aigoo Donghae-ya, benar atau tidaknya perkataan adikmu itu, aku tetap ingin cepat-cepat memiliki cucu.” Im Haera memulai pembicaraannya lagi. “Cepatlah menikah..”

“Ibu pikir menikah itu gampang?”

“Kenapa tidak? Hyukjae saja sudah memiliki anak-anak yang cantik seperti ini. Kau kapan?”

Lalu selanjutnya percakapan makan malam keluarga Lee itu diisi dengan permintaan Im Haera yang meminta Donghae untuk menikah. Sementara Donghae—sebagai pria dewasa, dia sendiri masih memiliki banyak pertimbangan untuk hal yang sakral itu. Dia memang sedang dekat dengan Han Yoorin—sahabat adik sepupunya. Tapi bukan berarti dia akan menikah juga dengan gadis itu. Dia sendiri masih ingin memapankan diri.

Lama mereka bercakap-cakap hingga kemudian ditengah acara makan malam itu, sesuatu yang tidak diinginkan Sena terjadi. Perutnya mulai berkontraksi. Rasa melilit yang sakit itu kembali datang. Sebisa mungkin dia menormalkan raut wajahnya agar tidak ada yang tahu. Dia mencengkram erat terusan yang dipakainya malam ini. Meminimalisir rasa sakit itu. Ya Tuhan.. kenapa harus sekarang? Tangannya semakin mengerat dibawah sana. Tapi rasa sakit itu bukannya berkurang, malah semakin bertambah.

“Akh..” suara rintihan Sena yang sejak tadi dia tahan, mengehentikan percakapan mereka yang memang masih berlangsung. Sial. Dirinya kelepasan.

“Kau kenapa?” tanya Hyukjae yang duduk tepat berada disampingnya. Pria itu melihat tangan Sena yang tidak bisa berhenti mencengkram pakaiannya.

“A-ah.. tidak. I-ini—perutku tiba-tiba keram.”

“Apa karena makanannya, Bibi?” tanya Chaera yang membuat Chaerin seketika menghentikan kunyahannya. Kedua gadis cilik itu sama-sama ikur memandang Sena.

Sena menggeleng. Wanita itu tersenyum kecil. “Bukan. Eh—ini.. Bibi—”

“Mungkinkah kau sedang datang bulan? Wajahmu pucat sekali Sena,” ungkap Haera tiba-tiba. Sena yang masih kebingungan dengan jawaban atas pertanyaan Chaera, lantas mengangguk begitu saja.

Sial. Wajahnya memucat. Bagaimana ini?

“Datang bulan itu apa, Granny?”

“Eh? Itu—”

“Chaerin nanti akan tahu sendiri jika sudah waktunya. Saat ini Sena Aunty tidak apa-apa. Chaerin lanjutkan saja makannya,” kata Eunso menengahi dengan tidak membuat anaknya itu banyak bertanya. Lalu wanita itu ikut memandang Sena lagi, “Apakah masih keram? Benar kata Bibi, kau pucat Sena.”

Sena mengangguk kaku lalu berkata, “A-aku.. aku ke toilet sebentar.”

.

(Un)Breakable

.

“Kuharap kerja sama ini akan memberikan dampak positif bagi perusahaan kita,” Steeve Alan berdiri. Merapikan jasnya. Begitu pula dengan Cho Kyuhyun, Choi Minho dan satu lagi seseorang yang menjabat sebagai asisten Mr. Alan.

Kyuhyun mengangguk takzim. Dia memberikan senyumnya pada pria muda blasteran Korea-Turki yang ada dihadapannya. “Ya. Semoga saja.” Dia mengulurkan tangan, hendak menjabat rekan kerja barunya. “Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir malam ini, Mr. Alan.”

“Panggil saja aku Steeve, Kyuhyun. Jangan terlalu formal. Kita hanya berbeda dua tahun, bukan?” ucap Steeve deisertai kekehan dibibirnya.

Kyuhyun ikut terkekeh. Pria itu kembali mengangguk.

“Baiklah. Sampai jumpa lagi, Cho Kyuh—”

Bukk

“Aww..”

.

(Un)Breakable

.

Dengan langkah tertatih Sena menjauhi keluarganya. Tangannya bergerak gusar membuka tas. Mencari obat pereda sakit itu. Keringat dingin bahkan sudah membasahi seluruh wajah dan lehernya. Nafasnya mulai pendek-pendek.

Sungguh. Jangan sekarang.

Kakinya mulai menggoyah. Bergetar disela-sela langkahnya yang tersendat. Matanya pun berkunang-kunang. Sakit itu begitu melilit. Sena seperti merasakan ada ular didalam perutnya.

“Aunty.. tunggu! Chaerin ikut!” Dibelakangnya, Chaerin berlarian mengikutinya. Gadis cilik itu bilang, dia hendak ke toilet. Ingin buang air. Dan selagi kebetulan Aunty-nya juga akan ke toilet, jadi menurutnya, mereka lebih baik pergi kesana bersama saja. Mama tidak perlu mengantarnya.

Sena sudah berhasil mendapatkan obatnya. Dia hanya perlu berjalan sebentar lagi menuju toilet. Matanya semakin tidak fokus memandang kedepan. Dan dia tidak sadar bahwa keponakannya dibelakang juga ikut mengikutinya. Hingga kemudian Chaerin yang tidak bisa mengerem langkahnya, menubruk tubuh Sena dari belakang. Membuat kaki Sena yang bergetar, menjadi tidak seimbang hingga tanpa sengaja menabrak pula seseorang yang ada dihadapannya. Dia terjatuh bersama dengan obat itu. Chaerin dibelakangnya, juga ikut terjatuh.

“Aww..” rintih Chaerin, begitu lututnya mengenai lantai. Untung saja lantainya bukan terbuat dari bebatuan, jadi lututnya tidak berdarah. Gadis cilik itu bangkit, hendak mendekati Sena yang masih tersungkur. Namun kemudian langkahnya berhenti ketika melihat seseorang didepan sana.

Matanya mengerjap lucu. Bibirnya mengerucut. Kepalanya dia miringkan. Persis sekali seperti orang yang sedang berpikir keras. “Uncle—” ucapnya menggantung. Dia masih berpikir. Dia kenal orang itu. Mereka sering bertemu. “Kyuhyun Uncle!” teriaknya senang begitu mengingat nama siapa pemilik wajah tampan dan tegas itu. Wahh.. dia tidak menyangka mereka akan bertemu disini.

Sena yang masih pada posisi tersungkurnya, seketika merasakan jantungnya berdegup kencang. Matanya yang tadi berkunang-kunang, kini sepenuhnya normal kembali. Kyuhyun? Wanita itu lantas mendongak. Dan benar. Dia bisa melihat wajah Kyuhyun didepannya. Tapi wajah itu sedang terpaku pada— pada obatnya. Obat? Ya Tuhan.. Sena bisa merasakan nafasnya tercekat.

Sementara Kyuhyun yang tadi masih tertegun melihat benda menggelinding yang jatuh menyentuh sepatunya, kini mendongak. Menatap gadis bermata bulat dan berpipi tembam yang memerah karena cuaca dingin. Dia— “Shalom?” tanyanya.

Chaerin mengangguk kuat. Selain Papa, hanya Kyuhyun lah yang memanggilnya dengan nama baratnya. Shalom. Gadis itu tersenyum lebar. Dia melupakan Aunty kesayangannya yang masih jatuh tersungkur. Langkah kakinya gegas mendekati Kyuhyun yang sudah lama tidak dia temui.

“Uncle sedang apa disini?” tanyanya antusias. Tidak mengurangi binaran rindu dan senang saat mendapati Kyuhyun berada ditempat yang sama dengannya.

“Uncle sedang—”

“A-akh..” rintihan Sena mengurungkan percakapan mereka. Steeve sebagai orang yang ditabraknya tadi, langsung membantunya. Pria yang tidak tahu apa-apa itu, mengangkat bahu Sena. Hendak membantunya berdiri. Namun Sena menahan tubuhnya. Dia tidak kuat untuk berdiri. Perutnya sangat sakit. “Kau tidak apa-apa, Nona?” tanyanya khawatir begitu menyejajarkan tubuhnya dan melihat wajah wanita yang ada dihadapannya sangat pucat.

Sena menggeleng kaku. Tangannya menjulur, ingin mengambil obatnya yang masih menyentuh sepatu Kyuhyun. Tapi tidak bisa, jaraknya terlalu jauh. Steeve yang mengerti, membantunya lagi. “Ini obatmu?” tanyanya sambil menyerahkan obat itu. Tapi gadis itu tidak menjawab, dia hanya mengucapkan terima kasih.

Demi Tuhan.. dia hanya butuh pergi darisini cepat-cepat sebelum terlambat.

Kyuhyun hanya diam saja. Raut wajahnya datar. Sementara Minho yang juga berada disana, menatap keduanya tidak mengerti. Dia memang kaget mendapati Sena disini tapi dia lebih tidak percaya lagi saat Kyuhyun tidak bereaksi apa-apa. Dalam pikirannya, apa persoalan mereka masih belum selesai?

“Noona, kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada cemas setelah hanya menahan pertanyaan itu ditenggorokannya saja tadi. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa wajah Sena begitu pucat. Baru saja dia akan mendekati wanita itu ketika Kyuhyun malah bersuara, “Baiklah, Steeve—sepertinya aku yang pulang lebih dulu. Sampai jumpa.”

Minho masih kebingungan ditempat. Kyuhyun sudah beranjak pergi darisana. Tapi dia penasaran dengan Sena. Apa yang terjadi padanya hingga wajahnya seputih kapas itu? Padahal cuaca sangat dingin.

“Omo! Aunty, kau berdarah!” pekik Chaerin. Mata bulat gadis cilik itu melebar. Aunty-nya kenapa?

Kyuhyun yang mendengar suara lengkingan Chaerin itu lantas menghentikan langkahnya. Orang-orang yang berada disana juga mulai mengerubung bagaikan lalat. Mendekati Sena.

“Ya Tuhan, Nona. Ka-kakimu—” Kali ini suara Steeve.

Minho yang juga masih berada disana ikut merasakan kagetnya. “Noona, kau— kau pendarahan—” katanya tidak percaya.

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Choi Minho, Kyuhyun lantas memutar tubuhnya. Dan bagaikan dilempari sebuah karung berat, tubuhnya seketika melimbung. Walau tubuh Sena sudah tertutupi oleh banyak orang tapi melewati celah-celah itu matanya masih bisa melihat dengan jelas cairan merah kental yang mengalir melalui paha bagian dalam dan betis wanita itu. Jelas darah yang berada disana bukan berasal dari sebuah luka.

Ini seperti De-Javu. Dadanya menyesak. Kejadian ini pernah dialami olehnya. Saat mereka bercinta untuk terakhir kali.

Pendarahan.

Lagi?

“Pa! Papa! Mama!” teriak Chaerin ketakutan ditengah kerumunan itu. Hingga air matanya keluar tanpa bisa dicegah. Dia tidak pernah melihat hal yang seperti ini. “Aunty..” bisiknya lirih.

“Permisi. Permisi..” Hyukjae yang penasaran dan terkejut mendengar suara Chaerin, seketika menyeruak diantara kerumunan itu. Dibantu oleh Donghae dan Eunso. “Sena-ya!” ucapnya begitu melihat banyak darah yang mengalir di kaki adiknya.

“Ya Tuhan..” Eunso menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Mendapati Chaerin yang juga menangis disana, wanita itu langsung mendekap anaknya erat. Membawa kepalanya agar tidak melihat apa yang menurutnya tidak boleh dilihat oleh anak seumurannya.

“Sena—kau dengar aku?” Hyukjae menangkup wajah Sena. Mata gadis itu mulai meredup. Dan itu jelas membuat dadanya semakin bergemuruh. Tangannya ikut bergetar.

“Kita bawa kerumah sakit, Hyukjae-ya!” ucap Donghae.

.

(Un)Breakable

.

Jangan tatap aku seperti itu.

Protes menggema di kepala Changmin. Sementara pandangan matanya terpaku pada sosok yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Segala yang ada disekelilingnya terasa buram. Dia tidak percaya bahwa keadaan seperti ini akan terjadi.

Changmin manarik napas panjang berkali-kali. Mencoba meredakan rasa sesak yang mengumpul pada satu organ dalam tubuhnya. Kedua tangannya mengepal erat pada masing-masing sisi tubuhnya.

Sepasang mata bulat bening dihadapannya menatap Changmin lirih. Ia sendiri bisa merasakan kepedihan yang diterima si pemilik bola mata itu hanya dengan sekali melihatnya.

“Kemana saja kau?” Changmin bisa mendengar suara gadis itu yang bergetar.

Irene, si gadis pemilik bola mata bulat-bening itu melemparkan pertanyaan pedih pada dirinya. Changmin hanya bisa diam memandang gadis itu dengan pandangan datar. Sungguh sama sekali bukan keadaan seperti ini yang ia inginkan. Kalaupun dia bisa memilih, dia lebih memilih menghilang saja daripada harus merelakan gadisnya untuk orang lain. Tapi menghilang pun tidak akan menyelesaikan masalah bukan?

“Pergilah..” gumam Changmin lalu melanjutkan lagi kegiatan memasukan developer kedalam tabung cuci yang tadi sempat tertunda karena kehadiran gadis itu.

Irene tidak sedikit pun berniat untuk pergi dari tempatnya berdiri. Kalimat yang diucapkan pria itu bagai bisikan samar yang tak bisa dia cerna maknanya. Dia mengalihkan pandangannya pada ruangan dimana mereka berada. Ruangan yang berisikan foto-foto siap cetak atau telah dicetak.

Lalu dia mengalihkan pandangannya lagi pada pria yang masih sibuk mengeluarkan film dari roll-film sedikit demi sedikit. Gerak tangannya begitu lihai, tanpa khawatir mungkin saja dia bisa merobek roll film itu.

“Pergi, Irene! Apa kau tidak mendengar kata-kataku?!” suara Changmin meninggi seraya memutar tubuh menghadap kearahnya.

Ada rasa tak percaya dalam diri Irene terhadap pria yang kini memandangnya dengan tatapan tajam dan nafas yang memburu itu. Sekuat tenaga Irene menahan air mata untuk tidak meluncur dari peraduannya. Changmin tidak pernah membentaknya seperti ini.

“Kau kenapa? Aku hanya bertanya, Changmin-ah..”

Begitu selesai menjawab, sekelebat Irene melihat luka samar dimata pria itu. Bagaimana mungkin pria dihadapannya bisa menyuruhnya pergi begitu saja saat dirinya sendiri pun terluka? Setelah semua kekacauan ini terjadi, bagaimana mungkin Changmin berkata seperti itu? Bukankah mereka sama-sama terluka?

“Brengsek!” umpatnya dengan mengusap wajah frustasi. “Aku bilang pergi ya pergi! Kau bisa mengerti ucapanku kan?!”

Irene tersenyum getir Air mata yang tadi sempat menggenang di pelupuk matanya, meluncur begitu saja. Rasanya sakit sekali melihat perubahan prianya ini. Apa ada yang salah pada dirinya hingga membuat Changmin sebegitu menginginkannya pergi?

Irene menarik napas dalam. Mencoba untuk menenangkan sesuatu yang menghentak dadanya kuat.

“Apa kau juga akan menyerah?” tanyanya lirih. Demi Tuhan.. pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling dia hindari. Pertanyaan yang sebisa mungkin dia letakkan diujung tenggorokannya. Sebisa mungkin dia tempatkan pada bagian paling dasar atas semua tanya yang menumpuk pada otaknya. Pertanyaan yang sebisa mungkin dia buang jauh-jauh.

“Jika benar— jika benar begitu, maka berikan aku satu alasan kenapa kau melakukan ini padaku.”

.:: TBC ::.

Advertisements

Author:

also known as que(en)sera

147 thoughts on “(Un)Breakable – Chap. 7

  1. makin complicated aja yaa. itu kenapa sena nggak jujur aja sih kalo dia sakit. bilang sama hyukjae sama kyuhyun jugaa kasian banget sena nanggung semuanya sendiri gitu. kalo sena jujur kan kyuhyun nggak bakal salah paham juga kan dan changmin-irene juga nggak bakal jadi korban. ya ampun gemes banget deh

    Like

  2. kyuhyun bener bener ga gentle. seharusnya kalo dia emang suka sama sena yaa mau gimanapun juga kyu harus tetp bisa percaya jangan sampe salah paham kaya gitu.
    semoga sena penyakitnya ga parah parah banget. poor uri sena

    Like

  3. sebagai wanita memank gha bisa hamil itu emank cobaan terberat dalam hidup
    sena harus menghadapi penyakit seperti itu ditambah harus merelakan kyuhyun pasti rasanya berkali-kali lipat lebih sakit.
    knp kyu justru diam aja lihat sena dalam keadaan seperti itu atau mungkin kyuhyun terlalu shock dan fikirannya kosong gha tau harus apa.
    disini yg aku sayangkan sikap changmin sich

    Like

  4. Astagaa … saking keasyikannya baca .. smpe lupa ngekomen … sumpah nii ff sad ehh .. smpe menetes air mata kuu 😂😂 …

    Like

  5. Rasanya part ini sedih bgt…
    Ga kebayang gimana part selanjutnha…

    Ayo changmin.. utk kali ini ga blh nyerah!

    Next part pasti lbh seru, akhirnya kyu bakal tau keadaan sena….

    Like

  6. Kasian Senanya Beban Yang ditanggung berat banget .. chaming Juga Ngalah ‘-‘ .. Harus Diperjuangin Dong ‘-‘ … moga Yang terbaiklah buat kedepannya

    Like

  7. Changmin jangan ngalah terus dong…
    Lu udah kayak malaikat aja..
    Author please hentikan kesakitan sena jadi gak tega liatnya

    Like

  8. authornim,, ff ini ga dibikin sad kan ??

    Kenapa kyuhyun pura2 ga peduli sama sena,, harisnya dia curiga pas liat obat yg d bawa sena, harusnya dia mencari tau, bukan malah meratapi sakit hatinya sendiri,
    huaaaa,,, jadi nyesek kan

    Liked by 1 person

  9. Kyuuu peka lah sedikittt
    Memang berat semua hal yang dihadapi Sera
    Dia yang awalnya sehat tanpa diduga sakit parah, dia takut akan seperti apa dia . dan dia takut menghadapi resiko nanti dan dia memilih menyakiti dirinya sendiri 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
    Aku nangis di part ini sumpahhh

    Like

  10. ga tau mau koment apa tpi di part ini aku bnr bnr ga bisa berenti nangis T.T berharap si happy ending aja buat kisah mrka berdua
    dipart ini dibikin nyesek bngt T.T

    Like

  11. ga tau mau koment apa tpi di part ini aku bnr bnr ga bisa berenti nangis T.T berharap si happy ending aja buat kisah mrka berdua

    Like

  12. Semoga sena baik baik aja .. semoga kesalahpahaman nya cepet kelar .. semoga ibu kyuhyun dapet ilh buat batalin perjodohan .. sedih sumpah … nangis 😂😂😂😂

    Like

  13. Apa setelah ini Kyuhyun bakal tau ttng penyakit Sena?
    Gw nggak bisa bayangin gimana reaksinya nanti
    Tp jujur aja gw sedih sama reaksinya Kyuhyun wkt Sena jatuh kayak gitu

    Fighting buat next post !!!

    Like

  14. penyakitnya tambah parah smpe pendarahan gituu…
    kasian bnget sena sedih ihhh…ngbyangin syok y gmna kakak and papah y sena kalu sena sakit parag …scra almh ibu y sena jga sakit parah smpe mninggal

    Like

  15. Kyuhyun gk gentle bnget sih.. masa prgi gtu aja..
    Sena ksian bnget sih.. cepet smbuh ya sena
    Smga skitnya sena msih bsa dismbuhkan..
    Please jgn sad endingg.. huhuhu

    Like

  16. Author pinter buat aku nangis… hiks hiks..
    Semoga gak sad ending ya…
    Semuanya kasihan, bingung paling greget sm siapa, Sena gitu, Kyuhyun gitu, Changmin gitu, Changmin pasti dilema bgt tuh..
    Kyuhyun tega …tp Sena jg si blum mau jujur..

    Like

  17. Senanya kasian, kyuhyunnya kasian, changminnya kasian, irenenya juga kasian. Semuanya ngga ada yang bahagia, tingga nunggu aja ini happy ending atau engga kasian semuanya

    Like

  18. ya ampun senaa…semoga baik” saja…kyuhyun jahat banget sih liat sena kesakitan kagak ditolongin malah kudu pergi gitu ajah…
    changmin juga jangan ngalah terus”an dong..perjuangin irene plisss…uh nggak tau mau komen kayag apa..sumveh ini cerita sad banget…

    Like

  19. Ah gemes banget baca part ini. Kyuhyun jahat Sena sakit gk ditplongin😭 senanya juga gitu, gak mau bilang yg sejujurnya sama Kyuhyun. Ayo dong Changmin, perjuangin Irene, masa ngalah teeus sih? Kapan bahagianya

    Like

  20. Nangis sudah aku kak dua chapter ini 😦
    Yaampun kasian sena. Makin penasaran sama ending nya. Makin kesini makin nguras emosi kak. Gatau gimana, bener2 enak bayangin kejadiannya lewat tulisan kakak ini. Good story :*
    Thanks for this chapter kak.

    Like

  21. First, yg ingin aku utarakan adalah aku gemas sekali dengan Chaerin omG… Next, Changmin you ok? Benar-benar posisi yg serba salah deh kalau ada di posisi dia. Senaaaaa 😥 sedih banget ngerti kondisi dia yg kek gitu 😥

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s