(Un)Breakable – Chap. 8

pic-10

Cr. ByunHyunji @PosterChannel

When the Ego and Love are Collide

⌈ MAIN CAST ⌋

Cho Kyuhyun – Lee Sena

also

Shim Changmin – Irene Kim

⌈ AU │ Multi-Chaptered ⌋

⌈ PG – 17 ⌋

⌈ GENRE ⌋

Romance, Complicated

⌈ DISCLAIMER ⌋

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

 RECCOMENDED SONG 

Samsons – Luluh

Britney Spears – Everytime

 RELATED STORIES 

⌈ Unclear | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 ⌋

Queensera©2016

Why are we strangers when our love is strong?

divider1

“Apa kau juga akan menyerah?” tanyanya lirih. Demi Tuhan.. pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling dia hindari. Pertanyaan yang sebisa mungkin dia letakkan diujung tenggorokannya. Sebisa mungkin dia tempatkan pada bagian paling dasar atas semua tanya yang menumpuk pada otaknya. Pertanyaan yang sebisa mungkin dia buang jauh-jauh.

“Jika benar— jika benar begitu, maka berikan aku satu alasan kenapa kau melakukan ini padaku.”

.
(Un)Breakable
.

Bisa Changmin rasakan dadanya menyesak saat mendengar pertanyaan itu. Apa dia menyerah? Apa dia akan benar-benar menyerah dan melepaskan—sekali lagi—kekasihnya?

Dia ingin berkata tidak. Dia ingin membantah. Tapi apakah bisa? Atau—apakah dia mampu? Kenapa Tuhan seolah menakdirkannya untuk selalu hidup sendiri? Dia sudah pernah kehilangan orang tuanya. Neneknya. Sena. Lalu sekarang, apa Irene juga harus?

Ingin sekali dia menyalahkan Tuhan. Ingin sekali dia protes kenapa dilemma seperti ini harus terjadi pada dirinya. Kenapa harus dia yang merasakannya? Kenapa tidak orang lain saja?

“Maafkan aku.”

Changmin ingin sekali merobek bibirnya saat ini juga. Entah keberanian atau kelemahan darimana hingga dia bisa dengan mudahnya melontarkan kalimat itu. Maaf. Sungguh, pria seperti dia—yang tega menyakiti hati kekasihnya, tidaklah pantas untuk menerima maaf. Terlebih dari seorang wanita seperti Irene.

Demi Tuhan, wanita itu hanya ingin memperjuangkan hubungan mereka tapi kenapa dia menjadi seperti ini? Kalau begitu, antara dia dan Kyuhyun terlihat sama saja. Tidak ada bedanya.

Dia pernah mengatakan pada Kyuhyun untuk memperjuangkan Sena. Tapi lihatlah, dia sendiri saja seperti ini. Benar-benar munafik.

Changmin membeku ditempat. Tidak berani menatap mata Irene. Karena jika dia berani, maka hatinya yang tengah berdusta tidak akan kuat menahan perasaan ingin tetap bersama wanita itu. Dia akan berlari memeluk erat Irene dalam dekapannya dan tidak akan mengijinkan dunia mengusik ikatan mereka. Termasuk Kim Hana. Ataupun Kim Boyoung.

Sementara sepuluh langkah dari tempatnya berdiri, Irene memejamkan matanya erat. Air mata yang sejak tadi hanya menetes, kini mengalir deras membasahi kedua pipinya. Lima silabel yang Changmin lontarkan tadi, seperti sebuah kertas yang dijatuhkan diatas air. Membuatnya tidak lagi berdaya.

Kyuhyun benar. Apalagi yang dia harapkan? Changmin yang menghilang selama berminggu-minggu, membuktikan bahwa tidak mungkin pria itu membawa berita baik bagi hubungan mereka. Changmin lebih memilih mundur.

Akankah mereka berakhir seperti ini?

Tidak bisa! Dia harus mendapatkan penjelasan yang logis dari mulut pria itu. Dia tidak akan menyerah begitu saja jika Changmin hanya mengada-ada. Dia yakin sekali bahwa Changmin juga mencintainya. Dan memilih pergi dari orang yang dicintai sangatlah tidak mudah. Keputusan untuk menyerah pada sebuah hubungan juga bukan hal yang mudah untuk diselesaikan. Ini lebih rumit. Karena ini menyangkut tentang hati. Sesuatu yang bersifat fleksibel. Sesuatu yang kadang—hanya mengikuti keadaan.

Dan Irene yakin keputusan Changmin untuk menyerah bukanlah hal yang diinginkan pria itu. Changmin hanya—sedang mengikuti permainan nasib yang Tuhan gariskan pada mereka.

Irene manarik nafas dalam. Melegakan dadanya yang masih terasa sesak. Lalu dengan segenap perasaan yang dia usahakan untuk kembali normal—walau sangat sulit, Irene berkata, “Kenapa?”

Changmin memberanikan diri untuk menatap wajah wanita pujaannya itu. Bibirnya terbuka lalu terkatup lagi. Ada kesulitan disana karena dia pun masih belum menerima tentang keputusan yang baru saja dibuatnya.

“Changmin..”

“Aku tidak bisa.”

Irene sekali lagi memejamkan mata. Wanita itu menghembuskan nafasnya, “Maafmu sudah menjelaskannya tadi. Yang aku butuhkan sekarang adalah alasanmu Changmin! Kenapa kau ingin menyerah?! Dan kenapa kau tidak bisa?!”

“Karena perjodohan dan pernikahan itu adalah keingingan Ibu!”

Irene tertegun. Memandang pria tinggi itu tidak percaya. “Lalu?”

“Lalu?” Changmin tertawa getir. Bibirnya kembali terbuka namun tak ada satupun kalimat yang keluar darisana.

“Ya. Lalu kenapa jika itu keinginan Ibumu? Apa kau tidak bisa menentangnya seperti yang Kyuhyun lakukan waktu itu? Demi Tuhan, aku tau kau mencintaiku! Apa hanya karena keinginan konyol para orang tua itu, kita harus berakhir seperti ini?!”

Changmin menggeleng tegas. “Kau tidak mengerti Ai! Kau samasekali tidak mengerti!”

“Kalau begitu jelaskan!”

Terjadi keheningan. Lagi. Yang satu bergulat dengan hatinya. Sementara yang lain tetap menunggu.

Menghembuskan nafas kasar, Irene kembali bersuara—lebih serak, “Apa begitu sulit bagimu untuk menjelaskannya?”

Diam lagi. Changmin samasekali tidak membantunya.

Irene menatap lirih kekasihnya. “Baiklah—” mengusap liquid yang sudah berada diujung matanya. Lalu melanjutkan, “Aku akan pergi. Seperti maumu. Kita— kita cukup sampai disini saja.”

Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, dia berbalik. Melangkah. Menjauh dari pria yang pernah dia lantunkan dalam doanya untuk menjadi masa depannya. Dengan langkah yang teramat pelan—seperti telah kehilangan saraf motorik.

“Maafkan aku—” sekali lagi dari mulut yang sama. Lima silabel itu terucap.

Changmin memandang getir punggung kecil yang berhenti di ambang pintu. Dia telah melukai si pemilik punggung itu. “Aku tidak bisa membawamu pergi. Maaf.”

Irene tetap diam ditempat. Menunggu Changmin menyelesaikan ucapannya.

“Banyak sekali yang ingin kukatakan tapi tidak semuanya bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jika kau bertanya lagi—kenapa. Kenapa aku tidak bisa, maka yang harus kau tahu adalah—bahwa kita mungkin bisa pergi dari orang asing tapi tidak dengan keluarga. Irene, aku adalah pria yang sangat takut untuk kehilangan, termasuk dengan kehilanganmu. Bohong jika aku pun tidak terluka. Tapi jika mempertahanmu disisiku membuatmu menjadi anak yang pembangkang, aku tidak bisa.”

Irene memejamkan matanya lebih erat. Tergugu. Dia paham sekarang, tapi tidak bisakah sekali saja mereka egois?

“Aku pernah memberitahumu bukan? Bahwa aku sangat menyayangi keluargaku. Bahwa aku meninggikan orang tua diatas segalanya. Sekalipun aku adalah anak angkat mereka. Irene, aku sangat menyayangi Ibu dan Ayah. Maaf jika harus membalasnya dengan melukai hatimu begitu dalam. Maafkan aku.”

Selepasnya kalimat itu selesai diucapkan, Irene benar-benar pergi. Wanita itu berlari. Menghilang dari jarak pandang Changmin yang mengkaku ditempat.

Sekali lagi. Dia telah kehilangan. Bukan untuk Kyuhyun tapi untuk Ibu dan Ayahnya.

.
(Un)Breakable
.

“Kanker?” Hyukjae melafalkan enam huruf itu dengan jantung yang berdegup kencang. Dia— tidak salah dengar kan?

Dokter Kim melepas kacamatanya. Pria paruh baya itu menatap mata Hyukjae lekat, lantas menjawab pertanyaan tadi dengan mantap. “Ya.”

Disekelilingnya, Eunso, Donghae dan Im Haera menatap tak percaya. Bahkan tubuh Im Haera sampai terhuyung kebelakang—hampir terjatuh jika saja Eunso yang berada disampingnya tidak cepat tanggap menggapai tubuh wanita berusia lima puluh lima tahun itu dalam rangkulannya.

Chaera dan Chaerin yang berdiri tidak jauh dari para orang dewasa itu juga ikut terdiam. Si kecil yang berusia enam tahun diam karena tak tahu apa-apa. Sedang si anak sulung Lee Hyukjae, mengerti bahwa penyakit yang tadi disebut oleh Papanya adalah penyakit yang berbahaya. Dia pernah mendengar soal kanker. Hanya saja, sebatas itulah dia tahu.

Dengan rahang mengetat dan sekujur tubuh yang mengkaku, Hyukjae bertanya, “Bagaimana bisa?”

Dokter Kim tersenyum pahit. Tidak kaget mendengar pertanyaan itu. Dia yakin sekali bahwa Sena memang samasekali belum memberitahu pria yang berdiri dihadapannya. “Semuanya bisa memungkinkan, Hyukjae,” jawabnya pelan.

Lee Hyukjae tertawa getir. Memandang dokter Kim dengan tatapan tajamnya. “Sejak kapan?”

“Kanker ini sudah tumbuh sekitar enam bulan lalu. Tapi kami baru mengetahuinya selama hampir tiga bulan ini.”

“Hampir tiga bulan dan kau tidak memberitahuku samasekali?!” dengan kasar Hyukjae mencengkram kerah jas yang digunakan oleh dokter Kim begitu erat. Teriakannya menggema. Hingga beberapa orang yang sedang berlalu-lalang disana memperhatikan mereka.

“Jae,” panggil Eunso.

“Adikku sakit sementara kau dengan seenaknya menganggap hal itu adalah masalah sepele. Breng—”

“Lee Hyukjae, hentikan!” Donghae melangkah maju. Mencoba melepaskan cengkraman tangan pria itu pada dokter keluarganya. Menghentikan umpatan yang bisa saja Hyukjae lontarkan saat ini juga. “Kontrol emosimu! Jangan berulah. Ini dirumah sakit. Ada anak-anakmu disini.”

Pria yang memasuki umur kepala tiga itu menepis tangan Donghae pelan. Tangannya tidak lagi mencengkram. Tapi kini dia gunakan untuk mengusap wajahnya. Bahunya pun ikut meluruh. “Kenapa? kenapa kau menyembunyikan ini dariku?” desisnya dengan nada frustasi.

Dokter Kim menghela nafas. Pria paruh baya itu tidak menyalahkan tindakan Hyukjae tadi. Wajar, menurutnya. Orang mana yang tidak kaget mendapat kabar buruk seperti itu?

“Percayalah, aku ingin sekali memberitahumu. Ayahmu. Atau siapapun yang bisa kuberitahu. Tapi Sena mengiba padaku untuk jangan melakukan hal itu, Hyukjae. Dia menangis keras. Memohon dengan sangat. Bagaimana bisa aku tega melihatnya seperti itu?”

Semua kepala—baik Hyukjae, Donghae, Eunso dan Im Haera—menghela nafas. Merasakan sesak pada dada masing-masing.

“Apa semakin parah?” pertanyaan yang sejak tadi tersangkut ditenggorokan Hyukjae, kini terealisasi oleh ucapan Im Haera. Wanita paruh baya itu menatap dokter Kim cemas. Bagaimanapun, Sena sudah dia anggap sebagai putri kandungnya. Dan mengetahui bahwa gadis itu menderita kanker, benar-benar menjadi sebuah dentuman keras pada dadanya.

Mereka memfokuskan mata pada dokter Kim. Menunggu jawaban yang akan disampaikan oleh pria paruh baya itu.

Dokter Kim mendesah. Pria itu menggeleng pelan, lantas berkata, “Semakin buruk. Kejadian hari ini membuktikan bahwa keadaannya memparah. Tes darah barusan menunjukkan diagnosa stadium dua—” pria itu berhenti sejenak, mengumpulkan kalimat yang tepat untuk disampaikan, “Sel kankernya bergerak dengan cepat. Bahkan sudah menjalar daerah panggul.”

“Apa tidak bisa disembuhkan?” kali ini Donghae yang bertanya.

Dokter Kim terdiam. Lagi. Menatap satu – per – satu pasang mata yang menunggu jawabannya. Lalu menarik nafas dalam. “Histerektomi. Operasi pengangkatan sel telur.”

“Sel telur? M-maksudmu—” Eunso yang seperti tahu akan bagaimana jalan cerita selanjutnya, akhirnya bersuara. Wanita itu bahkan sudah siap menumpahkan liquid penanda luka jika apa yang dikatakan dokter Kim selanjutnya sesuai dengan yang dia pikirkan saat ini.

Pria paruh baya itu mengangguk. Segan tapi harus. Dia harus mengatakan semua yang dia dan Sena simpan selama ini. “Satu-satunya jalan selain kemoterapi dan radioterapi, yang harus Sena lakukan adalah operasi. Operasi pengangkatan sel telur. Dan benar, ini seperti yang sedang kau pikirkan sekarang Eunso—Sena akan infertile.”

Im Haera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Donghae menghela nafas lantas menundukkan kepalanya. Menatap lantai marmer yang dipijaknya dengan keringat dingin yang mulai menjalar tengkuknya. Sedangkan Hyukjae menegang ditempat. Diam.

Infertile? Bukankah itu kata lain dari impotent? Apa yang dimaksud dokter Kim adalah fakta bahwa Sena akan mandul jika menjalani operasi tersebut?

“Apa tidak ada cara lain?” Eunso—sebagai wanita, kembali bertanya.

Dengan berat hati, dokter Kim menggeleng. Memberitahukan mereka bahwa saat ini, memang hanya itulah jalan satu-satunya untuk kesembuhan Sena.

“K-kau yakin?” tanya Hyukjae dengan sisa-sisa kesadarannya. Dan ketika matanya melihat dokter Kim yang mengangguk mantap namun lirih itu, seluruh beban yang beratnya berjuta-juta ton seperti sedang menimpa kepalanya sekarang. “Tapi dia seorang wanita, dokter Kim. Apa kau tega?”

“Jae, apakah untuk keadaan seperti ini kau masih harus memikirkan dia itu wanita atau bukan? Yang harus kita lakukan adalah mematikan kanker-nya. Membersihkan seluruh tumor yang memerangkap rahimnya. Dan menyelamatkan hidup adikmu adalah hal yang terpenting sekarang.”

Hyukjae memejamkan matanya erat. Bibirnya terbuka sebesar dua jari, Ingin membantah. Tapi terasa kelu. Benar apa yang dikatakan dokter Kim. Menyelamatkan Sena saat ini jauh lebih penting. Masalah wanita harus kehilangan salah satu asetnya sebagai wanita, itu bisa diurus nanti. Bagaimanapun, Hyukjae tidak mau kehilangan Sena.

.
(Un)Breakable
.

Habis sudah. Rahasianya yang salama ini dia simpan, kini telah diretas oleh masa. Tidak ada alasan lagi untuk menghindar. Tidak ada alasan lagi untuk mengingkarinya. Benar apa kata pepatah. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya tetap akan tercium juga.

Penyakit sialan ini, akhirnya diketahui juga oleh keluarganya.

Dalam diamnya, Sena menelan ludah. Setelah ini, semua orang pasti akan memandangnya penuh rasa iba. Hidupnya sudah tidak sempurna. Sudah tidak seindah dulu lagi. Perlahan tapi pasti, pembunuh itu akan terus menggerogoti tubuhnya. Sampai dia lemah. Sampai dia tidak berdaya. Sampai dia akhirnya menyerah pada waktu. Hanya tinggal menunggu kapan malaikat maut akan menjemputnya.

Tidak ada harapan lagi. Kecuali Sena benar-benar mengikuti saran dokter Kim. Itu pun mungkin akan sangat kecil baginya untuk tetap bertahan.

Dia mengusap perutnya. Bisa dirasakan bahwa sudah ada tonjolan kecil disana. Namun bukan tonjolan yang membulat sempurna. Melainkan tidak merata. Itulah kenapa akhir-akhir ini dia selalu memakai pakaian longgar. Yang dilapisi oleh mantel. Beruntungnya, tahun sudah memasuki musim dingin sehingga dia bisa memakai pakaian tebal untuk menutupi perutnya yang buncit.

Tragis. Dia menyebut nasib dirinya seperti itu. Jika wanita lain hidup dengan perut membuncit karena sedang mengandung buah hati mereka maka dia hidup dengan perut membuncit karena telah memiliki penyakit. Fakta apa yang lebih menyakitkan dari itu?

Dalam diamnya juga, Sena menangis. Air matanya mengalir dari kedua sudut matanya menuju pipi, pelipis hingga jatuh membasahi leher dan bantal yang berada dibawah kepalanya. Hatinya bertanya-tanya, kenapa Tuhan tega sekali membuatnya seperti ini? Dan kenapa harus dia? Selalu. Selalu pertanyaan itu yang muncul dalam benaknya. Tidak pernah ada yang lain.

Klik.

Suara pintu terbuka. Seseorang memasuki kamar rawatnya.

Dan masih dengan liquid penanda luka yang membasahi kedua matanya, Sena mengalihkan pandangannya. Matanya yang memburam bisa melihat bahwa disana—ada Lee Hyukjae yang berdiri dengan raut mendung. Menatapnya dengan seluruh kepedihan yang pria itu tunjukkan padanya.

Keduanya hanya diam. Saling menatap. Menyampaikan duka yang tertanggat ditenggorokan. Rasa tidak terima itu masih ada. Rasa tidak ingin percaya itu masih melekat. Dan sekarang, mereka telah dihadapkan pada masa yang membawa mereka dalam kepedihan.

Kedua mata Hyukjae berkaca-kaca. Melihat Sena yang sedang menangis—menatapnya sendu. Seperti memohon padanya untuk bisa mengeluarkannya dari rasa sakit itu. Dan dia, hampir saja menumpahkan air asin itu jika tidak mengingat bahwa Sena mungkin akan tambah terluka jika dia pun ikut menangis.

Maka, setelah menarik nafas dalam dan menutup pintu yang berada dibelakangnya. Dengan senyum terpaksanya, dia berkata, “Hei—sudah bangun?” lantas menarik kakinya untuk melangkah mendekati wanita itu.

Sena diam. Semakin menyendu. Hingga Hyukjae harus mengalihkan pandangannya begitu duduk disamping ranjang pesakitan itu. Dia berdeham sejenak. Ingin memulai percakapan lagi sebelum bibir Sena menyelanya. “Kau sudah tahu,” katanya dengan suara serak.

Dengan cepat Hyukjae langsung memutar lehernya agar bisa menatap Sena. Cepat sekali hingga dia bisa merasakan nyeri yang menyerang urat lehernya. Dia tahu bahwa kalimat tadi adalah sebuah pernyataan penuh sesal yang Sena ungkapkan padanya.

“Benar?” tanya Sena sekali lagi.

Namun hanya kebisuan dari Hyukjae yang dia dapatkan. Dia menarik nafas, lantas bangkit dari posisi tidurnya. Berusaha untuk duduk di atas ranjang. Dibantu oleh Hyukjae yang dengan cekatan menuntun tubuhnya. Dengan sedikit gemetar, tangannya meraih kedua tangan Hyukjae yang masih berada pada pundaknya dalam genggaman. Lalu sekali lagi, menatap mata pria yang memiliki hubungan darah dengannya.

“Jawab pertanyaanku, kau sudah mengetahuinya bukan?”

Lee Hyukjae menundukkan wajahnya sedalam mungkin. Menyembunyikan kepedihannya. Lalu berganti dia yang menggenggam kedua tangan Sena dalam tangkupannya dengan erat.

“Oppa—”

“Kenapa kau merahasiakannya dariku?” tanya Hyukjae balik dengan cepat. Kepalanya terangkat untuk menatap Sena. Seluruh wajahnya sudah memerah. Dibasahi oleh air mata yang ternyata tidak bisa dia tahan. Persetan dengan kata-kata Ayahnya yang pernah berkata bahwa pria tidak boleh menangis. Dia tidak peduli.

Sena yang menyaksikannya, menelan ludah pahit. Tenggorokannya tercekat. Dia tidak pernah melihat Hyukjae menangis. Tapi kini..

“Jadi kau sudah tahu?” tanya Sena kukuh. Menuntut Hyukjae untuk segera menjawab pertanyaannya. Meskipun dia sendiri sudah tahu jawaban itu akan seperti apa.

Hyukjae melepaskan tangan Sena. Menarik nafas dalam. Lalu mengusap wajahnya yang frustasi dengan kasar. “Tidak penting aku sudah tahu atau tidak. Pertanyaanku adalah kenapa kau tidak memberitahuku sama sekali, Sena! Aku Kakakmu! Aku berhak tahu apa yang terjadi padamu! Tapi kenapa kau, kenapa kau bahkan tidak per—” dia tersendat. Tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika sadar bahwa raut kesakitan itu menatapnya penuh iba disertai wajah berurai liquid duka.

Dengan segenap hati, Hyukjae membawa kepala Sena untuk bersandar pada dadanya. Memeluknya erat. Memberikannya tempat beradu. Lalu kembali menangis bersama dalam lengangnya ruangan lima kali enam meter itu.

Tidak ada yang berbicara. Hanya isakan Sena yang tersendat. Menahan diri untuk tidak tergugu ditempat. Tidak ingin membuat pria sedarahnya semakin bersedih karena fakta bahwa dirinya berpenyakitan.

Masa benar-benar telah mengungkapkan kebenarannya. Lee Hyukjae sudah tahu, Itu berarti semua keluarganya juga akan tahu. Atau mungkin sudah. Sena tidak tahu, tapi sungguh, dia juga ikut berduka atas dirinya sendiri.

“Apa semuanya sudah tahu?” tanyanya dengan suara parau ketika sudah mulai bisa mengontrol emosi. Bisa Sena rasakan anggukan yang diberikan Hyukjae sebagai jawabannya. Matanya kembali memejam erat, kemudian bertanya lagi, “Pap juga?”

Hyukjae mengusap air matanya. Semakin mengeratkan dekapannya pada kepala Sena. Kemudian menjawab, “Aku tahu kau tidak ingin Papa mengetahui semua ini, benar?”

Sena meregangkan pelukan itu. Mendongakkan kepalanya keatas. Menatap mata Hyukjae penuh harap. “Jadi belum?” dan jawaban itu langsung dia dapat saat Hyukjae menggelengkan kepalanya. “Terima kasih,” lanjutnya.

“Tapi Papa harus tahu Sena.”

Sena menjatuhkan tatapannya pada lantai, Menarik nafas pelan lantas berkata, “Aku tahu—” kemudian menatap lagi wajah sembab Kakaknya, “Tapi tidak sekarang.”

Hyukjae menelan ludah. Dia tahu apa yang ada dipikiran adiknya itu.

“Oppa, aku mohon rahasiakan ini semua dari Pap. Kau tahu bahwa— bahwa ini akan mengingatkannya kembali pada Mam. Dan aku tidak bisa melihat Pap bersedih karena hal itu. Aku mohon. Berjanjilah padaku, kau mau kan?”

Terdiam. Hanya itu yang bisa Hyukjae lakukan sekarang. Sena benar. Setelah mendengar penjelasan dokter Kim beberapa saat lalu mengenai riwayat penyakit adiknya, dia jadi yakin betul bahwa Ayahnya, mungkin—sekali lagi—akan menerima kesedihan yang sama, jika beliau tahu bahwa putrinya memiliki penyakit seperti ini. Penyakit ganas yang dulu pernah menimpa mendiang istrinya, Sofia Wu. Dan sekarang, tanpa ada pengampunan, penyakit itu harus diturunkan pada putri semata-wayangnya dalam bentuk versi lain. Lebih kompleks.

Lee Jung-Jae pasti akan sangat sedih. Saat mengetahui dua wanitanya harus berhadapan dengan penyakit yang sama mematikannya. Sementara dirinya, tidak tahu harus berbuat apa. Dia seperti tersesat ditengah lautan lepas seorang diri, disisi lain dia juga samasekali tidak mengetahui arah mata angin untuk bisa pulang.

Hyukjae kembali memeluk Sena. Mengecup lepas puncak kepala wanita itu selembut mungkin. Tidak berniat menjawab permintaannya. Sudah cukup dirinya yang dibuat syok. Dia tidak ingin memikirkan masalah Ayahnya akan tahu atau tidak nantinya. Kali ini, biar dia yang turut mengambil keputusan atas hidup Sena.

“Oppa ka—”

“Boleh aku bertanya?” tanyanya memutus kalimat yang akan diutarakan Sena. Sengaja. Karena memang ada satu hal juga yang sangat mengganggunya sejak menemukan wajah itu di restoran seafood yang mereka datangi beberapa jam lalu.

Dan seakan mengerti bahwa Hyukjae mungkin sedang menghindari permintaannya, Sena pun hanya menjawab pertanyaan pria itu dengan sebuah gumaman. “Apa kau juga menyembunyikan ini dari Kyuhyun?” lanjut pria itu.

Hyukjae bisa merasakan tubuh Sena yang menegang dalam dekapannya. Dia tersenyum getir. Mengakui bahwa instingnya tepat sekali. Sena benar-benar tidak pilih kasih untuk menyembunyikan penyakitnya. Bahkan, Kyuhyun pun—yang dia ketahui selalu bersama dengan adiknya itu, tidak Sena beri tahu.

“Kenapa?”

Hening sejenak. Hingga kemudian Hyukjae dia bisa merasakan bahwa Sena sedang menarik nafas dalam disana. Seperti keberatan tapi mau tak mau dia harus mengungkapkan alasannya. “Aku takut,” ucapnya lirih.

“Aku melihatnya tadi. Hanya sekilas memang. Tapi aku yakin itu adalah dia. Berdiri dengan tubuh kaku saat aku membawamu pergi. Dan itu terlihat sangat aneh,” Hyukjae menghentikan kalimatnya sebentar. Menghela nafas, kemudian melanjutkan, “Jika benar yang aku lihat adalah Cho Kyuhyun, maka seharusnya tidak seperti tadi. Kyuhyun yang aku kenal—dia sangat mengerti dirimu, memanjakan dirimu, memberikan perhatian penuh padamu dan… akan selalu cemas jika terjadi apa-apa denganmu. Walau dia memang tidak memperlihatkannya secara gamblang. Tapi tadi, bahkan saat kau dikerumuni oleh orang-orang. Atau saat aku dan Donghae berlarian menuju mobil untuk membawamu ke rumah-sakit, dia hanya diam. Mematung. Dan samasekali tidak menatap kearahmu. Tatapannya begitu kosong.”

Sena masih terdiam. Merasakan perih saat Hyukjae menjelaskan keadaan Kyuhyun tadi. Bukan pria itu yang bertingkah aneh. Tapi karena dirinya yang membuat pria itu pergi menjauh.

Hyukjae melepaskan pelukannya. Lantas memutuskan untuk duduk ditepi ranjang. Menatap mata Sena yang berkaca-kaca. Merutuki dirinya sendiri ketika sadar bahwa rasa penasarannya telah membuat wanita itu kembali akan menetaskan air matanya. Tapi egonya, lebih memilih untuk melanjutkan keingin-tahuannya.

Tangan Hyukjae terulur untuk menggenggam kedua telapak tangan Sena. “Kupikir, setelah kau menghindarinya saat itu, hubunganmu dengannya akan membaik. Tapi ternyata aku salah. Katakan padaku, apa karena ketakutanmu? Kau menghindarinya lagi?”

Dalam lengangnya masa, wanita itu mengangguk. Namun kemudian menggantinya dengan gelengan keras. “Aku yang memintanya menjauh,” katanya lirih. Membuat keadaan kembali hening,

“Kenapa? Kau bisa membuatnya salah paham Sena.”

“Aku tidak bisa memberitahunya. Ini—sulit.”

Hyukjae menghela nafas dalam. Lagi. Pria itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya. Sena seolah membuat hal yang seharusnya mudah, malah menjadi rumit.

Genggamannya terlepas. Berganti meraih pundak wanita itu. Memantapkan posisi mereka. “Apa yang kau takuti? Kyuhyun bukanlah pria picik yang akan dengan mudah meninggalkanmu jika dia tahu tentang kondisimu saat ini, Sena. Dia tidak seperti itu. Dan aku yakin akan hal tersebut,” mata Sena tetap menatap sendu kearahnya. Samasekali tidak ada binaran bahagia ketika dia meyakinkan bahwa Kyuhyun bukanlah pria yang seperti ada didalam pikirannya.

“Sebagai sesama pria, aku tahu. Dia tidak akan meningg—”

“Tapi aku yang akan meninggalkannya, Oppa!” selanya cepat. Diikuti dengan liquid itu yang akhirnya terjatuh juga. Sena tidak terlalu kuat untuk menahannya lebih lama. Dadanya kian menyesak jika harus mengingat nama itu.

Begitupun dengan Lee Hyukjae. Pria itu terbungkam atas kalimat yang baru saja diucapkan Sena. Dia hanya tidak menyangka jika Sena akan sejauh itu untuk berpikir.

“Cepat atau lambat, aku akan pergi. Dan itu akan membuatnya semakin terluka. Aku memang ingin dia bertahan disampingku. Ingin dia tetap ada. Tapi aku tidak bisa.. Ini terlalu sulit..” isakannya semakin menjadi. Membawa memori tentang tatapan datar yang Kyuhyun berikan padanya beberapa jam lalu. Ketidak-pedulian pria itu terhadapnya. Dan langkah pria itu yang kian menjauh dari jarak pandangnya. Hati Sena remuk. Tapi sekali lagi, dia tidak bisa.

Lee Hyukjae hanya bisa membiarkan wanita itu menangis. Mendapati dirinya yang tidak bisa apa-apa. Hatinya ikut terluka mendengar pernyataan tadi. “Kau akan tetap hidup, Sena. Kau akan baik-baik saja,” katanya lirih. Disertai tatapan kosong. Tidak mampu memandang wanita yang tersedu dihadapannya.

Sena menarik nafas dalam. Mengusap kasar kedua pipinya yang membasah. “Katakan aku memang hidup. Aku juga tidak memintanya menjauh. Tapi, kau bahkan sudah tahu bukan jika aku tidak bisa menjadi wanita seutuhnya? Kau tahu aku akan seperti apa nantinya. Dan itu tidak adil bagi Kyuhyun. Aku tidak bisa, Oppa. Kyuhyun—tidak boleh terjebak dengan wanita sepertiku.”

Lantas membuat Kim Hanna semakin membenciku. Lanjutnya dalam hati.

.
(Un)Breakable
.

Setelah merasa yakin bahwa posisi parkir mobilnya sudah tepat, Changmin menarik tuas rem tangan. Dia kemudian menghela nafas. Menyandarkan tubuhnya sejenak pada punggung kursi mobilnya. Mengusap wajahnya dengan intens. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini. Mendatangi sebuah apartemen untuk menemui seseorang. Tapi dia juga butuh untuk bertemu dengan seeorang itu. Wanita masa lalunya, Lee Sena.

Setelah malam dimana dia, Kyuhyun dan kedua orang tuanya melakukan makan malam bersama, ditambah dengan kehadiran Irene juga Ibunya saat itu, Changmin belum sempat menemui Sena. Dia pergi selama berminggu-minggu. Memutus akses dengan siapapun yang bisa saja menghubunginya saat itu. Dan sekarang, dia ingin mengetahui kabar wanita itu. Secara langsung.

Pikirnya, Sena pasti sudah tahu mengenai perihal perjodohan ini. Dan itulah alasan yang membuat Sena memilih pergi dari Kyuhyun. Sama seperti dirinya yang juga memilih pergi dari Irene.

Changmin kembali menghela nafas. Mengingatnya, membuat dia tersenyum pahit. Brengsek benar dirinya itu. Dua kali dalam hidupnya, dia telah berhasil meninggalkan wanita yang dicintainya dengan begitu mudah. Mengatas-namakan cinta dengan keluarga. Yang pertama untuk Kyuhyun dan yang kedua untuk Ibu dan Ayahnya.

Lalu tak lama, senyum pahit itu berganti dengan tawa getir. Kepalanya menggeleng keras. Mengantarkannya pada fakta tentang nasib yang harus dia lalui kedepannya.

Dia mengusap wajahnya. Lagi. Ini bukanlah saatnya dia memikirkan kembali hal itu. Sekarang, yang perlu dia lakukan adalah memastikan kondisi Sena. Biar bagaimanapun, Sena tetaplah seorang wanita. Dan dia telah menjadi korban dari nepotisme berkedok perjodohan keluarga ini. Pasti hatinya juga terluka. Sama seperti dirinya.

Kakinya, Changmin langkahkan dengan pasti memasuki apartemen mewah tempatnya berada sekarang. Menuju kotak silver yang akan mengantarkannya pada lantai yang dia tuju. Beruntungnya, Sena pernah memberitahukan alamat ini padanya. Jadi dia tidak perlu bersusah payah mencari tahu dimana wanita itu tinggal.

Namun begitu dia berniat mengeluarkan dirinya dari dalam kotak silver penggerak yang telah mengantarkannya pada lantai tujuh, kedua matanya menangkap sebuah wajah yang sudah tidak asing baginya. Wajah yang dulu sering dilihatnya. Wajah yang bisa mendamaikan hati setiap pria atau wanita manapun yang melihatnya, termasuk dirinya. Wajah manis, lembut serta keibuan yang dimiliki oleh…

“Eunso?” panggil Changmin ketika mendapati wanita yang dia ketahui sebagai kakak ipar Sena keluar bersama Yoorin dari pintu yang hendak dia tuju.

Merasa namanya terpanggil, wanita dengan usia yang berada satu tahun diatas Shim Changmin itu pun menoleh. Kearah suara yang memanggilnya. Lantas, kedua kelopak mata indahnnya melebar begitu melihat tubuh tinggi menjulang pria yang pernah menjadi kekasih adik iparnya—yang selama lebih dari enam tahun ini tidak dia ketahui keberadaannya, kini sedang berdiri dihadapannya.

Disampingnya, Han Yoorin ikut melebarkan kedua matanya. Membeku pula ditempat. Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan mengenai apa yang telah membuat fotografer muda itu berada disini. Dilantai apartemen tempat Sena tinggal.

“Changmin?” tanya Eunso balik. Meyakinkan penglihatannya.

Pria itu tersenyum tipis, kemudian menjawab, “Ya. Ini aku. Apa kabar Eunso?” kakinya kembali merajut langkah. Memangkas jarak yang tercipta diantara dirinya dengan dua wanita itu.

“Ini—benar-benar kau?” mulut Eunso terbuka sebesar tiga jari. Masih tidak mempercayai kehadiran pria tinggi itu dihadapannya. “A-aku baik. Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Sudah lama sekali bukan kita tidak bertemu?” dengan refleks, dia memeluk sebentar tubuh tinggi itu. Oh, Eunso sungguh merindukan Changmin yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.

Yeah.. sudah lama sekali,” jawabnya seraya meregangkan pelukan mereka. “Terakhir kali aku melihatmu, saat itu kau sedang hamil muda. Benar bukan? Tapi bahkan perutmu sekarang— sudah atau tetap mendatar? Apa anak itu sudah lahir? Apa adik untuk Chaera adalah anak laki-laki? Atau perempuan lagi?” tanya Changmin bertubi-tubi dengan sebelah alis terangkat keatas.

Eunso tertawa pelan. Hebat. Changmin bahkan masih mengingat kondisinya dulu, sebelum kemudian pria itu menghilang. Entah kemana. “Dia perempuan, Lee Chaerin namanya. Dan tentunya sudah besar sekarang. Hampir menyaingi Chaera. Kau harus bertemu dengan mereka kapan-kapan, Changmin. Chaera bisa jadi tidak mengingatmu karena usianya masih dua tahun saat kau pergi.”

Changmin tersenyum. Tapi Eunso dan Yoorin—yang sejak tadi diam—bisa melihat bahwa senyuman itu tidak sampai mata. “Ya. Akan ku usahakan,” tiba-tiba saja dia teringat alasannya untuk datang kesini tapi kemudian, matanya terpaku sejenak pada benda yang sedang dibawa oleh kedua wanita tersebut. “Omong-omong sedang apa kalian disini? Dan.. tas serta paper bag itu untuk apa?”

Eunso dan Yoorin saling melirik. Bingung hendak menjelaskan apa. Oh, mereka melupakan fakta bahwa Changmin belum mengetahui apa-apa.

“Apa Sena ada didalam?” tanya Changmin sekali lagi.

Namun tidak dijawab oleh kedua wanita itu. Dan jelas saja, Changmin bisa mencium adanya hal yang tidak beres. “Eunso? Yoorin-ssi?” panggilnya dengan alis yang berkerut samar.

Mata Yoorin mengerjap gugup begitu suara husky Shim Changmin memanggil namanya. Sungguh sial. Yoorin tidak tahu harus menjelaskan apa. Begitupun Eunso. Mereka berdua datang kesini hanya untuk mengambil keperluan Sena untuk kembali sore nanti, mengingat wanita itu membutuhkan pakaian ganti saat check-out dari rumah sakit. Serta membuatkan makanan lezat untuk wanita itu—karena Sena selalu mengeluh mengenai makanan rumah sakit yang sudah tiga hari ini dia tempati sangat tidak cocok dengan lidahnya.

Dan sekarang apa? Mereka mendapati Changmin berada disini juga. Yang tentunya tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Bagi Eunso, Changmin tidak akan pernah kembali setelah enam tahun lalu pria itu pergi. Karena baik Hyukjae ataupun Sena yang sudah lebih dulu bertemu dengan pria dihadapannya ini, samasekali belum menceritakan tentang kemunculan Shim Changmin lagi padanya. Sementara Yoorin, sejak kontrak antara Sena dan perusahaan tempat pria dihadapannya bekerja sambilan itu telah selesai, dia tidak pernah melihat batang hidung Shim Changmin. Mereka lost contact. Sena pun tidak pernah membahas tentang Changmin setiap kali mereka berbincang.

“Eng—Changmin, kau mau iku aku sebentar? Ada hal yang perlu ku bicarakan dengamu.”

“Unnie—” Yoorin melebarkan matanya. Tangannya tanpa sengaja mencengkram lengan atas wanita itu. Dia tahu apa yang akan dikatakan Eunso. Tapi… apa harus sekarang? Sena tidak akan suka jika mengetahui hal ini.

Eunso tersenyum tipis. Memberikan anggukan kecil pada wanita yang berada disampingnya. Lantas kembali menatap Changmin, “Kita bicara didalam saja, bagaimana?” lalu tanpa mau menunggu jawaban setuju dari Changmin, Eunso memutar tubuhnya dan kembali menekan kumpulan nomor pin untuk bisa mendapatkan akses masuk kedalam apartemen berpintu 7030 itu.

.
(Un)Breakable
.

“I-ini..” kalimat Changmin tersendat begitu membaca habis kertas yang diberikan oleh Eunso beberapa saat lalu. Pria itu menatap kedua wanita dihadapannya dengan tatapan menuntut.

De Javu. Yoorin bisa melihat cerminan ekspresinya pada raut wajah Shim Changmin saat dia juga diberikan Sena surat dengan logo Seoul Hospital ini. Dia menghela nafas. Menundukkan kepalanya dalam. Tidak berani memberikan kebenaran atas surat itu pada Changmin.

Sementara kedua mata Eunso menerawang. Memutar kembali memorinya ke malam dimana dia dan keluarganya berada di rumah sakit saat itu. Eunso tersenyum getir. Mengangguk. Lantas kembali menatap pria itu dengan mantap, “Dia sakit. Benar-benar sakit.”

“Eunso—kau yakin akan hal ini?” tanya Changmin. Berharap besar bahwa semua ini tidak benar.

“Ini semua benar, Changmin-ssi. Tidak ada rekayasa samasekali ddalamnya. Sena—sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang,” jawab Yoorin. Si Manajer berpostur mungil yang selama ini Changmin ketahui selalu berada disamping mantan kekasihnya.

Pria itu menelan ludah. Pahit. Jadi, Sena meninggalkan Kyuhyun bukan karena sudah mengetahui rencana perjodohan itu lebih dulu—seperti yang selama ini dipikirkannya? Wanita itu lebih memilih pergi dan bungkam karena—karena penyakit sialan ini?

Jantung Changmin seperti diremas oleh sebuah tangan besar. Bahkan rasa sesak ini lebih parah dibanding malam saat dia benar-benar melepaskan Irene. Sena… Sena-nya sakit? Kenapa dia baru mengetahuinya sekarang?

Dengan cepat, dia mengedipkan matanya yang telah mengembun tadi. Menghilangkan jejak air mata disana. Berdeham kecil, kemudian berkata, “Bisa kita pergi kesana sekarang?”

.
(Un)Breakable
.

Kyuhyun masih disana. Duduk berdiam diri dibalik kemudi mobilnya. Menatap kosong ke arah gedung besar yang berdiri kokoh diseberang jalan. Gedung yang didominasi oleh stopsol pada dindingnya. Gedung yang menyembunyikan tubuh rapuh Sena sejak malam itu.

Sudah tiga hari berturut-turut dia melakukan rutinitas ini. Hanya berdiam diri dan menatap kosong, tanpa melakukan apa-apa. Jika sebelumnya dia selalu melajukan mobilnya ke arah sebuah apartemen mewah, kini dia melakukannya ke sebuah gedung rumah sakit.

Dai tidak bisa berbohong, rasa kecewa dan terluka itu masih ada. Menggelayut erat dalam hatinya. Tapi dia pun tidak bisa menghentikan rasa pedulinya. Nalurinya sebagai seseorang yang pernah dekat dengan Sena, membuatnya tidak berdaya dipermainkan nasib. Dia ingin sekali menatap wanita itu. Mengetahui kondisinya sekarang seperti apa. Bahkan jika bisa, dia ingin sekali menjadi pria yang membawa tubuh rapuh itu dalam dekapannya malam itu. Tapi kembali lagi, egonya sebagai pria, menolak semua itu. Jadi yang bisa dia lakukan, hanya ini. Menatapnya dari jauh.

Setidaknya, melakukan hal ini bisa mengurangi rasa bersalahnya yang saat itu tidak peduli.

Namun lamunannya buyar ketika suara telepon berdering. Tidak perlu melihat siapa si pemanggil, Kyuhyun tahu siapa dia. Ibunya. Karena dia sudah men-setting nada dering yang berbeda untuk wanita satu itu. Tapi dia abai. Dia sedang tidak ingin menerima panggilan apapun. Terlebih dari Ibunya.

Menghela nafas, dia kembali menyalakan Jaguar-XKR silvernya. Beniat untuk pergi. Karena sudah dua jam lebih dia menghabiskan waktunya menetap disana. Sekarang, saatnya dia kembali pada aktivitasnya yang lain.

Namun sekali lagi, untuk terakhir kalinya di hari ini, dia menatap gedung besar itu kembali. Menyiratkan pesan pada seseorang didalam sana bahwa hari ini, tugasnya telah selesai. Semoga saja besok, lusa atau kedepannya dia tidak perlu menunggui wanita itu didepan gedung ini lagi. Jangan. Karena biar bagaimanapun, dia menyimpan ketakutan untuknya.

.
(Un)Breakable
.

Sena memutar kepalanya pada balkon rumah sakit dengan cepat. Membuat Chaera dan Chaerin yang sedang bercanda dengannya merasa heran karena gerak refleks Bibi sekaligus Aunty-nya yang tiba-tiba. Mereka memang sudah berada disini sejak lima belas menit lalu, menemani Sena setelah tadi dijemput Ayahnya dari sekolah.

Kaki Sena melangkah secara perlahan menuju dinding kaca tersebut. Begitu jaraknya sudah cukup tepat, matanya menelisik keluar jendela. Menatap lalu lintas yang ramai dibawah sana.

Ada yang aneh. Tiba-tiba saja dia merasakan hatinya menghangat. Entah karena apa. Dia merasa terpanggil. Dia juga merasakan seperti ada seseorang yang sedang menunggunya untuk pulang. Tapi dia pun tidak tahu siapa orang itu. Dan kemana pulang yang dia sebut tadi.

Sena masih terdiam. Mengabaikan dua keponakannya yang berada disana. Tatapannya tertuju pada sebuah mobil berwarna silver dibawah sana. Melaju meninggalkan taman kota yang letaknya diseberang rumah sakit ini.

“Aunty sedang melihat apa?” Chaerin bersuara setelah bermenit-menit Sena hanya diam menatap kearah jalanan yang ada dibawah.

Mata Sena mengerjap mendengar pertanyaan itu. Lalu dengan kaku, dan senyum kecil yang dia tunjukkan diwajahnya, dia menjawab, “Tidak. Aunty—hanya sedang melihat, apakah jalanan macet atau tidak.”

Chaerin ikut mengalihkan pandangannya lagi pada arus lalu lintas dibawah, “Tidak kok. Tidak macet. Aunty ingin cepat-cepat sampai rumah ya?” tanya gadis cilik itu disertai dengan cengiran lucu diwajahnya. Membuat Sena tidak tahan untuk mencubit kedu pipi tembamnya.

“Tentu saja Bibi ingin cepat sampai rumah. Tinggal berlama-lama disini kan tidak enak. Betul tidak Bi?” timpal Chaera.

Sena tersenyum tipis. “Chaera benar. Disini sangat menyeramkan saat malam hari. Makanya Bibi ingin cepat pulang. Itulah kenapa kalian tidak boleh sampai masuk kerumah sakit juga. Atau kalian akan mengalami hal yang sama menakutkannya seperti Bibi.”

“Apa—disini banyak hantunya?” bisik Chaerin lirih. Tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang. Jika disini memang banyak hantunya, maka benar, itu akan sangat menyeramkan sekali.

“Apa Chaerin tidak tahu?” tanya Chaera balik. Dia paham akan permainan Bibinya. Sepertinya asyik juga mengerjai adiknya ini selagi menunggu Papanya mengurus kepulangan Bibi Sena dari rumah sakit. Sekaligus juga menunggu Mama dan Bibi Yoorin yang mungkin sebentar lagi akan sampai kesini.

Dengan senyum yang terkulum dibalik bibir, Sena menatap geli kearah gadis cilik berusia enam tahun itu. Ya Tuhan, sudah lama sekali dia tidak mengalami hal seperti ini.

Chaerin dengan kedua mata yang membesar, menggeleng kaku. Dia tidak tahu. “I-itu pasti sangat menyeramkan ya, Aunty?”

“Huh?” Sena yang tadi masih sibuk mengulum senyum, hampir saja kecolongan. “Ya, tentu saja.”

 “Chaerin tahu,” bisik Chaera lirih. Menatap mata adiknya dengan kedua tangan yang diangkat keatas, persis sekali seperti hantu yang akan menerkam anak-anak nakal dan mata yang menyipit tajam. “Gigi-gigi hantunya sangat panjang dan bertaring. Wajahnya dipenuhi dengan darah. Matanya lepas satu. Salah satu sudut bibirnya robek hingga pipi. Dan yang terpenting—” gadis berusia sembilan tahun itu menggerak-gerakan jarinya, “Hantu itu sangat tidak menyukai bocah nakal dan cerewet sepertimu. Dia akan—”

Klik.

“Papa!” teriak Chaerin sambil berlari begitu melihat Hyukjae membuka daun pintu. Membuat Sena dan Chaera terbahak ditempat. Geli oleh tingkah Chaerin yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dari kebiasaannya.

Chaerin begitu erat memeluk tubuh Hyukjae yang terkejut ditempat. Sementara pria itu, jelas dibuat kebingungan. Namun begitu sadar wajah ketakutan putri bungsunya, dia segera paham. Menghela nafas, dia pun berkata, “Papa sudah bilang jangan menakut-nakuti adikmu dengan hal-hal yang seperti itu, Chaera. Tidak baik.”

“Chaera hanya bercanda, Pa. Tidak sungguhan.”

“Itu tetap tidak baik,” jawab Hyukjae tegas. Menghadirkan wajah murung diwajah putri sulungnya. Kemudian dia membujuk Chaerin lagi bahwa apa yang dikatakan kakaknya hanyalah bualan. Tidak ada hantu samasekali disini.

“Pasti kau dalangnya kan?” tembak Hyukjae disertai kepala yang menggeleng tidak percaya pada Sena. Sementara wanita itu hanya bisa meringis. Menggigit-gigit kecil bibir bawahnya. “Maaf..” ucapnya. Kemudian saling melirik dengan Chaera dan kembali tertawa bersama.

“Tidak ada hantu, Chaerin. Aunty dan Unnie hanya membual.”

“Tapi tadi Chaerin benar-benar melihatnya, Pa!”

“Kapan?” tanya Hyukjae. Sementara Sena dan Chaera mengerutkan alisnya. Tunggu—mereka hanya bercanda tadi, bagaimana mungkin Chaerin bisa melihat hantunya?

“Baru saja. Di wajah Unnie..”

“Apa?!” Chaerin yang mendapatkan pernyataan seperti itu, jelas ikutan merinding. Hyukjae dan Sena. Apa hantunya benar-benar ada dan merasuki tubuhnya? Tapi dia tidak merasakan apa-apa tadi.

“Hantunya mirip sekali dengan Chaera Unnie, Pa..” jelas Chaerin lagi dengan wajah sok polosnya.

Hening sejenak. Langit-langit mendadak lengang. Hingga kemudian suara tawa Hyukjae dan Sena memenuhi kamar tersebut. Sementara Chaera memasamkan wajahnya. Tidak terima bahwa wajahnya disamakan dengan wajah hantu. Apa-apaan itu!

Suara ketukan mengalihkan perhatian mereka. Membuat keempatnya menggeser tatapan mereka menuju pintu yang terbuka. Dan dengan tawa yang masih merekah dibibirnya, Hyukjae serta Sena menatap seseorang yang berdiri di ambang pintu

“Haii..” sapa Eunso.

“Mama! Akhirnya sampai juga..” riang Chaerin dan Chaera bersamaan begitu mendapati wajah Ibunya yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi muncul dihadapan mereka.

Sena masih menghadirkan senyum ketika melihat kedua putri Lee Hyukjae berlarian menuju Eunso. Berebut memeluk wanita yang telah melahirkannya. Rasanya keluarga kakaknya itu bahagia sekali. Namun kemudian bibirnya mengejur saat matanya yang berpendar mendapati tubuh tinggi menjulang seorang pria berdiri dibalik punggung wanita yang menjadi kakak iparnya sedang menatapnya sendu.

Mata Sena membulat seketika. Untuk apa pria itu ada disini? Lalu tatapannya beralih pada Yoorin yang berdiri disamping Changmin. Meminta penjelasan. Namun oleh gadis itu, isyarat matanya dibalas dengan gelengan lirih.

Lee Hyukjae yang berada ditengah-tengah antara kubu istrinya dan Sena, pun ikut menatap tak percaya ketika presensi Changmin ditangkap oleh kedua retinanya. Bagaimana bisa pria itu ada disini?

“Sena..” panggil Eunso dengan suara rendahnya. Membawa pandangan Sena menuju padanya. Wanita itu kemudian tersenyum kecut. “Maafkan aku,” lanjutnya. Lantas berbalik memberi isyarat pada Hyukjae dan Yoorin untuk menyingkir sebentar. Memberi ruang bagi kedua anak adam yang dulu pernah disatukan itu.

.
(Un)Breakable
.

Keduanya duduk bersisian disofa yang tersedia disana. Melengangkan langit-langit dengan kebungkaman. Yang satu menunduk dalam, sementara yang lain tidak bisa berhenti menatap yang menunduk. Lidah mereka sama-sama kelu. Hanya dada saja yang bergejolak tak menentu.

“A-aku ingin sekali tidak mempercayai ucapan Eunso dan Yoorin-ssi. Ingin sekali menyangkal. Tapi melihatmu disini dengan pakaian rumah sakit—”

Sena mendongak. Menarik nafas dalam lantas balas menatap Changmin dengan senyuman tipisnya. Dia tidak mau terlihat lemah. “Sekarang kau percaya?” tanyanya.

Changmin menatap mata sendu itu. Ya, sekarang dia percaya.

Pria itu menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Sena. Kemudian tanpa aba-aba, dia mendekapnya erat. Seperti yang sudah dia tahan sejak menemui wanita ini diawal tadi.

“Jangan takut. Jangan bersedih. Kau ada bersamaku disini. Aku tidak akan pergi dan meninggalkanmu sendiri,” ucapnya tanpa perlu menggunakan basa-basi lain. Tanpa perlu mengklarifikasi bahwa penyakit yang diderita Sena lah yang membuat wanita itu pergi dari hidup sahabatnya, Cho Kyuhyun. Lagipula dia sudah tahu semuanya. Kronologisnya seperti apa, Eunso dan Yoorin sudah memberitahunya. Jadi dia tak perlu membuang-buang waktu untuk bertanya lagi pada si objek.

Changmin tahu persis bagaimana Sena. Wanita itu pasti tidak mau membuat Kyuhyun terluka dengan keadaannya. Sebisa mungkin, dia lebih memilih menyakiti Kyuhyun sekarang dibanding harus mempertahankan pria itu disisinya sementara dia sendiri pun rapuh. Lemah. Dan tidak berguna.

Sena tersedak oleh udara yang dihirupnya. Matanya mengembun. Perkataan Changmin—sungguh membuatnya sesak sekaligus hangat dalam dadanya. Pria itu sangat mengerti dirinya tanpa dia harus mengatakan apa yang dirasakannya.

Dia lebih mengeratkan dekapan itu. Menyampaikan pesan bahwa dia tidak mau sendiri lagi. Dia membutuhkan orang-orang yang berada disekitarnya. Yang mampu mendukung keadaan psikologisnya.

“A-pa k-kau iba padaku?” bisiknya ditengah menahan isakan yang akan keluar.

“Aku menyayangimu.”

“Kenapa kau begitu mudah mengatakan hal itu?”

“Kenapa harus bertanya?” Changmin meregangkan pelukannya. Menyeka air mata yang mengalir dikedua pipi Sena. Pada akhirnya, wanita itu tetap akan terlihat lemah. “Kita pernah bersama. Aku pernah mencintaimu. Tidak mudah bagiku untuk melepaskan perasaan itu dengan mudahnya. Sebagai gantinya, walau hatiku sudah dimiliki wanita lain, aku masih tetap memiliki perasaan sayang itu, Sena. Untuk apa kau bertanya lagi?”

Sena menggenggam tangan Changmin yang masih berada dikedua pipinya. Matanya yang menyiratkan keharuan, meneteskan liquid itu lagi. Kali ini bukan penanda luka tapi bahagia karena Tuhan telah mengirimkan Changmin untuknya. Dulu, bagaimana bisa dia melukai hati pria yang begitu tulus ini? Apakah ini sebuah karma? Dia tidak bisa bersama Kyuhyun adalah balasannya karena pernah menyakiti Changmin? Begitu?

“Aku tidak iba padamu. Justru aku takut kau pergi, Sena. Maka dari itu, bertahanlah. Bertahan agar kau juga bisa meraih Kyuhyun kembali. Dia sangat mencintaimu.”

Sena kembali tergugu. Dia bisa merasakannya. Dia tahu seberapa besar Kyuhyun mampu mencintainya. Karena dia pun begitu mencintai Kyuhyun.

.
(Un)Breakable
.

“Oii!” tepuk Yura keras—tanpa ampun—pada bahu Minho. Pria yang sejak tadi melamun didalam kubikelnya itu, melirik rekan wanitanya sinis. Mengagetkan saja!

“Tck. Tidak usah melotot begitu padaku. Kau kenapa sih? Sedang patah hati ya? Melamun terus kerajaanmu. Kalau Bos melihat, kau bisa terkena omelannya tahu!”

Minho menghembuskan nafas. Tidak memedulikan ocehan Yura. Lagipula ini masih jam istirahat. Jadi tidak apa-apa bukan jika dia melamun?

Pikiran Minho masih terpaku dengan kejadian seminggu yang lalu. Saat dia dan Kyuhyun dipertemukan dengan Sena disebuah restoran seafood. Dilanjutkan dengan ketidak-pedulian Kyuhyun pada wanita itu dan Noona kesayangannya yang jatuh pingsan dengan darah yang mengalir dari selangkangannya.

Selama beberapa hari ini, Minho tidak bisa berhenti memikirkan hal itu. Otaknya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang terjadi pada Sena? Kenapa dia? Kenapa dengan Kyuhyun? Ada apa dengan mereka? Apa maksud pendarahan itu? Semuanya berkumpul jadi satu. Tapi dari semua pertanyaan itu pula, tidak ada satupun jawaban yang bisa didapatkannya.

Dan itu yang membuatnya kesal setengah mati.

Oh, tunggu! Wanita itu—wanita yang pernah mendatanginya dan memintanya memberitahu dimana Kyuhyun berada. Wanita yang merupakan pewaris utama perusahaan Hanhwa—dia juga menjadi bahan pemikiran Minho akhir-akhir ini. Perdebatan antara wanita itu dan Bos-nya mengenai.. ah, pernikahan! Itu sangat-sangat mengganggunya.

Demi Tuhan, dia penasaran. Benang merah seperti apa yang membentang diantara Kyuhyun – Sena – dan wanita itu?

“Yak, Choi Minho!” gertak Yura sekali lagi saat rasa sebalnya sudah mulai menggunung dengan desahan dan gerutuan Minho yang tidak jelas. Dan tidak dia ketahui karena apa. “Kau ini kenapa sih?!” sengitnya.

Dibentak seperti tadi, Minho mengerjapkan matanya. Lalu menoleh dengan cepat kearah Yura. “Yura.”

“Hm..”

“Yura.”

“Ya?”

“Yur—”

“Aish apa lagi?! Aku sudah menyahut Minho! Kau tidak perlu memanggil namaku berulang-ulang!” sentak Yura. Ah.. Choi Minho ini semakin menyebalkan saja.

Minho berjalan cepat menuju kubikel Yura. Membuat wanita itu menatapnya heran. Dengan tatapan wajah yang serius, dia kemudian bertanya, “Apa kau tahu jika wanita pendarahan itu karena apa?”

Alis Yura mengerut. Mencoba meneliti apa maksud dari Minho menanyakan hal itu. Namun ketika tak mendapatkan jawaban samasekali melalui raut wajah rekannya, dia pun mengalah. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Berdeham sejenak. Menarik nafas, pria dengan tinggi proporsional itu pun menjawab, “Sena Noona—”

“Sena Unnie? Tunggu dulu—maksudmu apa?” merasa tertarik dengan arah pembicaran topik mereka kali ini, dia pun menyingkirkan berkas yang tadi dia rencanakan akan dikerjakan selagi mengisi waktu istirahat yang tersisa begitu saja.

“Aku belum selesai bicara Nona Kim,” Minho menatap malas wanita yang ada dihadapannya. Kemudian dengan setengah berbisik dia berkata lagi, “Kau ingat malam ketika aku menggantikanmu menemani Bos untuk makan malam dengan Mr. Alan?”

Yura mengangguk.

“Disana, kami bertemu dengan Sena Noona. Ternyata dugaan kita selama ini memang benar. Bahwa ada masalah yang terjadi diantara mereka. Kau tahu, Bos benar-benar dingin. Tidak peduli, lebih tepatnya seperti enggan melihat Noona. Tapi Yura, bukan itu yang menjadi pikiranku akhir-akhir ini.”

“Lalu?”

“Sena Noona pendarahan.”

“Apa?!” Yura membawa kedua tangannya untuk menutup mulut. Pendarahan?

Minho mengangguk lesu. Saat itu,sebenarnya dia ingin sekali ikut mengantar Sena kerumah sakit, tapi Kyuhyun dengan egonya, meminta dia untuk lekas mengantarnya pulang. Tidak memberikan satu kesempatan pun padanya untuk membantah.

“B-bagaimana bisa?”

Minho mengedikkan bahu. “Justru itulah yang ingin ku tanyakan padamu. Selain karena hamil, apa wanita bisa mengalami pendarahan?”

“Tentu saja tidak! Bahkan saat dalam masa periodenya pun tidak akan separah yang kau sebut tadi. Wanita hanya akan mengalami pendarahan saat dia sedang hamil, Choi. Terlebih jika sedang hamil mud—tunggu. Apa—” Yura kembali melebarkan mulutnya. Tidak mungkin.

Minho menjetikkan jarinya didepan Yura. “Nah! Kau sepikiran kan denganku. Sena Noona hamil. Begitu bukan?”

“Tapi bagaimana bisa?”

“Tentu saja bisa!” desah pria tinggi itu. “Kau tahu sendiri hubungan mereka seperti apa. Free! Bebas, Yura! Bos dan Noona memiliki paham Jolie-Pitt. Berani berbuat tanpa komitmen. Tidak menutup kemungkinan jika Sena Noona bisa hamil. Karena Angelina Jolie saja bisa!”

Yura mengangguk. Membenarkan pernyataan Minho. “Yeah.. kau benar. Hal itu bisa saja terjadi. Tapi kenapa hubungan mereka merenggang? Apa Unnie tidak memberitahu Bos tentang keadaannya? Atau, apa ini karena Bos menolak janin yang dikandung Unnie? Bukankah selama ini mereka saling jatuh cinta?” tanya Yura cemas.

Dengan wajah murung, Minho menjawab lirih, “Untuk yang itu aku tidak tahu. Sudah lebih dari sebulan bukan Bos tidak tersentuh? Saat masih baik-baik saja dengan Noona, dia tidak seperti ini.”

Yura kembali mengagguk. Namun kemudian tubuhnya berjengit kedepan. “Minho-ya, apa mungkin—janin yang dikandung Unnie bukan hasil perbuatannya dengan Bos?”

Mata Minho membelalak lebar. Bukan karena menyetujui kalimat Yura, melainkan karena tidak menyangka wanita dihadapannya ini bisa berpikiran seperti itu. “Jangan sembarangan Yura! Jika Noona mendengar ucapanmu barusan, dia pasti akan kecewa!”

“Lalu apa? Kau bilang saat kalian bertemu dijamuan makan malam itu, Bos seperti enggan melihat wajah Unnie. Jika kau lebih mengaitkannya lagi, pasti Bos sudah tahu tentang kehamilan Unnie hanya saja—janin itu bukan miliknya. Itu yang membuatnya tidak peduli lagi.”

Minho tertegun. Pernyataan Yura menohoknya. Tapi jika pun benar, Noona kesayangannya tidak sedang mengandung janin yang ditanamkan Bos-nya, lalu siapa pria itu? Siapa pria yang berani merebut perhatian Sena dari Kyuhyun?

“Tidak mungkin. Noona tidak mungkin seperti itu, Yura.”

“Aku juga ingin menyangkal. Tapi—apa bisa kau memberikan alasan lain yang lebih tepat dibanding analisisku tadi?”

Terdiam. Tidak ada jawaban samasekali dari bibir pria itu. Pikiran Minho masih belum menerima analisis Yura. Dia yakin, Noona kesayangannya tidak  mungkin mengkhianati Bos-nya. Mereka terlalu dimabuk cinta—Minho bisa merasakannya. Jadi mana mungkin ada yang berkhianat.

Kemudian pikirannya tertuju pada malam saat dia mendatangi sebuah pub dengan seorang wanita. Untuk menemui Kyuhyun. Ah! Ini juga yang tadi dia pertanyakan eksistensinya.

“Wanita itu…”

“Huh?” tanya Yura tak mengerti. Setelah mereka terdiam cukup lama tapi Minho malah melafalkan lima silabel yang asing itu.

“Wanita itu Yura!”

“Wanita yang mana yang kau maksud?”

Minho menarik nafas dalam. “Pewaris utama Hanhwa Engineering & Construction. Kau ingat?”

“Maksudmu?”

“Bos pernah berdebat dengannya disebuah pub. Dan masalah yang mereka bicarakan adalah tentang pernikahan. Per – ni – ka – han. Dan.. dan.. Ah, Changmin Hyung! Mereka membawa-bawa Changmin Hyung juga!”

Yura menggeleng pelan. “Minho, aku samasekali tidak mengerti apa maksudmu.”

Pria itu kembali mendesah. Melesukan kedua bahunya. “Yeah.. aku juga tidak mengerti sih. Tapi aku yakin, keempat orang itu saling terhubung satu sama lain.”

.
(Un)Breakable
.

Kyuhyun mendengar semuanya. Pembicaraan tadi. Pembicaraan yang mengangkat topik tentang hubungannya dengan Sena. Pembicaraan terselubung yang membuatnya dadanya menyesak seketika.

Setelah mendengar pernyataan Yura, hatinya yang masih basah karena terluka parah bagai diberi oleh sebuah cairan dengan tingkat Ph keasaman yang sangat tinggi. Begitu perih. Bahkan bisa membuatnya membusuk perlahan.

Beberapa minggu lalu, dia juga pernah berpikiran seperti itu. Berpikir bahwa Sena memang hamil namun janin yang sedang dikandungnya bukanlah hasil dari perbuatannya.

Dia tidak tahu bagaimana bisa pemikiran brengsek itu hadir kedalam isi tempurung kepalanya. Hanya saja, seperti yang dikatakan Yura tadi, wanita hanya akan mengalami pendarahan jika mereka sedang mengandung. Dan Sena sudah mengalami hal seperti itu dua kali didepan matanya. Tapi fakta bahwa Sena tidak memberitahunya samasekali, itu membuat pikirannya benar-benar buruk. Dan harga dirinya yang tinggi sebagai seorang pria semakin terluka.

Selama ini, yang dia tahu pernah menyentuh wanita itu hanyalah dirinya. Tapi jika benar, ada pria lain diantara mereka, lalu menyentuh Sena seperti Kyuhyun menyentuhnya maka bukan hanya luka bernanah yang pria itu rasakan tapi kehancuran yang membawa dirinya melebur bersama debu-debu tak berarti.

Kyuhyun akui bahwa dirinya memang mencintai Sena. Sangat mencintainya. Hingga rasanya untuk mati saat ini pun segan karena takut tidak bisa bersama dengan wanita tersebut. Dan hal itu juga sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak rela membagi Sena dengan siapapun. Tapi kenapa wanita itu…

Kyuhyun menekan pedal gasnya dalam-dalam. Masa bodoh dengan suara klakson dari luar yang meraung menyerbu mobilnya. Pria itu tidak peduli. Dia sedang dalam kondisi emosi yang buruk. Sangat buruk. Jadi akan sangat percuma jika ada yang memprotes kegilaannya saat ini.

Setelah Jaguar silvernya berhasil mengantarnya ketempat ini. Kyuhyun dengan langkah terburu-buru meninggalkan si mesin bergerak itu. Tidak memedulikan petugas valet yang berada disana. Yang terpenting sekarang adalah, dia bisa menumpahkan emosinya. Menumpahkan segala raunngannya yang tertahan ditenggorokan.

.
(Un)Breakable
.

“Wah. Aku tidak menyangka kalian akan sedekat ini jadinya,” decak Sena kagum atas perubahan hubungan yang terjadi pada Changmin dan Yoorin.

Sepuluh menit lalu, dua orang tersebut terdampar didepan pintu aprtemennya. Berseru riang mengatakan bahwa hari ini mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan—lebih tepatnya hanya Yoorin yang berseru, sementara Changmin hanya tersenyum kecil. Diberitahukan dari mantan manajernya itu, bahwa untuk hari ini dia akan dengan senang hati memasakan dirinya dan Changmin makanan-makanan khas Prancis.

Well—Sena tidak masalah. Selain pandai mengatur jadwalnya dulu, Yoorin memang sudah mahir dalam hal memasak. Itulah alasan kenapa dia memilki restoran sendiri. Jadi dia ataupun Changmin tidak perlu merasa khawatir kalau-kalau mereka akan keracunan nantinya.

Dengan terkikik riang sambil memotong daging kecil-kecil untuk dibuat Beef Bourguignon, Yoorin menjawab, “Kau tidak tahu saja embel-embel ssi bahkan sudah menghilang setiap kami memanggil nama masing-masing.”

“Benarkah?”

 “Kau tanyakan saja pada si tuan jangkung itu!” katanya lagi dengan dagu yang mengarah pada Changmin. Yang langsung disetujui dengan anggukan oleh pria itu.

“Ada yang bisa kubantu, Yoorin?” tanya pria itu.

“Ah.. tidak, tidak. Lebih baik kau menemani Sena mengobrol saja. Biar aku yang memasakan makanan spesial ini untuk kalian.”

“Bilang saja kau tidak mau direcoki Miss Han,” cibir Sena.

“Nah itu kau tahu. Haha.”

Changmin yang berdiri disebelah Sena mendengus kecil disertai dengan gelengan kepalanya. Dasar! Lalu dia melarikan matanya lagi pada wanita masa lalunya itu. Menatap dengan sorot mata lembut yang diyakini menjadi dambaan oleh setiap kaum hawa yang melihatnya.

“Apa hari ini kau merasa baik-baik saja? Tidak ada yang sakit kan?” tanya Changmin seraya menggiring wanita itu menuju ruang tengah. Tangannya merangkul bahu gadis itu, sekaligus untuk mengetahui suhu tubuhnya.

Sena mendongak. Tersenyum padanya dengan wajah yang masih sedikit pucat. “Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.”

Changmin menghela nafas, “Syukurlah kalau begitu..”

“Apa kau sekhawatir itu?” tanya Sena dengan cengiran yang tidak hilang dari wajahnya.

“Menurutmu? Sena, dengar. Kau lebih memilih tinggal disini sendiri dibanding dengan keluargamu. Siapa yang tidak khawatir akan hal itu? Kami hanya takut terjadi apa-apa denganmu sementara tidak ada seorang pun yang tahu.”

“Aku janji jika ada apa-apa, aku akan langsung menghubungi kalian. Kau percaya padaku?” Bola matanya yang sewarna cendana memaku lensa gelap yang dimiliki mantan kekasihnya. Tersenyum—meyakinkan bahwa ucapannya bisa dipegang.

Sena hanya ingin menghabiskan waktunya seperti Sena yang biasa. Bukan Sena yang penyakitan. Lagipula dia tidak rela meninggalkan apartemen mewahnya ini sendiri. Kosong. Jadi daripada sewanya hangus, lebih baik dia gunakan saja.

Changmin terdiam. Tidak menjawab samasekali pertanyaan Sena. Dia sedang terbuai oleh tatapan wanita ini. Mengingat dia juga sangat menyukai bagaimana cara Sena menatapnya. Warna lensa kecokelatan itulah yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta habis-habisan pada wanita ini. Melalui tatapannya yang menyerupai rusa, Sena selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.

Seperti sekarang—entah bagaimana bisa terjadi, tapi diluar kendalinya, perasaan yang dulu sempat dipujanya seakan kembali hadir. Menyusup diantara luka-luka hatinya yang menganga atas kepergian Irene yang harus dia relakan.

Dia tidak berbohong saat dia berkata bahwa dia memang masih sangat menyayangi mantan kekasihnya. Itulah mengapa setiap kali Sena menghilang, Sena terlihat sakit, Sena bertengkar dengan Kyuhyun atau Sena yang tidak berada dalam jarak pandangnya, dia sering merasa khawatir.

Tapi terkadang, bukan kekhawatira itulah yang membuat dirinya betanya-tanya. Melainkan rasa yang dimilikinya terhadap wanita ini. Dia jelas mencintai Irene. Itu tidak bisa diganggu gugat. Karena dia yakin, dengan wanita itulah dia memiliki janji kehidupan masa depan. Walau pada kenyataannya, hubungan mereka—well, sudah berakhir. Tapi melepaskan Sena sepenuhnya, dia tidak pernah mengiyakan pernyataan itu.

Bayang-bayang wanita ini masih ada. Masih melekat. Hanya saja, tertimbun dengan cinta yang selama ini Irene berikan padanya. Sena adalah cinta pertamanya. Itu pulalah yang menjadi alasan bagaimana bisa Shim Changmin ikut merasakan pedihnya saat wanita ini terluka.

Dan dia—merasa sangat berdosa akan hal ini. Seharusnya dia bisa tegas.

Dengan mata yang mengerjap gugup, dia menjawab dengan senyuman tipis, “Kau memang selalu menang, Nona.”

Sena tertawa. Diikuti oleh dirinya yang terkekeh kecil. Namun, suara bel menginterupsi keduanya.

“Kau ada tamu?” tanya Changmin dengan alis berkerut. Dibalas oleh Sena dengan gedikan bahu. Setahunya dia tidak memiliki janji bertemu dengan seseorang dirumahnya. Apa mungkin—Lee Hyukjae?

“Seingatku tidak akan ada yang datang hari ini. Tapi mungkin itu Oppa,” dia lantas bangkit berdiri dari duduknya. Melangkah menuju pintu utama. Hendak membuka pintu untuk tamunya tersebut.

Hanya saja, kecerobohan Sena adalah dia tidak pernah melihat siapa tamu yang datang itu melalui intercom. Seringnya, dia selalu abai. Hingga ketika dia berhasil membuka pintu berwarna hitam legam itu, wajah penuh emosilah yang dia dapati.

Terkejut? Tentu saja. Sena pikir, setelah lebih dari sebulan pria itu tidak mendatangi apartemennya, dia tidak akan mendapati wajah ini lagi. Ada gerangan apa pria itu mendatanginya?

“Kyu—”

PLAAK.

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat dipipi kirinya hingga membuat tubuhnya terhuyung. Berakhir dengan tubuhnya yang jatuh bersimpuh. Disertai teriakan yang membuat dadanya menyesak.

“DASAR JALANG!!”

Sena bisa merasakan telinganya berdengung kencang dan matanya yang berkunang-kunang akibat tamparan tadi. Sakit. Tapi makian yang pria itu sematkan padanya, jauh lebih menyakitkan.

Dari arah belakang, dia bisa mendengar dua pasang kaki yang berlarian. Berniat menghampirinya.

“Sena!” panggil Yoorin begitu mendapati tubuh sahabatnya jatuh terduduk dibawah. Sementara didepannya, dia melihat Kyuhyun dengan nafas tidak teraturnya menatap tajam kearah Sena.

Dengan segera, Changmin yang tadi ikut berlari, menarik tubuh Sena untuk berdiri. Namun matanya membelalak begitu melihat sudut bibir Sena yang berdarah dan pipi wanita itu yang memerah. Disana, jelas sekali terlihat ada jejak telapak tangan.

Rahang Changmin mengeras. Teriakan Kyuhyun, jelas sangat diterima baik oleh telinganya tadi. Jadi, besar kemungkinan yang melakukan ini pada Sena adalah pria itu juga. Dia berbalik, hendak memberi pelajaran pada Kyuhyun. Namun  lengannya ditahan oleh wanita itu.

Kyuhyun masih tidak melepaskan tatapan tajamnya pada Sena. Begitupun sebaliknya. Dengan mata yang mengembun dan suara yang bergetar, dia berkata lirih, “K-kenapa? A-ada apa d-denganmu? Apa s-salahku lagi kali ini?”

Sesak. Bibir Kyuhyun mengejur begitu mendengar suara Sena yang tersendat. Matanya yang tadi masih berkilat-kilat penuh emosi, kini berganti dilingkupi rasa panas. Siap menumpahkan liquid kepedihannya. Bahkan telapak tangan yang tadi dia gunakan untuk menampar wanita itu, mengepal disamping tubuhnya.

Apa yang telah kau lakukan Cho Kyuhyun?!

Hatinya seperti dilumat oleh mesin penggiling begitu sadar refleksnya begitu buruk.

“Jawab aku Kyuhyun!” pekik Sena dengan suara yang hampir habis ditenggorokannya. Hatinya sudah terlanjur sakit dengan makian pria itu. Jalang. Demi Tuhan.. adakah kata-kata yang lebih menyakitkan dari dua silabel itu?

Merasa emosinya kembali terpancing, Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. Kemudian berteriak kembali. “Kau hamil Sena! Itu salahmu!” katanya dengan telunjuk yang tertuju pada wajah wanita itu.

Ketiga orang yang berada disana terpaku ditempat. Masing-masing kepala mengerutkan dahinya. Hamil? Bagaimana bisa Kyuhyun menyimpulkan seperti itu?

Dan seakan belum puas dengan semua tuduhan yang ditujukan padanya, Kyuhyun kembali berusara, “Siapa yang melakukannya? Katakan siapa yang berani menyentuhmu Lee Sena?!”

BUGH.

Tubuh Kyuhyun terhuyung kebelakang saat bogem mentah Changmin berikan untuknya.

Habis sudah kesabaran pria itu. Kyuhyun sudah keterlaluan. Jalang. Hamil. Siapa yang telah melakukannya. Siapa yang telah menyentuhmu. Kalimat-kalimat itu.. tidakkah Kyuhyun sadari, jika pun benar Sena memang begitu, maka satu-satunya yang patut disalahkan adalah dirinya.

Dia lah yang membuat Sena seperti jalang. Dia lah yang membuat Sena hamil jika wanita itu memang sedang mengandung. Dan hanya dia pula lah yang Sena ijinkan untuk menyentuhnya. Bagaimana bisa pemikiran seperti itu ada didalam otak cerdasnya?

“Sudah cukup, Kyuhyun. Kau benar-benar menjijikan,” ucap Changmin tanpa sedikitpun mengurangi kesinisannya.

Kyuhyun mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Lalu tertawa sinis. “Menjijikan?” dia mencoba menegakkan tubuhnya walau matanya pun ikut berkunang-kunang. Sial. Changmin tidak main-main memberikannya pukulan.

Tatapannya berubah menyendu saat melihat Sena yang masih berdiri mematung dengan tatapann kosongnya. “Aku mencintainya. Aku sangat memujanya. Menyanjungnya. Tapi dia— apa yang dia berikan padaku? Dia hanya memberikan pesakitan untukku. Dia bahkan tega mengkhianatiku—”

“Hentikan.”

“Kenapa? Kau ingin membelanya?” Kyuhyun kembali tertawa. Getir. Bahkan kedua bola matanya kembali memanas. “Dua kali. Dua kali aku menyaksikannya berdarah. Didepan kedua mataku sendiri! Kau pikir apa yang membuatnya seperti itu jika bukan sedang hamil, Shim Changmin?!”

“Kyuhyun, kumohon hentikan.”

“Dia tidak akan meninggalkanku dengan mudah karena perjodohan keparat itu jika memang dia sedang mengandung anakku. Tapi nyatanya tidak! Dia lebih memilih pergi!” setetes air itu jatuh. Namun tersamarkan dengan keringat yang membanjiri wajahnya.

Akhirnya Kyuhyun mengaku kalah. Dia menangis untuk pertama kalinya, demi seseorang yang telah membuangnya begitu tega.

Pria itu menelan ludahnya. Pahit. “Katakan Sena, siapa pria itu? Siapa pria yang berani merebut—”

BUGH.

Sekali lagi Changmin meninjunya. Dia tahu bahwa kali inilah dirinya yang keterlaluan, tapi Kyuhyun tidak bisa dihentikan dengan kata-kata. Pria itu harus diberikan pelajaran dengan mengggunakan fisik.

“Saat aku bilang berhenti, maka kau harus berhenti! Kau tidak tahu apa-apa Cho Kyuhyun! Sena sak—”

“Changmin!” sela wanita itu. Menghentikan kalimat yang bisa saja diutarakan Changmin saat ini juga. Kepalanya menggeleng lirih. Biarlah. Dia menerima segala tuduhan yang Kyuhyun tujukan untuknya. Dia tidak apa-apa asal Kyuhyun puas. Ini semua memang berawal karena dirinya yang membuat pria itu salah paham. Maka dia pulalah yang harus menerima semua ini.

.:: TBC ::.

Tidak jadi diprotek, seneng gak? Maaf kalo alurnya kecepetan

~~~,,~~~
Advertisements

187 thoughts on “(Un)Breakable – Chap. 8

  1. Aduuhh gw pengen nangis baca part ini
    Gw nggak nyangka Kyuhyun bakal sampai nyamperin ke apartement Sena, kirain dia bakal melampiaskan ke club/yg lainnya, tp ternyata malah ke Sena
    Abis ini apa Kyuhyun bakal tau yg sebenarnya ya?
    Fighting buat next post !!!

    Like

  2. perasaan gue udh comen tpi gtau msuk apa nggk aku mnta pw part ending blm dikasih huhu….
    penasaran udh nnggu lama
    sena kasian kyu slah paham sena itu sakit tau bkan keguhuran.walupun keguguran jga yah ank loe orng brhbngan y jga sma kyuhyun bkan cangmin

    Like

  3. Kenapa changmin langsung diizinin untuk tau keadaan sena yg sebenarnya,, aku aku tau maksudnya baik karna changmin berbeda..
    Tapi kyuhyun yaampun ke apa dia bisa memiliki opini seperti itu?? Keterlaluan banget ya..
    Gak nyangka kyu

    Like

  4. Kyuhyun sneng bnget sih ngmbil ksmpulan sndiri. Sena gk mngkin sejhat itu, dia cma blum siap aja mngkin klo ngeliat kyuhyun hncur seandainya kyuhyun tau pnyakitnya..
    Di sini sad bnget.. pngen nangis deh jdinya..

    Like

  5. Pengen nampar balik Kyuhyun rasanya deh… aduh duh.. wajar si Kyuhyun mikirnya kesana…
    Alur nya itu lho bikin hati senat senut… gemes, sebel..
    Semua tersakiti, pengen cepet baca sampe end.. nangis lagi deh..

    Like

  6. yang satu tega banget berbohong yang satunya ngak mau mencari tau kebenarannya, kalo begini kapan selesainya coba kalian itu.. lari dari masalah ngak akan menyelesaikannya tapi malah akan bertambah besar..

    Like

  7. kyuhyun kenapa harus nampar sena???
    kenapa nggak tanya dulu atao cari taulah tentang sena nggak asal tampar” gitu pakek acara ngata”in pula*poor uri sena*
    kenapa juga nggak ada yang ngasih tau kyuhyun soale penyakitnya senaa..jadi salah pahamkan…
    nggak tega liat sena..

    Like

  8. Seriusan ini ff bikin swedih syekaleeee… Aku yg lagi sakit gigi ketambahan sakit hati gegara baca ff ini. Feelnya ngena baget seriusan. Sukaa sekaliiiii…. Tapi sedih sekaliii….. Bapeeeeerr 😭

    Like

  9. Udah lama engga mampir kesini, kangen sama cerita mereka 😊
    Dan ternyata cerita ini usah end, hhehe banyak cerita baru juga. Uhh ketinggalan banyak

    Like

  10. Ya ampun Cho Kyuhyun bener2 gegabah saking emosinya gak nyadar udah nampar Sena ampe berdarah gitu, dah nuduh yg gak bener lagi ke Sena. Untung aja gak nyampe nuduh Sena selkngkuh ama Changmin lagian Senanya juga kenapa masih gk ngebolehin Kyuhyun tau soal keadaannya biar gak tambah salah paham kaya gini…
    Kalo Kyuhyun ttp salah paham ke Sena bisa2 Kyuhyun jadi nikah ni ama Irene, aduhh jgn sampe deh….
    Changminnya juga kenapa gak berani buat berjuang Kyuhyun aja yg anak kandungnya berani bentak ibjnya sendiri….

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s