Coming Home

pic-6

 MAIN CAST 

Cho Kyuhyun – Lee Sena – Joon

⌈ cameo ⌋

Choi Minho – Nam Joohyuk

 AU 

 PG – 17 

 GENRE 

Romance, Family

 DISCLAIMER 

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

Queensera©2017

Poing!

⌈S⌋ Kyuhyun, kau sudah tiba?

Poing!

⌈S⌋ Dimana? Kenapa pesanku tidak dibalas?

Poing!

⌈S⌋ Kau lama sekali :c

Poing!

screenshot_2016-12-10-12-56-07-1

⌈S⌋ Hei, aku bosan menunggumu, tahu! Dimana sih?

 

Membaca rentetan pesan yang dikirimkan oleh Sena, Kyuhyun tersenyum geli. Dia menggelengkan kepalanya takjub, wanita itu tidak sabaran sekali ternyata. Dia baru saja landing beberapa saat lalu, dan saat kembali mengaktifkan ponselnya, pesan bertubi-tubi masuk. Dari siapa lagi kalau bukan dari wanita itu?

Dia menekan panggilan cepat nomor satu. Nomor yang langsung menghubungkannya dengan orang yang dia tuju.

Namun baru satu nada terhubung, wanita itu sudah mengangkat panggilannya. Dan belum sempat dia mengucapkan Hallo, Sena sudah memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.

“Kyuhyun.. Ya Tuhan, akhirnya kau menghubungiku juga. Hei, kau dimana? Apa sudah sampai? Kenapa baru membalas? Kau tidak tahu ya aku menunggu bunyi pesan masuk sejak dua jam yang lalu? Keterlaluan!”

Kyuhyun kembali tersenyum geli.

“Aku baru saja mendarat. Tidak sabaran sekali. Sudah sangat merindukanku ya?” pria itu terkekeh diakhir kalimatnya. Menggoda Sena memang sangat mengasyikkan terlebih jika dalam keadaan seperti ini.

Satu detik selepas dia mengucapkan kalimat itu, bisa dia dengar bahwa istrinya mendesis jengah diseberang telepon sana. Tanda tidak terima jika Kyuhyun bisa dengan mudah menebak.

“Percaya diri sekali!”

“Memang benar kan? Mengaku saja lah..” Kaki panjangnya terus melaju. Melangkah keluar bersama Choi Minho melewati pintu terminal kedatangan Bandara Internasional Incheon.

Keduanya menyibak kerumunan manusia yang memadati arena pertemuan dan perpisahan ini. Berjalan saling beriringan dengan kacamata hitam yang menyempurnakan penampilan mereka.

Diujung jalan, dekat dengan sebuah pilar yang tinggi menjulang, Kyuhyun melihat seorang pria muda—berusia lima tahun dibawahnya sedang berdiri disamping sebuah BMW hitam. Joohyuk, nama pria muda itu. Dia adalah orang kepercayaan Kyuhyun setelah Minho. Bedanya, Joohyuk tidak bekerja untuk perusahaan. Pria itu, Kyuhyun tugaskan sebagai pengawal pribadi keluarganya. Pekerjaannya mirip seperti supir tapi lebih dari sekadar itu.

Perawakannya tinggi tegap—persis seperti Park Chanyeol. Nyaris sempurna malah. Pria itu adalah putra bungsu Bibi Nam. Sahabat masa kecil Sena. Yang berarti sahabat Chanyeol pula.

Tangannya melambai—memberitahu Joohyuk bahwa dia sudah tiba. Disambut pria berwajah tak kalah tampan dari dirinya maupun Minho itu dengan lambaian juga.

“Kenapa diam? Aku benar bukan?” tanya Kyuhyun lagi pada Sena setelah wanita itu tidak juga menyambut kalimatnya. Satu sudut bibirnya terangkat keatas. Menyeringai geli.

Minho yang berada disampingnya menahan senyum. Bos-nya ini jika sudah menyangkut urusan keluarga akan bertolak seratus delapan puluh derajat dari yang biasanya dia tahu. Beberapa jam lalu, Kyuhyun masih serius dengan masalah pekerjaan. Tapi sekarang lihatlah… tersenyum-senyum sendiri persis seperti anak remaja sedang jatuh cinta.

Well, apa dia juga akan seperti itu saat menikah nanti?

Minho menggeleng. Tidak tahu. Mungkin iya, mungkin juga tidak.

“Aku hanya ingin memastikan apa kau sampai dengan selamat atau tidak. Siapa tahu jet yang kau tumpangi mengalami kecelakaan lalu kau mati. Dan jika nanti aku menjanda, aku bisa menikah dengan Park Chanyeol,” ketus Sena diseberang sana.

Kyuhyun mendengus. Lagi-lagi Park Chanyeol. Dia tidak suka jika Sena membawa-bawa nama anak itu dalam setiap pembicaraan mereka. Kyuhyun masih menyimpan banyak cemburu terhadap si telinga lebar itu, tapi Sena dengan tidak pekanya malah mengungkit-ungkit.

“Cih, seperti sanggup kehilanganku saja!” sahutnya tidak mau kalah. Yang tanpa dia sadari perkataannya barusan adalah tembakan jitu untuk membungkam Sena. Karena faktanya, wanita itu memang sudah menggantungkan hidupnya pada Cho Kyuhyun. Jadi, jika pria itu pergi, apa kabar dengan dirinya nanti.

Sena mendesah. Kyuhyun bisa mendengarnya lagi. “Baiklah, kau menang. Aku merindukanmu. Puas?”

Kyuhyun terkekeh. “Sangat, Nyonya. Ah—kau sudah mendengar suaraku kan? Sudah tidak panik seperti tadi—saat aku tidak memberi kabar padamu samasekali kan?” Sena diujung sana menggumam. Mengiyakan ucapan pria itu. Kyuhyun kembali tersenyum, “Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, oke? Joohyuk sudah menungguku. Kau duduk manis saja dirumah bersama kurcacimu itu. Tunggu aku.”

“Hem.. Oke. Hati-hati dijalan.”

Setelah mendapatkan persetujuan dari Sena, Kyuhyun lantas mematikan sambungan teleponnya. Menyimpan benda elektronik itu disaku celana. Berjalan lebih cepat lagi menuju Joohyuk diikuti oleh Minho—yang hanya berjarak beberapa langkah lagi dengannya. Sedang berdiri takzim dengan pintu penumpang yang sudah terbuka untuk dirinya.

Kyuhyun menuju bagasi. Meletakkan barang-barang bawaannya didalam sana. Dibantu oleh Joohyuk. Kemudian menoleh pada Minho begitu selesai, berkata, “Kau bersama kami saja, Minho.”

Minho menggeleng, “Tidak perlu Bos. Aku bisa naik taksi.”

“Kau yakin? Setidaknya jika bersama kami, kau bisa menghemat.”

Terkekeh, lantas Minho menjawab lagi dengan gurauan, “Mengeluarkan uang untuk membayar argo taksi dari bandara menuju apartemenku tidak lantas membuatku miskin seketika, Bos. Percayalah, dua belas bulan gaji yang kau berikan untukku saja bisa membuatku membeli sebuah helikopter.”

Kyuhyun tersenyum kecil. Mengangguk. Lantas mengedikkan bahunya. Terserah kalau itu kemauan asisten yang merangkap jadi sekretarisnya ini. “Baiklah, kami duluan kalau begitu. Selamat menikmati masa cuti-mu,” katanya, kemudian menenggelamkan tubuhnya di jok depan—samping sopir.

Seperti biasa, Joohyuk selalu tanggap. Walau kedudukannya adalah sebagai majikan dari pria itu, Kyuhyun tetap tidak mau meninggikan derajatnya. Dia lebih suka seperti ini, duduk didepan. Bukan dibelakang yang pada umumnya memang mencerminkan rentang hierarki antara atasan dan bawahan.

Karena baginya, baik Choi Minho ataupun Nam Joohyuk, mereka berdua sudah seperti adik sendiri. Sama seperti Park Chanyeol.

“Bagaimana Singapura?” tanya Joohyuk begitu tubuhnya sudah duduk sempurna dibalik kemudi. Membawa mobil Kyuhyun untuk menjauhi bandara menuju pinggiran kota Seoul. Tempat dimana rumahnya berada.

Kalimat Joohyuk terdengar sangat akrab. Seperti tidak ada perbedaan kasta antara dirinya dan Kyuhyun.

Kyuhyun menggumam, “Tidak lebih menyenangkan dibanding Seoul.”

“Kenapa bisa begitu?”

Pria yang menjadi majikannya itu mendesah. Menurunkan jok agar lebih rendah sehingga dia bisa berbaring. Lalu menjawab, “Tidak banyak yang aku kenal disana.”

Joohyuk mengangguk dengan sebuah senyum kecil yang terbit disudut bibirnya. “Bukan karena tidak ada Nuna, kan?”

Kyuhyun terkekeh, “Dua puluh satu hari aku berada di negara orang. Berpisah dengan istri dan anakku, memang apanya yang lebih menyenangkan? Tidak ada bukan?”

 “Aku tebak, kau pasti sangat merindukan mereka.”

Kyuhyun tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum penuh arti. Tidak susah untuk memahami perasaannya sekarang. Tentu saja dia sangat merindukan dua orang itu.

“Itu bukan tebakan, Hyuk-ah.”

Kali ini Joohyuk yang terkekeh.

Yeah.. siapa tahu aku salah. Tapi, itu tidak mungkin sih. Benar kan?”

Kyuhyun mengangguk.

Lalu, perjalanan kembali diisi dengan percakapan mengenai pekerjaan yang Kyuhyun tuntaskan di Singapura. Perjalanan dinas yang mengharuskan Kyuhyun menghabisi kurang lebih tiga minggu di negara tropis tersebut.

Cho Ji-Tae, pria baya itulah yang memberikan perintah padanya untuk menghadiri rapat umum pemegang saham atas salah satu perusahaan yang didirikan Oberon Group, Maskapai Singapura. Sebagai satu-satunya cucu yang mewarisi salah satu anak perusahan Oberon Group yang menaungi banyak sekali perusahaan raksasa, membuat Kyuhyun harus rela berkompromi dengan waktu dan jarak. Berpisah dengan Sena maupun Hyun-Joon.

Sebenarnya disana sudah ada Cho In-Gil—direktur utama perusahaan tersebut. Hanya saja, Kyuhyun sebagai kerabat dekat, dipercaya untuk membantu wanita yang merupakan Ibu dari Choi Siwon itu untuk duduk mengikuti rapat tersebut. Terlebih Silk Air yang dia pimpin, merupakan anak perusahaan dari Maskapai Singapura.

Ji-Tae tidak mungkin mengutus Siwon ataupun Chanyeol untuk ikut meriung dalam rapat penting tersebut. Karena dua cucunya yang lain itu sama sekali tidak tahu-menahu mengenai permainan saham. Terlebih mereka memilki profesi yang sangat bertolak belakang dengan dirinya yang berkecimpung di dunia bisnis.

Siwon yang saat ini sudah berusia tiga puluh tahun adalah seorang pengacara ternama di negeri mereka. Mengikuti jejak Ayahnya, Choi Ki-Ho, yang merupakan salah satu jaksa termasyhur di Korea Selatan.

Prestasi yang diraihnya membuat nama pria dengan tubuh sempurna itu dikenal oleh seluruh masyarakat. Dia pernah dinobatkan sebagai pengacara terbaik saat usianya masih berumur dua puluh enam tahun. Dan prestasi itu masih berada ditangannya sampai sekarang.

Banyak petinggi-petinggi negara ataupun kaum jet-set yang memakai jasanya. Kapasitas otaknya menyamai Kyuhyun. Begitu brilian. Hingga disegani oleh masayarakat luas. Karirnya sebagai pengacara muda, tentu tidak perlu diragukan.

Berbeda lagi dengan Park Chanyeol. Cucu termuda keturunan keluarga Cho itu adalah seorang penyanyi solo multi-talent. Memiliki julukan Lord of Voice. Karena suaranya memang benar-benar memukau. Membuat bulu kuduk merinding, kata orang-orang.

Tidak hanya pandai me-rapping. Memainkan alat musik. Atau membawakan lagu-lagu bergenre dance; pop jazz; bahkan ballad sekalipun. Chanyeol—pria itu pun bisa menciptakan dan mengkomposeri lagu-lagu buatannya. Baik untuk dirinya sendiri maupun untuk penyanyi lain.

Namanya sudah membumbung tinggi bahkan sampai ke mancanegara. Fans-nya yang dari luar negeri begitu membludak.

Hidupnya nomaden. Sangat sulit dijumpai meskipun hanya untuk sebentar saja.

Dan karena profesinya yang berkecimpung di dunia showbiz itulah yang membuat Kyuhyun pernah cemburu setengah mati padanya.

Jadi begini, beberapa tahun lalu, sebelum dia menikahi Sena, wanita itu dan Chanyeol pernah terlibat dalam satu isu, yaitu tengah menjalin hubungan asmara. Berita itu begitu menggemparkan. Karir Chanyeol yang sedang dalam masa kejayaannya sebagai penyanyi pendatang baru semakin melejit keatas. Sekali lagi, ke – a – tas. Media massa baik elektronik ataupun cetak. On-line maupun Off-line, mewartakan kedekatan mereka selama berminggu-minggu. Bahkan nama mereka sempat menjadi Hot News selama empat hari berturut-turut.

Bagaimana tidak, saat itu indentitas Sena sebagai salah satu cucu dari Lee Hayeon—direktur utama Sony Titanium Entertainment terungkap. Perusahaan yang berbasis di dunia hiburan. Agensi terbesar yang telah menggelintirkan nama-nama aktor, aktris, penyanyi solo atau member-group terbaik yang dimiliki Korea Selatan. Termasuk memayungi nama besar Park Chanyeol. Sehingga media sangat tertarik dengan isu tersebut.  

Ada banyak penggemar Chanyeol yang menghujat Sena, namun lebih banyak pula yang mendukung hubungan mereka. Beharap rumor itu benar-benar terjadi. Dan berkata, bahwa jika mereka memang berkencan maka mereka adalah pasangan terideal pada masa itu.

Rumor itu terjadi saat Sena dan Chanyeol tertangkap kamera amatir salah seorang warga sipil yang sedang makan malam juga di restoran Perancis ternama, tempat mereka menghabiskan waktu berdua. Rekaman kamera itu menunjukkan Chanyeol dan Sena yang sedang tertawa bersama. Bahkan memakai topi dengan logo yang sama pula. Couple-Things, mereka menyebutnya.

Kyuhyun sempat murka. Tidak terima dengan membludaknya kabar mengenai kekasihnya dan adiknya sendiri yang menjalin hubungan. Dia lah yang sedang menjalin hubungan asmara dengan Sena. Wanita itu berkencan dengannya. Bukan Park Chanyeol. Tapi bagaimana mungkin media memberitahukan pada publik bahwa Sena dan Chanyeol lah yang sedang menjalin hubungan asmara.Itu konyol sekaligus menyebalkan.

Berita itu kemudian surut sesaat setelah Chanyeol mengadakan Press Conference untuk menjelaskan kronologisnya. Pria yang terpaut usia empat tahun dengannya itu, membeberkan semua kebenarannya. Dimulai dari fakta bahwa Sena adalah sahabatnya; teman masa kecilnya saat mereka masih sama-sama les musik ditempat yang sama, hingga hubungan antara wanita itu dengan salah satu anggota keluarganya. Serta memberitahukan bahwa makan malam yang mereka lakukan berdua saat itu hanya bentuk dari rasa rindu, karena telah lama mereka tidak saling berjumpa. Dikarenakan jadwalnya yang memadat.

Walau pada kenyataannya, bukan itulah alasan sebenarnya. Itu hanya manipulasi agar publik tidak semakin gencar meneror dirinya dan Sena dengan berita-berita yang salah arah.

Poing!

Satu pesan kembali masuk. Kyuhyun menghentikan percakapannya dengan Joohyuk sejenak. Membuka notifikasi tersebut. Lalu tak berapa lama kemudian dia ikut tertawa. Pesan yang kembali dikirimkan oleh Sena, menautkan sebuah video. Berisi rekaman Joon yang sedang memakan buah favoritnya, Berry.

⌈S⌋ Aku baru saja kembali dari dapur untuk mengambil segelas jus. Dan saat aku kembali, aku menemukan ini. Kau lihat kelakuan anakmu? Serius Kyuhyun, dia semakin pintar memainkan ekspresi wajah XD

⌈K⌋ Siapa yang mengajarinya seperti itu? Aku sampai terbahak mendengar suara tawanya. Sangat menggemaskan.

⌈S⌋ Aku tidak tahu. Dia merekamnya sendiri. Haha.

⌈K⌋ Benar-benar. Jangan biarkan dia tidur dulu, Sena. Tahan dia.

⌈S⌋ Kenapa memangnya?

⌈K⌋ Aku ingin mendengar suara tawanya secara langsung.

⌈S⌋ Cih, dasar! Kalau begitu cepatlah sampai.

⌈K⌋ Terburu-buru sekali. Sayang… tahan dulu rasa rindumu itu. Tidak bisa ya? XD

“Senang sekali. Ada apa sih?” tanya Joohyuk begitu penasaran. Karena sejak tadi, kekehan Kyuhyun yang tak kunjung henti.

“Lihatlah..” dia menunjukkan video tersebut pada pria muda disampingnya.

“Wahaha.. Kurasa bakat Chanyeol Hyung menurun pada Joon.”

Senyum Kyuhyun surut. Lalu mengernyitkan alisnya. “Chanyeol?” tanyanya tidak mengerti. “Hei, jelas-jelas dia anakku. Kenapa malah dimiripkan dengan si mata besar itu?” sungutnya kemudian. Tidak terima. Karena lagi-lagi dia mendengar nama itu. Setelah tadi Sena, sekarang pria disampingnya malah ikut-ikutan juga.

“Maksudku, bakat untuk menjadi aktor, Hyung. Aku samasekali tidak memiripkan mereka berdua.”

Kyuhyun mendengus. Masih tidak terima. Tapi tunggu, aktor?

“Kau bilang apa tadi? Aktor? Sejak kapan? Setahuku dia adalah seorang penyanyi kena—”

“Ya Tuhan, jangan bilang kau tidak tahu! Apa saking sibuknya kau jadi tidak up-date? Sungguh?” potong Joohyuk begitu cepat. Matanya membulat saat menoleh pada Kyuhyun. Membuat si pria bermarga Cho semakin mengernyitkan alisnya.

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Joohyuk menghela nafas. Gayanya seperti seorang Kakak yang sudah lelah mengajari adiknya menghafal lagu Happy Birthday. “Kau samasekali tidak tahu? Serius? Baiklah, begini biar kujelaskan— jadi sekitar setahun yang lalu, Chanyeol Hyung menerima tawaran untuk bermain film. Judulnya, So I Married Anti-Fan. Ceritanya bagaimana, aku tidak terlalu paham. Tapi aku rasa itu berkaitan dengan dunia entertain seperti yang selama ini dia jalani. Naskah itu diambil dari sebuah novel best-seller. Ditulis oleh salah satu penulis terkenal asal negara kita, kau tahu Kim Eun-Jeong? Dia lah pemilik asli naskah tersebut. Hanya saja, oleh sebuah rumah produksi asal Cina, naskah itu dibeli. Dijadikan skenario untuk proyek perfilaman terbaru mereka. Dan Chanyeol—yang kita ketahui namanya sudah melambung tinggi bahkan sampai ke eropa sana, dikontrak oleh perusahaan itu untuk menjadi pemeran utama dalam film tersebut. Mereka melakukan proses pra-produksi hingga post-produksinya di Beijing. Dan terakhir, film tersebut akan diputar secara serentak oleh semua bioskop di Cina sekitar sembilan hari lagi. Chanyeol Hyung—sedang sibuk-sibuknya sekarang. Itu lah kenapa aku sebut dia aktor tadi.”

Kyuhyun termangu. Serius, dia baru tahu kalau karir Chanyeol sekarang sudah merambat ke dunia akting. Anak itu tidak memberitahu apa-apa padanya. Sena juga yang biasanya selalu ceplas-ceplos soal anak itu, sama sekali tidak mengabarkan hal ini padanya.

“Apa dia tidak memberitahumu?”

Kyuhyun menggelang. “Tidak.”

“Aku rasa dia memberitahumu. Hyung saja yang terlalu sibuk. Semua orang sudah tahu akan hal ini. Termasuk keluargamu. Berita Chanyeol yang bermain film sudah seperti lalat yang mengerubung di tong sampah. Ramai sekali. Bahkan foto-fotonya saat menjalani syuting pun banyak beredar dimedia sosial. Aneh sekali kalau Hyung tidak tahu samasekali.”

Pria yang duduk disampingnya, menghela nafas. “Kau pikir hidupku dihabiskan untuk hal-hal remeh seperti itu?” katanya dengan nada sinis.

Yeah.. tidak sih. Saranku, jangan terlalu serius Hyung. Cobalah bergaul di dunia maya. Maka seluruh informasi yang terjadi di dunia akan kau dapatkan. Termasuk informasi tentang Chanyeol Hyung.”

“Ya ya ya.. terserah padamu saja lah, Hyuk. “

.

Coming Home

.

Di tengah lengangnya ruang kelurga, Sena dan Joon sedang serius menonton film. Film yang menjadi favorit wanita berusia dua puluh enam tahun itu sejak dua tahun lalu—Big Hero 6. Ibu dan anak itu sama-sama memfokuskan matanya pada layar sebesar tiga puluh empat inci yang terpasang dihadapan mereka. Tidak memedulikan keadaan sekitar. Keduanya sudah terlanjur larut dalam alur cerita berdurasi satu jam empat puluh menit itu.

Sena sengaja memutarkan film ini di waktu senggang mereka selagi menunggu Kyuhyun yang masih dalam perjalanan dari bandara menuju rumah. Wanita itu sekaligus ingin mengenalkan pada Joon mengenai betapa canggihnya dunia pada masa yang akan datang.

Betapa hebatnya magnet kecil jika mereka menjadi populasi yang sangat banyak. Dan betapa berharganya nilai untuk saling menguatkan.

Keduanya masih tetap fokus. Memasang telinga dengan baik. Hingga tidak menyadari jika ada bunyi bernada panjang dari sebuah alarm. Yaitu alarm penanda bahwa adanya mobil yang telah memasuki kawasan territorial kediaman mereka. Melewati pagar yang memiliki koneksi terhadap mobil-mobil yang diijinkan masuk. Dan berakhir terhubung dengan alarm yang berada dirumah besar itu.

Mobil-mobil yang memiliki ijin memasuki kawaasan territorial itu,biasanya adalah mobil milik Cho Kyuhyun. Atau milik Sena. Atau sanak-saudara mereka yang memang kendaraannya sudah dipasang alat khusus untuk bisa dipindai oleh pagar beton rumah mereka. Sehingga, orang yang berada didalam rumah, bisa tahu siapa saja yang datang mengunjungi mereka. Terlebih, ini memudahkan agar tidak ada orang asing yang bisa seenaknya masuk kedalam kawasan dengan kuasa Cho Kyuhyun itu. Hanya orang-orang tertentu saja.

No, Baymax!” teriak Joon membahana. Suaranya memekik kencang. Begitu nyaring. Kemudian tertawa keras setelahnya. Sangat geli. Matanya berbinar lucu saat melihat robot ‘chewy-penyembuh luka’ peninggalan Tadashi Hamada itu memakai kostum pelindung yang dibuat oleh Hiro—adiknya. Perut Baymax yang membuncit membuat kostum itu terlihat kalah menakjubkannya. Sehingga terlihat lucu.

Sena yang duduk disamping Joon pun ikut tertawa. Melihat betapa konyolnya kostum pelindung itu terpasang pada tubuh Baymax yang besarnya tidak wajar.

Beberapa langkah dibelakang mereka, Cho Kyuhyun sudah berdiri dengan wajah masam. Ransel besar menggantung dipunggungnya, tidak lupa dengan sebuah koper yang juga ikut berdiri disebelahnya. Bibirnya mendesis. Sinis.

Tadi saja, wanita itu begitu heboh menanyainya ini – itu karena dia yang tidak kunjung sampai dirumah. Atau tidak balas menghubunginya samasekali. Sekarang, ketika tubuhnya sudah untuh disini, wanita itu beserta anaknya malah asyik sendiri menonton film. Dia pulang tidak disambut. Tidak diacuhkan. Bagus benar.

Kyuhyun melangkah, meninggalkan kopernya untuk tetap ditempat. Mendekati istri dan anaknya yang sedang serius menonton film. Lalu tak lama, senyum kecil tersungging dibibirnya. Melihat Joon yang begitu antusias terhadap layar besar yang ada didepannya.

Dia melangkah perlahan. Menghindari kepekaan putranya itu. Lalu begitu jaraknya sudah pas, dia membungkukkan tubuhnya. Mencium pipi Joon yang penuh.

Cup.

“Hallo!”

Joon menoleh. Merasakan adanya sebuah benda lembut dan lembab menyentak pipnya dengan keras. Kemudian matanya terbuka lebar. Mendapati wajah Kyuhyun yang berada disamping kepalanya.

“Ayah!” pekiknya senang. Lalu tanpa menunggu waktu lagi, film animasi yang tadi menarik perhatiannya kini terabaikan. Digantikan dengan kedua tangannya yang memeluk erat leher Kyuhyun. Tertawa riang. Disambut tawa juga oleh Cho Kyuhyun.

Bagaimana tidak, sudah hampir sebulan dia tidak bertemu dengan Cho Kyuhyun. Pastinya, rasa rindu itu menumpuk.

Kyuhyun berdiri. Menegakkan tubuhnya. Membawa Joon dalam gendongannya. Dia juga sangat merindukan putranya ini. Rindu tingkahnya. Rindu suaranya. Dan tentunya sangat rindu melihat wajah bulat Joon secara langsung. Hari ini, akhirnya dia bisa menebus rindu itu. Dengan menciumi seluruh permukaan wajah anak itu. Berulang-ulang. Membuat Joon terkikik geli.

Sena yang menyadari keberadaan Kyuhyun, ikut berdiri. Menyambut pria itu dengan sebuah kecupan dibibir. Lalu berkata dengan senyum yang melebar. “Kapan sampai? Aku tidak tahu.”

“Tentu saja tidak tahu. Kalian terlalu serius menonton film,” jawab Kyuhyun jengah.

Wanita itu terkikik. Benar juga sih. Lalu membantu Kyuhyun melepaskan ransel besarnya yang masih menggantung dipunggung.

“Maaf. Habisnya sedang seru tadi,” jawab Sena sambil meringis.

Kyuhyun mendengus geli. Mengusak surai cokelat wanita itu. Lalu beralih menatap putranya, “Joon merindukan Ayah?”

Yeap!

“Aaah.. Ayah juga merindukan Joon. Sangaaaaat..” ucapnya lagi seraya memeluk erat tubuh Joon. Memutarnya kekanan dan kekiri. Persis sekali seperti gadis cilik yang sedang memeluk boneka kesayangannya. Kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Membuat Joon tertawa lagi.

“Aku senang dia belum tidur.”

“Hah, Kyuhyun.. Kau tidak tahu saja! Akhir-akhir ini dia itu sangat sulit untuk diajak tidur siang. Aku sampai tidak bisa apa-apa. Makanya aku seperti tadi, mengajak dia menonton film. Supaya matanya cepat lelah lalu tertidur. Tapi tetap tidak bisa. Entah seberapa kuat daya matanya untuk tetap terbuka.”

“Benarkah? Apa Joon tidak menurut pada Ibu?” tanya Kyuhyun dengan mata yang menyipit.

Putranya yang hampir berusia tiga tahun itu hanya bisa nyengir. Tidak memiliki jawaban apapun untuk membantah kalimat Kyuhyun. Membuat pria itu mau tak mau ikut tersenyum. Melihat gigi-gigi Joon yang masih sangat mungil, dia jadi teringat akan video yang beberapa saat lalu dikirimkan oleh Sena padanya. Serius, gigi-gigi itu sangat menggemaskan.

“Coba terus tertawa. Ayah suka sekali melihat gigimu. Haha.”

Disampingnya, Sena ikut terkekeh. “Oh jelas. Gigi Joon kan sering dibersihkan. Benar tidak?” sahutnya. Dibalas Joon dengan anggukan kuat.

“Ayah.. Baymax!” tunjuknya pada film animasi yang masih berputar itu. Memberi tahu Kyuhyun bahwa dia dan Sena sedang menonton film tersebut.

Kyuhyun mengikuti arah pandang putranya. Kemudian berkata, “Baymax mirip Joon sekali ya? Buncit perutnya.” Tangannya dia gunakan untuk menggelitiki perut bocah itu. Gemas.

Joon terpekik. Geli. Lalu tertawa dengan leher yang terdongak keatas, saking tidak kuatnya. Tapi Kyuhyun masih terus berlanjut. Tidak menghiraukan permohonan Joon yang memintanya untuk berhenti. Hingga sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka.

“Kyuhyun? Kau sudah pulang, Nak?”

Ketiganya menoleh pada arah suara. Disana, ada Bibi Nam yang masih menggunakan celemek.

“Oh Bibi.. Ya, aku baru saja tiba.”

“Dijemput oleh Joohyuk?”

Kyuhyun mengangguk. “U-huh.”

“Syukurlah kau sampai dengan selamat. Sena sejak tadi was-was menunggumu.”

“Bibi!”

Kyuhyun dan Bibi Nam tertawa melihat mata Sena yang melotot tajam padanya.

“Ah, kau pasti belum makan kan? Bibi baru saja selesai memasak. Lebih baik kau makan siang dulu sebelum istirahat.”

“Haha. Yeah.. Baiklah. Aku juga sangat merindukan masakanmu, Bi.”

Bibi Nam tersenyum. Menggeleng maklum. Kyuhyun bisa saja. Lalu kembali menyampaikan bahwa masih ada yang ingin dia selesaikan dibelakang.

Wanita paruh baya itu hendak berbalik pergi, ketika Joon malah memanggilnya. Dia menoleh. Melihat anak itu turun dari pangkuan Kyuhyun. Lalu berlari kearahnya.

“Buwi, Halmeoni!” katanya sambil menggenggam tangan renta itu. Satu tangannya yang lain menunjuk sebuah mangkuk kosong.

Ketiganya langsung menoleh serentak pada apa yang ditunjuk oleh tangan mungil Joon.

No! Joon kan sudah makan tadi. Tidak. Ibu tidak mau,” sahut Sena cepat begitu mengetahui keinginan anaknya.

“Aa…aah, Ibu..” wajah Joon berubah masam. Bibirnya tertekuk. Tapi tangannya tidak henti menggoyang-goyangkan tangan Bibi Nam. Memohon pada wanita yang dipanggilnya Halmeoni itu untuk mengabulkan permintaannya.

Sena menggeleng tegas. “Lihat, Joon sudah menghabiskan satu mangkuk. Masa ingin lagi?”

“Halmeoni~” dia mulai mengabaikan Sena.

Sena beranjak dari duduknya. Hendak menghampiri putranya itu. Namun oleh Kyuhyun, tangannya ditahan. “Biarkan saja. Lagipula itu buah, Sena. Tidak akan apa-apa kalau banyak memakannya juga,” bujuk pria itu.

“Kyuhyun, banyak memakan buah itu memang bagus tapi akan membuat perut kembung. Dan kalau sudah begitu, Joon tidak akan mau makan nasi, karena perutnya terasa penuh. Sementara ini sudah waktunya makan siang. Kau masih mau membiarkannya?” tandas Sena.

Pria itu mengerjapkan matanya. Ah wanita itu kalau bicara suka panjang sekali. Tapi—Well, omongan Sena ada benarnya juga sih.

Kyuhyun menghela nafas, ingin bersuara lagi. Namun disela oleh Bibi Nam yang sejak tadi diam.

“Sena, biarkan saja dia. Aku akan mencari cara agar Joon mau makan nasi. Setidaknya, senangkan dulu hati putramu ini. Jangan main asal melarangnya.”

“Bibi tau sendiri, Joon jika sudah bertemu dengan buah itu akan bagaimana. Lagipula dia sudah menghabiskan satu mangkuk. Nanti kalau—”

“Percayakan saja padaku. Oke?” ucapnya dengan mata yang mengedip satu. Membuat Kyuhyun yang melihatnya jadi terkekeh. “Joon ingin berry lagi?” anak kecil itu mengangguk takzim. “Baiklah, Joon ikut Halmeoni kalau begitu ya.”

Sena tergagap ditempat. “Tidak! Tidak!”

“Sena..”

“Bibi, ak—”

“Percaya padaku. Wanita tua ini sudah berpengalaman menghadapi anak kecil. Kau juga dulu selalu dalam pengawasan Bibi. Dan Nenekmu percaya-percaya saja. Jadi, jangan berlebihan, Sena.”

Sena menghembuskan nafas. “Tap—baiklah.. Tapi jangan terlalu banyak.. Dia sudah menghabiskan satu mangkuk penuh,” ucapnya sekali lagi. Dibalas oleh Bibi Nam dengan satu tangan terangkat keatas. Memberikan simbol oke. Tanda mengerti.

“Kau berlebihan,” sahut Kyuhyun kemudian. Mengikuti kalimat Bibi Nam. Sena menoleh lagi pada pria itu dengan mata yang menyipit tajam. Diabalas kekehan olehnya.

Lalu dengan seenak jidatnya, Kyuhyun menaikkan kedua kakinya untuk berada diatas sofa juga. Tubuhnya bergeser membelakangi Sena. Dan langsung menjatuhkan kepalanya begitu saja diatas paha wanita itu. Menjadikannya bantalan.

“Aahh.. nyaman sekali,” ucapnya dengan kedua mata yang tertutup. Sena mendengus geli. Namun tak lama kemudian tersenyum kecil. Tangannya mengusap rambut Kyuhyun lembut.

“Makan ya? Aku ambilkan. Kau makan disini saja,” ucapnya.

Kyuhyun menggeleng. “Nanti saja.”

“Memangnya tidak lapar?”

“Nanti saja.”

Sena menghela nafas. “Baiklah..” kemudian kembali memfokuskan matanya untuk menatap wajah Kyuhyun yang terlihat lebih tirus dibandingkan saat terakhir kali mereka bertatap muka. “Omong-omong jerawatmu semakin banyak. Kau stress?” dia bergumam. Menggarisi wajah pria itu.

Sena tahu, Kyuhyun pasti stress selama di Singapura.

Pria itu mengusak. Lalu membuka kedua matanya. “Disana beriklim tropis, Sena. Wajar jika banyak jerawat yang tumbuh diwajahku. Lagipula, kenapa harus bertanya seperti itu sih? Tidak ada pertanyaan lain ya? Misalkan, apa yang aku lakukan disana. Kenapa aku bisa telat sampai rumah padahal seharusnya sudah sejak tiga jam lalu aku berada disini. Kenapa harus jerawat? Kenapa harus membahas wajahku?”

Sena tertawa. Menjepit hidung bangir Kyuhyun . “Kau emosian sekali. Aku kan hanya bertanya. Tidak dijawab juga tidak apa-apa kok.”

Dibalas dengan decakan oleh Kyuhyun. Pria itu kembali memejamkan matanya.

“Cih, marah..” Tangan kanannya dia gunakan untuk menggenggam dagu Kyuhyun. Ibu jarinya mengusap-usap bagian itu. Lalu mencubitnya gemas sekali. Dia dibuat geregetan dengan cara merajuknya Kyuhyun yang seperti anak kecil.

“Tidak usah pegang-pegang!” Kyuhyun menepis tangan Sena. Masih jengkel.

Wanita itu kembali tertawa. Mengabaikan perintah pria itu. “Ya sudah, bangun saja kalau begitu. Kepalamu berat, tahu!”

“Aaah.. tapi aku mengantuk,” katanya dengan suara yang melirih. Nyaris seperti merengek. Lalu menenggelamkan wajahnya pada perut Sena.

“Tidur dikamar saja. Jangan disini. Atau tubuhmu akan pegal semua.”

“Tapi aku malas berjalan.”

“Lalu? Kau mau digendong begitu? Yang benar saja! Ayo cepat, bangun.”

Kyuhyun tidak menghiraukan Sena. Pria itu masih tetap pada posisinya.

“Kyuhyun.. Ayolah, jangan manja. Bangun. Bangun. Bangun.”

“Temani aku tapinya. Oke?”

Sena memutar matanya jengah. Lantas mengangguk. Sekali lagi tangannya mengusap wajah pria itu.

Lalu ketika Kyuhyun beranjak bangun kemudian berjalan sempoyongan menuju kamar mereka, dia memperhatikan lagi wajah kuyu itu. Hah.. dia semakin tidak tega. Kyuhyun terlalu bekerja keras sampai tidak mengacuhkan kondisi tubuhnya. Besok-besok, kalau perlu, biar dia saja yang menjadwal jam kerja Kyuhyun.

.::END::.

Advertisements

54 thoughts on “Coming Home

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s