Posted in Multi-Chapter

[Intro] Intemporel

picsart_01-15-08-57-101

Wouldn’t it be awful if we fell in love again?

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

R A T E:

PG-17 | Mature Content

AU | Multi-Chaptered

G E N R E:

Romance, Hurt, Dark, Family

∴∴∴

“Bekal, air mineral, buku tugas, crayon, buku gambar—semuanya sudah siap. Tidak ada yang tertinggal bukan?”

“Eum… tidak.”

“Yakin?”

“Yap!”

Sena tersenyum. Lalu membantu Sarang memakaikan tas ranselnya setelah tadi dia mengecek semua perlengkapan yang anak itu butuhkan untuk hari ini. Wanita itu membungkukkan tubuhnya sedikit, kemudian mencium kening putrinya lama.

“Belajar yang pintar. Dengarkan apa yang Sonsaeng jelaskan. Dan… jangan lupa habiskan bekalnya. Paham?”

Aye-aye, Captain!” hormat Sarang pada Ibunya.

Wanita itu tertawa. Merapikan rambut panjang putrinya. Sebelum kemudian, “Ah! Ibu hampir saja lupa,” dia merogoh tasnya sendiri. Mencari dompet yang selalu dia bawa, kemudian mengeluarkan dua lembar uang kertas pecahan 1000 won. “Uang saku Sarang untuk hari ini.”

Gadis berusia tujuh tahun itu terdiam. Menatap tangan Ibunya yang terulur untuk memberikan kertas bernominal itu padanya. Dia berpikir sejenak. Antara akan mengambil uang itu atau tidak. Dia tahu Ibunya bekerja keras banting-tulang untuk memenuhi semua kebutuhannya selama ini. Tapi jika dia menerima uang pemberian Ibu sementara tidak ada hal penting yang diperlukannya sekarang, untuk apa? Lagipula uang saku yang diberikan Ibu kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi masih ada. Ibu juga selalu menyiapkan bekal untuknya. Dan dia pun selalu menyisihkan uang saku. Jadi jika dia menerima uang itu, bukankah sama saja membebani Ibu?

Lalu dengan sebuah senyuman yang menunjukkan deretan gigi-giginya yang putih bersih, Sarang pun mendongak—lantas berkata, “Sarang masih memiliki uang yang Ibu berikan kemarin. Jadi yang ini, disimpan saja.”

Alis Sena mengerut saat Sarang menerima uang yang diberikannya tapi kemudian, oleh gadis itu dua lembar uang kertas tersebut malah dimasukkan kembali kedalam tasnya. Dia meniti wajah putrinya baik-baik, kemudian tersenyum lagi. Tangannya mengusap kepala Sarang, lalu berujar, “Kalau begitu anggap saja ini bonus dari Ibu. Sarang bisa menyimpannya untuk membeli sesuatu yang Sarang inginkan nanti. Bagaimana?”

Sarang kembali terpekur sebentar. Mendapatkan kalimat seperti yang tadi Ibunya lontarkan, tentu saja membuat gadis cilik itu senang. Jelas ada sesuatu yang sangat dia inginkan akhir-akhir ini, hanya saja dia terlalu segan untuk memberitahu Ibu. Takut akan membebankan wanita yang telah merawatnya itu selama ini. Lalu tanpa membuang waktu lagi, dia bergegas mengambil uang yang baru saja dia masukkan kedalam tas Ibunya. Tidak peduli bahwa perbuatannya termasuk tindakan yang tidak sopan.

Sena kembali tertawa. Wanita itu menggeleng maklum.

“Terima kasih, Ibu.”

“Sama-sama, Sayang. Baiklah, sekarang, lekas masuk ke dalam kelas. Kalau terlalu banyak mengobrol, bisa-bisa Ibu dan Sarang sama-sama telat.”

Gadis cilik itu terkikik. Membenarkan perkataan Ibunya. “Apa nanti Ibu akan datang menjemputku?”

“Yap! Nanti Sarang tunggu Ibu. Jangan kemana-mana, oke?”

Hanya dengan sebuah anggukan kecil, Sarang pun kemudian bebalik—membaur dengan gerombolan siswa-siswa lainnya yang juga sudah mulai memadati gerbang sekolah. Sena masih terus berdiri, menatap putrinya yang terlihat berbeda dibanding yang lain hingga tubuh mungil itu tidak lagi terlihat oleh matanya.

Dia menghela nafas. Rutinitas paginya sudah terlaksana. Kini, dia harus bergegas melaksanakan rutinitas selanjutnya. Dengan langkah kaki yang sedikit terburu, dia berjalan menuju sebuah halte. Menunggu bus yang akan mengantarkannya ke tempat dimana dia bekerja.

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul tuju lewat lima belas menit. Semoga saja dia tidak terlambat untuk sampai kesana. Dia masuk, lalu memilih deretan bangku paling belakang. Membenarkan ikatan rambutnya, dan menunggu hingga bus yang dia tumpangi berhenti dihalte tujuannya.

Kakinya berjalan memasuki kawasan Dongdaemun yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan, café dan resto terkemuka di Seoul. Dan disalah satu restoran khas Jepang yang berdiri disana lah dia bekerja—untuk pagi hingga menjelang sore hari. Malamnya, dia juga akan kembali bekerja, hanya berbeda tempat. Yaitu disebuah pub terkenal yang hanya bisa dikunjungi oleh para kaum jet-set.

Setidaknya, bekerja di pub dapat memperbaiki kualitas perekonomiannya selama ini. Terlebih pub itu berani membayar tenaganya lebih mahal dibanding dengan restoran Jepang.

Hidup dijaman hedonis membuat semua kebutuhan serba bernilai tinggi, karena itu pula lah dia harus mengorbankan waktunya untuk bisa menemani Sarang saat malam hari. Dia tidak mungkin hanya mengandalkan pekerjaannya sebagai Cleaning Service di restoran Jepang itu. Keperluan yang Sarang butuhkan masih banyak.

Walau pekerjaan malamnya itu memiliki konotasi yang negatif dimata orang-orang, tapi sekali lagi, memangnya apa yang bisa dia lakukan saat ijazah perguruan tinggi pun dia tak punya? Dulu, kuliahnya harus berhenti karena suatu hal. Beasiswanya pun dicabut oleh pihak Universitas. Sementara dia berasal dari keluarga yang tidak mampu. Jadi, hanya sampai di sekolah menengah atas saja dia memiliki ijazah itu. Sedangkan dilain sisi, perusahaan-perusahaan yang berdiri gagah ditanah Seoul tidak mengkualifikasikan seseorang yang pendidikannya hanya mencapai sekolah menengah saja untuk bisa bekerja disebuah perkantoran.

Sena tidak pernah memberitahu Sarang yang sebenarnya mengenai bentuk pekerjaan malamnya. Sengaja. Dia tidak mau gadis ciliknya itu merasa malu dihadapan teman-temannya mengingat dia memiliki seorang Ibu yang bekerja sebagai pelayan dimalam hari. Terlebih itu adalah sebuah pub. Jadi, dia hanya memberitahu Sarang bahwa dirinya bekerja disebuah kedai pinggir jalan yang memang jam bukanya adalah malam hari.

Ini adalah sebagian dari pekerjaan serabutan yang sudah beberapa tahun ini Sena lakoni seorang diri. Dia memang masih memiliki seorang suami, tapi jangan tanyakan apakah selama ini suaminya itu menafkahinya atau tidak. Karena pria itu, seringnya hanya bisa menghabiskan uang yang selama ini dia cari untuk berfoya-foya atau berjudi. Tidak ada yang bisa dia harapkan dari pria itu. Jika bukan dia yang bekerja keras untuk berjuang mencari secercah harapan bagi masa depan putrinya, maka siapa lagi?

Sarang masih terlalu kecil. Hidupnya akan terus tumbuh dan berkembang. Masa depannya masih jauh—menunggu. Dan tidak selayaknya seperti sebuah keluarga pada umumnya, tempat gadis cilik itu beradu, ya hanya padanya. Hanya dia yang dimiliki gadis itu. Begitupun sebaliknya. Mereka hanya bisa saling menopang ditengah rapuhnya kehidupan.

“Selamat pagi, Yura,” sapanya begitu tubuhnya memasuki loker penyimpanan tempat para karyawan berganti pakaian.

“Oh—pagi, Unnie. Tumben sekali jam segini baru sampai?”

Sena tersenyum sejenak pada wanita yang memiliki usia dua tahun dibawahnya itu kemudian menjawab, “Aku bangun kesiangan hari ini. Untungnya saja tidak telat ya?”

“Yeah.. untungnya saja tidak. Kau—mengantar Sarang lagi sampai ke depan gerbang sekolahnya?”

“Ya. Aku tidak mungkin membiarkannya berjalan seorang diri.”

Yura terdiam. Dia menatap wanita dihadapannya dengan raut menyesal karena telah bertanya seperti itu. Dia tahu semua kisah tentang seorang Lee Sena. Bagaimana dia berjuang untuk keluarganya, bagaimana sikap suaminya, juga bagaimana keadaan anaknya. Wanita itu benar-benar sanggup membuat hatinya terenyuh dengan segala kehidupannya yang jauh dari kata layak dan bahagia—secara harfiah. Wanita itu juga lah yang telah membuka matanya mengenai sebentuk perjuangan seorang Ibu terhadap anaknya.

Lama dia mengenal wanita itu, tidak pernah sekalipun Yura pernah melihatnya mengeluh. Wanita yang selalu digambarkan sebagai sosok yang lemah, akan terbalik jika disangkut-pautkan dengan Sena. Walau, Yura tahu sebesar apa kesakitan yang ditanggung oleh wanita itu. Sebagai sesama perempuan, dia jelas tahu. Dari sorot matanya, dia tahu banyak sekali kerinduan yang disimpan oleh Sena. Entah rindu dengan kehidupan yang layak atau rindu karena apa.

Yura lantas menggeleng, ketika sadar pikirannya tidak ditempat. Matanya mengedip lalu bertanya, “Apa Sarang pernah memintamu untuk berhenti mengantarnya?”

Wanita itu mengangguk takzim dengan bibir yang menipis. Bisa Yura lihat, dia mengulas sebuah senyum. “Pernah—sekali.”

“Lalu?”

“Aku bilang tidak bisa, dan dia merajuk. Akhirnya, aku mengijinkannya pergi sendiri. Tapi tidak benar-benar sendiri.”

Yura tertawa. Dia tahu pasti— “Kau mengikutinya diam-diam?”

“Tentu saja!” sahut Sena dengan kekehan pula. Mengingat satu hari dimana dia membiarkan gadis ciliknya berjalan seorang diri menuju sekolahnya, sementara dibelakangnya, tanpa anak itu tahu dia mengendap-endap mengikutinya.

Dia tersenyum jika mengingat hal itu, namun beberapa detik kemudian, dia mengerutkan alis—melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih serius, “Aku masih belum tega membiarkannya. Perasaanku selalu cemas jika harus melepas dia seorang diri. Terlebih banyak sekali pikiran-pikiran buruk yang bersarang dalam otakku jika aku tidak memastikan anak itu benar-benar selamat untuk sampai disekolahnya. Katakan, Yura—memangnya apa lagi yang bisa ku lakukan agar perasaan-perasaan buruk itu hilang selain mengikutinya dari jauh?”

Yura tersenyum lirih. Menggeleng. Dia paham bagaimana perasaan Sena jika mengingat kondisi Sarang. “Unnie—kau selalu membuatku terharu. Ibuku saja tidak sepertimu, wanita tua itu lebih sering memarahiku dibanding memanjakanku. Dan Sarang pastinya sangat bangga memiliki kau sebagai Ibunya,” sahut Yura dengan bibir yang mengerut kedepan.

Sena tertawa. Lantas menggeleng, “Tidak juga. Dia selalu bilang bahwa aku ini cerewet dan berlebihan.”

“Itu ‘kan karena kau yang terlalu perhatian padanya,” dia memukul bahu Sena pelan. Mendesis, kemudian tertawa lagi. “A-aah.. sudah jam segitu ternayata. Sekarang lekas ganti pakaianmu, Unnie. Sebentar lagi briefing pagi akan dimulai,” ujar Yura begitu melihat jam yang terpasang didinding.

Sena yang mendapatkan perintah itu, lantas melarikan kedua bola matanya untuk melihat jam juga. Dan sebuah lenguhan keluar dari mulutnya. Ah, benar. Dia harus segera siap-siap. Kemudian dia mengangguk, segera meraih seragamnya lantas menghilang ke balik bilik untuk sekadar mengganti pakaiannya.

∴∴∴

A Hotel, Seoul

Pria itu bergerak, menggeram kasar saat deringan teleponnya yang memekakkan telinga mulai mengganggu waktu tidurnya. Dia mendengus. Menggumamkan sumpah serapah dan langsung duduk terbangun, menyebabkan rasa pusing seketika menghujam kepalanya tanpa ampun. Ah, dia baru sadar bahwa semalam dia menghabiskan tiga botol wine. Atau lebih? Hingga sempat membuatnya hangover.

Matanya yang masih mengantuk, dia paksa untuk terbuka. Mengelilingi keadaan sekitar. Kemudian sebuah desahan lolos dari bibir tebalnya begitu mendapati sosok lain terbaring diatas ranjang yang sama dengannya. Dengan selimut yang merosot ke bagian pinggang sehingga dapat menampilkan dengan jelas pemandangan dada dan lehernya yang penuh bercak merah.

Oh, itu sudah jelas hasil perbuatannya. Mengingat wanita inilah yang semalam diperebutkan oleh teman-temannya tapi yang keluar sebagai pemenang adalah dirinya. Dan disinilah mereka beakhir.

Deringan ponsel berbunyi lagi. Menandakan si penelepon tidak akan berhenti menghubunginya sebelum dia menjawab panggilan itu. Membuat Cho Kyuhyun—si pria itu kembali mendesah. Dia kemudian beranjak turun, memakai celananya yang tergeletak dibawah ranjang. Lantas meraih ponselnya yang juga berada tidak jauh dari tumpukan pakaiannya—dan pakaian wanita itu yang berserakan. Dia menggeser icon berwarna hijau, hendak mengangkat telepon. Dan baru saja dirinya akan menyapa saat suara renta terdengar sangat marah dari seberang sana. Tentunya berpotensi merusak gendang telinganya dengan teriakan yang maha-dahsyat.

“DEMI TUHAN CHO KYUHYUN, KAU PIKIR APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN HAH?! AKU SUDAH BILANG AGAR JANGAN MELUPAKAN HARI INI! TAPI KAU MALAH SAMA SEKALI TIDAK MUNCUL! KAU TAHU, ORANG-ORANG SEDANG SIBUK MENYIAPKAN PESTA PERTUNANGAN AHRA TAPI KAU— AKU MALAH MENDAPAT KABAR BAHWA KAU MABUK-MABUKKAN SEMALAM DAN TIDUR BERSAMA JALANG DI HOTEL!”

Alis Kyuhyun mengernyit. Dan bibirnya tebuka sebesar tiga jari. Mendesahkan kalimat Ahh… atas teriakan Kakeknya.

“Gramps,” sahut pria itu dengan nada malas, “Aku sudah bilang bahwa aku tidak mau ikut terlibat dalam mengurus hal remeh-temeh seperti itu. Aku tidak tertarik. Lagipula, sudah banyak orang yang membantu disana, bagaimana mungkin kau menyuruhku ikut membantu juga? Kau pikir aku pesuruhmu! Dengar, aku janji aku akan datang siang ini. Kau akan melihat wajah tampanku hari ini. Jadi tidak perlu khawatir, Oke?”

“Oh, ya Tuhan.. Bagaimana bisa Cho Yeunghwan memiliki anak sepertimu. Ahra adalah Nuna-mu, tapi untuk hari pentingnya saja kau tidak mau membantu. Dasar Bocah Nakal! Kau—awas saja jika aku tidak melihat batang hidungmu dalam waktu tiga puluh menit, maka namamu akan ku coret dari daftar ahli waris!”

God.. Mana bisa begitu! Lagipula dia hanya bertunangan, bukan menikah. Kenapa kau cerewet sekali!”

“Oh tentu saja bisa. Kekuasaanku lebih tinggi dibandingkan denganmu kalau kau lupa. Dan ingat! Hanya kau yang mampu membuatku berubah menjadi kakek-kakek cerewet. Jadi tidak usah protes!”

“Terserah apa katamu sajalah Kakek tua!”

“Demi Tuhan Cho Kyuhyun, kau benar-benar! Pulang, sekarang! Atau aku akan benar-benar mencoret namamu!”

“Yak—Aish.. Sial!” umpat Cho Kyuhyun kasar begitu panggilan terputus.

Cho Ji-Tae, kakeknya ini semakin tua bukannya semakin baik kelakuannya tapi malah—masih saja menyusahkannya. Coba pikir saja, orang gila mana yang akan mencoret namanya dari daftar ahli waris hanya karena tidak ikut membantu menyiapkan pesta? Tck, konyol sekali.

Kyuhyun menghela nafas kesal. Menyimpan ponselnya disaku celana, kemudian kembali mengutipi pakaiannya. Dia harus cepat sekarang. Tidak bisa lagi menghindar. Mengingat Cho Ji-Tae jika sudah menjatuhkan rezim, maka benar-benar akan membuatnya terjatuh.

Pria itu baru saja selesai mengancingkan lengan kemeja linennya, saat wanita yang semalam diajaknya menuju surga dunia itu terbangun—lalu beranjak untuk berdiri dihadapannya dengan tubuh diselimuti kain seadanya dan menatapnya bingung. Nah, kalau sudah begini, drama baru lagi akan segera dimulai.

“Ng.. Kyuhyun Oppa—kau mau kemana?”

“Pulang,” jawabnya singkat seraya memakai sepatunya.

“P-pulang? Secepat ini? Tapi… lalu, kita?”

Benar ‘kan?

Kyuhyun mendengus malas. Ini yang dia tidak suka dari wanita. Suka sekali menuntut penjelasan padahal dia sudah sangat jelas memberikan informasi. Dengan perasaan yang masih gondok akibat perkataan Kakeknya, dia kemudian memberikan tatapan remehnya pada wanita yang bahkan dia lupa namanya siapa. Dia terlalu mabuk semalam, jadi untuk sekadar mengingat siapa yang diajaknya keatas ranjang saja dia tidak tahu.

Kyuhyun mendengus sinis. Menampilkan senyum keparatnya, kemudian berkata, “Lalu, kita? Hei, ayolah.. Hubungan kita itu hanya sebatas pemuas nafsu semalam. Tidak lebih. Atau—apa kau berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara kita, begitu?” Dia tertawa remeh sebentar. Menggelengkan kepala. Wanita benar-benar merepotkan. Itu lah kenapa dia memutuskan untuk menjadikan mereka sebagai mainan saja.

Pria itu menghela nafas sekali lagi, sebelum kemudian dia mengkakukan wajahnya, “Jangan konyol.” katanya dengan nada datar.

“Tap—”

“Kita hanya teman tidur,” tegasnya sekali lagi.

Wanita itu mendesah dengan raut wajah yang dia buat polos, tapi bagi Kyuhyun, itu jelas sangat memuakkan. Ah, dia sudah sangat terburu-buru. Tapi wanita ini memperlambatnya saja.

“Apa kau tidak mau meninggalkan kartu nama atau nomor ponsel? Mungkin kita bisa bertemu kapan-kapan. Kita bisa berkencan lagi.”

Mata Kyuhyun menghujam tepat di iris abu-abu yang dimiliki wanita itu. Menatapnya dingin tanpa belas kasihan. “Kau tidak tahu aturan permainanku?” tukas Kyuhyun, mulai tidak sabar.

“Huh?” wanita itu menatapnya bingung. Tidak mengerti.

“Aku – tidak – pernah – mengencani – wanita – yang – sama – lebih – dari – satu – kali,” ucapnya, memberikan penekanan pada setiap silabelnya. “Paham?”

picsart_01-15-08-57-101

M A I N   C A S T

 C H O K Y U H U N

28 y.o

scan0002-copy


L E E S E N A

27 y.o

a19


L E E S A R A N G

7 y.o

pic11


Note : Satu lagi yang keluar dari otak. Ini ide keluar pas lagi mikirin kelanjutan Selfish yang—serius, ditagih melulu >< rasanya ya jadi gimanaaa gitu. Saya nulisnya cerita apa, komennya cerita yang mana. Heuh… tapi gak apa-apa deh. Berarti masih ada yang penasaran. Wkwk. Terus sengaja juga ini baru ngasih intro-nya aja. Agak pasaran sih, ya? Tapi lihat nanti aja bakalan kayak gimana ini alurnya cerita. Wkwk

Sincerely,

Queensera P.

Advertisements

78 thoughts on “[Intro] Intemporel

  1. Haii..salam kenal author,aku reader baru,izin baca2 ya…ceritanya menarik bikin penasaran,jangan2 ayahnya sarang itu cho kyuhyun,eh tp disini diceritakan sena dah punya suami…hmm…lanjut baca part 2 nya deh..

    Like

  2. This story looks so good, suka bgt sama gaya bahasanya, ide ceritanya oke juga. Hmmm, penasaran sama hubungan sarang-sena-kyuhyun. Oke baca part selanjutnya ^^

    Like

  3. Pertama tama mau ngucapin terimakasih ya untuk email password UB, aku salah input tidak pakai kapital UB! Dumb!
    .
    Sebenernya sudah baca intronya, tapi berhubung berbarengan dengan agenda research proposal skripsi, jadinya tidak dapat fokus menikmatinya! Huhuhuhu!
    .
    Belum apa apa saya sudah impressed ke Sena! Ada dibalik perjuangannya tersebut? Sarang mengapa berbeda?

    Like

  4. SUERRR DAH KAKKKK!!! I LOVE THIS STORY:)
    Menarikk bgt buat dibacaa, i kepo sama suaminya sena sokap disini:) apakah changmin? #asalnebak hehehe
    .
    .
    .
    Btw 1000 won tuh berapa thor? i mikir dri tdi.. tpi gak ketemu2 jawabannya hiks 😥

    Like

  5. Haloo, aku reader baru di blogmuu, izin baca cerita iniii yaaa:) aku suka banget sama cara penulisan kamu:) btw, sarangnya cantiiiik banget😍

    Like

  6. lupa meninggalkan jejak, kemarin sempat baca ini dan lupa komen ^_^. semangat untuk terus melanjutkan ceritanya. itu sarang mungkinkah sarang putri dari kyu…. tp knp sena nikahnya sama yg lain..

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s