Posted in Multi-Chapter

Intemporel – 1

i1

Poster by Bangsvt @ PosterChannel

When you think it’s lost, it can still be found

M A I N  C A S T:

Cho Kyuhyun,  Lee Sena

also

Lee Sarang, Alisa Park, Other SJ members

R A T E:

PG-17 | Mature Content

AU | Multi-Chaptered

G E N R E:

Romance, Hurt, Dark, Family

R E L A T E D  S T O R Y:

[Intro] Intemporel

N O W [P L A Y I N G]

RENDEZVOUS


This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

 

∴∴∴

“Ini alamat tempat kau akan dipindahkan,” seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun memberikan secarik kertas kepada Sena. Sedangkan si pemeran utama wanita itu hanya terdiam menatap benda tipis berwarna biru yang ditujukan kepadanya. “Aku jamin, kau akan lebih senang bekerja disana dibanding disini. Jadi, ambilah!”

Mata Sena mengerjap. Antara ragu menerima tawaran Nyonya Kim atau tidak. Dia sudah terbiasa disini dan sudah mengenal baik pekerja-pekerja yang lainnya. Dia bukan orang yang mudah untuk beradaptasi, maka jika dia memilih untuk menerima tawaran itu, akan bagaimana jadinya nanti? Haruskah dia mengulang kembali sesi perkenalan yang sangat tidak disukainya itu?

“Apa harus aku? Ah, m-maksudku.. eh.. ini jauh dari tempat tinggalku, Nyonya.” katanya mencoba berkelakar. Bukan hanya alibi yang mengada-ada, tapi klub yang akan menjadi tempat kerja barunya nanti memang terletak di daerah Gangnam. Sedangkan letak rumahnya saja jauh dari kawasan yang merupakan surga bagi kaum bourjois itu.

Nyonya Kim menarik nafas dalam. Menatap wajah wanita yang duduk canggung didepannya dengan raut prihatin. “Tolonglah Sena, hanya kau yang bisa kuandalkan. Selain Hyera, kau lah yang kuanggap terbaik disini. Kerjamu sama bagusnya dengan dia. Tapi aku tidak mungkin melepaskan Hyera, dia sangat kubutuhkan untuk menjadi penggantiku saat aku tidak ada. Kau mau kan?”

Hati Sena berkecamuk. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Nyonya Kim. Tapi kenapa harus dia? Jabatan seorang manajer yang dimiliki Kim Jungha, memang mengaharuskan wanita berbeda usia delapan tahun darinya itu setidaknya memiliki satu saja pelayan yang bisa tegas untuk membantunya mengatur pelayan lain jika dia sedang tidak ada. Dan Han Hyera, memiliki sikap tersebut, sedangkan dia tidak. Jangankan tegas, untuk menasihati pelayan lain yang berulah saja Sena tidak bisa. Dia lebih banyak memperhatikan dan diam. Jadilah dibanding dengan dirinya, Nyonya Kim jelas lebih memilih untuk mempertahankan Han Hyera agar tetap diklub ini.

“Orang sana sudah mewanti-wantiku untuk memberikan salah satu pelayan terbaik dari sini. Dan aku memilihmu,” tangan Nyonya Kim menyentuh lengan ramping Sena. Memberikan pemahaman bagi wanita yang sudah dia anggap seperti adik sendiri. “Percayalah, bekerja disana akan lebih baik lagi untuk mengatasi perekonomian keluargamu yang buruk. Hm?”

Sena menggigit-gigit bibir bawahnya. Sesuatu yang menjadi kebiasaan saat sedang diliputi kebimbangan. Selain karena dia adalah orang yang selalu mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan hal-hal baru atau orang baru, yang Sena pikirkan selanjutnya adalah jarak antara klub tersebut dengan rumahnya. Demi tuhan, kawasan itu lumayan jauh. Kalau sudah begini, bukan hanya kualitas waktu istirahatnya yang semakin menipis tapi tenaga yang dimilikinya lah yang akan lebih terkesplorasi lagi.

Setelah beberapa menit dia habiskan untuk sibuk bertanya-tanya antara menerima atau tidak, maka masih penuh dengan keraguan, Sena akhirnya meraih kertas yang ada ditangan Nyonya Kim. Mau bagaimana lagi, klub yang digadang-gadang sebagai klub ternama di Gangnam itu membutuhkan seorang pekerja tambahan lagi. Entah bagaimana bisa seperti itu, Sena saja tidak mengerti. Pun alasan lainnya juga karena klub tersebut dimiliki oleh orang yang sama dengan klub tempat Sena bekerja sekarang. Sena tidak mungkin tetap kukuh untuk menolak, karena yang akan terjadi nantinya, bisa jadi dia malah dicap sebagai karyawan yang tidak patuh. Lagipula dia masih membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan keluarganya.

Nyonya Kim tersenyum, wanita itu menepuk bahu Sena lantas berkata, “Terima kasih. Kau sangat membantuku kali ini, Sena.”

“Semoga saja apa yang kau katakan tadi benar, Nyonya Kim,” balas Sena dengan senyum sedikit enggan.

“Tentang?”

“Bekerja disana akan membantu masalah perekonomianku yang buruk menjadi lebih baik lagi.”

Nyonya Kim kembali tersenyum—lebih lirih, setelah kalimat yang dilepaskan oleh Sena mengalun diudara. Kadang dia selalu merasa lucu dengan kepolosan wanita muda beranak satu ini. Sena benar-benar memiliki sikap pejuang. Rela berkorban dan tetap bertahan meskipun kerapuhan perlahan-lahan menggerogoti nasib baiknya. Hah.. bagaimana mungkin wanita berhati lembut ini ditelantarkan oleh suaminya sendiri? Rasanya Kim Jungha ingin sekali menyekik pria yang tidak bertanggung – jawab itu. Pria tega mana yang bisa membiarkan istrinya bekerja siang malam tanpa mengenal lelah seorang diri? Memalukan.

“Sena..”

“Hm?” sebentuk pancaran antusias, Sena tujukan pada Kim Jungha. Mencoba bertanya melalui sorotnya, mengenai panggilan wanita yang disebutnya sebagai Nyonya Kim tadi yang terasa menggantung diudara. “Boleh aku bertanya sesuatu?” dan saat Kim Jungha membalas tatapannya dengan binar yang tampak berbeda dari sebelumnya, saat itu juga kedua sudut bibir Sena yang semula mengulaskan senyum tipis, kini berkerut. Kim Jungha, entah bagaimana terlihat seperti seseorang yang sedang bersimpati padanya. Tapi Sena sendiri tidak tahu sama sekali, rasa simpati itu untuk apa? Apa karena ucapannya tadi? Jika iya, maka dia akan terlihat seperti orang miskin yang benar-benar haus akan kekayaan.

“Eum.. ya, boleh.” Sedikit tidak enak memang, tapi akan lebih tidak mengenakkan lagi jika dia tidak memperbolehkan Nyonya Kim untuk bertanya. Mungkin saja sesuatu yang akan disampaikan Nyonya Kim masalah kepindahannya ini. Atau masalah yang krusial.

“Kenapa kau tidak tinggalkan saja dia?”

Alis Sena bertaut. Mendalami makna kalimat yang baru saja dilepaskan Nyonya Kim. Tapi saat melihat wanita didepannya kembali menarik nafas, dia baru mengerti. Ini masalah… suaminya?

“Kau dan anakmu, akan bisa hidup lebih baik jika meninggalkan pria itu. A—”

“Maaf Nyonya Kim. Maaf jika saya lancang, tapi ini sudah diuar batas Anda untuk mengetahui bagaimana latar belakangku kehidupanku,” Sena memberanikan diri menatap dua bola abu-abu yang dimiliki oleh Kim Jungha. Bibirnya dia basahi, gugup. Lantas kembali berujar, “S-saya.. saya permisi lebih dulu,” baru saja dia akan mengangkat pantatnya dari sofa lembut yang didudukinya, saat kalimat Nyonya Kim menahannya untuk bergerak lebih banyak lagi.

Dua puluh satu silabel yang kembali mengalun diudara, seketika membuat tubuhnya membeku. Mengantarkannya pada kilasan silam yang sempat terjadi padanya hingga dia harus menjalani kehidupan yang terasa menyakitkan.

“Sebenarnya apa alasanmu memepertahankan rumah tangga yang seperti itu? Kalau saja kau mau, kau bisa menjadi orang tua tunggal bagi Sarang,” Nyonya Kim menghentikan kalimatnya sejenak. Menghela nafas untuk kemudian berdiri. Melangkahkan kakinya untuk bisa lebih dekat dengan wanita yang saat ini mematung ditempat. Dia langsung menjatuhkan pantatnya persis disamping Sena begitu jaraknya sudah terpangkas. “Tidak perlu ada yang kau takuti. Percayalah, nantinya hanya dia yang akan menyesal karena telah mengabaikan wanita sepertimu.”

Buku-buku jari Sena saling meremas. Meredam pilu yang tiba-tiba menyentak kerja organ vitalnya. Sebuah rasa yang sudah tidak asing lagi baginya. Dia sudah terlalu banyak dikecewakan, maka kesakitan yang suaminya berikan padanya itu, bukanlah sesuatu yang baru baginya.

Nyonya Kim yang menyadari bahwa suasana menjadi sangat canggung dan kelabu, merutuki diri sendiri. Benar, dia sudah melewati batasnya sebagai atasan. Bagaimana bisa dia menanyakan hal sensitif yang menyangkut kehidupan pribadi calon mantan karyawannya? Berdeham sejanak, dia pun kembali menyuarakan pita suaranya, “Maaf, aku terlalu lancang. Aku tidak bermaksud seperti itu, Sena. Aku ha—”

“Tidak mungkin.”

“Huh?”

“Tidak mungkin bagiku untuk meninggalkan Junghoon Oppa. Seburuk apapun perangainya, Sarang tetap membutuhkan figur seorang ayah. Dan aku tidak bisa egois atas diriku sendiri.”

Mata Kim Jungha menelisik wajah Sena yang tertunduk dalam disebelahnya. Terdiam, mencoba memahami pikiran wanita itu yang mungkin saja tengah kacau akibat pertanyaannya. Dia tidak tega, tapi Sena harus berani mengambil risiko mengenai hal ini. Tatapannya kemudian turun, melihat buku-buku jari Sena yang masih saling meremas. Lalu, dengan penuh simpati, dia menggenggam telapak tangan Sena. Membuat si empunya menoleh, dan memancarkan kepedihan yang Jungha yakin sudah terlalu banyak menumpuk disana.

“Kau ibu yang baik, Sena. Aku saja tidak pernah berpikiran sejauh itu. Tapi perlu kau pahami, bahwa apa yang kukatakan tadi, untuk kebaikanmu dan Sarang. Anakmu pastinya pun tak ingin tinggal bersama seorang ayah yang memiliki perangai seperti Lee Junghoon. Tinggalkan dia, mulailah kehidupan barumu bersama Sarang saja.”

Sena menggeleng. Dimasa silamnya, dia pernah merasakan hidup tanpa memiliki seorang ayah. Dia tidak mau Sarang bernasib sama seperti dirinya. Beruntung Junghoon masih mau menikahinya saat itu. Walau pria itu memang memiliki tempramen yang tinggi tapi biarlah. Biarkan Sarang memiliki orang tua yang utuh. Ayah dan Ibu. Biar kesakitan ini hanya dia yang menanggung saja. Tidak perlu putrinya merasakan juga.

“Aku menyayangi Junghoon Oppa. Itulah alasan lain kenapa aku ingin tetap bertahan dengannya.”

picsart_01-15-08-57-101

Hari ini cuaca sedikit mendung. Gumpalan awan pekat kelabu menggantung diatas kepala, menghiasi langit yang semula berwarna biru cerah. Semilir angin penanda hujan pun turun berhembus. Membuat daun-daun coklat – oranye yang jatuh memijak bumi kembali dibawa melayang bersama serpihan pasir-pasir kering yang mampu memerihkan mata.

Lee Sarang masih berdiri ditempatnya. Gerbang sekolah. Menunggu wanita setinggi 168 cm yang merangkap sebagai ibunya untuk datang menjemputnya. Tubuh kecilnya bersandar pada salah satu tembok yang sudah mulai mengelupas catnya ditemani sebuah tas yang dia letakkan disamping kakinya. Sengaja, karena punggungnya mulai merasa pegal akibat menahan beban berat tas sekolahnya itu. Pun karena sejak tadi dia hanya diam – berdiri – menunggu tanpa bergerak dari sisi tembok sama sekali.

Angin pemanggil hujan berhembus semakin kencang. Membuat anak rambut yang mencuat dari ikatan kudanya, menghalangi sebagian wajah. Sebenarnya Sarang bisa saja pulang sendiri, toh jarak antara sekolah dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Hanya delapan ratus meter dari sini. Tapi jika dia melakukan itu, ibunya pasti akan memarahinya karena khawatir mengingat keadaan dirinya yang bisa saja terjatuh ditengah jalan.

Sarang sedih jika mengingat kondisi tubuhnya yang seperti ini. Kecelakaan yang menimpanya saat berumur lima tahun membuat saraf kakinya melumpuh hingga mengharuskan dia berjalan menggunakan kruk dan membuat ibunya harus kepayahan mengurusnya. Hidup dengan alat bantu penopang kaki, membuat dirinya tidak bisa bergerak bebas seperti yang lainnya. Seringnya, saat kedua kakinya sudah tidak mampu untuk berjalan atau bergerak, Sarang bisa dengan mudah terjatuh. Itulah kenapa ibunya selalu menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemputnya. Melihatnya berjalan dari jarak dekat jika sewaktu-waktu kakinya sudah tidak mampu menopang berat tubuhnya. Dan karena hal ini pula lah Sarang tidak bisa mengikuti jam pelajaran olahraga Ok Sonsaeng. Dia hanya bisa duduk berdiam diri dibawah pohon besar yang terletak dipinggir lapangan. Mengubur dalam-dalam keinginannya untuk berlari dan tertawa bersama teman-temannya yang lain.

“Apa kau sedang menunggu seseorang?” seorang gadis cilik sebaya, dengan rambut kepang dua yang jatuh menjutai dikedua bahunya datang—berdiri disamping Sarang, tak lupa menyertai sebuah lesung pipi yang berada di sudut bibir bawahnya. Tersenyum.

Cantik sekali—batin Sarang.

Melihat senyum itu, Sarang pun ikut tersenyum. Mengangguk atas pertanyaan gadis—oh, dia adalah murid baru pindahan dari Incheon. Kalau tidak salah namanya…

“Aku Jasmine. Kau siapa?”

Ya! Namanya adalah Jasmine. Si gadis dengan rambut sewarna madu dan pipi merona yang sedikit tembam. Teman barunya ini mirip sekali seperti Putri Elsa. Cantik dan manis. Dan sepertinya memang banyak bicara.

Sarang menyengir, menyambut uluran tangan Jasmine, lalu mulai mengenalkan diri sendiri. “Aku Lee Sarang. Kau bisa memanggilku Sarang.”

“Sarang? Wah.. namamu seperti nama Ibuku!” seru Jasmine bangga. Bola matanya berbinar lucu, membuat Sarang ikut merasa bangga karena telah memiliki nama tersebut.

“Oh ya? Namamu juga bagus. Jasmine—itu nama bunga kan?”

“Kau tahu itu?” kedua mata Jasmine membulat. Dibalas anggukan oleh Sarang. “Hebat! Karena seringnya, teman-teman tidak tahu arti namaku. Kupikir bunga jasmine tidak diketahui banyak orang..”

“Aku tahu karena Ibu. Ibu suka sekali dengan bunga-bungaan, makanya aku mengahapal semua nama bunga dalam Bahasa Inggris. Hehe..”

“Ibumu pasti orang yang lembut,” tembak Jasmine, mengernyitkan kedua alis Sarang yang menunjukkan raut kenapa kau bisa tahu?

“Karena mendiang ibuku juga sangat menyukai bunga, itulah kenapa dia memberikan nama Jasmine padaku,” Jasmine menyengir. Lalu kembali melanjutkan, “Ayah bilang, Ibu adalah wanita berhati lembut yang pernah ditemuinya. Jadi kupikir wanita yang menyukai bunga adalah wanita yang berhati lembut. Seperti ibuku dan ibumu.”

Sarang mengangguk lagi. Memang benar kan? Ibunya—Lee Sena memang berperangai lembut.

“Kau menunggu siapa?” tanya Jasmine lagi. “Ah tunggu! Biar kutebak—kau pasti… menunggu ibumu ya?”

“Kau selalu bisa menebak dengan benar, Jasmine. Seperti memiliki indra keenam saja,” keduanya lantas tertawa setelah pernyataan Sarang mengudara. “Kau sendiri? Kenapa belum pulang?”

“Aku juga sedang menunggu Ayah. Ck, pria itu lama sekali.”

Sarang kembali terkekeh. Lucu sekali melihat cara Jasmine merutuk. “Kalau begitu kita menunggu bersama saja. Ibu juga sangat lama sampainya..” kini berganti, bibir Sarang mulai mengerut lucu. Sebal. Untungnya saja ada teman mengobrol, coba kalau tidak, bisa mati kebosanan dia.

“Ide yang bagus! Tapi kenapa ibumu lama sampainya? Apa rumahmu ja—”

“Sarang!” kalimat Jasmine terputus begitu mendengar suara yang memanggil nama teman barunya tersebut. Keduanya pun menoleh, melihat seorang wanita berkemeja putih sedang berlari menuju arah mereka.

“Hhh.. Hhh.. Sarang tidak apa-apah? Hhh.. Maaf—hh.. Ibu terlambat,” Sena terengah-engah didepan kedua gadis cilik itu. Tubuhnya membungkuk, menumpu kedua tangannya pada lutut. Mengontrol pernapasannya kembali yang tadi sempat mengacau. Sekaligus lelah karena harus berlari dari halte bus menuju sekolah putrinya, takut jika Sarang sudah tidak ada disini atau terjadi apa-apa pada anaknya itu.

Dengan cekatan, Sarang meraih tasnya. Mengambil botol minum berwarna pink yang masih ada sisa airnya seperempat, lalu memberikannya pada Sena. “Ibu, minumlah.”

“Huh?”

“Ibu pasti haus karena habis berlari, Minumlah.. walau tinggal sedikit tapi setidaknya bisa membasahi tenggorokan Ibu yang mengering.”

Sena menatap wajah putrinya dalam. Lama meniti bagian favoritnya tersebut, hingga sebuah senyum kemudian muncul disudut bibirnya. Dia lantas menerima botol minum tersebut. Menghabiskannya hingga tandas. “Terima kasih..” memberikan botol yang sudah kosong itu pada anaknya kembali untuk diletakkan kedalam tasnya lagi.

“Kita pulang sekarang?”

Sarang mengerjap. Sekarang? Tapi Jasmine masih menunggu Ayahnya. Tidak enak jika meninggalkan dia sendiri, terlebih Sarang sendiri yang mengajaknya untuk menunggu orang tua mereka masing-masing bersama. “Ibu, kenalkan ini teman baruku. Dia murid pindahan dari Incheon, namanya Jasmine. Jasmine, ini Ibuku.”

Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu menggulirkan bola matanya pada sosok setinggi Sarang yang berdiri disamping putrinya. Bibirnya kemudian mengulaskan senyum lembut. “Hai, Jasmine! Salam kenal, Bibi adalah Ibunya Sarang,” Sena mengibaskan lima jarinya didepan wajah.

Jasmine membungkukkan sedikit tubuhnya pada Sena. Tanda hormat pada orang tua. “Hallo, Bibi! Aku Jasmine, temannya Sarang. Senang bertemu denganmu.”

Sena mengangguk, masih dengan senyum yang terpatri diwajahnya.

“Ibu, kita temani Jasmine menunggu Ayahnya lebih dulu ya? Baru setelah itu kita pulang,”

Bibir Sena mengerut. Menunggu? Dia melirik wajah Sarang dan Jasmine bergantian. Ini saja sudah jam dua siang. Belum ditambah perjalanan dari sekolah Sarang menuju rumah mereka, memasakkan nasi dan lauk-pauk untuk suami dan anaknya sebelum dia pergi lagi dan pulang larut, lalu perjalanan ke tempat kerjanya yang baru. Kalau begini, dia bisa terlambat dihari pertamanya bekerja.

Menyadari raut keberatan Ibunya, Sarang menghela nafas. Mau bagaimana lagi? Dia tidak enak pada Jasmine jika dia meninggalkan gadis itu sendiri. “Ibu mau ‘kan? Ayahnya Jasmine sebentar lagi sampai kok!”

Sena menggigit-gigit bibir bawahnya. Menimbang dan memikirkan cara agar saat dia mengiyakan ajakan Sarang, dia tidak terlambat masuk kerja yang akan dimulai pukul empat nanti. Baru setelah hatinya dibuat bimbang, pun juga karena tidak bisa menolak keinginan Sarang, akhirnya dia mengangguk, menggumamkan kalimat baiklah, kita temani Jasmine. Sedikit lesu. Tapi tidak mungkin juga dia membiarkan Jasmine berdiri seorang disini menunggu Ayahnya. Bagaimana jika Sarang yang berada diposisi Jasmine, hatinya pasti akan merasa sedih melihat anaknya harus menunggu seorang diri.

Setelah hampir lima belas menit mereka menunggu sambil duduk meriung dibawah sebuah kanopi kedai yang masih tutup karena belum saatnya buka, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Seorang pria tinggi dengan pakaian layaknya seorang bos perusahaan besar berjalan menuju mereka. Sudut bibirnya terangkat begitu melihat presensi anaknya sedang tertawa – bercanda bersama seorang wanita dewasa dan anak sebaya dengan dirinya.

“Jasmine?” panggilnya dengan logat british yang begitu kentara, membuat tiga kepala yang sedang asyik mengobrol menggerakan lehernya serentak kearah suara.

“Ayah!” Jasmine langsung berlari seraya menyerukan panggilan yang tersemat untuk pria tinggi tersebut. Untung saja gerimis yang tadi sempat datang sudah berhenti. “It’s almost an hour. But you got me like this? Isn’t there any apologize?” gerutunya begitu sampai tepat didepan tubuh Ayahnya. Matanya memicing sebal.

Pria itu terkekeh. Mencubit gemas pipi tembam anaknya, “Sorry, I have an impromptu meeting, sweetheart.

You’ve done it before. Now, you did again!

Okay, okay. Daddy is so sorry. Would you apologize me?

Sena dan Jasmine yang masih berada disana hanya terdiam menatap keduanya. Mereka tidak menyangka bahwa percakapan antara Jasmine dan Ayahnya akan menggunakan bahasa itu. Ini wow sekali untuk mereka. Terlebih Sarang yang masih berada pada tahap mempelajari bahasa tersebut.

“Okay. Permintaan maaf diterima,” Jasmine menautkan jari kelingkingnya pada kelingking sang Ayah. “Ah, Ayah.. Jasmine hampir lupa,” gadis itu menepuk jidatnya, kemudian menggandeng sebelah tangan Ayahnya untuk kemudian menuntunnya mendekat pada Sena dan Sarang. “Sarang, Bibi, kenalkan pria tampan dan tinggi tapi sangat menyebalkan karena telah membuat kita menunggu lama ini adalah Ayahku. Dan Ayah, kenalkan ini adalah Sarang teman baru Jasmine, sedangkan Bibi ini adalah Ibunya. Mereka lah yang menemani Jasmine menunggu Ayah yang sangat lama datangnya,” lanjutnya dengan menekankan lima silabel terakhir.

Pria itu kembali tertawa. Memiliki anak seperti Jasmine yang cerewet dan gampang sekali merajuk, kadang unik juga. Hitung-hitung menjadi hiburan tersendiri baginya. Dia kemudian menatap Sena dan Sarang bergantian, lantas berucap, “Terima kasih sudah mau menemani Jasmine. Aku tidak tahu jika tidak ada kalian, anak ini akan seperti apa.”

“Seperti batu Ayah, karena aku harus berdiam diri sendirian,” celetuk Jasmine, membuat ketiga orang lainnya tertawa.

“Tidak apa-apa. Jasmine seumuran dengan Sarang, mereka masih kecil, akan sangat berbahaya jika dibiarkan seorang diri. Pun tadi aku juga terlambat menjemput Sarang. Jadi sebagai gantinya, aku harus bersedia menemansi Jasmine juga. Benar kan?”

Kedua gadis cilik itu mengangguk. Membuat si pemeran pria kembali mendengus geli menatap keduanya. Lalu tatapannya terjatuh pada Sarang yang baru dia sadari bahwa gadis cilik itu berdiri dibantu dengan menggunakan kruk. Apa anak itu lumpuh? Atau sedang cedera? Kasihan sekali jika benar begitu adanya.

“Ayah, rumah Sarang dan Bibi searah dengan rumah kita, bagaimana jika kita mengantarkannya?” pinta Jasmine, meleburkan pikiran Ayahnya yang sedang terpaku pada Sarang.

“Huh?”

“Ayah sedang melihat apa sih? Jasmine bilang, bagaimana jika kita antar Sarang dan Bibi sampai ke rumahnya? Oke?”

Pria itu terdiam. Well, tidak masalah sih, toh mereka sudah menemani putrinya. Terlebih melihat kondisi Sarang yang—ah tidak, tidak. Jangan berpikiran seperti itu.

“Tidak perlu. Kami bisa menggunakan bus,” tolak Sena.

Alis Jasmine mengerut, tidak terima. “Kenapa? Bukankah Bibi juga akan bekerja pukul empat nanti? Ini sudah pukul setengah tiga. Setidaknya jika menggunakan mobil Ayah, Bibi bisa mempersingkat waktu. Tenang saja, Ayah itu seorang wild racer. Jago bermanuver di jalan, jadi tidak perlu takut.”

Pria itu kembali terkekeh seraya mencubit gemas sebelah pipi anaknya yang terlalu banyak bicara. Membuat Sena dan Sarang lagi-lagijuga  dibuat tertawa. “Benar, kalian bersama kami saja. Bayaran karena telah menemani si cerewet ini.”

“Ayah!” pekik Jasmine tidak suka disebut cerewet.

Sena tersenyum menatap interaksi antara Ayah dan anak tersebut. Seandainya saja Sarang bisa seperti itu. Tapi rasanya tidak mungkin. Lee Junghoon tidak bisa bersikap selembut pria didepannya.

Dia kemudian mengalihkan kedua bola matanya pada Sarang. Menyiratkan pertanyaan, antara mau atau tidak menerima tawaran dari dua orang tersebut. Dibalas oleh Sarang dengan anggukan antusias sekaligus kuat. Dia sudah mengintip dari balik tubuh Ayah Jasmine tadi, dan matanya pun sempat membulat saat melihat mobil keren yang sedang terparkir anggun beberapa meter dari jarak mereka. Tentu saja mendapati tawaran seperti itu, Sarang akan mengiyakannya. Kapan lagi dia bisa menaiki mobil mewah?

picsart_01-15-08-57-101

Gangnam, merupakan salah satu kawasan termasyhur di Seoul yang tercatat sebagai ibukota Korea Selatan. Distrik ini dikenal sebagai simbol kekayaan akan pendapatan yang melimpah di negeri gingseng tersebut, sehingga menjadi salah satu distrik terkenal dengan kehidupan mewah, glamour serta selera fashion-nya yang sangat tinggi. Sama seperti kawasan mewah lain diseluruh dunia, Gangnam adalah distrik yang tidak pernah tidur. Masyarakatnya, baik tua maupun muda, cenderung memiliki gaya kehidupan partyholic alias gemar berpesta.

Tak heran jika belahan bumi lain menjuluki Gangnam sebagai Baverly Hills-nya Korea Selatan. Dengan segala kehidupan mewah yang ada didalamnya, Gangnam menawarkan surga bagi orang-orang bourjois. Ada banyak sekali pilihan yang Gangnam sediakan disana. Termasuk bagi pencinta dunia malam, salah satunya Club Eden yang terletak di Hotel Ritz-Carlton. Klub yang digadang-gadang sebagai salah satu klub termewah dan high-class dengan moto “Where Indulgence Has No Limits” itu memiliki interior ruangan menyerupai ballroom pada abad ke-18, dengan dekorasi unik didinding dan langit-langit, neon flashing light yang menghujam dari segala arah sehingga mampu menciptakan suasana intim serta dentuman musik yang membuat semua orang rela berdesakan dilantai dansa. Seperti yang dapat dibayangkan, tempat ini sangat mewah dan banyak sekali ditemukan para pencinta malam yang sangat atraktif pun mengesankan. Dan ditengah suara riuh inilah, seorang pria berjalan dengan segala pesona yang dimilikinya. Sesekali bibirnya tersenyum demi menggoda para wanita berpinggang ramping yang dilaluinya.

“Hei, Wanna play with me?” bisik salah seorang wanita bergaun hitam ketat yang tanpa tahu malu menggelayutkan lengannya manja pada lengan si pria. Mengecup bibirnya sekilas tanpa meminta ijin, lalu ditutup dengan lumatan keras oleh si empunya. Membuat lipstick merah menyala yang telah rapi diulaskan pada permukaan bibirnya beberapa saat lalu, seketika menjadi berantakan. “As always, kau melukai bibirku lagi, Hae,” tangannya terangkat untuk menyentuh bibirnya yang terasa sakit akibat gigitan tak manusiawi oleh teman bergumulnya tadi.

Lee Donghae—si pria penuh pesona itu mengulas sebuah senyum sinis sekaligus geli sebelum kemudian berujar, “I never played softly, Babe,” dibalas dengusan tak terima oleh wanita itu. Lalu mata Donghae berpendar kesegala arah. Mencari sosok yang setidaknya dia kenal disini. “Are they here?

“Mr. Choi is upstair.

Alone?” Donghae mengangkat alisnya.

Wanita yang berada dihadapannya tertawa remeh sejenak sebelum berujar, “Living nightlife is still not Choi Siwon’s thing. Of Course, your best-fucker is here.

Donghae yang mendapatkan jawaban seperti itu, jelas saja tergelak hingga matanya menyipit. Kepalanya kemudian mengangguk, membenarkan kalimat wanita itu. Dalam kebiadaban dunia malam yang dia dan kawan-kawannya miliki, hanya Siwon lah yang masih bisa dikategorikan sebagai orang waras. Pria itu tidak akan berada ditempat semacam ini jika tidak ada yang memintanya datang. Atau paling tidak, pria itu akan berada disini hanya jika sedang merasa bosan dirumah atau frustasi mengenai mobil-mobil sport teranyar yang sulit dimilikinya dan membutuhkan dua hingga tiga sloki sampanye untuk meringankan pikirannya yang sedang sumuk.

Dengan membawa langkah besarnya, Donghae berjalan, meninggalkan tanpa sepatah kata wanita yang tadi sempat dilumat bibirnya. Well, memang seperti itu ‘kan gunanya wanita malam disini? Hanya digunakan jika si pemain butuh, lantas ditinggalkan jika sudah tidak berguna atau tidak asyik lagi.

Begitu sampai dilantai yang ditujunya, dia mendapati dua kawannya—salah satunya adalah Choi Siwon sedang duduk disebuah sofa hitam. “Kupikir tidak ada yang datang malam ini,” Donghae duduk disebelah pria berperawakan tinggi – tegap itu, lantas menuangkan cairan merah kedalam gelas yang masih kosong.

Siwon mendesah, dagunya mengedik pada pria yang sedang bergumul dengan mainannya. “Kyuhyun memintaku untuk datang, karena tidak ada yang bisa dia hubungi selain aku,” jawabnya sinis, tentunya dengan menekankan beberapa silabel dalam kalimatnya. “Aku lupa bahwa dia membutuhkan hal yang sama setiap malamnya.”

Donghae tergelak. Menyesap lagi cairan merahnya. “Clara menghancurkan ponselku pagi tadi. And you’ve been known the reason so much well, Choi,” dia tersenyum tipis dengan sebelah alis terangkat, membuat Siwon mendengus geli. Lalu matanya dia alihkan lagi pada Kyuhyun yang sejak tadi tidak mau melepaskan mainannya. Pria itu sangat sibuk memuaskan diri sendiri di sudut ruangan yang ter-setting remang-remang.

“Kau lihat,” tunjuk Donghae menggunakan dagunya, “his got his hypersexuality.

“Apa bedanya denganmu?” balas Siwon jengah.

“Tidak setiap malam aku membutuhkan hal yang sama. Tapi Kyuhyun, jelas berbeda. Aku heran kenapa Lisa masih mau saja mempertahankan pria sepertinya.”

Siwon mengedikkan bahu. “Cinta bisa mengambil alih kerasionalan cara berpikir manusia, Hae.  Lisa salah satunya. Kita tidak pernah benar-benar tahu isi hati dan pikirannya seperti apa,” kedua bola matanya kemudian bergulir mengikuti Donghae, menatap Kyuhyun yang semakin panas dengan mainannya yang semakin tersudut. Diam-diam dia mengumpat melihat pemandangan yang berpotensi membangunkan libidonya. Shit Cho Kyuhyun!

Donghae mendengus, “Kau berkhotbah lagi. But, well kau benar. Lagipula Lisa juga sangat menjaga keperawanannya, membuat Cho Kyuhyun harus melampiaskannya pada para jalang. Tapi pria itupun sama sekali tidak mau melepaskan Lisa, untuk mencari yang lain. Yang bisa memuaskan nafsunya tanpa menggunakan seorang jalang. Entah ini cinta atau obsesi, kurasa dua-duanya sama-sama gila.”

Siwon terkekeh, “Yang perlu kau ingat, mereka bukanlah sepasang kekasih. Untuk apa pula Kyuhyun melepaskan Lisa?” katanya, membuat Donghae langsung mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Pria dengan pesona tinggi itu menatap Siwon dengan alis mengerut. Bukan karena tidak tahu, tapi membenarkan kalimat Siwon. “Yeah, they’re not dating. Not yet. But Lisa, dia selalu memberikan perhatian dan pengertian penuh pada Kyuhyun, kecuali— sex. She doesn’t give him acces. Sementara pria yang sedang sibuk mencumbu mainannya disana, selalu menunjukkan sikap kooperatif dan posesifnya hanya – pada – Lisa. Kau bahkan bisa membacanya dengan jelas, keduanya saling mencintai.”

Only she did, I think.” sahut Siwon mulai serius.

“Maksudmu?” sekali lagi, Donghae mengerutkan alisnya. Membahas persoalan Kyuhyun dan Lisa memang tidak ada habisnya. Kedua anak manusia itu sama-sama membingungkan, tapi bodohnya mereka, tetap saja penasaran dan terus-terusan menggali sesuatu yang sulit sekali ditebak

“Kita tidak akan pernah benar- benar tahu isi hati dan pikiran manusia, Hae. Itu yang harus kau tahu,” tandas Siwon dengan smirk yang tampil disudut bibirnya.

Setelah Siwon melantunkan kalimatnya diudara, pintu yang menjadi pembatas antara ruang VIP yang mereka tempati dengan bagian luar, terbuka. Menampilkan sesosok wanita yang beberapa saat lalu dia dan Donghae bicarakan, diikuti oleh salah seorang pria yang juga merupakan kawanan dari mereka, Shim Changmin.

Alisa atau Lisa, wanita itu terdiam di tempat. Matanya terpaku pada sosok yang sedang sibuk mencumbu jalang diatas pangkuannya. Rambut dan pakaian Kyuhyun yang kusut, menandakan bahwa pergumulan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Tidak heran, pria itu memang setiap malamnya membutuhkan pelampiasan. Kyuhyun adalah seorang Sex Addict, bahkan sebelum mereka bertemu.

Disisi lain, susah payah Kyuhyun mengabaikan panggilan Siwon. Dia adalah orang yang paling tidak suka saat sedang menikmati permainannya tapi ada saja hal yang mengganggu. Awalnya, Kyuhyun memang ingin bersikap tidak acuh, hingga pada seruan Siwon yang kelima kalinya, dia melepaskan cumbuannya itu. Tubuhnya bergerser menghadap Siwon, hendak mamaki pria itu tapi kemudian kedua belah bibirnya berkedut, terampas oleh sekon yang beberapa saat lalu mengantarkan matanya pada sosok yang tengah berdiri didekat pintu.

Shit! Benar-benar sialan! Sejak kapan wanitanya berada disini?

Dengan segera, Kyuhyun langsung menghempaskan si jalang untuk menyingkir dari atas pangkuannya. Dia mendesah dengan sebelah tangan yang mengacak-acak rambutnya. Kemudian menatap Changmin yang berdiri tepat dibelakang wanita itu, memberikan peringatan karena lagi-lagi membiarkan Lisa melihat kebejatannya. Dibalas oleh Changmin dengan bahu yang mengedik tak acuh.

“Apa rasanya benar-benar manis?” Lisa menyentuh bibir Kyuhyun yang membengkak dan basah saat mereka sudah berdiri saling berhadapan. Terdapat bekas lipstick disana. Membuat Kyuhyun harus memejamkan matanya erat, merasa bersalah. Sial, ini gara-gara Shim Changmin. Lisa melengkungan sebuah senyum. Teramat manis hingga mampu membuat Kyuhyun kehilangan akal. “Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, Cho. You don’t need to think about me. I’m okay,” Lisa menggeser tangannya untuk menangkup sebelah rahang Kyuhyun, memainkan ibu jarinya disana. Menatap wajah kedambaannya dengan penuh cinta.

Kyuhyun terpaku beberapa saat. Bola kelamnya kemudian bergulir meminta pertolongan pada Donghae. Atau Siwon. Atau Changmin. Siapa saja lah yang berada disana. Namun sayangnya, ketiga kawannya tersebut jika sudah menyangkut masalah Lisa, seringnya tidak mau membantu dirinya yang brengsek ini. Mereka malah mengobrol tidak jelas. Tak acuh terhadapnya. Dan dia semakin dibuat membeku saat Lisa tiba-tiba saja berjinjit, memeluk lehernya dengan erat. Lantas menggumamkan sebuah kalimat ditelinganya, “I miss you, tonight.

Oh yeah?

“U-huh… Jangan salahkan Changmin. Aku yang memaksanya untuk mengantarkanku kesini.”

“Kau terluka,” Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Bisa dia rasakan nafas Lisa yang berhembus dilehernya. Nafas yang terdengar lelah. “Tidak apa-apa. Sudah sering bukan?” sahut wanita itu dengan nada yang merendah.

Kyuhyun lekas melepaskan pelukan Lisa, meraih tengkuk wanita itu untuk mengikis jarak yang ada. Disusul dengan material lembutnya yang bertemu dengan milik Lisa. Berawal dari sebuah kecupan biasa, untuk kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan intens dan rakus yang dia layangkan. Tergoda untuk melakukan lebih, Kyuhyun membawa lidahnya untuk mengabsen setiap detail yang dimiliki oleh wanita itu. Tangannya menarik pinggang ramping Lisa, menekannya dengan pusat tubuhnya yang mulai terbangun. “Kau bisa merasakannya?” ujarnya masih dengan bibir yang melumat keras bibir Lisa. “I’m so hard now. I need you.

Lisa melepaskan pertautan mereka. Membawa dahi Kyuhyun untuk bertumpu pada dahinya. Lantas berucap, “Yeah.. But I can’t give it to you. Seperti biasa, kau bisa melakukannya dengan salah satu koleksimu, Kyuhyun. I’m not that bitch,” setelah kalimat itu Lisa lepaskan, gendang telinga Kyuhyun bisa menangkap dengan jelas kekehan perih yang wanitanya itu hantarkan padanya. Brengsek benar dirinya.

Belum rampung Kyuhyun mengais sisa keberaniannya menatap Lisa, suara keributan diluar memcahkan kerja otaknya. Suara yang ditimbulkan oleh Hyukjae dan Henry, yang merupakan bagian dari mereka juga, terdengar melalui celah pintu yang masih sedikit terbuka. Lima kepala yang berada disana; Kyuhyun, Lisa, Siwon, Donghae dan Changmin saling menatap. Mengira-ngira apa yang terjadi dengan kedua sahabatnya diluar sana?

picsart_01-15-08-57-101

Sena memukul-mukul kedua lututnya yang terasa pegal didepan meja bartender. Bekerja ditempat baru ternyata lebih melelahkan. Baru tiga jam menghabiskan waktu disini, sudah tidak terhitung dia bolak-balik mengantarkan minuman. Dan hal tersebut harus dia lakukan dengan menggunakan tangga. Entah berada di lantai dua atau tiga. Sedangkan masih tersisa tiga jam lagi baginya untuk bisa pulang.

“Kau lelah, Sena?” wanita itu menoleh pada seorang bartender bertubuh mungil dengan name-tag Kim Ryeowook, orang pertama yang menjadi temannya malam ini. Dia hanya memberikan segaris senyum tipis pada pria itu. Lelah, memang. Tapi ini adalah kewajibannya. Mau bagaimana lagi?

“Kau istirahat saja dulu lima belas menit, setelah itu kau boleh kembali mengantarkan menu-menu selanjutnya pada pelanggan,” ujarnya lagi.

“Tidak perlu. Aku bisa mengantarkan menu ini terlebih dulu. Kemana?” tanya Sena seraya meraih nampan, bersiap mengantarkan tiga botol wine berukuran sedang dan lima buah gelas kecil.

“Baiklah. Terserah padamu saja. Lantai dua, pintu paling ujung,” jelas Ryeowook.

Setelah pesan tersebut disampaikan dan masuk kedalam memori otaknya, Sena kemudian melangkahkan kaki menuju lantai dua. Melewati lautan manusia yang tumpah ruah memenuhi lantai dasar. Dia menggelengkan kepala, apa serunya berdesakan-desakan seperti itu? kulit saling bersentuhan dengan kulit, pantat bertemu pantat, dada menyapa dada. Membayangkannya saja Sena sudah tidak kuat. Tapi kembali lagi, orang-orang pencinta dunia malam inilah yang membayarnya. Uang yang mereka keluarkan untuk menikmati klub ini, merupakan sumber penghasilan bagi orang-orang seperti dirinya yang tidak memiliki pendidikan tinggi. Harusnya dia bersyukur, tapi mengingat klub adalah tempat bermaksiatnya para manusia, dia menjadi jijik sendiri.

Sena manarik nafas dalam begitu tubuhnya telah sampai tepat didepan pintu ruangan yang dia tuju. Matanya melirik sedikit keruangan sebelah yang terlihat melalui celah pintunya yang sedikit terbuka. Setelah mempersiapkan diri, barulah dia mengetuk papan kayu didepannya lantas membuka kenop pintunya.

Saat melangkah masuk kedalam, dia disambut siulan oleh lima orang pria—yang mungkin masih anak kuliahan. Mereka terlihat muda-muda, omong-omong. Disini, juga terdapat tiga jalang yang jelas dari wajahnya saja terlihat lebih tua beberapa tahun dari kelima pria tersebut. Salah satunya, yang memiliki posisi terjauh darinya, sedang mencumbu jalang bergaun hijau tua. Membuat Sena yang melihatnya serasa ingin muntah saat mendengar suara kecapan mereka yang sangat jelas terdengar. Tanpa mau melihat adegan panas tersebut dan terjebak di ruangan ini lebih lama lagi, Sena meletakkan tiga botol wine dan lima gelas yang dipesan mereka diatas meja yang sudah penuhi dengan banyak bekas putung rokok dengan segera. Oh, pantas saja ruangan ini begitu pengap. Dia baru saja akan beranjak pergi, saat salah satu kawanan dari mereka menarik sikunya hingga nampan yang dibawanya terjatuh dan kepalanya membentur keras dada pria tersebut. Dia yang jelas sangat anti terhadap orang baru, sontak saja mendorong tubuh tinggi pria muda itu.

“Wow.. wow.. santai saja, Nona.” ujar si pria yang tadi menariknya. “Kita bermain-main saja dulu. Tidak perlu terburu-buru, hm?” bisa Sena dengar pria itu terkekeh kencang, disambut kekehan dari kawan-kawannya.

“Ya, benar. Untuk apa terburu-buru. Nikmati saja malam ini bersama kami,” timpal pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam.

“Kemarilah.. Duduk disebelahku,” suara lain menyahut. “Haejin-ah, jangan menakutinya dengan berdiri seperti itu. Lebih baik kau minggir. Nona kemarilah. Lihat, teman-temanmu saja berada disini,” suara tawa mengggema lagi. Memenuhi setiap sudut ruangan.

Jantung Sena berdegup kencang. Ini seperti De Javu. Apa dia harus mengulang kembali masa silam yang pernah dia rasakan? Tidak. Mana bisa dia seperti itu. Sena jelas tidak ingin.

“Kau manis sekali, Sayang. Kemarilah, mendekat padaku,” pria muda didepannya melangkah maju, mendekati dirinya dengan kedua tangan yang membentang terbuka.

“M-maaf, saya harus bekerja lagi. Permisi,” setelah melapaskan kalimat itu, Sena berbalik. Meninggalkan ruangan biadab itu dengan langkah-langkah lebarnya. Namun baru saja dia hendak membuka pintu, dirinya kembali tertarik kebelakang, kali ini bahunya yang menjadi korban. Dan tanpa aba-aba lagi, pria kurang ajar yang telah merendahkan dirinya itu, melumat bibirnya rakus. Mengurung wajah Sena dengan kedua tangannya yang kekar. Disusul sahutan kawan-kawannya yang bersorak ria.

Susah payah Sena memberontak. Melepaskan benda kenyal menjijikan itu dari atas bibirnya. Namun mengingat tenaganya yang tidak sekuat pria, Sena lantas menggunakan tungkai kakinya untuk menendang selangkangan pria itu. Membuat pekikan nyaring langsung menggema diseluruh ruangan kedap suara ini.

“Kau—kurang aja sekali!” dengan mata yang mulai mengembun, Sena mengusap bibrinya dengan kasar. Dia membuka pintu dengan tergesa, mengeluarkan tubuhnya darisana. Namun lagi-lagi nasib tidak baik menimpa dirinya, pria tadi menjambak ikatan rambutnya dengan sebelah tangan yang mencengkeram erat kedua rahangnya pula. Tubuhnya disudutkan pada pagar pembatas, membuat punggungnya terasa nyeri akibat tekanan yang pria itu berikan.

“Brengsek! Kau pikir, kau siapa hah? Berani sekali kau menentangku! Dasar jalang!” teriak pria tersebut didepan wajahnya, tak lupa dengan tamparan yang dia layangkan. Hati Sena memerih, tangannya bergetar ketakutan, ini benar-benar seperti De Javu.

Jalang. Jalang. Jalang. Jalang. Jalang.

Tidak. Dia bukan jalang!

“Kau tidak usah belagu! Seragam pelayanmu itu hanya kedok! Dasar wanita tidak tahu diri!”

Pria itu hendak menampar lagi wajah Sena saat dua buah suara menginterupsinya. “Apa-apaan kau ini!” hardik pria bermata sipit dengan warna rambut secoklat madu. Henry Lau.

“Siapa kau? Ini bukan urusanmu!” ujarnya tak mau kalah, lantas menjambak kembali rambut Sena hingga kepala wanita itu terdongak keatas. “Aaakh..” pekiknya.

“Lepaskan dia! Kau tidak boleh menyakiti pelayan disini!” bentak salah seorang pria yang datang bersama dengan pria berambut coklat madu tadi. Tubuhnya maju kedepan, ingin melepaskan cengkraman tangan si pria muda pada rambut Sena.

“Apa peduliku?! Jalang ini benar-benar munafik! Tidak tahu diri! Breng—”

“Cukup!! Lepaskan dia!”

Pria muda itu menyeringai. “Whoah.. kukuh sekali ternyata. Kau ingin menikmatinya juga, hm? Kita bisa melakukannya bersama, Hyung..”  sahutnya dengan menekankan silabel terakhir yang dia sematkan pada pria didepannya, tak lupa dengan kekehan iblis yang dia suarakan. Membuat kawan-kawannya yang berada dibelakang juga ikut terkekeh. Meremehkan pria bermarga Lee tersebut.

“Brengsek!” pria bermarga Lee merangsek maju. Hendak memberikan sebuah bogem mentah. Namun Sena yang masih dalam cengkraman pria tersebut, dijadikan sebagai tumbal. Dia dilempar kedepan untuk menghalau gerakan Pria Lee hingga dahinya membentur tembok.

“Aakh..” sekali lagi, pekikan keluar dari pita suara Sena. Ini jelas sangat sakit. Matanya sempat berkunang-kunang sekon lalu. Dia lalu menyentuh dahinya yang terasa berdenyut, ada darah disana. Membuat Pria Lee dan Henry terpaku ditempat. Tidak menyangka bahwa anak muda didepannya bisa berlaku seanarkis itu terhadap wanita hanya karena tidak mau disentuh olehnya.

“Itulah akibatnya jika kalian melawanku! Kau lihat jalang itu— mati saja dia! Dasar tidak berguna!”

“Kau— kau benar-benar,” umpat Henry tertahan. Dia baru saja akan merangsek maju untuk memberikan pria muda tak berperikemanusiaan itu pelajaran saat pintu yang berada disebelahnya terbuka. Memunculkan lima kepala—dari dalam ruangan yang semula menjadi tempat tujuannya dan Pria Lee—dengan tatapan yang serupa.

“Ada apa ini?” adalah Changmin yang bersuara lebih dulu. Bingung menyaksikan keadaan yang meradang sekaligus seorang wanita yang tengah terluka.

“Dia kena—Sena?” keadaan menjadi hening begitu Donghae menatap terkejut wanita yang masih jatuh terduduk dua langkah darinya. Ya, benar. Dia jelas mengenal wanita itu. Dia adalah Lee Sena. Wanita yang..

Bibir Donghae mengejur. Keahliannya dalam berbicara pun kini menguap bersama sekon lalu. Sementara keadaan menjadi hening. Semua mata tertuju kepadanya, kecuali satu orang.

“Oppa..” sahut Sena dengan raut tak kalah terkejutnya dengan Donghae. Masih mengais sisa-sisa kesadaran yang dimilikinya, Sena kemudian menggulirkan kedua bola matanya untuk melihat yang lain. Dan matanya, kemudian terpaku pada seseorang. Seseorang yang menatapnya penuh dengan kebencian. Hati Sena kembali berdegup tak terkendali. Ada apa ini?

Lho, bukankah kau wanita yang tadi siang?”

Sena mengalihkan pandangannya lagi pada pria yang berdiri tepat disebelah seorang wanita berambut pendek, lantas bergumam begitu mengingat sesuatu, “Jasmine Appa?”

“Ya, benar. Aku Ayahnya Jasmine. Kau bekerja disini? Tapi ada apa dengan dahimu?”

“Donghae Hyung mengenalmu. Siwon Hyung juga. Sebenarnya kau siapa, Nona?” tanya Henry polos pun penasaran. Siapa yang tidak, jika wanita yang hendak ditolongnya ini telah lebih dulu mengenai dua orang terdekatnya.

Atau mungkin lebih?

Selepas kalimat Henry yang mengudara, salah satu diantara mereka merasakan hatinya yang tersayat. Pertanyaan mengenai siapa wanita itu, jelas membuka kembali lembar hitam yang sudah lama dikuburnya. Mengantarkannya lagi pada masa silam yang telah membuatnya seperti ini. Cho Kyuhyun. Si pria yang menatap Sena penuh dengan kebencian, lebih memilih pergi. Melangkah menjauh dari sana ketimbang harus merasakan pilu itu lagi. Dia, wanita itu kembali muncul dihadapannya. Wanita brengsek yang telah membuat jalan hidupnya begitu gelap. Wanita yang membuatnya begitu mencintai dunia malam dan menjadikan dirinya sebagai seorang pria yang suka bergonta-ganti pasangan tidur.

Lee Sena, si mimpi buruk pertama bagi Cho Kyuhyun, kembali lagi.

-tbc

Advertisements

109 thoughts on “Intemporel – 1

  1. maaf ya hari ini spam komen, kemarin terlalu serius baca tiap part. ini penuh teka teki bacanya…. apa hubungan di masa lampaunya ya antara para cast nya

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s