Posted in CF Series

Be Patient, Papa!

picsart_02-12-10-37-371

Cho Kyuhyun | Lee Sena

Cho Hyunjoon x Cho Hyunji

Ficlet ¶ Family

1187 words

Queensera©2017

divider1

Mengurus dua anak sekaligus bukanlah perkara mudah bagi seorang Cho Kyuhyun. Kesehariannya yang lebih banyak menghabiskan waktu dibalik meja kerja, serasa jungkir balik tatkala dirinya ditantang untuk menggantikan posisi Sena—sebagai ibu—untuk sementara. Coba bayangkan saja, Ayah mana yang sanggup meladeni dua ekor kurcaci beda jenis dalam waktu sekaligus, tapi keadaannya bukan seperti acara-acara di televisi yang menyenangkan, melainkan selalu dipenuhi dengan keributan?

Kyuhyun jelas ingin menyerah. Tapi dia bisa apa, saat Sena sedang sakit dan mau tak mau dirinyalah yang dituntut untuk menggantikan peran wanita itu. Dirumah besar mereka.

Joon yang pada dasarnya belum cukup umur untuk memiliki seorang adik, menjadi begitu antisipasi saat Jia—bayi yang masih berumur empat bulan itu mencoba untuk bergabung dengannya. Ikut bermain. Kyuhyun tidak mungkin menyalahkan Joon, karena memang anaknya itu sangat protektif terhadap barang-barangnya sendiri. Tidak seorang pun yang boleh menyentuh benda-benda koleksinya kecuali; satu Ibu, dua Ayah dan tiga Seungjo Hyung. Jadi, saat Jia yang tidak tahu apa-apa ingin juga menyentuhnya—hanya menyentuhnya—putranya itu akan langsung berteriak. Tidak mau berbagi. Tidak mau dekat-dekat Jia.

Entah apa yang membuat Joon seperti ini. Rasanya semakin besar, putranya itu semakin nakal. Susah diatur. Dan semaunya sendiri. Mungkin inilah yang pernah Donghae keluhkan padanya. Ya, Kyuhyun rasa Joon semakin mirip dengan putra Lee Donghae—Lee Seungjo.

Kyuhyun mendesah, tidak tahu harus mengambil sikap seperti apa. Jelas, kalau disuruh membela, Kyuhyun akan lebih memilih Jia, karena dialah yang termuda disini. Tapi memberikan pemahaman pada Joon yang masih berumur empat tahun, bukanlah hal yang mudah. Ada saja halangannya. “Kenapa tidak boleh? Biarkan Jia meminjamnya,” tapi kalimat Kyuhyun hanya disambut dengan bibir mengerucut dan muka sengit ala Joon. Sama sekali tidak ada sahutan suara yang keluar dari bibir mungil putranya. Sekali lagi, Ayah muda itu mendesah, “Ya sudah, Jia bermain bersama Ayah saja,” lanjutnya lantas mengajak gadis ciliknya—yang memiliki berat tubuh tidak tanggung-tanggung—untuk duduk diatas pangkuannya. Mengajaknya menonton serial anak-anak kokumong.

Disinilah letak lucunya, ayolah, mana ada sejarahnya seorang bayi yang masih berada dalam hitungan bulan bisa menonton televisi? Kesalahan pertama seorang Cho Kyuhyun adalah dia tidak tahu apa kebutuhan putrinya yang satu ini. Jadi bukanlah sesuatu yang mengherankan tatkala gadis cilik bernama lengkap Cho Hyunji itu merengek—meminta dilepaskan dari kungkungan sang ayah. Untuk turun dan bebas tengkurap diatas karpet beludru berwarna abu-abu. Matanya yang bulat bening menatap mainan Joon yang berserakan dibawah. Jelas, sesuatu yang asli berada didepan matanya dan lebih berwarna, lebih menarik baginya dibanding gembar bergerak yang ada didepan sana.

“Yayaya.. berhenti bergerak,” keluh Kyuhyun tatkala Jia dengan tubuh besarnya, menggeliat diatas pangkuan Kyuhyun. Kakinya mengayun-ayun diudara. Suara rengekan bayinya terdengar kala tubuhnya belum juga bisa menjejak bumi. Dengan susah payah lantaran Jia tidak bisa diam, Kyuhyun coba membenarkan letak duduk putrinya, namun hasilnya tetap sama, tubuh Jia malah semakin meliuk kebawah. Ingin meraih sebuah benda berwarna kuning yang menjadi titik fokusnya sejak tadi. Sekali lagi, dengan helaan nafas, Kyuhyun akhirnya meraih sebuah miniatur transformer untuk diberikan pada Jia agar anak itu bisa diam. Dan berhasil, Jia berubah kalem begitu mendapatkan hal yang diinginkannya. Tapi perkara, selalu tetap ada. Joon yang melihat bahwa tokoh bumblebee kesayangannya berada ditangan Jia, jelas tidak terima. Dengan segera, putra Cho Kyuhyun yang berumur empat tahun itu berdiri dari posisi duduknya. Lantas tanpa mengenal siapa – yang – dilawannya, dia merebut bumblebee dari tangan Jia dengan sentakan yang lumayan kencang hingga membuat bayi itu kaget. Dan seperti yang sudah ditebak, Jia menangis. Sangat kencang.

Sebagai Ayah dari balita dan batita tersebut, Kyuhyun jelas saja menggeram. Bibirnya tak kuasa untuk menumpahkan segala kekesalan yang dia tahan pada putranya. Tapi jika dia melakukan itu, yang ada dua-duanya menangis. Dan hal itu jelas akan lebih merepotkan baginya. “Ayah tidak suka Joon seperti itu. Jia ‘kan hanya meminjam. Kenapa tidak boleh?” tanyanya setengah frustasi, setengah menenangkan Jia yang belum berhenti menangis.

“Tidak mau. Ini milikku!” lalu tanpa merasa bersalah, Joon kembali pada tempatnya. Masa bodoh dengan adiknya yang sedang menangis. Salah Ayah sendiri, sudah tahu Joon tidak mau berbagi dengan Jia, kenapa malah memberikan bumblebee kesayangannya?

Kyuhyun mendelik pada Joon yang sedang memunggunginya. Benar-benar tak menyangka akan mendapatkan kalimat seperti itu. Seolah di bumi ini hanya ada satu bumblebee dan mereka adalah orang miskin yang tidak mampu membeli miniatur robot kuning itu lagi jika seandainya robot itu dirusak oleh Jia. Ugh.. kalau saja Sena tidak sakit, dia akan dengan senang hati memberikan Jia pada wanita itu hingga keributan seperti ini tidak terjadi. Dia kembali menenangkan Jia, mengulas usapan lembut pada punggungnya. Lalu beranjak menuju dapur. Hah, melihat Joon yang terus-terusan bertingkah membuatnya haus omong-omong. Anak itu kalau sudah bilang A, akan seperti Sena. Susah sekali ditaklukan. Keras kepala, dengusnya.

“Kenapa kau?” Kyuhyun memutar tubuhnya pada arah suara. Dibalik kitchen bar, Sena menatapnya dengan mata yang menyipit geli. Walau wajah wanita itu hampir seluruhnya tertutupi oleh masker lantaran terserang flu—dua hari belakangan ini, tapi Kyuhyun tahu, istrinya itu sedang mengejeknya. Terlihat jelas dari eyesmile yang dimilikinya.

Kyuhyun mendengus, enggan menjawab pertanyaan bernada retoris yang Sena lontarkan. Kenapa? Ya Tuhan, haruskah dia menjelaskannya?

“Hahaha. Bagaimana? Baru tahu ‘kan sikap anakmu itu makin menyebalkan?” Sena kembali bertanya, walau suaranya yang sengau teredam oleh benda tipis yang terpasang didepan wajahnya.

“Mirip sepertimu,” dengus Kyuhyun lagi. Menuai tawa yang Sena ciptakan. Wanita itu melangkah, membawa tubuhnya untuk bisa dekat dengan Kyuhyun dan Jia. “Tidak apa-apa. Untungnya saja dia tampan, tidak seperti Jia~” tangannya terangkat mencubit gemas pipi putrinya. Ahh.. Sena rindu menggendong tubuh gempal anak ini, omong-omong. Sayang, dia harus menahannya. Seandainya saja dia tidak sedang terserang flu.

Kyuhyun mendelik, tidak terima, “Jelas lah. Jia itu perempuan, sementara Joon adalah lelaki. Tentu saja si beruang ini tidak tampan. Kau mengigau ya?” sinisnya.

Sena tergelak. Menggelengkan kepalanya geli. “Ya, aku tahu. Tapi Jia itu tidak cantik, iya ‘kan Sayang?” dibalas Jia dengan cengiran khas bayi. Bukan karena mengiyakan pertanyaan Ibunya, melainkan dia mengenali suara itu. “Lihat, dia saja mengakuinya. Haha. Ahh.. aku heran, kenapa Jia lebih banyak mewarisi gen-mu. Seperti ini ‘kan jadinya, mana ada perempuan berpipi membleh begini,” tambahnya dengan kekehan diakhir kalimat, yang lagi-lagi mengundang kesinisan Kyuhyun.

“Sudahlah, istirahat saja lagi sana! Kau senang sekali menjelek-jelekan anakmu sendiri,” Kyuhyun menyingkirkan tangan Sena. Mendorong bahu wanita itu untuk lekas hilang dari hadapannya.

“Aish.. tunggu dulu. Aku ingin menghangatkan ASI, kau pasti lupa ‘kan kalau ini sudah waktunya Jia menyusu?”

Kyuhyun membuka mulutnya sebesar tiga jari. Bola matanya membulat. Benarkah? Ahh.. dia lupa. Maklum saja, karena selama ini, dia tidak pernah tahu jadwal menyusu Jia. Pun dengan kondisi Sena yang memang sedang tidak fit. Mengharuskan wanita itu untuk tidak memberikan ASI pada Jia secara eksklusif. Dengan kata lain, Jia menyusu dengan metode ASI perah, yang kemudian Sena simpan didalam lemari es khusus untuk menyimpan hasil perahan ASI-nya.

“Dasar,” gerutu Sena saat Kyuhyun hanya menyengir tidak jelas. “Kau temani Joon dulu saja, nanti aku menyusul,” tambahnya lagi. Kyuhyun pun mengangguk—bersikap kooperatif pada titah istrinya.

Dengan Jia yang masih berada dalam gendongannya, kaki jenjang Kyuhyun kembali menjejak petak marmer yang akan mengantarkannya pada Joon. Dia mendesah, pasti putranya itu akan ribut lagi soal mainannya. Pasti Joon akan berteriak-teriak lagi jika Jia menyentuh barang-barang berharga miliknya. Pasti Kyuhyun akan dibuat kuwalahan lagi. Pasti. Pasti. Pasti.

¨END¨

Tau lah yaa… mana yang ngikut emak, mana yang ngikut bapak. wkwkk

Advertisements

Author:

also known as que(en)sera

54 thoughts on “Be Patient, Papa!

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s