Posted in Multi-Chapter

Fragile Heart – 1

picsart_06-21-09-07-20

Cr. ByunHyunji @PosterChannel


A good marriage is the union of two good forgivers

~Ruth Bell Graham

M A I N   C A S T

Cho Kyuhyun ¶ Lee Sena  Joon

R A T E

PG-17

G E N R E

Married Life, Drama, Hurt

R E L A T E D   S T O R I E S

1 | 2 | [Teaser] Fragile Heart

WARNING!!!

Kisah ini berkaitan dengan Selfish. Hanya berganti judul saja. Biar lebih paham, baca related stories-nya dulu

∴∴∴

Dengan sisa-sisa kepedihan yang masih menggantung pada wajahnya, Sena mengutipi seluruh mainan Joon yang berserakan pada lantai kamar. Tubuhnya dia fungsikan seperti gasing. Berputar kesana-kemari didalam kamar bernuansa biru tersebut agar keadaan berantakan ini kembali seperti semula. Rapi pada tempatnya.

Punggung telunjuknya, Sena arahkan untuk menyeka embun yang berada disudut mata ketika pandangannya mulai mengabur— lagi. Sejak tadi, dia ingin sekali menangis. Tapi sebisa mungkin dia menyimpannya. Akalnya masih terlalu sehat untuk tidak membiarkan dirinya jatuh dihadapan putranya. Walau pada kenyataannya, saat memeluk tubuh mungil Joon demi mengantarkan anak itu masuk ke alam mimpi, dia tidak kuasa untuk membendungnya lagi.

Pertahanan itu hancur dalam sekali kedipan. Bibirnya mengejur menahan isakan.

Ini adalah pertengkaran pertamanya dengan Kyuhyun setelah mereka menikah. Suara menggelegar yang dimiliki pria itu ketika sedang emosi, terakhir kali dia dengar adalah sebelum mereka sama-sama mengikat janji dihadapan Tuhan. Yaitu saat status mereka masih menjadi sepasang kekasih.

Kyuhyun berubah menjadi begitu dewasa dan sabar setelah marga yang dimiliki pria tersebut, dia sematkan padanya. Tapi hari ini— semua seolah kembali pada masa itu. Kyuhyun tidak bisa mengontrol emosinya yang begitu rendah. Bahkan Joon, putranya yang masih balita itu harus terkena imbasnya.

Sebagai seorang Ibu, Sena jelas tidak bisa menerima fakta tersebut. Walau dia tahu betul bahwa lepasnya kontrol emosi Kyuhyun bukan sepenuhnya salah pria itu, tapi tetap saja, menyalahkan Joon yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa adalah kesalahan fatal bagi seorang Cho Kyuhyun. Setidaknya itulah yang menggaung keras didalam tempurung kepala Sena.

Setelah sore tadi dia bertengkar—kembali—dengan Kyuhyun, Sena memutuskan untuk bersembunyi didalam kamar putranya ini. Alpa akan kewajibannya untuk menafkahi si janin. Waktunya hanya dia habiskan untuk menemani Joon bermain lagi dan lagi. Mengisi pikiran anak itu agar tidak teringat dengan Ayahnya untuk sementara karena jelas, Kyuhyun sedang tidak bisa diajak untuk santai hari ini— entah sampai kapan pula. Memandikan anak itu. Bercanda bersama hingga kelelahan. Lalu berakhir dengan dirinya yang meniduri si aktif tersebut. Sena hanya keluar darisana saat ingat bahwa waktu makan malam untuk anaknya sudah tiba.

Dia merindukan Kyuhyun— itu pasti. Sena sudah terbiasa dengan kehadiran Kyuhyun. Melihat wajah pria itu, bercanda dengannya dan memulai debat tak guna yang berujung pada tawa yang terlepas dari bibir masing-masing. Namun rasa sakitnya hari ini terlalu mendominasi. Perkataan Kyuhyun sore tadi, menusuk tepat dijantungnya yang masih terluka. Dan hanya berjarak beberapa jam saja, suaminya itu sanggup meruntuhkan lagi pertahanannya. Mengantarkan dirinya untuk memiliki lubang kecewa yang semakin menganga.

Sebenarnya, Sena bisa saja pergi dari rumah maha-megah ini. Kabur membawa serta Joon bersamanya. Meninggalkan Kyuhyun sendiri. Memberikan ruang bagi suaminya untuk berpikir jernih-jernih lantas menyesali perbuatan dan perkataannya. Tapi, dia tidak mungkin melakukan itu. Karena sejatinya, orang lain akan mudah tahu mengenai apa yang telah terjadi diantara mereka. Dan tentunya, Sena tidak ingin aib keluarga kecilnya ini terbongkar. Biarlah masalah ini, cukup dia dan Kyuhyun saja yang merasakannya. Tidak perlu ada orang lain.

Menghembuskan nafas, mata Sena kembali mengelilingi setiap sudut kamar Joon. Memeriksa lagi apakah masih ada mainan atau benda yang tidak terletak pada tempatnya. Atau tidak tersusun dengan rapi. Salah satu sifat yang mampu membuat Kyuhyun berdecak kagum, Sena sangat perfeksionis terhadap tata letak barang-barang yang ada disekitarnya. Kebiasaan yang sudah mendarah-daging pada wanita itu bahkan jauh sebelum mereka bersama. Persis sekali seperti Lee Hyukjae—kakaknya, Sena adalah pencinta kerapihan. Tidak bisa melihat keadaan yang tidak sesuai dengan pandangan matanya. Mungkin ini pulalah yang mengantarkan Sena memiliki gelar seorang desainer interior, menurut Kyuhyun.

Setelah dirasanya rapi seperti semula, dia bangkit. Berdiri. Berjalan menuju putranya yang sudah damai memejamkan matanya sejak lima belas menit lalu. Sena duduk ditepi ranjang. Memuaskan dirinya memandang wajah Joon. Lantas membawa sebelah tangannya untuk mengusap dahi anak itu diiringi dengan sebuah senyum lirih yang tebit disudut bibirnya.

“Maafkan Ibu,” ucapnya pelan. “Joon pasti merindukan Ayah. Benar bukan? Tapi Ayah sedang tidak bisa diajak bermain hari ini. Nanti, Ayah pasti akan datang menemui Joon. Ayah juga pastinya sangat merindukan Joon. Ayah kan tidak bisa lama-lama berjauhan denganmu.”

Sena tertawa getir. Lalu tak lama kemudian, kegetiran itu menuai masanya untuk kembali meneteskan air mata. Bulir-bulir liquid itu kembali membasahi wajahnya. Sena menipiskan bibirnya. Menjaga isakan agar tidak keluar lalu mengganggu waktu tidur Joon. Dia merasa bersalah pada Joon karena, tidak pernah seperti ini sebelumnya. Membatasi ruang komunikasi antara seorang Ayah dan Anak. Tapi mau bagaimana lagi, dia dan Kyuhyun sama-sama masih membutuhkan waktu.

Dan entahlah dalam hal ini siapa yang egois. Dia tidak tahu.

“Ibu tidak bermaksud menjauhkan Joon dengan Ayah. Maafkan Ibu. Oke?” wanita itu kembali tersenyum, lantas membungkukkan tubuhnya. Mencium kening putranya begitu lembut dan penuh kehati-hatian. Kemudian, setelah membenarkan letak selimutnya, dia beranjak pergi darisana. Ini sudah pukul sembilan malam. Tapi dia belum juga mengisi perutnya. Ya Tuhan.. bagaimana bisa dia alpa dengan keberadaan nyawa lain dalam tubuhnya? Bukan hanya jahat pada Joon, jelas dia jahat pada janin yang dikandungnya. Pikirannya benar-benar kacau hingga untuk sekadar menyadari kondisinya pun tidak.

Dia mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. “Maaf. Ibu janji ini yang terakhir kalinya. Ibu juga tidak akan lupa dan mengabaikanmu lagi. Hm?” ucapnya pada si calon jabang bayi. “Baiklah, sekarang kita turun. Ibu akan memberikanmu asupan. Kita makan…”

Sena melangkah— menuruni deretan anak tangga yang mengantarkannya pada lantai satu. Kaki jenjangnya, dia rajut menuju ruang makan. Hendak melihat apa yang telah dibuat oleh Bibi Nam sore tadi. Namun, baru saja tubuhnya melewati dinding sekat yang membatasi ruang keluarga dan ruang makan, langkah kakinya membeku seketika. Sena terpaku sebentar. Didepan sana, dia melihat punggung Kyuhyun yang sedikit membungkuk. Duduk di kursi bar yang letaknya memang berdekatan dengan ruangam yang akan dia tuju. Dimeja marmer itu, terdapat sebotol wisky yang Sena yakini pria itu ambil dari almari penyimpanan.

Sekali lagi, Sena meghembuskan nafas. Dia ingin sekali mendekati Kyuhyun, melihat wajah suaminya dari dekat, lantas menyapa pria itu setelah berjam-jam lalu mereka hanya bungkam— lebih tepatnya dia menyembunyikan diri dari kedua bola kelam Kyuhyun. Tapi sekali lagi, iblisnya berbicara. Berkata tidak untuk Cho Kyuhyun. Biarkan saja pria itu mabuk malam ini. Tidak usah memedulikannya. Toh tidak akan berpengaruh juga jika arogansi pria itu masih tinggi.

Maka dengan mematikan hati. Dan menebalkan rasa tidak peduli, Sena kembali melangkahkan kakinya menuju ke meja dimana berbagai menu masakan yang sudah Bibi Nam buat, sudah tersaji diatas meja. Matanya berbinar lapar saat melihat makanan favoritnya ada disana. Bibirnya berdecak tidak sabar.

Sena menarik kursi untuk didudukinya. Mengeluarkan bunyi gesekan yang tanpa dia sadari mengundang Kyuhyun untuk menegakkan punggung. Menolehkan kepalanya yang sudah terasa berat kearahnya. Kyuhyun memandang wanita itu tanpa berkedip. Namun raut datar masih mendominasi wajahnya, seakan telah kehilangan ekspresi yang lain. Kalau saja boleh jujur, Kyuhyun merasa sangat bersalah atas ucapannya petang tadi. Bukan kalimat itu yang ingin dia lepaskan untuk Sena, tapi entah kenapa kerja otak dan lisannya sangat bertolak belakang, membuat amarah yang dimiliki Sena semakin membara. Tanpa tahu bagaimana hati akan menerima. Jelas Sena sangat kecewa padanya, Kyuhyun tidak akan menyangkal bagian tersebut. Tapi jika seandainya Sena tidak melawan, mungkin kejadiannya tidak akan seperti itu. Jika Sena tidak memancing amarahnya muncul lagi ke permukaan, mungkin bukan kalimat itu yang tercetus.

Kyuhyun mendesah. Menarik nafas dalam untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Dia kembali menghadapkan tubuhnya kedepan. Menenggak dalam satu kali tegukan gelasnya yang sudah terisi minuman beralkohol. Mungkin Sena masih marah padanya karena, wanita itupun tidak mau menyapanya yang jelas-jelas berada disini. Mungkin dia masih butuh waktu. Mungkin.

picsart_01-16-11-25-361

Setelah sekian lama mereka berada dibawah atap yang sama. Selimut yang sama. Tempat tidur yang sama. Dan menghabiskan malam-malam lainnya bersama. Baru kali inilah mereka tidur dengan keadaan yang sangat canggung. Seperti dua orang asing yang dipaksa untuk berada dalam satu ruangan tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk memulai pembicaraan. Jika Kyuhyun telisik lagi pada masa silam, dimalam pertamanya pun mereka tidak saling membisu seperti ini. Mereka bahkan saling memanjakan tanpa diliputi perasaan aneh atau gerogi. Mereka bertingkah seolah sudah pernah menghabiskan malam bersama selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Tapi lucunya, justru diusia pernikahan mereka yang keempat lah rasa canggung itu ada. Muncul kepermukaan dilatarbelakangi atas kesalaahan— yang Kyuhyun sadar bahwa kesalahan itu tercipta karenanya.

Sekali lagi, Kyuhyun mendesah. Membenarkan letak bantal, lantas mengambil posisi yang berlawanan arah dengan istrinya. Jika memang seperti ini yang Sena inginkan, maka Kyuhyun akan menyanggupinya. Dia pun tidur dengan posisi membelakangi tubuh Sena. Sudah dibilang, arogansi Kyuhyun sangat tinggi. Dia mungkin akan merendahkan dirinya untuk beberapa hal, tapi dalam konteks ini, tidak sama sekali. Jujur saja, dia pun  terluka dengan pengabaian yang Sena torehkan padanya. Pertengkaran mereka memang jelas berawal dari dirinya yang tidak bisa mengontrol emosi tapi perlawanan Sena terhadap dirinya sebagai kepala keluarga, benar-benar mencoreng harga dirinya sebagai seorang suami.

Disisi lain, diam-diam Sena meredam rasa pedihnya. Matanya masih terbuka lebar, hanya saja terlihat begitu kosong. Dia jelas tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Kyuhyun tepat berada dalam jarak yang sangat dekat dengannya, hanya sepenggal lengan. Tapi untuk berbalik lantas memeluk tubuh suaminya pun Sena tidak sanggup. Seperti ada api yang membuat garis tengah diantara mereka, dan tidak satupun dari mereka pula yang berhak untuk melampaui garis tersebut. Atau kalau tidak, tubuh terbakarlah yang akan menjadi tanggungannya.

Entah sampai kapan mereka akan tetap seperti ini, Sena hanya menunggu. Menunggu waktu agar Kyuhyun mau mengeluarkan kata maaf untuknya. Untuk kali ini saja, biarkan dia egois. Pria itu yang telah melukai perasaannya maka pria itu pula yang harus mengobatinya. Tidak harus dia melulu yang memulai maaf jika mereka bertengkar, Sena ingin Kyuhyun juga melakukannya. Karena pria itulah yang melewati batas terlebih dulu.

picsart_01-16-11-25-361

Seperti pagi-pagi yang telah lalu, Sena memulai aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga dengan melayani segala keperluan Kyuhyun. Memilih satu setel pakaian yang akan dikenakan suaminya hari ini, meletakkannya disisi tempat tidur, lantas mengambil sepasang pantofel yang kemudian dia taruh pula didekat kursi rias. Setelah semua kebutuhan Kyuhyun selesai disiapkan, barulah Sena menyibukkan diri di dapur. Berkutat dengan bahan-bahan makanan yang akan dia olah menjadi sarapan bermenu ringan.

Dua kejadian kemarin memang masih terngiang— memenuhi isi tempurung kepalanya, tapi hal tersebut tidak lantas membuat Sena mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri. Kyuhyun tetaplah suaminya. Dan mau bagaimanapun pertengkaran yang terjadi diantara mereka, tidak serta merta membuat Sena harus menjadi istri yang tak acuh.

Tapi memafkan seseorang yang seolah lupa akan kesalahannya sendiri— dalam hal ini adalah Kyuhyun, bukanlah suatu perkara yang mudah bagi Sena. Kebungkamannya atas sikap suaminya kemarin masih belum juga usai. Pertanda bahwa perang dingin tetap dia gencarkan untuk pria itu. Sesuai dengan kekeras-kepalaannya yang sudah mendarah daging, Sena masih seperti hari kemarin; diam tanpa mau memulai pembicaraan. Hanya tubuhnya yang bergerak aktif kesana-kemari.

Disisi lain, bukan Kyuhyun namanya jikalau langsung menyerah dan kalah. Pria itu jelas menyanggupi permainan istrinya. Dia ikut bungkam dengan perang dingin yang mereka ciptakan. Kyuhyun memang tetap menerima apa yang sudah menjadi tugas Sena—sebagai istri, toh dia pun tidak akan sanggup mengurus semua keperluannya sendiri dipagi hari karena telah terbiasa dimanjakan. Tapi dia pun tidak akan memaksa istrinya itu untuk bicara, biar saja waktu yang akan mengantarkan kembali keadaan menjadi seperti semula. Menurut teori egoisnya, dia hanya perlu diam. Biarkan saja Sena juga ikut merasakan sakitnya didiamkan.

Menit terus bergulir, hingga sepasang netra itu bertemu dan membekukan waktu. Membuat si peran pria dan wanita kehilangan vocal. Kyuhyun masih berdiri diujung tangga, nyaris terbuai oleh rindu yang membuncah dalam dada kala matanya menangkap presensi Sena, jika seandainya saja ego yang dimilikinya tak kembali muncul kepermukaan. Menggilas habis rindu implisit yang juga terpancar dari setiap hujaman lensa coklat istrinya. Kalau dia tidak menoleh kebelakang— melesak kembali pada perbuatannya kemarin hingga membuat keadaan menjadi sebegini bekunya, mungkin dia sudah melukiskan sebuah senyuman untuk wanita satu itu. Tapi— tidak. Tidak semudah itu untuk melakukannya. Dia masih tahu diri, dan egonya masih terlalu tinggi untuk dia runtuhkan sendiri.

Dengan hembusan nafas pendek lantaran sebuah suara kecil memanggilnya, Kyuhyun pun kembali berjalan. Merajut langkahnya untuk mendekati Joon yang ternyata sudah membuka kedua matanya lebar-lebar pagi ini dan duduk diatas kursi balitanya. Ah, Kyuhyun lupa jika ini sudah mendekati pukul delapan. Tentu saja Joon sudah terbangun.

Kyuhyun tersenyum tatkala Joon mengacungkan sendoknya keatas dengan mulut dan pipi yang mulai dipenuhi dengan minyak. Dia kemudian menggulirkan matanya untuk mengintip isi mangkuk Joon. Oh.. nasi mentega dengan parutan keju. Sarapan berprotein tinggi yang menjadi makanan favorit bagi putranya setiap pagi.

“Apa ini enak?” tubuh Kyuhyun membungkuk sedikit untuk mengecup sekilas puncak kepala Joon, lantas membaumi leher putranya. Menghidu aroma Joon dalam-dalam sebagai ganti karena belum bisa meraih ibunya. “Belum mandi, hm?” tanyanya dengan kedua mata yang menyipit. Dibalas oleh Joon dengan cengiran— memperlihatkan gigi-gigi mungil yang menjadi kesukaan Kyuhyun, lalu menunjuk mangkuknya dengan kepala dimiringkan, “Mau?” Kyuhyun kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. Gemas. Kemudian menggeleng dengan dengusan geli. “Tidak. Joon jorok sekali sih belum mandi sudah makan. Ayah tidak mau,” pura-puranya merajuk. Lalu membawa tangannya untuk mengusap lembut rambut Joon.

Bibirnya kemudian berkedut. Ingat akan perkataannya dihari lalu. Hah.. bagaimana mungkin dia memarahi anak sekecil ini kemarin? Jelas Joon masih polos. Tidak tahu apa-apa. Tidak sadar bahwa mencoret-coret berkas ayahnya bukanlah suatu perbuatan yang benar. Benar kata Sena, Joon masih terlalu kecil. Masih balita— sedang berada dalam masa kritisnya sebagai seorang anak untuk mengetahui segala sesuatu yang ada disekitarnya hingga tidak tahu bahwa yang diajaknya menggambar sedang tidak bisa diganggu. Bahkan saat ini, Joon tidak menagih permintaan maaf padanya. Itu pasti, lantaran anak seusia putranya memang belum bisa memahami siapa yang salah dan siapa yang tidak bersalah.

Kyuhyun tersenyum kecut lantas menegakkan tubuhnya kembali. Mengusir tatapan Sena yang sejak tadi terpaku pada interaksi antara dirinya dan Joon. Satu hal yang bisa Sena maknai, Kyuhyun sudah kembali lembut pada Joon. Pria itu tidak mengabaikan panggilan putranya. Malaikatnya berkata bahwa Kyuhyun tidaklah sebrengsek yang Sena pikirkan untuk menjadi seorang ayah. Seberapapun kekesalannya kemarin pada Joon, tetaplah kekecewaan terbesar Kyuhyun, pria itu tujukan padanya. Sena paham benar yang satu itu. Karena disini, dia jugalah yang bersalah. Dia telah melimpahkan semua kesalahan pada Kyuhyun, padahal dirinya pun tak luput dari kesalahan. Ya, dia dan Kyuhyun sama-sama keras kepala. Sama-sama egois. Dan sama-sama memiliki harga diri yang tinggi.

Tapi kemudian iblisnya berbicara, bahwa Kyuhyun memanglah seorang pria brengsek. Kalimat yang pria itu lepaskan untuknya kemarin sore, jelas mengintepretasikan bahwa Kyuhyun memiliki sisi tak bertanggung jawab. Pemarah. Temparamen. Tak pandai menempatkan diri. Dan lebih egois dibanding dirinya.

Kesalahan Kyuhyun jelas lebih besar dibanding kesalahannya. Itu, yang dikatakan iblisnya sebagai sebuah ketetapan.

Sena lantas menyempatkan diri untuk melempar tawa pilunya ke udara, kala hatinya tertohok, sebelum kemudian dia berbalik dan bergabung bersama Joon. Memasang raut pedih. Benar. Lihat saja tadi, tanpa sepatah kata— pria itu langsung membawa tubuhnya untuk menghilang. Pergi dari hadapannya. Pergi dari ruang makan. Tanpa sama sekali melirik masakan yang Sena buatkan untuknya. Percuma dan sia-sia.

Ini, kali pertama keduanya bertengkar hebat. Tepatnya setelah Kyuhyun mengubah nama depan Sena dengan marganya.

Sementara tidak jauh dari balik punggung Sena, Kyuhyun mematung. Menatap dengan sorot lurus pun kosong apa yang ada dihadapannya. Rahangnya mengetat, menahan desakan tak tentu yang bergejolak hebat dalam dadanya. Butuh belasan detik bagi pria ini untuk mengembalikan kesadarannya.

“Brengsek!” nyatanya, Kyuhyun pulalah yang mengumpat. Merutuki dirinya yang tak jauh beda dengan seorang pembual. Menciptakan sejuta kebohongan demi mempertahankan harga diri. Sebuah fakta dalam dirinya yang harus dia akui dalam keadaan sadar, bahwa kebutuhannya akan Sena masih mendominasi. Bertentangan dengan arogansinya yang setinggi langit dan membakar jiwa.

There are times when we need to talk, yet the words never come.

There are times when we need to understand, yet we don’t always know how.

At our lowest times during our toughest moments, things seem to get complicated and confusing.

Leaving us to wonder, what the other is thinking or feeling.

Often we let pride get in the way and we lose the power and sense to communicate.

I believe in us and all that we share.

I believe we can get through this if only we open up and learn to give equally.

–tbc

Advertisements

Author:

also known as que(en)sera

86 thoughts on “Fragile Heart – 1

  1. ih ya kyuhyun udah tau salah tetep keukeh egoisnya. Harusnya dia jadi kepala keluarga bisa ngelindungi dan ngarahin keluarganya ke hal baik bukannya malah nyontohin dengan ngikutin kemarahannya sena. Apa dengan bilang maaf atas omongannya yang nyakitin sena bakal bisa ngebuat kyuhyun mati atau ngebuat dia melarat sampe-sampe ga mau minta maaf dahulu. Kalo kepala keluarganya gitu, ga mungkin juga nantinya bakal ada jurang pemisah.

    Liked by 1 person

  2. Mereka berdua sama2 egois ditambah sikap ambisi Kyuhyun yang besar. Udah apa Kyuhyun ngalah dan minta maaf sama Sena, jangan perang dingin kaya gitu hehe

    Like

  3. Astaga ga lengkap rasanya kalau urusan rumah tangga ga dibumbui pertengkaran
    Tapi masa dua dua harus egois,seharuanya kyu sebagai laki harusnya ngalah dong,ditbah lagi sena kan lagi hamil pastinya dia selalu bersikap sensitif dong

    Like

  4. iya inii baper banget..mereka keras kepala sihh, mana kyuhyun gengsinya tinggi banget..kasian kan padahal srna lagi hamil 😢😢😢

    Like

  5. Seriously!
    Itu kepala batu amat sih!!??
    Kan saya jadi takut kalau mereka nanti menyesal bagaimana?
    Jangan berlarut larut dooong!
    Segera selesaikan! Enggak enak juga kan kalau tidur dengan masalah yang belum clear?!
    Memang ya, kuncinya hubungan awet adalah komunikasi! Bukan hal sepele itu!

    Like

  6. Akhirnya dilanjutin lagi, duh lama bgt sih berantemnya sama-sama keras kepala ya, egonya tinggi semua, eh tapi biar kerasa feelnya juga hehehehe

    Like

  7. Kenapa aku baru baca sekarang TT TT

    Aku kelewatan cerita ini sepertinya 😦

    Huaaa arogansi laki2 ya

    Suami..

    Semoga bisa balikan lagi seperti dulu biar rukun terus

    Ada baby lagi lho, sebenernya saat2nya buat Sena manja manjaan

    Semoga ya..

    Hwaitinggg dear xoxo

    Liked by 1 person

  8. Cowok emang gitu gengsinya tinggi apalagi kalo title sbg kepala keluarga d coreng….
    Paling g kyuhyun ayolah minta maaf,,, kamu juga kesiksa,, biar bahagia in sena juga….
    Biasanya keluarga ini rame sekarang pada diem2 an…

    Liked by 1 person

  9. halo thor. saya reader baru disini. 😊 tdnya sempet bingung, kok selfish endingnya gini. ternyata ganti judul ya. keep write

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s