Intemporel – 2

i1

Poster by Bangsvt @ PosterChannel

Yes.

We are strangers, but with memories.

C A S T

CHO KYUHYUN

LEE SENA

LEE JUNGHOON

LEE SARANG

ALISA PARK

also Other SJ member & Shim Changmin

R A T E:

PG-17 | Mature Content

AU | Multi-Chaptered

G E N R E:

Romance, Hurt, Drama, Family

R E L A T E D  S T O R Y:

Intro ¦ Rendezvous

N O W [P L A Y I N G]

MEMENTO


This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

INFO! Kyuhyun disini 28yo ya, aku samain kayak di UB. Kalo 30yo ketuaan soalnya.

divider1

Cho Kyuhyun’s POV

Pertama kali aku bertemu dengannya sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat kami masih menjejaki masa-masa SMA. Ketika itu aku berada ditingkat akhir sekolah, sedangkan dia berada satu tahun dibawahku. Tepatnya, dia adalah juniorku dulu. Tidak ada yang spesial dari pertemuan pertama kami. Jujur saja, aku tidak pernah melihatnya dimanapun. Dua tahun lebih menjadi siswa tetap di Hanyang SHS, sekalipun aku tidak pernah menyadari keberadaannya. Gadis itu bukanlah gadis menonjol yang dapat menarik perhatian banyak pria maupun wanita. Presensinya tak pernah tertangkap oleh kedua mataku— yang saat itu ditetapkan sebagai salah satu bintang Hanyang. Hingga pada suatu momen, takdir menjebak kami dalam satu putaran masa.

Perlu kalian ketahui, diriku dimasa kini, jauh berbeda dengan diriku dimasa silam. Tidak ada Cho Kyuhyun seperti diriku saat ini. Cho Kyuhyun bukanlah seorang pemain. Cho Kyuhyun bukan pria kaya yang sombong. Cho Kyuhyun tidak pernah mengencani banyak gadis. Cho Kyuhyun bukan pria arogan yang suka menindas dengan tatapannya. Tapi Cho Kyuhyun— sama seperti siswa lain pada umumnya. Seorang murid laki-laki dengan segala kenakalannya yang wajar, sosok yang selalu dielu-elukan oleh para adik kelas baik perempuan maupun lelaki, menggilai segala macam bentuk olahraga yang mengeluarkan keringat, dan tentunya menguasai beberapa mata pelajaran hingga dijadikan sebagai panutan. Tidak ada sedikitpun aura gelap yang kumiliki sekarang ada didiriku yang dulu.

Aku ingat betul, saat itu wajahku terluka akibat berkelahi dengan siswa lainnya. Perkelahian kelompok. Masalah sepele, tapi sungguh menyulut emosi. Well, pria memang seperti itu ‘kan? Selalu menyelesaikan masalah secara fisik. Walau masalah itu belum tentu juga clear dihari itu. Kami— aku dan siswa lainnya yang terlibat dalam perkelahian, dibawa ke ruang kesehatan untuk mengobati luka-luka, serta memar yang hinggap menghiasi wajah polos kami. Dan disanalah aku menemukan kehadirannya. Dengan rambut diikat layaknya ekor kuda; menampakan seluruh bagian wajahnya yang putih bersih, pipi berisi, bibir sewarna cherry dan bola mata yang bergulir seperti anak kecil yang kebingungan saat mendapati kami— rombongan siswa paska berkelahi menyambangi ruangan yang mungkin saja menjadi tempatnya menghabiskan jam istirahat. Ya, aku yakin sekali jika dia adalah tipikal gadis yang sulit bergaul hingga memutuskan— kalau bukan perpustakaan, ya ruang kesehatan lah yang letaknya diujung gedung sekolah sebagai tempat favoritnya. Kantin bukanlah sebuah pilihan, mengingat aku pun tak pernah melihatnya disana. Sedangkan lapangan— jelas hampir sebagian besar para gadis benci dengan sengatan matahari, jadi pilihan itupun tidak mungkin. Coret saja bagian tersebut.

Di ruangan itu, dia bersama dengan dua orang gadis lainnya. Yang aku tahu setelahnya jika kedua orang itu adalah sahabatnya. Oleh Guru Park— si penguasa tetap ruang kesehatan, mereka bertiga dimintai tolong untuk bantu mengobati kami yang berjumlah tujuh orang. Sayangnya, saat itu Tuhan belum mengijinkan kami untuk secara langsung bertatap muka. Bukan dia yang mengobati lukaku, melainkan temannya. Tapi sejak saat itulah, saat pertama kali melihatnya yang tampak seperti orang linglung karena diperintah kesana-kemari oleh Guru Park, aku menjadi penasaran dengannya.

Selepas kejadian itu, setiap kali jam istirahat kedua tiba, seringnya aku memanfaatkan waktu senggang tersebut untuk datang ke ruang kesehatan— beralibi sakit perut, pusing, mengantuk, pegal-pegal karena bermain basket saat jam istirahat pertama atau apapun lah, hanya demi melihat gadis itu. Sekali lagi, hanya melihatnya. Karena Cho Kyuhyun yang dulu— sangat pesimistic terhadap kaum wanita. Delapan belas tahun hidupku, aku hanya bisa mengencani gadis dua kali. Berbeda dengan teman-temanku yang memiliki rekor bisa mengencani gadis sebulan sekali. Parahnya mungkin dua minggu sekali. Aku tidak berani menyapanya, bukan karena lembek atau apa, tapi gadis itu terlalu pendiam. Membuatku sulit— bahkan hanya untuk sekadar menanyakan namanya saja.

Pipinya yang tembam dan sikap malu-malunya saat menanggapi kalimatku yang membutuhkan obat ini-itu, membuatku semakin gemas terhadapnya. Jelas, hidup sebagai bintang sekolah, aku tahu mana gadis yang benar-benar pemalu dan mana gadis yang suka berakting pura-pura malu saat berhadapan dengan pria sepertiku. Dan Lee Sena— bagiku dia adalah gadis pemalu akut. Yang sialnya, sangat aku gilai.

Entah apa yang merasuk kedalam pikiranku, hanya saja sejak saat itu orientasiku seperti berpindah haluan. Aku yang tadinya bersikap biasa-biasa saja pada para gadis, saat itu malah mulai bertingkah. Berbeda dari yang sebelumnya. Aku selalu menyempatkan diri untuk melihat Sena setiap hari. Ada sebuah dorongan yang menuntutku untuk cepat-cepat melihatnya sebelum gadis itu menghilang dan susah ditemukan lagi lantaran aku sama sekali tidak tahu siapa dia— selain identitasnya sebagai siswi Hanyang SHS, lantas membuat hariku terasa menjadi tidak sempurna. Hingga pada minggu keempat, aku menyerah atas kepesimisanku. Rasa penasaranku terhadap Sena, berbuah menjadi perasaan suka, gemas, ingin tahu, ingin berada didekatnya dan berbagai macam rasa lainnya lagi. Jika aku terus berpaham pada porosku yang hanya – mau – melihatnya – saja, tentu tidak akan membawakan apa-apa untuk diriku sendiri. Maka dengan penuh keberanian, lantaran semalaman suntuk juga aku bergelung dengan pikiran-pikiran yang entah bagaimana terasa sialan menyiksaku, akupun memutuskan untuk lebih berani mengajaknya bicara.

Saat itu hari selasa—ingatanku masih sangat tajam—aku melewatkan istirahat pertama yang biasanya kuhabiskan di lapangan atau di kantin sekolah hanya untuk menemui gadis itu. Kakiku berlarian menjejak petak keramik sekolah demi menuju ruangan yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritku pula. Namun saat sampai disana, seorang gadis yang tidak aku ketahui siapa namanya memberitahuku bahwa Sena tidak menghabiskan jam istirahat pertamanya di ruang kesehatan. Kalau bukan dikelas, berarti gadis itu ada di perpustakaan. Dan dengan bermodalkan beberapa alasan, akupun meminta gadis itu untuk memberitahuku dimana kelasnya— jujur saja selama sebulan lebih aku selalu mengunjunginya di ruangan itu, aku sama sekali tidak tahu dia berasal dari kelas mana. Yang aku tahu, dia adalah siswi kelas sebelas yang terpaksa harus terjebak bersama siswi lainnya untuk mengobati anak-anak sok jagoan sepertiku yang habis berkelahi.

Dan dari sanalah, kisahku dengannya dimulai. Hanya dengan bermodalkan keberanian untuk mengetahui lebih dalam tentang gadis itu lebih lanjut. Tanpa aku pernah tahu sekalipun bahwa dikemudian hari— gadis yang membuatku tergila-gila itu malah mengantarkanku dalam duka. Duka nestapa yang aku sendiripun sulit untuk memaafkan kesalahan diriku. Lantas membencinya dengan seluruh daya yang kumiliki.

Ya. Aku, Cho Kyuhyun, membencinya.

.

Intemporel

.

Sena menutup mata rapat-rapat saat telinganya dihujam oleh suara bantingan benda. Tubuhnya gemetar tak terkendali. Selalu. Selalu saja seperti ini setiap kali Junghoon tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Pria itu akan bertindak anarkis. Mencipta seribu jarum dalam dada Sena. Merajam kalbunya kala mengingat kisah silam yang membuatnya harus berakhir dengan pria seperti dirinya.

Ada pilu implisit yang Sena rasakan. Ada kebencian yang Sena tanamkan pada dirinya sendiri. Menyalahkan kemampuannya yang tidak mampu untuk mengambil risiko lain. Kenapa bisa begini? Kenapa dulu seperti itu? Kenapa harus dia? Jika saja Sena tidak mengingat ada putrinya sedang bersembunyi dibalik bilik kamar, mungkin dia sudah menjeritkan kalimat sumpah serapah yang selama ini tertahan ditenggorokannya. Melepas semua kekesalannya pada pria yang selalu semena-mena terhadapnya. Menghujat tindakannya yang tidak tahu diri. Tapi tidak, dia tidak mungkin melakukan itu. Mental Sarang bisa saja terganggu dengan keributan yang orang tuanya sajikan. Dan Sena jelas tidak ingin putrinya melewati fase tersebut. Sarang terlalu berharga baginya. Walau sebenarnya dia pun tak tahan dengan semua kekacauan ini.

Dia tidak sanggup dengan kehidupan rumah tangga yang dijalaninya sekarang. Dia ingin pergi mengikuti egonya. Tapi demi Sarang, demi kalimat bahwa putrinya memiliki kedua orang tua yang utuh, dia bisa apa?

“Berikan padaku!” teriak Junghoon dengan nafas memburu. Wajahnya memerah dengan bibir yang menipis tajam. Mengiris keberanian Sena yang nyaris hilang ditelan sekon.

“Oppa, kumohon berhentilah..” namun kalimatnya tidak diindahkan sama sekali. Pria itu malah mendengus kasar bagai babi hutan yang diusik ketenangannya, lantas menendang kursi didekatnya dengan energi yang tidak tanggung-tanggung. Membuat Sena lagi-lagi harus memejamkan mata saat menyaksikan keanarkisan Junghoon.

“Berikan saja padaku sekarang!!”

Sena menghirup nafas dalam. Dia harus bersabar menghadapi situasi yang seperti ini. Coba memberanikan diri untuk menatap mata suaminya, dia pun perlahan mendongak. Setelah berhasil menenangkan diri, dia berujar, “Untuk apa memangnya? Kau mau berjudi lagi? Tidak ada gunanya melakukan hal hina seperti itu, Oppa. Ti—”

“Hina?” Junghoon memotong kalimatnya tiba-tiba. Pria itu mendengus geli. Matanya menatap Sena dengan penuh jijik, lantas menyempatkan diri untuk melemparkan tawa sinisnya. “Kau bilang judi adalah perbuatan hina?” Sena menelan ludah berat tatkala tatapan Junghoon bertransformasi menjadi begitu tajam. Tepat menghunus pada retinanya. “Sebaiknya kau berkaca! Tidak usah membawa-bawa kata hina dihadapanku jika kau sendiripun lebih dari hina, Lee Sena!!!”

Dua kelopak mata Sena terbuka lebih lebar. Bibirnya terbuka sebesar jari kelingking. Tanpa berhasil menggelintirkan anak kalimat yang mampu menentang pernyataan suaminya. Kau sendiripun lebih dari hina, Lee Sena!!! Tidak, apakah itu— bisa Sena rasakan jantungnya menghentak dengan keras. Sakit sekaligus tidak terima dengan hujatan yang suaminya lontarkan padanya.

“Apa?! Kau tidak terima?!” Sena masih membungkam. Hanya matanya yang mulai pedih saja yang masih balas menatap lurus lensa hitam kepemilikan suaminya. Ya, dia tidak terima. Bagaimana mungkin Junghoon semudah itu melepaskan hujatan untuknya? Tidakkah dia sadar, bahwa dirinya pun menjadi suami yang hina lantaran mencampakkan anak dan istrinya begitu saja. Datang hanya jika membutuhkan sesuatu. Sena terperih. Ini tidak benar.

“Kenapa diam saja hah?! Kau sadar akan dirimu? Kau paham sekarang?!” Sena masih tidak mengindahkan setiap kalimat kasar yang disuarakan Junghoon. Dadanya masih terasa sesak. Bahkan pikirannya mendadak macet. Kata lebih dari hina yang Junghoon lepaskan untuknya sekon lalu, nyatanya sanggup membuat dirinya membungkam tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya mengkaku ditempat.

Masa silam serta kejadian yang baru menimpanya kemarin malam mulai memenuhi isi kepalanya. Tatapan Junghoon padanya sesaat lalu, mengingatkannya kembali pada seseorang. Seseorang yang mungkin merasa sama jijiknya dengan Junghoon terhadap dirinya. Dan mungkin akan terus berlangsung seperti itu. Hingga dia menyerah pada takdir dan membiarkan waktu merebut semua sisa-sisa kebahagiaannya saat ini. Mata Sena mulai mengembun, sungguh rasa sakit yang diberikan oleh kedua orang tersebut begitu kentara. Dia salah apa hingga harus dihukum seperti ini?

“Wah.. kau mau memulai drama barumu lagi, huh?” Junghoon membawa kedua tangannya untuk bertengger pada pinggang. Sekali lagi, memberikan tatapan bengisnya pada wanita yang masih berstatus istrinya. “Kau mau menangis begitu mengingat betapa menjijikannya dirimu, benar?” dia mengangguk-anggukan kepalanya takzim. Sedikit tertawa sinis, lantas menumpahkan kekesalannya lagi sebelum kemudian pergi dengan membanting daun pintu rumah mereka. “Terserah Sena. Terserah! Kau mau menangis sampai berdarah-darahpun aku tak sudi memberikan iba padamu! Tak pantas tanganku mengelap air mata serupa najis yang kau keluarkan itu!! Menangislah sesuka hatimu. Aku tidak peduli! Kau wanita tidak tahu diri! Kau wanita hina!!”

Sena tersedak udara yang dihirupnya. Tangisnya pecah begitu saja. Ini memang bukan yang pertama baginya, tapi setiap kali Junghoon mengeluarkan kalimat keramat tersebut, Sena tak kuasa menumpahkan duka itu untuk mengaliri kedua pipinya. Sungguh, sangat menyesakkan baginya jika harus menampung semua kalimat itu seorang diri. Junghoon benar-benar kecewa padanya hingga tak ada secuilpun dari hatinya yang tidak diliputi oleh kabut hitam. Mungkin baginya, dia serupa najis yang sulit untuk dihilangkan.

Tapi haruskah seperti ini? Haruskah dia melewati kehidupan rumah tangga yang seperti ini? Haruskah dia menerima kebencian sebanyak itu? Sena tergugu dalam berdirinya. Tak kuasa membendung air duka yang selama ini tersimpan dibalik kelopak. Meratapi nasib dirinya yang tak kunjung menjemput indahnya dunia. Apa kesalahannya dulu begitu menyesakkan hingga dia tidak pantas bahagia? Apa selama ini dia memimpikan angan?

“Ibu…” panggil suara lirih pun penuh kehati-hatian menyapa gendang telinganya. Lee Sarang. Air muka putrinya tak jauh berbeda dengan kondisinya saat ini. Sarang berdiri diambang pintu kamar dengan wajah yang mulai memerah. Bisa Sena lihat pula adanya genangan air dalam mata bulat putrinya.

Sarang memang tidak pernah tahu apa yang membuat Ayahnya selalu bersikap kasar kepada Ibunya— atau bahkan dirinya selama ini. Tapi tadi, entah bagaimana bisa, Ayahnya begitu tega melemparkan kalimat-kalimat sarat kebencian kepada Ibunya. Hina. Najis. Tak iba. Tak tahu diri. Tak peduli. Semuanya menjadi satu. Sarang tahu itu pasti menyakiti hati seseorang yang selama ini disanjungnya. Ibunya. Kenapa Ayahnya jahat sekali?

Dengan bantuan kruk, Sarang berjalan mendekati Sena. Menggulirkan air mata pula tatkala dirinya pun tidak tahan melihat kepedihan yang Ibunya tanggung sendirian. “Ibu tidak apa-apa?” Sarang mengusap kedua pipi Sena dengan jari-jari kecilnya begitu Sena berlutut dihadapannya. Tak lupa dengan segaris senyum tipis yang wanita itu paksakan untuk hadir menyambutnya. Wanita itu menggeleng kaku— akibat isakannya yang tertahan. Kalimat-kalimat Junghoon masih melekat erat pada dadanya. Merajam ulu hatinya yang rapuh.

“Jangan menangis— hiks..” kembali Sarang bersuara kala isakan Ibunya semakin terdengar jelas lantas memeluk leher Sena seerat mungkin. Memberikan ketenangan pada wanita itu walau dia sendiripun menangis tanpa bisa dicegah. Jelas Sarang bisa merasakan sesak yang dirasakan Ibunya saat ini. “Jangan menangis, Ibu.. Sarang mohon..”  Sena semakin mengeratkan pelukan mereka. Bibirnya mengecupi pelipis Sarang penuh kasih. Oh Tuhan, bagaimana bisa dia membawa serta putrinya masuk kedalam duka ini?

“J-jangan dengarkan kata-kata Ayah.. Jangan menangis, Ibu. Sarang akan selalu disini bersama Ibu. Kumohon, jangan menangis. Saranghae…

Sena kembali tergugu. Rentetan kalimat putrinya serasa membawa angin namun juga disertai mendung yang begitu gelap baginya. “Na-do. Maafkan Ibu. Maaf. Ibu—” Sena tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Yang ada dia malah tersedu-sedu memeluk erat tubuh Sarang. Begitu juga Sarang, gadis itu kemudian memeluk Sena dan mereka menangis lagi, menangis bersama-sama.

.

Intemporel

.

Menggunakan setelan kemeja yang dilapisi sweater rajut sebagi luarannya, seorang pria berlari memasuki sebuah klub. Tempat yang selama ini selalu menjadi zona berkumpulnya dia bersama kelima kawannya yang lain. Hatinya begitu tak sabaran untuk memasuki klub tersebut. Malam ini mereka akan mengadakan bachelor party untuk menyambut pernikahan Pria Shim yang akan dilaksanakan besok lusa. Namun bukan itulah yang membuatnya semangat untuk datang, melainkan hal lain. Yang ditunggu-tunggunya sejak kemarin.

Dengan senyum yang masih terpatri diwajahnya lantaran terlalu senang, matanya kemudian dia fungsikan untuk berkeliling, guna mencari sosok yang menghantuinya selama dua hari ini. Sena. Kalau dia tidak salah dengar, itulah nama seseorang yang dia cari sekarang. Entah kenapa wanita itu bisa merebut perhatiannya sejak pertama kali dia melihatnya. Ada sesuatu dalam diri wanita itu yang membuatnya tak bisa lepas dari rasa dihantui. Terlebih wanita itu pulalah yang membuat klub ini sempat mengheboh dua hari lalu.

Mata pria itu masih berkeliling. Diselingi dengan decakan-decakan halus lantaran sedikit cemas karena tak juga menemukan rupa wanita yang hendak ditemuinya. Dengan rasa senang yang merosot hampir 50% dibanding dengan keadaan awal tadi, si pemeran pria itu lantas menyambangi meja bartender. “Wookie-ah!” serunya. Si bartender yang memiliki panggilan itupun mendekat. Menghampiri sosok yang dia kenal baik disini. Ya, bagaimana tidak, semua karyawan yang bekerja di klub ini tahu bahwa Lee Hyukjae adalah pemilik resmi tempatnya bekerja sekarang. Pewaris Mississipi Corporation— perusahaan yang bergerak dibidang properti, klub serta kasino termewah yang ada di negeri ini.

“Ye?” jawab pria bernama lengkap Kim Ryeowook itu sopan.

“Kau tahu pelayan yang baru bekerja disini kemarin lusa?”

“Ah… Lee Sena?”

Sudut bibir Hyukjae terangkat. Lantas tanpa tahu malu, dia menganggukan kepalanya dengan cepat. Seolah kabar baik akan diberikan oleh salah satu bartender yang ada dihadapannya ini.

“Dia ada dibelakang, Bos.” jelas Ryeowook padat. Mengundang kerutan untuk hadir pada dahi si Pria Lee. “Apa dia masih sakit?” Ya, Hyukjae ingat betul. Dahi wanita itu sempat terluka akibat ulah anarkis pelanggan tak tahu diri itu. Mengingat hal tersebut, rasa tak terima bahwa wanita itu dilukai dengan cara yang tidak manusiawi sekaligus dihina, membuat dada Hyukjae seketika memanas. Untung saja, dia sudah membawa hal ini pada pihak berwajib. Well, Hyukjae tidak akan tanggung-tanggung untuk menghukum seseorang. Terlebih klub ini adalah miliknya sehingga dia bisa bebas menggugat anak-anak muda tersebut, pun dengan perlakuan kasar yang mereka layangkan terhadap wanita.

Ryeowook mengibaskan kedua telapak tangannya didepan dada. “T-tidak. Tidak. Dia hanya kelelahan karena mengantar pesanan yang tidak ada habis-habisnya. Jadi aku suruh is—”

“Kelelahan?” Lagi. Lee Hyukjae mengerutkan alisnya.

Pria muda Kim dihadapannya tampak gugup. Pikirannya sudah melanglang buana. Khawatir. Lebih tepatnya takut disalahkan lantaran membiarkan seorang pelayan baru beristirahat di jam kerjanya, padahal masih ada yang harus dikerjakan— yeah, setidaknya mencari kesibukan seperti karyawan lain. Bukan malah bersembunyi dibelakang lantas bersantai-santai disana dengan kedok ke – le – la – han.

“A-apa perlu aku panggilkan?” repet Ryeowook secepat mungkin, sebelum pria yang menjadi Bos nya ini menyalahkan dirinya sebagai tersangka pemberi ijin.

Menyadari raut gugup yang hadir di air muka bawahannya, Lee Hyukjae lantas tersenyum geli. “Tidak perlu. Tidak. Dan kau juga, tidak usah takut begitu. Aku hanya memastikan saja.” Kekehnya. Dibalas oleh Ryeowook dengan anggukan kaku. Kemudian berujar lagi, “Tapi jika Bos ada urusan dengannya, biar kupanggilkan dia untukmu. Lagipula ini sudah mendekati lima belas menit dari waktu yang aku berikan padanya. Mungkin Sena sud—”

“Kau memanggilku, Kim?” ujar sebuah suara yang kehadirannya mereka nantikan. Mendengar namanya disebut, jelas saja membuat Sena langsung bertanya demikian. Meloloskan nafas lega dari Kim Ryeowook. Dan dada yang membuncah senang dari Lee Hyukjae lantaran mendengar suara tersebut mengalun. Menyapa indra pendengarannya. Kedua pria itu lantas menoleh pada sumber suara. Ada kehangatan yang menyapa hatinya tatkala Hyukjae akhirnya bisa menikmati presensi wanita itu. Dia sendiri tidak tahu, tapi Sena jelas membawa perasaan yang berbeda untuknya.

“Kau sudah lebih baik?” kalimatnya tercetus begitu saja. Terdengar akrab walau pada kenyataannya mereka tidak sedekat itu. Sena sebagai objek kalimat itu, jelas merasa kikuk dengan sapaan sarat perhatian yang Hyukjae lontarkan sekon lalu. Dengan senyuman tipis pun kaku, dia membalas, “Y-ye. Ye, Tuan. Aku— aku baik-baik saja. Untuk yang kemarin, terima kasih.”

Lagi-lagi kehangatan menyapa hatinya. Sungguh, rasanya Hyukjae ingin mati saja karena tidak bisa merasakan sesuatu yang wajar. Jujur, diluar sana banyak sekali wanita yang lebih cantik, lebih menarik dan lebih berkelas dibanding wanita yang ada dihadapannya ini tapi entah kenapa, hanya sosok Lee Sena lah yang mampu memberinya kehangatan berbeda. Ya, wanita ini berbeda. Darimananya, Hyukjae sendiri tidak tahu. Yang jelas, kehangatan yang Sena hantarkan adalah kehangatan yang selama ini dicari-carinya.

Hyukjae tersenyum tipis— tapi banyak menyimpan buncahan bahagia disana. “Sudah menjadi kewajibanku. Siapapun yang bekerja disini, adalah asset dari perusahaan kami. Dan bukankah asset itu harusnya dilindungi? Yeah.. sekalipun harus kehilangan minat sang raja (pelanggan; red)” ucap Hyukjae disertai dengan kekehan. Membawa serta senyum lega ala Kim Ryeowook dan senyum penuh terima kasih dari Lee Sena.

“Ah! omong-omong, kau sudah selesai istirahat ‘kan?” mata Sena mengerjap kaget. Dia melirikkan matanya pada Kim— sebutannya untuk Ryeowook lantaran terlalu malas menyebut namanya yang lumayan rumit menurutnya. Padahal itu hanya alibi, Sena saja yang terlalu malas mengucapkannya.

Jantung Sena dibuat berdegub tak tentu. Sama seperti teman barunya tadi, kini perasaan Sena didominasi oleh kekhawatiran. Jangan-jangan…

“Tidak. Tidak. Aduh! kalian ini kenapa berprasangka buruk padaku, hm?” Hyukjae kembali terkekeh begitu mengerti raut yang terpancar dari wajah Sena.

“A-aku.. Tadi aku—”

“Tidak apa-apa, Sena. Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku tidak akan memberikan surat peringatan padamu,” ucapnya disertai dengan sebuah senyuman jenaka. Membuat Sena lagi-lagi merasa lega pun tak enak padanya. Baik sekali Lee Hyukjae ini. “Itu sudah menjadi tugas manajer disini. Biar saja dia yang memberikannya padamu,” Sena memancarkan tatapan rusanya. Kebingungan yang dibumbui dengan sikap polos. Apa tadi katanya? Baru saja dia dibuat lega tapi pria dihadapannya ini malah menjatuhkannya lagi.

Sementara Hyukjae mau tak mau terkesiap dengan ucapannya sendiri sesaat lalu. Sibuk menata kondisi jantungnya. Sena itu— kenapa terlihat menggemaskan tadi? Dengan dehaman pelan, dia pun melanjutkan, “Wookie-ah, karena malam ini adalah malam istimewa, jadi aku pesan paket yang lengkap. Oke? Suruh satu orang pelayan lagi untuk membantu Sena. Aku tunggu diruang biasa.” Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Hyukjae tanpa mau repot-repot menoleh lagi pada Sena, meninggalkan begitu saja kedua pekerja berbeda gender tersebut. Dadanya masih diliputi hentakan-hentakan tak tentu tatkala Sena menunjukkan sisi polosnya menit lalu.

Hyukjae menarik nafas. Ah.. ini benar-benar aneh. Sekaligus tidak wajar.

.

Intemporel

.

Ruangan lima kali lima yang ter-setting temaram itu dipenuhi gelak tawa dari enam pria yang saat ini sedang duduk meriung. Bersama tanpa adanya satupun wanita diantara mereka. Ya, diruangan itu hanya ada mereka berenam tanpa embel-embel ditemani oleh wanita penghibur. Dari menikmati bergelas-gelas wine atau sampanye yang tersaji diatas meja hingga pembicaraan yang mulai mengarah pada ranah negatif. Tidak sepenuhnya negatif juga. Toh yang mereka bicarakan adalah hal yang sudah pernah mereka lakukan.

Making Love or… Having Sex?

Ya semacam itu. Well, boys will be the boys. Topik pembicaraan mereka pasti tidak akan jauh-jauh dari kata— mesum.

Tidak ada yang masih perjaka diantara keenam pria tersebut, jadi pembicaraan masalah itu lancar-lancar saja. Termasuk Choi Siwon. Yeah, walau dia lah yang paling anti menggunakan jasa wanita penghibur guna menuntaskan hasrat kelakiannya, tapi tetap saja, untuk mendapatkan Jasmine dia harus melewati fase melepas keperjakaannya ‘kan?

Dia adalah seorang duda, itu benar. Pernah menikah. Pernah memiliki orang terkasih yang dia cintai sepenuh hati. Namun sayang, Tuhan terlalu mendamba Kim Sarang. Jadi, saat harus melahirkan buah hatinya, saat itu juga istrinya harus pulang ke pangkuan Sang Penguasa. Hanya meninggalkan seorang bayi perempuan dengan bobot tiga kilogram. Yang kini bermetamorfosis menjadi gadis cilik manis nan cerewet. Sanggup menjadi pelipur lara kala hatinya dibuncah oleh rindu tak tersampaikan pada mendiang sang istri.

Siwon— pria baik-baik yang bahkan hingga tujuh tahun lamanya masih tetap bertahan dengan kesendiriannya harus terjebak bersama pria-pria yang dikenal baik sebagai pemain disini. Di klub ini. Harusnya salah, karena tidak seharusnya nama baik pria itu ikut tercoreng akibat kelakuan bejat sahabatnya. Tapi dalam persahabatan, tidak pernah ada yang salah. Begitupun juga mereka. Pernah sesekali Siwon tergoda untuk menikmati wanita-wanita penghibur yang selama ini dipermainkan oleh para kawannya, tapi begitu mengingat wajah ceria Jasmine, mengingat wajah terkasih istrinya— semua kebutuhan itu rontok diwaktu yang bersamaan pula.

“Maldives lebih cocok dijadikan sebagai tempat bulan madu. Lingkungan berpantai sangat mendukung proses bercinta, Hyung!” Henry— Si Bungsu berkulit putih memulai argumennya. Didukung oleh Donghae dengan anggukan mantap, “Yap! Kali ini aku setuju dengannya. Angin laut dapat menambah bara-bara yang kau ciptakan untuk Irene,” tambahnya tak masuk akal pada Pria Shim. Disambut tawa geli oleh Kyuhyun dan Hyukjae.

“Eiyy— yang jelas, dimanapun kau malakukannya, asal bersama dengan istri, nikmatnya pasti akan terasa sama indahnya. Saat orgasme, kau akan seperti dibawa terbang ke awan. Tidak seperti saat kau menggunakan wanita-wanita penjual diri itu,” lugas Siwon menambahi. Sok tahu. Padahal dia sendiripun tak pernah sekalipun mencicipi para jalang.

“Ah.. Kau memulai petuahmu lagi, Hyung. Aahh.. aku tidur saja lah. Ahh…” kompor Henry tak suka. Tubuhnya dia sandarkan pada punggung sofa, pura-pura menagntuk. Ya, siapa yang suka disaat-saat sedang asyik bercanda seperti ini Siwon si konglomerat malah memulai sabdanya lagi? Keempat pria lainnya terbahak. Tawa Changmin lah yang paling keras. Membuat Siwon tersudut, lalu kembali seperti tadi, ruangan dipenuhi oleh gelak tawa. Candaan saling dilemparkan guna mengisi malam pelepasan Changmin sebagai pria lajang.

Ya, hanya pelepasan sebagai pria lajang. Kita tidak pernah tahu, setelah nanti menikah dengan Irene Kim— calon istrinya, dia masih mampu berbuat diluar batas lagi atau tidak pada para wanita penjual diri itu. Terlebih para kawannya itu memiliki tabiat yang sama— kecuali Choi Siwon. Coret saja nama itu.

Keributan yang mereka ciptakan tersela oleh sebuah ketukan pintu, disusul dengan dua orang pelayan yang masuk guna mengantarkan berbagai macam makanan serta minuman— lagi untuk mereka. Sena, sebagai salah satu dari pelayan itu, lupa akan hal ini. Begitu kakinya melangkah lebih dalam dia baru saja ingat bahwa Cho Kyuhyun maupun Lee Donghae adalah dua orang terdekat bagi Lee Hyukjae— pria yang memintanya mengantarkan semua pesanan ini, sekaligus pria yang menjadi atasannya.

Dia merutuki diri sendiri. Bagaimana bisa dia alpa akan benang merah tak kasat mata yang mengikat diri mereka?

Sena menelan ludah begitu sadar dirinya mendapati tatapan tajam dari salah seorang kawanan itu. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun? Sekeras apapun Sena menghindar atau mencoba bersikap biasa saja, tetap saja dia merasakan bahwa Kyuhyun tengah memperhatikannya lekat-lekat. Melemparkan bara api dari kedua bola matanya guna menghujam tubuhnya yang ringkih. Dan hal itu berakibat pada kerja tangannya yang mendadak jadi kaku, gugup, dan gemetaran hingga tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang masih berisi wine saat sedang menata pesanan diatas meja.

“O-oh.. maaf, maaf. Biar kubersihkan dulu,” tangannya dengan cekatan mengambil kain yang terletak diatas trolly makanan, membersihkannya dengan nada terburu-buru lantaran masih merasakan hujaman dari pria— yang saat ini tengah dihindarinya. Dia salah, karena bukan hanya tatapan Kyuhyun saja yang tertuju padanya, tapi kelima pria lainnya pun begitu.

“Sena..”

“Ya?” sahutnya cepat— sangat cepat begitu salah seorang dari pria-pria tersebut memanggil namanya. Lee Hyukjae. Pria itulah yang memanggilnya. Pria dengan tatapan jenaka namun dipenuhi dengan kelembutan. Entahlah, Sena tak mengerti. Hyukjae dengan senyuman tipisnya, lantas berucap, “Tidak apa-apa. Biarkan saja. Kau kembalilah bekerja.”

“Huh?” Sena bingung. Otaknya mendadak macet. Raut lugu nan polos kembali muncul ke permukaan. Membuat si pemilik tatapan jenaka harus meneguhkan hati lagi-lagi saat mendapati wanita didepannya bertingkah menggemaskan— baginya.

Kyuhyun menggeram dalam hati kala matanya seperti disajikan kejadian bertahun-tahun lalu. Wajah itu, wajah kebingungan yang dimiliki pelayan wanita itulah yang pernah menjebaknya. Membawanya masuk kedalam pusaran nikmat dunia lantas menenggelamkannya hingga menjadi seperti ini. Kyuhyun bagai dihempas pada masa silam saat dirinya pertama kali bertemu dengan Sena. Lalu hatinya dibuat bergemuruh kala sadar, dimasa sekarang pun tatapan Sena tidak tercipta untuknya. Jika dulu mereka berada di ruang kesehatan, kini mereka berada di sebuah klub. Jika dulu wanita itu membantu mengobati musuhnya yang terluka, kini wanita itu berbicara pada sahabatnya. Jika dulu dia menjadi pelayan kesehatan, kini dia menjadi pelayan sebuah klub.

Ada rindu implisit yang merayap dalam dadanya. Bukankah ini tidak benar? Seharusnya dia membenci wanita itu sepenuh hati. Bukannya malah… Kyuhyun menelan ludahnya berat. Kepiluan itu datang lagi menyapa hatinya. Lee Sena adalah wanita yang pernah menaburkan garam diatas lukanya. Bukan tidak mungkin, kehadirannya sekarang pun mampu membuatnya lumpuh tak berdaya.

Saat dia masih terpaku pada wajah lugunya, saat itu pulalah sepasang netranya bertemu dengan milik Sena. Bisa Kyuhyun lihat, wanita itupun menelan ludah gugup. Lantas tanpa mau berlama-lama lagi disana, dengan segera Sena menarik teman pelayannya guna meninggalkan ruangan tersebut.

Ya Tuhan.. kerja jantungnya mulai tidak terkendali lagi. Kyuhyun. Pria itu, kenapa dia harus bertemu lagi dengannya? Dia pikir setelah Kyuhyun mencoreng tubuhnya dengan tinta hitam permanen, hal ini tidak akan terjadi. Kisah mereka sudah kandas ditelan masa. Tapi sekarang— kenapa mereka harus bertemu dan membawa memori pesakitan itu muncul setelah dia menyimpannya dalam-dalam didasar hatinya?

“Kalian lihat? She’s so precious..” suara Henry mengalun diudara tatkala tubuh Sena sudah menghilang dibalik pintu. Kedua bola matanya tak lepas menatap papan kayu yang sudah tertutup. Dihadiahi anggukan setuju oleh Siwon dan Hyukjae. “Hei, ayolah, aku mana pernah melihat wanita ringkih, tapi sopan dan manis sepertinya. She’s fragile but at the same time she had a power. Clueless. That’s the point. Am I right?” Kali ini Changmin ikut mengangguk. Tidak dengan Donghae yang masih menatap kosong meja didepannya dan Kyuhyun yang masih terperangkap dalam kisah silam.

“Benar-benar wanita tangguh,” Siwon memulai argumennya. “Jasmine bilang, bahwa dia bekerja di dua tempat berbeda. Siang – malam. Aku sendiri sangsi saat mendengar ucapan Jasmine, tapi saat melihatnya berada disini—well, aku percaya.”

“Dua tempat? Maksudmu?” Changmin bersuara. Kini semua mata— kecuali satu orang, tertuju pada Siwon. Menanti jawaban yang akan diberikan pria itu.

“Ah, benar! Kau mengenalnya ya Hyung. Aku sampai lupa.” Celetuk Henry dengan cengiran.

Siwon mengedikkan bahu, “Aku hanya pernah mengantarnya sampai rumah,” kalimat ambigunya tercetus. Membuat kawannya yang lain memberikan tatapan serupa— apa Siwon dan Sena… “Tidak. Tidak. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, okay? Dia jelas wanita baik-baik, kalian bisa lihat dari kejadian kemarin dan barusan. Dan aku— aku tak pernah mempermainkan wanita, kalau kalian lupa.” Henry dan Changmin mendengus. Tck. Dasar Choi Siwon sok suci, gerutunya dalam hati. Disambut kekehan 1-0 dari Pria Choi. “Putrinya adalah teman Jasmine. Dan kami— tidak saling mengenal, aku hanya tahu beberapa hal tentang dirinya dari cerita-cerita Jasmine. Selebihnya, yeah.. kalian tahu sendiri Jasmine seperti apa. Kalau cerita pasti lompat-lompat. Tidak pernah lengkap. Jadi ya, begitulah.”

“Jadi dia sudah memiliki seorang anak?” Henry bertanya lagi. Kedua matanya membulat tak percaya. Ini wow sekali banginya.

Siwon mengangguk.

“Kupikir dia masih lajang. Kau lihat, dia tidak kelihatan seperti wanita beranak. Atau bahkan ibu-ibu. Benar?” timpal Changmin. Siwon kembali mengangguk. Sedangkan ketiga pria lainnya terdiam. Menggaungkan pikiran yang sama dalam tempurung kepala masing-masing. Memiliki anak? Itu artinya Sena adalah wanita bersuami?

“Tapi—” Lee Hyukjae mengalunkan suaranya lagi. “Kenapa harus bekerja didua tempat jika dia sudah menikah?” Itu adalah realisasi dari apa yang dipikirkannya saat ini. Benar. Jika Sena memang sudah memiliki suami, kenapa dia harus bekerja siang – malam? Tidakkah itu keterlaluan? Atau, apakah dia single parent? Apa suaminya tidak pernah memberinya nafkah? Ada perasaan tak nyaman yang menyulut hati Hyukjae. Ada perasaan tak rela bahwa wanita yang dua hari belakangan mengganggu dirinya ternyata sudah bersuami dan memiliki seorang putri. Kenapa harus begini?

Yang lain pun berpikiran sama. Terutama pemiliki marga Cho dan marga Lee lainnya. Kedua pria itu mulai menenggelamkan diri dalam intuisinya masing-masing. Mengira apa yang terjadi pada Sena hingga wanita itu sudah bersuami sekarang, serta fakta bahwa Sena telah memiliki anak.

Wanita itu telah memiliki anak.

Telah memiliki anak.

Memiliki anak.

Anak.

Kyuhyun lantas bangkit dari duduknya. Berjalan dengan nada terburu-buru meninggalkan kelima kawannya. Mencipta seribu tanya dimasing-masing kepala. Kecuali satu orang. Dia sudah menduga sejak awal, bahwa Kyuhyun pasti pernah memiliki kisah dengan si pelayan wanita itu. Ya, jika tidak, mana mungkin kemarin Kyuhyun main pergi begitu saja saat yang lainnya coba membantu Lee Sena dari sikap anarkis anak-anak muda. Dan sekarang, saat mereka membicarakan wanita itu, Kyuhyun pun pergi membawa tubuhnya. Raib dari jangkauan mata mereka.

.

Intemporel

.

Kalimat-kalimat yang tadi sempat dilepaskan oleh para sahabatnya, masih sibuk menggaung ditelinga. Memenuhi isi pikirannya, serupa ribuan dandelion yang tertiup oleh topan. Menghempaskan bulir-bulir hingga menyebar tak tentu arah. Mendorong rasa perih itu timbul semakin nyata.

Masih dengan letupan-letupan api yang membara, Kyuhyun berjalan mengitari klub ini guna menemukan wanita itu. Lee Sena. Sama seperti Hyukjae, ada perasaan tak rela kala mendapat fakta bahwa Sena telah bersuami dan memiliki anak. Parahnya, rasa tak rela itu didominasi oleh benci yang semakin menumpuk. Kyuhyun tidak tahu mengapa seperti ini. Hatinya menolak untuk menerima dan mengikhlaskan. Dia jelas benci mendengar dua fakta tersebut. Sena bersuami, ada bagian dalam dirinya yang merasa terkhianati. Sena memiliki anak, ada sejumput jarum yang menghujam dadanya.

Tidakkah cukup bagi wanita itu untuk menyakiti dirinya dulu? Kenapa sekarang pun dia harus merasakannya lagi?

Kaki Kyuhyun berhenti melangkah. Terpaku ditempat. Dia melihatnya. Sena sedang berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Dan— lagi, tanpa sekat apapun, netra mereka pun kembali bertemu. Mencipta berhentinya waktu untuk puluhan detik. Hanya menyiskan tubuh ditempat masing-masing dengan jarak tak kasat mata. Musik yang dimainkan Disk Jokey tak lagi berpenagaruh, karena detakan jantunglah yang kini mendominasi. Menguasai indra pendengaran mereka.

Seperti tahun-tahun yang telah lalu, Kyuhyun kembali terlena pada tatapan samudra milik wanita itu. Membaurkan benci dan rindu yang dimilikinya untuk menjadi satu. Hingga pada detik kesekian ratus, Sena melepaskan tatapan mereka. Dia beralih kearah lain. Pergi tak menghiraukan Kyuhyun. Dan seolah sadar bahwa apa yang dilakukannya hanyalah buaian masa. Sesak kembali memenuhi rongga dada Kyuhyun. Membakar jiwanya.

Maka dengan langkah tergesanya, dia mendekati Sena. Menarik lengan wanita itu untuk menjauh dari kebisingan. Tak peduli pada rontaan sang pemilik tangan atas kuasanya saat ini. Begitu sampai ditempat yang sangat jarang dilalui oleh orang banyak, Kyuhyun menghempaskan tubuh ringkih itu pada sebuah tembok. Mengundang nyeri yang Sena rasakan pada punggung. Dan belum rampung dia meringis kesakitan, Kyuhyun kembali mencengkram kedua bahunya. Menyudutkannya pada dinding dengan tekanan yang dimiliki pria itu.

“Kenapa kau kembali?” desisnya sarat kebencian.

Sena berhenti meronta. Dia memberanikan diri menatap mata elang Kyuhyun. Terdiam untuk beberapa sekon lantas balas menatap kebencian yang terpancar dari tatapan Kyuhyun dengan sebuah kalimat, “Jika aku bisa memilih waktu. Aku pun tidak mau untuk kembali bertemu denganmu, Kyuhyun.” matanya mulai mengembun, sadar bahwa pria inilah yang dulu sempat memujanya. Tapi sekarang, apa yang dia dapatkan? Kyuhyun mungkin menganggapnya tak lebih dari sebuah najis. Sama seperti suaminya.

Tatapan Kyuhyun meredup, namun tidak mengurangi tekanan cengkramannya pada bahu Sena. Dilihatnya dalam-dalam wajah yang dulu sempat membuatnya tergila-gila itu. Tidak banyak yang berubah dari Sena. Gadis lugunya, sekarang sudah bertransformasi menjadi wanita dewasa. Jika dulu tinggi tubuhnya hanya mencapai dada Kyuhyun, kini tinggi wanita itu mencapai batas lehernya.

Kembali, Sena menelan ludah. Meyakinkan diri, sebelum, “Apa kau masih membenciku?” tanyanya lagi hati-hati pun penuh dengan kelirihan. Bisa ditangkap oleh kedua mata elang Kyuhyun, hidung Sena mulai memerah. Menahan tangisan yang mungkin saja sebentar lagi akan keluar.

“Kenapa bertanya? Kau harusnya sadar sejak awal, Sena.” Melalui suara tenangnya, Kyuhyun mampu membuat air itu terjatuh dalam satu kedipan mata. Kyuhyun masih membencinya, itu adalah fakta yang tidak bisa Sena bantah. “Jangan menangis! Aku tahu ini adalah tipu dayamu. Wanita seperti kau, sungguh tidak pantas untuk mengeluarkan air mata,” Kyuhyun melepaskan bahu Sena dengan hempasan yang lumayan kencang. Mengundang perih yang Sena rasakan lagi pada fisiknya.

Dia masih menatap bengis wanita yang tergugu didepannya. Menarik nafas, coba meminimalisir sesak yang selalu datang kala mendapati Sena mengeluarkan air mata. Dulu ataupun sekarang, wanita itu sama saja. Sanggup membuat hatinya melumpuh hanya dengan lelehan air asin tersebut.

“Jangan pernah muncul dihadapanku. Jika sekali lagi kau berani menunjukkan wajahmu, kau akan tahu risikonya seperti apa,” ancamnya lagi, lalu tanpa mau membuang waktu untuk lebih lama terperangkap dengan masa lalunya, Kyuhyun berbalik. Memutar langkahnya untuk menjauhi sang gadis. Hatinya bergemuruh. Amarah itu kembali dan masih melingkupi dirinya.

“Kenapa tidak kau bunuh aku saja saat itu, Kyuhyun?!” jerit Sena tiba-tiba. Menghentikan kerja dua tungkainya. Sudah cukup baginya. Dadanya tercabik-cabik dengan kalimat yang pria itu lantunkan untuknya. Semakin deras air matanya, semakin sakit pula hatinya tersayat. Gambaran itu pasti. Tangisan Sena bukanlah sebuah tipu daya. Harusnya Kyuhyun tahu, bahwa disinilah dia yang menjadi korban bukan pria itu.

“Harusnya kau akhiri saja hidupku supaya aku tidak muncul lagi dihadapanmu!!”

Tubuh Kyuhyun menegang. Dia mengepalkan kedua tangan dimasing-masing tubuhnya. Lantas kembali berputar. Disana, Sena tengah tersedu-sedu. Menatapnya dengan tatapan terluka. Seperti saat terakhir kali Kyuhyun— ah tidak. Dia menggeleng kaku.

“Harusnya kau tuntaskan saja rasa sesalmu saat itu! Kenapa kau hanya— kenapa kau…” Sena tak sanggup merampungkan kalimatnya. Hanya pertanyaan kenapa saja yang menggantung diudara. Dia tidak berani mengangkat awal penderitaannya dulu untuk kembali kepermukaan, bahkan didepan Cho Kyuhyun sendiri.

Disisi lain, tanpa sadar setetes air bening pun jatuh membasahi pipi Kyuhyun. Melihat betapa merananya Sena didepan sana. Kesalahannya dimasa silam. Rasa bencinya terhadap wanita itu. Jeritan Sena. Sakit hatinya. Semua bercampur menjadi satu pesakitan. Untuknya maupun untuk wanita itu.

–tbc

Advertisements

116 thoughts on “Intemporel – 2

  1. .sumpah aku masih penasaran siapa ayah sarang. kenapa aku malah pengen kyuhyun aja yang sebenernya ayah sarang. dan kenapa sena menikah sama junghoon..astaga astagaa ini menegangkan 😅

    Like

  2. Pingback: Intemporel – 5 – E&D

  3. 😭😭
    Nyesek dari awal sampe akhir seriusan :”
    Di part kedua ini masih aja burem sama masa lalu kyuhyun, sena, sama donghae 😦
    Gaya bahasa yg kakak tulis juga nambah rasa nyesek :”
    Ijin baca next part kak, semangat nulis cerita ini sampai akhir ya 😘

    Like

  4. baru baca d part ini, padahal udah lama. d save ceritanya. wahh aku penasaran sama yg terjadi pada mereka, sebetulnya kyuhyun marah kenapa sih?? trus yg interlude itu selingan cerita inikah??

    Like

  5. Masih penasaran sm masalalu sena kyuhyun 😔 trus kyanya donghae jg tau deh sm masalalu mereka.
    Trus jg penasaran sm kisah sena dan suaminya. Knapa suaminya benci banget sama sena, trus alasan sena masih mempetahankan rumah tangganya.
    Kak cerita seruuuu banget bikin yang baca penasaran trus greget sm jalan ceritanya 😂😂 semangat terus yaa kak nulis ff nya 💪😘

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s