Posted in Multi-Chapter

Intemporel – 3

intemporel-req

Poster by Kyoung @ Poster Channel

The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini, tapi malah ketemu hambatan lagi. Pulling us back into the labyrinth. It’s the hustle and bustle of the city that we live for. —ikanatassa


C A S T

CHO KYUHYUN

LEE SENA

ALISA PARK

also Other SJ member & Shim Changmin

R A T E:

PG-17 | Mature Content

AU | Multi-Chaptered

G E N R E:

Romance, Hurt, Drama, Family

R E L A T E D  S T O R Y:

Intro ¦ Rendezvous ¦ Memento

N O W [P L A Y I N G]

LABYRINTH


This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!


Happy Reading! Annyeong!  

.

Hng… Bau apa ini? Gurih. Manis. Krim vanilla dan… emm kacang? Atau jagung?

“Kyuhyun, bangun.”

He? Itu seperti suara Lisa. Lembut, rendah, kalem dan tegas—walau kini dari nadanya kedengaran sedikit cemas. “Kenapa malah tidur disini, dan bukan dikamar saja?” Benar. Lisa. “Kau bisa sakit jika tidur di sofa.”

Tidur di sofa?

“Kyuhyun. Jelek. Bangun. Kau tidak apa-apa ‘kan?” suara Lisa semakin terdengar cemas. Dan jelas.

Mengerjapkan mata sejenak, aku membuka kedua kelopakku perlahan. Ada perih yang menyerang kedua bola mataku. Buram sesaat memenuhi pandanganku.

“Hei.”

Aku masih tidak menyahut panggilannya. Fokusku sibuk mencari kesadaran. Ah. Kenapa rasanya tubuhku sakit semua? Detik-detik kuhabiskan untuk beradaptasi, kini dengan sedikit paksaan lantaran tubuhku tersorot oleh cahaya matahari yang mulai memanas, aku pun berusaha bangkit. Dibantu oleh Lisa, dia menuntun tubuhku untuk duduk di—tunggu, sofa? Jadi benar, aku tertidur di sofa?

Leherku memiring sedikit kekanan, mengurangi pegal yang menyerang bagian tengkuk. Sebelah tanganku pun bergerak kebelakang, coba membantu menetralisir. Dan saat itulah kedua irisku benar-benar bertemu dengan Lisa. Perempuan berambut hitam legam dan lebat dan lurus dan pendek dan jatuh megenai bahu. Yang memiliki kulit putih—sangat, sangat, sangat putih bahkan nyaris pucat—kontras dengan warna surainya. Dan kurus. Ramping. Dia memakai kaus abu-abu longgar dan jeans ketat. Keningnya berkerut seiring dengan kedua tangannya menepuk-nepuk pipiku.

“Kyu?”

Aku kembali mengerjap. Mengembalikan fokusku yang sempat mengabur lagi. “Oh—Halo… Sa-yang.” Aku menyapanya. Suaraku agak serak. Perih dibagian tenggorokan yang terasa kering. “Bagaimana—aku bisa disini?” tanyaku seraya memandang sekitar.

Lisa mendesah malas. Satu alisnya terangkat keatas. Juga dengan tatapan aneh yang dia berikan. “Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidur disini?”

Aku bisa merasakan jari-jari Lisa yang mengusap kedua pipiku –lagi. Memberikan kelembutan yang selama ini selalu aku dambakan. Ah ya, hanya dia yang sanggup memberikan ketenangan itu. Tapi yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah apa yang membuatku bisa tertidur diatas sofa. Ini kelihatan seperti bukan aku.

“Kau baik-baik saja?”

He?

Aku diam sebentar. Lantas memberikan sebuah anggukan. Lalu kulihat tubuhnya bangkit. Berjalan menuju dapur yang merangkap sebagai ruang makan. Diatas meja bar, ada banyak sekali kantung-kantung belanjaan dari plastik. “Aku membeli bahan makanan. Roti, sereal, susu, kacang merah, ayam, daging—dan yaa segala macam.”

Lisa sibuk mengisi kulkas dan lemari dengan bahan-bahan tersebut. Tubuhnya yang tinggi dan ramping, dia gunakan seperti gasing. Dengan sesekali melihat sesuatu yang masih menunggu masak diatas kompor. Didalam panci. Aku memperhatikannya dari ruang duduk sambil memijit-memijit kening dan tengkuk. Seperti ada benda besar yang terus-terusan memukul kepalaku. “Aku pusing,” kubilang.

Dia menoleh kepadaku, “Kau mabuk dan melewatkan makan malammu, benar?”

Iyakah?

“Tidak tahu.” Aku mengedikkan bahu. Kudengar dia menghela nafas lagi. Lalu tak lama, dia kembali datang dengan membawa secangkir teh madu untukku. Tidak lupa dengan—aspirin. Ya, aspirin. Obat penghilang rasa sakit dikepala.

“Kau kelihatan berantakan. Bahkan lebih berantakan dari yang biasanya, Kyu.”

Aku tidak menanggapi omelan Lisa. Otakku masih mengoreksi kejadian semalam. Mencari-cari penyebab berakhirnya tubuhku disini.

“Aku meneleponmu berkali-kali. Tapi kau tidak menjawab.” Lisa kembali berkutat pada kegiatannya di dapur. Sibuk menata mangkuk dan gelas.

“Kau pergi?”

Ya, aku pergi. Klub, bachelor party, candaan, gelak tawa, Changmin yang akan menikah, Donghae dan Henry yang ribut dengan Siwon dan—tunggu. Ah. Aku mengangguk samar. Ingat. Ada wanita itu diantara kami. Ya, sekarang aku tahu apa yang terjadi padaku semalam. Semuanya bermula dari si brengsek itu. Siapa lagi? Aku mendengus sinis. Lantas menyeruput teh madu yang diberikan oleh Lisa. Disusul dengan sebutir aspirin yang kutelan dengan paksa.

“Klub lagi?”

Hening. Aku kembali tidak menjawab. Untuk apa? Toh Lisa sudah menduganya dengan benar. Dia paham betul bagaimana aku. Dan aku, tidak bisa menyangkal. Mau beralibi pun tetap sulit, wanita itu pasti sudah keburu tahu dari Changmin atau Henry atau Siwon. Pastinya.

Untuk sesaat tidak ada percakapan diantara kami. Aku sibuk mengurangi sakit dikepala, sementara Lisa sibuk mengaduk sesuatu didalam panci. Lalu tiba-tiba saja bayangan wanita itu memenuhi pandanganku. Tangisnya. Jeritannya. Tubuh rikuhnya. Semuanya terlihat jelas. Dan kini—dadaku sesak. Seperti ada yang mengambil paksa oksigenku. Aku menelan ludah berat. Itu nyata. Dan masa laluku, dia benar-benar kembali.

“Aku bertanya pada Henry, dia bilang kau bersama Jessy—” Lisa menghampiriku dengan semangkuk sup kacang merah. Menyentakku dengan suara rendahnya. Wajahnya berubah mendung. Tidak secerah tadi.

Jessy.

Hng. Dia meyebut nama jalang selama ini sering kupakai. “Kupikir pagi ini kau ada di hotel. Atau… entahlah suatu tempat. Bersamanya—” ada gurat pedih yang Lisa tunjukkan padaku. Ah, sial. Aku menarik nafas dalam. Kapan sih aku bisa berhenti menyakiti wanita ini?

“Tapi ternyata kau disini. Tertidur di sofa.”

Sofa. Ya. Oh, tunggu, tunggu. Ada sesuatu yang tertinggal. Sebentar—aku memang pergi bersama Jessy semalam. Dan kami berada disalah satu kamar hotel. Hampir making out. Tapi tidak terjadi apa-apa diantara kami. Sungguh.

Aku mengernyitkan alis.

Semuanya berubah menjadi tidak seharusnya saat bayang-bayang wanita itu mengikutiku. Tangisannya meraup habis gairahku. Wajah penuh pesakitannya menggangguku. Lalu saat itu juga, aku memutuskan pergi. Meninggalkan Jessy yang sudah setengah telanjang untuk turun lagi ke klub. Menghabiskan tiga teguk Schorschbock. Atau empat. Atau lima. Aku tidak ingat. Dan begitu sadar, aku sudah berada disini. Semuanya berakhir disini. Apartemenku.

“Apa kau sangat kelelahan—karena… semalam?” suara Lisa kembali mengalun. Kali ini lebih lirih. Tapi karena sekarang dia sedang berada tepat didepanku, aku bisa mendengar kegusarannya dengan jelas.

Dengan paksa, aku coba untuk menyunggingkan senyum. Tidak. Wanita sialan itu tidak boleh menguasai seluruh pikiranku lagi. Cukup semalam saja. Kini ada Lisa didepanku, dan jelas, perasaannya adalah tanggung jawabku.

Aku meraih kedua pipinya dalam tangkupan tangan. Menariknya mendekat. Sejajar dengan wajahku. “Tidak ada apa-apa,” aku kembali mengulas senyum. Tak ada paksaan. “Percaya padaku. Kali ini tidak ada yang terjadi.”

Lisa mengerutkan alis sangsi. “Masa?”

“Kau tidak percaya padaku?” Lisa memutar kedua bola matanya keatas. Pura-pura berpikir. Kubalas dengan raut memelas. “Sayang…” rengekku. Dia tertawa. Hembusan nafasnya yang hangat menerpa wajahku lembut. Ah, dia—Alisa Park entah kenapa sanggup membuat hatiku ringan dalam sekejap. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikannya?

Dia menarik ujung hidungku degan kedua jarinya. Hobi yang selalu dia gencarkan saat sedang gemas padaku. Dan aku, jelas tidak keberatan pada kelakuannya tersebut. Aku bahagia jika melihatnya tersenyum. Apalagi tertawa. Dia sangat manis. Dan banyak yang mengakui hal tersebut.

“Sungguh. Semalam mem—” kalimatku berhenti kala tangannya membekap mulutku. Tidak kencang. Tidak rapat. Ringan. Malah menguarkan aroma vanilla yang sangat kusuka.

“Mau kusuapi? Aku membuat sup kacang merah untukmu.”

Aku tersenyum. Mengangguk antusias. Dan tiba-tiba saja pikiran tentang wanita sialan itu meluap. Hilang terbawa oleh sekon-sekon dan menit-menit dan jam-jam setelahnya.

Kami bertemu di Amherst enam tahun lalu. Di kota kecil yang letaknya dua jam perjalanan dari Boston, ibukota Massachusetts, USA. Dan aku sudah menjadi pencandu seks saat itu. Aku dan dia sedang sama-sama menyelesaikan studi master di University of Massachusetts Amherst. Dia mengambil jurusan Publich Health Sciences, sementara aku Applied Mathematics M.S. Program. Siwon lah yang mempertemukan kami. Dia lebih dulu mengenal Lisa—sahabat dari mendiang istrinya, Kim Sarang.

Ditahun-tahun awal, hubunganku dan Lisa hanyalah sebuah pertemanan biasa. Tidak ada yang spesial. Saat itu, kami luput dari ingatan bahwa tidak ada pertemanan yang benar-benar pertemanan diantara laki-laki dan perempuan. Hingga lambat laun, hati mulai berbicara. Kedekatan kami sebagai teman bicara atau bertukar pikiran pun mulai diragukan setelahnya. Walau sebelumnya aku pernah merasakan namanya sebuah kehancuran, tapi aku tidak senaif itu untuk menutup hati. Aku—tidak tahu kenapa aku menginginkannya. Lebih dari sekadar seorang teman biasa. Lalu jalinan tak kasat mata itu pun tercipta. Sangat mudah.

Hubungan kami baru resmi sekitar empat tahun lalu saat kami kembali ke Korea. Ah tidak. Tidak seperti itu. Aku salah. Hubungan kami tidak seresmi pasangan lain. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Ada benteng tak kasat mata yang masih memisahkan kita. Tapi secara teknis, Lisa sudah menjadi porosku. Sejak saat aku menginginkannya tanpa alasan. Aku membutuhkannya. Dan dia selalu ada.

Lisa delapan bulan lebih tua diatasku. Umurnya saat ini dua puluh sembilan tahun. Dan dia sudah menjadi dokter spesialisasi bedah disalah satu rumah sakit negeri yang ada di Seoul. Inetelektual serta sikap tegas dan mau bekerja kerasnya lah yang bisa mengantarkannya sampai pada tahap ini diusia muda. Dia cerdas. Sangat, sangat, sangat cerdas. Aku mengakui itu. Dia pun tipikal orang sangat, sangat, sangat perhatian dan rendah hati. Bahkan, kadang aku suka iri pada anak-anak yang selalu mendapatkan perhatiannya. Oh, dia pencinta makhluk kecil. Entah itu bayi, batita, balita, atau anak dibawah usia sepuluh tahun. Apapun lah komplotannya, dia sangat menyukai mereka. Yang seringnya membuatku bertanya-tanya, kenapa dia tidak mengambil spesialisasi anak-anak saja ketimbang dokter bedah? Karena kurasa dia lebih cocok dibidang tersebut.

Dia—entah bagaimana aku menjelaskannya, yang kutahu sekarang, aku tidak ingin pergi darinya. Aku ingin Lisa tetap ada disampingku. Kalau perlu selamanya. Menemaniku yang masih dihantui ketakutan oleh masa lalu.

“Kau tidak ada praktek?” aku bertanya dengan mulut penuh kacang merah. Lisa menggeleng, bibirnya menipis. “Aku mendapatkan jatah libur hingga tiga hari kedepan.”

“Tumben sekali.”

“Yah… ada banyak intern yang sedang magang.” Tangannya terulur untuk menyuapiku lagi. “Lagipula SHC memiliki dokter-dokter yang berkompeten, jadi, tidak ada aku tidak masalah. Dan berhubung besok adalah pernikahan Shim Changmin, sekalian saja aku ambil cuti,” sahutnya mengedikkan bahu.

“Enak sekali kalau begitu.” Sahutku agak sinis, pun iri dengan pekerjaannya. Tidak seperti pekerjaanku.

Lisa kembali tertawa sebentar. “Kau sendiri? Apa tidak lelah main kucing-kucingan terus dengan Gramps? Hm?”

Ah. Gramps. Kenapa harus mengingatkanku lagi pada pria tua bangka yang suka memerintah itu sih?

“Kyu, boleh aku bertanya?”

“Apa?”

Aku menelan ludah. Kenapa tenggorokanku jadi serat begini? Lisa menatapku dengan sorot dalamnya. Ugh. Tolong, jangan sampai aku dibuat hanyut dalam samudra itu. Sungguh. Karena aku sangat menyukai warna matanya yang berwarna biru namun ada lapis kecoklatan itu. Sekadar informasi, Lisa memiliki darah keturunan Irlandia. Ibunya memang berasal dari negara yang satu ras dengan Britania Raya tersebut. Dan yaa karena itulah, Lisa memiliki kulit yang kelewat putih nyaris pucat dan bersih dan halus dan didambakan oleh semua wanita.

“Berhentilah bermain-main,” katanya seraya melolosakan desahan nafas. “Kau sudah dewasa. Umurmu sudah menginjak dua puluh delapan tahun. Hampir dua puluh sembilan. Apa kau tidak mau mengurus perusahaan dengan benar?”

Oke. Ini topik yang sangat membosankan. Dan aku—tidak menyukainya. “Lisa, please… Mengutip dari kalimatmu yang mengatakan—aku sudah dewasa—maka, biarkan aku memilih jalanku sendiri seperti apa. Oke? Aku tahu mana yang terbaik untukku.” Cerocosku.

Aku menatapnya dengan sorot tegas. Tanpa penolakan. Tanpa bantahan. Kuloloskan juga oksigen dari mulutku. Lantas menyingkirkan mangkuk yang dia pegang untuk kuletakkan diatas meja—tiba-tiba saja aku mendadak kenyang, dan meraih tubuh itu kedalam pelukanku. Ah, rasanya hangat sekaligus nyaman. Sudah berapa lama aku tidak mendekap tubuh ini?

“Aku merindukanmu, kau tahu. Jadi, tolong—jangan buat mood-ku rusak hanya karena topik kacangan yang itu-itu lagi. Got it?

Aku mendengar Lisa yang mendengus geli. Tak lama, punggungku mendapatkan sebuah tepukan. “Dasar pemarah!”

.

Intemporel

.

Sena terduduk diruang tv. Menonton acara musik yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Atau—lebih tepatnya dia sedang termenung sendiri. Melamun. Lagipula, bagaimana bisa dia tertarik pada acara hiburan itu saat pikirannya masih melayang pada kejadian semalam. Dimana Kyuhyun menariknya. Mendorongnya. Merapatkannya pada tembok. Mencengkram kedua bahunya dengan erat. Menatapnya dengan pancaran penuh kebencian. Dan terakhir, memintanya untuk pergi menjauh.

Apakah dia begitu menjijikan hingga untuk menampakkan wajah saja, kehadirannya tidak bisa diterima?

Seandainya Kyuhyun tahu bahwa dia pun tidak ingin bertemu dengannya lagi—setelah semua yang terjadi, mungkin pria itu akan paham. Bahwa bukan hanya dirinya yang hidup dengan membawa kebencian.

Sudah bertahun-tahun dia habiskan dengan tidak melihat wajah Kyuhyun. Tidak bertatap muka dengannya. Tidak tahu apa-apa mengenai kabarnya. Sena pikir, seiring dengan berjalannya waktu, kebencian itu akan memudar perlahan-lahan. Menyesuaikan diri dengan putaran masa yang memisahkan mereka dengan jarak. Tapi nyatanya tidak. Kyuhyun tidak semudah itu melepaskan. Kyuhyun masih menaruh kebencian yang sama padanya. Dan dia, terlalu naïf untuk mengakui itu.

Sena tidak bisa mengelak bahwa dengan alasan yang sama, hatinya kembali menyeri sakit. Seperti ada yang meremas bagian tersebut. Apa yang terjadi di masa lalu, tidakkah Kyuhyun juga merasa bersalah padanya? Tidakkah pria itu memiliki penyesalan yang teramat besar pula padanya? Sungguh, luka batin yang dimilikinya dulu ataupun sekarang, lebih nyata dibanding luka milik pria itu.

Dia pun juga sudah melakukan hal yang sama; dia membenci. Membenci masa lalu itu. Membenci semua yang terjadi. Membenci Kyuhyun. Tapi disaat yang bersamaan, ditahun-tahun hidupnya yang dia habiskan tanpa pria itu, dia kesulitan untuk mengontrol perasaannya. Sena membencinya, tapi rindu lebih menguasai. Sena tidak ingin bertemu Kyuhyun lagi, tapi hatinya berdusta. Ada kebahagiaan implisit yang bersarang dalam dadanya ketika presensi wajah yang dia dambakan dalam diam itu kembali tertangkap oleh irisnya.

Sesuatu yang tidak benar. Sesuatu yang tidak berjalan seperti yang seharusnya.

Mata Sena yang masih tidak fokus, dibuat mengerjap. Lalu dirinya disadarkan dari lamunan ketika sebuah tangan mengibas-ngibas tepat didepan wajahnya. Disusul oleh suara kecil yang melantunkan, “Ibu?”

Sarang berdiri disampingnya. Dengan mata bulat dan jernih yang menatapnya lucu.

“Kenapa melamun?”

Ha?

Sena mengerutkan alis. Melamun? Dia menggaruk pipinya yang tidak gatal. Sesekali memfungsikan matanya untuk berkeliling. Benar-benar kebiasaan. Lalu otaknya sibuk bertanya-tanya; eh, apa aku melamun? Oh, ya. Aku memang melamun. Tapi—ah, apa Sarang sejak tadi ada disini? Apa sejak tadi dia memperhatikanku? Ya Tuhan, kenapa juga aku harus terbawa suasana? Kenapa aku harus memikirkan perkataan Kyuhyun semalam? Seharusnya, tidak usah peduli saja ‘kan? Jika—

Namun, kesibukan itu segera dilenyapkan saat Sarang kembali bersuara, “Tuh ‘kan… melamun lagi. Ibu kenapa?”

“Ha? Eh, tidak, tidak. I-ibu… Ibu hanya—tidak apa-apa. Ibu hanya sedang berpikir tentang—emm..” Sena mengerutkan alis lagi. Bingung ingin menjelaskan apa. Karena dia sama sekali tidak menyiapkan alasan apapun untuk anak itu. Sesungguhnya.

“Ibu aneh!” celetuk Sarang. Dibalas oleh Sena dengan cengiran kudanya. Ya, sejak dulu dia memang sedikit aneh, faktanya.

“Itu bukan ap—a-apa… Ah, ya ampun! Astaga Sarang, ibu lupa! Besok! Ya Tuhan, besok. Besok ibu tidak bisa menjemputmu di sekolah. Aduh! Bagaimana ini?” kali ini Sena tidak berbohong. Dia panik. Cemas. Serius. Dan—oh, bagaimana bisa dia lupa.

Besok ada acara besar. Pemilik restoran Jepang tempatnya bekerja akan menggelar sebuah pesta. Dan seluruh karyawan—tanpa terkecuali—diundang untuk datang ke pesta tersebut. Lebih tepatnya menjadi pelayan di pesta itu. Dan Sena bahkan sudah meminta ijin pada pihak klub agar tidak menunggunya datang karena tidak bisa bekerja lantaran pesta itu diadakan dari pukul sepuluh pagi hingga delapan malam. Dan dipastikan, dia bersama karyawan lainnya akan terjebak di pesta itu paling tidak sampai pukul lima. Atau enam. Atau tujuh.

Lalu Sarang bagaimana? Kenapa dia lupa pada yang satu ini?

Gadis cilik itu mendengus. Wajahnya berubah—sedikit—emm… malas, jutek, datar, yah semacam itu. Oh tunggu, sedikit atau banyak. Entahlah. Tapi percayalah, jika seperti itu, Sarang persis sekali dengan ayahnya.

“Ya ampun, Ibu. Sarang pikir ibu kenapa. Memangnya kalau ibu tidak bisa menjemput kenapa? Sarang ‘kan bisa pulang sendiri.”

Sena meluruhkan bahunya seketika. Jawaban Sarang membuatnya lesu. Pulang tanpanya? Sena saja tidak pernah membiarkannya pergi seorang diri diluar rumah. Bagaimana bisa kali ini dia membiarkannya pulang sekolah tanpa ada yang menjaga? Hanya sendirian. Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Bukan Sena meragukan kemampuan Sarang. Tapi paling tidak—emm oke, baiklah dia akui. Karena memang yah.. sebenarnya dia ragu, namun ini lebih ke perasaan takut. Mengingat jarak antara sekolah dan rumah mereka yang lumayan jauh untuk ditempuh Sarang. Jauh bagi anak-anak versi putrinya tersebut. Jadi katakan padanya, bagaimana dia harus mengambil keputusan?

“Sungguh. Ibu tidak perlu khawatir padaku. Hm?” Sarang menaikkan kedua alisnya. Bibirnya tersenyum lebar. Menyiratkan bahwa; tidak ada ibu bukan berarti aku tidak bisa melakukannya sendiri.

“Tapi—”

“Apa ibu tidak percaya?”

Sadar ada raut muram diwajah putrinya, Sena buru-buru menggeleng. Sungguh, bukan itu maksudnya. Menarik nafas dalam, dia pun berujar, “Bukan begitu.”

“Lalu?”

Memaksakan sebuah senyum tipis untuk dia lukis, Sena mengangkat tubuh Sarang untuk duduk diatas pangkuannya. Mendekapnya erat seiring dengan dagunya yang dia letakkan diatas puncak kepala anak itu. “Sarang tahu kalau ibu tidak pernah membiarkan Sarang sendiri bukan? Sarang tahu ketakutan terbesar ibu apa. Jadi, jangan pernah berpikiran seperti itu. Ibu hanya takut terjadi apa-apa padamu. Hanya Sarang yang ibu miliki. Ingat?”

Sarang menghela nafas dalam. Lagi-lagi alasan yang sama. Dia pun melepaskan tangan Sena dari perutnya. Tubuhnya berputar kebelakang. Guna mengurangi kecemasan wanita itu, Sarang memberikan sebuah senyuman lagi untuk ibunya. “Kita bertaruh saja, bagaimana?”

He?

“Ber—apa tadi?” katanya setengah ragu. Sena mengerutkan alis. Dia tidak salah dengar bukan?

“Bertaruh.”

Mata Sena mengerjap, lalu dengan hembusan nafas agak kencang, dia berujar, “Lee Sarang, siapa yang mengajarkanmu bicara seperti itu huh? Ber – ta – ruh. Seingat ibu, ibu tidak pernah mengatakan kalimat itu padamu, iya ‘kan?” mata Sena memicing tajam. “Lalu, apa itu yang diajarkan di sekolah?”

Sarang menyengir. Lantas menggelengkan kepalanya. Tidak.

“Hanya perumpamaan. Ibu kenapa sensitif sekali sih?” ejek Sarang. Sena terbungkam lugu. Yah, benar juga. Tapi maksudnya apa? Demi Tuhan bertaruh dalam pikirannya sama saja seperti berjudi. “Tidak bertaruh seperti yang ibu pikirkan saat ini.” Empat jari Sarang—kanan dan kiri—membentuk sebuah tanda kutip. Seolah dapat membaca intuisi Sena. “Bagaimana? Mau ‘kan?”

“Maksudnya? Ah, tidak, peraturannya?”

Senyum gadis berusia tujuh tahun itu merekah. Lebar. Seperti bunga sakura yang mekar pada musim semi. “Begini. Besok ibu tetap tidak perlu menjemputku saja. Tunggu dulu—jangan sela. Oke? Sarang akan menjanjikan satu hal pada ibu. Setelah pulang sekolah, Sarang akan langsung pulang. Sarang akan baik-baik saja. Dan yang pasti, Sarang akan selamat sampai dirumah.”

“Itu bukan hanya satu janji, Sayang. Tapi tiga. Sarang menjanjikan ibu tiga hal.”

Kini berganti Sarang yang menggaruk pipinya. Bibirnya meringis lupa. “Ah—ya, benar. Kalau begitu anggap saja janji yang Sarang katakan tadi itu satu paket. Jadi, satu hal. Oke?”

Sena mendengus geli. Ah, Sarang sudah mulai pintar berdalih sekarang.

“Ibu… Bagaimana? Mau ‘kan?” matanya berkedip-kedip seperti kucing didepan rumah kala Sena tak memberikan satu jawaban pun padanya.

Dia menghembuskan nafas lagi, lebih pelan. Berpikir sejenak. Namun tidak melepaskan tatapannya pada dua bola jernih putrinya. “Kalau tidak? Kemungkinan terburuk, Sarang. Sesuatu yang… yah seperti itu.” dia mengedikkan bahu.

“Ibu bisa menghukumku,” sahutnya cepat.

“Dengan cara?”

Sarang mengetuk-ngetukkan telunjuknya didagu. Berpikir pula. Membuat Sena tersenyum geli melihatnya. “Tidak memberiku makan, mungkin. Atau melarangku pergi ke sekolah.”

Sena sontak terkekeh. Mencubit gemas kedua pipi gembil Sarang. “Hei, mana ada hukuman yang seperti itu! Ayolah, nenek-nenek juga tahu kalau itu tidak benar, Sayang.” Sarang ikut tertawa bersamanya. Senang melihat wajah muram ibunya kini sudah bisa cerah kembali. Lebih dari apapun, gadis kecil itu hanya memiliki satu harapan. Bahwa ibunya akan terus berbahagia. Dengan atau tanpa ada dirinya di dunia ini.

“Jadi?”

“Jadi, apa?” Sena mengusap merapikan surai panjang Sarang dengan kedua tangannya.

“Ibu akan mengijinkanku pulang sendiri ‘kan?” Sena terdiam. Senyumnya lenyap. Hanya tatapan dalam yang masih dia berikan. “Atau ibu akan tetap melakukan rutinitas yang seperti biasa tapi ibu dimarahi oleh ibu bos? Lalu ibu menjadi bahan gunjingan teman-teman? Tidak bukan?”

Sena kembali mendesah. Ya, lagipula undangan itu wajib dihadiri oleh semua karyawan. Dia pun sudah setuju untuk ikut. Tidak enak ‘kan jika dia tiba-tiba mengatakan tidak bisa hadir hanya karena alasan; menjemput Sarang dari sekolahnya. Ah. Itu terdengar tidak etis.

“Ibu bekerja untuk Sarang. Ibu mencari uang untuk Sarang. Untuk kesembuhan Sarang. Kalau ibu membangkang dari pekerjaan, nanti gaji ibu dipotong. Kalau gaji ibu dipotong, uang kita jadi sedikit. Kalau uang kita sedikit, Sarang tidak akan bisa sembuh. Iya ‘kan?”

Tertegun. Sena hanya bisa bungkam mendengar lantunan kalimat yang keluar dari bibir mungil putrinya. Darimana Sarang memepelajari kalimat-kalimat itu?

“Jangan hanya karena Sarang, ibu harus berkorban lagi. Hm?”

Kedua tangan Sena kemudian terulur untuk menangkup pipi Sarang lagi. Senyumnya terukir tipis. Ya, Sarang memang harus sembuh. Gadisnya ini tidak boleh memakai kruk sepanjang hidupnya. Dia harus tetap sehat. Terlepas dari kemampuannya untuk membiayai hidup mereka cukup atau tidak. Paling tidak, dia sekarang sedang berusaha mengumpulkan uang. Untuk membiayai terapi Sarang yang sangat mahal.

“Darimana Sarang belajar kata-kata seperti itu?” tanyanya, saat tenggorokan pun sudah tidak mampu untuk menahan kalimat tersebut lebih lama.

“Sonsaeng Lim. Beliau bilang; orang tua bekerja siang-malam, banting tulang, itu semua dilakukan agar kebutuhan hidup kita bisa terpenuhi. Agar kita bisa hidup dengan baik. Maka dari itu, Sarang harus menghargai pekerjaan ibu. Ibu kelelahan juga pasti karena Sarang. Ibu bilang Sarang harus sembuh, jadi Sarang pikir, selama ini ibu bekerja bukan hanya untuk membeli makanan atau pakaian untuk Sarang. Tapi lebih dari itu.”

Senyum haru kini terukir di wajah Sena. Dia kembali memeluk tubuh mungil itu untuk masuk kedalam dekapannya. Sarang adalah anak yang cerdas. Anak itu memiliki kemampuan untuk memahami lebih cepat dibanding yang lain. Jadi tidak perlu heran saat mendengar kata-katanya. Dan saat sadar, Sena tahu sudah ada beberapa hal yang berubah; Sarang semakin pintar, Sarang mulai berpikir menggunakan logikanya, Sarang mulai pandai berbicara, dan terakhir, Sarang bukanlah bayi kecil yang selalu dia gendong kemana-kemana. Sarang kini sudah menjelma menjadi makhluk manis nan menggemaskan yang sangat, sangat, sangat membanggakannya walau memiliki kekurangan. Satu-satunya alasan dia bertahan hidup—saat dulu, kehadirannya sempat dia tolak.

“Kadang, ibu ingin sekali Sarang kembali menjadi bayi. Atau batita. Atau balita. Yah, semacam itu. Pokoknya menjadi kecil lagi.

Sarang kembali seperti dulu, yang suka merengek ditengah malam dan mengganggu waktu tidur ibu. Meminta keluar dari rumah walau cuaca sedang sangat dingin-dinginnya. Atau mengompol hingga membasahi pakaian ibu separuhnya.

Sampai akhirnya ibu tidak sadar, bahwa waktu akan terus berputar. Sarang semakin tumbuh besar. Semakin pandai berbicara. Dan Semakin pintar. Bahkan sebentar lagi, tidak cepat, tidak lambat, mungkin Sarang akan mengalahkan ibu.”

Sarang balas mendekap Sena sama eratnya. Bibirnya merekah lebar –seperti sakura dimusim semi. Lalu tak lama terkekeh mendengar celotehan ibunya.

“Salah tidak sih kalau ibu berharap agar Sarang tidak cepat-cepat tumbuh besar? Hm? Sarang hanya perlu tetap menjadi gadis kecil milik ibu. Selamanya. Seperti dulu. Atau—seperti sekarang.”

Dibalik bahu Sena, gadis cilik itu terkekeh seraya menggeleng. “Salah besar. Karena kalau Sarang tetap menjadi anak kecil, Sarang tidak bisa membelikan ibu makanan enak. Iya ‘kan?”

Sena kembali terbahak. “Memangnya ibu minta dibelikan makanan enak? Sarang sok tahu!”

“Sarang tidak sok tahu,” gadis itu melepaskan tangannya yang melingkar pada punggung Sena. Menatap wajah ibunya dengan senyum jahil. “Bukankah ibu sangat menyukai sepa—it.. sepa— apa ya?” tanyanya lugu.

Sphaghetti.

“Nah! Ya, sepaithiti! Makanan milik orang kaya itu, ibu menyukainya ‘kan?”

Sphag-hetti, Sarang. Bukan sepaithiti. Dan itu makanan luar negeri. Dari Italy. Bukan milik orang kaya.”

Tangan Sarang mengibas didepan wajah Sena. “Ya ya ya. Terserah apapun itu namanya dan asalnya. Bukankah ibu sangat menyukainya? Oh, Sarang bahkan pernah melihat ibu menggigit bibir sampai meneteskan air liur saat melihat iklan di televisi.”

“Tidak. Ibu tidak seperti itu!” Pipi Sena merona merah. Malu. Ah, apa dia memang pernah seperti itu? Geez! Ya, Sena akui bahwa dirinya memang penyuka pasta berbentuk mi padat dan lurus itu. Tapi… pernyataan Sarang tadi membuatnya terlihat norak sekali. Ugh.

“Mengaku sajalah.”

“Tidak.”

“Iya!”

“Tidak, Sarang.”

“Iya, Ibu!”

“Terserah padamu sajalah.”

“Oke, kalau begitu!”

.

Intemporel

.

“Kau tidak sungguh-sungguh ‘kan?” Donghae memutar tubuhnya dengan tatapan tak percaya. Hyukjae diseberangnya masih terlihat santai. Tak peduli pada nada suaranya yang terdengar panik.

“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” balasnya apatis.

“Dia bukan wanita sembarangan, Jae!”

Melepaskan udara dari mulutnya, Hyukjae balik menatap Donghae. Dahinya berkerut tidak senang. Reaksi yang ditunjukkan Donghae mengekspresiakan seolah dia akan melakukan tindak kejahatan yang sangat, sangat, sangat tidak manusiawi. Dan itu jelas merendahkannya.

“Ya. Lalu?” mata Hyukjae menatap lurus bola teduh milik kawannya tersebut. Dia masih diliputi kebingungan. Tidak mengerti akan sikap Donghae yang sangat antisipasi paska mendengar kalimatnya menit lalu.

Donghae menelan ludah. Tubuhnya berubah kaku. Lalu. Ya, lalu apa? Hyukjae ‘menyukai’ Sena, lalu apa masalahnya? Kenapa dia jadi begini?

“Kau akan menyakitinya. Dan dia tidak baik untukmu,” sahutnya pelan. Penuh keraguan. Dibalas oleh Hyukjae dengan tawa sumbang. Pria dengan rahang tegas dan nyata itu berdiri, melipat kedua tangannya didepan dada, lantas menatap Donghae dengan pandangan remehnya. “Aku memang brengsek. Aku sering memainkan wanita. Bejat. Tapi aku masih memiliki perasaan, Hae. Aku tidak seburuk yang kau pikirkan.”

“Tapi kau tetap salah.” Donghae bersikeras mematahkan pemahaman Hyukjae.

“Apa menyukai seseorang adalah kesalahan?”

“Kau—” Donghae meluruhkan pundaknya. Apa dia harus mengatakan ini juga? Ah. Hyukjae tidak akan mengerti.

Maka, seraya mengusap wajahnya yang lesu, dia berujar, “Sena bukan Anna. Dia bukan gadis kecilmu. Itu yang salah!”

Kali ini, berganti Hyukjae yang mendadak kaku. Bibirnya mengejur. Sena bukan Anna. Ya, dia tahu itu. Tapi kenapa Donghae—

“Aku tahu apa yang kau rasakan. Bahkan kau lihat,” Donghae mendesah. Menarik nafas dalam, lalu menatap pria didepannya dengan serius. “Tapi mereka berbeda, Jae. Anna sudah lama pergi. Jadi, lebih baik singkirkan jauh-jauh pikiranmu itu. Sena bukan dia.”

Hyukjae terdiam cukup lama. Meninggalkan Donghae bersama keheningan. Lalu tak lama mendengus sinis, lalu tertawa sumbang lagi, lalu menyuarakan pita suaranya dengan nada sarkas, “Peduli apa kau memangnya?”

“Kau tidak tahu! Sena itu gadis yang—” Donghae berhenti mendadak. Hampir saja. Lalu dia kebingungan merangkai kata. Menggeleng keras. Tidak boleh. Hyukjae tidak perlu tahu hal itu. “Intinya, jika kau menyamakan dia dengan Anna, maka itu adalah cara yang salah.” Donghae berdecak geram. Tak sabar membumi-hanguskan kekeras kepalaan Hyukjae.

“Kenapa kau begitu panik? Ayolah, ini hanya masalah perempuan. Atau—apa jangan-jangan kau sama denganku?” Tebak Hyukjae dengan mata yang memicing. Ya, itulah yang pertama kali terbesit dalam pikirannya saat Donghae menolak mentah-mentah idenya untuk mendekati Sena. Lagipula, Donghae mengenalnya. Sena pun mengenal Donghae; terbukti dari sapaannya yang memanggil Donghae dengan sebutan Oppa saat itu. Besar kemungkinan bahwa pria itu pun memiliki rasa yang sama seperti dirinya terhadap Sena.

Sena manis. Penurut. Baik. Dan sopan. Wanita itu memiliki daya magis yang sanggup membuat pria manapun mau menatapnya walau hanya dengan tatanan sederhana. Dan sebagai seorang kawan—yang sudah mengetahui seluk-beluk seorang Lee Donghae luar maupun dalam, Hyukjae jelas merasakan firasat itu. Besar kemungkinan jawabannya adalah ‘ya’.

“Kau mengenalnya.” Hyukjae mengangguk paham. Sekali lagi menyuarakan isi hatinya.

Donghae menelan ludah.

“Kau tahu siapa dia, kalian saling mengenal. Jauh sebelum ini, mungkin. Dan karena alasan itulah kau melarang keras aku untuk mendekatinya. Kau—menyukainya. Benar bukan?”

Mulut Donghae terbuka sebesar dua jari. Apa Lee Hyukjae baru saja menuduhnya? Ah. Tidak tahulah. Hyukjae sangat sulit diberitahu. Lagian, ini bukan perkara dia memiliki perasaan pada Sena atau tidak. Ini—lebih rumit daripada itu. Dan dia menyimpan begitu banyak kesalahan pada Sena. Besar. Oh, atau mungkin sangat besar.

.

Intemporel

.

Sarang melambaikan satu tangannya keatas dengan semangat. Mengibas udara yang ada penuh kekuatan. Dan dengan senyum yang merekah lebar pula, dia berteriak, “Hati-hati, Mimi! Ingat, pulang langsung rumah ya! Jangan kemana-mana lagi!”

“Kau juga! Sampai bertemu besok! Aku duluan! Daaaah…” sahut gadis dengan gigi ompong dua itu tak kalah kerasnya. Membuat Sarang terkikik geli, kik kik kik kik. Terhibur melihat wajah ompong yang dimiliki oleh Han Mimi, teman sekelasnya.

Meloloskan nafas dari mulut, Sarang merapatkan lagi tas yang ada dipunggungnya. Oke, sekarang giliran dirinyalah yang harus siap-siap. Dia harus cepat pulang juga.

Saat ini Sarang sedang berdiri ditengah jalan. Oh, bukan. Emm—bagaimana ya mengatakannya. Ah.. ya, Sarang memang sedang berdiri, tapi tidak ditengah jalan juga. Dia berada tidak jauh dari gerbang sekolah. Posisinya persis sekali ditengah-tengah jalan setapak yang menghubungkannya dengan pintu utama Dong-Ah Elementary School. Dan ya, dia sendiri.

Mata Sarang berkeliling. Melihat banyaknya murid-murid yang menyesaki tempatnya berpijak. Penuh canda dan tawa yang kadang disertai dengan aksi saling kejar atau mendorong. Ada yang berjalan kelompok. Ada yang berlari lantaran orang tuanya sudah menunggu didepan gerbang. Ada pula yang dijemput dengan mobil. Dan terakhir, berjalan sendiri, seperti dirinya.

Sarang menghela nafas lagi. Hari ini, adalah untuk yang pertama kali baginya pulang sendiri. Tanpa ibu. Sangat, sangat, sangat perdana untuknya.

Sebenarnya Sarang tidak takut, dia sudah lama menginginkan hal ini. Dia ‘kan anak pemberani—entah menuruti sifat siapa. Karena ibunya tidak memiliki sifat itu. Ibunya cenderung penakut. Emm—mungkin dari ayahnya. Alis Sarang berkerut. Lalu wajahnya berubah muram. Ayah. Ah.. sudah berapa hari dia tidak melihat rupa itu? Dia jadi merindukannya. Walau… yah ayah tak pernah baik padanya.

Oke kembali lagi. Tadi sampai mana? Oh ya, Sarang sudah menginginkan hal ini sejak lama. Tapi bukannya tegang lantaran perdana pulang sendiri, sejak lima menit lalu—atau sepuluh menit lalu, hati Sarang malah mendadak seperti tidak memiliki beban. Firasatnya berkata, bahwa hari ini dia tidak akan pulang sendiri. Seperti ada yang—

“Lee Sarang!”

Sarang menoleh kearah suara. Jasmine Choi. Gadis cantik yang mirip sekali dengan princess-princess dalam karakter disney itu berlari kearahnya.

“Hai!” sapanya dengan nafas memburu, “Kau mau pulang? Menunggu ibu? Bagaimana kalau kita kedepan bersama? Aku juga akan menunggu Ayah. Ayo jalan berdua saja!” sesuai kebiasaannya, Jasmine memang banyak bicara. Cerewet. Mungkin predikat Putri Elsa yang pernah dia sematkan padanya tempo hari salah. Tidak cocok dengannya. Putri Elsa ‘kan dingin, tidak banyak bicara, tapi Jasmine malah hangat dan ceriwis. Dia lebih mirip Putri Anna yang pecicilan dan banyak tingkah dan cerewet dan terlihat selalu bahagia.

“Ya. Aku akan pulang. Tapi tidak menunggu ibu.”

Jasmine berhenti berjalan, alisnya mengerut. “Kenapa?”

Mengedikkan bahu, Sarang membalas, “Emm—ibu banyak pekerjaan, mungkin. Jadi hari ini dia absen menjemputku.”

“Oh. Itu kedengaran seperti Ayahku.” Jasmine tertawa dengan lebar, ha ha ha ha. “Eh, bagaimana jika kau ikut denganku saja, hm? Aku akan meminta ayah mengantarmu pulang lagi.”

“Naik mobil bagus itu?”

“Mob—eh, apa kau bilang?” sekali lagi, Jasmine mengerutkan alis. Telinganya, tidak salah dengar ‘kan?

“Mobil bagus.”

Mendengar kesungguhan Sarang yang dibungkus oleh keluguan, Jasmine tertawa lagi. Lebih keras. Mengundang tatapan aneh dari Sarang. Apa dia salah bicara? Bukankah mobil ayahnya Jasmine memang bagus? Sarang tidak pernah melihat mobil itu di Korea. Sudah pasti itu keluaran luar negeri.

“Jasmine, kau kenapa? Hei, berhenti tertawa. Jas—”

“Sarang, kau lucu sekali. Haha. Iya, iya, aku akan berhenti tertawa.” Jasmine memberikan peragaan menutup mulut dengan kunci saat melihat wajah Sarang memerah lantaran malu dan kesal. “Jadi, ikut denganku saja. Bagaimana? Naik mobil bagus. Hm?” Alis Jasmine bergerak-gerak keatas – kebawah. Jelas sekali sedang menggoda Sarang.

“Bolehkah? Oke! Tentu saja!” Senyum gadis bermarga Lee itu kembali merekah lebar—seperti sakura di musim semi. Dia mengangguk antusias. Hei, ayolah, siapa yang mau menolak jika ditumpangi dengan mobil keren yang dimiliki oleh ayah Jasmine? Sarang jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu lagi. Ini sesuatu yang langka. Dan.. oh tunggu—apakah ini yang membuat hatinya serasa tak memiliki beban? Karena tawaran ini? Hng.. Pantas saja.

Mereka kemudian kembali berjalan beriringan. Lebih tepatnya, Jasmine menyamakan langkahnya dengan langkah Sarang yang tersendat-sendat. Karena Sarang memang tidak bisa berjalan secepat dirinya, apalagi berlari. Hingga tiba di gerbang sekolah, sebuah suara memanggil namanya. Lembut, halus, rendah dan—enak didengar?

Jasmine menoleh kearah suara, lalu, “Ibu dokter?!” pekiknya dengan kedua kelopak mata yang melebar. Untuk sesaat, dia melupakan Sarang. Berlari kearah seorang perempuan tinggi dan berkulit putih yang menyapanya tidak jauh dari sebuah mobil. “Kenapa ibu dokter disini?” tanyanya lagi.

“Menjemputmu, tentu saja.” Sahut perempuan itu.

“Ayah?” tanyanya sambil celingak-celinguk. Tapi tidak ada mobil kepemilikan Choi Siwon disini. Ah, Jasmine tahu benar yang seperti ini. Itu berarti ayahnya memang tidak datang.

“Sibuk dengan pekerjaan.”

“Sibuk dengan pekerjaan.”

Desah mereka bersamaan. Lalu tak lama, kedua manusia sejenis namun berbeda umur itupun sama-sama membelalak. Lantas terkekeh. Yang satu kencang, yang satu biasa saja. Bisa tebak sendiri siapa pemilik tawa kencang tersebut.

“Sudah kuduga.” Timpal Jasmine lagi. Dibalas oleh anggukan perempuan itu. “Tapi, kenapa ibu dokter yang menjemput Jasmine kesini? Apa Ayah kekurangan anak buah?”

Perempuan itu terkekeh lagi. Kali ini lebih geli. Gemas dengan mulut ceplas-ceplos gadis berusia tujuh tahun didepannya. “Bisa jadi, Jasmine,” sahutnya dengan gedikkan bahu dan kerlingan mata. Mengundang Jasmine untuk menepuk dada bangga. Seolah tebakannya adalah sesuatu yang jarang dipikirkan oleh orang-orang.

“Tapi, kenapa ibu dokter memakai gaun yang cantik sekali jika hanya untuk menjemputku? Apa kita akan pergi?”

Loh, memangnya Jasmine lupa?”

Alis Jasmine mengerut. Lupa apa? Memang benar ya mereka akan pergi? Tunggu, biar Jasmine ingat-ingat. Emm apa ya? Sebentar— “Ah, Ya!” gadis cilik itu menepuk dahinya keras-keras. “Hari ini pesta pernikahan Uncle Shim! Iya ‘kan? Aduh! Kenapa Jas bisa lupa?”

Lisa—perempuan itu mencubit gemas pipi Jasmine yang memiliki rona merah. Persis sekali dengan mendiang ibunya. “Padahal Jas masih kecil. Tapi kenapa sudah pelupa begitu ya?” ejeknya.

“Mungkin kurang vitamin, ibu dokter.” Balas anak itu dengan cengiran lebar. Menampilkan seluruh deret giginya yang mungil, tentu dengan dua gigi seri atas yang menyerupai kelinci. Namun cengiran itu langsung menyurut begitu dia mengingat sesuatu lagi. Ah, lebih tepatnya seseorang. Dia buru-buru menoleh kebelakang. Dan… oh—untunglah Lee Sarang masih ditempatnya. Fiyuh. Dia kira temannya itu sudah menghilang karena sempat dilupakan olehnya.

Jasmine berbalik, mengajak Sarang untuk mendekati perempuan itu. Menyapa ibu dokter yang sangat, sangat, sangat cantik. Lantas berkata, “Sarang, kenalkan ini Bibi Lisa. Tapi aku lebih sering menyebutnya ibu dokter. Karena dia memang seorang dokter. Cantik bukan? Aku saja sampai iri. Dan Bibi, ini adalah Lee Sarang, teman sekelasku. Ayo, berkenalan!” cerocos Jasmine seperti tembakan air.

“Halo Sarang! Aku Lisa, kau bisa memanggilku apa saja. Bibi. Aunty. Atau memanggil ibu dokter seperti Jasmine memanggilku pun tidak apa. Senang bertemu denganmu, Manis..” ucapnya dengan senyum ramah. Kelewat ramah malah. Hingga mampu membuat Sarang yang sejak tadi terpaku erat padanya, kini mengerjapkan mata.

“O-oh, ya. Ha—lo.. Snow White.” ucapnya penuh kekaguman.

He?

Kedua alis Lisa dan Jasmine mengerut. Mereka kemudian saling berpandangan. Tidak mengerti kenapa Sarang berkata seperti itu. Snow White. Maksudnya?

“Sara—”

“Eh? Eng… Bolehkah aku memanggilmu Snow White? Aku Lee Sarang,” ucapnya dengan tubuh membungkuk. Tak memedulikan Jasmine yang terbengong lantaran kalimatnya terputus.

Awalnya Lisa memandang heran pada Sarang, tapi saat melihat tatapan Sarang yang—ekhem, seperti memujanya, dia pun kembali tersenyum manis. Ini hal yang biasa terjadi pada anak-anak, pikirnya.

“Kenapa kau memanggil ibu dokter dengan sebutan itu Sarang?” Jasmine bertanya lagi. Menyelesaikan kalimat yang tadi sempat diputus. Mewakili Lisa yang hendak bertanya seperti itu juga. Karena jujur saja, Lisa pun penasaran pada alasan gadis cilik ini yang memberinya title sesuai dengan nama salah satu princess yang sangat terkenal itu.

Sarang berdeham. Menggaruk pipinya yang tidak gatal. Bibirnya menyengir malu. Ah, dia hanya bermaksud memuji perempuan cantik ini saja kok. Tidak lebih. “Karena—emm… Bibi Lisa kulitnya putih sekali. Seperti salju. Bersih. Lalu rambutnya pendek, berwarna hitam dan tebal. Memakai gaun lagi. Jadi terlihat seperti princess. Snow White.”

Untuk sesaat Lisa terbengong. Namun setelah itu, dia dibuat tertawa dengan keluguan gadis cilik dihadapannya ini. Tak lupa seraya menyelipkan ucapan terima kasih. Tidak seperti Jasmine yang hanya melotot tak percaya. Bagaimana bisa Sarang mengucapkan kalimat seperti itu dengan lancarnya? Wah. Jasmine benar-benar tidak menyangka. Walau, yah harus dia akui bahwa hampir seratus persen perkataannya adalah benar. Ibu dokter memang sangat, sangat, sangat cantik. Kulitnya sangat, sangat, sangat putih. Halus. Dan bersih. Rambutnya tebal sekali.

Sayang, ibu dokter tidak menjadi kekasih ayahnya. Malah menjadi kekasih dari paman yang sangat, sangat, sangat menyebalkan. Dan galak. Dan yaa.. tampan.

“Hei, Kalian! Apa kalian akan terus berdiri disana?! Cepat sedikit bisa ‘kan?”

Nah. Itu dia suaranya. Cho Kyuhyun. Siapa lagi, kalau bukan dia? Pemilik suara ketus dan tampang menyebalkan. Untung saja pamannya yang satu ini tampan—walau, yah… kalah tampan dari ayahnya—jadi Jasmine masih bisa menyayanginya. Coba saja kalau sudah menyebalkan seperti itu tapi tampangnya seperti Paman Hyukjae, ugh, sudah pasti akan Jasmine depak dari daftar teman baik ayah.

“Ibu dokter, nanti kita akan melewati jalan Seochi-dong ‘kan?” tanya Jasmine sebelum Lisa berbalik. Mengabaikan omelan Kyuhyun yang berada didalam mobil.

“Kenapa memang?”

“Kita antar Sarang pulang dulu ya? Ibunya tidak bisa menjemput. Dan Jasmine sudah menawarinya untuk ikut.”

Mata Lisa kembali memandang Sarang. Wajahnya. Keluguannya. Matanya. Senyumnya. Rambutnya. Tubuhnya. Dan… kakinya. Tunggu, apa anak ini cacat? Ada kruk dibawah ketiaknya. Oh, Lisa lupa. Tadi bahkan, saat akan menghampirinya, Sarang dibantu oleh Jasmine untuk berjalan. Sudah jelas anak ini cacat.

“Tidak masalah,” dia memberikan tanggapan. “Sekarang, ayo kita masuk ke dalam mobil sebelum pria yang ada didalam sana berubah menjadi monster jelek. Ayo, Sarang!” tangannya mengibas, menyuruh Sarang untuk berjalan lebih dulu. Mengikuti Jasmine yang sudah membuka pintu penumpang.

“Halo Paman!” sapa Jasmine riang. Sarang sudah duduk disampingnya. Tepat dibalik kursi Lisa. “Whoah… tampan sekali hari ini. Tumben,” celetuknya seraya terkikik geli, kik kik kik kik. Dibalas oleh Kyuhyun dengan sebuah dengusan. “Oh iya, Jas lupa. Paman ‘kan juga akan datang ke pesta itu ya?”

“Terserah apa katamu sajalah bocah kecil.” Sahut Kyuhyun ketus, lalu menyalakan mesin mobilnya. Ya, dia sudah terbiasa dengan suara ribut Jasmine. Bahkan semuanya. Anak gadis milik Choi Siwon ini memang suka sekali bicara. Jadi biarkan saja, nanti juga kalau baterainya habis, akan diam sendiri.

Lisa yang sejak tadi memperhatikan mereka, tersenyum geli. Jasmine memang suka sekali meledek Kyuhyun yang jarang berbicara. Disebut inilah. Disebut itulah. Sesuka hatinya saja. Jadi, pemandangan yang seperti ini sudah biasa baginya. Beda jika sudah bertemu dengan Donghae, yang terjadi malah sebaliknya. Karena Jasmine akan merengut seharian jika pria pendek Lee itu sudah gencar menggodanya. Donghae sangat menyukai Jasmine, Tapi Jasmine tidak menyukainya.

“Oh ya, Kyu. Jasmine bilang, kita antarkan Sarang dulu kerumahnya sebelum pergi kesana.” Kesana yang Lisa maksud adalah pesta pernikahan Changmin dan Irene. Walau seharusnya, mereka sudah tiba di gedung resepsi itu sejak tadi. Jika saja Siwon tidak meneleponnyan tiba-tiba dan meminta mereka menjemput putrinya. Pria itu sendiri baru akan menyusul setelah pertemuan dengan klien-nya selesai. Memanfaatkan teman selagi berbisnis. Benar-benar tipikal Choi Siwon.

“Sarang?” tanya Kyuhyun mengalihkan tatapannya sebentar pada Lisa.

“Jangan bilang Paman tidak sadar kalau ada makhluk lain lagi seumuranku disini,” cetus Jasmine. Mengundang kerutan didahi Kyuhyun. Dan begitu mobilnya tiba diperempatan jalan, dia sempatkan diri untuk menoleh kebelakang. Begitu melihat sosok gadis cilik dengan rambut panjang dan kepangan yang menyerupai bandana diatas kepalanya, mata Kyuhyun langsung terpaku. Gadis itu tersenyum padanya.

Deg.

Senyum itu sangat tidak asing. Sungguh. Kyuhyun bahkan seperti dilempar ke masa silam saat melihat wajah malu-malu tersebut. Dan… tatapan itu. Entah apa yang merasuki dirinya, dia seperti mengenal baik tatapan lugu tersebut. Kyuhyun buru-buru memutar tubuhnya. Meredakan degup jantungnya yang berdetak tak menentu. Gadis itu…

“Namanya Lee Sarang, Paman. Dia teman sekelasku. Sarang biasa dijemput oleh ibunya. Tapi karena hari ini ibunya tidak bisa datang, jadi Jas ajak saja pulang bersama. Iya ‘kan Sarang?” jelas Jasmine. Dibalas gadis bernama Sarang itu dengan anggukan kuat dan senyum lebar. Kyuhyun bisa melihatnya dari kaca spion. Ah dadanya— didalam sana jantungnya bekerja tidak baik. Ada apa ini?

“Memangnya, kenapa ibumu tidak bisa menjemput Sarang?” telinga Kyuhyun menangkap dengan jelas suara Lisa. Seperti biasa, wanita itu bertanya dengan nada yang perhatian dan ramah dan lembut dan keibuan. Jenis suara yang selalu dia keluarkan jika berhubungan dengan anak kecil.

“Ibu bekerja. Dan hari ini, dia sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak bisa menjemputku. Snow… White.” Balas Sarang dengan senyum malu-malu begitu menyebut panggilan anehnya untuk dokter cantik itu

Kyuhyun tertegun. Tunggu, Snow— Snow White? Tiba-tiba saja Kyuhyun ingin menarik satu sudut bibirnya keatas. Kenapa anak itu memanggil Lisa dengan sebutan seperti itu?

“Ibu dokter tahu tidak, ibunya Sarang itu bekerja di—emm.. di berapa tempat ya Sarang? Ah iya, dua. Dua tempat. Hebat ya? Jas pernah bertemu dengan ibunya Sarang. Cantiiiiik sekali. Tinggi, seperti ibu dokter. Hanya saja rambutnya panjang bergelombang dan kulitnya tidak seputih ibu dokter,” cetus Jasmine tanpa arahan.

“Kau bilang ibuku cantik?” sahut Sarang dengan tatapan tak percayanya. “Tapi, yah ibuku memang cantik, Snow White. Bola matanya seperti biji salak. Besar dan berwarna coklat utuh. Sarang pikir dia perempuan paling cantik yang pernah Sarang temui dan miliki. Tapi saat melihatmu, Sarang pikir, Snow White lebih cantik dibanding ibu,” Sarang menimpali dengan cengiran lebar. Lagi-lagi dia memuji. Lalu dia dan Jasmine terkikik geli bersamaan.

“Ohya?” tanya Lisa sangsi. Namun terharu juga karena sejak tadi Sarang tak bisa berhenti menatapnya dengan tatapan memuja.

Sarang kembali memberikan anggukan kuat. Mengundang—lagi-lagi—tawa renyah lahir dari bibir Lisa. Kyuhyun sebagai satu-satunya lelaki yang ada disana hanya bisa mendengarkan. Dia akui, Lisa memang sangat cantik. Dia bahkan sampai pernah menjatuhkan rahang saat pertama kali melihatnya. Terlebih kulitnya yang halus seperti bayi, memberikannya nilai plus.

“Ah andai saja ibu Jas masih ada, pasti akan Jas pamerkan pada kalian semua.” Raut Jasmine berubah mendung seketika. Mengingat bahwa dia tidak memiliki wanita dewasa yang bisa dipanggilnya ‘ibu’. Benar-benar hanya sebuah ‘ibu’ tanpa embel-embel apapun. Sepanjang hidupnya, dia hanya memiliki Bibi Ahn –pengasuhnya— dan Ibu dokter –wanita cantik yang selama ini menjadi temannya.

“Kau boleh menganggap ibuku sebagai ibumu juga, Jasmine,” cetus Sarang. Pun tak lupa dengan senyumnya yang merekah lebar.

Jasmine mendelik. “Benarkah?”

Sekali lagi, Sarang mengangguk kuat. “Kau bilang ibu kita memiliki banyak kesamaan. Ibumu suka pada bunga-bungaan, ibuku juga. Ibumu wanita yang lembut, ibuku juga. Jadi, jangan sedih lagi. Anggap saja ibuku sebagai ibumu.” Katanya dengan nada bangga.

Dagu Jasmine berkerut, bibirnya sedikit mencebik kedepan. Itu ekspresi terharunya. Lalu tak lama, dengan sebuah dorongan kuat, Jasmine memeluk Sarang. Erat sekali. Hingga si gadis Lee meringis. Lalu mengucapkan kalimat, “Huwaaah… Terima kasih! Terima kasih! Kau tidak akan berbohong ‘kan? Kalau begitu, bolehkah aku memanggilnya ‘ibu’ juga?”

“Tentu saja boleh!”

Jasmine melepaskan pelukannya. Menganga lebar. Dramatis. Sebelum kemudian, “Paman! Paman! Paman dengar ‘kan? Jas sudah memiliki ibu baru. Catat itu; Ibu. Baru. Jadi Paman tidak perlu takut kalau nanti, Jas akan merebut Ibu dokter lagi. Oke? Huwaaaahh…” Jasmine bersorak didalam mobil. Tangannya menggapai-gapai pundak Kyuhyun. Maksudnya adalah ingin membagi kebahagiaan, yang menurut Kyuhyun lebih mirip penyiksaan. Bagaimana tidak, kalau saat ini kemejanya ditarik-tarik sementara dia harus berkonsentrasi penuh menatap kedepan. Dan suaranya yang melengking keras itu, memenuhi seluruh ruangan dalam Jaguarnya. Jadi sebagai balasan reaksi, dia dan Lisa hanya saling memandang sekilas, lalu ikut tertawa.

Choi Siwon harus benar-benar mencari ibu untuk Jasmine, mereka rasa.

“Paman dan ibu dokter kapan-kapan harus melihatnya. Oh, Jas bahkan tidak yakin Paman tidak akan terpesona saat melihatnya. Ibu dokter pasti akan cemburu. Iya ‘kan Sarang?” tanya Jasmine dengan tawa membahana saat raut perempuan cantik yang duduk disebelah Kyuhyun merengutkan wajah masam. Pura-pura sebal. Dibalas oleh pria itu hanya dengan sebuah kekehan. Ya, dia jadi penasaran. Sarang sendiri hanya menanggapi pertanyaan Jasmine dengan sebuah anggukan. Dia pun kali ini sama, sedang memiliki euphoria yang bergejolak dalam dadanya. Senang karena bisa berbagi ibu dengan Jasmine yang periang dan sangat, sangat, sangat baik padanya. Padahal mereka baru seminggu berkenalan.

“Memangnya Jasmine tahu, cemburu itu apa?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Tahu, tahu! Kata ayah, cemburu itu sebal saat melihat orang lain senang.”

“Sok tahu! Itu sih namanya iri, Jas.”

He?

“Oh. Tapi ayah—ah sudahlah. Ohya. Emm—siapa ya nama ibumu Sarang?” tanya Jasmine lupa. Sekaligus mengalihkan pembicaraan –well, sesuai kebiasaannya. Hei, padahal baru beberapa hari lalu dia dan ibunya Sarang bertemu, kenapa dia bisa tidak ingat? Ck. Jasmine memang benar-benar kekurangan vitamin.

“Ya. Siapa nama ibumu Sarang? Biar ibu dokter cari tahu secantik apa dia hingga bisa—mengutip dari kalimat Jasmine—membuat ibu dokter cemburu?” ucapnya dengan mata yang menyipit. Tak lupa dengan tangannya yang iseng mencubit hidung Jasmine gemas. Lantas tertawa bersama anak itu.

“Sena.”

Telinga Kyuhyun masih berfungsi baik ‘kan?

“Namanya Lee Sena, Snow White.”

CKIIIIIT

“Kyuhyun!”

“Paman!”

Jasmine dan Lisa memekik bersamaan. Tawa mereka hilang ditelan degup jantung. Sarang pun tak ikut ketinggalan berteriak. Dada keempatnya berdegub sangat cepat. Tiga yang lain karena kaget Kyuhyun mengerem mendadak. Sementara pria itu sendiri karena ucapan Sarang barusan.

Sena. Lee Sena yang itu maksudnya?

Tidak. Ada banyak nama Lee Sena di Korea. Belum tentu yang menjadi ibunya Sarang adalah Lee Sena si mimpi buruknya. Tapi yang mengganggunya; Lee Sena yang dia kenal hanya dia. Dan ucapan Sarang barusan, sukses membuatnya kehilangan arah.

Ayolah, siapa yang akan tahu jika menyangkut tentang takdir dunia akan terasa sesempit ini? Siapa yang akan tahu pula jika ibunya Sarang adalah Lee Sena yang dia kenal saat ini atau bukan? Lalu, tanpa bisa dia duga dan cegah, kejadian dua hari lalu pun muncul ke permukaan. Berdengung memenuhi telinganya seperti nyamuk. Dan kalimat Siwon lah yang menamparnya telak kali ini.

“Jasmine bilang, bahwa dia bekerja didua tempat berbeda.”

—“Ibunya Sarang itu bekerja di—emm.. di berapa tempat ya Sarang? Ah iya, dua. Dua tempat. Hebat ya?”

“Putrinya adalah teman Jasmine.”

—“Namanya Lee Sarang, Paman. Dia teman sekelasku.”

Bisakah tenggelamkan Kyuhyun saat ini juga ke dasar bumi?

Dia menelan ludah berat. Masih mengais sisa-sisa kesadaran yang dimilikinya. Lalu dengan hati-hati, dia menggeserkan kepalanya sedikit guna melirik gadis bernama Lee Sarang itu dari kaca spion didepannya. Tiba-tiba saja ada kebencian yang meluap dalam dadanya. Menyesak seketika. Meraup oksigennya. Senyum itu. Wajah itu. Tatapan itu. Kyuhyun mengenal baik semuanya.

Lee Sarang, putri Lee Sena? Dan dia bertemu dengan anak dari wanita itu? Oh, yah rasanya Kyuhyun ingin terbahak keras. Namun, melakukan hal itu disaat hatinya sibuk membenci sekaligus merindu, bukanlah perkara yang mudah.

“—mendengarku? Kyuhyun? Kyuhyun!”

Mata Kyuhyun mengerjap. Dia terkesiap. Kepalanya berputar ling-lung. Bibirnya terbuka sebesar dua jari, tak bisa mengatup. Kini, irisnya menangkap presensi Lisa yang sedang menatapnya dengan alis mengerut.

“Kau tidak apa-apa?” tanya wanita itu lagi –entah untuk yang keberapa kalinya.

Kyuhyun kembali termenung. Enggan menjawab. Sekali lagi, dia malah menelan ludah. Lalu membuang muka untuk menghindari tatapan cemas wanita itu. Jantungnya kembali berdegup cepat. Kenapa mereka harus bertemu? Kenapa akhir-akhir ini Tuhan suka sekali menjebak dia bersama dengan masa lalunya?

Sarang. Gadis kecil itu adalah bukti bahwa saat ini Sena sudah tidak sendiri lagi. Dan itu—membuatnya kacau? Marah? Benci? Entahlah. Kyuhyun hanya… masih belum menerima. Dan dia pun tidak tahu menerima dalam hal apa. Seharusnya dia membunuh wanita itu saja dulu, jadi mereka tak perlu dipertemukan lagi dengan cara yang seperti ini. Kyuhyun memejamkan mata erat, lantas menggeleng lirih. Ini semua. Masa lalu itu. Kini bercampur menjadi satu. Memporak-porandakan hatinya yang saat ini sudah baik-baik saja.

Atau malah belum sama sekali?

“Paman tidak apa-apa?” telinga Kyuhyun kembali berdenging. Kali ini lebih hebat. Membuatnya meringis pilu dalam diam. Suara itu—akhirnya berbicara juga padanya. Suara milik Lee Sarang. Gadis kecil yang mampu mendisfungsikan kerja otaknya.

Kyuhyun pun kembali masuk kedalam dunia tak tersentuhnya. Mengabaikan tiga orang perempuan yang masih menunggunya untuk berbicara. Disanalah dia terisolasi. Merintih sendirian dengan suara Sena—yang diam-diam dirindukannya dalam kebencian. Menyeruak keatas. Menjeritkan namanya penuh derai air mata. Memohon padanya untuk berhenti. Mengucapkan kalimat maaf berulang kali. Tapi yang Kyuhyun lakukan hanya membutakan mata hatinya. Menulikan telinganya. Dan membuang semua rasa pedulinya.

Dia menggeleng lagi. Coba membuang kilasan memori itu. Ah, tidak, tidak. Kenapa harus seperti ini? Demi Tuhan, kejadian itu… kenapa harus muncul lagi?

Dada Kyuhyun menyentak keras. Membiarkan nyeri memerangkap organ vitalnya. Oh ayolah, itu bukan kesalahannya. Sena lah yang harusnya disalahkan. Wanita itulah yang membuangnya. Bukan dia.

“Kyuhyun.”

Rasa bersalah itu seharusnya bukan miliknya. Tapi milik wanita itu.

“Kyu. Hei—”

“Tidak.” jawabnya cepat. Nyaris membentak. Membuat tubuh Lisa yang sedang condong kepadanya kini menegang dengan dua bola mata yang ikut melebar. Kyuhyun menelan ludah. Shit! Dia kelepasan. Dengan perlahan, setelah mengisi paru-parunya dengan oksigen baru, dia coba memberanikan diri untuk menatap Lisa. Memberikan sebuah senyum palsu untuk perempuan itu. “A-aku… Aku tidak apa-apa. Aku hanya—kupikir aku melupakan sesuatu di kantor, tapi setelah kuingat-ingat ternyata tidak.”

“Ahh… Paman. Jasmine kira ada apa! Jas pikir Paman menabrak kucing liar.” desah gadis cilik Choi dengan suara leganya. Disampingnya, Sarang pun ikut meloloskan nafas lega.

“Maaf. Paman membuatmu takut ya?” tanyanya disertai kekehan canggung.

“Paman pikir saja sendiri!” jawab Jasmine keki. Jangan tanya bagaimana Lisa saat ini, wanita itu hanya bisa mengangguk kaku. Dengan kepala yang dipenuhi berbagai macam pertanyaan tak berujung. Kyuhyun, aneh.

Mobil pun kembali melaju, seperti suara Jasmine yang kembali mendominasi dalam perjalanan mereka. Apapun gadis itu keluarkan. Dia ceritakan. Walau hasilnya setengah-setengah. Karena setiap melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, Jasmine akan langsung berbelok arah. Lalu lupa melanjutkan cerita yang sebelumnya. Oh, jangan tinggalkan sikap pelupanya yang sudah mendarah-daging. Sesuatu yang… yah sudah biasa.

Berbeda dengan Sarang yang lebih banyak diam. Gadis cilik itu sejak tadi tidak bisa melepas pandangannya dari Kyuhyun. Entah untuk alasan apa, tapi kalimat terakhir yang diberikan oleh Kyuhyun, sangat tidak sejalan dengan pikirannya sekarang. Sarang pikir, Pamannya Jasmine itu sedang menyimpan sesuatu tapi tidak mau memberitahunya pada mereka. Dan itu membuatnya penasaran setengah mati.

Dia bahkan masih sibuk menerka-nerka apa yang tengah disembunyikan oleh Kyuhyun saat tanpa sadar, Jasmine memanggil-manggil namanya dengan suaranya yang melengking keras.

“Kau melamun?” tanya Lisa seraya memutar tubuhnya kebelakang begitu dia mendapatkan kembali kesadarannya.

“Ha? Oh, emm—” mata Sarang mengeliling sebentar, lalu kembali terpaku pada Kyuhyun. Paman itu masih menatap lurus kedepan. Raut wajahnya juga masih kaku, terlihat jelas dari garis rahangnya yang mengetat. Dia bahkan tidak ikut menoleh kepadanya seperti yang sekarang dilakukan oleh Jasmine dan Snow White. Ah, tapi kenapa juga Sarang ingin Paman itu menatapnya? Memangnya siapa dia? Lalu, tanpa mau peduli pada Jasmine dan Lisa yang sedang memandangnya dengan alis mengerut, Sarang pun ikut menggulirkan irisnya kedepan, melihat apa yang menjadi titik fokus Cho Kyuhyun.

Tidak ada apa-apa disana. Tidak ada yang menarik. Tapi kenapa Pamannya Jasmine itu betah-betah saja melihat kedepan?

Setelah sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang sia-sia, barulah dia menjawab—setelah sebelumnya mengedikkan bahu dan menarik nafas, “Sarang hanya mengantuk, Snow White. Makanya Sarang diam saja sejak tadi.” ucapnya diikuti cengiran lebar. Terkekeh canggung kemudian.

Jasmine dan Lisa membulatkan mulutnya seraya meloloskan kalimat ‘ooh’ bernada panjang. “Kau sudah sampai, Sarang.” balas Jasmine singkat. Telunjuknya mengarah pada sebuah rumah kecil dengan pagar yang hanya setinggi dadanya.

He?

Sarang menoleh, kemudian menepuk jidatnya. “Oh. Ya, benar. Wah cepat sekali. Tidak terasa sudah sampai saja.”

Kali ini, Kyuhyun ikut memberanikan diri untuk menggulirkan irisnya pada sebuah bangunan yang ditunjuk Jasmine. Matanya tergoda untuk melihat seperti apa rupa tempat tinggal Sena dan keluarganya itu. Namun, belum ada sedetik dia menolehkan kepalanya, bibirnya langsung dibuat berkedut rapat tatkala presensi bangunan itu tertangkap oleh indranya. Dia menelan ludah berat. Apa benar ini tempat tinggal Sena? Ini—rumahnya?

Oh. Hell. Percayalah, rumah itu tidak besar. Tapi kecil –mungil. Bahkan cenderung tidak layak untuk dihuni, menurutnya. Cat temboknya sudah banyak yang mengelupas di beberapa bagian. Warna pintu dan kusen jendelanya pun sudah memudar. Bahkan ada kaca retak disana. Benar-benar deskripsi tempat tinggal yang jauh dari kata wow.

Hanya bunga-bunga yang ditanam dalam berbagai macam warna sajalah yang membuat orang lain percaya bahwa ada penghuni didalam rumah tersebut. Selebihnya nol. Nol besar. Ya, bagi pria kaya seperti dirinya, yang memiliki perusahaan konstruksi sekaligus seorang arsitek, apa bagusnya rumah seperti ini? Dilihat dari luar pun, dia sudah bisa menduga bagaimana keadaan didalamnya. Pasti ada banyak debu yang sulit bertolak dari perabotan-perabotan rumah tangga.

Tak mau terlalu lama mengasihani kondisi rumah tersebut, Kyuhyun kemudian kembali mengagumi bunga yang tumbuh dipekarangan rumah. Kali ini dia akui; sangat indah. Bertolak belakang dengan wujud bangunan yang menyertainya. Sudut bibir Kyuhyun pun terangkat keatas. Ada senyum sinis yang terpatri disana.

Benar-benar pencinta bunga –batinnya.

Namun kekaguman Kyuhyun segera terpatahkan saat suara Sarang kembali menyapa gendang telinganya. “Daaah Jasmine! Daah Snow White! Dah Paman! Terima kasih sudah mau mengantarku! Hati-hati! Sampai bertemu lagi!” tangannya melambai semangat. Bibirnya merekah lebar—seperti sakura dimusim semi. Eh?

Dada Kyuhyun langsung dibuat bergejolak lagi. Tunggu. Selebar-lebarnya Sena tersenyum, wanita itu tidak memiliki senyum yang selebar itu. Lalu darimana gadis itu mendapatkannya? Apa ayahnya?

Kyuhyun kembali menggeleng. Dia buru-buru menarik nafas dalam guna menenangkan jantungnya yang berdetak cepat, lalu menginjak pedal gas agar Jaguarnya bisa kembali melaju. Tidak peduli pada omelan Jasmine yang menyalahkan dirinya lantaran dia belum selesai memberikan pesan-pesan pada Sarang.

Tck. Peduli apa dia?

Barulah ditengah-tengah perjalanan menuju gedung resepsi Changmin dan Irene, saat Lisa dan Jasmine sedang sibuk membahas gaun seperti apa yang sudah disiapkan untuk gadis itu kenakan nanti, suara Kyuhyun yang sejak tadi terbungkam kini memecahkan percakapan mereka.

“Jauhi dia, Jasmine. Jangan berteman lagi dengannya.”

Lisa dan Jasmine langsung berhenti pada percakapan mereka. Yang dewasa mengerutkan alis. Sementara yang muda terdiam. Keduanya sama-sama tidak tahu makna dari kalimat Kyuhyun itu apa.

“Kau boleh berteman dengan anak-anak lain, tapi tidak dengan gadis itu.”

“Paman?” awalnya Jasmine tak mengerti. Dia pikir Kyuhyun hanya sedang bercanda. Tapi begitu melihat raut tegasnya yang tak terbantahkan, dia lantas menoleh pada Lisa—bertanya, yang dibalas perempuan itu oleh gedikan bahu. Tanda tidak tahu. Jasmine terkekeh canggung, coba bersikap biasa. Dia menepuk pundak Kyuhyun dari celah antara kursi kemudi dan kursi penumpang bagian depan. “Oh, ya ampun. Dia memilik nama, kenapa Paman memanggilnya dengan sebutan gadis itu? Lee Sarang. Atau Sarang, Paman ‘kan bisa memanggilnya dengan nama itu.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar. Tapi Lisa menangkapnya sebagai bentuk rasa kefrustasian. Kyuhyun ini kenapa? Sejak tadi diam saja, giliran bersuara malah membicarakan hal yang tidak-tidak. Bahkan tidak dia mengerti.

“Dia anak miskin. Kau tidak pantas bergaul dengannya, Jasmine.” tegasnya lagi.

Mata Lisa dan Jasmine membelalak. Bibir mereka sama-sama terbuka. Tidak percaya pada ucapan pria itu barusan. Tunggu, apa Pamannya barusan sedang menghina Sarang?

“Kyuhyun, kau ini apa-apaan! Jangan berkata seperti itu pada anak kecil!” tolak Lisa dengan nada kesalnya.

“Jasmine, dengarkan Paman,” mengabaikan Lisa yang menasihatinya, Kyuhyun menatap gadis cilik milik Choi Siwon itu dari kaca spion. “Jangan pernah bergaul dengan orang miskin. Mereka—tidak setara dengan kita. Mereka termasuk Sarang, tidak baik untukmu. Jadi, jauhi dia. Kau paham?”

“Hei! Kenapa kau jadi seperti ini? Kupikir tadi masih baik-baik saja. Jasmine, jangan dengarkan kata-kata Pamanmu ini, oke?” Lisa kemudian melirik kebelakang. Namun saat melihat raut Jasmine yang berubah tegang, tiba-tiba saja dia jadi merasa bersalah. Sungguh, Kyuhyun benar-benar kelewatan. Anak ini pasti syok mendengar teman barunya dicela. “Jas—”

“Kenapa Paman melarangku untuk berteman dengan Sarang? Ayah bilang, kita tidak boleh memilih-milih teman. Apalagi melihat seseorang dari statusnya. Miskin ataupun kaya, mereka tetap sama seperti kita…” ungkap Jasmine yang mirip seperti gumaman. Bibirnya mencebik kedepan. Ada rasa tidak terima saat Sarang yang begitu baik harus dihina oleh Pamannya sendiri.

“Ayahmu naïf, Jasmine. Kau tahu, orang miskin bisa melakukan apa saja untuk menaikkan taraf hidup mereka. Sekarang, Jasmine mungkin tidak mengerti. Dan gadis itu pun mungkin akan baik kepadamu seolah tidak meminta imbalan apapun. Tapi nanti?” Kyuhyun menaikkan satu alisnya keatas. Lalu mendengus. “Tinggalkan temanmu yang satu itu, Jasmine. Dia tidak baik untukmu. Jas bahkan bisa mendapatkan banyak teman yang lebih baik dibandingkan dengannya. Dia anak miskin, tidak ada untungnya Jas berteman dengan dia.”

Lisa mendesis dengan gelengan tak percaya. Ada raut kecewa yang terpancar dari wajahnya. Tapi Kyuhyun tidak peduli. Pria itu tetap tidak terpengaruh dan akan tetap pada pendiriannya. Meminta—ah tidak, menyuruh Jasmine untuk tidak berteman dengan orang miskin. Termasuk Sarang, gadis lugu yang beberapa saat lalu masih bergabung dengan mereka. “Kau sadar apa yang kau ucapkan barusan, Kyuhyun?”

Tapi tetap sama. Kyuhyun masih tidak memberikan tanggapan. Mengundang decakan halus keluar dari bibir kekasihnya.

Sementara Jasmine masih terpaku. Gadis itu terdiam. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bersarang dalam pikirannya sekarang;

Ayahnya naïf. Oke. Tapi kalau boleh tahu, apa itu naïf?

Mungkin sekarang dia tidak mengerti, tapi nanti, dia – akan – mengerti. Memangnya apa yang akan terjadi?

Orang miskin bisa melakukan apa saja untuk menaikkan taraf hidupnya. Oh, ayolah, taraf hidup saja Jasmine tidak tahu.

Saat ini Sarang hanya sedang baik padanya, tapi nanti, bisa jadi tidak. Memangnya Sarang akan melakukan apa?

Jasmine meloloskan udara dari mulutnya. Menggeleng keras. Lantas menatap Kyuhyun dengan sorot matanya yang sebal. “Tidak mau!” dia berkeras. Penuh penekanan. “Jas tidak mau mengikuti kata-kata Paman! Sarang anak yang baik! Dia membolehkan Jas memiliki ibunya! Dan Ayah pun tidak melarang Jas untuk berteman dengannya, terus kenapa Paman harus melarangku?!”

.

Intemporel

.

Satu yang terbesit dalam pikirannya adalah: Pesta ini sangat, sangat, sangat mengagumkan. Terlihat wah dengan segala dekorasi yang mempercantik mata. Jangan ditanya berapa jumlah nol yang dikeluarkan untuk membuat pesta yang sebegini meriahnya. Karena Sena pun sulit berandai-andai. Pastinya, sangat banyak uang yang dikeluarkan. Ribuan juta? Atau malah belasan miliar? Sena tidak tahu, tapi dia yakin jumlah Won yang dikeluarkan memang sebanyak itu.

Dia menelan ludah. Haus. Lalu menyempatkan diri untuk mengambil segelas sirup berwarna hijau dari meja yang ada disampingnya. Oh, tidak apa-apa ‘kan jika dia mengambil minuman? Toh Bos-nya sudah bilang, bahwa walaupun disini mereka ditempatkan sebagai pelayan yang ikut membantu mengurus keperluan acara, mereka tetap bisa menjadi tamu yang dipersilahkan untuk mengambil segala sesuatu yang tersedia disini. Semuanya dibebaskan, asal tamu-tamu undangan yang lain tidak akan kehabisan stok makanan.

Sesuatu yang—yah sangat bermoral, setidaknya bagi orang-orang seperti dirinya.

Dua ribu tujuh ratus tujuh puluh lima tamu yang diundang. Dengan begitu megah dan luasnya bangunan yang menjadi lokasi acara saat ini. Bisa bayangkan betapa lelahnya para pelayan yang hanya berjumlah delapan puluh orang serta menghabiskan waktu sekitar dua belas jam disini untuk bolak-balik mengantarkan makanan dan minuman pada tamu yang tak kunjung surut? Itu terasa sangat, sangat, sangat melelahkan. Badan Sena saja rasanya mau remuk, walau dia sudah sempat berisitirahat tadi.

Pesta ini benar-benar indah. Sesuatu yang sangat didambakan oleh semua pasangan di bumi ini. Betapa beruntungnya hidup menjadi orang kaya. Semua akan menjadi begitu mudah jika memiliki uang dalam jumlah banyak. Tak perlu memikirkan apapun dan… TARA!! semua bisa langsung ada didepan mata. Bahkan sesuai dengan keinginan hati.

Menghembuskan nafas, Sena manaruh gelas yang sudah tandas semua isinya di atas meja. Ck, dia benar-benar kehausan ternyata. Wanita itu kemudian berbalik, namun belum sempat dia melangkahkan kakinya, matanya terpaku pada sosok yang baru dikenalnya beberapa hari lalu kini sedang menggandeng tangan seorang wanita. Oh tunggu, dia ternyata juga ada disini? Dan seolah menjawab kebingungannya, sosok itu pun sama. Matanya membelalak begitu menangkap presensinya. Tak lama, sebuah teriakan menggema. Keras dan melengking.

“Bibiiiiii…” sosok itu berlari kearahnya seraya menyeret tangan wanita dewasa lainnya. “Bibi, Hai! Bibi ada disini juga? Bibi sedang apa? Bekerja? Kenapa disini? Oh iya, bibi menggunakan seragam. Waaah… Jasmine tidak menyangka kita akan bertemu disini.” Ucapnya panjang lebar dalam satu tarikan nafas. Jasmine. Sena mengangguk paham. Aah… ya, dia adalah teman Sarang. Dan dia berada disini dengan—tunggu, seorang wanita? Bukankah dia anak piatu?

“H-hai, Jasmine! Apa kabar?” tanyanya kikuk. Pun dengan senyum sopan yang dia tujukan pada perempuan berkulit putih didepannya.

“Aku baik. Aku baik.” akunya dengan semangat yang tak berkurang.

“Kenapa Jasmine disini?” tanyanya.

“Tentu saja menghadiri pesta pernikahan mantanku!”

“Ma—mantan?” wajah Sena berubah tolol. Alisnya mengerut. Eh, Sena tidak salah dengar bukan? Lalu telinganya mendengar suara tawa dari wanita didepannya. Mengundang Sena untuk menatapnya. Lekat. Oh tunggu, sepertinya dia pernah bertemu dengan wanita ini. Tapi dimana ya?

“Jangan dengarkan bocah ini. Dia memang selalu asal!” katanya. Dan saat itulah Sena sadar. Ah ya, kenapa dia tidak peka kalau dia sedang dikerjai anak kecil? Mana mungkin pria dewasa seperti tuan Shim menjadi kekasih dari Jasmine yang masih berumur tujuh tahun?

“Ish! Aku tidak mengasal! Uncle Shim memang mantanku, ibu dokter!” jawabnya dengan muka masam. Tapi itu tidak berlangsung lama setelah dia menatap Sena lagi. “Oh iya, Jasmine mau memberitahu kalau tadi Sarang pulang dengan kami. Iya ‘kan ibu dokter?”

Mata Sena mengerjap. Sarang. Lalu matanya turun pada Jasmine yang masih memakai seragam sekolah. Oh benar, ini sudah lewat jam sekolah. “Sarang diantar oleh kalian?”

“Jadi, kau ibunya Sarang?”

Sena menoleh pada sosok cantik itu. Bibirnya mengulaskan senyum tipis. “Ya, aku ibunya. Sarang tidak merepotkan ‘kan?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Dia anak yang manis. Ah, kalau begitu—namamu, Sena bukan?”

Sekali lagi, Sena mengangguk. Hatinya dibuat lega. Untung saja masih ada orang-orang baik seperti ini. Sejak tadi rasanya dia ingin kabur saja dari sini untuk menemui putrinya. Memastikan bahwa dia tidak apa-apa dan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.

“Tahu tidak, Bi, saking manisnya Sarang sampai memanggil ibu dokter dengan sebutan Snow White. S – n – o – w – w – h – i – t – e. Putih Salju. Benar-benar ya?” celetuk Jasmine.

“B-benarkah? Ah… maaf, maaf. Sarang kadang memang suka berlebihan. Terlebih aku suka mengenalkannya pada serial Princess- Princess Disney. Jadi, yah mungkin karena saking menyukainya, dia jadi memiripkanmu dengan Princess Snow White.  Aduh! Maaf kalau itu mengganggumu.”

Lisa tertawa. Suaranya mengalun dengan indah. Aura dewinya menguar begitu cepat. Membuat Sena yang seorang perempuan saja, sanggup untuk terpesona. Tenggelam dalam keindahannya. Ya, dia paham sekarang, kenapa Sarang memanggilnya dengan sebutan Snow White. Perempuan ini begitu cantik, berambut hitam lebat dan sangat, sangat, sangat putih. Membuatnya merasa malu, lantaran sebagai perempuan Korea, dia tidak memiliki warna kulit seputih para perempuan Korea lainnya. Apalagi jika dibandingkan dengan dia. Ugh. Jauh sekali. Sena memiliki kulit yang agak langsat. Cenderung gelap. Bahkan Sarang suka menyebutnya dengan panggilan, Black Pearl.

*Bayangkan kulitnya Sena itu setara dengan Yuri atau Sooyoung SNSD dan bayangkan kulit Lisa seputih Tiffany SNSD atau Dasom Sistar*

“Tidak. Tidak apa-apa. Aku senang dengan panggilan tersebut. Jarang-jarang ada yang memanggilku seperti itu. Benar ‘kan Jasmine?” Dibalas oleh Jasmine dengan anggukan kuat. “Kalau Bibi mau tahu, aku juga memanggilnya dengan sebutan ibu dokter. Karena Bibi Lisa memang seorang dokter. Dokter yang cantik.” tambahnya dengan kekehan.

Sena ikut menyengir. Lantas mengangguk, ya ibu dokter, tadi dia mendengarnya sendiri. Dan, oh, namanya Lisa—seperti nama orang asing. Iya tidak sih? Tapi jika dilihat dari bola matanya yang berwarna biru dengan sedikit gurat-gurat kecoklatan, memang wajar jika perempuan didepannya ini memiliki nama asing tersebut. Dan dari semua bagian tubuhnya, selain kulit putihnya yang halus, warna bola mata itulah yang sanggup menarik perhatian orang lain. Termasuk dirinya.

“Sekali lagi, terima kasih sudah mau mengantarkan Sarang. Karena—yah kau tahu, Sarang sedikit berbeda. Aku jelas lega mendengar hal ini. Terima kasih banyak, Lisa-ssi.”

My pleasure, Sena.”

“Ohya, Bibi…” dengan sedikit malu-malu, Jasmine berpindah tempat. Berdiri disamping Sena, lalu dengan tiba-tiba, kedua tangannya yang mungil meraih sebelah tangan wanita itu. Menggenggamnya erat, hingga Sena bisa merasakan kehangatan dan kegugupan sekaligus. Eh tunggu, kenapa dia harus gugup saat Jasmine menggenggam tangannya seperti ini? Aneh. “Emm—Bibi tahu tidak, tadi Sarang bilang—kalau… kalau Jas boleh menganggap Bibi Sena sebagai ibu Jas sendiri. Karena Bibi memang mirip dengan ibu Jas. Dan Jas juga ingin memiliki ibu. Emm—apa… apa Bibi tidak keberatan? Bibi mau ‘kan emm… Jasmine anggap sebagai ibu Jas juga?” mata anak itu naik, dengan pipinya yang memerah, menatap Sena penuh harap. Catat. Penuh harap!

Sedangkan disisi lain, Sena menatapnya… Tidak percaya? Syok? Ya, perasaan semacam itu. Jangan tanya bagaimana inginnya wanita bermarga Lee tersebut untuk tertawa. Dia jelas sedang terhibur dengan sikap malu-malu Jasmine. Apa ini?

“Apa—Jasmine boleh, emm—itu… emm—Aduh! Jasmine mengaduh dalam hati. Kenapa sulit sekali untuk menyelesaikan kalimat itu?! Dan pada akhirnya, dia hanya bisa mendengus. Membuat kedua wanita dewasa lain yang berada disekelilingnya ini menatap penuh tanya.

“Jasmine ada apa?” Sena melepas genggaman tangan Jasmine, lalu mengubahnya menjadi tangkupan pada pipi anak itu begitu matanya yang bulat berangsur-angsur meredup. Eh, kenapa jadi begini?

“Ah—ti-tidak jadi. Hehe. Tidak apa-apa.” Jasmine melepaskan tangan Sena dengan berat hati, lalu kembali meraih tangan Lisa. Gadis itu mendesah lalu menarik nafas dalam. Ah dia baru saja akan menyampaikan keinginannya saat ucapan Paman Cho malah kembali mengganggunya. Dia teringat kejadian di mobil tadi, ketika Paman mengatakan bahwa dia tidak boleh berteman dengan Sarang lagi. Itu artinya dia tidak boleh juga berhubungan dengan Bibi Sena. Kalau sudah begini, siapa coba yang tidak terganggu dengan pernyataan tersebut? Sebenarnya Jasmine tidak mau peduli, selama menurutnya baik dan ayah tidak melarang, Jasmine akan tetap berteman dengan Sarang. Tapi entah kenapa, Paman malah mengacaukan pikirannya. Jasmine jadi bingung sekarang. Dan ragu menyelesaikan kalimatnya.

“Jasmine ingin memanggilmu dengan sebutan ibu. Apa boleh?”

He?

Sena terbengong atas kalimat Lisa. Otaknya mendadak macet. Jasmine pun tak berbeda jauh, matanya yang sudah bulat semakin membulat lantaran tak menduga Lisa bisa bicara selancar itu. Ibu dokter tahu apa yang akan disampaikannya? Wah.. ajaib! Dia lantas memutar kepalanya menuju Sena, melihat wanita itu dengan gigi yang sesekali menggigit-gigit bibir. Takut-takut, Jasmine menunggu jawaban Sena. Seperti dia sedang menunggu ijin tercetus dari mulut ayah untuk ikut Summer Camp bersama Henry Oppa. Harap-harap cemas, perasaan yang seperti itu.

Sena menggulirkan irisnya pada Jasmine lagi. Menatap wajah bulat anak itu dengan alis yang terangkat keatas. Seolah bertanya, apa yang dikatakan oleh Lisa adalah benar? Dan seakan tahu arti dibalik tatapan itu, dengan keyakinan utuh pula, Jasmine mengangguk malu-malu. Membuat Sena kembali merasa… hangat? Tapi ingin tertawa juga. Hei, ayolah, ada anak gadis lucu. Dengan pipi tembam dan rona merah dikeduanya, dan berambut cokelat, dan manis, dan menggemaskan meminta ijin darinya agar dia boleh menyebut dirinya sebagai ibunya pula. Seperti anaknya sendiri. Sena jelas tidak akan menolak. Bukankah panggilan ibu untuk seorang wanita terdengar sangat mulia?

“Tentu saja. Jasmine boleh kok melakukannya.” Tegas Sena kemudian. Menghilangkan gurat-gurat keraguan di wajah anak itu, lantas menggantikannya dengan senyum cerah –secerah matahari di musim panas.

“B-benarkah?! Bibi tidak berbohong ‘kan? Janji ya pada Jasmine? Aaaaah senangnya… terima kasih..” Jasmine menghambur kedalam pelukan Sena. Oh lebih tepatnya, dia yang memeluk Sena. Memeluk pinggangya dengan erat. Rasanya seperti mendapatkan kado ulang tahun yang selama ini diinginkannya. Ada euphoria yang menyentak-nyentak dadanya. Setelah ini, dia harus melapor pada Ayah. Masa bodoh pada larangan yang dicetuskan oleh Paman tadi. Toh, ibu dokter mendukungnya. Bahkan ibu dokter yang membantunya berbicara. Ugh, Jasmine senang sekali memiliki dua wanita ini. Oh, jangan lupakan dengan Sarang. Ya, Jasmine senang memiliki teman baik sepertinya. Ini benar-benar seperti hadiah dari Tuhan.

Namun, kebahagiaan itu harus berhenti tatkala sebuah suara mempakemkan tawa dari ketiganya. Suara yang sangat cempreng, tinggi dan… oh tunggu, ini suara kekasih Jasmine.

Mam! Kau disini? Whoah… sepertinya kalian senang sekali. Apa yang terjadi? Sedang ap—Oh, Sena?!”

Sena menolehkan kepalanya pada Henry. Untuk sesaat matanya melebar, lalu dengan nada terburu-buru, dia membungkuk sopan. “O-oh Tuan, selamat datang.”

“Henry Oppa!” pekik Jasmine menyambar kemudian. Mengalihkan tatapan Henry.

Oh, my pretty babygirl Jasmine, Hallo! Long time no see you. I miss you so sweetheart~” balasnya tak kalah riang lalu membawa Jasmine masuk kedalam gendongannya. “Apa kau baru saja pulang dari sekolah? Hm?” tanyanya seraya mengecup ringan pipi merah gadis itu. “Oh. Oppa sudah sangat, sangat, sangat merindukanmu,” lanjutnya lagi hiperbolis. Jangan lupakan dengan rautnya yang dibuat seolah—ugh, membuat Lisa ingin sekali melempar sepatu hak-nya kedepan wajah itu.

“Ya! Ibu dokter dan paman menyebalkan itu yang menjemputku,” telunjuknya mengarah pada Lisa.

Yeah… aku tahu, Ayahmu pasti sedang sok sibuk. Batang hidungnya saja tidak kelihatan sejak tadi,” gumam Henry seraya mengangguk maklum. Sudah biasa. Lalu matanya terpaku lagi pada sosok wanita didepannya. Bukan Lisa. Tapi satu yang menggunakan seragam pelayan. “Eh.. Kau juga disini? Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Hehe. Tapi kau—” memakai seragam pelayan? Henry ingin mengatakan kalimat tersebut, tapi bukankah itu terdengar tidak sopan?

“Y-ye. Emm—saya salah satu pegawai di restoran Jepang milik ibu Kim. Dan, saya diundang sekaligus bekerja juga untuk membantu melayani keperluan disini. S-seperti itu kira-kira. Yah…” jawab Sena rikuh. Senyum tipis coba dia berikan sekadar untuk menghormati tamu seperti Henry. Dia kemudian menyelipkan helaian rambutnya kebelakang telinga. Gugup. Gestur yang tanpa dia sadari membuat kaki seorang Henry Lau men-jelly. Oh my… wanita didepannya memang minta diajak ke kamar.

“Kalian saling mengenal?” tanya Lisa menginterupsi. Dia menatap Henry dan Sena secara bergantian. Tunggu, sudah berapa banyak orang terdekatnya yang mengenal wanita ini? Tadi Jasmine dan sekarang Henry. Tidak akan heran kalau Siwon lah yang mengenal wanita ini. Tapi nyatanya…

“Apa kau lupa? Dia wanita yang aku dan Hyukjae Hyung tolong dari sikap anarkis anak-anak ingusan di klub tempo lalu.”

Alis Lisa berkerut samar. Klub? Jadi Sena bekerja di klub juga? Yah, Jasmine memang mengatakan tadi bahwa ibunya Sarang bekerja di dua tempat, tapi dia sendiri tidak pernah menebak jika salah satunya adalah klub. Dan yang lebih mengejutkan lagi, klub tersebut adalah klub yang biasa menjadi tempat tongkrongan Henry dan yang lainnya berkumpul. Kalau begitu, bisa jadi Kyuhyun juga mengenalnya. Wah, dunia sempit sekali ternyata.

Sena sendiri menatap Lisa baik-baik dari sudut matanya. Wanita ini berambut pendek. Dan dia bilang tadi, bahwa dia juga seperti pernah melihatnya. Tapi tidak ingat dimana. Otaknya pun dibuat bekerja untuk mencari celah mengenai memori dimalam itu. Apa ada Lisa disana? Untuk beberapa saat dia habiskan berpikir, hingga pada detik kesekian puluh, bibirnya langsung terbuka saat ingat bahwa Lisa adalah wanita yang—tunggu, Lisa berdiri disebelah Siwon dan… sebelah Kyuhyun? Ya dia ingat sekali wanita ini diapit oleh kedua pria tinggi itu. Kenapa Sena sampai tidak mengenalnya tadi?

“Ya.. aku tidak ingat. Saat itu aku langsung menyusul Kyuhyun yang pergi begitu saja,” ucapnya disertai dengan kekehan canggung.

Kyuhyun yang pergi begitu saja. Ya, Sena ingat betul bagian tersebut.

“Jadi, Henry Oppa juga sudah mengenal ibu?” tanya Jasmine tiba-tiba. Ikut masuk kedalam lingkaran mereka.

Kini berganti alis Henry yang mengerut. “Jasmine bilang apa? Ibu?” dibalas anggukan antusias dari si gadis cilik. Intuisinya berputar, berbalik seratus delapan puluh derajat, dari yang semestinya. Hei, dia masih ingat betul malam itu Siwon berkata bahwa dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Sena. Lalu kenapa putrinya sekarang malah menyebut Sena dengan panggilan ibu?

Tunggu. Sebenarnya siapa yang gila disini? Kenapa jawaban ayah dan anak berbanding terbalik?

Lisa yang tahu kebingungan Henry pun tertawa. Geli sekali. Lalu dia memutuskan untuk mendekatinya. Berdiri sangat rapat untuk kemudian membisikinya sesuatu dengan suara yang sangat rendah. Sangat, sangat, sangat rendah hingga Jasmine tidak bisa mendengar. Nafas hangatnya menyapa lembut cuping Henry. “Kau tahu, Jasmine menginginkan pelayan cantik dan lugu itu untuk menjadi ibunya. Kira-kira, menurutmu bagaimana reaksi Siwon Oppa nanti?”

He?

Baik. Baik. Sekarang katakan pada Henry, bagaimana caranya agar tidak terkesiap? Oh God! Dia tidak pernah menyangka kalau Siwon ternyata selangkah lebih maju! Damn it! Dia yang jelas-jelas tertarik lebih dulu pada Sena, kenapa harus Siwon yang memiliki peluang lebih besar? Argh!

Tubuh Henry yang menegang, membuat Lisa semakin terkekeh geli. Apakah Henry seterkejut itu? Lisa menggeleng tak percaya. Dia bahkan masih sibuk dengan tawanya saat raut Sena dan Jasmine berubah menjadi raut heran. Bertanya-tanya apa yang baru saja dikatakan Lisa pada Henry hingga membuat pria itu terlihat syok. Sampai satu lagi suara lain, menghentikan kesibukan mereka masing-masing. Entah yang menegang. Yang tertawa. Atau yang bertanya-tanya dalam tempurung kepalanya.

“Aku mencari kalian kemana-mana. Ternyata malah pada berkumpul disini. Tertawa-tawa lagi. Hei. Lisa, Henry, apa yang kalian lakukan? Kenapa berdiri sedekat itu hah?”

Yang paling terkejut adalah Sena. Tak ada lagi raut keheranan yang sekon lalu masih menghiasi wajahnya. Kini sekujur tubuhnya berubah menegang. Bahkan, detak jantungnya sempat terhenti beberapa saat. Cho Kyuhyun. Pria itu datang, mendekati dua orang yang berdiri tidak jauh darinya. Lantas menarik sang wanita untuk berdiri disampingnya.

“Apa yang kau lakukan dengannya? Kau sadar tidak itu dekat sekali?” suaranya terdengar ketus. Ah tidak, Sena yakin betul itu bukan hanya sekadar ketus. Tapi… cemburu? Kini jantungnya dibuat berdetak cepat. Tunggu dulu, jangan bilang kalau Lisa adalah…

“Marahi saja Paman! Ibu dokter memang kecentilan dengan kekasihku! Tertawa tapi tidak mengajak-ajak!” sahut Jasmine dengan tampang juteknya. Lantas semakin mengeratkan kalungannya pada leher Henry. Seolah memberitahu Lisa bahwa pria putih ini adalah miliknya. Jadi, tolong, jaga jarak.

Aigoo… anak ini. Persis sekali denganmu, Cho Kyuhyun. Cemburuan. Jasmine Sayang, ibu dokter tidak akan merebut Henry Oppa-mu. Tenang saja. Lihat, sudah ada Paman super duper menyebalkan disini. Jadi tidak usah takut. Oke?” balas Lisa disertai kekehan. Dia meraih sebelah lengan Kyuhyun, lantas memeluknya seperti Jasmine memeluk leher Henry. Hal tersebut, sudah cukup untuk membuat Sena tahu bahwa hubungan mereka tidak sekadar biasa. Mereka adalah sepasang kekasih. Ya, apalagi kalau bukan itu. Lalu, tanpa tahu apa alasan yang membuatnya begini, dia merasakan nyeri menyulut ulu hatinya. Disana, entah kenapa rasanya sakit sekali. Ada rasa… cemburu.

Perlahan demi perlahan, dia berjalan mundur. Sebelum Kyuhyun menyadari keberadaannya disini, bukankah lebih baik dia pergi? Lagipula masih hangat dalam ingatannya atas perintah pria itu yang terakhir kali. Jangan sampai dia terlihat oleh kedua matanya. Atau kalau tidak, dia akan menanggung risikonya.

Sena tersenyum pedih. Kemudian berbalik. Melenyapkan tubuhnya dilautan manusia. Membentang jarak tak kasat mata yang memisahkannya dengan orang yang dirindukannya dalam diam selama ini. Matanya memanas. Bodoh. Dia bahkan rela menanggung semua risiko yang akan diberikan oleh Kyuhyun padanya, asal bukan kebencian yang dia terima. Dia juga rela jika Kyuhyun ingin menyakiti fisiknya lagi, asal bukan tatapan jijik yang pria itu berikan padanya. Karena itu malah semakin melukai batinnya. Tapi kebencian Kyuhyun terhadapnya, seperti sebuah keabadian. Terbukti dengan berlalunya tahun-tahun yang mereka lewati, Kyuhyun masih tidak ingin melihatnya. Sorotnya pun masih sama—tidak ada cinta untuknya.

Lama Sena berjalan dengan tatapan kosong. Tanpa sadar, bahunya yang kecil melanggar dada bidang seorang pria. Sepasang kakinya yang tidak menapak dengan benar, seketika goyah. Dan dia sudah dipastikan akan jatuh kalau saja pria itu tidak tangkas menangkap lengannya.

Tes.

Sena tidak bisa menahan air mata nya. Ya, nyatanya sekuat apapun dia menyimpannya dalam-dalan, pasti akan terjatuh juga. Seperti bendungan yang meluap saat musim hujan tiba, kubik airnya yang semakin terisi penuh akan menyapa tepi pada akhirnya.

“Hati-hati,” pria itu berkata demikian padanya.

Sena tidak menjawab. Tidak juga berpaling. Tatapannya masih jauh. Kosong. Hingga sekon melepaskan keterpakuannya, dia mulai mengangkat kepala. Memberanikan diri untuk menatap seseorang yang ditabraknya.

Tatapan teduh itu.

Kerinduan itu.

“O-oppa.” Ucapnya rendah. Sangat rendah.

.

Intemporel

.

Ketiga kali sejak aku menemukannya lagi, perempuan itu berjalan kearahku dengan air mata yang menggenang dikelopaknya.

Dia berjalan diantara sekumpulan manusia yang menyesaki gedung pernikahan sahabatku. Sosoknya yang ramping melewati sebuah pintu kaca yang dibiarkan terbuka. Langkahnya agak terhuyung. Tatapannya kosong.

Perempuan itu berjalan kearahku, tapi tidak melihatku. Dia menubrukku. Bahunya yang kecil melanggar dadaku yang bidang. Sepasang kakinya yang tidak menapak dengan benar, hampir saja membuatnya terjatuh jika aku tidak cepat-cepat meraih kedua lengannya.

Air matanya menetes tanpa bisa kuduga. Dia tetaplah sama. Kuat. Namun tidak sekuat yang kubayangkan selama ini.

“Hati-hati,” hanya itu yang kuucapkan.

Dia tidak menyahut. Sama sekali tidak melihat kearahku. Beberapa detik dia habiskan untuk terdiam, hingga perlahan demi perlahan, kepalanya terangkat. Mata kami bertemu. Membekukan waktu. Lalu suara lirih itu kembali terdengar.

“O-oppa.”

Aku coba menarik kedua sudut bibirku, memberikannya seulas senyum walau tipis. Dan detik itu juga tangisnya pecah. Tidak bersuara. Perempuan itu sekuat tenaga menahannya, sementara kedua tanganku mengepal dimasing-masing tubuh. Ingin memeluknya tapi takut dia menolak.

.

Intemporel

.

Lima belas menit. Sebanyak itu waktu yang kuhabiskan untuk duduk bersama Sena. Disisi gedung yang menyediakan sebuah taman. Diatas kursi yang terbuat dari kayu. Kami membisu. Aku hanya diam. Dia pun diam. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Tapi yang jelas, aku sedang menunggunya merampungkan duka yang tergambar jelas dari ekspresi wajahnya saat ini. Walau dari sudut manapun, dukanya mungkin tidak akan pernah berhenti jika tidak ada yang mau mengobati.

Aku menggeser kepalaku, melihatnya dari samping. Mengagumi mahakarya Tuhan yang berada tepat didepan mataku. Hidungnya yang bangir. Bulu matanya yang lentik. Bibirnya yang penuh sewarna cherry. Dagunya yang indah. Semua tercetak sempurna jika dilihat dari posisi dudukku. Dia masih orang yang sama. Manis sekaligus sendu disaat yang bersamaan. Tapi aku menyukainya. Sangat, sangat, sangat menyukainya. Aku tidak akan mengatakan bahwa dia cantik, karena yah… cantik itu relatif –kata orang-orang. Tapi jika ada yang berpendapat bahwa Sena adalah wanita cantik, aku akan dengan segera membenarkannya.

“Hai.” Sapaku.

Permulaan yang luar biasa kontras dengan keadaan kami sekarang. Sapaan konyol yang seharusnya dimiliki oleh para anak remaja. Dan… kalimat sederhana yang panjangnya tidak sebanding dengan tahun-tahun kami yang telah berlalu. Aku berdecih pelan, menertawakan diri sendiri.

Dia menoleh. Aku coba mengukirkan senyum lagi, walau sedikit gagal. Sena menatapku sendu. Sesendu rautnya saat ini. Dan dia hanya diam, hanya menatapku lama. Lalu melepaskan tatapan kami. Menghela nafas pendek untuk kemudian berdiri dengan tiba-tiba.

“Sena.” Tahanku dengan mencekal salah satu tangannya. Yang tidak pernah aku sangka, dia akan langsung menepis tanganku dengan wajah ketakutan. Hal yang membuatku tersentak. Aku bahkan bisa melihatnya menelan ludah dengan mata membelalak. Seolah baru sadar bahwa aku adalah bagian dari pria yang pernah menghancurkannya dulu.

“Sena, dengarkan aku.” Kataku lagi dengan cepat begitu dia berbalik. Ingin mengambil langkah. Tanganku kembali meraih—kali ini kedua bahunya. Dia menggeleng takut. Sekuat tenaga mencoba melepaskan cengkraman tanganku. Tapi aku lelaki, aku lebih kuat dibanding dengannya. “Aku tidak akan menyakitimu. Sungguh.” Aku meyakininya. “Hei. Kumohon, jangan menghindar.”

Dia berhenti. Tatapan sendunya kembali. Tapi tak mengapa, paling tidak, ini tidak semenyesakkan saat dia ketakutan melihatku. Sekali lagi, aku coba mengukir senyum. Lalu melepaskan tanganku dari kedua bahunya. Aku berkata, “Terima kasih.”

Disini, ditaman ini, kami kembali terduduk. Sedetik setelah Sena bertahan untuk tidak pergi, tak ada yang kami lakukan lagi. Hanya terdiam. Wanita ini tidak mengeluarkan suara sepatah katapun. Dan aku bingung harus memulai darimana. Terlalu banyak yang ingin kusampaikan tapi terlalu takut juga rasanya untuk mengulang kesakitan lagi.

Tapi inilah yang harus kulakukan bukan? Aku sudah lelah bermain dengan waktu. Karena nyatanya, waktu hanya bisa menyembuhkan luka. Bukan duka.

Sedikit mengambil nafas, aku berdeham. Menatap wajahnya yang—sungguh sangat sialan indah. Aku menelan ludah sebentar, meredakan detak jantungku yang menggila. Untuk kemudian, “Delapan tahun. Tiga bulan sejak kejadian itu, aku mencarimu.” Mulaiku berimprovisasi. Sebisa mungkin menahan desakan-desakan tak kasat mata yang mengganggu kerja organ vital. “Aku dihantui oleh rasa bersalah. Aku memikirkanmu setiap saat. Aku mencari keberadaanmu dimanapun. Tapi tidak berhasil. Kau—” aku berhenti sebentar. Bisa kulihat tubuhnya yang menegang. Aku tahu, aku telah membuka kembali lembar hitam itu. Tapi aku ingin Sena tahu bagaimana aku selama ini. “Kau hilang tak berbekas. Kau tak ada dimanapun. Dan itu—itu membuatku takut.”

Kini aku bisa melihat matanya yang memerah. Air matanya kembali menggenang. Tes. Lalu terjatuh. Ya, kau pasti tidak tahu ‘kan bahwa aku takut kehilanganmu? Bahwa selama ini aku dihantui oleh rasa bersalah?

“Aku memang brengsek. Aku bersalah. Jika saat itu aku bisa menghentikannya, mungkin tidak akan seperti ini. Kau tidak hidup dengan duka. Luka. Atau apapun jenis pesakitan batin yang saat ini kau miliki.”

Semakin lama, semakin banyak likuid yang terjatuh. Kuberanikan diri untuk mengusap air mata yang membasahi pipi tirusnya. Sentuhan pertama. Setelah delapan tahun berlalu. Dan itu cukup membuatku tidak waras. Maka sebelum menginginkan tubuh itu masuk kedalam dekapan, aku menghentikan semuanya. Menarik tanganku kembali.

“Maafkan aku. Maaf karena sudah menyakitimu. Membiarkan monster itu untuk menguasai dirimu. Mungkin ini saja tidak cukup. Tapi percayalah, aku sungguh-sungguh, Sena. Aku. Minta. Maaf.”

Sekali lagi, kami terdiam. Mengisi waktu dengan kelengangan.

“Tidak. Ini semua bukan salahmu. Aku lah yang lebih dulu berkhianat,” ucapnya dengan nafas tersendat. Aku tahu dia sedang menahan tangis. Aku tahu sebesar apa duka itu merajam hatinya. Seandainya dulu aku tahu lebih dulu, ini semua tidak akan terjadi. Perempuan itu tidak akan tersakiti. “Aku yang menciptakan monster itu. Maka harus aku pula yang—yang…” Sena kesulitan meneruskan kalimatnya. Dan aku tidak mau meneruskan percakapan ini lebih lanjut.

Tanganku terulur. Menggenggam tangannya yang— dingin? Ini musim semi, omong-omong. Langit begitu cerah. Luar biasa bersih. Tidak ada hujan, tidak ada awan mendung, tidak ada gumpalan putih diatas. Langit terhampar nyaris seperti warna cat. Bahkan angin pun tidak ada. Tapi kenapa tangan perempuan ini begitu dingin?

Kami kembali seperti keadaan semula. Terdiam cukup lama. Aku tak memiliki kata-kata lagi untuk diucapkan. Begitupun dia. Hingga tiba pada memoriku yang berputar pada kejadian tadi. Saat melihat Jasmine berada diantara dia, Henry dan Lisa.

“Siwon bilang, kau memiliki seorang putri. Apa itu benar?”

Tubuhnya menegang—tiba-tiba. Membuatku semakin dihujam oleh rasa penasaran. Jika umur Jasmine saat ini adalah tujuh tahun. Dan kejadian itu sudah berlalu selama delapan tahun. Besar kemungkinan putrinya adalah…

“Apa putrimu adalah anak—”

“Tidak.” Jawabnya cepat. Saking cepatnya sampai membuatku curiga. Aku mengerutkan alis. Menunggunya melanjutkan kalimat itu. “Sarang adalah anakku. Anak dari suamiku.”

Jadi, namanya Sarang. Cinta?

“Aku sudah menikah, kalau kau ingin tahu.”

Terlambat. Aku bahkan tidak ingin tahu sama sekali, Sena.

“Delapan tahun lalu. Enam minggu setelah kejadian tersebut.”

Aku menatapnya lekat. Walau dia sama sekali tidak memberikan balasan apapun. Ada rasa sesak yang menyusup kedalam dadaku. Enam minggu setelah kejadian tersebut. Ah. Rasanya aku ingin menertawakan diri sendiri. Pedih. Bukankah itu berarti aku juga terlambat mencarinya?

“Kumohon, jangan menyentuhnya. Jangan mengganggu kami. Kau bisa ‘kan… Donghae Oppa?”

.

Intemporel

.

Pesta semakin sepi. Satu per satu para undangan berangsur pergi dari gedung megah tersebut. Meninggalkan gelas-gelas, piring-piring, sendok atau garpu diatas meja tamu. Hanya tinggal segelintir orang saja yang masih menikmati momen ini untuk kemudian dialih-fungsikan seperti rapat pertemuan para pebisnis.

Ditengah-tengah ruangan. Dimeja besar yang sudah disiapkan sejak tiga puluh menit lalu, sembilan orang berkumpul. Sepasang raja dan ratu hari ini. Lima pria yang memegang kendali tertinggi disebuah perusahaan. Satu orang perempuan dewasa dan satu lagi sosok gadis kecil yang menggunakan gaun pastelnya.

Mam! Kau harus hati-hati dengan pria sepertinya. Tahu tidak, suamimu ini bisa berubah menjadi macan jika sudah diatas ranjang. Haum!

Irene—wanita yang beberapa jam lalu baru saja mengucap janji suci bersama Pria Shim tertawa. “Memangnya kau pernah tidur dengan dia?”

“Sering sekali, Aunty! Jas pernah melihat Uncle dan Oppa tidur bersama kok. Tapi… Jas tidak pernah melihat Uncle berubah menjadi macan. Apa Henry Oppa sedang berbohong?” sahut Jasmine tiba-tiba dengan mulut penuh daging panggang. Steik.

Yang lain tertawa. Suara Henry lah yang paling kencang.

No no no, sweetheart. Bukan itu maksud Oppa. Jadi begini, saat pria dewasa dan wanita berada dal—”

Pletak!

“Aw! Sakit Hyung!” deliknya tak terima begitu merasakan sebuah sendok mendarat diatas kepalanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Choi Siwon.

“Berani bicara macam-macam…” Siwon balik menatap tajam. Lalu tangannya dia tempatkan didepan leher. Memeragakan sebuah cara menyembelih dengan gesture yang mengerikan. Mati kau! Itu maksudnya.

Changmin tertawa sambil bertepuk tangan—kebiasaannya sejak dulu. Berujar, “Dasar tolol! Bodoh! Kau tidak sadar ya yang kau ajak bicara itu anak kecil hah? Sinting!” Changmin kembali tertawa, namun sama seperti Henry, tak berapa lama dia memekik kesakitan. Ada yang mencubit pinggangnya. Kencang sekali. Tebak siapa pelakunya? Well—It’s Irene Kim. His one true love. A beloved wifeu.

“Perhatikan kata-katamu, Sayang… Ingat ada anak kecil diantara kita. Hm?”

Pria itu menggosok-gosokan pinggangnya yang perih. Meringis kesakitan disaksikan oleh kawan-kawannya yang sialan sekali malah terbahak. Terlebih Pria Lau itu. Kurang ajar. Lagipula Irene itu apa-apaan sih, belum apa-apa sudah menggunakan kekerasan fisik. Mungkin kalau melakukannya di kamar tidak apa, dia bisa balik menyerang. Lah ini, didepan para cecunguk tua. Kecuali… yah, si pria China itu. Karena dialah—pria—yang termuda disini.

“Uncle Shim pasti sekarang sudah bahagia ya bersama Aunty.” ucap Jasmine tiba-tiba. Jangan lupakan dengan wajahnya yang cerah namun juga didominasi oleh rasa… sedih? Entahlah. Mengundang semua mata untuk menaruh perhatian kepadanya. Mencari arti dari kalimat itu.

“Jas, kenapa?” Siwon bertanya. Ini aneh sekali.

Gadis itu menggeleng lesu. Lantas tersenyum. Bukan karena ingin menghilangkan raut cemas dari semua orang yang sedang menatapnya saat ini, melainkan karena dia melihat sosok yang sedang sibuk membersihkan meja dari kejauhan. Ibu barunya.

Masih dengan mata yang terpaku pada wanita itu, dia menjawab, “Satu per satu Paman-Paman Jasmine pasti akan menikah. Iya kan, Yah?”

He? Kenapa anak ini jadi berbicara seperti itu? Tidak biasanya. Lalu mereka—para orang dewasa, saling bertatapan. Lebih tepatnya sih menatap Siwon. Bertanya; ada apa dengan anakmu kali ini?

“Hari ini mantan kekasihku—Uncle Shim yang paaaaling tampan menikah bersama Aunty Kim.” Dasar Jasmine, sudah punya Henry Oppa pun masih saja melabeli Shim Changmin dengan menggunakan kata ‘ku’ disela-sela kalimatnya walau, yah… hanya ‘mantan kekasih’. “Paman super duper menyebalkan dan ibu dokter pasti juga akan menikah. Iya ‘kan?” tanyanya sambil menatap mata Kyuhyun dan Lisa secara bergantian. Dibalas oleh kedua orang itu dengan senyuman canggung. Yah jangan ditanya. Meresmikan hubungan yang benar-benar resmi saja tidak, apalagi menikah. Ugh. Oke skip. Jangan bahas ikatan antara Kyuhyun dan Lisa terlebih dulu.

“Memangnya Jas ingin menikah, eh?” celetuk Henry.

Gadis itu tertawa. Lalu menggeleng. Dia mendorong piringnya yang masih berisi steik setengah itu ketengah meja. “Tunggu Jas sampai dewasa ya Oppa!” Semua orang kembali terhibur. Terkekeh walau disaat yang bersamaan masih terserang rasa penasaran akan kalimat Jasmine selanjutnya.

Hanya Siwon saja yang tidak. Ya bagaimana mau tertawa, kalau yang menjadi menantunya adalah Henry Lau? Si pria sipit berkulit putih. Manis. Tidak ada jantan-jantannya. Kecuali jika sedang bersama jalang. Ew. Dan lagi—walau Jasmine mengungkapkannya tanpa bersungguh-sungguh—masa iya dia akan memiliki menantu yang seumuran dengan dirinya? Pemain pula. Hell no!

“Kalau Uncle Shim sudah menikah. Paman Cho juga akan menikah. Itu berarti… tinggal Duo Uncle Lee. Dan… Oh. Henry Oppa tidak masuk hitungan karena dia akan menjadi milikku selamanya, jadi dia tidak boleh menikah dengan orang lain selain aku.” Jasmine tertawa sebentar. Kemudian menarik nafas dalam, dilanjutkan dengan menggigit-gigit bibirnya. Perlahan tapi pasti, matanya mencari mata Siwon. “Kalau begitu, selain Duo Uncle Lee… adalah Ayah. Iya ‘kan?”

Semua terdiam. Oh oke, mereka sudah tahu kemana arah percakapan ini berlanjut. Mereka juga tahu bagaimana gadis cilik itu mendambakan seorang ibu. Lalu ketika Siwon—pria yang masih tidak bisa lepas dari sang kekasih hati yang sudah lama pergi—dihadapkan pada pernyataan seperti ini, keadaan tentu saja berubah menjadi kelabu.

Well, tidak ada yang salah. Wajar jika Jasmine menginginkan sosok ibu, karena sepanjang hidupnya, dia hanya menghabiskan banyak waktu dengan Bibi Ahn—pengasuhnya. Lisa pun tidak melulu berada disampingnya, dia memiliki pekerjaan. Ditambah dengan rasa iri yang dimilikinya ketika anak-anak lain bisa bercanda dengan sesosok wanita yang digadang-gadang sebagai tempat beradunya mereka ketika sedang kesulitan.

Tapi mereka pun tidak bisa memaksa Siwon. Perasaan tidak bisa hadir dengan penuh rencana. Atau dengan paksaan. Perasaan selalu datang tiba-tiba. Entah diwaktu apa. Dengan siapa. Dan dimana. Semuanya menjadi misteri. Bahkan dimenit selanjutnya kita menarik nafas pun kita tidak akan tahu siapa seseorang yang bisa membuat kita jatuh cinta lagi pada saat itu juga. Jatuh cinta itu wajar. Tapi tetap mencintai adalah sebuah pilihan. Dan Siwon masih berada pada pilihan lawasnya. Dia masih belum bisa menggantikan posisi Kim Sarang. Paling tidak, dia belum menemukan wanita yang bisa menerima status duda beranak satunya ini dengan baik. Catat; dengan baik. Dia hanya… masih – menata – hati. Mungkin?

“Jas ingin Ayah menikah.” ucapnya lagi. Tidak kencang. Tidak lirih. Namun sarat akan penegasan. “Jas juga ingin memiliki ibu.”

Siwon menarik nafas dalam. Oke. Dia tahu betul yang satu ini, karena Jasmine pun sudah berkali-kali meminta padanya hanya saja tidak pernah dia tanggapi dengan serius.

Mengusapkan sebelah tangannya pada kepala anak itu. Lantas tersenyum. Senyum yang menjadi favorit Jasmine selama ini. Siwon pun berujar, “Jas—”

“Dengan dia.” Semua mata langsung menoleh pada seseorang yang ditunjuk oleh gadis cilik Choi itu. Tak lagi peduli pada kalimat Siwon yang terputus tiba-tiba.

Dan seseorang – yang – ditunjuk – oleh – Jasmine, berada lumayan jauh dari tempat mereka. Sayang, gesturnya bisa ditangkap dengan jelas oleh mata. Mereka tahu siapa pemilik tubuh itu. Lalu disaat yang lain—tiga orang pria—sibuk meneguhkan hati, dengan senyum mengembang lebar, Jasmine kembali berujar—lebih keras, “Jas ingin Bibi Sena menjadi milik kita. Menjadi Ibu Jas.”

—tbc


Well, I hate you Cho! Beauty and milky-white skin is never enough to describe her!

your bij wife,

—Lee Sena.

Advertisements

Author:

also known as que(en)sera

106 thoughts on “Intemporel – 3

  1. Bener2 penasaran sama masa lalu kyuhyun, sena n donghae pasti ada apa2, aku jd yakin jg sarang anak kyuhyun….
    Apa kesalahan yg d perbuat sena,,,
    Disini lisa baik sih, tp kenapa aku tetep g setuju sama kyuhyun hehehehehe
    Dan kayaknya kyuhyun itu cuma sayang sama lisa karena rasa nyaman nya… Yakin fix hehehehe sotoy yaaaa

    Liked by 1 person

  2. Wow semua teman kyuhyun menyukai sena, trus aja kyuhyun bersikap kasar ke sena dan sarang, nanti juga kyuhyun menyesal sebesar2nya. Sarang anak siapa? Anak kyuhyun kah?

    Like

  3. “pesta penikahan mantan”? OMG Jasmine… Daddymu salah apa sih sampek bisa dapat anak semenggemaskan kamu? Hwahahahaha. Btw ini Kyuhyun kok gitu banget siih, masak iya bilang ke Jas agar gak temenan sama Sarang. Nggak banget deh Kyu… Jadi Sarang itu anaknya Kyu apa Donghae?

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s