Posted in Multi-Chapter

(2nd) Interlude: Intemporel

kyuhyun-sena

When I’m With You

(2nd Scenes)

.C A S T

Cho Kyuhyun

tumblr_noceibgGUA1rdt2lmo1_1280

Lee Sena

tumblr_nxpryuvuLs1spqhdqo4_1280

.AU | Romance | School – Life

.Tell me, what makes a man wanna give you all his heart?

divider1

Seoul memulai Januari dengan sedikit muram. Sejak siang hingga sesore ini, hujan tanpa henti mengguyur deras ibu kota Korea Selatan tersebut. Membasahi seluruh bagian kota ini dari yang mulai dihuni oleh gedung-gedung tinggi pencakar langit, rumah-rumah mewah, hingga sudut-sudut pertokoan dan bangunan kecil. Awet dan merata, seperti yang dikatakan oleh salah satu narasumber dari info di radio tadi.

Seolah tidak mau peduli pada gerutuan-gerutuan manusia yang mengutuk kedatangannya lantaran cukup handal membuat kegiatan maupun pertemuan—entah bisnis atau kencan—yang sudah direncanakan sebelumnya kini menjadi berantakan, hujan di pertengahan Januari ini tetap pada keputusannya—mengguyur tanah Seoul. Tak terkecuali gadis berseragam Hanyang High School yang berdiri di tepi koridor. Menatap sang tersangka dengan raut yang ikut dimuramkan juga.

Sena menghembuskan nafas sebal. Memeluk erat tubuhnya guna mengurangi hawa dingin yang coba membekukan tulangnya. Serta mengasihani diri sendiri lantaran harus terjebak lebih lama lagi di gedung sekolah ini karena lupa membawa payung. Lebih tepatnya, dia sengaja tidak membawa payung. Bagaimana tidak, pasalnya pagi tadi, langit Seoul terlihat cerah. Suhu naik sedikit menjadi dua belas derajat, matahari bersinar terang walau masih ada sisa salju dimana-mana. Jadi, bagaimana dia tidak abai jika cuaca memberikannya sebuah harapan. Pagi tadi.

Agak menyesal juga dia saat menolak ajakan Hara untuk pulang bersama. Jika seandainya dia mengiyakan tawaran itu, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi, batinnya. Tapi mau diapakan lagi, saat dua jam lalu Guru Kang sedang meminta bantuannya untuk menginput daftar buku-buku ekologi yang berada di perpustakaan, dan berhubung dia adalah tipikal orang yang sulit untuk menolak—atau lebih tepatnya, tidak enakan—ketika ada yang meminta bantuannya, jadi yah, seperti inilah akibatnya. Merenung sendiri dengan otak yang buntu arah karena tidak tahu harus meminta tolong pada siapa.

Sebagian besar, siswa-siswi Hanyang sudah pulang sejak tiga jam lalu. Hanya ada segelintir murid saja yang  bernasib sama seperti dirinya saat ini. Meminta bantuan Kyuhyun sekarang pun tidak mungkin, akan sangat merepotkan jika pria itu harus datang hanya untuk menjemputnya sementara dia sendiri tahu, jarak antara rumah pria itu dari sekolah lumayan jauh. Lagian, Sena juga tidak berani meminta pada Kyuhyun terlebih dulu. Dia masih agak canggung menerima fakta bahwa pria itu adalah kekasihnya—seseorang yang mau dimintai pertolongan apapun saat dia membutuhkan sesuatu—walau hubungan mereka sudah terjalin selama dua setengah bulan. Sena masih terlalu tidak percaya. Tidak pede. Jadi, coret saja bagian ini. Dan alasan paling konkret untuk tidak meminta bantuan pria itu adalah, karena Kyuhyun sedang membutuhkan waktu untuk belajar. Sena pun sudah berencana untuk tidak mengganggunya. Minggu ini—tepatnya dimulai dari hari ini hingga lima hari kedepan, jadwal Kyuhyun akan disibukkan dengan ujian praktek. Mengingat dia sudah berada di tingkat akhir, jadi saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang paling krusial untuknya.

Pukul lima sore. Waktu semakin mendekati malam. Matahari pun semakin sayup dengan pendarnya. Dan Sena masih saja terjebak disini. Sendirian dan kebingungan. Gadis itu mendesah lebih keras, dia harus mengejar waktu. Pukul tujuh nanti dia ada jadwal mengajar. Sesuatu yang sudah diketahui oleh Kyuhyun bahkan sebelum mereka berkencan. Lalu menjamur pada siswa-siswa lainnya yang penasaran pada kehidupannya setelah Kyuhyun mengejarnya habis-habisan.

Dia memang bekerja paruh waktu, menjadi seorang guru les untuk anak-anak setingkat sekolah dasar yang berusia sekitar enam sampai sepuluh tahun. Sebenarnya, dia mengajar di sebuah lembaga pendidikan—Label E!—dengan kuota murid yang paling hanya berisi sepuluh anak perkelas, dan pekerjaan itu dilakukannya setiap akhir pekan. Hanya saja untuk yang satu ini berbeda. Hitung-hitung sebagai tambahan penghasilan diwaktu luangnya saat malam hari, Sena jelas memanfaatkan keadaan ini sebaik mungkin. Yaitu mengajar les privat setiap senin malam dan rabu malam. Dan sekarang—tepatnya malam ini adalah jadwalnya untuk mengajar. Tapi sampai sekarang, dia masih berada di Hanyang. Dilema seorang diri. Berkecamuk dalam pikiran antara menerobos hujan lantas membuat sekujur tubuhnya basah kuyup guna mengejar waktu atau tetap bertahan dengan pengharapan bahwa akan ada dewi fortuna yang mau menolongnya sekarang juga.

“Kau belum pulang?” ucap sebuah suara dari arah samping.

Park Hyungsik. Teman sekelasnya—sekaligus seseorang yang dua bulan lalu baru saja didaulat sebagai ketua OSIS, melengserkan ketua sebelumnya karena sudah habis masa jabatan. Si pria tinggi dengan lesung dimasing-masing pipinya. Dan tampan. Sangat, sangat, sangat tampan. Bahkan Kyuhyun saja kalah menurutnya.

Sena menggeleng, kemudian mendesah. “Hujan menghambatku.”

“Tidak membawa payung memang?” Hyungsik memakai leather-jacket berwarna hitamnya. Bersiap-siap untuk pulang. Dibalas oleh Sena dengan gelengan lagi.

“Mau kuantar?”

He?

Sena menoleh lagi padanya. Apakah ini kiriman dari dewi fortuna?

Hyungsik tersenyum. “Pulang bersamaku. Aku membawa satu jas hujan di bagasi motor, itu bisa kau gunakan agar tidak kebasahan. Daripada menunggu disini tak jelas, belum tentu hujan mau berhenti dalam waktu dekat. Lagian, sebentar lagi gerbang akan ditutup.” Tunjuknya pada petugas keamanan yang sedang mengeret pagar gerbang hingga menyisakan dua meter ruang untuk akses keluar dari sekolah ini.

Sena menggigit bibir cemas. Membenarkan komposisi kalimat Hyungsik. Dan sebentar lagi pula, petugas pasti akan berpatroli mengelilingi gedung.

“Apa—tidak apa-apa?” tanyanya kemudian.

“Apanya yang tidak apa-apa?” alis Hyungsik mengerut.

“Memberikan tumpangan padaku.” Sena balas menatap mata pria tinggi itu, mencari celah pengharapan. “Itu… tidak akan merepotkanmu ‘kan?”

Hyungsik mendengus geli, lantas berkata, “Tidak. Bukankah yang merepotkan adalah bersepakat dengan cara berpikirmu? Karena kadang, kau membuat masalah yang mudah menjadi pilihan yang sulit.”

Sena terdiam. Berganti dia yang mengerutkan alis. Menatap Hyungsik setengah tolol. Untuk kemudian mengisi waktu dengan berpikir. Beberapa detik mereka habiskan bersama rintik hujan, tak ada yang berbicara. Sebelum dia bersuara, “Maksudmu?”

Ya. Hanya maksudmu?, salah satu dari kebiasaan seorang Lee Sena; berpikir lama, namun mengimplementasikannya hanya dengan satu kalimat. Contohnya seperti tadi.

“Tidak ada.” Jawab Hyungsik pendek. Tak lupa dengan senyum jahilnya. “Sekarang, tempatkan tasmu diatas kepala. Kita terobos hujan sampai ke parkiran. Oke?”

Sena mengangguk patuh, lantas berlari kecil dibelakang Hyungsik. Mengikuti kemana arah pria itu pergi. Untung saja, Hyungsik memarkirkan motornya tidak terlalu jauh dari tempatnya berteduh tadi, jadi seragamnya tidak terlalu basah.

“Pakai ini.” Hyungsik memberikan satu setel jas hujan kepadanya. “Hanya satu? Kau bagaimana?”

“Kau tidak lihat aku menggunakan jaket?”

“Aku lihat. Tapi jaket kulitmu hanya melindungi tubuh bagian atas saja. Cela—”

“Pakai saja, Sena. Aku tidak apa-apa. Ayo cepat, sebelum hujan semakin membuatmu basah kuyup.”

Dan Sena mau tak mau menurut. Gadis itu mengenakan jas hujan diiringi dengan desahan panjang. Benar ‘kan… kalau seperti ini dia pasti akan merepotkan Hyungsik.

“Sudah?”

Dia mengangguk.

“Ayo naik,” Hyungsik menyalakan mesin motornya. Disusul oleh Sena yang kerepotan menaiki motor sport tersebut. Bukan hanya karena kursi penumpangnya yang tinggi, tapi jas hujan yang besar dan roknya yang pendek juga ikut serta menghambatnya.

Hyungsik kembali tertawa, “Kau tidak pernah dibonceng oleh Kyuhyun Sunbae ya?” katanya, lalu mulai menjalankan motor setelah posisi Sena sudah siap.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Caramu menaiki motorku seperti—um… ini adalah yang pertama kalinya untukmu. Canggung.” Jawabnya, tak lupa dengan kekehan yang mengiringi.

Pipi Sena merona. Bukan karena dingin, tapi karena ucapan pria itu. Apa tadi dia terlihat sangat kampungan? Jujur saja, Sena memang baru pernah sekali membonceng di motor Kyuhyun. Dan motor pria itupun bentuknya tidak jauh berbeda dari milik Hyungsik ini, jadi yah wajar saja jika dia seperti tadi. Lagipula dia juga lebih sering menghabiskan perjalanannya menggunakan transportasi umum, otomatis dia tidak terbiasa dengan motor-motor sport seperti milik Kyuhyun atau seperti milik Hyungsik ini. Dan setiap kali Kyuhyun meminta untuk mengantarnya pulang pun dia lebih sering mengajak pria itu menggunakan bus, bukan motornya. Agak keterlaluan memang, mengingat Cho Kyuhyun adalah pria kaya.

Hah… mana ada pria kaya mau pulang dengan menggunakan bus umum, kecuali Kyuhyun saja?

Perjalanan dua puluh menit yang disertai dengan arus kemacetan kota Seoul lantaran mereka beradu dengan orang-orang kantoran yang baru saja pulang, akhirnya mereka sampai juga disini. Didepan sebuah rumah yang pagarnya terbuat dari kayu dan dipelitur dengan warna serupa.

“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Sena seraya menyerahkan jas hujan dan helm pada Hyungsik. Bibirnya mengulas sederet senyum tipis. Sementara si Pria Park menatap rumah yang menjadi tujuan Sena dengan alis berkerut. “Jadi, kau juga mengajar les disini?” dibalas oleh Sena dengan anggukan.

“Kupikir kau hanya bekerja paruh waktu di Label E!”

“Selagi ada waktu luang. Lagipula hanya dua kali dalam seminggu. Malam ini dan rabu malam nanti.”

Hyungsik mengangguk paham. Benar-benar tipikal pekerja keras, pikirnya. “Um—kalau begitu aku pergi sekarang saja ya. Selamat mengajar ibu guru Lee! Jangan galak-galak ya pada muridmu. Eh, tapi aku tidak yakin sih ibu guru yang satu ini bisa galak. Kalau begitu jangan terlalu lembut ya, karena kalau muridmu itu laki-laki dan kau membuatnya jatuh cinta padamu, sial-sial nanti dia bisa berurusan dengan Cho Kyuhyun. Hehe. Ba – ha – ya. Aku pulang dulu, Sena. Bye!” Bisik Hyungsik lirih diakhir kalimatnya. Tak lupa dengan kekehan gelinya yang terlontar. Lalu tanpa mau peduli pada Sena yang dibuat tersipu, pria itu berlalu pergi. Mengendarai motornya tanpa ada niatan menggunakan jas hujan yang sudah Sena kembalikan.

Gadis itu menarik nafas dalam. Eh, jadi Hyungsik bisa bercanda juga? Sena pikir, selain pintar dan penuh wibawa, ketua OSIS itu rata-rata kaku. Apa dia baru saja dibuat takjub? Menggeleng sebentar lantas membenarkan letak tasnya, Sena kemudian berbalik. Namun, baru saja dia akan menekan bel pagar rumah tersebut, saat sebuah suara bisik-bisik memanggilnya. Dia menoleh dan matanya seketika membulat saat melihat lagi-lagi orang itu yang mencegatnya. Rabu malam lalu, ketika Sena akan memasuki rumah ini, hal yang sama pun terjadi. Lalu, senin malam sebelumnya. Rabu malamnya lagi. Juga Senin malamnya lagi. Begitu seterusnya hingga total—um… berapa ya? Ah, tujuh kali. Ya, pria itu melakukan hal yang serupa ini sebanyak tujuh kali padanya.

“Lagi?” tanya Sena saat melihat bunga dan cokelat berada ditangan pria tersebut. Oh ya, jangan lupakan dengan dua hadiah yang—itu-itu melulu—selalu datang menyertainya. Lalu dengan diiringi oleh cengiran lebar, pria dengan tatapan teduh tersebut berjalan mendekatinya. “Tidak apa-apa ‘kan?” tanyanya balik.

Sena menggigit bibir. Menarik nafas dalam, lantas membalas, “Kenapa harus seperti ini?”

Pria itu menggeleng. “Hanya kau satu-satunya harapanku,” jawabnya dengan senyum patah. Menambah suasana dingin di senja kali ini semakin menusuk. Nah, kalau sudah begini Sena yang menjadi tidak enak. Bukan maksudnya untuk menolak, hanya saja… haruskah dengan cara seperti ini?

“Ta-tapi—”

“Apa pria tadi adalah kekasihmu?” potong pria itu cepat. Sengaja, seolah tahu apa yang akan dikatakan Sena selanjutnya.

“B-bukan.” Jawab Sena gugup. “Memang kenapa?”

Pria itu tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang—bagaimana ya mengatakannya—um sangat menggemaskan mungkin. Hingga senyum itu terlihat seperti senyum milik anak kecil.

“Baguslah kalau begitu,” katanya.

“Apa?”

“Um—tidak. Tidak apa-apa. Ini, terimalah.” Pria bermata teduh itu langsung meraih kedua telapak tangan Sena. Menaruh satu batang cokelat dan sebuket akasia kuning. Cinta rahasia. Cinta… diam-diam? Sena mengerutkan alis, memaknai bunga tersebut, lalu menatap jejak kepergian pria itu. Terdiam untuk puluhan sekon lantas menggeleng.

“Aneh.” ucapnya, kemudian kembali pada rencana awalnya. Menekan bel pagar rumah yang dia tuju. Begitu pelayan yang sudah mengenal dirinya membuka pintu, Sena langsung bergegas memasuki rumah tersebut. Berjalan lagi menyusuri koridor rumah guna bertemu dengan seseorang yang mungkin sudah menunggunya. Untuk kemudian, sebuah suara terdengar—melengking nyaring menyebut namanya. Disusul dengan kalimat lain yang bernada manja. Nyaris seperti anak kecil.

“Senaaaaa… Sena sudah sampai? Yoo pikir, Sena tidak akan datang. Yoo sudah menunggu Sena sejak tadi. Yoojin juga!”

“Benarkah? Maafkan aku kalau begitu,” sahutnya.

Gadis yang berusia sama dengannya itu mengangguk kuat dengan senyum maha-lebar. Manis dan cantik disaat yang bersamaan. Demi Tuhan, dia yakin tidak akan ada yang bisa menolak keindahan mahakarya tersebut jika saja—ah tidak, Sena menggeleng keras.

“Sena membawa apa?” gadis itu kembali berseru. “Bukankah itu cokelat? Yoo sangat suka cokelat, apa Yoo boleh memintanya?”

Sena kemudian melarikan tatapannya pada bunga dan cokelat yang ada ditangannya. Mengingat akan tatapan teduh dan senyum patah dari pria tadi. Lalu dengan segaris senyuman, dia berkata, “Tentu saja boleh. Ini untuk Han Yoorin. Suka?”

“Ya! Yoo suka! Terima kasih Sena.”

.
Interlude – Intemporel
.

Surat lagi? Mata Sena melotot tak percaya. Ya Tuhan, harus berapa banyak kertas-kertas berisikan kalimat tak terucapkan ini memenuhi lokernya? Memangnya dia itu tukang pos dan lokernya ini adalah kotak surat? Geez! Benar-benar keterlaluan.

Sena mendengus. Heran dengan kebiasaan murid-murid disini yang suka seenaknya saja menitipkan barang. Bukan apa-apa, ini hanya terlalu mengganggunya. Seandainya dia memiliki keberanian untuk memprotes, pasti sudah akan dia lakukan sejak kemarin-kemarin. Namun sayangnya, dia tidak memiliki keberanian tersebut. Sialnya memang memiliki sifat penakut.

Gadis itu menumpuk semua surat yang ada di lokernya dalam satu tangkupan tangan. Total semuanya bahkan hampir mendekati angka lima puluh jika dijumlah dengan hari-hari atau minggu-minggu kemarin. Dan jujur saja, ini membuat Sena sebal. Sangat, sangat, sangat sebal. Kalau memang surat ini datang untuk Cho Kyuhyun, kenapa harus dia yang diteror? Tidak adil! Jelas ini melanggar privasinya. Siapa coba yang berani membuka lokernya ini? Dia saja tidak pernah membuka loker milik murid lain.

Menghela nafas, dia coba menenangkan diri. Mungkin ada baiknya jika sekarang dia berikan saja semua surat ini pada Kyuhyun. Biar pria itu tahu, seberapa besar eksistensinya di sekolah ini sampai-sampa dia—yang tak memiliki kepentingan apapun—diteror setiap hari dengan tumpukan surat dilokernya. Walau… yah, tanpa Sena berikan pun, pria itu pasti juga sudah tahu dan sangat percaya diri atas ketenarannya itu. Pria narsis!

Namun sedetik dia memikirkan itu, hanya butuh sedetik pula untuk mencipta sebuah ulasan senyum dikedua sudut bibirnya. Omong-omong, sejak kemarin dia belum bertemu dengan Kyuhyun. Bagaimana wajahnya sekarang? Apa pria itu rindu juga padanya?

Sena menepuk-nepuk pipinya yang panas. Lalu menarik nafas dalam. Tahan… kekasihmu sedang sibuk menghadapi ujian, Sena. Sabar sedikit lagi, bisa ‘kan? Lalu seperti gadis-gadis remaja lain pada umumnya, dia pun memekik tertahan diujung tenggorokan. Untung saja saat ini sisi wajahnya tertutupi oleh pintu loker, jadi dia tidak perlu malu akan ketahuan murid lain.

Ya ampun, tidak melihat Cho Kyuhyun selama empat hari saja—hitung sejak hari sabtu lalu sampai hari ini—dia sudah dibuat rindu. Ck. Benar-benar keterlaluan.

Sena kembali menarik nafas dalam. Lalu menghembuskannya lewat mulut. Fiyuhh.. sudahlah, lebih baik dia siap-siap. Sebentar lagi pelajaran olahraga akan segera dimulai. Kalau terus-terusan memikirkan Kyuhyun, tidak akan ada habisnya.

Blup!

“Kudengar kemarin kau pulang bersama Hyungsik. Benar?”

“Astaga!” Sena mengusap dadanya yang berdegup kencang. Jadi, Cho Kyuhyun disini. Berdiri disampingnya dengan salah satu tangan memutar-mutar kunci—ah, kunci loker. Eh, tapi omong-omong sejak kapan dia ada disini? Kyuhyun tidak mendengar gerutuannya tadi ‘kan?

“H-hai!” Cengir Sena. “A-aku pikir tidak ada orang tadi. Sejak kapan disini?” tanyanya setelah menetralisir kerja jantungnya yang berubah cepat. Namun oleh Kyuhyun pertanyaannya hanya dibalas dengan wajah dingin. Tunggu, dia tidak salah bicara ‘kan tadi?

“Jawab saja pertanyaanku. Bisa?”

He?

Kenapa nada bicara Kyuhyun terdengar ketus? Batinnya. Firasatnya pun berubah menjadi tak enak.

Sena membasahi bibir dengan lidah. Lalu menelan ludah gugup. Menggigit-gigiti bibirnya. Dan yang terakhir, matanya menelisik pada keadaan sekitar. Oh, untung saja koridor sedang tidak terlalu ramai. Tidak banyak siswa yang berlalu-lalang.

“T-tahu darimana?” ucapnya kemudian.

Kyuhyun mendengus keras. Membuat Sena terkesiap. Pria itu menegapkan tubuhnya yang tadi bersandar pada loker, untuk kemudian berdiri menjulang dihadapan Sena yang tingginya hanya mencapai batas dadanya.

Guna mengurangi rasa kesalnya, Kyuhyun menyimpan kepalan tangannya disaku celana. Lantas berkata, “Kau tuli atau tidak bisa memaknai kalimatku? Aku bilang jawab saja pertanyaanku, kenapa harus tanya balik?”

Ada sesuatu yang terjadi.

Menyadari intonasi suara Kyuhyun yang kian meninggi, Sena pun diliputi oleh kegugupan akut. Aduh! Bagaimana cara menjelaskannya ini? Dan, kenapa pula Kyuhyun bisa tahu? Darimana? Jujur saja Sena katakan, pria itu memiliki perubahan mood yang buruk omong-omong. Jangan sampai ada yang membuatnya salah paham karena, Kyuhyun juga dikenal sangat sensitif. Gampang sekali berubah-ubah seperti bunglon; sebentar manis, sebentar pemarah, sebentar murung dan sebentar otoriter. Nah, kalau sudah pakai nada ketus begini, biasanya ada sesuatu yang membuatnya marah. Sesuatu yang buruk. Tidak baik. Atau—apapun lah yang menurut presepsi pria itu akan merugikan dirinya. Dan parahnya, akan sangat sulit bagi Sena untuk mendinginkan sikap pria itu. Salah langkah, bisa jadi Sena malah membuatnya semakin marah.

Sena menarik nafas, kemudian dia coba ukir senyum diwajahnya walau terasa sangat sulit. Karena demi apapun, wajah Kyuhyun tidak ada hangat-hangatnya saat ini. Dan hal tersebut berhasil membuat kegugupan Sena kini sudah berputar haluan menjadi ketakutan.

Menggaruk pipinya yang tidak gatal, dia pun menjawab, “Y-ya. Um—kemarin hujan deras, aku tidak membawa payung dan… dan Hyungsik menawariku untuk pulang bersama. B-begitu.” Sena memberanikan diri untuk menatap Kyuhyun, namun saat wajah pria itu masih saja dingin, dia kembali menunduk dan melanjutkan, “Ta-tapi tidak terjadi apa-apa. Sungguh. Dia hanya mengantarku. Kau tahu—aku mengajar les di didaerah Apgujeong setiap senin malam ‘kan? H-hyungsik hanya mengantarku sampai kesana. Y-yah…”

“Aku tidak bertanya alasan yang membuatmu bisa bersama dengan Hyungsik.”

He?

Sena menggigit bibirnya sekali lagi. Sial! Dia salah langkah. Kyuhyun tadi memang hanya bertanya ‘Benar?’. Dan lebih dari itu, jawaban yang Kyuhyun butuhkan hanyalah Ya atau Tidak dari mulutnya. Tapi apa yang dia berikan? Dia malah memberikan penjelasan panjang lebar yang—mungkin saja—bisa memancing pertanyaan lain dari pria itu.

“Baik. Aku terima alasanmu yang tidak membawa payung karena kau memang selalu ceroboh. Suka sekali berharap pada keadaan yang tak menentu. Termasuk dengan cuaca. Tapi—” Kyuhyun menghentikan kalimatnya sebentar. Menghembuskan nafas berat, untuk kemudian melihat gadisnya yang tertunduk gugup, lantas melanjutkan, “Kenapa kau tidak menghubungiku saja?”

Sena terdiam. Masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang Kyuhyun ajukan. Lantas dengan tololnya, malah melontarkan kalimat Huh?

“Kau dengar apa yang kukatakan tadi, Sena.”

Kembali, Sena menelan ludah. Pertanyaan itu memang sederhana, tapi dia tidak yakin jika jawaban yang akan dia berikan sanggup membuat Kyuhyun paham. Atau puas.

“Aku hanya tida—”

“Alasan apalagi kali ini?” potong Kyuhyun. Pria itu berdecak keras, lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada loker. Namun pandangannya masih tetap sama; dingin menghujam. “Aku yang sudah berada di tingkat tiga jadi harus pandai-pandai mengatur waktu. Begitu? Atau aku harus lebih memprioritaskan belajar dibanding kekasih sendiri yang sedang mencari pertolongan?”

Bang!

Ya, memang seperti itu.

Kyuhyun menggeleng. Lantas tertawa sinis. “Sena, pernah tidak sekali saja kau menganggapku sebagai kekasihmu?”

Dan pertanyaan yang selama ini disimpan rapi olehnya pun tercetus begitu saja. Kyuhyun sudah mengubur dalam-dalam kalimat tersebut setiap kali Sena bertingkah seolah kehadirannya tidak diperlukan, tapi untuk saat ini, dia tidak bisa menahannya lagi.

“K-kenapa bertanya seperti itu?”Sena merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Tatapan Kyuhyun berubah menjadi kecewa. “Kyuhyun Op—”

“Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain. Aku cemburu.” ungkapnya. “Aku ingin kau berlari padaku, meminta padaku, memohon padaku walau sekalipun aku tidak pernah menawarkannya padamu. Tapi kau selalu saja seperti ini. Kau selalu—lebih memilih orang lain saat kekasihmu sendiri siap memberikan apapun padamu. Aku hanya ingin diakui, Sena. Apa sulitnya sih bagimu?” Kyuhyun kembali berhenti, coba menarik nafas dalam. “Aku seperti tidak ada dimatamu. Apa kau masih canggung jika harus berdekatan denganku? Apa aku masih tidak pantas untuk berdiri disampingmu? Kau tidak betah mendapatkan tatapan dari banyak orang karena aku dekat-dekat denganmu?”

Lagi-lagi Sena membisu. Ya, kurang lebih memang seperti itu. Tapi sungguh, dia menganggap Kyuhyun ada. Pria itu bahkan sudah membuatnya jatuh cinta, mana mungkin dia sanggup mengabaikannya?

Keadaan melengang untuk puluhan sekon. Sena belum berani bersuara. Dan Kyuhyun pun masih sibuk menenangkan diri. Sekali dia mengucapkan kalimat tersebut, ternyata banyak kalimat lain yang meminta dilepaskan juga. Mata Kyuhyun kemudian bergulir, melihat setumpuk kertas yang berada diatas seragam olahraga gadis itu, lalu tersenyum sinis. Ternyata bukan hanya tatapan, Sena bahkan sudah diteror dengan surat-surat. Walau Kyuhyun tahu 100% dari surat itu tidak ada yang berisi cacian atau makian untuk kekasihnya tersebut, tapi tetap saja surat-surat itu ada karena dirinya. Karena dia adalah kekasih Lee Sena. Dan karena hal itulah yang membuat Sena kadang merasa semakin tidak dihargai. Ah. Kenapa juga dia baru tahu soal ini.

“Aku menginginkanmu.” Kyuhyun kembali bersuara. “Sampai rasanya aku mudah sekali cemburu pada teman-temanmu, karena mereka kau anggap, sementara aku tidak. Yah, aku tahu hubungan kita memang diawali dengan paksaan. Lebih tepatnya aku yang memaksamu untuk menjadi kekasihku. Tapi kupikir, lambat laun kau mau menerimaku dan balik mencintaiku seperti aku mencintaimu. Tapi nyatanya tidak. Kau, dari awal, tidak mau berurusan denganku. Benar?” Kyuhyun mengunci mata Sena. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan ini, karena biar bagaimanapun, gadis didepannya adalah gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta gila-gilaan. Kyuhyun bahkan nyaris tidak memiliki cinta lagi setelah memberikan seluruh hatinya pada seorang Lee Sena. Konyol sekali bukan?

Tapi jika bersama membuatnya terluka lantaran Sena tidak menginginkannya sebesar dia menginginkan gadis itu, serta kehidupan gadis itu yang mulai terganggu oleh statusnya, lebih baik, dia usaikan disini saja ‘kan?

“Baiklah, aku minta maaf kalau selama ini aku menjadi kekasih yang cemburuan. Merepotkan. Pemarah. Otoriter. Manja. Atau sebagainya. Tapi seharusnya kau tahu kenapa aku bisa seperti itu. Dan sekarang—” Kyuhyun menelan ludah berat. “Sekarang kupikir kita leb—”

“Tidak!” Sena maju dua langkah. Matanya lagi-lagi membulat maksimal. Membuat Kyuhyun menatapnya tertegun. Pasalnya, posisi Sena sekarang seperti sedang menghimpitnya diantara tubuh gadis itu dan loker yang ada dibelakangnya. Dada Kyuhyun berdegup kencang. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas gadis itu mengenai dagunya. “Jangan berpikir seperti itu, Oppa. Aku baik-baik saja. Sungguh. Dan… dan… apa yang kau pikirkan tidak semuanya benar. Aku menganggapmu sebagai kekasihku. Sumpah!” Sena mengangkat dua jari kanannya membentuk simbol ‘V’.

“Sena—”

“Percaya padaku. A-aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh. Aku hanya—aku masih membutuhkan waktu untuk terbiasa. Kau… A-aku… Um—kita…”

“Sena bisakah—”

“Tunggu. Biarkan aku berpikir. Tunggu sebentar.”

Kyuhyun menyimpan senyum dibalik raut tegangnya. Apa ini artinya Sena tidak mau lepas darinya? Apa dia sudah benar-benar membuat gadis ini terpesona? Bolehkah Kyuhyun berteriak sekarang? Hei, ayolah, awalnya Kyuhyun ingin mengakhiri hubungan mereka yang seperti cinta bertepuk sebelah tangan ini tapi lihatlah apa yang dia dapatkan… raut tegang Sena yang bercampur dengan permohonan. Dan gadis itu berubah menjadi cerewet. Sesuatu yang Kyuhyun ketahui, bahwa gadis itu sedang mengatakan sebuah kejujuran.

Jadi, katakan pada Kyuhyun, bagaimana caranya agar bisa melepas gadis ini dengan mudah?

“Tidak—”

“Ha?” Sena menatap Kyuhyun tak percaya. Bahunya meluruh seketika. Matanya berkabut embun.

Eh, apa gadis ini akan menangis? Kyuhyun kelabakan. Bukan. Tidak maksud Kyuhyun adalah—“T-tidak bisakah kau mundur sedikit? Aku tidak yakin kau mau menanggung malu lebih dari ini.”

Kabut dimatanya pun menghilang. Alis Sena berubah mengerut. “Maksudmu?” gumamnya. Dibalas oleh Kyuhyun dengan gedikan dagu, menunjuk sesuatu dibelakangnya. Dan begitu dia menolehkan kepala, bibirnya dibuat terbuka sebesar dua jari. Kenapa ada banyak sekali anak-anak? Sejak kapan mereka berdiri disana? Ya tuhan, apa dia dan Kyuhyun sedang menjadi santapan publik?

Mereka ada yang berbisik-bisik. Ada yang menatapnya penuh jenaka—termasuk dengan Hara yang juga ada disana. Ada pula yang tertawa-tawa tidak jelas seperti mengejeknya. Sena menggigit bibir, lalu kembali menghadap Kyuhyun.

He?

Bodoh! Kenapa dia baru sadar bahwa jarak mereka sedekat ini? Dan tubuh Kyuhyun—terhimpit oleh tubuhnya? Ah, ya ampun. Ini memalukan sekali.

Sena mundur secara perlahan, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sial! Sial! Sial! Kenapa bisa begini? Sena yakin setelah ini, namanya sebagai gadis pendiam baik-baik akan tercoreng. Dia menggeleng lirih, lantas bergumam, “Kenapa harus ada mereka?”

Kyuhyun yang mendengar kalimat itu, hampir saja menumpahkan tawanya. Lalu tak lama, saat Sena sibuk menahan malu dan merutuk diri sendiri, sebuah rengkuhan dia lingkarkan pada punggung gadis itu. Kyuhyun memeluknya—sengaja dihadapan anak-anak. Dan itu semakin membuat Sena sesak napas.

“Ck. Anak-anak itu sangat mengganggu ya? Padahal niatnya aku mau langsung menciummu saat kau bilang ‘Aku menganggapmu sebagai kekasihku. Sumpah!’ Tapi alamat harus gagal karena banyak yang melihat. Menyebalkan.” Bisik Kyuhyun, lalu terdengar sebuah kekehan setelahnya.

Serius, Kyuhyun kenapa suka sekali menciptakan momen seperti ini sih! Sudah tahu Sena sedang dilanda malu, kenapa harus ditambah adegan peluk-memeluk begini. Dan lagi, dimana nada kecewanya tadi? Bukankah pria itu marah padanya? Atau jangan-jangan Kyuhyun hanya sedang mengerjainya. Double – Mega – Shit!

“Apa lihat-lihat? Sudah pergi sana! Bubar! Bubar! Kalian pikir ini drama? Shoo! Pergilah! Kekasihku ini sedang tidak ingin dilihat oleh kalian. Jadi, cepat bubar!” usirnya pada anak-anak lain. Namun tetap saja tanpa menghilangkan senyum lebarnya. Hey… dia sedang bahagia sekarang. Mana bisa dia menunjukkan raut kesal atau marahnya.

“Apalagi bocah?! Sudah pergi sana! Shoo!” kali terakhir dia menyertai salah satu kakinya untuk mengusir seperti sedang menggusur kawanan ayam. Lalu kembali terkekeh.

“Apa sudah sepi?” tanya Sena, belasan detik kemudian.

“Kenapa memang? Kau mau aku menciummu sekarang?”

“Jawab saja, Oppa!”

Kyuhyun mendesah, lantas mengangguk. “Ya. Sudah.”

Lepas Kyuhyun melemparkan jawaban itu, Sena langsung mendorong tubuh tinggi tegap tersebut untuk menjauhinya, seolah dia tidak membutuhkannya lagi. Terserah mau dikata apa. Saat ini dia hanya sedang kesal, sal, sal, sal.

“Hei!” sahut Kyuhyun tak terima.

“Menyebalkan!” Sena menghentakkan salah satu kakinya dengan wajah yang merengut masam. Dibalas oleh Kyuhyun dengan anggukan dan tatapan serupa, “Ya, mereka benar-benar menyebalkan.”

“Kau yang menyebalkan Oppa!” ucap Sena lagi, lantas bergegas pergi darisana.

He?

“Aku? Eh, kenapa aku? Kau tidak ingat tadi aku menolongmu, Lee Sena?? Hei! Ish… gadis ini benar-benar. Yak, Lee Sena! Tunggu! Jalanmu kenapa cepat sekali?! Hei!” teriak Kyuhyun membahana. Memenuhi lorong-lorong sekolah. Mengundang tatapan murid lain untuk tertuju pada mereka lagi. Dan itu malah menambah kekesalan Sena semakin menebal padanya. Dasar Cho Kyuhyun! Dia itu siswa cerdas tapi kenapa sekarang mendadak jadi bodoh sih?

.
Interlude – Intemporel
.

“Welcome to Cho Kyuhyun’s House!” ucap Kyuhyun seraya merentangkan kedua tangan. Tak lupa dengan senyumnya yang kelewat lebar untuk dia tunjukkan pada gadis yang berdiri didepannya dengan pandangan takjub. “Bagaimana? Sudah hilang rasa penasaranmu?” ucapnya lagi. Namun tak menuai jawaban apapun. Saat berbalik, barulah dia sadar ternyata Sena masih sibuk dengan tatapan sungguh-ini-indah-sekali nya.

“Hoi!” tangannya mengibas didedepan wajah Sena. Lantas terkekeh hebat begitu dapat menyaksikan raut kaget milik gadis tersebut.

“Ish!” cebik Sena kemudian.

“Kau serius sekali sih. Hati-hati, disini banyak hantu. Kalau kerasukan, nanti aku yang repot ‘kan.”

“Banyak hantu? B-benarkah?”

Kyuhyun tertawa. Namun tidak menjawab. “Sini!” dia meraih sebelah tangan Sena, lalu menariknya untuk duduk diatas sofa berwarna krem. “Tunggu disini, oke. Aku carikan minum dulu.”

Selepas Kyuhyun pergi, Sena mengedarkan pandangannya pada sekeliling interior rumah ini. Ah, rumah? Tunggu, Sena pikir ini lebih cocok disebut mansion. Karena demi Tuhan, setiap jengkal komposisi dari bangunan ini terlihat sangat indah dan… mahal. Sangat, sangat, sangat mahal. Cho Kyuhyun benar-benar berasal dari keluarga konglomerat ternyata. Tidak perlu dipertanyakan lagi, kehidupan sehari-harinya pasti benar-benar mewah. Tipikal Flower Boys seperti dalam drama-drama. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya, bukan? Yang untuk bisa sekolah saja, dia harus berjuang mati-matian mencari uang.

Gadis itu menggigit bibir. Mengilhami betapa kayanya keluarga Kyuhyun ini. Untuk membuat rumah bertingkat sederhana saja, modalnya bisa ratusan juta. Apalagi rumah bertingkat plus besar, plus luas, plus mewah?

Hati Sena mencelos. Dan tiba-tiba saja napasnya tertahan. Dunianya dan dunia Kyuhyun sangat jauh berbeda. Pria itu seperti pemilik surga, sementara dia rakyat jelata. Sena tidak yakin dia bisa bertahan dengan pria sepertinya lebih lama. Karena jika dijabarkan, perbedaan ini—terlalu kejam untuk diakui. Begitupun Kyuhyun. Apa jadinya jika keluarga pria itu tahu bahwa putra mereka menjalin hubungan dengan gadis fakir seperti dirinya?

Sena memainkan buku-buku jarinya diatas pangkuan. Mendadak dilingkupi perasaan cemas. Bahkan untuk beranjak dari sofa ini saja rasanya sulit sekali. Seperti jika dia berdiri, lalu menyentuh benda lain yang ada disini, maka hukuman gantunglah yang akan dia terima sebagai imbalannya. Sena kembali meretih. Dari awal inilah yang ditakutkan olehnya, bahwa dia mungkin akan terlanjur jatuh cinta pada pria yang bukan kapasitasnya. Pada pria yang sama sekali tidak sehasta dengannya. Kyuhyun jelas sangat jauh diatasnya. Bagimana bisa dia berharap lebih?

“Hei!” Sena terkesiap, kepalanya terdongak keatas. “Melamun kah? Kenapa diam saja?” Kyuhyun bertanya, tak lupa dengan kedua alisnya yang terangkat. Dibalas olehnya hanya dengan seulas senyum—agak canggung. Ah, sudah kembali ternyata. Eh, tapi kenapa dia tidak membawa minuman apapun? Bukankah tadi—

“Bibi Kim akan mengantarnya nanti.” jawab Kyuhyun seolah tahu apa yang sedang memenuhi pikirannya. “Kau mau makan apa?”

“Ha?”

“Kita makan malam disini saja, ya. Bagaimana? Masakan Bibi Kim tidak kalah enak dengan menu restoran. Mau ya?”

Sena terbungkam. Untuk beberapa detik pikirannya macet. Kata restoran saja sudah cukup menggambarkan betapa berbedanya mereka saat ini. Ayolah, Sena mana pernah merasakan masakan restoran? Paling kencang dia hanya bisa menikmati makanan cepat saji. Junk Food. Semacam piza, spageti, burger, ayam goreng kentucky dan berbagai macam kawanannya itu. Tidak pernah ada restoran dalam kamus hidupnya. Setidaknya, sampai dia remaja saat ini.

Barulah saat Kyuhyun menegurnya lagi, dia memberikan anggukan. Ya, terserah apa keputusan Kyuhyun. Dia menurut saja.

“Kau suka sekali melamun ya? Memangnya apa sih yang kau pikirkan?”

Ditanyai seperti itu, Sena coba untuk melontarkan tawa renyahnya—menutupi kecanggungan walau hanya secuil—kemudian bertanya, “Apakah seperti itu?” yang dibalas oleh Kyuhyun dengan senyum patah. Eh—tunggu, senyum patah?

Kyuhyun menggeleng, lantas berdiri, menyambut Bibi Kim yang datang membawa dua gelas cangkir. Latte untuknya dan teh melati untuk Sena. Serta beberapa buah cupcake.

Melihat ada orang lain diantara mereka, Sena kemudian bangkit, menyapa—wanita baya yang dipanggil Kyuhyun—Bibi Kim itu dengan senyuman yang terulas simetris diwajahnya serta bungkukan singkat.

“Aku menyesal menuruti keinginanmu.” ucap Kyuhyun pelan setelah menyesap latte-ya. Tangan pria itu mencomot satu cupcake yang berada diatas meja. Lalu melahapnya dalam sekali suap.

Berbanding terbalik dengan Sena yang langsung tertegun ditempat atas kalimatnya barusan. Gadis itu tersenyum, melipat bibir kedalam, menarik nafas, lantas berujar, “Ini permintaan pertamaku. Dan kau menyesalinya?”

Kyuhyun berhenti mengunyah. Balas menatap dalam iris coklat milik Sena, untuk kemudian mendesah. “Aku hanya tidak suka kau melamun. Apalagi memikirkan yang tidak-tidak.”

Sekali lagi, gadis itu tersenyum. “Aku tidak memikirkan yang tidak-tidak.”

“Ohya?”

Skak!

Tidak ada jawaban untuk menyanggah. Sena hanya terdiam, lantas menyesap teh melatinya buru-buru. Berdeham sejenak, dia berujar, “Kyuhyun Op—”

“Banyak tempat lain yang bisa kita jadikan sebagai sarana untuk belajar. Kenapa harus rumahku?”

Gadis itu kembali terdiam. Menguatkan dugaan Kyuhyun sejak mendapati tatapan Sena yang berubah saat dia meninggalkannya tadi. Ah tidak, dia bahkan sudah curiga saat Sena mengajukan permintaan pertamanya itu.

Mata si Gadis Lee kembali berkeliling, kemana saja asal tidak berada dibawah intimidasi Kyuhyun. Karena apapun yang akan pria itu ucapkan, semuanya berujung pada kebenaran. Dan Sena, terlalu takut untuk mengakui kebenaran itu. Hingga kemudian, sebuah kolam air menarik perhatiannya.

“Apa kau suka olahraga air?” tanyanya mencari perhatian lain. Melupakan fakta bahwa beberapa saat lalu mereka terperangkap dalam aura dingin.

“Berenang maksudmu?” Kyuhyun menanggapi, namun tidak melepas intimidasinya.

Sena mengangguk semangat. “Ya. Selama ini aku hanya pernah melihatmu bermain dilapangan. Apakah kalau di air kau bisa?” dia menoleh pada Kyuhyun dengan senyum mahaleba. Berusaha menyingkirkan sisa-sisa ketegangan mereka.

Kyuhyun mendengus geli, lantas menggeleng. “Diksimu buruk sekali. Dan ya, aku bisa melakukannya. Berenang. Kenapa?”

“Aku ingin melihatmu berenang.”

“Uhuk!” Kyuhyun tersedak oleh cupcake-nya. “Kau gila?”

“Kenapa harus gila?”

“Suhu sore ini sembilan derajat, Sena. Kau pikir apa lagi?”

Gadis itu membuka mulutnya sebesar dua jari, lantas menyuarakan kalimat ‘aaahh…’ yang panjang. Disusul dengan cengiran tololnya. “Kau benar. Tapi—bisakah kita mengerjakan soal statistiknya disana saja?”

“Kau ingin kesana?”

Sena kembali mengangguk kuat. “Ya! Kita belajar disana saja ya?”

“Tapi diluar dingin. Kau yakin?”

“Aku tahan dingin.”

“Masa?”

“Kau tidak percaya padaku?”

Kyuhyun mendesah, mengedikkan bahunya. Lantas berdiri, “Baiklah, kita belajar disana. Bawa yang diperlukan saja. Biar tas kau tinggal disini.” Pria itu pun berlalu mendahuluinya. Disusul oleh Sena yang dengan serampangan mengambil buku paket, buku tulis, kotak pensil, dan penggaris secara bersamaan. Hei, dia tidak sabar ingin melihat bagian samping dari mansion besar ini omong-omong.

Dan boom! Sena tidak bisa berbohong saat mendapati diri lagi-lagi terbuai oleh keindahan halaman samping mansion keluarga konglomerat ini. Ini benar-benar terlihat seperti bukan Korea Selatan. Terlebih Seoul. Serius, bahkan di drama-drama televisi yang sering dia tonton pun, dia jarang mendapati kondisi halaman rumah yang bagusnya seperti ini. Oh God! Ini benar-benar seperti surga.

“Berhenti memasang wajah seperti itu! Kau niat belajar tidak sih Sena?” suara Kyuhyun kembali mengalun. Menyadarkan Sena dari keterpakuannya atas keindahan nuansa yang disajikan. Ck. Galak sekali. Gadis itupun berjalan, mendekati meja berkanopi yang sudah dihuni Kyuhyun. Menjatuhkan semua perlengkapannya, kemudian duduk disalah satu kursi kosong yang ada disana. “Kau mau belajar atau mau berdebat denganku? Duduk disini, jangan disitu. Akan susah untuk mengajarimu jika posisi duduk kita malah berhadapan bukan bersebelahan. Kemari!”

Dan lagi-lagi Sena harus dibuat menurut dengan titah yang diberikan Kyuhyun. Setelah yakin tidak ada yang salah lagi, barulah dia membuka buku soal—si alasan utama kenapa mereka berada disini—walau matanya masih tidak berhenti menikmati sajian indah didepannya.

“Baiklah ini soal… Pengujian hipotesa sampel kecil satu rata-rata.” Eja Kyuhyun saat Sena menunjukkan salah satu bagian yang tidak dia mengerti. “Tunggu—kau, serius Sena, kau tidak tahu cara mengerjakan soal ini?” tanya Kyuhyun dengan kedua alis yang dinaikkan keatas. Disambut oleh Sena dengan wajah yang berubah masam. “Aku tahu kau pintar soal hitung-hitungan. Tapi tidak usah bertanya seperti itu, bisa tidak?”

Kyuhyun menyemburkan tawanya. Lantas mengacak-acak rambut Sena. “Cih! Marah. Aku cuma bertanya, Sayang…”

Blush!

Sayang… Pipi Sena tiba-tiba merona. Gadis itu bahkan bisa merasakan adanya panas yang menjalar pada bagian wajahnya, padahal cuaca sedang dingin.

Sena sebenarnya tidak bodoh. Dia cenderung gadis pintar. Hanya saja, dibandingkan dengan pelajaran lain, soal matematika atau statistik lah yang paling membuatnya berpikir lamban. Sena lebih bisa mengandalkan otak kanannya dibanding otak kirinya.

“Sini, yang pertama harus kau cari tahu adalah berapa miu, x-bar, standar deviasi dan sampel acaknya.” Kyuhyun mentitahi Sena dengan keempat elemen dasar soal tersebut. Diikuti oleh Sena dengan menuliskan apa saja yang Kyuhyun sebutkan tadi.

“Lalu?” tanyanya begitu selesai menulis apa-apa saja yang sudah diketahui.

“Lalu—ah, sekarang kita buat rumusan hipotesa untuk soal tersebut. Dimulai dari menganalisis H0 dan H1, kemudian menghitung berapa besarnya lamda. Begini caranya…” Kyuhyun mengambil alih bolpoin yang berada ditangan Sena, kemudian mengambil secarik kertas kosong untuk diisi dengan coretan tangannya yang mendeskripsikan cara menghitung soal tersebut.

Barulah setelah kurang lebih dua puluh menit berlalu mereka mengerjakan satu soal, ditambah dengan adegan Kyuhyun memberikan pemahaman berulang-ulang pada gadis itu, Kyuhyun pun memberikan Sena satu soal latihan lagi yang serupa. Awalnya gadis itu mau menolak karena sudah keburu pusing, tapi Kyuhyun bukanlah tipe orang yang setengah-setengah. Jadi, pria itu tetap kukuh—lebih tepatnya memaksa Sena untuk mengerjakan soal yang dia berikan guna mengasah otak gadis itu. Jangan sampai, setelah acara belajar ini selesai atau setelah buku ini tertutup, otak Sena kembali blank seperti kertas kosong tanpa goresan tinta.

“Aku menyerah,” gumam Sena setelah belasan menit dia gunakan untuk berkutat dengan soal. Tangannya meletakkan bolpoin diatas meja secara cuma-cuma. Mengundang Kyuhyun untuk berhenti memainkan ponselnya dan balas menatap gadis itu dengan sebelah alis dinaikkan ketas. “Aku bingung bagaimana menganalisis rumusan hipotesa. Aku tidak tahu kapan H0 ditolak, kapan H0 diterima. Aku… menyerah. Aku stuck disana.”

Kyuhyun menghela nafas. “Harus ya menyerah begitu saja?” tanya Kyuhyun retoris.

“Otakku sudah keriting, Oppa.”

“Kalau tidak dipahami dari sekarang, kau tidak akan bisa mengerjakan soal dengan lancar. Masih banyak yang harus kau tahu. Mana? Sini, biar kuajari lagi.” Tapi ajakan Kyuhyun hanya dibalas dengan keterdiaman Sena. Gadis itu mencebikkan bibir bawahnya kedepan. Implementasi dari penolakannya untuk belajar lagi. Lagipula suhu disini berangsur semakin dingin, membuatnya sulit berkonsentrasi. Walau… Ya, ya, ya, ini memang salahnya karena dia lah yang memilih tempat ini untuk belajar.

“Sena…” kembali Kyuhyun mengulur waktu. Mencipta jeda bagi gadis itu untuk berpikir. Tapi saat dirasanya tidak ada tanda-tanda bahwa Sena berniat belajar lagi, dia pun kembali mendesah. Kyuhyun meletakkan buku yang tadi sempat digenggamnya diatas meja. Lantas berujar, “Satu hari untuk satu soal. Sementara di bab ini saja ada lima sub-bab yang saling berkaitan. Dan kau sudah menyerah? Hah… terserah padamu sajalah.” Kyuhyun ikut menyerah juga. Ya, untuk apa dia semangat mengajarkan kalau yang diajarkan malah mengeluh malas begitu.

Sena yang merasa tidak enak lantaran mengabaikan niat baik Kyuhyun, ikut menghembuskan nafas. Tapi sungguh, otaknya sudah tidak bisa dipaksa lagi untuk berpikir hari ini. “Maaf. A-aku…bukan maksudku— aku memang lambat kalau soal menghitung.”

“Kalau begitu kau harus lebih sering lagi mengasahnya.”

“Yah, aku tahu. Tapi tidak bisakah kita selesai sampai disini saja?” Sena menggaruk pipinya yang memerah lantaran kedinginan. “Otakku su—”

“Otakmu sudah keriting. Begitu? Ya, aku tahu. Semenit lalu kau sudah mengatakannya.”

Sena menyengir malu. “Oppa—kau… kau tidak kapok mengajariku ‘kan?”

Merasa tidak tega juga melihat wajah Sena yang mengiba, Kyuhyun lantas mendesah. Lalu mengangguk—walau sungkan, “Tidak. Aku hanya terkejut saja ternyata kau termasuk murid yang pemalas.” Ledeknya, kemudian terkekeh begitu kelopak mata Sena melebar. Tangannya dia ulur untuk mengusak rambut gadis itu. “Aku maklumi. Karena kejadian seperti ini bukan hanya terjadi padamu saja. Kalau kau lambat dalam urusan menghitung, aku juga lambat jika diberi soal sejarah.”

Sena mencibir. “Tapi tetap saja. Kau siswa unggul di sekolah.”

“Sedang memujiku, Nona?”

“Apa kau menganggapnya seperti itu?”

Kyuhyun mengedik “Entahlah. Pujian atau tidak. Nyatanya, aku siswa unggul di sekolah adalah sebuah kebenaran.” Sahut Kyuhyun mulai narsis. Mengundang kekehan Sena terlontar keluar. “Kau harus banyak belajar. Matematika dan statistik adalah salah satu mata pelajaran bersyarat di ujian nanti. Mengerti? Kau ‘kan calon guru, ah tidak, kau bahkan sudah memiliki murid. Masa iya untuk soal seperti ini saja kau tidak bisa menaklukannya. Payah!”

“Siapa bilang aku calon guru?” tanya Sena.

“Memangnya kau tidak mau menjadi guru? Kupikir cita-citamu mengajar didepan kelas.”

Sena kembali tertawa. “Tidak. Kau sok tahu, Oppa. Aku itu—ng… apakah kau ingin tahu cita-citaku itu apa?”

“Apa?”

Tersenyum sipu, Sena berujar “Aku ingin menjadi dokter.”

“Dokter?” tanya Kyuhyun amazed. “Ah ya, aku lupa kalau kau gadis penghuni ruang kesehatan.” Kyuhyun mengusak rambut Sena lagi dengan gemas. Lantas menatap irisnya serius, “Kalau begitu kau harus lebih giat belajar. Karena untuk masuk kedokteran di universitas, persaingannya sangat ketat. Yah, kuharap sih saat mengerjakan soal ujian, kau tidak seperti tadi. Mengacau. Menyerah tanpa mau berpikir. Alasannya otak sudah keriting. Ck. Tidak masuk akal, tahu!”

Sena menangkap tangan Kyuhyun yang masih berada diatas kepalanya. Disusul dengan cengirannya. “Kalau kau, Oppa? Setelah ini, kau akan kemana? Sudah menentukan pilihan?” tanyanya dengan mata menyerupai rusa. Tatapan yang sangat disukai oleh Kyuhyun. “Ah! Biar kutebak, kau pasti memilih Ilmu Bisnis ya? Iya ‘kan? Atau Bisnis International? Intinya yang ada bisnis-bisnisnya.”

“Sekarang kau yang sok tahu!”

“Aku salah?”

Kyuhyun mengangguk dengan senyuman khasnya. Tapi tidak dengan Sena yang mengerutkan alis. “Bukankah saat sudah dewasa nanti, kau akan mengurus bisnis keluargamu? Kupikir—”

“Bisnis keluarga?” Kyuhyun menoleh pada Sena, lantas—untuk pertama kalinya—dia memberikan senyum patah tersebut. “Ya, memang. Tapi apa aku tidak boleh memilih jurusan sesuai minatku?”

“Memang kau ingin menjadi apa?”

“Arsitek?”

“Ar—” Sena mengerutkan alis. “Arsitek?”

“Ya. Berhubung Cannopus adalah perusahaan dibidang konstruksi, aku ingin coba-coba menjadi arsitek. Bisa ‘kan?” jawabnya disertai senyuman jenaka, “Aku ingin pekerjaan professional. Yang turun langsung ke lapangan. Seperti kau yang ingin menjadi dokter.”

Sena melebarkan senyumnya, lantas mengangguk kuat. “Ya, itu pilihan yang bagus.”

Kyuhyun ikut terkekeh, lalu tanpa pernah diduga oleh Sena, pria itu meraih punggungnya dan mengecup dahinya lembut. Membuat kedua pipinya dihujami oleh rona merah lagi. Eh, kenapa tiba-tiba Kyuhyun menciumnya?

“Kau dokter. Aku arsitek. One strong lady and one brave gentleman, they will make a great item someday. Right?

Saat itu untuk kesekian kalinya, Sena dibuat terlena atas kalimat Kyuhyun. Dan untuk saat itu pula, Sena seperti dibuat lupa akan kastanya. Dia tidak pernah mau tahu masa depan seperti apa yang akan terjadi padanya dan Kyuhyun nanti. Yang ingin dia yakini saat itu adalah kalimat Kyuhyun disekon lalu. Untaian kata yang berisi makna bahwa—mereka akan berdiri bersama. Sebagai satu perempuan kuat dan satu pria pemberani. Suatu saat nanti.

Someday.

If only she’d know, sometimes, someday means it’ll be never happen. Its only get nothing.

“Cuaca semakin dingin. Sebaiknya kita masuk kedalam saja. Ayo!” ajak Kyuhyun. Sena mengangguk, lalu membereskan perlengkapannya—sekali lagi—dengan serampangan. Tergesa-gesa, dia mengejar Kyuhyun yang sudah akan mencapai ambang pintu. Ck, langkah pria kenapa lebar-lebar sekali sih. Hingga entah pada jejakan keberapa, kakinya terpeleset oleh genangan air yang ada di tepi kolam. Sena terjatuh. Pijakannya hilang. Detik berikutnya, dia berada di air. Tubuhnya tertelan oleh buih.

Kyuhyun yang mendengar bunyi seseorang tercebur, langsung menolehkan kepalanya kebelakang. Sepasang tangan menggapai-gapai di permukaan air, mencipta riak yang berbunyi berisik. Sena memukul-mukul air yang hendak menelannya dengan panik, sementara kepalanya timbul-tenggelam.

Cho Kyuhyun membelalak.

Sial. Sena terjatuh.

Sambil berlari, Kyuhyun melepaskan mantel serta melempar ponselnya sembarang arah. Dia melompat masuk ke kolam, lalu berenang cepat menggapai Sena. Sekuat tenaga, dia menahan rasa dingin yang menusuk, seperti jutaan jarum yang sengaja dihujamkan pada tubuhnya. Sembilan derajat, sialan sekali! Lekas Kyuhyun menyeret Sena ke tepi, lalu membantunya keluar dari kolam.

Sena terduduk dilantai beranda sambil terbatuk-batuk memuntahkan air. Napasnya melenguh. Tubuhnya gemetar hebat akibat kedinginan, mungkin juga karena dia masih disergap oleh rasa panik. Kyuhyun bantu menepuk-nepuk pundaknya.

“Hei!” Kyuhyun meraih wajah Sena. Mengusap sisa-sisa air yang masih membekas diwajahnya. “Sena, kau tidak apa-apa?” tanyanya. Suara Kyuhyun terdengar putus-putus. Sama tidak beraturannya.

“Ti-tidak… apa-apa. A-aku tidak… tadi—aku lari…” Sena menjawab setelah dadanya berangsur pulih. Tidak sesesak tadi.

“Memangnya kau tidak lihat ada kolam didepanmu?” Kyuhyun memarahinya. “Lagipula, kenapa harus lari?”

“T-tidak tahu. Aku—aku hanya ingin mengejarmu.”

Kyuhyun mendesah. “Aku tidak kemana-mana. Kenapa harus mengejarku?” Pria itu berdecak kesal. Lantas melepaskan mantel Sena yang sudah basah kuyup. Gila! Sena tenggelam dengan kain setebal ini. Dan di cuaca sedingin ini.

“M-mau apa?” tanyanya gugup.

“Ganti.” Dia berjalan untuk meraih mantelnya sendiri, kemudian memberikannya pada Sena. “Pakai ini sementara.” Katanya dengan gigi bergemertak dingin.  “Ayo, masuk. Sebaiknya, kita cepat-cepat mengeringkan diri.”

.
Interlude – Intemporel
.

Sena berjalan dengan rikuh dari salah satu pintu kamar yang ada dirumah ini. Rambutnya masih basah, kusut, berantakan, tapi paling tidak, dia sudah berganti pakaian. Sudah lebih hangat. Tidak menggigil seperti tadi.

Matanya kemudian menelisik. Kearah manapun guna mencari Kyuhyun. Tapi sosok yang dicarinya itu masih saja tidak memunculkan batang hidungnya.

Apa Kyuhyun Oppa masih di kamarnya? Gumamnya dalam hati.

Dia mendesah. Kepalanya terdongak keatas, maksudnya adalah untuk mencari pintu kamar Kyuhyun—yang nyatanya dari lantai yang dia pijak ini, dia sama sekali tidak bisa menemukan satu pintu pun disana. Yang dia dapati malah lampu gantung yang begitu besar. Dan indah. Dan pastinya… mahal.

Sial, harus berapa kali dia terpesona dengan barang-barang mewah yang ada dirumah ini? Bahkan hanya untuk sekadar lampu.

tumblr_onwk9iR3ze1uc5s35o2_540

Gadis itu menelan ludah. Mansion ini benar-benar bak istana dalam serial Princess Disney. Dan Kyuhyun seperti pangeran, yang memiliki istana tersebut. Lalu dia—seperti Cinderella. Si upik abu. Eh, tapi dia tidak punya saudara tiri. Lalu siapa? Princess Belle? Ah, tapi Kyuhyun bukan pangeran buruk rupa. Em… kalau begitu Princess Aurora? Oh, ayolah, dia seorang pelajar, bukan tukang tidur. Snow White? Tapi kulitnya saja tidak seputih salju. Princess Ariel? Dia dan Kyuhyun sama-sama manusia, sialnya. Lalu Princess Jasmine? Jasmine bahkan berasal dari keluarga yang kaya-raya, putri seorang raja, sementara dia? Nol. Lagian Cho Kyuhyun, pria itu tidak seperti Aladdin yang memelihara jin. Lalu siapa?

Sena menggelengkan kepala dengan mata memejam. Aish! Apa sih yang sebenarnya dipikirkannya. Kenapa juga dia harus berfantasi seperti itu? Menggelikan!

Pluk!

“Eh?”

Kepala Sena ditimpa oleh sebuah handuk kecil. Kaget? Jelas. Kain itu datang tiba-tiba lantas menutup pandangannya yang sekon lalu masih terfokus pada lampu gantung dan lukisan yang tergambar indah dilangit-langit bangunan.

“Pasti melamun lagi. Kebiasaan sekali!”

Itu suara Cho Kyuhyun. Dan baru saja dia ingin melepas handuk yang menimpa diatas kepalanya, saat tangan besar pria itu malah menahan handuk tersebut agar tetap tertahan disana, lalu menggiring tubuhnya untuk berjalan searah dengan langkahnya yang bergerak maju.

“K-kyuhyun Oppa, aku tidak bisa melihat.”

“Aku tuntun.”

“He??”

Tawa bass pria itu mengalun diudara. “Ck. Sudahlah, menurut saja.” Kyuhyun kembali mendorong bahu Sena dengan salah satu tangannya. Bibirnya terulas lebar; merasakan euphoria hanya dengan hal-hal yang sederhana. Seperti mengerjai Sena saat ini. Ya Tuhan, kenapa Kyuhyun bisa mengencani gadis penurut dan lugu seperti ini sih?

Kyuhyun membawa Sena untuk duduk diatas sofa krem lagi. “Kemana handukmu?” tanyanya paska dia menjatuhkan bokong pula tepat disamping gadis itu.

Sena menoleh. Lantas menarik handuk yang masih tersampir dikepalanya. Membuat sebagian helai-helainya ikut tertarik menutupi wajah. “Ng… aku tinggalkan di kamar itu,” tunjuknya pada sebuah pintu. Tepat dimana dia keluar selepas menggunakan pakaian hangat ini.

“Kenapa tidak dibawa? Rambutmu masih basah.” ujarnya seraya meraih secangkir teh hangat yang disediakan oleh Bibi Kim untuk mereka. “Minum ini dulu. Agar tubuhmu lebih hangat,” lanjutnya lagi.

Gadis itu menurut. Menyesap tehnya sedikit demi sedikit. Begitu pula dengan Kyuhyun.

“Terima kasih,” ucap Sena selepas meletakkan cangkirnya diatas meja. Air yang jatuh dari ujung rambutnya membentuk titik-titik basah diatas sweater yang dikenakannya. Ck. Dia bahkan sama sekali tidak mengeringkan rambutnya.

Dengan gemas, Kyuhyun meletakkan cangkirnya pula. Lantas meraih handuk yang berada diatas pangkuan Sena. Dilanjutkan dengan gerakan tangannya yang mengusap rambut gadis itu perlahan. Sena beringsut mundur lantaran canggung—awalnya, tapi Kyuhyun menariknya lagi. “Kalau kau tidak mengeringkan rambutmu, kau bisa masuk angin Sena,” gerutunya.

Sena menggangguk kikuk dengan bibir yang dia gigit-gigit kecil. Lantas menatap Kyuhyun dengan sepasang biji cokelatnya yang bersinar lembut. Sedikit dengan kebingungan yang menguasai, tapi tetap lembut. Tatapan khas seorang Lee Sena.

Kyuhyun pun tak jauh berbeda. Saat retinanya menangkap pendar milik Sena, sorot matanya berubah. Mengapresiasikan bahwa lagi-lagi dia terlena. Dan untuk kesekian kalinya pula, dia jatuh cinta pada tatapan gadis itu. Menjerumuskan diri sukarela didalam kemasan merah jambu.

“P-pakaiannya bagus.” Sena mengurai kegugupannya.

“Pakaian?”

“Ya, sweater kura-kura ini.” Tunjuknya pada diri sendiri. “Bagus. M-mlik siapa?”

“Ha? Aaa—oh.” Kyuhyun hampir saja meledakkan tawanya. Dia kira ada apa, tapi ternyata… sekuat tenaga Kyuhyun menahan rasa ingin tertawanya. Serius, Sena ini tidak bisa memilih topik yang lebih bagus ya? Dan lagi apa katanya tadi, sweater kura-kura? Mentang-mentang sweater ini bermodel turtle neck, haruskah disebut juga dengan sebutan seperti itu?

“Ini milik kakak perempuanku. Kenapa?” jawabnya.

He?

“Kau me-memiliki seorang kakak?”

Kyuhyun tersenyum. Menyingkirkan handuk dari atas kepala Sena. “Tidak pernah tahu ya?”

“A-aah… I-itu—”

“Aku memang merahasiakannya.” Kyuhyun mengedik. “Tidak banyak yang tahu kalau aku memiliki Nuna.”

Sena mengangguk dengan bibir melafalkan ‘ooh’. “Siapa namanya? Apa dia ada disini?”

“Cho Ahra. Dan… tidak. Dia tidak ada disini, dia sedang kuliah di Vienna.”

“Austria?” mata Sena membulat.

Kyuhyun tertawa. “Kaget atau tidak percaya?”

“Dua-duanya.” cengir Sena. Oh, seriuskah? Dia jadi penasaran dengan rupa kakak perempuan Kyuhyun. Jika adiknya saja tampan, kemungkinan besar… “Kakakmu pasti cantik sekali, ya?”

“Karena aku tampan?” tanya Kyuhyun balik dengan senyum tertahan.

“Huh?”

“Kau lebih cantik.”

Blush!

Ah, pipi Sena pasti memerah lagi. Aduh, ya ampun… Cho Kyuhyun itu kenapa suka sekali menggodanya sih? Tidak tahu apa kalau wajah Sena itu rentan sekali dengan warna merah?

Gadis itu berdeham canggung. Lalu mengulum bibirnya kedalam. Tangannya—lagi-lagi—menggaruk pipi yang tidak gatal. Satu yang bisa dipahami Kyuhyun; Sena sedang salah tingkah. Dan itu jelas membuatnya tampak lebih, lebih, lebih manis dan menggemaskan.

Apa perempuan akan selalu tampak salah tingkah seperti ini setiap kali para pria memujinya? Ah tidak, terakhir kali dia memuji mantan kekasihnya dulu, dia dibilang membual. Gombal!

Sementara Sena sibuk mendamaikan detak jantung yang berdegup tak karuan, Kyuhyun sibuk dengan kegiatan barunya. Seulas senyum dia ukir tatkala jari-jarinya merapikan rambut Sena yang sudah tidak sekuyup tadi. Meluruskannya, mengurai helai-helai kusutnya, serta menepikan rambut yang menutupi kening dan pipinya; dan setiap sentuhan yang dia ciptakan, mampu membangkitkan perasaan yang selama ini setengah mati Kyuhyun tahan.

Perlahan demi perlahan muncul. Berkonspirasi dengan waktu.

Pria itu menelan ludah.

Berhenti, sialan.

Tetapi dia tidak  bisa berhenti. Entah setan mana yang merasukinya, jarinya-jarinya kemudian bergerak dari rambut Sena menuju wajah gadis itu.

Sena menatapnya dengan mata yang berpendar gugup. Kyuhyun tahu, Sena pasti sudah mengerti dengan apa yang akan dilakukan olehnya setelah ini.

“K-kurasa… jarak kita… terlalu dekat,” soprannya keluar dengan gelisah. Meretas keheningan yang menguasai mereka.  Jari-jari Kyuhyun merangkum pipi Sena sekarang. Ada rona merah yang masih tertinggal disana. Kyuhyun membelainya dengan berhati-hati, karena terlalu rapuh. Kulit Sena halus dan hangat. Membuat detak jantungnya menghentak gila-gilaan.

“Benarkah?” desahnya.

“Oppa—”

Gadis itu tidak sempat melanjutkan. Kyuhyun tidak membiarkannya. Sebelum bibirnya berhasil melepas kalimat, Kyuhyun sudah membungkamnya dengan material lembut miliknya. Bibir mereka saling melekat. Kyuhyun memagutnya.

Sena lembut dan manis. Memabukkan pada saat yang bersamaan. Dan untuk sesaat, yang ada dikepala Kyuhyun adalah betapa dia menyukai rasa bibir Sena. Cherry. Jika dia tidak ingat dengan kesadaran diri, Kyuhyun mungkin akan terus memagut bibir itu sampai puas. Tetapi, Kyuhyun memaksakan diri untuk melepaskannya. Dia ingin mencari mata gadis itu. Berharap akan mendapatkan balasan serupa.

Lalu, yang dia dapati selanjutnya adalah kebekuan Sena. Gadis itu membelalakan mata dengan pipinya yang merona lebih merah. Di wajahnya, tergambar berbagai macam emosi. Kyuhyun tidak tahu apakah gadis itu marah, bingung, takut, atau sekadar terkejut dengan sikap impulsifnya. Sena hanya menatap Kyuhyun tanpa berkedip.

Puluhan sekon pun berlalu, dan itu hanya mereka isi dengan keheningan. Saling menatap lekat. Ruang mendadak senyap. Hingga tanpa aba-aba, kedua sudut bibir gadis itu perlahan tertarik. Sedikit demi sedikit membentuk sebuah senyum rikuh.

Sial. Aku berada dalam masalah. Batin Kyuhyun.

“Kyu—” Sena membuka mulut sedikit gemetar. “—aku… Oppa ak—”

Tolong. Jangan katakan kalimat itu sekarang. Atau kalau tidak, dia tidak bisa menahan ini semua lebih wajar.

Sena menahan nafas. Kyuhyun kembali merangkum pipinya. Lalu, menunduk. Lalu, bibir pria itu mencari bibirnya. Lalu kedua material lembut milik mereka bertemu—lagi. Ciuman Kyuhyun terasa seperti sihir yang mampu membawa Sena terbang tinggi. Sangat, sangat, sangat tinggi hingga dia tidak tahu caranya kembali.

Manisnya gula, bisa dia rasakan dari bibir penuh milik Kyuhyun. Dan—oh, lembut. Selembut saat Sena menginjak pasir di tepi pantai. Tidak ada ketergesa-gesaan dalam lumatan itu. Kyuhyun melakukannya dengan cara yang benar, sampai Sena bahkan bisa merasakan kupu-kupu terbang di perutnya.

Perlahan, dia coba membuka mulutnya. Ikut menyesap kelembutan yang dimiliki oleh bibir pria itu. Menikmati sensasi memabukkan dari dua belah material lembut tersebut. Ah, tiba-tiba saja Sena tidak ingin melepaskan ini. Dia… terbuai. Dan dia tidak ingin ini berakhir.

“Cho Kyuhyun, aku dataaaanngg! Cho Kyuuh— Kyuhyun?! Wow.. wow.. wow..”

Lengkingan suara sengau mengalun. Menyentak kesadaran dua anak manusia tersebut dari kenikmatan dunia. Membabat habis lembutnya masing-masing bibir yang kini hanya tinggal dibawa oleh sekon. Cho Kyuhyun menoleh pada suara yang memanggil namanya, namun tetap tidak menjauhkan wajah Sena dari wajahnya.

Dan begitu melihat presensi siapa manusia yang sudah mengganggu kegiatannya, Kyuhyun dibuat mendengus keras. “Kau lagi?!”

.
Interlude – Intemporel
.

Sena bergerak gelisah dalam duduknya. Ada rasa tidak nyaman. Ada rasa gugup yang menyerang kerja sarafnya. Tatapan itu—dia menatapnya seolah Sena adalah maling yang ketahuan mencuri barang berharga miliknya. Membuatnya dihujam oleh rasa gugup dan takut secara bersamaan.

Dia… orang yang memergokinya dan Kyuhyun sedang berciuman tadi, kenapa—kenapa mereka harus bertemu disini? Dari sekian miliyar manusia yang ada di bumi, kenapa bisa orang ini yang dipilih Tuhan untuk menjadi bagian dari masa hidupnya?

Bukan. Ini bukan tentang bertemunya tokoh antagonis maupun protagonis dalam satu waktu. Ini tentang—bagaimana cara menjelaskannya ya… Sena hanya merasa… kenapa dunia ini sempit sekali. Seolah Tuhan sudah mengatur semua ini sejak jauh-jauh hari. Ah, mungkin sejak bertahun-tahun lalu. Sena tidak mengerti kenapa Cho Kyuhyun bisa mengenal orang ini dan begitupun sebaliknya.

“Jangan menatapnya seperti itu! Kau tidak lihat, dia ketakutan ha?” gertak Kyuhyun dengan garpu yang mengarah pada sosok dihadapannya. Saat ini, mereka sedang berada di meja makan. Sesuai yang Kyuhyun bilang sore tadi, bahwa mereka akan makan malam disini.

“Tidak, tidak. Bukan begitu. Aku hanya… surprised saja mendapati kau berada disini,” jawab orang itu dengan mata yang masih menyorot lurus pada Sena. Sementara gadis itu hanya balas menatapnya dengan senyum canggung.

“Kalian saling mengenal?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

“Ya.”

“Tidak.”

Kyuhyun mengerutkan alis. Sena membelalakan mata. Dan orang itu membuka mulut sebesar tiga jari.

“Kau tidak mengenalku?!” tanyanya tak terima. “Kita sudah berkali-kali bertemu. Apa kau tidak ingat?”

“A-ahh… Itu—kau hanya…”

“Tidak mungkin kalau kau tidak mengenalku! Lima hari lalu, kita baru saja bertemu.”

Semakin dikejar rasa penasaran, Kyuhyun pun menengahi percakapan tersebut. “Tunggu, tunggu. Aku tidak mengerti. Jadi sebenarnya, kalian ini saling mengenal atau tidak?” Pria itu menatap Sena dan pria yang ada dihadapannya secara bergantian. Lalu, tatapannya jatuh pada gadis disampingnya yang sibuk menggigiti bibir. “Kau mengenalnya, Sena?”

“He?” Sena menelan ludah. Lalu, dengan sedikit keraguan, dia mengangguk. “Y-ya.”

“Nah!” sahut pria itu dengan kencang. “Kita memang saling mengenal! Mana mungkin kau lupa padaku, gadis kecil. Tapi kenapa kau menjawab tidak tadi?”

“Aa—oh, itu…” Sena berdeham sejenak, lalu meraih segelas air mineral. Ah, tiba-tiba saja dia haus. “Itu… karena kupikir aku tidak terlalu mengenalmu. Kau hanya sering memberikan bunga dan cokelat. Dan ak—”

“Kau memberinya bunga dan cokelat, Hyung?!” potong Kyuhyun tiba-tiba. Pria itu beralih menatap Sena tajam. “Dan kau menerima sesuatu darinya? Berkali-kali? Setiap pertemuan kalian?” tanyanya tak percaya. Tunggu, apa saat ini Sena sedang ketahuan berselingkuh dibelakangnya?

“Ya. Aku memberinya. Kenapa? Gadis ini kekasihmu?” goda pria dihadapannya.

“Brengsek, kau!” dengus Kyuhyun keras. Dibalas oleh tawa keras pria itu.

Dengan menyandarkan bahunya pada punggung kursi, pria dengan tatapan teduh tersebut pun berujar retoris, “Jadi benar ya, pria yang malam itu menggunakan jaket kulit bukan kekasihmu?”

Sena hanya membalasnya dengan senyum tipis. Sementara Kyuhyun menatap mereka berdua dengan perasaan jengkel. Sebenarnya Sena dan pria ini sudah berapa kali bertemu sih? Sepertinya sudah sering. Dan dia yakin, pertemuan itu terjadi diwaktu-waktu tertentu.

“Aku Lee Donghae,” tangan pria itu terjulur, menyebrangi meja makan yang memisahkan jarak mereka. Bibirnya mengulas sebuah senyum bocah yang diam-diam Sena kagumi. Nyaris menggemaskan, namun manis disaat yang bersamaan. “Kakak sepupu Kyuhyun. Dan… terima kasih sudah mau membantuku selama ini,” ucapnya.

He?

“S-sepupu?” tanya Sena tolol, lalu begitu menyadari tawa geli dari pria tersebut dan senyum setengah milik Cho Kyuhyun, Sena pun kembali berdeham memulihkan suasana. “Aku, Sena. Lee Sena,” balasnya seraya menerima uluran tangan Pria Lee. “Dan ya, sama-sama.”

.

.

When I’m With You [2nd Scenes] – end

Advertisements

56 thoughts on “(2nd) Interlude: Intemporel

  1. wahhhh jadi benarkah masalah kyu-na itu melibatkan donghae?

    maaf klo tebakan ku salah, tapi kemungkinannya menjurus ke sana.

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s