Intemporel – 4

intemporel-req

Poster by Kyoung @ Poster Channel

Aku menyimpan banyak rindu,

Tapi kau tidak perlu tahu

C A S T

⌈ CHO KYUHYUN ⌋

⌈ LEE SENA ⌋

⌈ ALISA PARK ⌋

R A T E:

PG-17 | Mature Content

AU | Multi-Chaptered

G E N R E:

Romance, Hurt, Drama, Family

R E C C O M E N D E D  S O N G

Yesung ⇔ Paper Umbrella

R E L A T E D  S T O R Y:

Intro ¦ Rendezvous ¦ Memento ¦ Labyrinth

N O W [P L A Y I N G]

MISSING YOU


This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!


.

Keadaan menghening.

Bahkan bagi Donghae, suara Jasmine yang telah ditelan oleh sekon lalu, serupa mesin elektrokardiograf yang mengukur detakan jantung lalu memvisualisasikannya dalam bentuk skala yang tinggi-tinggi. Namun didetik itu pula, semuanya berubah menjadi sebuah garis lurus konstan dengan bunyi nging yang terdengar panjang.

Bunyi yang menakutkan.

Bunyi yang menegangkan.

Donghae meremas tangannya yang menggenggam alat makan. Sebisa mungkin, menekan kerja jantungnya yang berdegup kencang. Matanya masih terfokus kedepan—pada seseorang yang dia yakini betul tidak tahu apa-apa bahwa dirinya sedang menjadi objek pembicaraan disini.

Sena. Si buah dari permintaan sederhana seorang gadis cilik bernama Jasmine Choi.

Pria itu menarik nafas dalam, lantas menggeleng lirih. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi sebentar lagi. Luka lama itu, dipastikan akan kembali terkuak. Menyeret para tokoh utama untuk bertemu pada satu pusaran waktu yang dulu sempat menenggelamkannya.

Donghae beralih, coba menggeser lehernya. Tidak mau memandang perempuan itu lebih lama, lantas membiarkan imajinya merangkai liar apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun sedetik dia menolehkan kepala, sedetik itu pula matanya terhenti pada sosok pria yang duduk berseberangan dengannya. Sedang tekun menyelami sang objek dengan kedua mata sipitnya. Siapa lagi kalau bukan Lee Hyukjae. Pria yang telah menjadi sahabatnya lebih dari separuh dia menghabiskan hidup.

Seharusnya, Donghae tidak kaget melihat Hyukjae yang menarik kedua sudut bibirnya. Membentuk seulas senyum tersirat yang bahkan Donghae ingat betul bahwa senyum itu sudah lama pergi dari rautnya. Tapi nyatanya, Donghae memang dibuat terkejut. Dibuat bertanya-tanya atas reaksi yang sempat dia kira tidak akan seperti yang sekarang pria itu tunjukkan sekarang.

Bukankah Hyukjae bilang, bahwa dia ingin mendekati Sena? Bukankah pria itu tertarik pada Sena? Lalu kenapa saat Jasmine meminta Siwon menikahi Sena, dia tersenyum begitu? Senyum yang—sangat, sangat, sangat tersirat maknanya. Donghae menggeleng sekali lagi. Ah. Itu bukan urusannya.

Dia kembali menarik tatapannya, dan baru saja dia ingin meneruskan makan malamnya lagi, saat sebuah suara keras dari dorongan kursi, menyentak pendengarannya tanpa ampun. Hingga semua mata yang berada di meja ini, menatap sosok itu—si penyebab putusnya keheningan yang melingkupi mereka.

Cho Kyuhyun. Dan, yah, raut tegangnya.

Ah. Donghae lupa dengan pria ini. Ya, kenapa juga dia malah melupakan satu hal yang sangat membekas itu? Dibanding dengan Hyukjae, seharusnya yang membuat dia penasaran setengah mati adalah reaksi Kyuhyun. Seharusnya.

Karena pria itulah yang pernah memiliki aliansi terdekat dengan Sena.

Pria yang—pernah menjadi kekasih perempuan itu.

“Aku ke toilet sebentar.” Ucapnya datar dan tanpa melihat siapapun, lalu pergi begitu saja.

Donghae kembali menunduk, menyimpan senyum patah yang kini terpatri diwajahnya. Ternyata masih belum.

Siwon pun berdeham, mengembalikan suasana yang tadi sempat menegang. Lantas mencari mata Jasmine—si pencipta hening yang mencuri kerja jantungnya beberapa saat lalu. “Bukankah—dia ibunya Sarang?” mulainya berimprovisasi.

Jasmine mengangguk kuat, tak lupa dengan senyum mahalebarnya. “Iya, Yah. Bibi Sena. Ayah ingat ‘kan?”

Semua mata memandang Siwon penuh simpati.

Tetapi, senyum pria tinggi itu yang tadi terulas lebar kini berubah masam. Tentu, tentu saja dia mengingatnya. Hanya saja, kenapa harus wajah seceria ini yang Jasmine berikan Ayah? Bukan Siwon tidak menyukainya. Tapi kebahagiaan yang putrinya itu tunjukkan malah akan semakin membuatnya tidak berdaya melawan arus.

“Jas—”

“Ayah mau ‘kan? Bibi Sena tidak buruk. Dia cantik. Pekerja keras. Dan… dia baik pada Jas. Ah, Sarang juga baik. Bahkan tadi Jas mengajaknya pulang bersama. Iya ‘kan ibu dokter?” ceriwisnya dalam satu kali tarikan nafas, lalu menoleh pada Lisa—tanpa mau melihat wajah keberatan sang ayah. Yang dibalas oleh Lisa dengan sebuah anggukan semangat pula. Paling tidak, hanya dukungan lah yang bisa Lisa berikan pada pada si cilik Choi saat ini. Masalah nanti Siwon keberatan atas anggukannya atau tidak, itu urusan nanti.

“Jas janji tidak akan meminta kado apapun saat ulang tahun Jas nanti. Sekalipun yang besaaaar sekali. Yang bisa membuat ayah bangkrut.” Jasmine terkikik kecil, kik kik kik kik. “Tapi sebagai gantinya, Jas mau Bibi Sena dan Sarang menjadi milik kita. Oke?”

Permintaan polos. Dan pernyataan lugu.

Sekali lagi, keadaan menghening. Tidak ada yang berani bersuara. Tidak Lisa. Tidak Donghae. Tidak Henry. Hyukjae. Changmin, bahkan istrinya. Semuanya mendadak bisu.

Ini memang terdengar sederhana, tapi bagi Siwon, ini terlalu besar. Dan terlalu berat baginya yang memang masih belum bisa melepaskan Kim Sarang.

Pria itu menggigit lidahnya sekeras mungkin. Meyakinkan diri selama puluhan detik. Tak lupa dengan binar mata yang meredup saat melihat senyum Jasmine yang begitu lebar. Seolah yakin bahwa jawaban yang akan diberikannya nanti tak akan mengecewakannya.

Tapi Jasmine Sayang, kau salah, Nak. Maaf.

“Baiklah. Ayah akan menuruti keinginan Jasmine,” semua kepala—lagi—memandang Siwon serentak. Tak lupa dengan telinga yang mereka pasang baik-baik. Tunggu, Siwon tidak bicara sembarangan ‘kan? Jangan bilang Siwon akan mengabulkannya.

“Tapi tidak dengan Bibi Sena.”

Siwon menarik nafas dalam, mengontrol emosi yang bergejolak dalam dada, lantas melanjutkan lagi, “Jas, menikah bukan tentang dua orang yang saling mengikat janji dihadapan Tuhan untuk hidup bersama. Bukan. Tapi, menikah itu mempertemukan dua orang yang tadinya sama-sama sendiri untuk menjadi satu. Menjadi sebuah keluarga. Jika ayah dan Bibi Sena menikah, lalu ayahnya Sarang mau dikemanakan? Hm?”

“A-ayah Sarang?”

Pria itu mengangguk. “Ya, ayah Sarang. Jasmine tahu, Bibi Sena itu sudah menikah dan Sarang sudah memiliki ayah. Tidak mungk—”

“Tapi Sarang tidak pernah menceritakan tentang ayahnya pada Jas.” Potong gadis cilik itu cepat. Wajahnya berubah murung. Bibirnya mencebik kedepan. Lalu matanya bergulir pada Lisa. Pada Henry Oppa-nya. Atau pada yang lain guna meminta pembenaran atas kalimatnya barusan, walau—yah, sangat tidak mungkin. Mereka tidak mengenal Sarang. Kecuali, ibu dokter cantik itu.

Dan inilah yang sangat tidak disukai oleh Siwon. Sebagai seorang ayah, mana mungkin dia tega melihat wajah putrinya muram begini. Jasmine itu anak yang ceria, cerewet dan banyak tingkah. Akan sangat aneh jika gadis itu berubah murung.

“Tidak menceritakan bukan berarti tidak memiliki, Sayang.” Siwon mengusap surai panjang putrinya lembut. Coba memberikan pemahaman pada gadis cilik itu. “Sarang ‘kan tidak seperti Jasmine, yang cerewet dan selalu menceritakan apa saja yang terjadi pada Jasmine. Benar bukan?” kekeh Siwon kemudian. Mencoba menghilangkan suasana canggung diantara mereka.

Namun nihil. Jasmine masih tetap murung. Mengundang para tokoh dewasa untuk saling menatap lagi dan menghembuskan nafas lagi.

Jadi dia tidak bisa memiliki Bibi Sena? Batin si cilik Choi itu.

“Tapi Ayah, kenapa Bibi Sena mengijinkan Jas memanggilnya dengan sebutan ibu?”

He?

Alis Siwon mengerut. Tunggu, dia tidak tahu apa-apa tentang ini. Lalu, dia menggulirkan kedua matanya pada para sahabatnya. Changmin dan Irene sudah dipastikan tidak tahu menahu soal ini, maka yang menjadi objek sorotan matanya adalah yang lain. Hyukjae menggeleng dengan gedikan bahu. Donghae pun sama. Kemudian matanya beralih pada Henry, dibalas oleh pria berkulit putih itu dengan bibir mengerucut dan gedikan dagu pada Lisa. Dan begitu Siwon menatapnya, Lisa—si objeknya sekarang—membalasnya dengan senyuman kaku. Lalu memberikan isyarat ‘nanti akan kujelaskan, sekarang ladeni saja putrimu dulu’.

Siwon menghembuskan nafas. “Ibu?” ulangnya, masih belum bisa mencerna apa makna dibalik sebutan itu.

“Ya. Ibu. Bibi Sena adalah ibu baru untuk Jas.” Angguk gadis cilik itu lemah. Tangan Siwon berhenti mengusap surai panjang putrinya. Intuisinya dibuat berkelana untuk puluhan detik, sebelum kemudian, “Eh, tapi ayah!” seru Jasmine tiba-tiba. Lalu dengan senyum yang merekah lebar—yang membuat Siwon memandangnya penuh antisipasi—dia melanjutkan, “Kalau Sarang benar-benar tidak memiliki ayah, ayah masih mau menuruti keinginan Jas ‘kan?”

He?

Suasana yang tadi sempat menegang, kini mulai melentur. Kembali seperti semula.

Changmin menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Hampir saja dia meledakkan tawanya. Donghae, Irene dan Lisa menyengir. Hyukjae mengulum senyum dengan kepala tertunduk. Sementara Henry melebarkan matanya keki setengah mati.

Jasmine. Ah, mereka lupa jika gadis itu perubahan mood-nya sangat cepat. Dan siapa yang bisa menebak pula, kalau ada saja alasan lain yang membuat gadis itu bertahan dengan keinginanya. Duh, kenapa Jasmine harus pintar berkelakar sih!

“Ayah sudah janji tadi. Dan ayah bilang, janji itu harus ditepati.” Siwon menatap putrinya ngeri. Sial. Dia salah bicara tadi.

Jasmine tersenyum sangat, sangat, sangat lebar lalu mengulurkan kelingking kanannya pada Siwon. “We have to made a pinky promise, Dad.

.

Intemporel

.

Cho Kyuhyun’s POV

“Jas ingin Bibi Sena menjadi milik kita. Menjadi Ibu Jas.”

Kalimat itu masih menggaung keras ditelingaku. Menyentak kerja jantungku.

Bibi Sena menjadi milik kita.

Menjadi ibu Jas.

Milik kita.

Ibu Jas.

Aku mendengus. Bibirku terulas sinis, lantas menyesap lagi gulungan tembakau yang berada ditanganku. Untuk kemudian menghembuskan asapnya ke udara malam yang dingin. Bohong saat tadi aku berkata bahwa aku akan ke toilet, karena alasanku yang sebenarnya adalah ingin menyepi sendiri. Disini. Menghilangkan sesak yang sesaat lalu diciptakan oleh si gadis cilik Choi—yang pada dasarnya memang tidak tahu apa-apa. Dan tidak bersalah sama sekali.

Hanya saja, merujuk pada pilihan Jasmine tadi, kenapa harus wanita itu? kenapa harus Lee Sena? Seolah di dunia ini, wanita yang pantas menjadi ibunya adalah dia. Dan aku… entah bagian mana dari diriku yang berkhianat, aku merasa tidak suka dengan ide Jasmine. Karena kalimat itu sanggup membuatku sesak seketika. Menusuk ulu hatiku dengan ribuan jarum yang tanpa ampun meninggalkan bekas luka disana.

Ini tidak masuk akal. Tapi sungguh, aku tidak suka mendengarnya.

Sulit bagiku membayangkan jika saat ini—yang terjadi didalam—Siwon mengiyakan permintaan Jasmine. Aku menggeleng keras. Tidak. Itu tidak akan terjadi bukan?

Kusesap lagi gulungan tembakau ini untuk mengalihkan stress yang tiba-tiba menghantam keras kepalaku. Menyudahi setiap drama yang terjadi. Namun baru saja aku menyempatkan diri melirik kedepan, sesuatu membuat dadaku bergemuruh. Sesak disaat bersamaan. Dia ada disana. Lee Sena. Berjalan bersama dua orang pelayan lainnya dengan bibir yang mengulas senyum lebar.

Dan masih tetap sama; manis. Sangat, sangat, sangat manis hingga rasanya membuatku semakin ingin membencinya.

Tunggu, bagaimana bisa dia tersenyum selebar itu disaat aku merangkak seorang diri, mencoba lepas dari ikatan masa lalu kami yang menyesakkan. Bukankah tidak adil?

Lalu seperti yang sudah kuduga; mata kami bertemu. Aku bisa melihat tubuhnya yang menegang, berhenti menyisakan jarak delapan langkah dariku. Aku tahu ini rasanya tidak mudah. Bahkan aku sendiri seperti ingin kehilangan nafas. Menahan gejolak rindu yang ditikam oleh kebencian. Sakit. Jantungku seperti kembali dihujam oleh ribuan pedang.

Hanya dua detik dia balas memandangku, karena untuk detik selanjutnya hingga berpuluh-puluh detik kemudian yang kami lewati bersama, dia hanya tertunduk. Seolah lehernya patah kedalam dan tidak bisa ditegakkan lagi.

Aku tidak akan menegurnya atau menariknya ke ujung lorong sepi seperti di klub waktu itu, aku tidak mau. Bagiku, rasanya sulit sekali menahan keinginan gilaku untuk memeluknya erat hingga paru-parunya mengerut tipis lantaran tidak memiliki pasokan udara, lantas membuatnya mati didalam pelukanku sendiri. Karena setiap sentuhan yang kuberikan untuknya, mengecohku untuk meminta lebih.

Aku tidak ingin dia kembali, tapi aku tidak mau menyakitinya lagi. Cukup hanya dengan aku yang membencinya dan semua rasa bersalah itu.

“Sena! Kenapa diam saja? Ayo cepat bantu kami,” seru salah seorang pelayan. Menyadarkan keterpakuanku. Keterpakuan kami.

Lalu dia berjalan, tubuhnya kembali bergerak. Dengan kepala yang masih tertunduk, melewati bahuku. Menyisakan aroma yang sangat kukenali. Campuran antara tanah basah dan sedikit bau tembaga. Aroma hujan. Feromon yang dulu sempat membuatku tergila-gila pula.

Aku menarik nafas dalam. Mengasihani diri sendiri lantaran masih belum sepenuhnya lepas dari kilasan masa lalu itu. Dia yang kurindukan tapi kubenci disaat yang bersamaan. Kenangannya menyakitiku.

Aku memejamkan mata sejenak, meredam detak jantung yang tidak bisa bergerak normal.

“Aku sial sekali bukan? Kenapa kau harus kembali, Sena? Pergilah. Kumohon, jangan kembali lagi. Jangan biarkan aku semakin tidak bisa melepaskan kebencian itu.”

.

Intemporel

.

Kali ini sedikit berbeda, Hyukjae memilih untuk tidak bergabung bersama dengan yang lainnya di ruang VVIP seperti biasa. Dia lebih memilih duduk di kursi bar, menemani Ryeowook yang bolak-balik membuatkan minuman untuk para pelanggan.

Kedua tangannya yang diletakkan diatas meja, menggenggam sebuah potret. Seorang gadis yang tersenyum manis namun menggemaskan disaat yang bersamaan menggunakan floral-dress selututnya. Anna. Ah, betapa dia merindukan gadis ini. Bagaimana kabarnya sekarang? Bagaimana rupanya sekarang? Bertahun-tahun mereka tidak bertemu, sudah banyak kerinduan yang dia simpan.

Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin mereka tidak akan berpisah. Anna tidak pergi meninggalkannya bersama kenangan singkat yang mereka miliki.

“Bos, kau menunggu Sena ‘kan?” ucap Ryeowook menyentak kesadarannya. “Itu dia! Apa perlu kupanggilkan kesini?” tawarnya lagi—terlalu polos. Membuat Hyukjae mau tak mau melantunkan tawanya. Lalu tanpa menunggu jawaban si pemilik klub ini, pria dengan postur tubuh kecil itu memanggil sang pemilik nama.

Sena yang melihat ada Hyukjae didekat teman barunya, menunduk singkat dari jauh. Baru setelah itu menuruti perintah Kim untuk mendekat. “A-apa ada yang kau perlukan, Tuan?” tanyanya.

Hyukjae tersenyum tipis, lantas menepuk salah satu kursi tinggi yang ada disebelahnya. Mengundang kerutan di wajah Sena. Perempuan itu mengalihkan tatapannya pada Kim; bertanya melalui isyarat. Dibalas olehnya dengan gelengan kepala. Sena menatap lagi si Pria Lee dengan ragu-ragu, lantas berujar, “M-maaf, aku—aku tidak tahu mak—”

“Duduklah disini. Temani aku.”

He?

Dia tidak salah dengar ‘kan? Sekali lagi, dia menatap Kim. Tapi sekali lagi pula, pria itu tidak tahu.

“Hanya duduk, Sena. Aku tidak akan mengajakmu bermain. Sungguh.” Ucap Hyukjae dengan senyum yang melebar, kedua jarinya—telunjuk dan tengah—membentuk tanda kutip.

Menghembuskan nafas, Sena pun menaruh nampan di atas meja. Kemudian mendudukan bokongnya disamping Hyukjae.

Tak ada yang berbicara setelah itu. Ryeowook sudah kembali bekerja. Hyukjae benar-benar hanya menyuruhnya untuk duduk. Ah, dan diam pastinya. Sena tidak tahu apa maksud dari Bos besarnya ini, tapi sebagai pekerja yang mencari uang di wilayah kekuasaannya, dia hanya bisa menurutinya saja. Mungkin dia akan menjawab sekali dua kali jika pria itu bertanya padanya. Yah, itu pun jika Lee Hyukjae memang berniat bertanya padanya.

“Kau mengingatkanku pada seseorang.” Ucapnya tiba-tiba.

“Huh?” Sena memandang Hyukjae tak mengerti. Dibalas oleh pria itu dengan tawa geli saat melihat tatapan lugunya. Lalu tanpa komando, tangannya bergerak untuk mencubit sebelah pipi Sena gemas.

“Eh, kau demam Sena?” tanyanya setengah panik begitu merasakan panas yang menyengat.

“Ha? Ah—t-tidak. Aku… baik-baik saja.” Jawabnya gugup.

“Tapi pipimu panas sekali.” Hyukjae kembali menyentuh Sena dengan telapak tangannya. Membuat gadis itu beringsut kebelakang. Canggung. “A-ah maaf, maaf. Aku hanya penasaran. Sungguh. Tidak ada maksud apa-apa,” jelas Hyukjae begitu Sena memandangnya antisipisi.

Sena menipiskan bibirnya, lantas mengangguk. “Tidak apa-apa.” Dia masih canggung. Cara Hyukjae menatapnya. Sentuhan Hyukjae padanya. Perhatian pria itu lewat nada bicaranya. Seketika membuat Sena dirajam rasa aneh. Hyukjae seperti sesuatu yang—Sena tidak tahu menyebutnya dengan apa tapi apapun yang diberikan oleh pria itu seperti ungkapan kasih sayang selama ini terpendam.

Eh, terpendam? Sena menggelengkan kepalanya lirih. Ah, apa sih yang dipikirkannya!

“—ng… kau, kau bilang aku mengingatkanmu pada seseorang. B-benarkah?” ucapnya mengalihkan kecanggungan mereka.

Pria itu mendesah, memutar tubuhnya untuk menghadap meja lagi, lantas mengangguk dengan senyum patah. “Ya.” jawabnya singkat.

Sena menyentuh kedua pipinya. Ah, benar, dia sendiri tidak sadar bahwa dia demam. “Apa—wajahku terlihat sangat pasaran?”

“Hng?” Hyukjae menoleh padanya lagi, lantas terkekeh geli disertai dengan gelengan kepala. “Mungkin ya, mungkin juga tidak.”

“Maksudmu?”

“Kau lihat ini,” dia menyodorkan satu potret yang sempat dimasukannya dalam saku jas tadi kepada Sena. Dibalas oleh wanita itu dengan mulut yang menganga lebar, lantas tanpa mau peduli pada siapa yang berada disampingnya, Sena meraih foto itu kedalam genggaman tangannya.

“Wah, d-dia siapa, Tuan? K-kenapa mirip sekali denganku. Apa aku terlahir kembar? Ah tidak mungkin. T-tapi dia memang seperti aku. Apa yang dikatakan oleh orang-orang selama ini bahwa kita memiliki wajah serupa dengan tujuh orang lain yang ada di dunia adalah benar? Kupikir itu hanya omongan belaka, tapi saat melihat ini. Wah… aku tidak menyangka, Tuan! Aku seperti memiliki saudara kembar. Sungguh. Ini benar-benar ajaib!” Sahut Sena dalam satu kali tarikan nafas, ditambah senyum yang merekah lebar diakhir kalimatnya.

Hyukjae sendiri amazed pada pola tingkah wanita ini yang berubah menjadi cerewet seperti Jasmine. Pria itu tertawa, lantas menggeleng geli. Benarkah ini Lee Sena yang dikenalnya sebagai pelayan kalem? Rasa-rasanya Hyukjae keliru.

Menyadari bahwa pria didepannya tidak berhenti tersenyum geli, Sena menyurutkan cengiran lebarnya. Apa dia baru saja bertingkah memalukan lagi?

Dia mengembalikan foto tersebut pada Hyukjae dengan sedikit kikuk. Baru sadar pula kalau tingkahnya beberapa saat lalu lancang sekali.

“Dia Anna. Gadis kecilku.”

“An—Anna?”

Hyukjae mengangguk. “Ya. Anna. Itulah alasannya kenapa aku merasa bahwa ada yang berbeda darimu.” Sena menatap foto itu lagi. Anna. Gadis itu… “Aku ingin menyayangimu. Bolehkah?”

He?

Sena menarik kepalanya dengan cepat. Memandang Hyukjae dengan kedua bola matanya yang melebar. Jantungnya berdegup dengan cepat. Eh, tanda apa ini? Tiba-tiba saja ada riak disudut hatinya yang selama ini tenang.

“Tapi Donghae pernah bilang bahwa aku mungkin akan menyakitimu, walau sampai saat ini aku bingung, memangnya aku mau menyakitimu dengan cara apa. Dia juga bilang bahwa kau bukanlah gadis yang sembarangan.” Hyukjae mendengus disertai senyum patah yang tersaji di wajah tampannya. “Kata-katanya sulit sekali dicerna.”

Namun, perempuan itu masih bergeming ditempat. Tidak berani mengeluarkan suara. Hingga Hyukjae yang melihatnya, dibuat tersenyum tipis.

“Aku tidak tahu ada masa lalu apa diantara kau dan Donghae. Aku juga tidak akan ikut campur untuk masalah kalian. Hanya saja, biarkan aku menyayangimu. Kau tidak keberatan bukan?”

Sena menelan ludah. Oh, tidak. Jangan lagi.

.

Intemporel

.

Bagi sebagian orang, berjalan seorang diri ditengah lengangnya malam mungkin terdengar menakutkan. Apalagi angin yang berhembus kencang, menambah kesan kesepian. Tapi berbeda dengan Sena, perempuan aneh itu jauh lebih takut pada manusia dibanding dengan makhluk halus. Menurutnya, hantu hanya bisa melukai manusia secara mental saja. Manusia lebih dari itu. Sekali menyakiti—mereka bisa melukai yang lainnya baik secara mental, hati maupun fisik. Dan Sena, dia sudah pernah merasakan ketiganya. Sekaligus. Bahkan oleh orang yang sama.

Kata-kata Lee Hyukjae beberapa jam lalu masih melekat. Memayungi kesendiriannya dengan sebuah harapan. Sayangnya, Sena tidak mau lagi berharap. Karena terlalu banyak menerima harapan, terlalu banyak pula kesakitan yang akan dialaminya nanti.

Sena hanya takut jika apa yang dikatakan Hyukjae tadi akan berbuah kepahitan bagi dirinya. Selepas pria itu menyelesaikan kalimatnya, Sena tidak menjawab apapun. Dia diam seribu bahasa. Menolak untuk mengucapkan balasan satu kata pun. Lalu selanjutnya dia pergi, meninggalkan Hyukjae bersama gadis dalam kenangannya.

Jika Sena boleh jujur, maka dia akan mengatakan bahwa bukan hanya pria itu sajalah yang ingin memberikan kasih sayang padanya. Dia jelas sudah banyak menerima rasa itu. Sebelum kemudian dia dihempaskan dalam lubang nestapa paska diberi kenikmatan duniawi.

Dimulai dari ayahnya yang pergi menghilang tiba-tiba, lantas meninggalkan dirinya bersama wanita yang tak pernah memiliki rasa kepedulian terhadapnya. Lalu Kyuhyun yang datang menawarkan banyak cinta, memberikannya secercah harapan tapi kemudian menyakitinya dan membencinya sebaik pria itu mencintainya dulu. Lalu Donghae, pria yang—katanya—sangat menyayanginya, tapi disaat dia membutuhkan pertolongan, tidak muncul kehadapannya. Dan terakhir suaminya—Lee Junghoon yang hadir dan mampu menggantikan posisi Kyuhyun dalam memberikan kebahagian padanya namun kemudian harus pergi. Hanya dengan satu kedipan mata, dia dibuang layaknya seonggok sampah. Mengabaikan tanggung jawabnya. Menelantarkan putrinya yang masih tidak tahu apa-apa.

Sena sudah banyak mendapatkan kasih sayang itu. Yang artinya sudah banyak pula luka yang merajam hatinya.

Jika memang kasih sayang itu benar-benar tulus, seharusnya tidak seperti ini ‘kan? Tidak ada yang pergi, tidak ada yang membuangnya dan tidak ada pula yang menyakitinya.

Wanita itu menghembuskan nafas lelah. Saat ini, dia tidak tahu kemana langkah kakinya akan membawanya pergi. Dia hanya mengikuti instingnya guna melepaskan penat sebelum pulang ke rumah dan… yah, demam yang tadi sempat membuat Hyukjae menyentuh wajahnya. Ah, Sena bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia memasukan nutrisi cukup ke dalam lambungnya. Akhir-akhir ini nafsu makannya berkurang drastis. Dia hanya mengisi perutnya dengan segelas susu di pagi hari, lalu dilanjutkan dengan menyemil kacang rebus yang selalu dia bawa kemana-mana. Makanan yang dia masak pun selalu berakhir percuma di meja makan, karena hanya Sarang lah yang menyentuhnya. Sejak kejadian dimana Junghoon menghinanya habis-habisan, pria itu tidak datang lagi. Terhitung sudah hampir tiga minggu.

Datang, lalu jatuh diantara langit malam yang terbelah. Setetes, dua tetes, gerimis menyapanya.

Tik. Tik. Tik.

Mendongakkan kepala, Sena mengulurkan telapak tangannya. Ah, benar. Hujan.

Dengan gerak kaki yang kian melemas, dia menyeret dua tungkainya ke sebuah halte terdekat. Pukul sebelas malam lewat, dan hanya ada dia disini—tidak heran sih. Sena sendiri tidak tahu ini dimana, tapi untuk sekarang, setidaknya dia bisa berteduh.

Perlahan-lahan, dengan buaian angin yang berhembus dingin, matanya terkatup. Selain karena kelelahan dan butuh istirahat dan butuh minum dan butuh tempat tidur, dia juga sudah tidak kuat lagi menopang tubuh ringkihnya. Demam yang menyiksa.

.

Intemporel

.

“Ayah kalau sudah bertemu denganmu selalu saja begitu, melupakan anak perempuannya.”

Kyuhyun menoleh sekilas, lalu tersenyum. Tangannya meraih sebelah tangan Lisa untuk digenggam, sementara yang lain tetap fokus pada kemudi mobil. “Tidak usah cemberut begitu. Jelek tahu!” ejeknya.

Alisa mendengus geli, lantas membalas ucapan Kyuhyun dengan cubitan di pipi pria itu. “Kau sengaja ya menarik perhatian ayah?” tanyanya retoris, dijawab oleh Kyuhyun dengan satu kedipan mata. Lisa tidak bisa menyembunyikan tawanya, perempuan berkulit putih itu kini balas menggenggam tangan Kyuhyun.

“Apa sih enaknya bermain catur? Setiap kali selesai makan malam bersama, kalian pasti menghabiskan waktu untuk duduk meriung didepan papan kotak-kotak itu,” gumam Lisa dengan bibir yang mencebik kedepan.

“Catur itu seni Alisa sayang…” Kyuhyun menjawab. “Seperti bermain teka-teka saja, salah langkah bisa jadi kau kalah. Skak mat! Dan disitulah letak kesenangannya, kau terisolasi dalam pikiran yang membuatmu lupa akan waktu.”

“Ohya?” tanya Lisa dengan wajah jengah.

Kyuhyun kembali menoleh sekilas, lantas mengacak-acak tatanan rambut Lisa. “Ck. Wanita sepertimu mana tahu sih tentang seni.”

“Jadi sebenarnya catur itu seni atau bermain teka-teki?”

“Dua-duanya.”

“Yang benar Kyuhyun!”

“Serius. Makanya, lain kali belajar bersamaku atau ayah, nanti kau bisa merasakan sensasinya bermain catur.”

Lisa mendecih. “Cih! Aku tidak suka.”

“Kenapa?”

“Nanti bisa-bisa otakku keriting, Tuan Arsitek.” jawab Lisa disusul dengan kekehan. Perempuan itu tertawa lagi, mengalunkan suara indahnya di udara. Berbanding terbalik dengan Kyuhyun. Bukan keterpesonaan yang pria itu tunjukkan, melainkan tubuh yang menegang.

Otakku keriting.

Itu kalimat sederhana memang, tapi bagi Kyuhyun tidak. Kalimat itu jelas mengingatkannya pada seseorang. Dulu, untuk membantah setiap soal matematika yang Kyuhyun berikan padanya, orang itu akan selalu menjawabnya dengan kalimat yang berujung sama ‘Otakku sudah keriting, Oppa!’; ‘Aku tidak mau, otakku cepat keriting kalau begini terus-terusan.’; ‘apa kau ingin membuat otakku keriting lagi, Oppa?’

Kyuhyun menelan ludah. Lagi-lagi suara itu muncul. Lagi-lagi bayangan wanita itu hadir. Tidak bisakah dia menjalani kehidupannya seperti dia menjalaninya selama enam tahun ini? Tanpa harus mengingat-ingat nama itu lagi.

“Oh! Kyuhyun—bukankah itu Sena?”

Dan seperti tidak mau setengah-setengah, takdir seolah menuntunnya untuk kembali berhadapan dengan wanita itu.

“Berhenti! Berhenti! Iya, itu Sena!” Lisa menolehkan kepalanya kebelakang, lehernya dia panjangkan guna melihat sosok yang sedang menyandarkan tubuhnya pada papan iklan di sebuah halte. Kyuhyun ikut melihat lewat kaca spion, namun tidak ada secuil pun raut penuh minat pun penasaran yang dia tunjukkan. Dia hanya menatapnya datar.

“Kenapa dia tidur disana?” gumam Lisa. “Mundurkan sedikit Kyu mobilnya.”

“Untuk apa?” tanyanya dengan kedua alis mengerut. Oh. Jangan bilang Lisa akan…

“Untuk melihatnya. Kau pikir untuk apalagi?”

Kyuhyun berdecak. “Sudahlah. Dia mungkin sedang menunggu bus.”

“Ini pukul setengah dua belas malam. Jarang ada bus yang lewat jam segini.”

“Lalu?” tanyanya dengan raut bosan “Kau mau memberinya tumpangan begitu?”

Untuk puluhan detik, Lisa hanya terdiam. Perempuan itu menatap Kyuhyun lekat. Ya, dia tahu Kyuhyun sangat membenci orang miskin, contohnya seperti Sena. Tapi Lisa yakin ada yang tidak beres dengan wanita itu. Entahlah, mungkin ini firasatnya sebagai seorang dokter. Dan dia hanya ingin menolongnya.

“Kalau, iya, bagaimana?” tanyanya mencoba peruntungan.

Kyuhyun mendengus. “Tidak. Lebih baik kita pulang sekarang,” pria itu kembali menarik porsneling, namun baru saja dia akan memutar setirnya, saat tangan Lisa malah menahan. “Kyuhyun, please… She needed us.

“Ayolah Sa… Jangan berlebihan. Dia baik-baik saja! Tidak usah terlalu perhatian pada orang lain bisa tidak sih?!” ucapnya dengan intonasi yang meninggi.

Lisa mengerutkan alis, lantas tersenyum sinis. Tidak percaya pada ucapan Kyuhyun barusan. Hei, jelas-jelas disana Sena sedang meringkuk sendirian, mana mungkin dia—yang notabene seorang dokter dan perempuan juga—sanggup mengabaikannya.

So, you won’t help her?” tanyanya sekali lagi, namun begitu sadar bahwa Kyuhyun akan tetap kukuh pada pilihannya, dia pun melanjutkan, “Ok. Let me off.

Tubuh Lisa yang sudah keluar dari mobil sebagian, terbanting keras ke dalam lagi tatkala Kyuhyun menarik sebelah tangannya dengan kencang. Disusul oleh pekikannya yang kesakitan. Pria itu menggeram dengan rahang yang mengetat.

“Kau mau kemana?” suaranya mengalun rendah namun sarat penekanan.

“Kyuhyun… lep—akh… Kyuhyun ini sak—it…”

“Jawab aku, kau mau kemana?” ungkapnya lebih keras.

“Menemui seseorang yang membutuhkanku! Kau puas? Sekarang lepas… akh! Kyuh—”

“Haruskah kita bertengkar sekarang? Disini? Di luar hujan, Lisa! Jangan konyol!”

“Kau tahu di luar hujan. Dan sekarang adalah tengah malam. Tapi kau sanggup mengabaikannya? Bagaimana jika ada yang menyakitinya? Ha?” balas Lisa tak kalah keras.

Kyuhyun tertegun. Matanya terpaku pada tatapan perempuan itu. Lalu perlahan, cengkraman tangannya pada Lisa pun mengendur. Bagaimana jika ada yang menyakitinya? Pertanyaan konyol, siapa juga yang mau menyakiti perempuan miskin seperti Sena? Di rampok pun, si penjahat itu tidak akan mendapatkan apa-apa. Tidak ada banyak harta yang dimiliki oleh wanita itu.

Tapi—Kyuhyun menelan ludah—bagaimana jika ada yang menyakitinya secara fisik?

Eiy, tidak mungkin. Dia menggeram dalam hati. Ck. Untuk apa pula dia berpikiran seperti itu?

Lisa menarik nafas dalam, lalu menggenggam tangan Kyuhyun sekali lagi—membuat si empunya tersentak. “Ayolah Kyu… Oke? Kali ini, sedikit saja buang arogansimu. Aku tahu kau tidak menyukai orang miskin, tapi sekarang Sena mungkin membutuhkan pertolongan kita.”

Benarkah?

Kyuhyun melirik lagi keluar jendela; Sena meringkuk sendirian dengan tubuh bersandar. Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu?

Pertanyaan itu pun muncul. Membuatnya mendesah pasrah. Ya, pada akhirnya, mau tak mau Kyuhyun akhirnya meluluh. Bukan karena membuang arogansinya, tapi karena ketakutannya tadi. Bagaimana jika ada yang menyakitinya secara fisik.

“Bagus!” Lisa menepuk pipi Kyuhyun sayang. Lalu matanya bergulir kesana-kemari, “Um—kau ada payung?”

“Ya, satu. Di bagasi.” Kyuhyun lantas menekan tombol bagasinya, disusul oleh Lisa yang berjalan keluar.

Sedikit terburu-buru, wanita itu mendekati Sena yang masih memejamkan mata. “Kau pucat sekali,” gumamnya begitu berjongkok dihadapan Sena. “Sen—” kalimatnya terhenti kala kulitnya bersentuhan dengan kulit wanita itu. “Ya Tuhan, ini panas sekali. Sena… Hei, Sena… kau mendengarku,” Lisa sebisa mungkin membangunkan Sena dengan cara menggoyang-goyangkan tubuhnya. Namun saat tubuh Sena ambruk kedepan, menimpa tubuhnya, barulah dia sadar; wanita ini pingsan.

“Astaga… bagaimana bisa kau pingsan di pinggir jalan seperti ini? Tengah malam dan hujan juga. Ck.” Sekuat tenaga, Lisa menegakkan tubuh itu lagi, lantas menyandarkannya pada papan iklan. Setelah membenarkan posisi Sena, dia berbalik arah dengan cepat menuju mobil, mengetuk pintu kaca Kyuhyun.

“Apa lagi? Dia sulit dibangunkan?”

“Tidak. Dia pingsan, Kyu!”

Mata Kyuhyun membelalak. Pingsan?

“Aku sud—”

Tanpa perintah apapun, dengan segera dia keluar dari mobil. Berlari menuju Sena, untuk kemudian berjongkok didepannya; menepuk-nepuk pipi wanita itu sama seperti yang dilakukan Lisa tadi.

Sial. Suhu tubuhnya panas sekali. Dan dia hanya menggunakan kemeja tipis. Ceroboh sekali.

“Sena! Sena! Buka matamu. Hei!”

“Dia benar-benar pingsan, Kyu.” Sahut Lisa dibelakangnya sedikit khawatir. Namun Kyuhyun tidak peduli, dia masih terus menggencarkan tepukannya pada pipi panas milik wanita itu. Bahkan sebelah lengannya dia relakan untuk menopang kepala Sena, sampai Lisa yang berada dibelakangnya, dibuat terkejut dan bertanya-tanya pada perubahan Kyuhyun yang drastis ini.

“Sena! Kau mendengarku? Hei!”

Bangun, Sialan.

Jangan membuatku khawatir.

Dada Kyuhyun bergemuruh. Sena benar-benar tidak menyahut panggilannya sama sekali. Ya Tuhan… dia tidak apa-apa ‘kan?

“Disini semakin dingin. Lebih baik kita bawa ke mobil saja. Cepat!” Ucap Lisa sekali lagi. Kyuhyun pun mengangguk, pria itu berdiri dengan membawa Sena dalam rengkuhannya.

Dan disinilah pertahanannya diuji. Untuk pertama kalinya sejak delapan tahun berlalu, sentuhan lebih intim itu terjadi. Merenggut habis nafasnya. Menggoda kian nafsunya. Iblisnya berbisik samar; memerintahnya untuk lebih erat lagi merengkuh tubuh ringkih tersebut disaat dirinya mati-matian mematikan hati.

Kyuhyun memang menginginkannya, tapi dia tidak bisa. Dia dan Sena bukan apa-apa sekarang. Ikatan itu sudah terlepas, tertinggal jauh dibelakang.

Disampingnya, Lisa masih setia memayungi mereka. Mengabaikan sebelah bahunya yang terhempas tetesan hujan demi dirinya dan Sena. Lalu, pertanyaan itu pun muncul; siapa Lisa baginya saat ini? Dan bagaimana perasaannya pada Sena selama ini?

“Kau tidak apa-apa ‘kan didepan sendiri?” Lisa kembali bersuara. Dan sekali lagi, menyentak pikiran Kyuhyun. Membuatnya hanya bisa mengangguk.

Kuda besi itu pun kembali melaju. Membelah kota metropolitan tersebut dengan kecepatan sedang. Jalanan sepi, hanya hujan yang mengisi. Sepanjang perjalanan, Lisa disibukkan dengan Sena, sementara Kyuhyun menata hatinya yang sesaat lalu sempat terkoyak.

Pertanyaan-pertanyaan itu masih memenuhi pikirannya saat ini. Jujur saja, Kyuhyun tidak bisa menjawab diantara keduanya. Sekeras apapun dia mencoba menebalkan fakta bahwa dia tidak ingin peduli pada Sena, bahwa dia sangat membencinya, dan tidak ingin wanita itu kembali lagi, tapi di sudut hatinya yang rapuh, selalu tersimpan sebuah kecemasan yang berujung pada rindu. Kyuhyun tidak mengerti ini perasaan apa, dan bagaimana bisa terjadi. Yang dia dapatkan hanya abu-abu.

Disisi lain, hubungannya dengan Alisa yang tidak pernah benar-benar jelas, membuatnya bimbang. Mereka pun tidak terikat, tapi setiap kali menatap wajah Lisa, dia selalu meyakinkan diri bahwa dia tidak akan pernah sanggup kehilangannya. Dan hal itu terbukti sampai sekarang, bahwa dia, memang membutuhkan wanita itu untuk terus berada disisinya. Menuntunnya, membantunya merangkak sedikit demi sedikit agar terlepas dari masa lalu itu.

“Bajunya basah, terkena tampias hujan. Kyuhyun, kita bawa Sena ke apartemenmu saja ya?”

Apa?

“Kenapa harus apartemenku? Kita bawa ke rumah sakit saja!”

Lisa menggeleng. “Rumah sakit terlalu jauh darisini, Kyu. Kalau keadaannya memungkinkan pun, aku bersedia menampung Sena di apartemenku. Tapi dia sudah kedinginan.”

Kyuhyun mendesah. Melirik tubuh yang sedang berada dalam pengecekan Lisa melalui kaca spion yang ada didepannya.

Haruskah? Haruskah dia menuruti permintaan Lisa lagi?

Sa, aku membutuhkanmu untuk membantuku lepas darinya bukan untuk menumbuhkan rasa itu lagi padanya.

Dua puluh menit kemudian, mereka sudah berada didalam kamar sebesar lima kali lima meter. Sena berbaring dengan Lisa yang setia berada disampingnya. Sementara Kyuhyun berdiri didekat pintu kamar. Menatap dua wanita itu dengan pandangan kosong.

Kyuhyun tak pernah menduga bahwa alur kehidupannya akan seperti ini. Menyaksikan dua wanita yang sanggup merebut perhatiannya dalam waktu bersamaan. Satu datang dari masa lalunya, dan satu lagi hadir untuk mengisi masa depannya.

Lisa seperti seorang kakak bagi Sena. Wanita itu mau merepotkan dirinya hanya untuk menolong seseorang yang baru dikenalnya tidak lebih dari dua puluh empat jam. Kyuhyun tersenyum miris, bagaimana reaksi Lisa jika dia tahu bahwa Sena adalah gadis yang ingin Kyuhyun lupakan selama ini? Gadis yang belum sepenuhnya dia lepaskan kenangannya. Gadis yang menghambat hubungan mereka hingga status pun masih dipertanyakan.

Bukankah takdir benar-benar kejam? Dia tidak mau melukai Lisa lebih dalam lagi dengan fakta ini. Perempuan itu, dia lah yang selama ini menopangnya.

“Kalau sudah selesai, aku tunggu di ruang duduk,” ucapnya kemudian membalikkan badan, siap untuk pergi.

“Tidak perlu.” Lisa berdiri. Merapikan sebentar selimut yang menutupi tubuh telanjang Sena, lalu berjalan kearahnya. Kemudian dengan sebuah senyuman dia menggapai lengan Kyuhyun. “Aku—ng.. itu—aku harus… um—”

“Kenapa kau?” tanyanya dengan alis mengerut.

“Rumah sakit menelepon.” Lisa menggigit bibir. “Ada kecelakaan beruntun di daerah Naegok, enam orang terluka parah dan tiga yang lainnya luka ringan.”

Kyuhyun memejamkan mata sebentar, lantas menghembuskan nafas keras. Mulutnya terbuka sebesar dua jari. Bukan karena terkejut, tapi karena dia tahu setelah ini rangkaian cerita akan seperti apa.

“Aku harus ke rumah sakit. Hanya ada dua dokter jaga disana. Aku—minta maaf karena tidak bisa menginap disini.”

“Lalu dia?”

Lisa menggaruk telinganya yang tidak gatal, lantas menyengir, “Dia tetap disini. Dan—tenang saja, aku sudah memberinya obat.”

Kyuhyun mendengus. Mudah sekali dia bicara. Bukan itu masalahnya! Tapi jika Sena terbangun nanti, dia harus mengatakan apa? Bukan dia ‘kan yang menginginkannya disini, tapi Lisa. Lalu saat dia… aaargh kecelakaan sialan! Rumah sakit sialan! Kenapa mereka harus meminta Lisa untuk menanganinya juga?

“Besok pagi, kalau sempat, aku janji akan kembali kesini. Tidak apa-apa ‘kan?” Lisa tersenyum, tapi Kyuhyun menatapnya malas. Wanita itu mengecup cepat pipi Kyuhyun guna mengembalikan emosinya seperti semula, lalu menepuknya ringan. “Aku pergi ya. Tidak apa-apa ‘kan?” Dibalas oleh Kyuhyun dengan anggukan berat. Mau bagaimana lagi memang, dia tidak mungkin menahan Lisa disini sementara ada orang lain yang sekarat membutuhkannya.

“Terima kasih.”

“Tunggu,” Kyuhyun mengambil kunci mobil serta jaketnya, lantas kembali melanjutkan, “Aku antar kau.”

“Tidak perlu” Sergah Lisa cepat. Dibalas olehnya dengan kerutan alis. Lisa kembali tersenyum. “Aku bisa menggunakan taksi. Kau disini saja, jaga Sena.”

“Ha? Tapi ini sudah malam, Sa. Aku antar. Ayo!”

“Tidak apa. Aku tahu kau juga lelah menyetir, jadi tidak usah.” Sekali lagi, Lisa meyakinkan Kyuhyun. Tangannya menahan gerakan pria itu. “Istirahatlah.”

Kyuhyun menghembuskan nafas. Lalu setelah itu, pintu tertutup, meninggalkan bekas feromon Lisa yang masih dapat tercium. Keadaan melengang. Hening untuk waktu yang cukup lama. Semuanya mendadak senyap. Dan Kyuhyun masih saja—hanya—berdiri layaknya patung pajangan. Tak berani bergerak sedikitpun.

Selepas kepergian Lisa, entah kenapa semuanya jadi terasa berat. Seperti ada beban yang jatuh diatas kepalanya. Jantungnya yang sekon lalu masih berdetak normal pun, kini berdegup lebih cepat. Lagi dan lagi.

Sena disini. Dan mereka hanya berdua, terpisahkan oleh sekat yang tak berarti.

Hal itu—membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

.

Intemporel

.

Lee Sena’s POV

Panasnya matahari menyelinap masuk diantara celah-celah tirai. Cahaya itu menyengat wajahku tanpa aliansi apapun. Menyentak ketenanganku yang tengah dibuai oleh bunga tidur untuk terangkat ke dunia nyata.

Sedikit demi sedikit, diselingi oleh geraman sebal, aku coba membuka kedua kelopak mataku yang terasa berat. Lalu pandangan yang semula buram, kini berangsur menjadi jernih. “Nghh…” lenguhku. Lantas terdiam cukup lama guna mengumpulkan nyawa.

He?

Tunggu, ada yang aneh. Ah, tidak. Berbeda lebih tepatnya.

Aku yakin langit-langit kamarku tidak sebagus ini. Dan… selimutku tidak setebal ini. Dengan sedikit terlonjak, aku bangun dari posisi berbaring. Dan semakin kaget saat melihat ruangan asing yang memenuhi indra penglihatanku, juga—ah, kenapa aku tidak mengenakan pakaian apapun selain pakaian dalam?

Aku menepuk pipiku, coba mengingat kejadian semalam. Tapi aku yakin tidak terjadi apa-apa selain aku yang—ah ya, selain aku yang jatuh tertidur di halte. Tunggu, aku tertidur atau pingsan. Kalau tertidur, tidak mungkin aku tidak merasakan tubuhku terangkat dan berakhir disini begitu saja. Jadi, apakah semalam aku pingsan?

Sekali lagi, aku menepuk pipiku. Buru-buru kuraih pakaianku yang tergantung didepan lemari. Namun didetik itu pula, gerakanku terhenti. Jantungku berdegup cepat. Aku—aku hampir sepenuhnya telanjang, ini… tidak seperti yang aku pikirkan bukan? Ya Tuhan, jangan lagi.

Setelah menggunakan pakaian, aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan. Mataku sekali lagi berkeliling, mencari tas tanganku. Ah, ada diatas nakas. Aku berjalan sebentar kesana, mengeluarkan semua isinya. Dompet, tisu, kacang rebus, kaca, ponsel, jepit rambut, bedak, lipbalm. Semua masih utuh. Tidak ada yang hilang sama sekali. Uang pun jumlahnya masih sama seperti kemarin. Aku menggaruk pipi, jadi, sebenarnya yang terjadi padaku itu apa?

Tak mau menduga lebih lama, aku pun memutuskan untuk cepat-cepat keluar dari ruangan ini saja. Namun, begitu aku menarik kenop pintu dan membuka sedikit ruang untukku agar bisa keluar darisini, mataku dibuat membelalak. Jantungku berdegup cepat.

Tunggu. M-mereka. Mereka…

Bibirku terasa kelu, kering disaat yang besamaan. Untuk belasan detik, aku seperti patung. Diam tak bergerak. Lalu dengan tubuh yang kian melemas, aku kembali menutup pintu. Tidak ada semangat yang menggebu lagi untuk lekas keluar dari ruangan ini. Semuanya terpatahkan dengan kegiatan mereka berdua. Mereka. Kyuhyun dan Lisa. Kenapa mereka ada disini?

Aku memejamkan mata erat. Menelan ludah berat lantaran tenggorokanku tercekat. Satu-satunya kesialanku adalah telingaku yang masih terpasang dengan baik, hingga tanpa bisa kucegah, indra ini dapat menerima gelombang longitudinal dari bunyi kecapan yang mereka ciptakan.

Perlahan, aku meluruh jatuh, seperti ada yang melepas paksa tulang yang selama ini menopangku berdiri. Mataku memerih, ada genangan yang siap tumpah. Dan tanganku saling menangkup didepan dada, menekan keras-keras rasa sakit yang sepagi ini harus kuterima.

Mereka bercumbu.

Begitu liar. Begitu membara.

Dan aku harus menyaksikannya dengan kedua mata kepalaku sendiri.

Ada sesak yang menyapa paru-paruku, seolah oksigen tak sanggup melawannya. Cho Kyuhyun. Pria itu—aku tidak pernah sekalipun melihatnya mencumbu wanita lain. Dua tahun kebersamaan kami yang begitu singkat, aku mengenal baik bagaimana sifatnya. Dan kini—aku menggeleng tegas. Kau bodoh, Sena! Memang kau siapanya sampai Kyuhyun harus memerhatikan perasaanmu? Kisah kalian sudah usai delapan tahun lalu setelah kau mengkhianatinya!

Aku kembali menelan ludah. Sebisa mungkin, ku coba redam suara tangisku yang mengisak. Aku tidak mau mereka tahu bahwa aku tengah meratap seorang diri. Tapi sesak itu begitu nyata. Ya Tuhan… ini rasanya sakit sekali. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Berhenti Sena! Untuk apa kau menangisinya! Kyuhyun hanya masa lalumu, kau tidak perlu meratapinya lagi!

Tetapi, aku tidak bisa menahannya. Melihatnya mencumbu wanita lain, sedikit banyak melukai rasa rindu yang selama ini kusimpan rapi.

Menit-menit kuhabiskan seperti ini terus, hingga kemudian suara kenop yang diputar dari luar pun terdengar. Aku mendongak keatas.

“Pintunya terkunci, Kyu. Apa dia sudah bangun?”

Itu suara Lisa. Aku cepat-cepat berdiri. Membersihkan wajahku dari jejak air mata sekali lagi, lalu menarik nafas dalam. Namun, ada keraguan yang menyusup dadaku. Menyentil bagian terpencil. Apa aku sanggup melihatnya? Melihat mereka? Melihat Kyuhyun?

“Sena? Kau sudah bangun?”

Suara lembut Lisa kembali mengalun. Percuma, memantapkan hati sekeras apapun, dia—hati kecilku tidak akan pernah sanggup melihat wajah Kyuhyun lagi. Ditambah dengan adanya wanita lain yang menyertainya.

“Sena buk—”

Klik.

“—akan pin… Hai! Kau sudah bangun ternyata.” Senyum lebar wanita itu menyapaku. Bibirnya sedikit membengkak. Itu ulah Kyuhyun. Dan rasa nyeri itu kembali hadir.

Dengan sedikit kikuk, aku menunduk padanya singkat. “Y-ye.”

“Tidak perlu formal begitu, Sena. Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, lantas membawa tangannya untuk menyentuh keningku. Menguarkan aroma bunga daisy untuk menyapa indraku. “Oh. Masih demam,” katanya dengan nada lesu. “Tapi untunglah tidak separah semalam,” lanjutnya lagi.

Satu yang bisa kusimpulkan saat ini; mereka lah yang datang menolongku.

Aku masih menatapnya—tidak berani menatap ke arah lain—dan perempuan ini masih saja secantik saat pertama kali aku melihatnya minggu lalu. Cocok sekali dengan Kyuhyun yang memang tampan.

Berhenti Sena! Jangan membuat hatimu sakit sendiri.

“Kita sarapan bersama, ya.”

“Ha? Eh… ng—t-tidak perlu. Terima kasih. Aku—aku ingin langsung pulang saja. Y-ya.”

Alis Lisa mengerut tidak suka. Lantas berkata, “Tidak, tidak. Kau harus sarapan dulu. Aku sudah membeli banyak makanan untuk kita. Lagipula kondisimu belum fit benar. Kau harus makan.”

“T-tapi… tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kita sarapan. Titik. Kyuhyun sudah menunggu kita disana. Kajja!

.

Intemporel

.

Pukul delapan lewat.

Kyuhyun keluar dari kamarnya dengan menggunakan setelan celana pendek selutut berwarna abu-abu dan kaus tipis berwarna putih. Salah satu tangannya sibuk menggosokan handuk diatas kepala. Sementara bibirnya menyiulkan senandung sebuah lagu dari salah satu band kesukaannya. Simple Plan.

Masih dengan kesibukannya sehabis mandi itu, Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju dapur. Seperti ritualnya di pagi hari yang sudah-sudah, Kyuhyun hendak membuat secangkir latte untuknya. Namun, begitu kakinya menginjak sekat antara dapur dan ruang duduk, bibirnya dibuat berhenti bersiul lantas tergantikan dengan satu kuluman senyum tatkala punggung ramping milik Lisa memenuhi penglihatannya.

Dia melempar handuk pada salah satu punggung kursi, kemudian melarikan tangannya untuk memeluk pinggang wanita tersebut erat. Membaumi feromonnya yang membuat Kyuhyun ketagihan.

“Terlambat sepuluh menit, Nona.” Ucapnya menyerupai bisikan begitu tubuh Lisa sudah masuk sepenuhnya kedalam rengkuhannya. Tak lupa dengan satu kecupan singkat yang secara cuma-cuma dia berikan untuk wanita itu.

Lisa mendengus geli. Dia sendiri sudah tahu bagaimana tabiat Kyuhyun jika mendapati dirinya di dapur ini. Pria itu, pasti akan memeluknya dari belakang. “Aku membeli banyak makanan, jadi wajar saja jika aku lebih lambat dari yang seharusnya.” Tanpa mengusir Kyuhyun yang masih betah memeluknya, Lisa berjalan menuju meja makan. “Sudah mandi, eh? Berapa jumlah kalori yang kau keluarkan pagi ini, Tuan?”

Kyuhyun mengecup pipi Lisa sekali lagi, lantas melepaskan kungkungan tersebut, sebelum kemudian menjawab. “Um—dua ratus mungkin. Atau tiga ratus. Hari ini aku hanya treadmill dua puluh menit,” lalu tangannya mencomot satu sushi yang tersaji diatas piring, melahapnya dalam sekali suap. “Banyak sekali sih yang kau beli.” Ujarnya dengan mulut penuh begitu melihat sushi, ayam teriyaki, kentang tumbuk, nakji bokkeum, dan japchae ada didepan matanya.

“Kau lupa ada Sena disini?” tanya Lisa balik. Bibirnya tersenyum mengejek. Sementara Kyuhyun, pria itu berhenti mengunyah. Sena. Ah ya, benar. Dia bahkan lupa jika ada wanita itu di apartemennya ini. “Apa dia sudah bangun?” tanyanya lagi. Dibalas oleh Kyuhyun dengan gedikan bahu. “Kau belum menengoknya lagi?”

“Untuk apa?” balasnya lagi acuh tak acuh.

Lisa menghembuskan nafas, menatap wajah menyebalkan milik Cho Kyuhyun. “Mengecek keadaannya, mungkin. Atau sekadar melihatnya. Tidak?”

Kyuhyun menelan sushi-nya susah payah, lalu balas menatap Lisa dengan pandangan jengah. “Dia sudah besar, Sa. Kalau sadar ini bukan tempat tinggalnya pun pasti dia juga sudah keluar dari kamar sejak tadi.”

Lisa melemaskan bahu. Harus dia akui, Kyuhyun itu memang tipikal pria yang idealis. Yang kadang diajak berkompromi itu sangat sulit. Contohnya, yah, seperti tadi. Tanpa diberitahu, Lisa pun tahu kalau Sena itu sudah besar, bahkan tergolong wanita dewasa seperti dirinya. Tapi menengok orang yang sedang demam didalam kamar yang hanya tinggal melangkahkan kaki saja, apa susahnya sih?

Benar-benar pria egois.

Tetapi sialnya, Lisa harus menjatuhkan hati pada pria egois ini.

Wanita itu mendesis, lantas pergi dari meja makan menuju ruang duduk. Ah, sudah hampir pukul setengah sembilan. Apa Sena masih tertidur? Kemudian dia meraih tas tangannya, mengambil si benda elektronik berbentuk pipih yang ternyata sudah terisi oleh beberapa notifikasi. Salah satunya adalah pesan dari asisten perawatnya; memberitahu bahwa pukul sepuluh nanti dia ada jadwal operasi dengan pasien lansia yang menderita katarak.

“Pesan dari siapa?” tanya Kyuhyun tiba-tiba—dan sekali lagi, memeluk tubuh wanita itu dari belakang.

“Suster Yoon. Hanya mengingatkanku kalau pukul sepuluh nanti, aku ada jadwal untuk operasi.”

Kyuhyun mengangguk. Semakin mengeratkan pelukannya. Ah, dia betah sekali mengurung tubuh Lisa yang—menurutnya—selalu wangi ini. “Sibuk sekali, ya, ibu dokter.” sindirnya, yang dibalas kekehan oleh Lisa.

“Begitulah.” Jawab Lisa sekenanya. Dia menghela nafas sebentar, lalu menggeliat. “Lepas, Kyu. Kau berat tahu.”

“Tidak mau.” Jawabnya dengan nada manja.

“Eiy— jangan begini, aku harus membangunkan Sena.”

Mendengar nama itu disebut lagi, Kyuhyun mendengus. Lantas melepaskan tubuh Lisa secara tiba-tiba. Mendadak, mood-nya berubah buruk.

“Kenapa kau?” tanya Lisa heran. Alisnya mengerut.

“Tidak. Tidak apa-apa.”

Sekali lagi, Lisa mendengus. Lalu dengan gelengan kepalanya, dia meletakkan ponselnya lagi kedalam tas. Baru saja dia hendak berbalik melangkahkan kakinya menuju kamar tamu, ketika tiba-tiba, Kyuhyun menarik sebelah tangannya lalu merangkum kedua pipinya erat. Secepat gerakan itu terjadi, secepat itu pula bibirnya sudah berada didalam mulut panas pria itu. Kyuhyun menciumnya. Bibirnya bergerak rakus mencecap material lembut miliknya seintens mungkin. Menghisap setiap jengkal rasa yang dia miliki.

Awalnya Lisa tidak siap. Namun lambat laun, dia mulai bisa menyesuaikan diri. Tangannya yang semula menegang disamping tubuh, kini sudah dia kalungkan disekitar pinggang Kyuhyun. Tidak ada yang bisa Lisa lakukan kecuali ikut membuka bibirnya dan memberikan akses pada lidah pria itu untuk menjelajah lebih dalam. Rasa mint kemudian memenuhi indra pengecapnya tatkala Kyuhyun menggunakan benda lunak yang ahli itu untuk menyapa langit-langit mulutnya.

Dia terbuai, tentu saja.

Siapa yang tidak, Kyuhyun adalah pencium handal. Sekasar apapun lumatannya, setergesa apapun caranya, pria itu masih tetap bisa menjaga sisi lembutnya. Kyuhyun bahkan sanggup menghabiskan menit-menit keintiman mereka hanya dengan menggunakan mulut serta lidahnya yang ahli itu. Nafasnya kuat. Dan dia… adalah pria yang sangat memuja hubungan membara. Membuat Lisa terkadang lumpuh dalam rengkuhan protektifnya.

Detik dan menit yang berselang, masih mereka isi dengan cumbuan yang saling mendominasi. Hingga keduanya hampir lupa diri jika saja pinggul Lisa tidak menabrak meja nakas yang berada dibelakangnya. Wanita itu memekik, mengakibatnya putusnya pertautan mereka. Disusul oleh tawa keduanya yang tengah kehabisan nafas.

“Baiklah, ini peringatan,” kata Lisa, masih dengan kondisi menormalkan respirasinya. Perempuan itu tersenyum lebar, menatap Kyuhyun yang juga terkekeh geli.

“Ini bahkan belum sampai menit kelima.”

“Pria gila!” dengus Lisa geli, lantas mencubit perut datar milik si Pria Cho.

“Ya, aku gila. Sampai rasanya aku tidak mau melepasmu tadi dan memilih untuk mengurungmu di kamarku saja.”

Tawa perempuan itu lenyap. Pendar matanya berubah meredup. Untuk selanjutnya, dia tersenyum masam. “I’m not your bitch, Cho.” Bisiknya lirih.

Kini berganti Kyuhyun yang tertegun. Pria itu menatap wajah didepannya dengan seksama, lantas membalas, “Aku tidak pernah mengatakan bahwa kau adalah jalangku, Sa. Kau berbeda dari mereka,” desahnya, kemudian mengecup sekali lagi bibir bengkak milik si pencuri perhatiannya itu.

But you do so.

Keadaan menghening. Dia membisu, begitupun dengan Lisa. Baiklah, baiklah. Seharusnya dia tidak usah bicara saja tadi sehingga topik ini tidak perlu terangkat ke permukaan. Pria itu menggeram dalam hati, mengutuk mulutnya yang tidak bisa menyaring kalimat.

Kyuhyun menghela nafas. Yah, ini memang salahnya yang tidak bisa tegas pada hubungan mereka.

“A-ah! Aku lupa—” seru Lisa tiba-tiba “Bukankah aku harus membangunkan Sena sekarang?” Perempuan itu menyengir lebar, memutus kebisuan yang memerangkap mereka. “Kau tunggu di meja makan saja dulu. Nanti kami menyusul.”

Sekali lagi, Kyuhyun menarik nafas dalam, lalu mengangguk. Lalu, sebelum membiarkan Lisa terlepas dari rengkuhannya, Kyuhyun mengecup puncak kepala perempuan itu. Menyampaikan pesan bahwa kata-katanya tadi adalah benar. Bahwa dia—tidak pernah sekalipun menyamaratakan Lisa dengan para jalang pemuas nafsunya.

Perempuan itu bahkan jauh lebih berharga dibanding mereka.

.

Intemporel

.

Dua menit menghabiskan waktu disini, terasa seperti ribuan jam didalam neraka. Waktu seolah berjalan lambat. Udara berubah panas. Detik sulit untuk berputar. Dan bumi enggan berotasi. Tidak ada satupun diantara mereka yang memihak padanya agar drama ini lekas usai. Mereka hanya terus mengejeknya. Seolah berkonspirasi dengan masa guna menyudutkannya.

Yah, setidaknya begitulah menurut Sena.

Dia masih duduk kaku. Mengisi satu diantara lima kursi yang tersedia disana dengan mulut tertutup rapat. Kepalanya tertunduk dalam. Pikirannya mendadak macet, dan dari semua hal yang ada dihadapannya, yang sangat dia inginkan sekarang adalah menenggelamkan dirinya ke dasar bumi. Sesuatu yang sangat mustahil.

Bertemu satu meja dengan sang mantan kekasih bukanlah perkara yang mudah bagi Sena. Terlebih jika orang itu memiliki posisi yang sangat sulit untuk dilupakan. Benar-benar kesialan bukan?

Mati-matian dia mencoba sekuat tenaga untuk bertahan dengan sisa keberaniannya, namun semua berakhir percuma. Hatinya, tidak bisa lagi menerima lebih lama keadaan canggung ini. Sudah ada orang lain diantara mereka, dan sialnya lagi, itulah yang membuat sisi lemahnya sebagai wanita semakin kacau balau.

Sena bisa apa jika cinta dan rindu itu masih ada, bahkan tertata rapi, tapi semua itu dia berikan untuk seseorang yang tidak seharusnya dia indahkan? Hatinya jelas dibuat remuk-redam tatkala sadar, bahwa jarak, kini sudah terbentang sangat jauh.

Dia, tidak punya cukup alasan lagi untuk mempertahankan cinta mereka yang sudah lama karam.

“Kau hobi melamun, Sena?”

He?

Sena mendongak. “Aa—oh itu… aku—ng… aku—” sedikit gelagapan dia merangkai kata. Pertanyaan Lisa yang tiba-tiba, membuatnya kesulitan untuk berbicara.

“Aku mengagetkanmu ya?” ujar Lisa dengan senyum gelinya. “Maaf. Aku hanya ingin menyuruhmu makan.”

Sena menatapnya lama, lantas mengangguk pelan. Kepalanya kemudian menunduk, melihat piringnya yang ternyata sudah terisi oleh beberapa makanan. Lalu sekali lagi, matanya dia arahkan pada Lisa yang saat ini sibuk mengisi piring kosong Kyuhyun. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyum patah. Hei, bahkan dia tidak sadar saat Lisa mengambilkan semua makanan ini untuknya.

“T-terima kasih.” ucapnya lirih.

“Sudah kubilang, jangan terlalu formal. Anggap saja aku—um… temanmu? Ah, ya, berapa umurmu?”

“Ha? Um—ngg… aku… dua puluh tujuh.”

Lisa melebarkan matanya. “Dua puluh tujuh? Itu artinya kau dua tahun lebih muda dariku. Kalau begitu, panggil aku Unnie.”

“N-ne? O-oh, ya. Un-unnie. Terima kasih.”

Perempuan itu kembali tersenyum, lalu berkata, “Kau ingat kejadian semalam, Sena?” Sena membalasnya dengan gelengan. “Kau pingsan tidak jauh dari Eden. Dehidrasi dan perut kosong. Memangnya kapan terakhir kali kau makan?” tanya Lisa lagi setelah menelan makanannya.

Sena balas tersenyum, lantas menggeleng lagi.

“Tidak tahu?” Lisa kemudian memandang Kyuhyun. Namun pria itu hanya tertunduk, sibuk dengan makanannya sendiri. Maksud Lisa adalah untuk menyuruh pria itu membangun komunikasi dengan Sena pula, tapi pria itu sepertinya tidak tertarik sama sekali. Walau bagaimanapun, bukankah Sena adalah tamu disini?

“Lain kali, jaga pola makanmu ya. Sesibuk apapun, luangkan waktu sebentar untuk memberikan asupan ke dalam tubuhmu. Robot saja butuh di-charger untuk mengisi energinya, apalagi manusia. Iya ‘kan?”

Lagi-lagi, jawaban Sena hanya berbentuk nonverbal. Perempuan itu mengangguk dengan kepala tertunduk. Dia masih belum berani mengangkat kepalanya lagi—meski itu hanya menatap Lisa. Karena bagaimanapun tatapannya mengarah, visual Kyuhyun masih tertangkap jelas oleh indranya. Dan dia tidak sekuat itu untuk menerima semua keadaan ini.

Cho Kyuhyun berada didepannya. Dekat dengannya. Tapi mereka bertingkah seolah tidak pernah saling mengenal. Miris sekali bukan?

“Omong-omong, kau kenal pria ini?”

Jantung Sena menjadi berdetak tak karuan.

“Dia juga sering ke Eden. Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?”

Tidak. Ah. Iya. Kami sudah pernah bertemu. Aku bahkan mengenalnya lebih dulu dibanding denganmu, Unnie.

“Kenalkan, ini Cho Kyuhyun. Dia—” kali ini, Lisa tidak menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya berkedut menahan kalimat. Kemudian, perlahan demi perlahan, dia menggeser tatapannya dari Sena yang masih tertunduk menuju si pemilik nama yang tadi dia sebutkan. Kyuhyun balas menatapnya. Menunggu kalimat Lisa yang masih menggantung di udara.

Dada Lisa bergemuruh. Tiba-tiba saja mulutnya terasa pahit. Kyuhyun menatapnya begitu dalam.

Perempuan itu menelan ludah berat. “Dia—” pria yang kucintai.

“Kekasihnya.” lanjut Kyuhyun mantap dan tegas. Pria itu akhirnya bersuara. Melontarkan kalimat yang memberikan efek berbeda bagi kedua perempuan yang ada disana. Lisa dengan rasa terkejutnya. Dan Sena dengan nyeri yang menghantam dadanya.

Kyuhyun masih memaku kedua mata Lisa lekat. Ada sesak yang tiba-tiba menyapa dadanya. Dia tahu, kalimat tadi tidak selaras dengan hubungan mereka saat ini. Tapi Kyuhyun tidak mau membuat Lisa menunggu lebih lama lagi atas ketidak-kejelasan hubungan mereka. Terlebih kejadian beberapa menit lalu sempat menamparnya. Pun untuk membuktikan pada masa lalunya itu bahwa dia, sekarang, bisa berdiri lagi setelah dikhianati cukup parah.

“Aku Cho Kyuhyun. Dan aku kekasihnya.” Tekannya sekali lagi, lalu—untuk pertama kalinya di pagi ini—dia menolehkan kepalanya pada Sena yang kini sudah mengangkat wajahnya. Dibalas oleh perempuan itu yang menatap lurus kearah matanya pula. “Senang. Bertemu. Denganmu. Sena.”

Pemeran utama Lee itu menelan ludah berat. Menahan sekuat mungkin, sakit yang merajam ulu hatinya tiba-tiba.

Tidak apa-apa, Sena. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.

Segaris senyum kemudian dia ulas untuk membalas kalimat Kyuhyun. Senyum yang dia harap akan terlihat normal. Sebelum kemudian berujar, “Sudah kukira. Begitu.”

Agak benci Kyuhyun mengakui ini, tapi dimatanya, Sena terlihat baik-baik saja. Bahkan sangat. Kyuhyun pikir, setelah apa yang diucapkan tadi, raut Sena akan berubah sedih. Muram. Terluka. Apapun itu sejenisnya. Tapi ternyata tetap tidak. Raut wajah itu masih saja sama, seolah tak berpengaruh sama sekali atas kalimatnya barusan.

Bodoh. Sejak dulu, Sena bahkan tidak pernah mencintaimu bukan? Jadi untuk apa kau berharap dia terluka?

Kyuhyun kembali menunduk. Meneruskan makannya yang tadi sempat berhenti. Tangannya yang memegang alat makan, mengepal erat. Dia senang, karena sudah bisa menetapkan Lisa sebagai kekasihnya. Tapi dia sedih, saat Sena terlihat baik-baik saja.

Menit-menit selanjutnya, mereka hanya mengisi udara dengan dentingan garpu dan sendok yang bertubrukan dengan piring. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Kyuhyun masih meneguhkan keputusannya, memilah antara yang benar dan salah. Lisa menormalkan detak jantungnya yang tidak bisa berhenti menggila. Dan Sena dengan kekacauan perasaannya.

Ketiga peran yang ditakdirkan untuk bertemu disatu masa. Namun sialnya, tidak cukup beruntung untuk memulai hubungan yang baik-baik saja.

Hingga entah pada menit keberapa, tiba-tiba saja Sena berdiri dari duduknya. Mengundang perhatian dua orang lainnya untuk terarah penuh fokus padanya. Dengan tubuh yang kikuk setengah mati, dia kemudian berujar, “K-kupikir, aku harus pergi sekarang.”

Belasan detik tidak ada satupun jawaban dari Kyuhyun maupun Lisa. Hingga, sopran milik si marga Park mengalun, “Sekarang? Tapi, makananmu belum habis.”

Kyuhyun ikut mengarahkan matanya pada piring Sena yang masih terisi banyak makanan. Kemudian, melarikan tatapannya lagi pada si pemilik tubuh yang berdiri rikuh.

“Aku—ng… Sarang… d-dia pasti kebingungan mencariku. A-aku harus pulang.”

Mulut Lisa terbuka sebesar tiga jari—menyadari kealpaannya—lantas mengangguk maklum. “Yah… kau benar. Sarang pasti mencarimu karena semalaman tidak pulang.” Kemudian dia mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun. “Kau… mau ‘kan mengantarnya?”

Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri dengan mata membulat lebar. Yang benar saja Alisa Park!

Mengerti usulan Lisa bisa semakin mengacaukan perasaannya, Sena secepat mungkin menyergah, “Tidak! Tidak perlu. A-aku bisa pulang sendiri. Sungguh.”

“Tapi kau masih demam, Sena. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?”

“Jangan khawatir Unnie,” katanya lagi, tak lupa dengan imbuhan senyum. “Aku akan baik-baik saja.”

Namun Lisa tetaplah Lisa. Perempuan berhati lembut yang memiliki rasa kepedulian tinggi.

“Biarkan Kyuhyun yang mengantarmu.” Ucapnya tanpa bantahan. Lalu, tanpa mau melihat bagaimana reaksi yang ditimbulkan oleh kalimatnya barusan pada Kyuhyun, Lisa menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian mendesah, “Kupikir aku juga harus pergi. Sudah pukul sembilan. Aku harus siap-siap.”

Kyuhyun memejamkan mata erat, lantas mendengus kasar. Dia berdiri dengan sentakan keras. “Lisa—”

“Aku pergi dulu, Kyu. Tolong antar Sena ya.”

Dan seolah tidak ada lagi urusan bersama orang-orang yang ada disana, Lisa beranjak pergi. Meninggalkan dua orang yang dulu pernah terikat itu dengan keheningan. Tanpa memberikan kesempatan pada mereka untuk membantah.

Ditilik dari sikapnya barusan, Kyuhyun tahu, Lisa sedang mencoba menghindarinya. Dan dia yakin betul, ini pasti karena cetusan kalimatnya beberapa saat lalu. Perempuan itu mungkin masih bertanya-tanya, apa yang mendorongnya bisa mengatakan hal tersebut begitu mudah sementara dikeadaan lain hubungan mereka penuh kerumitan. Yah, Kyuhyun yakin itu.

Tetapi, Kyuhyun tidak peduli. Saat ini yang belum lengkap dari hubungan mereka adalah sebuah status. Dan Kyuhyun hanya ingin memberikannya secara cuma-cuma pada perempuan itu. Apa itu salah?

Keterpakuannya mendadak terputus tatkala sebuah suara mengalun, mendendangkan kalimat untuk menyapa indranya.

“T-terima kasih… sudah mau menolongku. Aku—permisi.”

Seperti Lisa, Sena pun pergi meninggalkannya tanpa memberikan kesempatan untuk berbicara. Dua wanita yang sama-sama menyesatkannya.

Kyuhyun menarik nafas dalam, meredamkan emosinya. Selama puluhan detik, dia memejamkan matanya erat. Menyelami setiap kejadian yang akhir-akhir ini menimpanya. Kenapa harus begini, Ya Tuhan…

Lalu, sebuah pikiran mengagetkannya. Sial. Dengan langkah terburu-buru, dia mengambil kunci yang berada diatas meja nakas, lalu mengejar Sena yang sudah menghilang dibalik lift.

Kaki jenjangnya bergerak gelisah. Mencari keberadaan Sena yang lenyap dari pandangannya. Bagaimanapun Lisa benar, Sena masih berada dalam kondisi tidak fit. Jika terjadi sesuatu padanya bagaimana? Kyuhyun tidak sanggup memikirkan kemungkinan terburuk. Seperti wanita itu tiba-tiba pingaan lagi ditengah jalan sepi, lalu kesempatan itu digunakan para pria hidung belang untuk memanfaatkan tubuhnya.

Kyuhyun menggeleng. Tidak akan pernah dia biarkan hal itu terjadi.

Langkahnya baru terhenti tatkala pandangannya terpenuhi oleh siluet perempuan itu yang baru saja keluar dari toilet yang berada di lobi. Sedikit gemetar, Kyuhyun melangkahkan kakinya mendekati Sena yang sibuk merogoh tas. Entah apa yang wanita itu cari; Kyuhyun tidak mau tahu.

Hingga kepala wanita itu terangkat dan jarak mereka tersisa tiga langkah lagi, barulah tungkainya berhenti bergerak. Sesak itu kembali menyapa. Tatapan Sena padanya kali ini terasa berbeda. Ada sebuah kepedihan yang coba dia tunjukkan. Gambaran tentang luka yang menggerogoti kebahagiaannya. Tetapi, Kyuhyun tidak tahu kepedihan itu datang karena apa.

Dia menghela nafas. Menelan ludah berat, sebelum kemudian berujar dengan penuh penekanan, “Aku kesini hanya ingin menuruti permintaan kekasihku.”

Sena terdiam. Tidak memberikan tanggapan apa-apa. Untuk puluhan detik selanjutnya, adegan hanya diisi dengan saling tatap menatap. Memaknai kebersamaan mereka dengan penuh keheningan. Hingga si pemeran wanita menjawab dengan sorot mata yang beralih, “Aku bisa pulang sendiri. T-tidak apa-apa,” suaranya parau.

Kyuhyun mendengus sinis. “Kuharap begitu,” katanya. Mendengar hal tersebut, Sena rasanya ingin menyekik diri sendiri, lalu mati dan hilang dari hadapan Kyuhyun saat ini juga. Dia tidak tahan dengan setiap kalimat sarkas yang keluar dari mulut pria itu. Dia tidak sanggup.

“Ikut aku.” Ucapnya lagi, lantas berbalik. Tegas dan padat.

“Tidak bi—”

“Ikut. Aku. Lee. Sena.” Tekannya tanpa bantahan dengan intonasi yang meninggi.

Perempuan itu memejamkan mata erat. Dia lelah sekali, walau hari masih pagi. Tubuhnya terasa sakit semua. Ah. Bahkan kini hatinya juga. Dia ingin menangis lagi, tapi—bolehkah? Kyuhyun tidak suka melihat perempuan menangis, jika dia menggulirkan air matanya disini, sekarang juga, bukankah itu akan mengundang kemarahan pria itu untuk lebih memuncak lagi?

Sekuat tenaga, dengan bibir bergetar rapat, Sena menyeret kakinya mengikuti langkah Kyuhyun. Sebenarnya bisa saja dia tidak menuruti perintah pria itu. Tetapi fisiknya sudah terlalu lemah, dan dia tidak memiliki tenaga lagi untuk berdebat dengan Kyuhyun lebih lama. Terlebih dengan fakta bahwa Kyuhyun adalah orang yang keras.

Dia butuh melihat wajah Sarang sesegera mungkin, si gadis cilik sang pelipur lara tatkala hatinya sudah tidak sanggup lagi meredam duka nestapa.

Sampai di basement parkir, Sena sebisa mungkin mempercepat langkah kakinya. Dan baru saja dia akan membuka pintu penumpang belakang, saat suara bass Kyuhyun kembali mengalun dingin. Sedingin angin di penghujung tahun. Lalu menyentak lamunannya tiba-tiba.

“Kau pikir aku supirmu? Duduk di depan.”

Dia pun menurut. Lalu, perjalanan diisi oleh keheningan. Si perempuan duduk tegang di kursi penumpang. Sementara sang pria, fokus menatap jalanan. Musik yang selama ini selalu tersetel dari tape-recorder saat Kyuhyun berkendara, kini tidak melantunkan nadanya. Yang terdengar hanya deru mesin mobil yang kadang disusul oleh lengkingan klakson.

Sena memainkan ponselnya diatas pangkuan. Disana—senyum lebar Sarang memenuhi pandangannya. Senyum milik seseorang yang sangat dia rindukan akhir-akhir ini, karena dialah si penyumbang utama garis lebar tersebut. Lebih dari itu, dia ingin sekali melihat dua sudut bibir pemiliknya tertarik keatas. Sekarang juga.

“Harus berapa kali kuingatkan, agar jangan pernah menampakkan wajahmu didepanku?” bisik Kyuhyun lirih. Suaranya terdengar sedih juga… takut?

Tangan Sena berhenti memainkan layar ponselnya. Menyelami setiap kalimat yang Kyuhyun lontarkan. Lalu tersenyum patah, “Aku bahkan tidak pernah berencana untuk bertemu denganmu lagi.”

Kyuhyun melipat bibirnya kedalam, menahan segala gejolak yang menikam. “Tapi kau selalu berhasil membuatku melihatmu,” katanya.

Sena menarik nafas dalam, lanatas berujar, “Yah, sialnya begitu. Maaf.”

“Kau tidak pernah tahu rasanya, Sena. Aku membencimu. Dan, aku me—” merindukanmu disaat yang bersamaan. Kyuhyun menelan ludah. Ini terlalu sakit untuk diungkapkan. Dia rindu. Tapi rindu saja tidak cukup untuk mengobati lukanya.

Sena kembali tersenyum patah. “Apa kau sebegitu jijiknya padaku, hingga rasa benci itu masih ada?”

Kyuhyun mendengus. “Apakah itu patut untuk dipertanyakan?” suaranya berubah meninggi. Entah, tiba-tiba saja emosinya tersulut. “Seandainya kau tahu bagaimana rasanya dikhianati.”

Kali ini, Sena memberanikan diri menatap Kyuhyun. Bisa dilihat olehnya rahang pria itu yang mengeras. Wajahnya pun kembali sedingin angin di penghujung tahun. Dan itu mampu membuatnya beku. “Aku—aku… mungkin melukaimu. Maaf. T-tapi aku tidak pernah benar-benar berkhianat.”

Kyuhyun menolehkan kepalanya cepat pada Sena. Sorot matanya dipenuhi oleh kebencian dan pedih disaat bersamaan. Kyuhyun tidak menyangka Sena bisa dengan mudah mengatakan semua ini padanya. Dia merasakan adanya nyeri yang meyulut hati. Sakit. Ini seperti ditikam berkali-kali oleh ribuan pedang.

“Apa semua – orang – miskin akan melakukan hal yang sama sepertimu?”

Sena mengerutkan dagu. Matanya memanas. Lalu dia memilih untuk menundukkan kepalanya. Bolehkah dia menangis sekarang? Hatinya sakit sekali saat Kyuhyun menyuarakan kalimat tersebut. Tidakkah itu terlalu kejam untuknya?

“Ya. Mungkin saja.” jika mereka tidak memiliki pilihan lain.

Kyuhyun tertawa sumbang. Menggeleng keras—tidak percaya, lantas membanting setirnya kekiri. Tiba-tiba saja dia ingin menabrakkan mobil ini ke tepi jembatan yang sekarang sedang mereka lintasi. Nafasnya berubah menderu tidak teratur. Disaksikan oleh pusat rasa sakitnya, Kyuhyun sekuat tenaga menahan keinginanya untuk menangis.

“Kau— brengsek. Tidak tahu diri. KAU MENJIJIKAN LEE SENA!!!” teriaknya diakhir kalimat. Tangannya memukul setir sekuat tenaga. Menyampaikan rasa sesak dan amarah yang menggantung dalam dada.

Dan air mata pun jatuh. Satu per satu, berubah menjadi deras. Semua itu, akhirnya terealisasi juga. Sena tergugu.

“Aku mencintaimu, kau tahu. Saat itu aku benar-benar mencintaimu. Dan kau bilang apa tadi—bahwa kau tidak benar-benar berkhianat?” Kyuhyun mendengus sinis. Lantas tertawa. Sumbang. “Brengsek!”

“Berhenti menghakimiku, Oppa! Saat itu kau juga bersalah!” balas Sena tak kalah keras. Cukup sudah. Bukan hanya pria itu saja yang terluka. Tapi disini, dia pun adalah korban.

“Karena kau pantas untuk mendapatkannya!” telak Kyuhyun dengan mata menajam.

Sena termangu. Bibirnya terkatup. Dia menatap tidak percaya. Dan tiba-tiba saja jantungnya berhenti berdetak.

“Itu ‘kan yang kau inginkan… orang miskin?” lanjutnya dengan menekankan kata ‘orang miskin’.

Hati Sena kembali berdenyut sakit. Tidak ada sepatah kata pun yang bisa dia lepaskan. Air mata yang tadi mengucur deras bahkan kini dibuat berhenti oleh kalimat pria itu. Kyuhyun benar-benar keterlaluan. Ini bahkan… lebih dari kesakitan yang pernah dia bayangkan. Tubuhnya bergetar, menahan dingin yang datang melingkupinya.

Untuk puluhan detik, suasana kembali melengang. Kyuhyun sibuk menyelami rasa sakitnya sendiri tanpa mau tahu akibat dari ucapannya tadi. Sementara Sena seperti merasakan nyawanya tercabut saat ini juga. Hampa. Dia sulit merasakan segala.

“Kuharap kau tidak menurunkan sifatmu kepada putrimu.”

Sena mendongak. Menatap Kyuhyun dengan sorot bertanyanya. Apa lagi ini? Setelah tadi menghinanya habis-habisan, haruskah Kyuhyun membawa putrinya masuk ke dalam topik ini?

Sekali lagi, Kyuhyun tertawa sumbang. Lalu, kalimat yang keluar selanjutnya, menampar telak hati Sena yang masih berdarah. “Jangan sampai Jasmine yang masih polos, terpengaruh oleh orang-orang munafik seperti kalian.”

Perempuan itu masih tidak membalas. Hanya sorot matanya saja yang berubah semakin kecewa. Apa Kyuhyun sedang menuduh putrinya sebagai orang munafik?

Sena merapatkan bibirnya yang bergetar rapat. Keinginan untuk menangis pun datang lagi.

“Kau sadar apa yang kau ucapkan barusan, Oppa?” tanyanya setelah sanggup memfungsikan pita suaranya kembali.

Pria itu mengangguk. Lalu menelan ludah—lagi, sebelum membalas, “Ya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ‘kan?”

PLAK!!

Bisa Kyuhyun rasakan panas dan perih yang menjalar pada pipinya. Tetapi lebih dari itu, hatinya mengerang kesakitan. Mata Sena yang telah berhasil menggulirkan likuid duka itu lagi, sanggup membuatnya diterjang oleh sesak yang mendera. Tiba-tiba saja dia ingin merobek mulutnya sendiri yang tidak bisa menyaring kata dengan benar.

Sena menangis. Lebih keras dibanding tadi. Wajahnya merah padam dan dia terisak. Seperti Kyuhyun telah mengambil kebahagiaan dari orang terkasihnya.

Kyuhyun mengepalkan tangan, egoisnya, ada rasa keinginan untuk membawa tubuh bergetar itu masuk ke dalam rengkuhannya. Tapi mana mungkin dia bisa, jika pada kenyataannya dialah si pembawa air mata itu.

Perempuan itu mengusap wajahnya kasar, walau hal tersebut terlihat sangat percuma. Karena sekeras apapun menghapus jejak air mata, jika dia masih tetap saja menangis, maka bekasnya tidak akan pernah hilang. Sena menarik nafas dalam, lantas berujar dengan suara paraunya, “Kau boleh membenciku, Oppa. Kau boleh menghinaku. Tapi… tidak dengan Sarang. J-jangan.” Kyuhyun mengalihkan pandangannya kedepan dengan rahang mengetat, tidak lagi sanggup melihat wajah kesakitan itu lebih lama. Terlebih, sesak yang menyapa dadanya tak kunjung pergi.

“Mungkin aku bukan perempuan baik. Aku buruk dan munafik. Tapi aku tidak pernah mengajarkannya menjadi anak yang tercela sifatnya. Sungguh.”

Perempuan itu masih menangis, dengan nafas yang mulai tersendat-sendat. Demi Tuhan, Kyuhyun tidak bermaksud seperti itu! Amarahnya lah yang melakukannya.

“Yang harus kau ingat baik-baik, aku… nanti… aku sebisa mungkin, tidak akan pernah membiarkannya mencintai pria yang salah. Atau memendam perasaannya seorang diri selama bertahun-tahun sedangkan yang dia terima hanyalah kebencian.” Sena melipat bibirnya kedalam, merasakan nyeri yang menempa ulu hatinya. “Aku— tidak akan pernah membiarkan Sarang menjadi seperti diriku ini, yang begitu bodoh mencintai pria kaya sepertimu, sementara tahu bahwa perbedaan itu membawa luka.”

Selepas menuntaskan kalimatnya, Sena memutuskan pergi. Berjalan dengan tubuh ringkihnya untuk menjauhi Kyuhyun yang tertegun sendiri. Meninggalkannya dengan satu pertanyaan. Lalu merana dalam kesepian.

Aku—tidak akan pernah membiarkan Sarang menjadi seperti diriku ini, yang begitu bodoh mencintai pria kaya sepertimu, sementara tahu bahwa perbedaan itu membawa luka.

“Kau… mencintaiku…?”

Kyuhyun dapat mendengar suara hatinya yang menjerit kesakitan. Seperti ada satu kaki besar yang dengan tega menginjaknya tanpa ampun. Dulu, dia selalu menantikan kalimat tersebut untuk tercetus dari bibir perempuan itu, hingga pada satu waktu, sang luka berkedok pengkhianatan datang untuk mematikan hatinya, lantas membuat kata cinta yang dia tunggu-tunggu tidak pernah terucap.

Lalu sekarang, setelah delapan tahun mereka menjadi orang asing, dibumbui dengan kebencian yang tidak kunjung menghilang, Sena mengatakan semuanya. Dengan tangisan yang dia sadar betul itu adalah akibat dari kalimat yang dia ciptakan. Sena mengutarakan bagaimana perasaannya selama ini. Dan sebagai apa Cho Kyuhyun didalam hatinya.

Dia… mencintainya.

—tbc

Advertisements

118 thoughts on “Intemporel – 4

  1. Misteri maasih belum terpecahkan tapi sedikit ada pencerahan, tapi ya kok kesel sama kyuhyun ya.. Kata-katanya nyelekit banget.
    Jelek-jerking sarang lagi, siapa tahu kan ya beneran. ” buah tidak akan pernah jauh dari pohonnya”, nah loh kalau pohonnya ternyata situ bagaimana? Hmm…
    Semangat authornim.. Bagus sekali

    Liked by 1 person

  2. selesai baca part ini…. nyesek kyuu kata2nya kasar. Pasti sena sakit hati sekali. skrg kyuu bingung sendiri kan tahu klo ternyata sena mencitai kyuu… tp kasihan lisa ya klo kyuu tinggalkan… ahhh ga sabar tunggu kelanjutannya… semangat ya… sangat menanti kelanjutannya^_^

    Like

  3. Sena pasti sakit hati banget karena sikyuhyun. Ya gimana pun si sena tapi menurut aku kat katanya ngga pantas banget untuk cewek, apalagi untuk sarang. Bisa aja kali kyu sarang itu anak mu

    Like

  4. Pingback: Intemporel – 5 – E&D

  5. Kyu lu jahat bgt ih omongan nya ga suka ah jangan gitu
    Kmu kan ga tau sena gmana wlaupuj dulu pernh pacaran

    Dan jangam nyuruh jasmine buat jauhin sarang dan sena
    Jasmine juga berhak bahagia dna menenyukam pilihan
    Uhh dasar paman penyenalkan

    Liked by 1 person

  6. Aduh mulut kyuhyun bener2 g bisa d rem, kasar banget g kasian apa sama sena….
    Sena jg menderita, mesti egois….
    Aku kok bertanya2 kenapa kyuhyun g penasaran sama hidup nya sena?? Kan katanya sena kok bisa tetep bahagia….

    Liked by 1 person

  7. Haaahh nyesek aku, kyuhyun jangan terlalu merendahkan sena bisa ga? Dan lagi knpa lisa disini sangat baik, bner2 wanita sempurna, bingung hrus setuju kyuhyun sma sena atau lisa.

    Like

  8. Omooo….aku gak tau mereka ada konflik apa , tp aku ikut nangis , …
    Trus kenapa donghae kayanya terlibat juga … ,
    Dan Kyuhyun perkataanmu emg keterlaluan….

    Yo lanjut yooo

    Like

  9. Kyuhyun jahat bangetttt 😣 sampe nyesek bacanya😢
    Konfliknya baru bermunculan (?) jadi penasaran sm cerita selanjutnya 😂 tp kok feelingku sarang anaknya kyuhyun yaa😂

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s