Posted in CF Series

And We

IMG_20170530_041810

Cho Kyuhyun x Lee Sena

Joon x Jia

[Special Guest]

Minho SHINee x Yura GD

.

Suara tangis bayi itu mengalun di penghujung pagi. Perlahan, perlahan, untuk kemudian berubah menjadi keras. Mengundang dua orang dewasa lainnya yang berada tidak jauh darisana, harus terusik akibat lengkingan itu.

Sena melenguh dalam tidurnya, coba membuka kedua matanya yang masih terasa sangat berat. Tahu bahwa tangisan itu berasal dari sosok yang tertidur tidak jauh darinya, Sena pun membuka kancing piyama tidurnya—mencari posisi sedekat mungkin dengan bayi itu.

“Hei, disini sayang…” ujarnya dengan suara serak.

Namun, bayi itu masih saja menangis, dengan tubuh yang tidak memiring kepadanya.

“Jia… ibu disebelah sini,” Sena mengulurkan tangannya untuk memutar arah tidur bayi itu. Sialnya, tetap tidak bisa. Jia masih tidak mau mendengarnya. Raib sudah kantuk yang mendera matanya tadi, kini, fokusnya membujuk Jia agar beralih menghadap kepadanya.

“Dia bangun?” sahut suara lain menyambung. Sena menoleh kebelakang sebentar, lantas menggumam lirih. “Ya. Haus mungkin.”

Cho Kyuhyun, pria itu mengusap wajahnya yang tampak kusut. Mendengar suara tangisan Jia, membuat waktu tidurnya sedikit terganggu. Dia lalu menatap jam beker yang ada diatas nakas. 05.30 A.M. Masih pagi ternyata. Matanya kemudian beralih pada Sena yang sibuk mencari perhatian putrinya.

“Kenapa? Dia tidak mau?”

“Bukan. Jia hanya sulit berbalik, masih menghadap ke arah jendela, padahal ASI-nya ada disini,” decak Sena serak. Setengah mengantuk.

Kyuhyun mendengus geli, lantas tersenyum kecil. Paham.

Menghela nafas gemas, Sena pun mengangkat tubuhnya sedikit guna memancing Jia dengan puting susunya. “Lihat ibu—hei, Jia, disini…” susah payah wanita itu mempertemukan putingnya dengan bibir mungil bayinya. Sebelah tangannya tidak berhenti mengambil alih kepala Jia yang susah sekali disuruh berbalik arah.

Detik-detik Sena habiskan untuk merayu Jia yang tak kunjung berhenti menangis, bahkan dia hampir saja memutuskan untuk berpindah posisi jika rayuannya sama sekali tidak berhasil. Hingga akhirnya, pada detik kesebelas, puting kirinya berhasil masuk kedalam mulut si bayi sepenuhnya. Jia langsung mendadak kalem. Tidak lagi menyuarakan tangisannya. Tidak lagi mendendangkan rengekan subuhnya. Mulutnya sibuk menyesap kuat ASI Sena.

Perempuan itu kembali menghela nafas. Lega. Kemudian menjatuhkan kepalanya diatas bantal. Pegal mendera lehernya. Ah. Mengurusi makhluk sekecil ini saja merepotkannya ampun-ampunan.

Beruntung saja boks bayi Jia terletak tepat disamping tempat tidurnya dengan pagar pembatas yang dibiarkan terbuka sebelah, jika tidak, mungkin selama ini dia atau Kyuhyun harus mengorbankan diri untuk lepas dari kasur empuknya jika Jia merengek seperti ini.

“Nah, bisa berubah diam begitu dia!” Kyuhyun mengintip dari balik bahu Sena. Menatap bayi perempuannya yang baru berusia empat bulan itu sedang menyesap puting ibunya keras, kentara sekali benar-benar kehausan.

Lalu, tangannya diarahkan untuk merengkuh perut Sena yang telanjang, lantaran piyama wanita itu tersingkap keatas. Kyuhyun membaringkan tubuhnya kembali tepat dibelakang punggung istrinya—tidak mau ketinggalan manja seperti Jia.

“Bayi kita ajaib benar, Sena,” gumamnya kemudian. Lantas terkekeh sendiri.

Sena ikut tertawa dengan sisa-sisa nyawanya yang masih berceceran—oh, dia masih mengantuk, omong-omong. “Bayi menangis ya karena meminta ASI, Kyuhyun. Mana ada bayi ajaib. Kau ada-ada saja sih!”

Sebagai balasan, Kyuhyun mengecup bahu Sena yang lolos dari piyama. Lantas membiarkan bibirnya menggigit-gigit kecil bagian tersebut.

Perempuan itu kembali menggumam. “Biasanya Jia merengek seperti ini sekitar pukul empat, tumben sekali jam segini baru meminta,” jemarinya Sena gunakan untuk mengelus rona merah di pipi bayinya.

Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya. Kadang, tangannya yang jahil juga ikut menggoda perut datar Sena hingga membuat perempuan itu berdecak kesal lantaran kegelian.

“Mungkin—Jia tahu ibunya kelelahan karena telah menghabiskan tenaga bersama ayahnya semalaman tadi,” kekehnya.

“Yah… bisa jadi. Mungkin Jia tahu ayahnya itu mesum, jadi, dia mengulur waktu,” sinis Sena kemudian. Disambut oleh Kyuhyun dengan tawanya yang meredam. “Mana ada sih suami mesum pada istrinya. Aku ‘kan hanya meminta hakku, sayang. Itu pun kalau kau ingat aku ini suamimu,” kilahnya lagi.

Sena membalasnya dengan decakan malas. Terserah apa kata pria itu saja lah.

“Omong-omong,” Kyuhyun merayapkan tangannya lebih nakal. Jari-jari panjangnya kini berangsur ke atas, menyapa payudara Sena yang memang tidak tertutupi oleh bra selepas mereka bercinta semalam tadi—kecuali piyama tidur berkancing yang tengah dipakainya saat ini, itu pun tidak berguna sama sekali untuk menghalangi jalannya. “Aku ada rapat internal nanti, jadi tidak bisa menjemputmu. Bagaimana?”

Kyuhyun semakin tersenyum jahil begitu melihat wajah Sena yang menahan sebal. Jari-jarinya bergerak intens meremas salah satu buah dada istrinya yang sedang menanggur.

Hatinya menggeram. Sial. Sintal dan lembut sekali benda ini!

Sena bergerak gelisah, “Kyu, bisakah jangan begini?” tanyanya malas.

“Begini apa?”

“Jangan pura-pura bodoh, ah. Ada Jia sekarang,” ucapnya lagi mengingatkan.

“Waktu kita bercinta tadi juga ada Jia.” Kyuhyun mengedikkan bahunya tak peduli. Dan bukannya melepas gundukan itu dari kuasanya, pria itu malah semakin menjadi. Bibirnya kini kembali sibuk bermain di leher Sena. Menciumnya. Mengendusnya. Menjilatnya. Membuat Sena benar-benar harus bersabar dengan pola tingkahnya yang menyebalkan ini.

“Kyuhyun, ah, jangan sekarang bisa tidak? Lebih baik kau tidur lagi saja sana! Ini masih pagi.” Sena menggeliat tak nyaman, namun tidak bisa bergerak leluasa lantaran mulut Jia masih menyesap asyik putingnya. Atau kalau tidak, bayi itu akan kembali merengek akibat gerak tubuhnya yang mengganggu.

“Tidak bisa.” Sahut Kyuhyun lugas. “Aku ingin seperti ini terus,” lalu tangannya kembali bergerak meremas payudara Sena. Tidak kencang memang, namun tetap saja mengganggu. Tidak sampai disitu, jari-jari Kyuhyun juga memelintir ujung putingnya didalam sana.

Mungkin tidak apa-apa bagi Sena jika tidak ada Jia diantara mereka, tapi saat ini, Jia bahkan sedang menyapih padanya. Dan Kyuhyun malah memulai mode mesumnya. Bertingkah seperti ini.

Sena menghela nafas lagi. Sabar.

“Memangnya sampai jam berapa kau rapat?” tanyanya, coba mengalihkan fokus. Kyuhyun bergumam dengan bibir yang sibuk mengecup lehernya, “Ng—mungkin sampai melewati makan siang.”

“Kalau begitu—” Sena menggerakan kepalanya sedikit, memberikan ruang pada si mesum itu untuk lebih menguasai lehernya, “aku dan anak-anak saja yang ke kantor. Bagaimana? Kau tidak perlu bolak-balik kalau begitu ‘kan?”

Kyuhyun berhenti sebentar, mencari mata perempuan itu. Lantas mengangguk, “Boleh. Dari kantor, kita bisa langsung ke rumah Hyukjae.”

Lalu, matanya turun lagi pada Jia yang semakin larut. Kyuhyun tersenyum tipis, melarikan ibu jarinya yang tadi sibuk menggoda dada Sena, untuk mengelus pipi gembil bayinya. Diikuti oleh mata Sena yang kini juga menatapnya.

“Apa dia memang selalu terbangun seperti ini? Kehausan?”

Sena mengangguk. “Seperti yang kubilang tadi, hanya saja biasanya dia terbangun pukul empat.”

“Tapi aku tidak pernah mendengar dia menangis.” Jawab Kyuhyun dengan bibir mencebik dan mata yang dilayangkan pada istrinya.

Perempuan itu terkekeh, lalu mencubit gemas pipi Kyuhyun yang kini semi-menindih tubuhnya. “Kau ‘kan seperti kerbau. Sulit sekali membuka mata di jam-jam sedini itu.”

Kyuhyun ikut terkekeh. Bibirnya kini sibuk menghujami Sena dengan kecupan-kecupan kilat pada bibirnya. “Panggilan untukku kenapa banyak sekali sih, Sayang.”

“Tidak suka?” sahut Sena diantara kecupan bertubi-tubi Kyuhyun.

“Suka.” Sahut pria itu sembarang. “Asal setelahnya aku bisa menghukum bibirmu. Bagaimana?” kekehnya.

Lalu, tanpa menunggu jawaban Sena, mulutnya yang seringkali berucap sinis itu dia buka lebar untuk meraup habis material lembut istrinya. Menguasainya dalam sensasi hangat dan lembut dan basah dan lembab yang dia miliki. Melumat tanpa ampun si korban di waktu sepagi ini. Menyesapnya keras. Menempatkan bibir atas dan bawah Sena yang selalu terasa pas diantara bibirnya yang berpacu. Kadang disertai gigitan tak manuiawi jika kadar kebutuhannya akan benda tersebut sejalan dengan nafsunya yang mendera.

Begitupun dengan si pemeran wanita. Walau sebelah dadanya masih sibuk menyapih sang bayi yang berada diantara mereka, Sena juga tidak mau kalah. Kini, tangan kanannya bahkan sudah melingkar erat disekitar leher Kyuhyun. Menekan tengkuk pria itu untuk turut menyambut lumatannya yang juga tak kalah bergairah. Menyapa gigi-gigi besar pria itu dengan kecupannya, atau jilatan dari lidahnya.

Ciuman itu semakin menjadi tatkala desahan Sena lolos. Lidah Kyuhyun sudah bergerilya masuk ke dalam, menyecap rasa favoritnya sebaik mungkin. Sementara giginya tak berhenti mengigiti bibir bawah sang istri. Mengggodanya. Menariknya keluar. Melumat lagi. Menjilatnya.

Lalu, nafas keduanya dibuat menderu—menandakan bahwa kebutuhan mereka saat ini ternyata bukan hanya sekadar ciuman. Tapi lebih dari itu.

Tangan Kyuhyun kembali menyelinap diantara celah piyama Sena yang tersingkap. Menyapa si buah dada yang selama ini menempati posisi teratas sebagai benda favoritnya. Ibu jarinya bergerak memelintir puting Sena seiring dengan ciumannya yang turun kebawah. Menghisap intens leher istrinya yang sudah mulai berkeringat. Sementara tangannya yang lain, mulai memasuki daerah vital Sena yang tak tertutup apapun kecuali selimut mereka saat ini. Mengusapnya selembut mungkin, sebelum kemudian memasukkan tiga jarinya ke dalam lubang hangat tersebut. Mengoyaknya perlahan dengan gerakan menggoda, seolah dia enggan terburu-buru.

Desahan Sena kembali lolos, yang langsung Kyuhyun bungkam lagi dengan ciuman liarnya. Menekan mulutnya untuk terus menguasai bibir istrinya. Tak peduli walau kini Sena tengah merintih kesakitan lantaran selaput tipis dibibirnya seperti terkelupas.

Jemari-jemari lentik Sena kemudian dia arahkan untuk menyentuh kedua pipi Kyuhyun lembut. Mengamini rahang tegas yang dimiliki oleh suaminya. Lantas mengusapnya sayang dengan kedua ibu jari. Memperdalam sekali lagi ciuman mereka. Hingga, perlahan tapi pasti, dia menarik wajah Kyuhyun sedikit menjauh. Melepas pertautan panas yang saling mereka gencarkan.

“Apa kita akan melakukan seks pagi?” tanyanya dengan nafas pendek-pendek.

Kyuhyun mengecup bibir Sena sebentar, kemudian menjawab, “Bukan ide yang buruk ‘kan?”

Alis Sena mengerut, lalu matanya melirik bayi yang masih menyapih disampingnya, “Jia bagaimana?” bibirnya dia gigit-gigiti, memikirkan akan seperti apa mereka melakukan seks jika Jia masih seperti lintah begini. Tidak mungkin Sena tega melepas begitu saja tautan sang bayi yang saat ini masih asyik menyesap putingnya.

“Sayang…” panggil Kyuhyun dengan suara berat. Tangannya kemudian menjepit dagu Sena, hingga bibir bawahnya tersebut lepas dari gigitannya sendiri. “Jangan seperti itu. Kau tahu, aku selalu tidak tahan melihatmu yang hobi menggigiti bibir.”

Sena kembali mengernyitkan alis, lantas terkekeh begitu melihat raut frustasi suaminya. Lalu dengan jahilnya, dia ganti menggigit hidung bangir Kyuhyun yang menggoda untuk dinikmati. Lantas mengecupnya. Menggigitnya lagi lebih gemas. Mengecupnya. Menggigit. Mengecup. Begitu seterusnya, hingga kemudian, “Kalau seperti itu, boleh?”

Kini berganti Kyuhyun yang terkekeh. Pria itu kemudian menurunkan wajahnya lagi, lantas menjepit bibir bawah Sena dengan gigi atas dan bawahnya. Menariknya keluar, hingga kedua mata perempuan itu membelalak lebar. “Aku akan membalasnya dengan cara begini. Mau?” katanya dengan penuturan kurang jelas lantaran masih menjepit bibir Sena dengan giginya. Lalu, dia kembali melumat bibir perempuan itu. Tangannya membelai rambut panjang istrinya, untuk kemudian menyelinap ke balik leher, dan menarik tengkuknya agar wajah Sena semakin merapat pada wajahnya.

“Jadi—” masih dengan lumatan yang dia gencarkan untuk menguasai bibir istrinya, Kyuhyun berbicara. Nafasnya mulai menderu lagi. Tak tahan dengan gelora yang dia ciptakan sendiri. “Bagaimana jika kita merasakan sensasi bercinta dengan Jia sebagai saksinya? Hm?”

Sena yang sudah terbakar gairah hanya sanggup mengangguk saja. Perempuan itu kembali menarik wajah Kyuhyun, membenamkan mulutnya didalam mulut panas pria itu. Lalu kembali saling mendominasi untuk menguasai.

Nyatanya, godaan iblis mesum berkedok Cho Kyuhyun ini memang tidak sanggup perempuan itu bantah bukan?

Pagi yang seharusnya bisa mereka manfaatkan untuk kembali menjemput bunga tidur, malah pria itu eksploitasi untuk menuntaskan nafsunya. Pagi panas—yang sialnya memang tepat sekali—untuk pasangan membara seperti mereka.

∞∞∞

“Ayoo… kejar, kejar, kejar… kejar kami, Oppa!” Sena berlari dengan langkah-langkah iritnya bersama Jia yang berada di dalam baby-carrier. Dibelakangnya, Joon ikut mengejar mereka. Tertawa riang tatkala angin berhembus menerpa rambutnya. Begitupun Jia, bayi berusia empat bulan itu ikut melontarkan kekehan khasnya ke udara saat tubuhnya di guncang oleh Sena ketika perempuan itu berlari.

Saat ini, mereka sedang berada di taman depan gedung Silk Air. Menikmati udara segar di siang hari selepas hujan mengguyur kota.

Sebenarnya, Joon lah yang meminta kesini. Anak itu penasaran katanya dengan air mancur yang ada di tengah sebuah kolam besar. Namun, karena hujan yang baru saja datang menyapa tempatnya berpijak beberapa saat lalu, mau tak mau membuat mereka hanya berdiri di pinggir kolam. Diatas jalanan berbata. Sena tidak mau mengambil risiko untuk berdiri lebih dekat dengan kolam, walau lantainya terbuat dari beton, tetap saja kemungkinan untuk terpeleset disana itu ada.

Perempuan itu ikut tertawa mendengar suara senang yang Joon dan Jia keluarkan. Mulutnya menghembuskan nafas lelah, kemudian berujar, “Sudah, sudah. Berhenti. Jangan berlari lagi.”

Joon ikut berhenti—menghelakan nafasnya yang tidak beraturan. Titik-titik keringat pun mulai ada untuk membasahi dahi serta lehernya yang putih, Membuat beberapa helai-helai rambutnya menempel pada kulit. Namun baru sebentar berhenti, wajahnya dibuat terkejut lagi begitu melihat ada dua-tiga ekor ikan yang meloncat indah dari kolam.

“Ibu lihat itu!” tunjuknya dengan kelopak mata yang melebar.

“Melihat apa?” Sena memutar tubuhnya searah dengan tangan Joon yang menunjuk. Kali ini dirinya ikut memberikan ekspresi wah-keren-sekali itu di wajahnya.

“Ayo kesana!”

He?

Sena menatap Joon yang menggenggam tangannya erat. “No no no. Ayah sudah menunggu di dalam.”

Joon menarik tangannya lebih keras, “Lihat ikan itu, ibuuuu… Ayooo…”

“Sebentar lagi hujan akan turun, lebih baik kita kedalam. Ya?” namun bujukannya dibalas dengan wajah yang merengut dan gelengan keras. “Nanti kalau sudah tidak hujan, kita kembali kesini. Sekarang kita masuk ke dalam dulu.”

“Tapi ingin kesana! Ayooo… ibu!”

Sena menghela nafas dalam. Nah, kalau sudah begini akan susah membujuknya. Joon kalau sudah ingin sesuatu, harus dituruti.

“Iya, nanti. Lihat, kasihan Jia, sudah kedinginan.”

Percuma. Karena nyatanya, bukannya semakin bisa menurut dengan bujukannya, Joon malah menghentak-hentakan kakinya. Tak lupa dengan kepalanya yang menggeleng keras. Jelas sangat menolak ide Sena.

“Jangan seperti itu, ah. Kasihan Jia-nya, ayo masuk dulu. Memangnya Joon tidak haus, hm?”

Anak itu bergeming sebentar. Lantas berujar, “Haus?”

Sena mengangguk. “Ya, haus. Joon mau minum ‘kan?”

Bibir anak itu mengerucut. Lantas mengiyakan kalimat Sena dengan anggukan lambat. Mendapati ajakannya membuahkan hasil, perempuan itu langsung mengulaskan senyum lebar. “Ayo, pegang tangan ibu.”

Sesampainya di ruangan Kyuhyun, Joon langsung berlari-lari mengitari ruangan selayaknya ruangan itu adalah tempatnya bermain. Apa saja yang ada disana anak itu sentuh atau tanyakan padanya. Rasa penasarannya yang tinggi terhadap sesuatu mulai anak itu gencarkan yang kadang membuat Sena semakin kuwalahan menjawabnya.

Sementara Joon menguasai ruang kerja ayahnya—yang tak berpenghuni—Sena sibuk membuka lemari pendingin kecil yang ada disana. Mencari-cari sesuatu yang bisa diminum oleh putranya. Namun saat matanya hanya mendapati deretan cola, beer, atau kopi instan yang ada disana, Sena mendesah. Sepertinya dia harus keluar sejenak untuk mencari minuman yang sekiranya cocok untuk anaknya tersebut.

“Joon,” panggil Sena seraya memutar tubuhnya searah dengan Joon berada. “Tunggu disini, ya. Ibu mau mencari minum dulu. Oke?”

Anak itu hanya mengangguk ala kadarnya, karena kini fokusnya sudah terpeusat pada sebuah miniature pesawat yang dia dapatkan di atas meja Kyuhyun. Sementara bibirnya mengerucut, mendalami mainan barunya dengan seksama.

Sena mendecih, lantas kembali berujar, “Jangan kemana-mana. Tunggu ibu disini, arrachi?”

Arro…” balasnya dengan nada sungkan, disertai kepala yang mengangguk paham. Setelah mendapatkan jawaban itu, Sena langsung berbalik pergi. Tak lupa dengan menutup kembali pintu ruangan Kyuhyun. Dia harus cepat mencari pantry, sebelum anak itu mulai berulah dan melanggar peringatannya.

Well, siapa yang tidak kenal tingkah aktif Cho Hyun-Joon? Dan siapa yang bisa menjamin ucapan anak itu ada benarnya atau tidak?

Setelah lima menit dia habiskan bersama Jia mengelilingi lantai tersebut guna mencari pantry, dan sesuatu yang dapat diminum oleh putranya, Sena kembali ke ruangan Cho Kyuhyun dengan segelas air mineral. Namun sebelum memasuki wilayah territorial pemimpin Silk Air tersebut, mereka bertemu dengan Kim Yura. Si gadis periang yang menjabat sebagai Sekretaris II Cho Kyuhyun.

Gadis berperawakan semampai itu baru saja hendak mendudukan diri di kursi kebanggaannya, saat kemudian matanya melihat presensi pasukan keluarga Cho memasuki wilayah yang sudah empat tahun ini menjadi tempat kerjanya.

“Oh! Kalian datang?!” tanyanya riang, tak lupa dengan senyum yang kelewat lebar. Matanya lantas kian membulat tatkala melihat sosok baru penyandang marga Cho yang berada didepan dada Sena. “God! Ya ampun, ini Jia, Unni? Astaga… terakhir kali lihat dia masih berumur berumur tiga minggu bukan? Sekarang sudah sebesar ini ternyata! Ya Tuhan…”

Sena mengangguk seraya terkekeh geli. “Kau sibuk sekali ya sampai tidak sempat menengok kami lagi di rumah,” sindirnya.

“Eiyy! Salahkan saja suamimu itu yang selalu melimpahkan pekerjaan padaku ataupun Minho.” Katanya dengan bibir mengerucut. “Apa aku boleh menggendongnya?”

Sure.” Sena melepas kaitan yang menyimpul baby-carrier Jia, lantas memberikan bayi empat bulan itu pada gadis didepannya.

“Astaga, gemuk sekali dia. Ya ampun.. Ya ampun…” ujar Yura heboh begitu tubuh Jia sudah masuk sepenuhnya ke dalam dekapannya. “Kau gempal sekali bayi gendut! Serius Unnie, dia kau kasih makan apa sih sampai bisa membengkak begini?”

“Masih ASI saja kok.” Sena mengulurkan sebelah tangannya untuk merapikan pakaian Jia, lantas ikut tersenyum memandang wajah bulat bayi itu.

Mata Yura melebar. “Yakin? Astaga… kenapa badannya seperti sudah kau cekoki nasi?” tawanya menggema. “Eh, hallo Gianna! Ini Bibimu yang paling cantik, Kim Yura! Kau pasti tidak mengenalku ya?” cengirnya pada bayi itu saat mata bulat Jia menatap ke arahnya. “Aaahh ya ampun… aku gemas sekali! Ini aku bawa pulang saja ya, untuk kujadikan guling!”

Sena kembali tergelak. “Boleh saja, asal kau bisa merayu Cho Kyuhyun.”

“Nah, kurasa letak sulitnya disana. Omong-omong, dimana Joon? Dia tidak ikut kemari?”

“Ada di dalam. Apa kau belum melihatnya?”

“Benarkah?” Yura mengintip dari sela jendela yang memisahkan meja kerjanya dengan ruangan Bos-nya. “Kupikir kalian baru saja datang. Jadi, sudah dari tadi?”

“Baru dua puluh menit sih tepatnya, tadi bermain sebentar di taman depan. Apa rapat kalian sudah selesai?”

“Oh.. Lalu kau habis darimana bersama Jia jika Joon ada di dalam? Em sudah—aku ijin keluar lebih dulu tadi, biasa mothers nature’s calling, hehe. Sebentar lagi rapat juga bubar kok.” Yura mengendus lagi aroma Jia diantara lipatan leher dan pipi bayi itu. Dan dibuatlah dia semakin ketagihan menciumi putri bungsu Bos-nya itu tatkala sadar bahwa tidak ada penolakan yang digencarkan oleh Jia. Jarang-jarang bukan dia bisa seperti ini?

“Aku habis dari pantry. Mencari air untuk Joon.” Ujarnya seraya mengangkat segelas air mineral yang ada di tangannya.

“Kenapa tidak menghubungi OB saja?”

“Maunya sih begitu, tapi aku ‘kan tidak tahu cara kerja disini bagaimana. Lagian, lantai ini terlihat sepi.”

Yura berdecak. “Aish… hidup bertahun-tahun dengan pemimpin Silk Air, masih belum mengerti juga ya rupanya.” Balasnya dengan gelengan takjub.

Sena melepaskan tawa gelinya lagi. Yah, ada benarnya juga kalimat Yura tadi. Sayangnya, dia ‘kan memang jarang mendatangi kantor suaminya, jadi wajar bukan?

“Kalau begitu, aku titip Jia dulu ya.”

Kim Yura mengangguk kuat. Pun tak lupa dengan senyumnya yang merekah lebar. Siapa yang tidak senang jika ditinggalkan bersama bayi segemuk Jia dan sewangi Jia dan semenggemaskan Jia dan seanteng Jia. Ditambah si gempal ini terima-terima saja saat wajahnya dihujami ciuman menggebu olehnya. Ah, jelas Kim Yura sangat, sangat, sangat senang. Paket lengkap untuk seorang penggemar anak kecil bukan?

“Eh? Baby Gee, kau datang?!” seru sebuah suara dari arah belakangnya, dan belum sempat Yura menolehkan kepala, Choi Minho—rekan setimnya itu—sudah langsung main rebut saja bayi yang menjadi mainan barunya itu untuk berpindah tangan.

Sementara Cho Kyuhyun yang tadi berjalan dibelakangnya, yang masih memeriksa berkas hasil rapat, mau tak mau mengangkat kepalanya begitu aroma telon khas bayi menyeruak masuk ke dalam indranya. Ditambah dengan sebutan tak asing yang asistennya itu lantunkan. Baby Gee.

Begitu kepalanya terangkat, matanya dibuat membulat maksimal tatkala melihat putrinya saat ini sedang menjadi bahan rebutan oleh kedua anak buahnya. Bayi gempal itu ada dalam kuasa Minho sekarang, diciumi tanpa ampun oleh pemuda itu. Dipeluk erat-erat seperti dia adalah mainan barunya. Dijauhkan dari ancaman bernama Kim Yura melalui perlindungan punggungnya.

Sayangnya, Yura yang sangat menyukai anak kecil sepertinya tidak rela berbagi. Gadis itu memaksa Minho untuk menyerahkan Jia kembali padanya. Karena dia lah yang pertama kali menemukan anak itu. Tapi Minho yang Kyuhyun tahu suka sekali bersikap kekanakan, jelas tidak mau membagi Jia bersama orang yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya itu. Ditambah dengan fakta bahwa dia adalah fan nomor satu anak-anaknya Cho Kyuhyun. Bayangkan saja protektifnya dia pada Jia sekarang seperti apa.

Cho Kyuhyun sendiri hanya masih menatap mereka dengan mulut terbuka lebar. Memang, ada perasaan senang saat tahu bahwa bukan hanya Joon saja yang selalu menjadi bahan rebutan bagi orang-orang disekitarnya. Seolah anak-anaknya itu memang tidak pernah jauh dari kata menggemaskan. Tapi yang lebih mendominasi perasaannya sekarang adalah perasaan kesal. Demi Tuhan, itu bayinya! Seonggok daging hidup yang berlapiskan kulit putih menawan. Dan Minho serta Yura berdebat memperebutkan Jia seperti mereka memperebutan sepotong piza yang tersisa di atas meja.

Konyol sekali!

“Baby Gee, Paman rindu sekali padamu tahu!” ujarnya tak luput dengan ciuman bertubi-tubi yang dia layangkan.

“Minho, ih, kembalikaaaaann!!”

“Apa sih Yura! Sudah sana makan siang saja!”

“Tidak mau! Aku mau Jia!”

Minho mengedikkan bahunya, menghalau gapaian tangan Yura yang ingin menyentuh bayi favoritnya. “Jia itu tidak suka perempuan, iya ‘kan Baby Gee?”

“Kau konyol! Sudah sini kembalikan! Aku juga ingin menggendongnya. Yah! Choi Minho!”

“Gantian kenapa sih Yura. Kau kan tadi sudah menggendongnya, sek—”

“Yah! Choi Minho, Kim Yura, berhenti!!” bentakan Kyuhyun menggema. Yang langsung ditanggap oleh kedua orang itu dengan sikap patuh. Segala keributan yang mereka ciptakan mendadak senyap. Bagaimana tidak, mereka dibentak oleh Bos mereka seperti mereka salah mengikuti titahnya.

Yura menyenggol lengan Minho dengan sikunya. Matanya melirik sinis, berbicara; gara-gara kau ‘kan jadinya kita dibentak oleh Bos.

Minho sendiri mengerutkan alis tidak terima. Matanya melotot maksimal. Enak saja main asal menyalahkannya. Kalau dia mau bergantian menggendong Jia juga Bos pasti tidak akan marah.

“Demi Tuhan yang kalian rebutkan itu bukan mainan atau makanan!” dengus Kyuhyun lagi. Masih memandang anak buahnya dengan tatapan yang menyalak tajam. “Dia manusia, oke? Bayi. Dan kalau kalian lupa, ada ayahnya disini.”

Minho dan Yura semakin mengkeret dibawah tatapan Cho Kyuhyun.

Ah, sebenarnya Kyuhyun pun tidak ingin marah. Tapi, sekarang begini saja, orang tua mana yang tidak akan marah jika melihat buah hatinya ditarik-tarik begitu. Kalau ada apa-apa bagimana? Jia masih bayi. Tulangnya masih rawan. Masih rapuh. Dan gampang sekali sakit. Dan kalau sudah begitu, siapa yang akan repot nanti?

Minho serta Yura masih diam ditempatnya masing-masing. Seperti anak yang tenagh dimarahi oleh orang tuanya. Bibir mereka sama-sama meringis lirih. Yaa, saking fanatiknya terhadap bayi itu mereka sampai lupa jika ada ayahnya disana. Bahkan lupa kalau Jia adalah makhluk rapuh.

Sementara, ketiga orang itu diam, Jia menggulirkan matanya kesana-kemari. Bibirnya memanyun dengan jari-jari gemuknya yang mulai mencakar-cakar kulit tangan Minho. Mungkin bayi itu bingung lantaran keributan yang tadi memenuhi gendang telinganya kini mendadak berhenti. Dan ruangan yang ada disekitarnya berubah hening. Lalu pria yang sedang membawa tubunya ini tak lagi melancarkan ciuman padanya. Hingga berdetik-detik kemudian mereka habiskan dengan keheningan dan Jia habikan dengan kebingungan, matanya lantas menangkap presensi Cho Kyuhyun yang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.

Bayi itu langsung mengulaskan sebuah senyum. Menunjukkan gusi tak bergiginya yang berwarna pink. Seolah memberitahu para saksi bisu—meja, kursi, kubikel, komputer, kertas, pulpen, penggris, kalkulator, pintu—bahwa dia mengenal pria itu. Pria yang sedang berdiri gagah dengan setelan kerjanya didepan sana.

Jia menggerakan tubuhnya—nyaris seperti melompat—dalam dekapan Minho. Membuat pemuda itu secara sigap membenarkan posisinya dan seketika lupa dengan aura mistis yang sempat melingkupinya tadi. Lalu, bibir bayi itu mengeluarkan sebuah suara, saperti pekikan senang. Terakhir, kepala serta sebelah tangannya dimajukan kedepan, menyapa si pria gagah yang dikenalnya itu. Mengganti kalimat “Hei, pria tampan, angkat tubuhku dari pemuda ini cepat! Aku mau digendong olehmu.” dengan gerakan nonverbal.

Cho Kyuhyun, Choi Minho dan Kim Yura yang melihatnya, lantas meledakkan tawa mereka tatkala Jia membentuk gestur itu. Raib sudah suasana menegang tadi. Kyuhyun melupakan amarahnya, Minho semakin mendekap Jia erat, dan Yura meremas gemas tangan Jia yang tadi baru saja terulur ke depan. Baginya, ini menarik sekali.

Nah, kalau sudah begini, Minho dan Yura terlihat seperti pasangan orang tua muda dengan anaknya ‘kan?

Lalu, tawa mereka menyurut tatkala ada sosok lain yang baru saja keluar dari dalam ruang kerjanya. Diikuti oleh seorang perempuan dewasa yang berjalan dibelakangnya, menggunakan terusan panjang berwarna navy dengan motif floral, dan rambut yang diikat asal-asalan.

tumblr_ojmqzwc7RT1spqhdqo5_1280

Benar-benar cerminan ibu rumah tangga.

Kyuhyun tersenyum kecil. Sejak melahirkan Jia, Sena memang lebih sering berdandan keibuan seperti ini. Perempuan itu tidak lagi sembarang memakai pakaian ketat atau minim bahan—kecuali jika memang sedang berada di rumah. Dan baginya, ini adalah sebuah nilai plus. Setidaknya, aset-aset Sena yang dirasanya menonjol, menjadi lebih privasi untuknya.

“Ayah!” pekik Joon dengan suara nyaringnya, tak lupa kaki-kaki kecilnya yang sibuk berlari menuju pria gagah yang sempat ditaksir oleh Jia tadi. Tangan anak itu terentang ke atas, disusul dengan kedua tangan Cho Kyuhyun yang menangkap tubuhnya tangkas dan membawa anak itu masuk ke dalam gendongannya.

Kyuhyun mengecup pelipis Joon, kemudian terkekeh, “Hai buddy!”

“Ayah, lihat ini!” tunjuknya pada sebuah miniatur pesawat yang ada di tangannya.

Lho, ini ‘kan punya ayah.”

Mata Joon refleks membulat pada Cho Kyuhyun, lantas menggeleng dengan klaim, “Mine!

Mine? Is – this – little – plane, really yours?” Joon mengangguk kuat dengan bibir mencebik—terlalu fokus pada mainan barunya. Kyuhyun kembali terkekeh, lantas mengeratkan lagi gendongannya.

“Dia tidak mau mengembalikan benda itu ke meja kerjamu. Sudah kubujuk, tapi yah, anakmu itu ‘kan memang keras kepala kalau diingatkan.” Sahut Sena kemudian.

“Dari siapa lagi dia mendapat gen itu?” tanya Kyuhyun retoris.

Sena membalasnya dengan senyum masam. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya?

Perempuan itu lantas memutar tubuhnya untuk menghadap pada Minho dan Yura. “Maaf ya merepotkan.”

“Tidak Unnie, aku senang Jia ada disini.” Jawab Yura manis. “Yah, sebelum buldoser ini merusuhiku!”

“Ck sudahlah, jangan mengajakku berdebat. Kau tidak mau dibentak oleh Bos lagi ‘kan?” balas Minho tak kalah sebal.

“Kyuhyun membentak kalian?” tanya Sena polos. Yang dijawab kedua orang itu dengan senyuman sungkan. Sena terkekeh, lantas menggeleng takjub. Dua orang ini memang tidak pernah bisa akur ‘kan sayangnya. Jadi, tidak heran kalau Kyuhyun sering membentak mereka.

Sena kemudian mengulurkan tangannya didepan tubuh Jia, “Ayo membleh, mau ikut ibu tidak? Kita ke rumah Paman Jae, hm?” namun bayi itu hanya menanggapi pertanyaan Sena dengan mengulurkan sebelah tangannya ke arah posisi tubuh Kyuhyun berdiri sekarang ini. Sena mengikutinya, perempuan itu tersenyum, lantas bertanya, “Siapa? Ayah?”

Jia melirik Sena sekilas, lalu mengarahkan kedua mata bulatnya lagi pada Cho Kyuhyun yang sedang berinteraksi dengan Joon. Kemudian memekik sambil melompat didalam kurungan Minho. Memutus konsentrasi Kyuhyun yang sedang menanggapi si sulung atas klaim barunya pada miniatur pesawat miliknya.

Begitu Kyuhyun melihatnya, Jia kembali melompat, kali ini dengan frekuensi 2:1. Maksudnya adalah dua kali dia mengangkat bokong, sekali dia terdiam. Dan begitu seterusnya hingga Kyuhyun terkekeh sadar apa maksud bayi itu.

Masih dengan Joon yang berada dalam gendongannya, Kyuhyun mempersempit jaraknya dengan Jia. Kedua alisnya terangkat, bermaksud untuk menggoda sang bayi. Dan seketika itu juga, kehadirannya langsung saja disambut oleh cengiran ompong Jia, pun dengan pekikan khas bayi yang putrinya itu keluarkan. Terakhir, tangannya yang semakin heboh bergerak.

“Jia rindu pada ayah ya?” tanya Sena disela-sela tawanya. Tapi lagi-lagi, Jia hanya menanggapinya dengan lirikan sekilas. “Aish, benar-benar anaknya Cho Kyuhyun.”

Semua tertawa, begitupun dengan Kyuhyun.

“Kau rindu padaku, babi gendut? Iya?” balasan dari Jia yang didapatkannya adalah cengiran ompong lagi. “Mau bersamaku?” Jia semakin melompat-lompat didalam kurungan Minho, membuat pemuda itu kuwalahan.

“Ya ampun Baby Gee, berhenti bergerak seperti itu!” sungutnya yang disusul tawa oleh yang lainnya.

Sadar bahwa kehebohan Jia saat ini bisa mencelakakan dirinya sendiri, ditambah dengan dirinya juga yang sudah tidak tahan untuk menangkup tubuh gempal itu masuk ke dalam pelukannya, maka Kyuhyun pun berencana untuk mengamini permintaan putri bungsunya tersebut. Namun baru saja hendak menurunkan si sulung—untuk beralih membawanya—saat si muda Cho ini malah mengeratkan pelukannya pada leher sang ayah. Kepalanya menggeleng keras, disusul kemudian dengan kalimat egoisnya, “Aku ingin bersama ayah…”

He?

Alis Kyuhyun berjengit. Ya, dia tahu Joon memang sangat manja padanya, tapi jika sudah menyangkut Jia, anak itu bukan hanya manja lagi, melainkan tidak mau berbagi dirinya dengan adiknya itu.

Kyuhyun beralih pada Sena, meminta pendapat. Perempuan itu mengedikkan bahunya seraya menghela nafas. Kemudian berujar, “Turuti saja lah…”

Mau bagaimana lagi? Sena jelas lebih memilih mengurus Jia yang menangis dibanding harus meladeni rengekan Joon yang sangat memusingkan nantinya. Karena sudah dibilang, selain egois, Joon itu keras kepala.

Maka, dengan perasaan tak enak hati lantaran harus mengabaikan permintaan bayi kecilnya, Kyuhyun pun akhirnya mengangguk. Karena dia pun memiliki pemikiran yang sama dengan istrinya itu. Joon kalau sudah menggunakan jurus jitunya, akan susah dibujuk.

Melihat semua itu terangkai didepan matanya, Yura jelas dibuat terbahak. Baginya ini lucu sekali. Jarang-jarang ‘kan dia melihat pria dominan seperti Bos-nya ini dilemma hanya karena permintaan anak-anaknya?

Masih dengan tawa yang tak berhenti, Yura berkata, “Wah, Bos, aku tidak menyangka kalau kau bisa begini. Menjadi favorit mereka, huh? Apa kiamat sudah dekat? Atau sebentar lagi langit runtuh?”

Minho pun mengangguk takzim, menyetujui kalimat Yura. Untuk kemudian, dirinya sendiri menyusulnya dengan menumpahkan susunan kata yang sangat, sangat, sangat menjatuhkan Kyuhyun didepan istri serta anak-anaknya. “Padahal kau ‘kan galak, Bos! Mirip Hulk. Emosian. Herannya kenapa Baby Gee dan Joon mau memperebutkanmu ya? Benar Yura, ini sepertinya kiamat sudah dekat!” lalu, kedua orang yang menjadi asisten sekaligus sekretaris pribadinya itu tertawa keras. Mengejek dirinya. Benar-benar tidak tahu diri.

Sementara Sena hanya bisa melipat bibirnya kedalam. Sebenarnya, dia ingin sekali ikut tertawa lepas seperti mereka, mengamini kelimat Minho, tapi daripada dia kena semprot juga, jadi lebih baik dia tahan saja sampai nanti di rumah Hyukjae ‘kan?

—end

Advertisements

48 thoughts on “And We

  1. aaaaah ya ampun manis banget siih keluarga ini kalo lagi akur wkwk. kyuhyun sama sena bisa-bisanya yaa gituan di depan jia parah emang ih. tapi kalo iblis mesum macem kyuhyun gitu gimana sena mau nolaknya wkwk
    suka bgt momen kyuhyun sama anak-anaknya aaah gemes deh

    jangan ingetin kalo dia mau wamil dong sedih banget kalo inget. berusaha melupakan tgl 25 ada apa huhuhu

    Liked by 1 person

  2. Penasaran sama reaksi cho abis dikatain asistennya hhaaa
    Pagi2 dah bgtuan ada anaknya lg hadeh… #namanyajugachokyuhyun
    Kasian jia dipanggil apa aja nyaut hhaaa…

    Awalnya doang baper, mewek ditinggal wamil. Udahannya mah ya udh biasa aja tp sayangnya nih orang #cho kudet banget sama sosmed beda sama hyungdeul nya ckckck jd cuma mengharapkan dr fancam2 aja kalo dia muncul hufth..

    Liked by 1 person

  3. uhuuu suka banget sukaaaaa cerita ringan penuh kasih sayang keluarga ini sukaaaaaa ugh tambah jia bener2 nyenengin bangeeeettt lah huhu suka kyuhyun yg godain sena kaya gitu yg di awal hahahaha asa duh meuni ada ga sih beneran suami yg kaya gitu gangguin istrinya kalo lagi mimiun debay hahahahaha sukaaa suka bgt huhu sering2 aja nulis yg beginu selingan ceeita sedih intemporel dan fragile heart hihi D-3….. ga siap tp pasti gimanapun yah musti kudu dijalanin, sebenernya lebih ga siap dari kemungkinan bakal lepas dari kyuhyun sih huhuu tp semoga ga yah pengen jd fans yg setia ceritanya mah hahahah lanjuuuutt cerita lain lagiiii

    Liked by 1 person

  4. Selalu seneng liat keluarga mereka bikin iri…
    Kyuhyun yg mesum, sena yg mau aja d ajak mesum sama kyuhyun…
    Dan gemasnya joon n jia…
    Aduh iya ya tgl 25 kyuhyun wamil…

    Liked by 1 person

  5. Amin, Semoga bisa ketemu intemporel. itu cerita ditunggu banget kelanjutannya. yura sama minho, kompak ya? kompak kalau ngebongkar sifat kyuhyun wkwk. kalau dipikir bener juga, itu 2 anaknya lengket sama kyuhyun? wkwk.

    Liked by 1 person

  6. Astagfirulla kyu appa mesum bin bikin sena klepek2 ❤ 😀 padahal kalo dibikin encehnya sampai selesai pasti lebih bagus lagi #otakmesum 😀 😀
    kyu emang jadi rebutan anak2nya ❤ keluarga yang harmonis :-* ❤ Iya sama bakalan kangen embul nih :-* tapi gak apa2lah kyu mau wamil 🙂 malahan aku seneng ❤
    Mohon maaf lahir batin juga saeng dan semua readers disini 🙂
    Aamiin^^ ditunggu Intemporelnya semangat 🙂

    Liked by 1 person

  7. Suka dengan cerita family cho ini… Manis😊
    Hayyuu achh thor, mau intemporel, mau fragile heart, mau family cho lagi.. Aku mah ok2 aja.. Soalnya suka semua ffnya.. 😀😀😀
    Semangat terus untuk berkarya author cantik.. Disini ada yg selalu menunggu karya2mu.. ,😘😘😘

    Liked by 1 person

  8. kerennn banget ffnya kak, gak pernah bosen :D.
    waktu pas awal baca tadi, kyuhyun dia tuh bener” ga bisa nahan nafsunya ya hhaha, sena lagi ngasih asi juga diaa sikat sena haha gilaa benerrr” si cho kyu

    Liked by 1 person

  9. Daddyable banget ihhh aaaaaa Kyuu :* ekhemmm suami fav, tapi kemesumannya itu sialan banget :v hahaha!!!!
    .
    Ditunggu intemporernya ya kk:* ugh tiap hari, tiap jam aku cekin blog ini loh kk… Smoga aja awal puasa ya instemporer terbit 🙂 semangat juga buat segalanya. Semoga tulisannya menjadi berkah *cieeee

    Liked by 1 person

  10. Hiiii 🙂

    Ini yang Joon nya dimarah2in gara2 keegoisan si bapak yaa?

    Keluarga nya dah nambah Jiaaa disini jadi manis deh 🙂

    Semangat yaaaaaa dear

    Mau puasa jugaaa, selamat berpuasa yaaaa ^^

    Liked by 1 person

  11. Aduh kakak….
    Manis banget, cerita perpisahan buat Kyuhyun…
    Yg semalam habis Mewek2 di buay sifat Kyuhyun yg songong..

    Sekarang di buat manis2 dgn kelakuan Kyuhyun…
    Walaupun sedih klw ingat bentar lagi tgl 25, masih nggak rela klw presdir Silk Air harus wamil ninggalin baby gee yg masih kecil, dan joon yg manja am Kyuhyun….
    Terus apa jadinya Sena tanpa Kyuhyun….

    Liked by 1 person

  12. syediiiih bgt klo inget kyuhyun mau wamil
    😭
    coba aja klo ini cerita bnrn soal kyuhyun yg pnya keluarga trs ada acara tv ny uh psti bkln seru 😂
    d tunggu ff yg lain ny min..semangaaattt

    Liked by 1 person

  13. Jadi makin sedih, uhmm kalau inget bentar lagi tgl 25, coba aja kalau cerita ini beneran di dunia nyata uhh pasti bakalan seru. Kasian jia joon egois banget sih ga mau berbagi sama jia ha ha joon punya sifat kaya kyuhyun yaitu pengen menang sendiri ga mau berbagi sama jia

    Liked by 1 person

  14. mungkin sebagian dr fans kyuhyun ya yang dirasain sama kak berat rasanya. Apalagi 2 tahun terlewati tanpa denger lagu barunya dia. Tp seperti yang sudah-sudah dinikmatin aja, 2 tahun pasti berlalu dengan cepat huhu
    Aku seneng banget jia and specially joon akhirnya nongol xD aku setiap baca fiksi kakak yang ada anak kecilnya itu suka senyum-senyum gaje, bisa jadi moodboster juga kak haha semoga bulan puasa bisa ketemu ya kak tp kalo intermporel atau fragile heart semoga jangan sedih banget takut bikin nangis siang-siang bikin batal puasa xD
    Ps: mohon maaf lahir & batin juga kak, pasti reader pernah bikin kakak ngga enak hati selama komen atau ngechat kakak.

    Liked by 1 person

  15. Ahhhh RT gemmmessinn ini mahh,,,
    Pen jg ngegendong .si baby gee… hihihi
    Mereka ber2 org tua mesum deh.. 😂😂😂

    Selamat menjalankan ibadah puasaa…

    Libur dulu baca epep selama sebulann… hihihi

    Fighting author…

    Liked by 1 person

  16. Aigoo..senengjya hari ini aku makan siang ditemani ff yang so sweet banget 😀 ditambah ini ff penutupan sblm kyu wamil ..#aduh nyess aja kalo inget itu
    Kyu , sena, joon dan jia…keluarrga kecil yang bikin aku iri 😀
    Author justru aku malah suka scene nc nya hanya cumbu2an gitu, jadinya kan gemesin ^_^ jd tetetp pertahanin segutu aja udh ya #piss
    Btw Intemporel tetep yg di tunggu loh #winks

    Liked by 1 person

  17. kalau d ingetin kyuhyun mau wamil,galau nya n baper ny jdi smkin akut.srasa suami d krim tugas negara buat mmpuarjangkan negara.oh ya ampuun..
    intinya slalu ska sma family cho story ini.dan author mskpn mau bln puasa smga aja bs ttp absen update crtnya ya.amin..mhon maaf lhir dn batin jg dr aku slah stu readers eonno queensera.

    Like

  18. Ahhh, mereka emang moodbooster banget apalagi Jia dengan tingkahnya yg bener2 masih polos mau nyubit pipi gemeshh banget. Sedih mau ditinggal sama Kyuhyun besok, tapi seenggaknya kan gak di tinggal in dalam dunia fanfiction Lah.

    Liked by 1 person

  19. Ahhhh pnghibur bngt selain baca crta kakk yg melowmelow sad nyesekk gmna gtu.. .. Manis bngt kluarga ini… Seneng bngt klo liat bayi gmpal macem jia..haha
    Ampun deh sifat mesummmm kyuhyun gak smbuhsmbuh mlah nmbah parah.. Haha

    Liked by 1 person

  20. Hehee makin emez aja sama keluarga satu ini apalagi kalau misal jia ketemu sm kyu.. ka coba buat ff khusus kebersamaan(?) Kyu dan Jia ehe xD duo gembil lucu aja kali yaaa kalau di tinggal berdua

    Liked by 1 person

  21. uluhuluhh….. gemes bingit ama jia… kalo ada yg beneran udh gw unyel” tuh bocah….
    senengnya liat keluarga ini manis banget lama nggak mampir ke sini. giliran dateng langsung disambut duo gemesin joon sama jia senengnya. ampe senyum” bacanya liat kelakuan joon yg sip bgt hahahhahahahahahaa….

    Like

  22. *-* *-* *-* *-* *-* AAAAaaa manisnya Ini keluarga Ya joon yang nakal Jia Yang periang Dan orang tunya Yang Mesum ‘-‘ … Suka suka … semangat terus nulisnya

    Like

  23. Ihh manis banget sihhh 😍😍😍. Si kyu kenapa parah banget manisnya, gampang bnget buat kupu kupu berterbangan di perut orang. Kesel jadinya 😥😥😥…

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s