Intemporel – 5

intemporel-req

Poster by Kyoung @ Poster Channel

Seandainya kau tahu disini ada luka.

Juga cinta.

C A S T

CHO KYUHYUN ∞ LEE SENA

LEE DONGHAE

R A T E:

PG-17 | Mature Content

AU | Multi-Chaptered

G E N R E:

Romance, Hurt, Drama, Family

R E C C O M E N D E D  S O N G

Soyu ft Baekhyun ⇔ Rain

R E L A T E D  S T O R Y:

Intro ¦ Rendezvous ¦ Memento ¦ Labyrinth ¦ Missing You

N O W [P L A Y I N G]

HURTS


This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!


Pepatah pernah mengatakan bahwa mencintai seseorang itu sebaiknya sewajarnya saja, karena boleh jadi, orang yang kita cintai itu akan berbalik menjadi orang yang kita benci nantinya. Begitupun saat kita membenci seseorang—lebih baik sewajarnya saja.

Karena, ini benar terjadi adanya.

Dulu Sena sempat apatis akan kalimat tersebut. Dia mengira lebih baik masing-masing rasa bergerak leluasa, agar tidak ada yang terluka. Namun tanpa dia ketahui, tanpa bisa dicegah, hati selalu berkhianat pada sang pemilik. Sehebat apapun menjaganya agar tidak terjatuh, seringnya dia malah tak patuh.

Lalu, berakibat dengan membawanya pada satu premis yang merenggut bahagia. Bukan berhasil menghindar dari luka, kini dia malah menjadi objek si pengoleksi luka.

Cinta berlebihan yang dia berikan pada Kyuhyun dulu, nyatanya memang tidak berakhir sebaik yang dia pikirkan. Pepatah itu benar; Kyuhyun berubah menjadi seseorang yang sangat ingin dia benci.

Meskipun sulit.

Kini, baginya tidak ada lagi yang berakhir baik-baik saja. Segala hal yang terjadi. Semuanya begitu menyesakkan. Nyata merajam kalbunya yang masih basah oleh luka tak berdarah.

Nasibnya. Ucapan Kyuhyun. Cintanya. Kebencian Kyuhyun. Semua itu rasanya sama menyakitkannya.

Terlepas dari kehadiran Sarang di dalam hidupnya, tidak ada kebahagiaan lain yang mau datang untuk sekadar berkunjung mengusir laranya.

Sena dibuat terjebak, nyaris tidak bisa pergi—setidaknya menghindar sejenak—dari perasaan-perasaan itu walau batinnya sudah sangat lelah tersiksa. Seolah kehidupannya memang sudah Tuhan takdirkan untuk berporos pada kepedihan saja. Seolah senyum dan tawa adalah harga yang sangat mahal untuk bisa dibayar oleh orang seperti dirinya yang bukan apa-apa.

Setelah delapan tahun berselang, Sena pikir lambat laun kehidupannya akan berangsur baik-baik saja. Walau Junghoon masih sering bersikap tak adil padanya, tapi itu bukanlah masalah. Sena memaklumi rasa kecewa Junghoon terhadap dirinya. Dan dia yakin suatu saat nanti pria itu akan kembali pada jati dirinya seperti semula. Sampai pada akhirnya, di detik ini, semesta berkonspirasi dengan waktu untuk mempertemukan dirinya kembali dengan Kyuhyun. Lalu, mengulang segala pesakitan itu.

Sakit luar biasa yang sampai sekarang tak bisa Sena lupakan rasanya. Sakit yang sudah sangat dia hapal diluar kepala.

Hanya saja, yang luput dari intuisi Sena, yang tidak pernah dia sangka adalah fakta bahwa Cho Kyuhyun akan turut membenci putrinya sebaik pria itu membencinya.

Jelas ada sesak yang mendera tatkala dia mendengar pernyataan Kyuhyun di mobil tadi. Nyerinya bahkan tak bisa Sena bendung sebaik mungkin. Kekecewaannya tumpah, berujung pada refleks tangannya menghantam telak wajah pria itu tanpa aliansi apapun.

Baginya tidak masalah jika Kyuhyun memang ingin memakinya, menghujatnya, menghinanya atau bahkan meludahinya dengan seluruh kalimat kasar yang pria itu miliki. Tapi Sarang, gadis kecil itu tidak tahu apa-apa, dia bahkan tidak layak untuk dibenci. Dihina. Atau dijatuhkan.

Cho Kyuhyun tidak berhak untuk itu.

Dan sebagai satu-satunya orang yang senantiasa membesarkannya sebaik mungkin, Sena jelas merasakan kepedihan yang teramat dalam. Apakah sebegitu tidak pantasnya dia kembali?

Sudah berulang kali Sena mengatakan bahwa semua ini diluar kuasanya. Tidak ada satupun rencana setelah kejadian itu untuk dirinya bisa berharap bertemu lagi dengan Cho Kyuhyun. Karena bagi Sena, semuanya sudah selesai sejak hari itu.

Jika seandainya pria itu tahu bahwa keinginan terbesarnya adalah bisa menghilang dalam sekejap mata, maka dia akan melakukan itu untuk selamanya, tidak mengapa walau hatinya harus digerus oleh rindu yang mendesak. Cukup dulu dia pernah berhubungan dengan Kyuhyun, sekarang ataupun nanti, yang Sena harapkan adalah tidak ada lagi hubungan yang terjalin diantara mereka. Meskipun terdapat satu alasan yang bisa membuat mereka kembali bersama.

Isaknya tak kunjung usai. Masih terus bergaung walau dia sudah berjalan lumayan jauh. Sena tidak peduli lagi pada keadaan dirinya yang sudah sangat kacau dan masih berada di muka umum. Dia tidak lagi mengacuhkan tubuhnya yang masih butuh tempat istirahat. Karena yang dia butuhkan sekarang adalah melampiaskan seluruh rasa sakit dan kecewanya.

Lalu, seolah dia berkawan baik dengan kelam, semesta pun ikut memuramkan langitnya. Hujan sisa semalam kembali hadir. Mengguyur tubuh ringkihnya yang menjerit kelelahan. Menambah setiap jengkal kepedihannya untuk berubah menjadi pilu tak berkesudahan.

Sena tidak tahu harus kemana lagi. Dia merasa begitu buruk dan tidak pantas. Jika tadi dia ingin sekali bertemu dengan wajah putrinya sesegera mungkin, maka sekarang keinginan itu tergantikan dengan rasa malu dan tidak ingin.

Ucapan Kyuhyun beberapa saat lalu seolah menyayangkan Sarang yang sial lantaran hidup dan lahir dari perempuan menjijikan serta munafik sepertinya. Orang tidak tahu diri yang tanpa rasa bersalahnya sanggup berhadapan dengan pria layaknya Cho Kyuhyun seolah tidak memiliki urat malu.

Sena menggigit bibirnya kuat-kuat. Berusaha meredam ledakan tangisnya. Mungkin, jika bukan dia perempuan yang melahirkan Sarang, Kyuhyun tidak akan membenci gadis kecilnya itu separah ini. Dan mungkin, sepanjang hidupnya, Sarang tidak akan pernah menerima hinaan dari Kyuhyun hanya karena kesalahannya dimasa lalu yang sulit pria itu maafkan.

“Maafkan … ibu … Sarang. Maaf.” rintihnya dengan sesak yang mendera. Sungguh, dia merasa bersalah pada gadis kecil itu. Dan dia tidak tahu harus bagaimana lagi selain mengucapkan kata maaf.

.

Intemporel

.

Donghae tahu bahwa kejadian seperti ini akan terulang.

Sejak mendapati mobil Kyuhyun bergerak ke luar apartemen, disertai Sena yang berada di sampingnya, intuisinya kembali dibuat berkelana. Menjelajah dari satu hal kepada hal lainnya. Entah awal seperti apa yang melatar-belakangi berakhirnya mereka di dalam satu ruang sempit itu bersama, Donghae tidak mau memikirkan itu saat ini.

Yang dia rasakan ketika indranya melihat mereka bersama adalah adanya sesuatu yang mengganjal dadanya. Firasatnya berubah buruk. Dan itulah alasan mengapa dia bisa berada disini. Berdiri dengan satu payung yang melindungi tubuhnya. Menggagalkan seluruh tujuan awalnya untuk berkunjung ke apartemen si Pria Cho sepagi ini.

Dugaannya ternyata memang benar. Ketika Kyuhyun membanting setir mobilnya pada bahu jalan, saat itulah jantungnya dibuat berdegup tak karuan. Dan baru bisa meloloskan nafas lega lagi, saat sadar bahwa kondisi mobil itu baik-baik saja—walau dia sangsi dengan keadaan dua orang yang berada didalamnya.

Sena bersama Kyuhyun. Kemungkinan besar yang terjadi adalah adik sepupunya itu yang gelap mata.

Donghae tahu seberapa sulit perjuangan Kyuhyun untuk mencapai pada tahap ‘baik-baik saja’. Dia lah yang selama ini berada disampingnya. Menjadi saksi bisunya. Bahkan saat Kyuhyun mulai berulah, dia lah yang mengintainya dalam diam. Jadi, dia mengerti perasaan seperti apa yang menyerang pria itu saat ini.

Yang dilakukan olehnya setelah itu adalah hanya diam. Menunggu. Beruntung jika tidak ada yang terluka dan mobil yang berjarak seratus meter didepannya itu kembali bergerak membelah Seoul.

Tapi, harapan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan  bukan?

Sena keluar dengan wajah bersimbah air mata. Wajahnya yang kentara sekali terlihat pucat dihiasi oleh rona merah kesakitannya. Lalu, dibantu dengan kakinya yang kecil, perempuan itu berjalan menjauhi mobil Kyuhyun.

Sesak hinggap tiba-tiba, menyapa jantungnya yang semula bergerak normal. Ada segumpal lara yang menyekat tenggorokannya. Siapapun yang melihatnya, pasti ikut merasakan kepedihan yang perempuan itu rasakan.

Buru-buru Donghae membuka pintu. Dia tidak bisa menjadi pihak yang terus berdiam diri ‘kan? Sena jelas sangat membutuhkan bantuan. Pertolongannya. Tempat beradunya.

Namun, baru satu kaki dia keluarkan dari mobil, gerimis turun. Menyapa lagi bumi yang belum sempat mengering—lantaran sisa hujan semalam—dengan tangisan langitnya. Tidak mungkin Donghae mengejar Sena dengan keadaan sama-sama tak berpayung, Sena membutuhkan perlindungan lain. Maka dengan nada terburu-buru, pria itu beralih ke jok belakang mencari payung atau benda apapun untuk bisa dia gunakan demi melindungi tubuh mereka nanti. Atau setidaknya tubuh Sena.

Setelah mendapatkannya, Donghae berjalan cepat menuju arah dimana langkah kaki Sena mengantarnya pergi. Hingga tiba di detik ini lah dia memelankan frekuensi langkahnya, untuk kemudian berhenti—berdiri mematung dengan mata perlahan mengembun—seiring dengan rasa terkejutnya tatkala mendengar isakan Sena yang memilukan hati.

Tanpa perlu harus berspekulasi lagi, orang lain pun bisa tahu bahwa perempuan itu sedang sangat terluka.

Lalu, nyeri itu kembali datang, menyayat organ vitalnya.

Donghae menelan ludah berat. Dadanya bergemuruh hebat didalam sana.

Dia tidak tahu apa yang dilakukan atau diucapkan Cho Kyuhyun pada perempuan itu, tapi melihat Sena yang seperti ini, sanggup membuatnya mengutuk pria itu diam-diam lantaran bisa begitu tega menyakiti gadis kesayangannya ini sedemikian rupa.

Sena adalah gadis yang baik. Dan Donghae yakin apa yang dilakukan gadis itu di masa silam, tidak sejalan dengan keinginannya saat itu. Sena pasti memiliki alasan lain yang bisa diterima oleh akal sehat. Donghae berani bertaruh untuk yang satu ini. Tapi Kyuhyun, sayangnya pria itu tidak mau mengerti. Dan lebih sialnya lagi, dia pun tidak bisa begitu saja menyalahkan Kyuhyun.

Karena, dia pun ikut merasakan sakitnya saat itu.

Diiringi dengan hentakan pedih, Donghae kembali berjalan mendekati Sena. Membagi payungnya untuk melindungi tubuh ringkih bergetar itu dari kecupan hujan yang mengguyur deras.

Lalu, Sena yang mulai sadar bahwa dirinya tak lagi dihujani oleh tangisan langit, berencana memutar tubuhnya—menghadap seseorang yang bermurah hati memberikannya tempat berteduh saat hatinya dirundung kekalutan. Namun baru bergerak empat puluh lima derajat, seseorang sudah lebih dulu menempatkan tubuhnya untuk berdiri dihadapannya.

Kedua bola matanya yang masih dipenuhi oleh air mata, bergulir untuk menatap si pemilik wajah. Dan hatinya, kembali dibuat mencelos begitu wajah familiar memenuhi pandangannya.

Bukan lega yang dia rasakan, melainkan sesak yang semakin mendera.

“Kau bisa sakit jika hujan-hujanan seperti ini terus, Gadis Kecil.” Ucap si Pria Lee. Senyum simpul terlukis di wajah tampannya, berusaha menahan gumpalan yang menyekat tenggorokan.

Sena kembali tergugu dengan sebutan yang pria itu sematkan. Dia rindu panggilan tersebut. Dia merindukan masa lalunya yang baik-baik saja.

Tangan Donghae kemudian terulur, mengusap jejak air mata yang merusak wajah cantik milik gadis kesayangannya. Namun, semua itu percuma saat Sena sama sekali tidak mau menghentikan tangisannya.

Donghae kembali menelan ludah berat, ini semakin menyakitkan.

“Berhentilah menangis.” Jemarinya dia larikan untuk membenarkan letak rambut Sena yang kusut. “Jangan seperti ini lagi. Kau masih memiliki aku untuk tempatmu berteduh ‘kan?”

Sena menepuk dadanya yang terasa sesak. Isaknya semakin tersendat, bukti bahwa apa yang Kyuhyun torehkan beberapa saat lalu begitu melukai perasaannya. “Ini … sakit sekali … Oppa. K-kyuhyun … dia—”

Belum rampung perempuan itu menyampaikan kalimatnya, Donghae meraih tubuh ringkih Sena untuk dia rengkuh. Sebelah tangannya bekerja mengusap lembut punggungnya yang bergetar hebat. Dia bisa merasakan kekalutannya.

“Aku tahu. Aku mengerti. Maafkan aku.” Pria itu mendongakkan kepalanya, menghalau air mata yang siap tumpah dari peraduan.

Sebenarnya apa yang dilakukan Cho Kyuhyun hingga Sena begitu kesakitan?

Donghae memejamkan matanya sejenak. Meresapi dalam-dalam rasa bersalahnya lantaran pernah meninggalkan perempuan ini dengan ketidak-berdayaannya. Lalu, begitu kedua kelopaknya terbuka, netra hitamnya tanpa sengaja bertemu dengan milik si penoreh luka.

Diujung sana, tidak jauh dari tempatnya berada saat ini, Kyuhyun berdiri kaku dengan pakaiannya yang sudah basah kuyup. Apatis pada kondisi cuaca saat ini.

Ada kepedihan yang nyata dari tatapan lelahnya, Donghae bisa merasakan itu. Karena sejatinya dia mengerti, sekeras apapun Kyuhyun berusaha membenci Sena, cinta yang dimiliki oleh pria itu sama sekali belum hilang untuk perempuan dalam rengkuhannya ini.

Nyatanya, hujan memang tidak mampu untuk menutupi duka mereka.

Lama mereka bersitatap, hingga entah pada menit keberapa, Kyuhyun memutus atensi keduanya. Kepalanya tertunduk dalam, untuk kemudian tubuhnya berputar arah. Punggungnya beranjak pergi seiring dengan tangis Sena yang kian menjadi. Dan Donghae, semakin bisa merasakan apa yang baru saja dialami oleh pria itu.

Pergolakan batin yang sangat menyesakkan, dipastikan ada dan tengah menyapanya.

Donghae masih menggiring langkah Kyuhyun dengan tatapannya. Dalam diam, dia berujar lirih;

“Berhenti menyakiti dirimu sendiri, Kyuhyun. Jangan melukai perempuan ini lagi jika kau enggan merasakan sesaknya.”

.

Intemporel

.

Kyuhyun mengulas senyum lebar begitu mendapati sebaris kalimat digital masuk ke dalam ponselnya. Dikirimkan oleh gadis kesayangannya, tentu saja dia senang bukan main.

Delapan tahun lalu, Kyuhyun masih dengan gagah berani menjadikan Sena sebagai dunianya. Salah satu prioritas utama yang kemudian menghancurkannya tanpa perlu direncanakan.

Masih dengan raut bahagia lantaran pesannya beberapa saat lalu terbalaskan, Kyuhyun pun segera men-dial nomor tersebut. Semangatnya kembali dibuat membuncah hanya dengan satu kalimat sederhana dari kekasihnya. Bahkan rencana untuk segera mengistirahatkan tubuhnya yang sudah kelewat lelah lantaran dua minggu ini tenaganya dieksploitasi untuk mengerjakan proyek-proyek independen, terabaikan begitu saja.

Tujuh detik menunggu, tak sia-sia dia gunakan setelahnya untuk semakin melebarkan sudut-sudut bibirnya.

“Hai!” sapanya kelewat riang begitu panggilannya terangkat. “Kupikir pesanku tidak akan mendapatkan balasan, mengingat ini sudah pukul sebelas malam.”

“Emm… aku belum tertidur.”

“Kenapa? Merindukanku, ya?” goda Kyuhyun. Pria itu terkekeh kecil mendengar kalimatnya sendiri, lalu mencari posisi nyaman untuk tubuhnya. Anehnya, diseberang sana, gadis itu hanya diam saja. Tidak ikut merasa geli. Membuat Kyuhyun mau tak mau harus menyurutkan tawanya dan mengerutkan alis.

Berdeham sejenak, dia pun membelokkan topik. “Bagaimana kabarmu, Sena?”

“Aku baik, Oppa. Kau?”

“Aku juga. Dan semakin baik setelah mendengar suaramu.” Ujarnya tak lupa diiringi senyum kekanakan. Namun lagi-lagi, balasan yang dia dapatkan tidak sesuai ekspetasinya. Kyuhyun hanya mendengar helaan nafas Sena saja, tidak ada kalimat apapun yang gadis itu lontarkan untuk mengamini perkataannya. Atau setidaknya mengelak seperti yang sudah-sudah.

“Emm… kau … kesal padaku?” tanyanya kemudian.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

Kyuhyun mengedikkan bahu. “Selama dua minggu ini aku tidak mengabarimu. Aku sibuk dengan tugasku. Mungkin saja ‘kan?”

“Konyol.” Kali ini Kyuhyun mendengar suara kekehan milik gadisnya. Walau, yah, hanya sebentar dan… kecil. Sangat kecil. “Kalau kau lupa, aku juga sedang disibukkan menjadi mahasiswi baru, Oppa.”

Mahasiswi baru.

Ah… Kepala Kyuhyun kemudian mengangguk tatkala intuisinya dibuat berputar pada momen empat bulan lalu. Ketika Sena datang padanya dengan senyum sedikit patah. Bagaimana tidak seperti itu, jika pada dasarnya kenyataan memang meraup habis cita-citanya untuk masuk ke dunia kedokteran. Dengan wajah mendung tak bersemangat, gadis itu membawa kabar bahwa dia hanya diterima di Fakultas Ekonomi salah satu Universitas negeri yang berada di Seoul.

Mengingat itu, dia tersenyum geli. Bukan maksudnya untuk meremehkan kerja otak Sena, tapi mengingat dunia kedokteran itu memang banyak diminati, jelas saja Sena yang hanya mengandalkan program beasiswa bisa tergeser jauh sampai akhirnya tertendang keluar.

Tetapi bagi Kyuhyun, Sena berhasil masuk Universitas negeri dengan kerja kerasnya sendiri saja sudah cukup membanggakan. Jika gadisnya yang dikenal lumayan malas belajar itu bisa menembus program full-scholarship, maka bukankah hal itu adalah sesuatu yang langka? Kesempatan ini jelas sangat sulit untuk bisa diraih jika kemampuan otak tidak sejalan dengan usaha.

Lee Sena-nya yang mandiri memang mengagumkan ‘kan?

Sayang, mereka berada di tempat yang berbeda. Mungkin jika Kyunghee yang memberikan program beasiswa utuh terhadap mahasiswa baru, dia dan Sena bisa memakai almamater yang sama sehingga waktu mereka untuk bertemu tidak terjarak lagi. Tapi nyatanya, Sena sekarang berkuliah di Seoul University.

“Sepertinya dua minggu berkutat dengan proyek membuatku sedikit melupakan statusmu sekarang,” kekehnya geli. “Jadi, mahasiswi baru, apa besok kau sibuk? Aku ingin menawarkan paket kencan ekslusif, bersedia?”

Lagi. Hening tercipta. Ada jeda sejenak yang melingkupi mereka. Bukannya menjawab ajakan Kyuhyun atau setidaknya meladeni kalimat pria itu, Sena hanya membisu. Semakin mengundang kerutan di dahi Kyuhyun.

Ada sesuatu yang tidak beres, pikir pria itu. Sena memang lah bukan tipe gadis periang seperti kebanyakan para remaja perempuan tumbuh, gadis itu cenderung pendiam. Tertutup. Tapi diamnya Sena yang seperti ini, lantas saja membuat Kyuhyun diterjang rasa curiga. Dua minggu mereka tidak berkabar, bukan berarti Kyuhyun melupakan watak gadis itu. Dan kalau sudah begini, pasti ada sesuatu yang mengganggu kekasihnya tersebut.

Kyuhyun menghela nafas setelah ratusan detik ajakannya tak menuai balasan. Sudut-sudut bibirnya tertarik sedikit, mencoba berspekulasi baik bahwa mungkin Sena sedang kelelahan juga dikarenakan kegiatan kampusnya. Gadis itu tadi bilang bahwa dia pun turut sibuk sebagai mahasiswa baru. Besar kemungkinan memang seperti itu ‘kan?

“Sena?”

Tidak ada sahutan.

“Besok—”

“Oppa, aku—”

“Sudah dua minggu. Aku merindukanmu.” Repetnya langsung saat tahu bahwa Sena mungkin saja akan menolak ajakannya. Biar saja Kyuhyun egois, dia hanya ingin bertemu dengan gadisnya esok hari. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi.

Jantung Kyuhyun tiba-tiba dihentak oleh rasa tak karuan. Seperti ada yang mencubit kecil organ vitalnya tersebut. Mendadak, dia merasa panik sendiri. Takut akan suatu hal yang belum terlihat wujudnya seperti apa.

“Ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Besok, jam 9 aku jemput. Oke?” ujarnya lagi—sedikit memaksa dan mencoba untuk terdengar riang. “Emm… omong-omong ini sudah sangat larut. Kau harus segera tidur. Jangan memikirkan apapun lagi, hm? Aku tidak mau mendapati wajah kekasihku cepat keriput karena sering begadang.” Lanjutnya lagi diiringi senyum yang melebar.

Lama Kyuhyun menunggu balasan, hingga pada detik kesebelas barulah sopran gadisnya terdengar kembali.

“—ya. Selamat malam, Oppa.”

Pria itu mengangguk. “Goodnight too. Love you … more … Na-ya.”

Kyuhyun menutup panggilannya dengan ringisan geli. Tidakkah kalimat terakhirnya tadi terdengar sangat janggal? Well, mungkin tidak jika kata ‘more’ itu dihilangkan saja. Karena sejatinya, apa yang diucapkan Kyuhyun tadi bukankah itu adalah balasan dari seseorang ketika mendapatkan pernyataan cinta terlebih dulu? Tapi dia—ah, jangankan untuk mendengar kalimat cinta dari Sena, untuk mendapatkan balasan rindu saja dia hampir tidak pernah merasakannya.

Pemuda itu tersenyum miris. Mengingat sepertinya hanya dia lah yang bekerja pada hubungan mereka. Tapi tidak apa jika Sena memang malu atau enggan mengucapkan kalimat picisan tersebut. Asal, dia diijinkan untuk terus berada disampingnya saja, itu sudah cukup bagi Kyuhyun. Asal Sena tidak menolaknya lagi seperti kejadian satu setengah tahun lalu saat mereka masih berseragam Hanyang saja, itu sudah membuat Kyuhyun bersyukur.

.

Intemporel

.

Kyuhyun membuka kedua matanya yang beberapa saat lalu sempat terpejam. Menormalkan kembali pandangannya pada remangnya cahaya malam.

Tubuh telanjangnya yang kini hanya berbalut selimut, bermandikan keringat dingin. Bahkan dia bisa merasakan benda cair itu mengalir di dahinya, bergulir melewati pelipis untuk kemudian jatuh di atas bantal.

Nafasnya yang walau saat ini bergerak teratur, nyatanya berbanding terbalik dengan kerja organ vitalnya didalam sana. Jantungnya berdetak dengan irama yang menyakitkan. Seolah ingin terbebas dari kungkungan sang tulang rusuk.

Ada nyeri yang dia rasakan, hingga untuk menggerakan anggota tubuh lain saja rasanya sulit.

Kyuhyun memejamkan kedua matanya lagi saat nafasnya mulai tersendat pilu. Menyelami sekali lagi momen-momen terakhir kenangan indah itu bisa dia miliki—walau hanya secuil.

Namun, semakin dia menyelam lebih dalam, semakin kencang pula jantungnya berdetak. Ada jeritan implisit yang disuarakan kalbunya. Mengundang lara itu semakin menjadi-jadi. Kemudian diam-diam meringis dihentak rasa pedih luar biasa.

Tak peduli seberapa kuat Kyuhyun berusaha, bahkan rela terlihat seperti budak yang tersiksa, kenyataan justru menamparnya telak sesaat sebelum dia bisa menarik diri. Menghinakan seluruh arogansinya yang dia junjung tinggi-tinggi melalui satu getaran yang tidak pernah Kyuhyun harapkan kemunculannya.

Setetes air itu terjatuh, seiring dengan bibirnya yang berkedut rapat. Disaksikan oleh peran lain disampingnya, Pria Cho ini runtuh dalam balutan luka.

“Aku … lebih … mencintaimu.” Lirihnya pilu.

Lalu, tanpa bisa dicegah, tetesan-tetesan lain menyertainya. Jatuh bersama keringat yang masih belum mengering.

Bayangan perempuan itu kembali hadir, lengkap dengan wajahnya yang sangat terluka. Kyuhyun tidak bodoh untuk mengira siapa dibalik datangnya luka tak berdarah itu, dia tahu darimana luka itu berasal karena, saat ini pun dia ikut merasakannya.

Nafasnya yang mulai pendek-pendek mengundang tangan lain untuk menyentuhnya. Kyuhyun berusaha membuka kelopak mata setelah sebuah usapan menyeka keringat di dahinya. Netranya kemudian bertemu dengan manik violet milik perempuan yang sudah dia kenal baik.

Perempuan yang menjadi saksi atas kelemahannya selama ini selain Lee Donghae.

“Kau baik-baik saja?” sopran perempuan itu mengalun. Mengalihkan tatapan Kyuhyun yang merasa terhina atas perhatian tersebut. Ada sejumput malu menggerayangi wajahnya. Lagi dan lagi.

Menyadari bahwa permulaannya salah, perempuan itu pun tersenyum masam. Lantas menegakkan tubuh telanjangnya yang hanya berbalutkan selimut untuk bersandar pada headboard ranjang, kemudian berkata tenang, “Kau pasti memimpikannya lagi.”

Kyuhyun membungkam. Tidak ada satupun balasan yang dia terima dari pria yang masih berbaring disampingnya itu.

Jhesslyn—atau perempuan yang lebih dikenal dengan sebuat Jessy itu ikut menghembuskan nafas. Mengerti akan duka yang menggenang pada lawan bicaranya. Dia pun lebih memilih untuk ikut diam. Mungkin, teman seks-nya itu masih membutuhkan waktu untuk berbicara. Tapi sekali dilihat dari gelagatnya, Jessy jelas tahu apa yang menyebabkan Kyuhyun seperti ini.

Karena, hanya ada satu premis yang sudah dia hapal diluar kepala—yang selalu menghantui malam-malam Kyuhyun jika bersamanya.

Perempuan itu kemudian lebih memilih untuk menggulirkan manik violetnya untuk mengitari kamar hotel yang mereka sewa kali ini. Satu sudut bibirnya terangkat; dia dan Kyuhyun baru saja selesai melakukan seks panjang mereka beberapa menit lalu. Dan dari cara Kyuhyun menyentuhnya malam ini, dia paham ada sesuatu yang terjadi—yang kemungkinan memiliki keterkaitan dengan premis tadi.

“Aku … melukainya—lagi.”

Alis Jessy mengernyit. Lagi?

“Apakah Lisa?”

Gelengan lirih dia dapatkan kemudian. Sebagai salah seorang yang tahu seperti apa masalah yang menghantui Kyuhyun selama ini, Jessy mengulurkan tangannya kembali untuk menyapu rambut Kyuhyun. Mencoba menenangkan jiwa pria itu layaknya seorang teman berperilaku.

“Kyuhyun—”

“Dia menangis, Jes. Dan aku benci melihatnya seperti itu. Rasanya sakit sekali.”

Jessy menarik nafas dalam, lantas tersenyum kecil. “Masa lalumu ‘kan? Kalian bertemu lagi?”

Kembali, Kyuhyun tidak menjawab.

“Kau harus belajar memaafkannya, Kyuhyun.”

Memaafkannya? Dia bahkan sudah berusaha sebelum ada yang memintanya. Tetapi itu tetap sulit baginya.

Pria itu menelan ludah berat, dengan kedua tangan yang menutupi wajah kacaunya, dia membalas. “Aku ingin. Tapi jika mengingat apa yang pernah dia lakukan padaku, rasanya sangat sulit. Ini tidak mudah.”

“Kyuhyun, dengarkan aku baik-baik,” ucap Jessy lagi. Mulai berimprovisasi. “Aku tahu kau saat ini merasa kesakitan, kau membencinya, kau bersedih, kau bermain denganku atau dengan para wanita jalang lainnya—itu semua karena luka yang dia rasakan berasal darimu, benar? Karena kau merasa bersalah. Tapi sekarang biar kuberi tahu kau satu hal, jika kau masih belum bisa berdamai dengan rasa sakit hatimu dimasa lalu, maka lepaskan itu semua. Kau sudah memiliki kehidupan lain sekarang, begitupun dengan dia. You know that life must go on, right? You have to move forward, to be able to look for a better tomorrow. Kau tidak bisa begini terus-terusan, bergelut dengan lukamu sementara ada Lisa yang harus kau jaga perasaannya.”

Kyuhyun membawa irisnya untuk bersitatap dengan Jessy. Menyelami setiap silabel yang dilantunkan oleh perempuan itu. Namun, itu tak bertahan lama lantaran hatinya menolak untuk mengerti.

“Ini tidak semudah yang kau ungkapkan, Jes. Kau tidak tahu bagaimana sulitnya aku un—”

“Karena kau masih saja bergelung dengan rasa sakitmu. Sialnya lagi, kau terlalu mencintainya, Kyuhyun.” repetnya cepat. “Kau masih mencintainya sebaik kau mencintainya dulu. Lalu berimbas kuat pada setiap langkah yang kau jejak hingga menyudutkanmu dalam pretensi. Kau, tidak bisa—ah bukan, kau bahkan tidak mau membuka hatimu untuk orang lain—termasuk Lisa—yang selama ini setia disampingmu.”

Jessy kembali menghela nafas saat maniknya menangkap raut tegang Kyuhyun. Ada geli juga sedih yang bersamaan menjalar dadanya tatkala sadar bahwa pria dominan seperti Kyuhyun terlihat lemah hanya karena cintanya.

“Jika kau tidak ingin membuatnya terluka lagi, maka maafkan lah kesalahannya yang dulu. Pandang dia seperti kau memandangnya pertama kali. Ingatkan hatimu bahwa dia adalah perempuan yang kau cintai, dulu maupun sekarang. Tapi kalau kau tidak sanggup, maka lepaskan semua itu, Kyuhyun. Jangan menyiksa dirimu lebih lama lagi. Dan belajarlah untuk mencintai Lisa seperti dia mencintaimu. Buka hatimu untuknya.”

Kyuhyun kembali menggeser kepalanya untuk menatap manik Jessy. Dia mendesah, sebelum berujar, “Aku membutuhkan Lisa. Aku menginginkannya. Lalu dengan fakta itu, mana mungkin aku tidak membuka hatiku untuknya?”

Jessy membenarkan letak selimut di tubuhnya. Memandang Cho Kyuhyun dengan raut jengah, lantas ikut mendesah. “Kau hanya membutuhkannya, Kyuhyun. Sama seperti saat kau membutuhkanku untuk menyalurkan nafsu liarmu. Kau tidak mencintainya. Belum. Bedakan itu!” ujarnya setengah geram.

Jeda sejenak perempuan itu ciptakan. Sebelum kembali melanjutkan, “Begini, kau memang membiarkannya mengetuk hatimu. Mengintip sedikit kisahmu dimasa lalu. Tapi kau tidak pernah benar-benar membukakan pintu hatimu untuknya.” Lalu, dengan satu telunjuknya, Jessy menyentuh dada telanjang Kyuhyun. “Disini, memang ada Lisa. Tanpa kau bilang pun aku sudah mengerti. Hanya saja, eksistensinya tidak sedalam yang dimiliki oleh gadis masa lalumu. Itulah masalahnya!”

Kyuhyun merasa tertampar oleh komposisi kalimat Jessy. Ada hentakan pedih dalam dadanya. Ingin dia mengatakan bahwa semua itu tidak benar, namun kenyataan justru berbanding terbalik. Membuatnya dihinakan oleh ego.

Semua yang dikatakan Jessy adalah benar. Sena masih menjadi yang dominan dalam hatinya. Bahkan Kyuhyun masih bisa merasakan dahsyatnya cinta yang dia berikan untuk perempuan itu dulu. Itulah alasan mengapa dia sulit membiarkan Lisa memasuki hatinya lebih dalam. Kyuhyun takut wanita itu akan terluka lalu berbalik pergi seperti dia meninggalkan cintanya di masa silam. Lantas, membuatnya porak-poranda; menjerit pilu sekali lagi.

Dan sekarang, sejak Sena kembali lagi dan meninggalkannya pagi itu, sejak perempuan itu menangis didalam dekapan Donghae, Kyuhyun mengalami kesulitan yang teramat sangat. Ada dilemma besar yang menimpa dirinya. Mempakemkan kerja pretensinya selama ini. Dia bagaikan idiot yang tidak tahu harus bagaimana setelah ini.

Pria itu menundukkan kepalanya dalam, lantas berujar, “Aku harus bagaimana, Jes? Aku—memang masih mencintainya, sangat, tapi aku sulit untuk memaafkannya. Aku tidak mau Lisa terluka karena perasaanku ini.”

“Kau ingin pendapatku lagi?” Jessy meraih pundak Kyuhyun, menghadapkan pria itu padanya. Satu senyum dia berikan untuk menenangkan kegundahan lawan bicaranya. “Kalau menurutku; kau harus tetap bersama Lisa.”

Kyuhyun mengerutkan alis, dibalas oleh anggukan ringan dari Jessy.

“Tidak, itu bukan karena aku benci dengan gadis masa lalumu. Well, untuk apa aku membenci seseorang yang tidak pernah ada sangkut-pautnya denganku, iya ‘kan? Terlebih aku memang tidak mengenalnya.”

Jessy terkekeh sebentar, untuk kemudian menghela nafas lagi. Memantapkan kalimat yang akan dia utarakan selanjutnya.

“Tidak ada perempuan yang bisa mencintaimu sebaik yang dilakukan oleh Alisa Park, kau tahu? Perempuan lain, mungkin akan lebih memilih pergi darimu setiap kali melihat kau bercumbu dengan para jalang. Atau menuntut hak atas hubungan tanpa status yang kalian jalankan. Tapi Alisa, dia tidak seperti itu ‘kan? Dia tetap bertahan denganmu meski tahu kau sudah melukai perasaannya cukup banyak. Dia masih bisa berdiri dengan bibir tersenyum meski hatinya menjerit kesakitan. Dan dia sangat, sangat, sangat mencintaimu. Bukankah seharusnya dia mendapatkan balasan yang setimpal?

“Lupakan masa lalumu, Kyuhyun. Karena seperti yang kukatakan tadi, kalian sudah memiliki kehidupan lain. Apa yang terjadi sekarang, jangan kau coba sangkut-pautkan dengan keadaan kalian dimasa lalu. Dia sudah berdiri dengan pilihannya. Kau pun dengan jalanmu. Maka, mulai sekarang, coba pahamilah lebih dalam perasaan Lisa. Aku yakin, lambat laun, kau tidak akan seperti ini lagi.”

Kyuhyun tertegun. Ada nyeri yang menyerang tenggorokannya. Membuatnya tercekat. Sejauh itukah jaraknya dengan Sena? Dan… sebaik itukah Alisa mecintainya? Dia memang sadar kesalahannya pada Lisa begitu besar. Dia menahan wanita itu untuk tetap berada disisinya sementara dia sendiri sibuk mencari pemuas nafsu liarnya layaknya binatang yang suka bergonta-ganti pasangan. Kyuhyun hanya tidak pernah menduga bahwa Lisa mengijinkannya bermain didalam hatinya hingga sedalam itu.

“Satu hal lagi.” Jessy menepuk pundak Kyuhyun. “Berhentilah bermain-main dengan para wanita pekerja seks sepertiku.” Ada senyum patah terukir di wajah manisnya, Kyuhyun bisa melihat itu. “Well, aku tahu ini konyol, karena aku seperti merendahkan harga diriku sendiri didepan pelangganku, tapi yah, aku tidak peduli. Sebagai teman, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Entah nanti kau akan berakhir dengan siapa, aku hanya bisa mendukung. Setidaknya, untuk saat ini, cobalah memulai dengan menahan gairahmu. Karena aku tahu kau pria baik-baik, Kyuhyun. Karena aku tahu, baik Lisa ataupun gadis masa lalumu, mereka pasti tidak akan senang mendapatimu yang gila seks seperti ini.”

Pria itu tertunduk dalam. Jessy memberikan padanan kata yang cukup membuatnya ngilu. Lalu, diam-diam meretih seorang diri.

Bisakah dia? Berhenti mengingat masa lalu ketika perasaannya justru masih tertambat dimasa itu? Kyuhyun menginginkannya, hanya saja dia takut keliru. Karena hati, terkadang abu-abu.

Jadi katakan pada Kyuhyun, apa yang harus dia lakukan saat dirinya takut untuk jatuh yang kesekian kalinya?

.

—tbc


Anyway, saya nulis ini sembari dengerin lagu Soyou ft Baekhyun – Rain. Lagunya baperrrrr bikin ‘mendung’ XD makasih ya yang udah mau baca part ini ^^ Saya kangen kaliaaaaann…

Advertisements

77 thoughts on “Intemporel – 5

  1. Hwaaaaa yg ditunggu muncul 😆😆
    Rumit bingung aaaah seru, jadi sarang anaknya siapa? Masa lalu mereka apa sampe sesakit itu? Dan kenapa sena nikah sama orang lain-.- ?
    Komentar malah penuh pertanyaan😂😅

    Like

  2. Yasss… akhirnya update💕

    masalah yg buat mereka tersiksa seperti itu belum kelihatan ternyata… jasmine & sarang ga kelihatan disini author-nim, kangen syekalee dgn mereka wkwks
    and please buatlah sena bahagia nantinya yaaa kak, semangat selalu nulisnya💕

    Liked by 1 person

  3. Semakin rumit, ikut dilema juga kyk kyuhyun.masih pengen tahu bner kesalahan sena di masa lalu, sehingga kyuhyun bsa sgat membencinya. Makin yakin klo sarang itu pasti anak kyuhyun, semoga.

    Like

  4. jess bilang kaya gitu karna belum kenal sena + cuma tau cerita dari 1 sudut pandang kalo sena ga sama kyuhyun, jadi sama donghae juga gapapalah yang penting bahagia😁

    Like

  5. please kyu sadar dong sadar .perkataan.mu udah nyakitin bnget .
    Ga bisa berkata2 ff ini diluar ekspetasi aku .suer keren bnget ,bikin berurai air mata ,kata2 dan kalimat yang bikin baper dan keren ,fellnya dapet bnget .suka pokoknya
    ditnggu kelanjtan crtanya kak .

    Like

  6. Pingback: Intemporel – 6 (A) | DREAM & ENDLESS

  7. omongan jessy ada benarnya..dia tak ingin kyuhyun hidup terjebak dalam masa lalu mendendam pada wanita masa lalunya , sena sedangkan saat ini dan kedepan ada lisa yang selalus setia dan menanti. tapi jessy dan kita yang baca juga belum tau cerita sebenarnya tentang masalalu kyuhyun seperti apa. Sena begitu menderita dan aku yakin dia juga gadis baik yang tidak boleh begitu saja di lupakan. sedangkan lisa juga gadis baik , jika kyuhyun bersamanya juga pasti dia akan bahagia…aiih dilema, kesini kasian kesitu kasian.

    Liked by 1 person

  8. Nooo nooooo kyuhyun harus sama senaaa ga rela kalau jadi sama lisa. Yang ada lisa juga pasti sakit karna kyuhyun yg belum bisa lepas dr sena. udah ih sena ama kyuhyun aja gatega gue liat mereka saling benci gini. Apalagi sena punya 1 alesan kuat buat balik sm kyu tp si kyunya sih aaakhhh tau aaah pusing 😂😂😂😂 maunya sena sama kyuhyuuuunnnn jebaaallll 🙏🙏🙏🙏

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s