Fragile Heart – 3

picsart_06-21-09-07-20Cr. ByunHyunji @PosterChannel

If we could try to end these wars,
I know that we can make it right.
Cause Baby, I don’t wanna fight. No more.

Cho Kyuhyun ¶ Lee Sena

AU | Multi-Chaptered

Drama | Family

-Previous-

[2]


This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!


Ada yang mengusik pikirannya. Menyelinap masuk diam-diam hingga berujung pada sebuah penyesalan.

Sajak yang terlantun indah dari bibir sang suami, mengundang hari-harinya untuk dipenuhi dengan pikiran berkecamuk. Bukan permasalahan awal yang datang mengganggu ke dalam lelapnya ketika malam datang, melainkan hal yang sudah tidak asing berada diantara mereka. Yang tidak pernah dia duga menjadi pemicu kondisi buruknya saat ini.

Rasa sesal yang menyeruak pun tak tinggal diam untuk ikut terlibat, memperparah situasi yang membawanya pada satu amarah terpendam. Merendahkan ego. Mematikan harapan demi harapan. Serta menghinakan nikmat yang dirasa selama ini.

Sekuat tenaga dia membunuh amarah itu, semakin jauh pula jarak tercipta. Kobarnya masih sulit untuk dipadamkan. Ada sesuatu yang mengganjal didalam hati dan butuh untuk dilepaskan, namun rumit untuk dipecahkan. Dia tidak tahu bagaimana caranya agar tidak saling menyakiti lagi. Karena Kyuhyun, sudah memendam perasaan itu sejak lama. Dan fakta bahwa dia telah dibohongi selama ini membuatnya kacau.

Sangat kacau.

Lalu kini, disini, sebagai imbas dari semua malam-malam pilu yang datang menyapanya, jemari indah itu menari cepat diatas tuts-tuts hitam-putih. Mencoba mencari sepenggal rasa lega untuk sekadar mengangkat bebannya—walau percuma. Berulang kali simfony favoritnya terlantun, berulang kali juga dia mengakhirinya dengan satu hentakan keras. Bukti bahwa sesal itu masih tinggal dan tidak mau pergi.

Hingga pada percobaan kelimanya, sebuah deringan menginterupsi. Menyadarkannya kembali pada dunia nyata.

Sena menghela nafas, meredam sekali lagi pilunya agar tak tumpah. Ini memang persoalan sederhana yang bisa diselesaikan dengan kepala dingin, namun, nyatanya tetap saja menyakitkan. Karena dalam penyelesaian masalah, pasti akan ada pihak yang terluka.

Tatapannya kemudian beralih pada ponsel bergetar yang berada di atas grand-pianonya. Lama dia diam tak menghiraukan, bertanya-tanya apakah harus mengangkatnya atau tidak, hingga pada deringan keempat barulah dia mengambil sebuah keputusan.

“Malam, Pap.” Sapanya begitu melihat ID si penelepon.

“Malam, Sayang.”

Segaris senyum terbentuk di wajah rupawannya. Sejenak mendinginkan amarah. Rindu akan suara rendah milik pria yang sedang berbicara dengannya kini, dia pun beralih memunggungi grand-piano. “Tumben sekali menghubungiku malam-malam begini. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Memangnya menyapa anak sendiri itu tidak boleh?”

Tawa kecil dia lantunkan sebagai bentuk rasa hormat, disambut sebuah kekehan pula dari seberang sana.

“Papa hanya—em… apa ya? Ah… tiba-tiba merindukanmu saja makanya Papa menelepon. Apakah disana sudah malam?”

“Ya. Sudah pukul sembilan. Jangan bilang di Zurich masih ada matahari,” cibirnya. Kini dia menuntun tubuhnya untuk beranjak darisana dan berjalan ke arah kolam renang. Menikmati udara malam yang basah, pikir Sena bisa lebih meringankan bebannya yang belum terangkat.

“Kau bisa saja. Omong-omong, kenapa belum tidur? Tidak baik perempuan hamil tidur malam-malam, Sena.”

Sena tersenyum menangkap nada peringatan dari ayahnya.

Akhir-akhir ini aku sulit tidur, Pap. Batinnya kemudian.

Namun alih-alih mengatakan kalimat itu, Sena berkilah, “Aku baru bangun tidur.”

Lee Jungjae mendengus keras, tak percaya. Dan itu mengundang dirinya untuk semakin melebarkan senyumnya.

“Jadi, siapa yang menemani Joon saat kau tidur?”

“Nanny … nya?”

“Ya ampun, mudah sekali kau bicara. Jangan sembarang menitipkan anak, kau tahu?”

Sena merapatkan jaket yang dikenakannya saat udara yang berhembus semakin dingin. Bibirnya mendesis kedinginan sebelum kemudian berkata, “Yumi adalah orang kepercayaanku dan Kyuhyun selain Bibi Nam. Jadi tidak perlu khawatir, Pap.”

“Ah, omong-omong soal Kyuhyun, dimana dia? Biasanya saat kita berbicara seperti ini dia selalu mengganggu.”

Mendengar pernyataan ayahnya, senyum Sena menyurut. Ada ketegangan yang melilit tubuhnya kini. Kedua lelaki berbeda generasi itu memang dikenal sangat dekat walau jarang bertemu, jadi bukan hal yang tak biasa jika ayahnya berkata seperti itu. Hanya saja, kondisi hubungannya dengan Kyuhyun lah yang membuatnya menegang.

Lama diam tak menanggapi, diiringi dehaman kecil, Sena pun menjawab, “Kyuhyun masih di kantor. Belum pulang.”

“Bukankah katamu di Korea sudah pukul sembilan malam? Kenapa dia belum pulang?”

“Silk Air sedang ada masalah dan … yah, begitulah. Kyuhyun harus sibuk mengurusi ini dan itu, tetek-bengek yang perusahaan butuhkan.”

“Sena, kau sedang hamil—enam? Atau tujuh bulan? Dan… suamimu itu kini lebih memilih mengurusi perusahaannya dibandingkan mengurusimu dan jabang bayi kalian?”

Mendengar nada tidak suka dari ayahnya, Sena meringis. Terkadang, untuk soal sederhana seperti ini, kedua manusia itu akan selalu berlaku sama. Mengkhawatirkan dirinya yang pada dasarnya baik-baik saja.

“Tujuh, Pap. Dan Kyuhyun tidak bermaksud seperti itu. Percayalah.”

“Tujuh bulan, itu artinya kandunganmu semakin tua. Seharusnya Kyuhyun lebih sering memperhatikanmu.”

“Silk Air lebih membutuhkan peran Kyuhyun sekarang. Lagipula aku dan kandunganku baik-baik saja. Joon pun begitu. Kami baik-baik saja, Pap. Jangan berlebihan.”

Karena seberat apapun hubungannya dengan Kyuhyun kini, tetap saja menjaga kehormatan Kyuhyun adalah yang utama baginya. Sebagaimana seorang istri mengambil sikap, memang harus begitu bukan? Lagipula Sena yakin, Kyuhyun tidak bermaksud memprioritaskan pekerjaannya. Renggangnya jarak diantara mereka lah yang patutnya disalahkan, karena telah memicu keadaan menjadi seperti ini adanya.

Lee Jungjae menghela nafas, menekan rasa khawatirnya. “Lain kali, beritahu Kyuhyun untuk jangan terlalu sibuk.” Ujarnya kemudian. “Pap berani bertaruh, waktu tidurnya pun pasti berkurang, iya ‘kan? Bagaimanapun, dia butuh beristirahat, Sena. Ingatkan dia sekali-kali.”

Hening kembali menyapa. Pada kalimat Jungjae barusan, Sena dibuat termenung.

Waktu tidur Kyuhyun berkurang.

Tiba-tiba saja ada rasa malu yang menampar wajahnya. Inilah bagian terburuk dari dirinya yang notabene menjadi seorang istri dari pria pekerja keras seperti Kyuhyun. Demi egonya, dia bahkan tak pernah memikirkan bagaimana malam-malam Kyuhyun selama mereka tidak berada di dalam kamar yang sama. Sudah dua malam ini Sena memutuskan untuk tidak berada sekamar dengan pria itu. Lepas dari ucapan Kyuhyun yang melukai harga dirinya tempo hari, Sena lebih memilih untuk menjemput malam bersama buah hatinya. Tak peduli walaupun tempat tidur anaknya itu terlalu sempit untuk dihuni oleh dua orang, terlebih dengan keadaan dirinya yang memang sedang hamil besar.

Pagi hari pun begitu, kini semua keperluan Kyuhyun saat akan berangkat bekerja, diurus oleh Bibi Nam. Jika kemarin-kemarin Sena masih mau melakoni tugasnya, kini dia lebih memilih untuk lepas tangan. Amarahnya terlalu besar untuk dipadamkan dan rasa kecewanya tidak semudah itu untuk terobati, walau dia sendiri pun memilih untuk tidak pernah beranjak dari istana mereka.

Apa tidur Kyuhyun baik-baik saja? Apa semuanya berjalan lancar?

Dia tidak tahu. Tapi dia sangat berharap bahwa Kyuhyun baik-baik saja dan tidak pernah mengalami kesulitan seperti dirinya.

Sena kembali dibuat terkesiap begitu mendengar tawa ayahnya. Pria berusia 50 tahun itu mengatakan mereka tidak akan serta merta jatuh miskin meskipun Silk Air harus gulung tikar. Yang, sialnya memang pantas untuk Sena akui walau terkesan sombong.

“Pap seperti tidak tahu saja, Kyuhyun itu punya harga diri yang tinggi. Dia mana mau menyerah jika sudah berhadapan dengan persoalan seperti ini,” balasnya yang ditimpali kekehan palsu.

“Ah… benar juga. Oh! Papa hampir saja lupa.”

“Tentang?”

“Adikmu. Dia bilang katanya akan menghabiskan waktu liburannya di Korea.”

“Nara?” alis Sena mengernyit.

“Kau pikir siapa lagi? Lee Hyukjae? Pria itu jelas-jelas kakakmu, Sena.”

Perempuan itu terkekeh, kali ini benar-benar. Tidak ada kepalsuan. “Chanyeol. Bukankah dia juga adikku? Adik ipar maksudku.” Sena mendudukan diri di atas kursi santai yang berada di samping kolam renang. Berdiri lama-lama membuatnya pegal, walau itu hanya sepuluh menit berlangsung. “Jadi Nara akan ke Seoul? Kapan?”

“Dia bilang pada Pap rahasia. Ahh… anak itu kenapa suka sekali dengan kejutan. Apa semua dokter seperti itu?”

Emm… Seingatku seorang dokter hanya harus menjaga identitas pasiennya, tapi … ini apa hubungannya dengan menjadi seorang dokter, Pap?”

“Pap pikir kelakuan adikmu yang suka bermain rahasia dan studinya untuk menjadi seorang dentist berkaitan.”

Kali ini Sena benar-benar dibuat terbahak. Terhibur pada pola pikir ayahnya yang sangat tidak logis. Namun, belum rampung menyampaikan rasa terhibur itu, satu kibasan memori menampar wajahnya tiba-tiba. Menggilas habis tawanya perlahan demi perlahan. Berujung kembali pada amarahnya yang sempat mereda beberapa menit lalu, untuk muncul ke permukaan.

“Boleh Sena bertanya, Pap?” katanya kemudian.

Anything… Sweetheart.”

Jeda tercipta kemudian. Memberi kesempatan pada detik untuk bersuara.

Sena menelan ludah pahit. Merasakan gemuruh yang menghantam dadanya. Lama berusaha meyakinkan diri, dia berharap jawaban yang akan diberikan oleh ayahnya nanti tidak semakin melukai perasaannya.

“Sena—”

“Apa … Pap merasa bangga padaku?”

Menyadari ada yang berbeda dari nada bicara putrinya, Lee Jungjae tersenyum tipis. Sekali lagi memberi jeda sejenak.

“Kenapa bertanya seperti itu?” ujarnya kemudian.

“Aku … ng— hanya ingin tahu.”

“Benarkah?”

Sena menggigit bibirnya gelisah. Tiba-tiba saja rasa pesimis datang. Mengutuk dirinya sendiri lantaran telah berani-beraninya mengajukan pertanyaan seperti itu. Memang apa yang membanggakan dari dirinya? Dibanding dengan Lee Hyukjae dan Lee Nara, Lee Sena lah yang paling gagal.

Lalu seperti tak mengenal ampun, kalimat-kalimat Kyuhyun kembali terlantun, bagaikan lagu pengantar tidur. Hanya saja bukan datang untuk membuatnya tenang, lantunan itu semakin membuatnya kecil dan gelisah.

Kembali memporak-porandakan perasaannya.

“Kau masih disana ‘kan, Sena?”

“Jawab saja pertanyaanku, bisakah?”

“Pap akan menjawab.” Balas Jungjae meyakinkan, walau dengan nada rendah. “Tapi beritahu padaku, apa terjadi sesuatu?”

Sebagai balasan, Sena menipiskan bibirnya. Dilanjut dengan kepalanya yang menggelang perlahan. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya … aku penasaran … dengan tanggapan Pap mengenai apa yang sudah aku raih selama ini.”

Diseberang sana Jungjae mengangguk takzim. “Lalu?”

Sena menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan diri sebelum berujar, “Lalu … Pap tahu bagaimana perjalanan karirku bukan?”

“Ya, tentu saja.”

“Dulu— dulu sekali aku ingin menjadi seorang pianis. Agar bisa mendampingi Mam beraksi di atas panggung. Mengiringi tarian kontemporernya dengan musik yang kubuat sendiri. Bahkan Halmeoni pun rela mendaftarkanku masuk ke sekolah musik, walau dia tidak suka. Tapi demi mewujudkan keinginanku, dia menyanggupinya. Lalu, bertahun-tahun aku belajar disana, bertemu dengan Chanyeol, dan bersahabat dengannya. Tapi, dimulai saat akan mengakhiri masa-masa sekolahku untuk berlanjut ke perguruan tinggi, disitu pula tiba-tiba saja aku membelokkan keinginanku. Aku ingin lebih dari sekadar seorang pianis. Aku ingin memiliki keahlian lain. Lalu … aku memilih dalam konsetrasi mendesain bangunan. Aku menjadi seorang desainer interior. Aku memiliki titel tersebut.”

Sena mengusap perut buncitnya perlahan, mencari bentuk perhatian lain, saat dinginnya malam menusuk tulang.

“Tapi … Pap juga tahu, bahwa sejak masih berada di sekolah menengah atas, aku sudah menghasilkan uang sendiri. Benar bukan? Disela-sela kegiatan belajarku, entah itu pendidikan formal maupun informal, aku menyempatkan diri untuk menerima tawaran-tawaran yang datang untuk menjadi seorang model.” Sena tertawa, namun Jungjae bisa menangkap kepedihan tersirat dari tawa sumbang tersebut. “Itu semua karena Halmeoni. Karena Halmeoni mengenalkanku pada media bahwa aku adalah cucunya. Lalu, begitu media mengenalku, perlahan demi perlahan, banyak majalah atau brand pakaian remaja menjadikanku sebagai role-modelnya. Dan … layaknya sebuah kebiasaan, aku mulai nyaman dan mencintai pekerjaan sampinganku itu. Aku mulai melupakan mimpiku menjadi seorang pianis. Berlanjut pada aku yang tidak menggunakan titel-ku sebagai seorang desainer interior dengan baik. Aku mengenyampingkan keduanya lantaran terbuai dengan pekerjaan yang … yang sampai saat ini masih ku jalani.”

Pekerjaan yang bahkan suamiku sendiri pun ternyata tidak menyukainya.

Setetes air jatuh di pipi kiri. Nyatanya dia memang tidak sekuat itu memendamnya seorang diri.

“J-jadi, apakah dengan adanya fakta itu Pap masih bisa bangga padaku? Oppa berhasil menjadi seorang pengusaha hebat, dia memiliki banyak perkebunan teh, kopi dan kelapa sawit. Nara sebentar lagi akan menjadi seorang dokter. Sementara aku … katakan padaku, apakah menjadi seorang model adalah keputusan yang buruk?”

Jungjae tertawa. Renyah sekali. Mengundang alis Sena untuk berkerut tak mengerti. Dia sedang tidak bercanda saat ini.

“Setiap anak memiliki tempat yang sama di hati orang tuanya. Perbedaan yang kau miliki dengan kedua saudaramu, bukan berarti membuat Pap tidak bisa membanggakanmu. Atau Mam yang kini sudah berada di surga, kecewa terhadap keputusanmu. Tidak seperti itu, Sena. Jika Hyukjae dan Nara memiliki porsinya masing-masing maka kau pun begitu. Tidak ada yang lebih ataupun kurang diantara kalian.

Dan mengenai perkataanmu barusan, jika kau lebih menilik lagi ke dalam maka kau akan tahu seberapa membanggakannya dirimu, Nak. Kau memang tidak pernah menjadi seorang pianis besar dan tidak memiliki kesempatan mendampingi ibumu menari di atas panggung, tapi kau masih lihai memainkan alat musik itu dan mengajarkannya pada putramu. Kau tahu, menjadi guru—terlebih pada anak sendiri—adalah hal yang paling mulia. Kau tidak bekerja selayaknya para lulusan desainer lainnya memanfaatkan ilmu itu untuk mencari uang, tapi kau menggunakan ilmu itu untuk mendesain rumah yang saat ini bahkan kau tempati bersama keluarga kecilmu. Rumah masa depanmu dan Kyuhyun.

Jadi, jangan pernah menganggap bahwa kau mengenyampingkan dua keahlianmu itu untuk karirmu saat ini. Karena itu tidak pernah benar.

Lalu yang terakhir, yang membuatku selalu bisa berbangga hati ke padamu adalah kau yang mandiri. Bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah. Kau tahu, Sena-ku tidak pernah meminta barang-barang dengan merek mahal pada ayah atau neneknya. Dia tidak pernah meminta uang tambahan pada kami untuk pergi berlibur bersama teman-temannya. Karena dia adalah anak yang mau bekerja keras sendiri untuk memenuhi kepuasan batinnya. Dia sudah merasakan bagaimana lelahnya bekerja saat masih remaja, bukankah itu hebat? Walau dikenal dengan sifatnya yang sangat, sangat, sangat manja, keras kepala dan cengeng tapi untuk beberapa hal dia adalah anak yang mandiri.

So, dari semua yang kau alami dan dapati, apanya yang tidak membanggakan hm?”

Sena terdiam. Sedikit banyak kalimat yang tersusun dari bibir ayahnya itu memang menghibur. Tetapi belum cukup mampu untuk meredakan rasa rendah dirinya. Terlebih mengobati lukanya atas kalimat Kyuhyun tempo hari.

“Tetap saja. Aku tidak semembanggakan mereka. Iya ‘kan?”

Lee Jungjae menarik nafas. Lalu menghembuskannya perlahan. Sudah bisa dipastikann ada hal tidak beres yang mengganggu Sena. Karena setahunya, Sena itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Lalu jika seperti ini…

“Tidak biasanya kau seperti ini. Ada apa, Sena? Kau bisa bercerita pada Pap.”

Perempuan itu kembali menggeleng, senyumnya patah. “Sesuatu menggangguku. Tapi itu bukan masalah besar. Pap tenang saja,” kelaknya yang disusul kekehan palsu.

“Oh ya? Kenapa intuisiku berkata sebaliknya?”

“Sungguh, Pap.”

“Baiklah.” desahnya. “Kalau begitu, lekas pergi tidur. Ini sudah cukup malam.”

Sena mengamini kalimat ayahnya. Namun baru saja dia hendak menutup panggilan tersebut, suara ayahnya kembali terdengar. Mengalun dan mengingatkannya pada satu hal.

“Apapun yang terjadi saat ini, kau harus tetap berpegang teguh pada pesan-pesan yang pernah Papa berikan padamu, Sena. Kau… masih ingat apa saja isi pesan tersebut ‘kan?”

.

.

Hanya memandang kosong ke depan, saat dinginnya malam memaksa untuk pergi. Tubuhnya yang terbungkus kemeja lusuh kini terduduk kaku tanpa sekalipun berniat untuk beranjak masuk ke dalam, lantas menarik selimut demi menjemput bunga tidur yang tengah menanti. Karena baginya, untuk saat ini, dinginnya malam masih belum seberapa jika dibandingkan dengan dingin yang memeluk rumah tangganya.

Sejak kejadian pagi itu, perang dingin semakin digencarkan oleh Sena. Tidak ada percakapan diantara keduanya meskipun hari sudah berganti menjadi minggu. Dan Kyuhyun sadar, dimana letak kesalahannya.

Seandainya saat itu dia bisa mengontrol emosi, mungkin semua tidak akan menjadi begini. Seandainya saat itu dia memaklumi keputusan istrinya, mungkin bukan dingin memilukan yang dia rasakan.

Dua hari setelah wajah Joon terpampang di televisi, dia tahu bahwa Sena telah menarik penyiarannya—yang bisa Kyuhyun duga bahwa hal itu pasti membutuhkan banyak biaya untuk mengganti biaya kompensasi. Sesuatu yang membuatnya merasa sangat bersalah, karena bagaimanapun, Sena melakukan itu semua untuk dirinya.

Kyuhyun tersenyum patah. Mengutuk dirinya sendiri dalam hening. Ketika kata seandainya sudah terlantun, maka penyesalan dan rasa bersalah lah yang menguasainya. Tetapi, perkara mematikan amarah Sena pun bukanlah hal yang mudah untuk cepat terlaksana. Kyuhyun tahu benar bagaimana karakter perempuan itu. Dan dia … tidak hanya telah menciptakan amarah untuk menjadi liang pembatas diantara mereka tapi juga telah melukainya sebagaimana seorang suami memandang istrinya selama ini.

Memaksa kakinya untuk melangkah, bahu Kyuhyun terlihat meluruh. Bukan hanya persoalan rumah tangga yang membebaninya saat ini, namun Silk Air yang belum pulih benar juga menyita kualitas waktunya, berujung pada kesempatan untuk berbicara dengan perempuan itu yang hampir punah. Lantas memperparah hubungan mereka yang seharusnya baik-baik saja.

Ini adalah malam keempat dimana dia harus mendapati kamar mereka kosong dan dingin. Tidak ada jejak tubuh perempuan itu di dalam selimut mereka. Karena Sena, memang benar-benar berniat memutus komunikasi walau tak sampai hati meninggalkannya sendiri.

Perempuan itu tidak pergi, namun juga tidak disini.

Sejujurnya, Kyuhyun tidak suka menjadi asing di rumah besar mereka. Atau merasa canggung ketika memasuki kamarnya lantaran terasa berbeda. Tetapi mau diapakan lagi, saat dia memang harus menerima semua konsekuensi ini akibat dari kerja mulutnya yang tak bisa menyaring kalimat?

Langkah kakinya tersaruk, bukti bahwa lelah dan beratnya pikiran masih betah merajai tubuhnya. Kyuhyun baru saja hendak membelokkan kakinya untuk mencapai tangga, saat kedua matanya menangkap pemilik punggung yang sangat dirindukannya itu.

Sena ada disana. Berdiri dengan hanya berjarak delapan meter darinya dengan tubuh yang sedikit terhalangi oleh sekat kaca.

Sesuatu kemudian membuncah dalam dada Kyuhyun. Mengundang sebuah senyum simpul untuk hadir di wajah lelahnya. Rindu. Itu adalah nama yang tepat untuk menggambarkan buncahan sakit dan bahagianya dia saat ini. Ya, bagaimana tidak, sudah berhari-hari dia sulit untuk bertemu Sena dan kini … di malam yang beranjak larut ini, Tuhan memberinya kesempatan. Siapa yang tidak bahagia?

“Kau belum tidur?” suaranya mengalun rendah. Membelah udara malam yang tengah dinikmati sang lawan bicara.

Sena terkesiap. Begitu menoleh, senyum retaklah yang dia dapati dari wajah Kyuhyun. Pria itu terlihat kuyu tak bergairah. Sena sudah sering mendapati wajah lelah Kyuhyun saat pulang bekerja, bagaimana lesunya pria itu. Namun kali ini adalah yang terparah.

Apa Kyuhyun mengalami kesulitan seperti dirinya?

Tiba-tiba saja rasa nyeri bersarang. Namun belum rampung dia menikmati nyeri itu, iblisnya datang; mencegahnya untuk memiliki rasa simpati, yang kemudian diamini olehnya. Sekeras mungkin Sena berusaha untuk tidak menunjukkan rasa pedulinya. Peduli apa dia. Toh, dia seperti ini saja bukan berarti Kyuhyun akan berbalik peduli.

“Kenapa belum tidur?” Kyuhyun ikut menempatkan diri disamping istrinya. “Ini sudah pukul sebelas malam. Dan, kau tahu berdiri di luar pada jam-jam segini tidak baik bukan?” Matanya kemudian bergulir perlahan untuk menatap wajah idamannya.

“Aku baik-baik saja.”

Mendengar jawaban ketus tersebut, senyum retaknya bertransformasi menjadi pilu. Setidaknya dia tidak diabaikan. Setidaknya, Sena masih mau menjawab pertanyaannya.

Kyuhyun mengangguk. “Mungkin kau baik-baik saja. Tapi bayi kita … bisa jadi tidak, Sena.”

Kita.

Tiba-tiba saja ada yang menyerang kedua mata Sena. Menggodanya untuk menangis dan kembali meratapi nasib hubungan mereka yang meretak.

Masih adakah ‘kita’ diantara dirinya dan Kyuhyun? Setelah semua masalah yang datang dan menimpa rumah tangga mereka akhir-akhir ini, rasanya sulit sekali mengakui keberadaan ‘kita’. Layaknya dia tengah berusaha keras memeluk sebuah gunung.

“Apa kau juga memiliki kesulitan yang sama denganku?”

Sena memberanikan diri menatap wajah Kyuhyun. Dan rasa sakitnya kembali menjadi tatkala ingatan bagaimana mudahnya Kyuhyun merendahkan dirinya, kembali hadir.

“Akhir-akhir ini aku juga sulit tidur. Kamar kita rasanya asing sekali tanpa kau disana. Aku seperti dikucilkan dikediamanku sendiri, Sena. Kau tahu, rasanya sangat tidak enak.” Kyuhyun menunjukkan raut wajahnya seperti dia baru saja menelan bubur—sajian yang paling tidak dia suka.

Tetapi, itu semua tidak berarti apa-apa saat wajah Sena masih saja kencang. Tidak terhibur sama sekali. Bahkan perempuan itu lebih memilih melengoskan wajahnya.

Kyuhyun kembali menarik nafas. Pedih memang, tapi sikap Sena padanya kali ini adalah sebuah bentuk dari kewajaran. Dia yang menyulut api, maka harus dia pulalah yang memadamkannya. Sesabar mungkin. Karena jika menunggu Sena yang mematikan amarahnya sendiri, itu sama saja dia membiarkan ‘air’ dari luar masuk ke dalam wilayah kuasanya.

Dan Kyuhyun, tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.

“Aku tahu kau marah dan mungkin sangat kecewa padaku. Aku bersalah, dan aku mengerti. Seharusnya aku tidak mengucapkannya seperti itu. Seharusnya tidak membuatmu… begini. Sena, aku minta maaf. Bukan maksudku untuk—”

Sena berbalik. Memutus susunan kalimat Kyuhyun yang belum rampung. Tak kuasa menahan kesal, dia lebih memilih untuk beranjak pergi dari sisinya.

Tahu bahwa respon seperti yang akan didapatkannya, sejenak Kyuhyun coba meredam rasanya diabaikan. Setelah berhasil, barulah kakinya ikut melangkah lebar demi menyusul langkah Sena. Lantas, dengan cekatan, dia meraih pergelangan istrinya itu  sebelum berujar, “Sena kumohon … jangan seperti ini. Kita harus bicarakan baik-baik. Jangan menga—”

“Apanya yang perlu dibicarakan baik-baik? Kau yang membodohiku selama ini atau aku yang tidak peka  terhadap rasa keberatanmu lantaran memiliki istri dengan karir yang bahkan kau sendi—”

“Tidak.” Tangan Kyuhyun beralih menggenggam kedua pundak Sena. “Bukan seperti itu. Kau salah.”

“Lalu bagian mana yang menurutmu benar?!” kekesalan Sena tumpah. Tangannya menepis kedua tangan Kyuhyun. Dan matanya menyampaikan sebuah kefrustasian yang nyata. “Kau keberatan Kyuhyun! Kau tidak menyukai karirku! Dan kau menyembunyikan itu semua dariku selama ini!”

Kyuhyun tertegun. Rasa bersalah kembali menyapa sudut hatinya. Bentuk dari emosi Sena kali ini benar-benar mencubit egonya. Separah inikah dampak dari ucapannya tempo lalu?

“Kumohon, tenangkan dirimu dulu. Aku akan menjelaskannya padamu baik-baik, hm?”

“Tidak perlu.” Tepis Sena sekali lagi saat Kyuhyun mencoba meraihnya kembali. “Aku saja yang bodoh karena tidak peka.”

“Tidak, Sena. Bukan seperti itu.”

“Tujuh tahun kita bersama, kenapa aku bisa tidak tahu apa yang menjadi bebanmu?” gumamnya sendiri. Sena tertawa getir. Air matanya jatuh seiring dengan ritme hentakkan dadanya yang menguat. “Kupikir, aku sudah begitu baik mengenalmu. Tapi ternyata … aku bahkan tidak bisa—”

“BISAKAH KAU MENDENGARKANKU SEKALI SAJA?!” bentak Kyuhyun tiba-tiba. “Jangan asal main menyimpulkan, Sena! Kumohon, dengarkan aku!”

Kyuhyun mengusap wajah kasar, emosinya kembali terpancing begitu melihat Sena menangis dihadapannya. Parahnya, dia membentak perempuan itu. Membuat tangisannya semakin menjadi-jadi.

“Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Sungguh.” Tangannya menggantung di udara, meredam rasa ingin memiliki tubuh bergetar itu—yang nyatanya tidak berani dia lakukan. “Dengar, apapun yang kusembunyikan selama ini, semata-mata karena aku menghormatimu. Karena aku mencintaimu. Dan karena aku memilihmu. Jadi jangan pernah berpikir bahwa karirmu adalah bagian terburuk dari hubungan kita.”

Sena menggigit bibirnya gemetar. “Kau tidak pernah tahu rasanya dipandang rendah, Kyuhyun. Tidak pernah tahu rasanya bahwa hal yang kau cintai, yang menjadi rutinitasmu, ternyata tidak disukai oleh orang yang kau cintai pula. Aku merasa buruk dan bodoh disaat yang bersamaan. Katakan padaku, aku harus bagaimana?”

Lagi-lagi senyum perih itu terukir, Kyuhyun memberanikan diri untuk mengusap air mata Sena. Lantas membawa wajah itu untuk menatap matanya, kemudian berkata, “Tidak menyukai bukan berarti tidak memiliki toleransi, Sena. Karena selama ini, aku hanya ingin berkompromi denganmu. Aku berusaha mengenyampingkan egoku agar bisa bersamamu. Seperti yang sudah kukatan tadi, aku mencintaimu dan aku memilihmu. Inilah konsekuensi yang harus ku ambil.”

Sekali lagi, Sena menjauhkan sentuhan Kyuhyun. Kakinya mundur menjaga jarak. Lalu bibirnya bergumam, “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku soal ini?”

Jeda sejenak tercipta. Kyuhyun memberikan waktu bagi Sena untuk meredakan emosinya. Emosi mereka.

“Sudah kukatakan, aku menghormatimu.”

“Benarkah?” balas Sena sangsi. “Kupikir lebih dari itu.”

Sekuat mungkin, Kyuhyun kembali menekan kesabarannya pada titik terendah. Berusaha agar kemarahannya tidak menyembur keluar, lalu sekali lagi melukai wanita yang dicintainya.

Sebagai imbasnya, dia pun memutuskan untuk tertawa—walau sumbang. Ada bagian dari ucapan Sena yang membuatnya menjadi seperti bodoh. Dan menurut Kyuhyun, bagian itu lucu meski menyakitkan. Dia seperti kehilangan rasa percaya istrinya.

“Karena aku tahu bagaimana kau, Sena. Aku tidak ingin perempuan yang kucintai pergi setelah aku berkata bahwa aku tidak menyukai apa yang dia lakukan selama ini. Pekerjaan apa yang telah membesarkan namanya itu. Aku tidak mau kau membuangku. Dan kau pun tahu benar bahwa aku adalah orang yang selalu ingin mendapatkan balasan setimpal atas segala upaya yang telah aku lakukan. Termasuk dengan mendapatkanmu.” Kyuhyun menarik nafas panjang. Lelah yang dia rasakan kian mendera. “Sena, haruskah aku mengatakan berulang kali semua kalimat yang berujung sama itu?” lanjutnya.

“Apakah begitu caramu menilaiku selama ini?”

Kyuhyun tertawa sinis. “Malam ini kau menguji kesabaranku. Membuatku sangat terganggu. Apa ini berarti kau tidak percaya lagi padaku?”

Namun, Sena hanya membalasnya dengan membungkam.

“Sena—begini, jika kau tanyakan apa alasan terbesarku menyembunyikan ini semua darimu maka jawaban yang akan kuberikan adalah pernyataan bahwa; aku mencintaimu. Sangat, sangat, sangat mencintaimu. Tapi jika kau masih belum puas, maka kubiarkan kau berasumsi lain.” Kyuhyun menelan ludah berat, tatapannya kemudian terpaku pada perut Sena yang membuncit. Tempat dimana buah hatinya tumbuh. “Hanya saja, mengingat kondisimu saat ini, aku mohon jangan pernah pikirkan apapun lagi. Jangan menyibukkan pikiranmu dengan hal-hal yang kemungkinannya tidak valid dengan apa yang menjadi alasanku selama ini.”

Kyuhyun hanya tidak ingin apa yang menimpa mereka kali ini, akan berdampak pada pertumbuhan bayi mereka. Karena hal yang sangat disesalinya sekarang adalah fakta bahwa mereka yang harus menjalani dinginnya rumah tangga ini saat Sena sedang mengandung buah hatinya. Sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi, mengingat kondisi perempuan hamil sangat rentan dengan yang namanya stress.

“Aku minta maaf karena telah menyampaikannya padamu dalam bentuk amarah. Aku sadar kesalahanku, Sena. Jika saat itu aku tidak terbawa emosi, mungkin tidak akan begini jadinya. Kau tidak akan kecewa.” Memberanikan diri sekali lagi, Kyuhyun maju selangkah demi mendekat pada Sena. “Aku juga meminta maaf atas perlakuanku pada Joon tempo lalu, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Maka dari itu, kumohon, kali ini berhenti menjauhiku. Kita kembali seperti semula, hm?”

Kata maaf itu mungkin terdengar tulus, Kyuhyun bersungguh-sungguh dalam mengucapkannya. Tetapi Sena masih tidak mengerti bagian mana dari hatinya yang belum bisa menerima. Entah kenapa, rasanya ini tidak akan berjalan mudah. Ada rasa yang masih mengganjal.

Maka, sebagai balasan, dia pun menggeleng. Memundurkan langkah setiap kali Kyuhyun mencoba mendekatinya. “Masalahnya tidak sesederhana itu, Kyuhyun. Aku—entahlah, kupikir aku masih membutuhkan waktu untuk sendiri.”

Mencelos. Itulah yang diterima hatinya tatkala suara lembut Sena mengalun indah.

“Cintaku bukan perkara sederhana, melainkan lengkap. Harusnya kau tahu itu.” Gumamnya kemudian.

Namun, Sena seperti acuh tak acuh padanya. Perempuan itu, sekali lagi, lebih memilih untuk segera berbalik pergi. Meninggalkan Kyuhyun bersama dengan rasa bersalah. Dan perkara cinta serta rindunya yang terabaikan.

Tinggal beberapa langkah bagi Sena untuk mencapai anak tangga, suara Kyuhyun kembali menginterupsi. Mempakemkan kerja tungkainya.

“Tidurlah di kamar kita. Biarkan Joon menguasai tempat tidurnya sendiri,” pria itu tersenyum masam, mengingat bagaimana cara tidur anaknya yang terkenal tidak pernah tenang itu. Kyuhyun yakin, selama berada di kamar putranya pun Sena pasti kuwalahan menghadapinya, ditambah dengan perutnya yang kian membesar. “Seburuk apapun masalah kita, jangan pernah mengabaikan keberadaannya. Lagipula ini semua aku yang bersalah, jadi biar aku yang pergi. Kau tidurlah di kamar. Berikan tempat yang nyaman untuknya.”

Hati Sena tertohok. Dia tahu nya yang Kyuhyun sebut tadi adalah si jabang bayi. Apa Kyuhyun memperhatikannya? Dia pikir selama ini pria itu beranggapan bahwa dirinya tertidur di kamar tamu. Tapi ternyata … tidak. Sena memang tidak pernah mau tidur di tempat yang asing jika tidak bersama orang terdekatnya—walau tempat asing itu adalah kamar tamu di rumahnya sendiri. Dan mungkin, Kyuhyun memang mengetahui hal ini.

Sena melanjutkan langkah begitu suara Kyuhyun kembali mengalun. Menyentuh bagian terdalam palung jiwanya lantaran saat ini pun dia merasakan perasaan itu.

“Aku merindukanmu. Merindukan kita.”

—tbc

Advertisements

56 thoughts on “Fragile Heart – 3

  1. kok rada kesel ya sma sena padahalkan kyuhyun udh minta maaf sma dia. chap ini bikin nyesek” gimna gitu pas bcanya
    semoga next chap mrka udh baikan

    Like

  2. Rasanya nyes banget, Sena nya sudah terlalu sakit hati. Tapi apa tidak bisa sedikit lagi memberikan pengertian pada penjelasan yang kyuhyun sampaikan??
    Ada sesuatu yg bahkan masih sangat mungkin untuk bisa diperbaiki, dipertahankan, dan dilebihkan.

    Liked by 1 person

  3. Cepet baikan please. Jangan lagi ada kesalahpahaman. Jangan sampai nanti kyuhyun udah minta maaf terus sena nya masih marah terus kyuhyun udah capek, lelah lahir batin. Gantian senanya yang nyesel kyuhyun yang marah lagi. Please jangan ada drama diantara kalian

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s