Intemporel – 6 (A)

CBR_intemporel

And my heart hurts every time I love you
Because you live, wiping away your tears

C A S T

CHO KYUHYUN ¶ LEE SENA

R A T E:

PG-17 | Mature Content

AU | Multi-Chaptered

G E N R E:

Romance, Hurt, Drama, Family

R E L A T E D  S T O R Y:

Hurts

N O W [P L A Y I N G]

LOVE IS PUNISHMENT (A)


Hai! Akhirnya kita bertemu lagi! Saya tahu kok ini udah berjarak lumayan lama dari terakhir kali posting chapter 5, sekitar… 2 bulan ya? Entahlah. Jadi yang dikit-dikit lupa sama jalan cerita sebelumnya, silahkan dibaca lagi aja^^

Btw, untuk chapter ini, saya gak berharap jumlah komentar akan sama banyaknya seperti empat chapter pendahulunya dulu, gak kok 😦 Mengingat saya udah gak rutin lagi nulis ff, dan… jumlah komentar di chapter 5 yang lumayan anjloknya pula kemaren, saya terima aja lah. Sedih memang, tapi mau gimana lagi? Dalam sebuah hubungan ‘kan emang yang paling sulit itu bertahan dan mempertahankan. Kayak kita gini—maksudnya hubungan saya dan readers yang bermetamorfosis menjadi siders lho ya. /WKWK/

Saya gak bisa mempertahankan mereka menjadi komentator-komentator setia lewat tulisan-tulisan saya disini. Dan mereka gak bisa bertahan karena saya gantungin /lol. Tapi mudah-mudahan aja—ini berharap banget—komentar di chapter 6 ini seenggaknya nembus diatas 50 atau 60. Biar gak sedih-sedih amat lah dikhianatin ama siders XD anw chapter ini sebenernya panjang aned, tapi saya bagi 2, biar kalian gak bosen kayak baca UB final hihi

Okelah, Happy Reading! Typos harap dimaklumi 🙂


Mata itu bergulir. Menelisik satu per satu deretan makanan manis yang terpajang diatas rak. Sebentar mengedip, sebentar membulat, sebentar menyipit. Bibirnya yang tipis tak lupa ikut mencebik, maju beberapa mili ke depan hingga membentuk sebuah pola lucu yang menghiasi wajah bulatnya.

Dengan salah satu telunjuknya, dia menyusuri daftar harga yang tertera disana. Melihat baik-baik mana yang cocok untuknya dan mana yang tidak. Lalu, desahan demi desahan lolos dari mulutnya tatkala bungkus yang terlihat paling menarik, tidak setara dengan kantungnya.

Bibir itu pun semakin merengut masam. Tubuhnya kembali menegak. Mungkin, memang belum jodohnya saat ini. Yah, mungkin begitu.

Dan baru saja dia ingin memutar tubuhnya untuk kembali pada seseorang yang pergi bersamanya hari ini, saat dengan tidak sengaja, sebuah tekanan dari arah belakang mendorong tubuhnya hingga jatuh terjerembab ke depan.

“Aww…”

Sakit.

Itulah yang dia rasakan tatkala siku dan lututnya menghantam lantai berpetak dibawah kakinya.

Lalu, sebuah suara menyusul—dengan nada panik.

“Kau tidak apa-apa? Aduh! Maafkan aku, tadi teledor. Biar kubantu berdiri.”

Sarang mengangkat kepalanya dengan mata mengerjap. Lantas, menatap uluran tangan itu selama beberapa detik, untuk kemudian—disertai ringisan perih—dia menerima bantuan tersebut. Perempuan dewasa yang membantunya itu, meraih kruk yang tergeletak tidak jauh darinya. Lalu menyerahkan padanya kembali agar bisa berdiri tegak.

“Apa ada yang sakit?” tanya perempuan itu.

Sarang menggeleng. Tadi memang sakit, tapi sekarang sudah tidak. Nyerinya berangsur hilang.

“Maaf.” Tangan ramping yang menguarkan aroma sitrus itu membelai rambutnya. Disertai senyum sungkan yang perempuan itu ditunjukkan. Tanda  bahwa dia merasa sangat bersalah. “Benar tidak apa-apa?”

Sarang kembali menggeleng. Lalu, bibirnya merekahkan sebuah senyum sebelum berujar, “Tidak apa-apa. Sarang baik-baik saja kok.”

“Seharusnya tadi aku melihat ada anak kecil didepanku, tapi karena saking fokusnya menerima telepon, jadi begini. Sekali lagi, maafkan ya.”

“Iya. Lagipula Sarang juga salah karena kurang berhati-hati. Jadi Bibi tidak perlu cemas begitu. Hehe.”

Perempuan itu ikut terkekeh walau rasa canggung masih melingkupi.

Mungkin, jika yang ditabrak olehnya adalah orang ‘normal’, dia tidak akan separah ini merasa bersalah. Tapi faktanya, yang dia tabrak karena keteledorannya sendiri adalah seorang anak kecil yang menyandang disabilitas. Bagaimana dia tidak kalut?

“Jadi, namamu Sarang?” gadis cilik itu mengangguk kuat. “Kau sendirian? Orang tuamu mana?” tanyanya lagi seraya menolehkan kepala ke kiri, kanan, bahkan ke belakang. Mencari wajah seseorang yang sekiranya kehilangan anak kecil. Karena dari yang dia lihat, gadis cilik bernama Sarang ini memang hanya sendirian.

“Aku kesini bersama ibu. Tapi ibu sedang mengantri ikan disana.” Tunjuknya pada sebuah antrian panjang yang terletak disudut keramaian.

Aah… perempuan itu membuka mulutnya sebesar tiga jari, mengangguk paham. “Kalau di tempat ramai seperti ini, jangan pergi sendirian lagi. Bahaya kalau kau hilang atau parahnya seperti tadi, ditabrak oleh seseorang—yang mungkin tidak bertanggung jawab.”

Sarang menggigit bibirnya dengan wajah lesu. “Habis Sarang bosan. Jadi, selagi menunggu ibu, Sarang berkeliling-keliling saja disekitar sini. Lalu Sarang melihat bentuk kue-kue ini lucu sekali.”

Perempuan itu tertawa mendengar pernyataan polos gadis cilik didepannya. “Lalu, sekarang sudah ketemu, mana yang Sarang inginkan?”

Ditanyai seperti itu, Sarang meringis. Kepalanya menggeleng miris. Jelas dia suka dengan semua kue-kue yang dipajang di showcase ini, dan kalau boleh, dia menginginkan semuanya juga. Hanya saja… kendala ada di jumlah uang yang Sarang kantungi saat ini. Kalau saja harganya lebih murah, atau uangnya mencukupi, mungkin dia sudah membawa satu kue itu pulang ke rumah.

“Kenapa?” tanya perempuan itu polos. Namun, saat sadar bahwa pertanyaannya mengandung unsur yang salah—yang bisa menyinggung perasaan gadis itu, dia pun merutuki diri sendiri. Setelahnya, barulah dia menegakkan tubuhnya dari posisi membungkuk, meminta pelayan yang menjaga stan tersebut membungkuskan satu kantung kue yang menurutnya memiliki tampilan menarik.

Sarang yanv mengikuti setiap gerak perempuan itu, hanya terdiam. Dari caranya berbicara pada Bibi penjual, memilih kue yang menarik bagi Sarang tadi, sampai membayar semua yang dibelinya tersebut. Berlanjut pada kedua matanya yang membulat saat perempuan itu menyodorkan bungkusan tersebut kepadanya.

“Ini untuk Sarang?” tanya gadis cilik itu cepat, masih dengan raut tak percayanya. Oh, mana ada orang sebaik Bibi ini. Namun, ketika mendapatkan sebuah anggukan dari sang lawan bicara, Sarang langsung memekik senang lantaran Bibi ini memang benar-benar baik padanya. “Terima kasih. Sungguh, sungguh, terima kasih Bibi.” Ucapnya riang. Kentara sekali, bahwa hanya dengan satu bungkus kue, dia bisa dibuat bahagia.

“Sama-sama. Ini… sebagai tanda permintaan maaf juga karena telah menabrakmu tadi.”

“Benarkah? Tapi, Sarang ‘kan sudah bilang kalau Sarang tidak apa-apa. Lagian tidak ada yang terluka. Ng… tapi yah, kalau Bibi memaksa tidak apa-apa.” Cengir gadis itu.

“Sarang!”

Sebuah suara dengan nada tegas dan cemas memotong interakasi keduanya kemudian.

Sarang dan perempuan itu menoleh pada sumber suara. Disana, ada tokoh perempuan lain yang tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya. Dengan langkah terburu-buru, dia mendatangi mereka yang masih terpaku.

“Kemana saja?! Ibu sudah bilang jangan pergi jauh-jauh ‘kan? Ini tempat ramai, kalau Sarang hilang bagaimana?”

Merasa ada getaran dari tangan sang ibu saat mengusap kedua pipinya, wajah Sarang berubah melesu. Dia tidak bermaksud membuat ibunya cemas. Sungguh. Tapi pada akhirnya dia malah membuat ibunya seperti ini.

“Maaf.” Ucapnya lirih. “Sarang tadi bosan, jadi Sarang berkeliling saja. Lalu saat Sarang akan menemui ibu, Bibi ini tidak sengaja menabrakku.”

Mata Sena bergulir, menatap perempuan dewasa yang berdiri disamping utrinya.

“Kau pasti ibunya ya? Ah—ng… aku… maaf, tadi aku tidak sengaja membuat putrimu terjatuh. Ini memang salahku. Maaf sekali lagi.”

Sena ikut membungkuk, lantas tersenyum sopan. Yang terpenting baginya saat ini adalah Sarang sudah ketemu, dan anak ini baik-baik saja.

“Tidak apa-apa. Aku juga tadi lalai menjaga putriku. Lain kali, kalau mau pergi bilang terlebih dulu, hm?”

“Tadi Sarang sudah bilang, ibu saja yang tidak dengar.” Sungut Sarang sebal.

“Maaf sudah merepotkanmu—Nona. Dan terima kasih. Kami… pergi dulu.”

Perempuan itu melebarkan senyumnya, lantas mengangguk.

Namun, selepas Sena dan Sarang pamit pergi, bibir itu mengerut dengan mata yang tidak bisa berhenti menatap sosok yang menjadi ibu Sarang.

Wajah itu terlihat tidak asing. Detik pertama netra mereka bertemu, dia merasa ada yang aneh—atau lebih tepatnya seperti De Javu. Dia yakin betul kalau dia pernah bertemu dengan wajah itu. Hanya saja dia tidak ingat, kapan dan dimana tepatnya.

Perempuan itu menghela nafas. Ah, apa mungkin hanya perasaannya saja? Tetapi intuisinya menolak untuk berhenti yakin.

Lama dia termenung sendiri, sebuah tepukan mendarat di punggungnya.

“Unnie! Aku mencari-carimu sejak tadi, ternyata kau malah disini. Sudah mendapatkan apa yang kau cari?”

Perempuan itu menoleh pada sosok lebih muda yang berdiri disampingnya, kemudian tersenyum tipis. “Maaf, tadi ada telepon dari Gramps. Dan—ada insiden kecil yang melibatkanku.”

“Insiden? Apa itu?”

“Aku tidak sengaja menabrak seorang anak kecil,” balasnya dengan gedikan bahu.

“Tuhan, memangnya matamu kemana? Kenapa sampai bisa menabrak anak kecil huh?”

Perempuan itu berdecak. Lantas kembali menatap arah dimana dua sosok tadi menghilang.

“Hara…” panggilnya kemudian.

“Hm?”

“Aku—sepertinya mengenal perempuan tadi.”

“Perempuan?”

Dia mengangguk. “Ya. Dia… sepertinya pernah kulihat.”

Sebagai lawan bicaranya saat ini, Hara mengerutkan alis. Lantas ikut memandang ke depan. Perempuan mana yang dimaksud kakak iparnya ini?

“Unnie, aku tidak mengerti maksudmu apa. Kau mabuk? Padahal ini masih siang. Yah, pantas saja kau menabrak anak kecil. Tidak heran.”

“Ck. Yoon Hara… aku serius. Dia—memilikk wajah yang tidak asing,” delik perempuan itu sebal.

“Sudahlah, Cho Ahra, berhenti melantur, lebih baik kita pulang sekarang.” Hara meraih tangan Ahra, menyeret kakak iparnya itu untuk lekas pergi dari sana. “Oppa dan Gramps sudah menunggu di rumah. Ayo! Oh ya aku lupa, omong-omong apa Kyuhyun Sunbae dan dokter itu akan datang juga? Apa mereka diundang untuk makan malam kali ini?”

≤Chapter 6 (A)≥

Sekilas dari luar, mungkin orang-orang akan menganggap bahwa dirinya terlihat biasa-biasa saja. Baik-baik saja. Dan menjalani hidupnya dengan normal layaknya manusia lain di muka bumi. Tetapi itu hanya secara teorinya saja, bukan dalam praktik yang sebenarnya.

Dia—justru kesulitan menjalani hidup normal.

Karena, untuk kesekian kali, sederet memento itu hadir mengusik diamnya. Mengecup sekali lagi kalbunya yang sudah lama berlubang dihantam rindu dan penyesalan tak berkesudahan. Rindu yang bercampur benci. Penyesalan yang—harus berujung pada rasa ingin memiliki, lagi.

Bukan inginnya untuk terus berada pada kondisi seperti ini. Terjebak di ruang nostalgia yang mematikan akal. Layaknya idiot yang sulit menafsirkan bahasa

Kini, dengan sebelah sudut bibir yang berkedut lantaran ingin menertawakan diri sendiri yang telah lama menjadi budak nasib, atau mensyukuri bahwa—setidaknya sebelum semua ini terjadi—sebuah memori indah pernah dia miliki bersama orang itu, roll-film masa lalunya kembali berputar. Terpampang angkuh didepan kedua mata. Menghinakan seluruh upayanya melarikan diri selama ini dan sejauh ini, berakhir sia-sia.

Nyatanya, baik dulu maupun sekarang, dia memang tidak pernah berada di titik baik-baik saja.

Semua hanya tentang manipulasi sang waktu yang mengantarkannya pada satu pretensi.

Dan seperti sebuah aba-aba yang diciptakan oleh alam, angin yang merajuk angkuh di senja kali ini, mulai menyeret dirinya pada pusaran itu. Menyelami sekali lagi apa yang pernah terjadi dan membawanya berakhir disini. Di depan sebuah bangunan yang hanya dia sendirilah yang memiliki rahasia dibaliknya. Tidak seorang pun tahu. Tidak… sama sekali.

rustic-exterior

21 menit 37 detik.

Kyuhyun menghembuskan nafas sebal. Tangan yang dia digunakan untuk menopang dagu di atas meja beberapa saat lalu kini terayun jatuh, sedangkan kedua matanya menatap malas pada seorang gadis yang berada di depannya.

Dia—jelas sedang kebosanan.

Well, apalagi kalau bukan karena Sena yang sibuk mengabaikannya—hanya demi sebuah buku konyol—padahal saat ini mereka sedang berkencan.

Sekali lagi; buku konyol. Bahkan kekanakan menurut Kyuhyun. Teramat sangat kekanakan seolah tidak ada buku lain disini.

Dengan kesabaran yang kian menipis dan wajah yang ditekuk semasam mungkin, akhirnya sebuah gagasan dia ambil sebagai akhir dari suasana ini. Sedikit kasar, dia coba menghempaskan buku bersampul warna-warni dengan gambar peri serta putri-putri dalam berbagai macam rupa itu ke atas meja. Membebaskan matanya menikmati wajah polos gadis itu yang kini malah kebingungan melihat sikapnya barusan.

“Berhenti mengabaikanku!” semburnya langsung begitu mata mereka bertemu. Bibirnya mencebik tak senang, Kyuhyun bahkan menatap sebal buku tersebut. “Ini tidak masuk akal! Kau… Ish demi Tuhan Lee Sena, memangnya tidak ada buku lain yang bisa kau baca, hah? Kenapa harus buku ini?”

Berawal dari kelinglungan yang melanda, mata gadis itu kemudian bergulir turun ke atas meja—menatap pula apa yang menjadi objek emosi Kyuhyun. Lalu, dengan cengiran polosnya, dia berujar singkat, “Kenapa?”

“Kenapa? Aku marah, dan… kenapa? Pertanyaanmu itu retoris sekali. Jelas karena buku yang kau baca itu tidak sesuai untukmu, Sena. Itu dongeng. Cerita fiksi yang terlalu banyak ketidak-mungkinananya. Cerita hiperbolis yang diperuntukkan untuk anak-anak. Mana ada gadis remaja seusiamu membaca buku untuk anak kecil begini! Parahnya kau bahkan mengabaikanku! Kau tidak ingat kita sedang berkencan hah? Kau… benar-benar.”

Bukannya berusaha meredam emosi Kyuhyun yang telah dia buat seperti orang kebakaran jenggot, dia justru terhibur.

“Bukankah ini terlihat lucu?” tunjuknya pada sebuah gambar peri dengan sayap maha-indah yang mampu membius kewarasannya. “Aku suka dengan visualisasinya. Ceritanya juga seru. Ini menarik, Oppa.”

Kyuhyun mendelik, memutar bola matanya malas. “Apanya yang lucu?! Itu sangat kekanakan! Dan sama sekali tidak menarik!”

Bibir Sena mengerut tipis. Apanya yang kekanakan dan tidak menarik? Justru bukankah didalam dongeng itu banyak sekali amanat dan nilai moral yang bisa diambil? Kenapa Kyuhyun harus berapi-api begitu?

“Ini tidak kekanakan. Buku ini bahkan bisa dibaca oleh semua umur,” ucapnya.

Kyuhyun hampir saja terjungkal ke belakang mendengar jawaban tersebut. Dia nyaris mencekik gadis itu jika saja dia tidak ingat dia bisa mati berdiri setelah melakukannya. Kyuhyun mendesahkan nafas panjang, melepas panas yang menjalar di ubun-ubun. Salahnya memang, menuruti kemauan Sena untuk berkencan di perpustakaan umum.

“Kau boleh saja menjadi berbeda dengan sifatmu yang anti-mainstream. Tetapi jangan menjadi aneh, Sena. Karena menurutku, kau membaca dongeng itu aneh. Tidak wajar. Tidak layak.” Kyuhyun memandang sinis sekali lagi buku yang sudah tercampakkan di atas meja itu. “Ada banyak pilihan macam buku disini. Novel, ensiklopedi, komik, edukasi, jurnal, biografi. Tapi kenapa harus dongeng?”

Sekali lagi, Sena mengerucutkan bibir. Namun bukan terlihat seperti orang yang marah atau sebal, Kyuhyun malah mendapati Sena seperti sedang mencoba untuk ber-aegyo padanya.

Sialan benar.

Kyuhyun berdeham, menghalau rasa ingin menerkam wajah rupawan gadisnya. “Mungkin akan lebih realistis jika yang kau baca adalah novel. Keduanya memang sama-sama cerita fiksi tetapi novel jelas kelihatan lebih cocok untukmu. Sedangkan dongeng—” Kyuhyun menggelengkan kepalanya, “aku sulit menerimanya. Kau terlihat seperti orang dewasa yang memiliki mental anak kecil.”

Tawa kecil itupun enggema. Habis sudah rasa sebalnya, Sena tidak kuasa menahan geli ketika melihat Kyuhyun yang bergidik seperti tadi. Seolah buku dongeng adalah sesuatu yang menjijikan. Well, dia memang sulit untuk marah. Terlebih pada Kyuhyun.

Gadis itu kemudian melipat kedua tangannya di atas meja, menelisik wajah Kyuhyun baik-baik sebelum, “Dongeng memiliki banyak gambar, Sunbae—”

“Oppa.” Ralat Kyuhyun cepat dan tegas.

“Ah… ya, Oppa.” Sena melipat bibirnya kedalam, menahan tawa lagi. “Aku suka buku yang memiliki banyak gambar, karena mereka lebih menarik. Seperti cerita dongeng ini. Novel ‘kan tidak.”

“Komik memiliki banyak gambar.”

Gadis itu mengangguk. “Tetapi komik tidak terlalu menghiburku. Aku sudah pernah mencoba membacanya sekali.”

“Tck. Kenapa kau harus beralibi?”

Sena kembali tersenyum. “Serius. Gambar yang ada didalam komik tidak semenarik gambar-gambar yang ada didalam dongeng. Oppa, kenapa harus sekesal itu? Kau tidak suka memiliki hubungan dengan orang yang ‘bermental seperti anak kecil’ ya?”

Kyuhyun sontak menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada punggung kursi. Matanya melebar; tidak terima pada tuduhan yang Sena lemparkan semena-mena itu.

“Aku tidak berkata seperti itu. Aku… aku hanya—heran saja kenapa setiap kali kita ke perpustakaan umum ini kau selalu membaca dongeng-dongeng itu. Lalu tertawa sendiri. Tersenyum aneh. Kadang mengerutkan alis. Lalu membuat raut terharu. Dan yang terpenting dari itu semua adalah kau yang selalu mengabaikanku! Apa aku kurang menarik? Apa benda mati itu lebih menarik? Lagipula kau sudah berada ditingkat akhir, seharusnya kau lebih banyak membaca sesuatu yang bisa mendukungmu lulus dengan nilai terbaik. Bukan malah—”

“Aku tahu. Terima kasih sudah memperhatikanku. Dan mengingatkanku,” selanya dengan kedua sudut bibir yang berkedut.

Kyuhyun yang memahami maksud kalimat tersebut dan cara Sena mengatakannya, hanya bisa berdeham canggung. Sedikit dihimpit rasa malu.

“Kenapa memang?” ujarnya mengalihkan gugup.

“Kenapa apanya?”

“Kenapa kau suka membaca dongeng?”

“Oh, itu… Karena yang mereka kisahkan selalu berakhir bahagia.”

Kyuhyun kembali mendelik. “Konyol.”

Sena membalasnya dengan gedikan bahu. “Kau tahu, dunia di dalam negeri dongeng adalah dunia impian bagi semua orang. Dunia yang penuh dengan petualangan. Dunia yang penuh demgan kasih sayang. Disana, kau bisa bertemu dengan leri-peri kecil. Melihat istana megah. Tinggal di dekat perbukitan asri dan sungai yang mengalir deras. Berkawan dengan para binatang dan kurcaci. Dan… hidup damai. Intinya aku menyukai dunia yang penuh fantasi itu.”

“Kehidupan manusia tidak ada yang seperti itu, Sena. Peri kecil? Kurcaci? Kau berharap menjadi Cinderella? Atau Snow White?”

“Yah, aku tahu. Tidak. Aku tidak mau menjadi ‘orang lain’.”

“Lalu kenapa kau tetap mendamba hal-hal yang diluar nalar tersebut? Aku justru benci cerita semacam itu.”

Sena mengerutkan alis tak mengerti. “Kenapa? Banyak pesan moral yang bisa kau dapatkan dari sebuah dongeng.”

“Karena cerita semacam itulah yang suka mencuci otak anak-anak. Pesan moral apanya! Tck. Justru kebanyakan cerita itu merusak moral anak-anak. Kita ambil contoh konkretnya saja, Beauty & The Beast. Kau tahu, cerita itu mengajarkan seberapapun buruknya rupa yang dimiliki oleh seseorang, tidak akan menjadi masalah jika dia memiliki banyak uang. Itu sudah masuk penyalahgunaan etika. Mereka mendidik anak-anak—khususnya gadis cilik—tumbuh menjadi seseorang yang matrealistis.”

“Beast itu monster bukan seseorang.”

“Nah! Apalagi itu. Monster.”

Sena tertawa. Menggelengkan kepalanya.

“Sena, dunia kita itu bukan hanya sekadar buruk, tapi kejam. Jadi kupikir, lebih baik kau berhenti mengonsumsi bacaan-bacaan penuh fantasi aneh itu yang justru membuatmu semakin tenggelam dan lupa akan daratan. Itu hanya sebuah dongeng fairy-tale. Kehidupan yang diciptakan dari imajinasi manusia, bukan Tuhan. Disana semuanya bisa menjadi begitu mudah dalam satu waktu, sesuatu yang sangat jauh dari kata realistis.”

Gadis itu mengedikkan bahu, “aku tahu. Tapi setidaknya, melalui dongeng yang menurutmu penuh fantasi aneh itu, aku bisa merasakan seperti apa memiliki sahabat yang banyak. Memiliki keluarga yang saling membutuhkan. Hidup bersama peri-peri yang dengan senang hati bisa mengabulkan keinginanmu. Dan… bisa merasakan rasanya dicintai oleh pangeran tampan. Setidaknya, begitu.”

Kyuhyun tersedak oleh ludahnya sendiri, dia hampir saja mengeluarkan tawa kerasnya jika tidak ingat dimana dia berada sekarang. Sebagai pengambil alih, pria itu menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.

“Pangeran tampan?” tanyanya menggoda. “Memangnya kau siapa? Upik abu? Atau seorang putri?”

Sena terdiam.

Upik abu atau seorang putri. Bukankah itu pertanyaan retoris? Jika diumpamakan, Sena jelas lebih mendekati kategori upik abu dibandingkan seorang putri.

Hey, dia bukan gadis dari kalangan atas. Mereka tidak sederajat.

“Berhenti tertawa!” ketus Sena kemudian.

Geez! Seandainya Kyuhyun tahu pertanyaannya barusan justru menyinggung titik sensitif yang diam-diam dimilikinya selama ini, apa pria itu berani mengatakannya?

Tidakkah Kyuhyun peka terhadap perasaannya?

Delapan belas tahun dalam hidupnya, Sena tidak pernah memiliki teman yang banyak—walau sebenarnya dia sangat ingin. Dia hanya mampu memiliki teman paling banyak adalah satu. Itupun yang benar-benar dekat dengannya. Dia bukan orang yang lebih sering menghabiskan waktunya dengan bermain. Apalagi kalau bukan karena sifatnya yang sulit terbuka dan beradaptasi?

Sena juga selalu rindu rasanya memiliki keluarga. Setidaknya, dia menginginkan kehadiran sang ayah—sosok kepala keluarga—yang sudah lama dia dambakan kehadirannya, tapi mau diapakan lagi saat takdir justru memisahkan mereka. Ayahnya tak pernah kembali sejak menghilang tujuh tahun lalu. Dan keluarga baginya saat ini hanyalah sebuah angan.

Kehidupannya yang tidak semudah orang lain juga harus membuatnya menyingkirkan apa yang dia inginkan satu per satu. Dia tidak bisa sesuka hati mengeluarkan uang untuk memiliki barang-barang yang menarik perhatiannya. Dia dipaksa oleh nasib untuk lebih dulu memprioritaskan kebutuhannya diatas keinginannya.

Kini, saat dengan satu-satunya cara dia bisa menikmati semua itu sekaligus—walau harus menerima pahit saat sadar bahwa kehidupannya memang jauh dari kata ‘keajaiban’—Kyuhyun justru mengolok-oloknya

Pria itu benar, dunia yang mereka tempati sekarang ini, lebih dari kata buruk. Kejam adalah kosakata yang tepat untuk mendeskripsikannya.

Tetapi, tidak ada salahnya bukan? Apa khayalannya memang terlalu tinggi?

Sena jadi sebal.

“Eh? Ng… Kau marah?”

Lamunan gadis itu terpecah saat suara Kyuhyun kembali melantun, kali ini lebih lembut. Tidak ada lagi kesinisan dan tidak ada nada merendahkan.

“Aku menyinggungmu ya?” ucapnya sekali lagi.

Sena tidak menunjukkan raut apapun. Tidak kecewa. Tidak marah. Tidak datar. Juga tidak dingin.

Hanya sorot matanya saja yang membuat Kyuhyun yakin bahwa gadis itu sedang dilanda krisis rendah diri.

“Aku tidak bermaksud begitu.” Sebelah tangan Kyuhyun terulur untuk memeluk jemari Sena. Menggenggamnya erat. Memberitahunya bahwa dia benar-benar menyesal. “Mulutku kadang memang sulit dikontrol. Aku hanya tidak mau kau terlalu banyak membayangkan sesuatu yang mustahil. Aku ingin kau berpikir secara logis dan realistis. Itu saja. Kau… tidak marah ‘kan? Aku minta maaf kalau memang benar.”

Sena menipiskan bibir, mencari mata Kyuhyun tepat dimaniknya. “Kau takut aku marah?”

“Ng.. Lebih dari itu.” jawab Kyuhyun seraya mengangguk. “Bukankah saat marah perempuan bisa melakukan apa saja?”

Senyum kembali menarik dua sudut bibirnya, lantas menggeleng. Dia mana bisa marah pada Kyuhyun.

“Aku minta—”

“Sudahlah.” Potong Sena cepat. “Aku maklumi.”

Kyuhyun mengangguk. “Tapi aku sungguh-sungguh, Sena.”

“Tentang?”

“Berhenti menghibur diri dengan membaca dongeng-dongeng itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau kau membayangkan seorang pangeran tampan berkuda putih dari negeri dongeng jatuh cinta padamu. Lalu menciummu. Lalu mengajakmu menikah. Lalu kalian hidup bahagia bersama. Happily ever after.  Aku tidak mau! Kau milikku, Sena. Jangan coba-coba membayangkan pria lain saat kau sudah memiliki kekasih. Paham?”

Gadis itu membuka mulutnya sebesar kelingking. Lantas tertawa. Sungguh-sungguh tertawa yang sangat jarang Kyuhyun lihat.

“Oppa, kau lucu sekali.”

“Aku serius, Sena. Jangan kau anggap aku bercanda.”

“Baiklah, baiklah.” Sena menghirup nafas panjang, mengisi paru-parunya yang kehabisan oksigen lantaran banyak tertawa.

Hening kemudian melingkupi mereka. Baru, setelah puluhan detik mereka tak memiliki topik pembicaraan, Sena bersuara, “Kyuhyun Oppa—”

“Hng?” Mata Kyuhyun kemudian menyipit tatkala mengikuti gerakan Sena yang saat ini merogoh-rogoh sesuatu di dalam tasnya. “Apa ada sesuatu?”

“Ya.”

“Penting?”

“Lumayan.”

“Apa?”

“Nanti kau akan tahu. Tunggu, aku yakin menyimpannya disini. Tapi kenapa tidak ada?”

Alis Kyuhyun semakin mengernyit.

“Aku letakkan dimana, ya?”

Sena kemudian mengeluarkan hampir semua isi tasnya diatas meja. Beruntung mereka memilih posisi di pojok ruangan, yang tidak terlalu dihuni oleh pengunjung lain yang datang, jadi menghasilkan suara gaduh seperti ini pun tidak akan ada yang menegurnya.

“Apa aku lupa membawanya?” gumamnya lagi.

Melihat bagaimana frustasinya gadis itu kebingungan mencari sesuatu—yang tidak diketahuinya sama sekali—Kyuhyun mendadak ikut gusar. Ditambah dengan rasa gemas yang ikut mengambil alih.

“Bisa beritahu aku apa yang kau cari?” ucap Kyuhyun seraya menangkap sebelah tangan Sena, menghentikan kegiatan gadis itu sejenak.

“Ng… gambar.”

“Gambar?”

“Ya. Ukurannya kecil. Kurang lebih sebesar kartu nama. Ah tidak—ng… salah, ng… ukurannya… ya, memang sebesar kartu nama. Mungkin.”

Kyuhyun mendesah. Dia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Kenapa Sena mendadak konyol begini?

“Gambar apa?” putusnya kemudian. Tak mau memperpanjang masalah, dia lebih memilih untuk ikut mencari saja.

“Ru… mah?”

“Sena—”

“Ah, aku ingat!” serunya tiba-tiba. Dia kemudian membuka salah satu buku fisika yang dibawanya hari ini. Menyibak sedikit sampul dalam buku tersebut, kemudian mengambil sesuatu yang diselipakannya disana.

“Ini.”

Alis Kyuhyun mengerut, lagi. Intuisinya dipaksa bekerja untuk memroses makna dari gambar yang diberikan oleh Sena itu kepadanya.

“Ini apa?”

“Gambar.”

“Ya, aku tahu ini gambar. Gambar sebuah rumah. Tapi maksudmu memberiku ini apa?”

Dan untuk kesekian kalinya di hari ini, Kyuhyun harus menebalkan lagi kesabarannya. Sena—gadis itu alih-alih segera menjawab pertanyaannya, kini malah menghiasi wajahnya dengan senyum mahalebar. Cantik memang, tapi tetap saja tidak bisa menghibur Kyuhyun dalam keadaan seperti ini. Jelas karena kesabarannya harus digunakan sekarang.

“Tck. Aku bertanya, Sena, maksud gamb—”

“Kau ingat saat kau membolehkanku untuk mengajukan setidaknya satu saja permintaan padamu?”

Kyuhyun mengangguk.

“Apa itu masih berlaku?”

“Seingatku kau memang belum pernah meminta apapun. Ah, ada satu. Saat kau meminta berkunjung ke rumahku dulu. Kau ingat?”

Senyum gadis itu menyurut. Tatapannya berubah sendu. “Jadi sekarang sudah tidak bisa?”.

“Memangnya aku bilang begitu?” Kyuhyun menyentil dahi gadisnya. “Aku bilang ‘kan setidaknya satu saja, jadi lebih tidak apa-apa. Memangnya ada yang mau kau minta? Apa?”

“Aku—”

“Ha! Sebentar, sebentar. Tunggu. Apa maksudmu—” Kyuhyun mengangkat kedua alisnya, pun dengan gambar yang saat ini berada dalam genggamannya.

Sena mengangguk semangat. Wajahnya kembali cerah.

“Kau mau mengajakku berumah tangga?”

“He? B-berumah tangga?”

“Ya. Kau memberiku gambar sebuah rumah. Itu artinya…”

Sena ikut mengerutkan alis. “Artinya apa?”

“Artinya kau… kau…”

Gadis itu seketika membuka mulut dan matanya lebar-lebar begitu memahami maksud Kyuhyun. Tak berselang lama, pekikannya melantun di udara. “Tidak! Bukan! Tentu saja bukan itu! M-maksudku, maksudku…”

“Wah, jadi diam-diam kau sudah merencanakan semua ini, hm? Aku tidak menyangka kalau kau—hmmph… Ya! Sen—hmmph…”

“Tidak seperti itu, Oppa! Bukan itu!”

Sena mendadak panik. Bahkan tubuhnya sudah membungkuk kedepan untuk membungkam mulut Kyuhyun. Sementara pria itu, justru mati-matian menahan tawa melihat bagaimana lucunya reaksi gadis itu saat ini. Ah, dia menikmati momen seperti ini, omong-omong.

“Bukan itu maksudku. Sungguh bukan itu.”

Dia menghempaskan tubuh lesunya diatas kursi. Suaranya pun melemah.

Kenapa pula Kyuhyun bisa memiliki pemikiran sejauh itu? Mereka masih sama-sama menuntut ilmu sekarang. Bahkan dia sendiri saja masih menggunakan seragam sekolah, mana mungkin permintaan yang akan diajukannya itu adalah perihal membangun sebuah rumah tangga.

Tidak masuk akal.

“Aku bercanda.”

“Eh?”

Masih dengan senyum gelinya, Kyuhyun berujar, “Aku hanya ingin menggodamu saja. Eh, ternyata berhasil.” Kyuhyun tertawa—geli sekali. Namun hanya sebentar, karena setelahnya, raut wajah pria itu berubah menjadi muram. “Tapi… sekarang aku menjadi tahu, kau tidak mau menikah denganku. Benar? Kenapa? Apa hubungan kita hanya akan mencapai sebatas sepasang kekasih saja?”

Sena menggaruk pipinya gugup. Malu. Dan campur aduk.

Entah bagaimana pertanyaan Kyuhyun justru membuat jantungnya berdebar. Debaran yang datang diiringi rasa takut. Well, Sena memang tidak mengharapkan hubungan mereka bisa bertahan lama mengingat betapa berbedanya derajat mereka saat ini. Tapi mengetahui nada bicara Kyuhyun yang kecewa padanya itu, membuat sebagian dari diri Sena merasa takut.

Kyuhyun sudah mengambil alih hatinya. Dia memiliki perasaan yang sama dengan pria itu. Bagaimana mugkin, tidak ada rasa ingin memiliki lebih dari ini?

Tetapi, pemikiran tentang menikah pun masih terlalu dini untuk mereka. Dan masa depan, tidak akan pernah ada yang bisa menebak. Sena hanya ingin menjalani apa yang mereka jalani saat ini. Biar masing-masing hati yang menentukan nantinya.

Jika Kyuhyun memang bukan orang yang diperuntukkan untuknya, dia bisa apa? Dia tidak memiliki kuasa apapun untuk mempertahankan hubungan mereka nantinya.

“B-bukankah kita masih terlalu muda untuk membicarakan ini. Iya ‘kan?” Sebisa mungkin, Sena mengulaskan sebuah senyum, walau jelas kelihatan terpaksa.

Kyuhyun hanya mengedikkan bahu. Dan wajahnya berubah menjadi datar. Lesu. Tak bersemangat.

“A-apa kau marah? Aku tidak bermaksud bicara seperti itu. Sungguh. Aku—ng… aku… saat ini bahkan masih memakai seragam sekolah. T-tidak mungkin ‘kan kalau aku… kalau kita… kita memba—”

Cup!

Lagi, debaran itu datang. Kali ini bukan karena diiringi rasa takut, melainkan sebuah euphoria yang selalu datang saat Kyuhyun bertindak impulsif seperti tadi.

Kyuhyun mengecupnya. Tepat disudut bibir.

Bisa Sena lihat kemudian pemuda itu tersenyum sumringah. Menunjukkan deretan giginya yang rapi. Seolah membuatnya terkapar tak berdaya begini adalah hobi andalannya.

“Kenapa kau mudah sekali tertipu sih?” Kyuhyun tertawa lagi tetapi sebisa mungkin meredamnya agar tak mengganggu yang lain. “Aku bercanda, Sena Sayang… Jangan terlalu menganggapnya serius.”

Sena menelan ludah. Mulutnya terasa kering. Panas menjalar pada kedua pipinya yang memalu. Euphoria itu semakin menjadi. Belum reda akibat kecupan yang Kyuhyun berikan di pipinya, kini sesuatu yang dilindungi oleh tulang rusuknya itu bergejolak hebat akibat panggilan tersebut.

Nyatanya, Cho Kyuhyun memang selalu bisa membuat organ vitalnya kalang kabut.

“Tck. Kau mengkhawatirkan,” ucap Kyuhyun kemudian.

“He?”

“Lupakan. Kita kembali ke permasalahan pokok. Jadi—kau menginginkan ini?” Kyuhyun mengangkat gambar sebuah rumah bergaya country yang Sena berikan tadi. “Kau menginginkan sebuah rumah?”

Sena menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga setelah bisa berdamai dengan debaran yang menggila itu. Dia kemudian mengangguk. “Aku tahu ini berlebihan. Tapi… memiliki rumah yang menyatu dengan alam di kota besar seperti Seoul ini adalah keinginan terbesarku yang kedua.” Gadis itu mengambil gambar tersebut dari genggaman Kyuhyun, kemudian tersenyum. “Hanya kau yang bisa membantuku mewujudkannya, Oppa.”

“Apa ini ada hubungannya dengan hobimu yang suka membaca dongeng itu? Mengingat ini berkaitan dengan alam, aku akan tidak heran.”

“Kurang lebih memang begitu.” Seulas senyum malu dia tunjukkan kembali. “Lagipula aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.”

“Kesempatan untuk memanfaatkanku, maksudnya?”

“A-pa aku terlihat seperti itu?” Sena mendadak gugup “Aku ‘kan ha—”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tahu kau orang yang tulus. Bahkan saking tulusnya, untuk mengatakan ‘aku mencintaimu’ saja susah sekali.” Sindirnya. Yang justru disambut senyum merekah lagi milik gadisnya.

Kyuhyun mendengus.

“Aku sadar, mengumpulkan uang sebanyak apapun, aku tidak akan pernah bisa mendirikan rumah seperti ini. Keinginanku sangat besar tapi aku sulit mewujudkannya. Dan sekarang ada kau, seorang calon arsitek hebat. Tidak salah jika aku mengandalkan keinginanku ini padamu ‘kan?”

“Dan beruntungnya lagi, calon arsitek hebat ini adalah kekasihmu yang tampan dan baik hati.”

Kyuhyun menghela nafas.

Kadang dia merasa heran, bagaimana mungkin Sena masih bisa tersenyum saat masa remaja yang seharusnya menjadi masa-masa menyenangkan untuk gadis itu, harus terenggut oleh titian nasib. Sena harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri tanpa memberikan kepuasan pada batinnya.

Selama ini, Kyuhyun bukan tidak mau membantu untuk meringankan bebannya, tetapi karena Sena sendiri yang memang selalu menolak tawarannya. Kyuhyun tidak memiliki kuasa apapun untuk memaksa gadis itu. Dia pun tidak ingin melukai harga diri Lee Sena. Selama ini yang dia lakukan hanya menutupi perbedaan yang begitu kentara ada diantara mereka walau terkadang sulit.

Dia berusaha untuk, setidaknya, Sena nyaman berdiri disampingnya.

“Tapi aku bahkan baru berada di semester pertama kuliahku. Aku belum bisa apa-apa, Sena. Rumah yang kau inginkan itu—aku tidak bisa mewujudkannya cepat.”

“Aku tidak meminta dalam waktu dekat. Kau bisa mewujudkannya nanti.”

“Benarkah?”

Sena mengangguk mantap.

Kyuhyun menarik sudut bibirnya. Membuat smirk yang lagi-lagi meruntuhkan semangat Sena.

“K-kenapa tersenyum begitu?” tanyanya.

“Apa ini artinya kau mau menikah denganku?”

“He?”

Sena membasahi bibirnya. Gugup. Kenapa Kyuhyun harus menyebut kata ‘menikah’ lagi?

“Aku tidak tahu masa depan akan seperti apa. Bisa saja setelah kau masuk universitas, kau malah berselingkuh. Iya ‘kan?”

Sena semakin dibuat tak mengerti. Kenapa harus ada kata selingkuh dalam pembicaraan mereka. Seperti dia ini gadis cantik saja sampai nekad mau menduakan Kyuhyun.

Senyum Kyuhyun kini kian melebar. Seolah baru saja mendapatkan mainan baru. “Aku akan mewujudkan rumah impianmu. Nanti. Dua atau tiga tahun lagi. Tapi dengan satu syarat; kau – harus – menikah – denganku. Yah, anggap saja ini sebagai perjanjian. Atau simbiosis mutualisme. Aku tidak mau membangun rumah ini kalau nantinya malah kau tempati bersama pangeran tampanmu dari negeri dongeng itu. Jadi, kau harus menjadi istriku dulu baru kubuatkan rumah ini. Bagaimana? Deal?”

Kyuhyun menarik nafas, lantas mengerjapkan mata tatkala telinganya mendengar sebuah ketukan. Nyawanya seolah baru sja diijinkan kembali menempati raga setelah berpuluh-puluh jam menghabiskan petualangan seorang diri.

Bersamaan dengan itu, memori lama yang berputar dalam benaknya pun langsung memudar, tepat dimana dia tidak ingin mengulang apa yang menjadi jawaban Sena kala itu. Karena masih segar dalam ingatannya, memori tersebut terlalu menyesakkan untuk dikenang.

Menghela nafas. Menenangkan diri. Dia kemudian menolehkan kepalanya ke samping. Mencari sosok yang di detik lalu mengetuk kaca mobilnya. Lewat petangnya hari yang berangsur malam, bisa Kyuhyun lihat seorang pria tua dengan kemeja kotak-kotak biru putihnya berdiri tak jauh dari pintu mobilnya.

Kyuhyun mengenal orang itu.

Maka, dengan gerakan teratur, dia membuka pintu. Menunjukkan sedikit senyum yang masih tersisa di wajahnya—mengingat selama ini wajah rupawan itu tertutupi oleh raut kaku.

“Cho Kyuhyun?” pria tua itu menyapa dengan sumringah.

“Paman Lee, apa kabar?”

“Baik. Paman baik-baik saja, Nak. Kau sendiri?”

Kyuhyun mengangguk. “Aku juga.”

“Sudah berapa lama kau disini? Kenapa tidak masuk saja? Kemari, kemari, kita ngobrol sambali minum saja, ya?”

“A-ah, tidak perlu. Aku—hanya sebentar disini. Tadi kebetulan lewat.”

Pria tua dengan tubuh tambun itu mendesah kecewa, melirik sebentar pada mobil Kyuhyun. “Lagi?” tanyanya.

“Hng?”

Paman Lee tersenyum masam. “Setiap kali kutawari masuk, jawabanmu pasti akan selalu seperti itu; menolak. Kenapa?”

Kyuhyun melipat bibirnya kedalam, lantas tersenyum sungkan. “Aku—masih ada urusan setelah ini, Paman.”

Setelah mendapat anggukan mengerti dari pria tua itu, Kyuhyun menggulirkan kedua mata elangnya lagi pada bagunan besar yang mengadopsi warna kuning kecoklatan itu. Paman Lee yang berada disampingnya pun ikut memandang bangunan itu. Senyum tipis kemudian terbit di wajah semi-keriputnya.

“Ini sudah hampir hapir empat tahun sejak pembangunannya selesai, dan kau tidak pernah datang kemari lagi.” Pria tua itu menepuk bahu Kyuhyun pelan. “Kenapa membangunnya jika tidak mau menempati rumah ini, Kyuhyun?”

Diberikan pertanyaan seperti itu, Kyuhyun bingung sendiri menjawabnya. Dia hanya menghembusan nafas sendu. Lantas mengedarkan matanya, kosong.

Bagaimana bisa dia menempati rumah tersebut, jika pemilik sesungguhnya bukanlah dia?

Rumah ini Kyuhyun dedikasikan untuk seseorang. Dan dia hanya mau menempati rumah ini jika orang tersebut bersedia kembali padanya. 

Meskipun terdengar tolol, tetapi Kyuhyun memang tidak pernah sanggup menghapus eksistensi perempuan itu semudah dia membalik telapak tangan. Karena sejak awal, bahkan sejak sebelum malapetaka itu terjadi, Kyuhyun memang sudah benar-benar berniat untuk mengabulkan salah satu mimpi besar Sena itu. Apapun yang terjadi.

Dia pun sudah menganggap penawaran konyol yang dia ajukan saat mereka berkencan di perpustakaan umum itu, tidak pernah ada. Menikah atau tidaknya mereka dikemudian hari, Kyuhyun tetap akan mendirikan rumah impiannya. Meski harus bergelung luka.  

“Rumah ini terlalu besar untuk ditempati seorang diri. Lagipula, ada keluarga paman yang mau menghuni rumah ini. Itu saja sudah cukup bagiku.” Ujarnya kemudian. Diserati senyum tipis yang terlihat sekali terpaksa.

“Paman tinggal disini karena kau yang meminta untuk mengurusnya, Kyuhyun. Bukan karena Paman yang ingin.” ralat pria tua itu membenarkan. “Apa kau yakin tidak ingin masuk dan melihat kedalam rumah itu? Kau bahkan belum pernah menginjakkan kakimu disana ‘kan?”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak perlu. Aku percaya keadaan didalam sana baik-baik saja.”

Paman Lee menghembuskan nafas, lagi.

Setelahnya, hening tercipta. Hanya gesekan antar-daun yang diterpa anginlah yang mengisi.

Hingga kemudian…

“Jika dilihat dari luar, orang-orang mungkin akan menganggap apa yang tersembunyi dibalik gerbang ini adalah rumah mewah pada umumnya, yang berdiri di pusat kota. Tetapi ketika mereka memasukinya, menginjakkan kaki disini, Paman yakin, luar biasa saja tidak cukup untuk menjelaskannya.” Paman Lee menoleh pada Kyuhyun dengan senyum wibawanya. “Disuguhi pemandangan alam asri yang jarang ditemukan di ibukota adalah hal yang sangat mustahil, Kyuhyun. Tetapi kau bisa mendesainnya sedemikian rupa. Kau membuatnya seolah rumah ini berada di lingkungan yang dekat dengan hutan. Dekat danau. Tidakkah itu hebat? Aku bangga sekali padamu. Sampai-sampai aku tidak percaya, anak kecil nakal yang suka menggoda kakaknya ini, sekarang tumbuh besar menjadi orang yang sukses.”

Paman Lee terkekeh, lalu menepuk bahu Kyuhyun, lalu sekali lagi mengatakan, “Aku bangga padamu.”

Kyuhyun ikut tersenyum—kecut. Apa jika Sena melihat ini, dia pun akan memiliki pemikiran yang sama dengan Paman Lee? Kyuhyun ingin tahu seperti apa pendapat perempuan itu. Kyuhyun penasaran, apakah dia telah berhasil mewujudkan impiannya?

Mengingat seperti apa tempat tinggal Sena sekarang, hati Kyuhyun mencelos. Dulu, dialah yang berjanji akan menjamin kehidupan masa depan perempuan itu. Tetapi kini, dialah yang melihat secara langsung bagaimana kukuhnya Sena berjuang untuk bertahan hidup bersama putrinya.

Jika saja Kyuhyun bisa memaafkan. Jika saja sakit hatinya lekas sembuh seperti luka berdarah lainnya, mungkin semua tidak akan seperti ini. Mungkin dia bisa memamerkan karyanya ini pada perempuan itu. Hanya pada perempuan itu.

Tetapi, sakitnya pun masih sama seperti dulu. Dia sangat menghapal bagaimana rasanya. Dia kesulitan… Dan sangat kesulitan menahan sesuatu yang tidak diinginkannya ini.

.

.

.

“Sarang, bisakah bantu ibu membukakan pintu? Mungkin itu Bibi Goo.”

Sarang yang sedang sibuk dengan tugas sekolahnya, menghentikan kegiatan itu sejenak. Kepalanya menoleh ke belakang, pada pintu yang sejak tadi tak berhenti terketuk dari luar.

Ibu sedang menyiapkan makan malam. Mungkin kudapannya yang belum matang itu tidak bisa ditinggalkan, pikirnya. Jadilah perempuan itu menyuruhnya untuk membukakan pintu.

Mengambil kruk yang tergeletak di samping tubuh, Sarang mencoba berdiri perlahan. Lantas berjalan pada papan akses keluar-masuk rumahnya tersebut.

Tetapi, ibu salah. Begitu dia membuka pintu, bukan Bibi Goo yang datang berkunjung ke rumah mereka kali ini. Melainkan seorang pria dengan setelan jaket kulit berwarna hitam. Muda. Dan tidak Sarang kenal.

Alis Sarang kian mengerut saat intuisinya berkelana. Benar. Dia tidak mengenal orang itu.

“Paman siapa?” tanyanya kemudian.

Pria muda dihadapannya ini memiliki tatapan yang—bagaimana cara menjelaskannya ya, emm… menakutkan? Setidaknya begitulah menurut Sarang. Dan entah untuk alasan apa, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Alarm dalam dirinya berdering. Terlebih ketika dia mendapati satu seringaian muncul di sudut bibir orang tersebut.

“Halo, manis!”

Sarang berusaha menghindar dari pria itu saat tangannya akan menyentuh puncak kepalanya. Kegugupan dan kecurigaan pun kian melanda. Siapa sebenarnya orang ini?

Namun belum sempat dia menutup pintu untuk menolak kehadiran orang aneh sekaligus menakutkan ini, suara ibunya pun melantun di udara. Menghentikan sejenak jejak intuisinya yang sedang mencoba menerka-nerka.

“Siapa yang bertamu, Sarang?”

Sena datang bersama dengan sepanci sup tofu yang baru saja dia angkat dari kompor. Uapnya yang masih mengepul panas, menghantarkan aroma lezat bagi siapapun yang berada didekatnya.

Dia tidak, tepatnya, belum menyadari situasi yang—mungkin akan—mendesaknya nanti.

Barulah ketika irisnya bergulir pada arah pintu, senyum yang sesaat lalu masih menghiasi wajahnya, kini menghilang. Berubah mengerut tatkala matanya mendapati sosok itu.

Deg.

Sena bisa merasakan jantungnya terjun ke atas lantai. Mulutnya terasa pahit dan kaku. Sesuatu mengganjal didalam paru-parunya hingga membuatnya kesulitan bernafas.

Dia…

“Jadi benar ini tempat tinggalmu, hng?”

Dengan senyuman iblisnya, pria itu melenggang memasuki rumah kecil mereka. Bersiul rendah dengan mata yang menilai setiap sudutnya.

Ketakutan Sena semakin menjadi tatkala jarak mereka kian menipis. Sedang di ujung sana, Sarang hanya menatap heran pada keduanya.

Pria itu jelas memiliki penampilan yang menakutkan. Sudah barang pasti dia bukan teman ibunya. Pikirnya.

“A-apa yang kau lakukan disini?” Sena sadar suaranya bergetar. Bahkan tubuhnya pun ikut merasakan hal serupa saat perlahan demi perlahan kakinya melangkah mundur. Mendekati pintu kamarnya yang terbuka.

Beruntung sup panas yang tadi sempat dibawanya sudah dia letakkan di atas meja, kalau tidak, mungkin tangan dan kakinya sudah melepuh terkena tumpahan kuah panas itu saking tak bisa mengendalikan getaran tersebut.

Jung Haejin.

Pria yang pernah melakukan pelecehan padanya di klub tempo lalu berada didepan kedua matanya. Pria yang dia pikir masih mendekam dibalik jeruji itu kini…

“Kenapa? Kau terkejut?”

Haejin kembali menyeringai. Tubuhnya mencondong kearahnya, membuat Sena harus menahan nafas begitu bau alkohol menyeruak memenuhi indra penciumnya.

“Aku hebat ‘kan, Nuna, bisa menemukan alamatmu?” bisiknya rendah, penuh kesenangan.

“Ibu—dia siapa?”

Sena menggeser irisnya ke balik punggung Haejin. Sama halnya dengan pria itu. Dengan wajah yang dibentuk persis menyerupai seorang psiko, dia tersenyum—mengerikan—kepada gadis ciliknya, lalu mengulang dua silabel yang membuatnya semakin takut;

“Ibu?”

Haejin tersenyum lebar.

“Jadi dia anakmu? Kau… sudah memiliki anak?” tanyanya pada Sena, disertai alis yang terangkat heran.

Kakinya bergerak maju lagi, yang dibalas Sena dengan setiap langkah mundurnya.

Detik Sena diam tak menjawab selain hanya berdiam diri, pria itu kemudian meloloskan  bunyi ‘wow’ dari bibir tipisnya itu.

Lalu tertawa. Lagi.

Sena menelan ludah. Berat. Semakin pahit.

Tuhan, tubuhnya mulai menggigil.

Tawa itu terdengar seperti bunyi lonceng kematian. Menakutkan.

Memejamkan mata erat. Mengambil nafas dalam. Dia coba memberanikan diri menatap mata pemuda itu dengan tatapan menantang. Dia tidak boleh kalah. Dia harus berani melawannya.

“Pergilah. Kumohon.” tekannya.

Haejin kembali tertawa. Suaranya lagi-lagi terdengar seperti seorang psiko. Seolah peringatannya barusan adalah sebuah lelucon. Omong kosong.

Belum rampung Sena menguasai diri dari detak jantungnya yang menggila, sebuah dorongan keras menyapa kedua bahunya kemudian. Membuatnya mau tak mau tersungkur jatuh.

Pekikan kaget lolos dari pita suaranya.

“Ibu!” ucap Sarang tak kalah terkejutnya. Gadis cilik itu berusaha cepat mendekati Sena, namun terlambat.

Kejadiannya begitu cepat. Sena tidak bisa berpikir tatkala pening menghantam kepalanya. Begitu membuka mata, setelah berusaha menahan sakit yang menyerang, tahu-tahu tubuhnya sudah dihimpit oleh Haejin yang kini mencoba—sekali lagi—melecehkannya.

Mata Sena membelalak. Ketakutan menyergapnya tiba-tiba.

“Ibu! Ibu, buka pintunya!”

Suara gedoran pintu dan teriakan Sarang yang saling bertabrakan membuatnya seketika sadar bahwa kini dia berada didalam kamarnya sendiri. Dengan pintu tertutup.

Tuhan.

“Apa-apaan kau!” pekiknya.

Sena sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkraman tangan Haejin yang mengukung kedua tangannya. Tubuhnya bergerak gusar. Kasar. Tak peduli pada perih yang semakin nyata melukai kulitnya.

Tuhan. Mungkinkah hal itu akan terjadi lagi?

“Akh… Apa yang kau lakukan?!”

“Kau pikir apa, Nuna?”

Pemuda itu menyeringai, kemudian menundukkan kepala, mencari celah untuk mencium—setidaknya—menyentuh bibir perempuan yang sudah menggoda birahinya itu.

Ya, memang inilah tujuan utamanya mencari rumah Lee Sena. Menuntaskan apa yang saat itu belum tersampaikan selain rasa ingin balas dendam lantaran sudah pernah membuatnya berurusan dengan polisi beberapa bulan lalu.

“Kau bahkan tetap manis walau hanya menggunakan pakaian bisaa, Nuna. Kau… indah sekali… Tubuhmu…” Haejin kembali menunjukkan senyum keparatnya sebelum sebelah tangannya dia gunakan untuk meremas payudara Sena. Dan begitu mendengar pekikan frustasi mangsa dibawahnya menyambut telinga, sesuatu yang sudah sangat ditahannya sejak awal tadi semakin melonjak.

“Lepaskan!”

“Bagaimana jika aku tidak mau? Hm?”

Sekali lagi, Sena mencoba menghindar dari serbuan bibir laknat pria itu.

Dia tidak boleh seperti ini.

Kepalanya semakin bergerak kasar. Kakinya meronta hebat. Berusaha melepas kungkungan yang mahadahsyat itu.

Dibalik pintu, Sarang yang mendengar teriakan ibunya pun semakin dilanda ketakutan. Dan kebingungan. Apa yang dilakukan orang itu terhadap ibunya?

“Ibu… Buka pintunya! Buka! Paman, jangan sakiti ibu!”

Tangisan Sarang mulai terlantun. Sendu.

Sena tidak bisa berpikir jernih lagi. Gadis ciliknya itu pasti sedang menyimpan banyak ketakutan sekarang.

“Lepaskan aku! Brengsek!”

PLAKK

“DIAM!!!” Haejin berteriak. Nafasnya memburu dikuasai oleh amarah. Ditambah dengan aksi memberontaknya Sena yang sulit dia kendalikan.

Sreekk.

Sena menjerit. Kausnya sobek tepat di bagian terlarang. Kepalanya semakin pening.

Dia mulai menangis.

“K-kumohon… Jangan lakukan ini.”

Namun, seolah tak mendengar ratapannya, Haejin malah semakin menikmati permainan itu. Tangisan Sarang. Jeritan perempuan dalam kuasanya. Menjadi sebuah simfoni indah yang mengiringi usahanya.

Bibirnya tak berhenti menghisap dada dan leher Sena yang yang semakin terekspos akibat sobekan kain tadi.

“Nuna… Aku ingin menikmatimu…” desahnya seduktif. “Aku tidak tahu kau memiliki kulit selembut ini… Kau harum juga…” tangannya menelusuri kulit Sena yang telanjang, memberikan sensasi jijik bagi si empunya. Berlanjut dengan menyentuh perut datarnya yang semakin menggoda birahi.

Sena menggeleng. Masih dengan air matanya yang mengalir.

Dia tidak mau begini. Dia jijik. Dia harus mencari cara agar bisa terlepas dari monster yang tengah menelanjangi tubuhnya ini.

Matanya kemudian beredar selagi tangan dan kakinya sibuk menghindar. Begitu mendapati sebuah gelas kaca terletak tak jauh dari jangkauannya, Sena sekuat tenaga menendang selangkangan Haejin dan segera menghantamkan gelas kaca itu ke kepalanya setelah rengkuhannya mengendur.

“AKHHH!!!” Haejin berteriak.

Secepat kilat, Sena bangkit menjauh. Lalu dengan sisa keberanian yang tertinggal, dia menginjak pergelangan kaki Haejin—walau dengan kekuatan tak seberapa. Nafasnya terdengar memburu, terlebih ketika melihat darah mengalir dari dahi pria itu. Dia menelan ludah berat; dia melakukan hal yang benar bukan?

Baru setelah suara Sarang terdengar lagi olehnya, Sena mengalihkan perhatian. Ini bukan waktunya menilai benar atau salah. Yang harus dia lakukan sekarang adalah membawa dirinya dan Sarang pergi darisini.

Membuka pintu dengan gerakan terburu, Sena mendapati Sarang berdiri di samping pintu kamarnya dengan wajah sembab.

“Ibu tidak apa-apa?” tanya Sarang begitu melihat pakaian Sena jauh dari kata baik-baik saja. Kentara sekali ada kekhawatiran yang nyata disana.

Hati Sena menyeri melihat betapa kacaunya wajah itu, dia pun memberi jawaban dengan mengangguk ala kadarnya. Dia melirik lagi ke dalam kamar, Haejin masih meringkuk kesakitan. Jelas karena dia telah melukai tubuhnya di tiga tempat. Sena menoleh pada Sarang, menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh anak itu. Mereka harus cepat mengindar dari bahaya ini.

“Berhenti menangis, ibu tidak apa-apa, hm? Sekarang kita harus segera pergi darisini, Sarang mau ‘kan menurut pada ibu?”

Sarang mengangguk. Irisnya hampir saja akan melihat kondisi pria—yang sudah dilabeli—jahat itu ketika Sena tidak segera menghalanginya. Perempuan itu menggeleng tegas. Lantas meraih tangan kecil milik putrinya. Menggenggamnya erat kemudian menuntunnya berlari—walau harus terpatah-patah.

.

.

.

Malam semakin dingin. Setelah menghembuskan asap nikotin—terakhirnya di hari ini—ke udara, Kyuhyun merapatkan lagi coat hitamnya.

Tubuhnya dia sandarkan pada kap Jaguar, sementara matanya yang sayu mengedar pandang.

Beberapa hari ini ada banyak sekali masalah yang mengusik pikirannya. Membuatnya terasa berat dan tak bergairah melakukan apapun. Bahkan acara makan malam bersama keluarga pun dia tolak secara halus lantaran tidak mau menambah masalah lagi. Mengingat hubungannya dengan Cho Ji-Tae, kakeknya, tidak terlalu baik.

Dia justru lebih memilih mengadakan pertemuan dengan klien bisnisnya, yang baru saja selesai dua puluh menit lalu.

Bukan karena dia membenci kakeknya sampai-sampai makan malam saja dia tidak mau datang. Dia justru menyayangi pria tua penyumbang marga Cho itu dengan segenap hatinya. Hanya saja dia tahu, komunikasi mereka akan selalu berakhir menjadi perdebatan saat kedua kubu—kubu dirinya dan kubu kabu kakeknya—tidak akan pernah sepaham.

Ya, dia dan Ji-Tae seperti Yin dan Yang. Tidak pernah sama tapi saling mempengaruhi satu sama lain.

Kyuhyun menghela nafas.

Kini dia berada di lokasi yang akan menjadi proyek kerjanya. Setelah mengadakan pertemuan yang merangkap dengan makan malam, Kyuhyun beserta asisten dan kliennya memang meninjau lokasi ini. Namun sekarang hanya dialah yang tertinggal sendiri saat yang lainnya sudah memutuskan untuk pergi.

Dia masih membutuhkan udara segar. Terlebih tempat ini jarang dilalui kendaraan sehingga udaranya lebih sejuk.

Pikirannya sekarang terpaku pada satu hal yang ingin dia luruskan segera.

Alisa.

Kyuhyun merasa ada yang berbeda dengan perempuan itu. Sejak peresmian hubungan mereka yang sudah berlalu hampir seminggu, Lisa mendadak menjadi aneh. Tidak seperti Alisa yang biasanya. Perempuan itu seperti menutup akses untuk dirinya. Setidaknya begitu.

Mungkin tidak akan aneh jika perempuan itu masih menanggapi pesan atau teleponnya dengan cara yang seperti biasa. Masalahnya, Lisa selalu menghindar jika dia mengajaknya bertemu. Alasannya, ada banyak sekali pasien yang datang ke rumah sakit akhir-akhir ini. Seolah tidak ada dokter lain yang bisa diandalkan. Seolah mendapatkan orang sakit adalah sebuah keberuntungan atau kewajiban untuknya yang tidak boleh disia-siakan.

Kyuhyun mendesah. Sebelum malam semakin larut, dia memang harus benar-benar menemui perempuan itu.

Sekali lagi, dia memantikkan api pada lintingan rokoknya untuk menemani perjalanan pulang.

Namun baru saja hendak membuka pintu si Jaguar, tatkala sebuah ingatan yang sempat terlupa kini kembali melintas dalam benaknya. Masih dengan alis yang mengerut, Kyuhyun melempar pandang pada tempatnya berdiri sekarang. Tak lama, raut terkejut menggantikan kebingungan tersebut.

Bukankah… tidak jauh dibelakang gedung pertokoan kosong ini ada sebuah pemukiman kumuh?

Kyuhyun masih ingat saat dia mengantarkan gadis kecil bernama Lee Sarang itu.

Jadi, lokasi yang akan dibangun menjadi sebuah apartemen lengkap dengan departemen store oleh kliennya adalah daerah yang menjadi tempat tinggal perempuan itu?

Kepalanya Kyuhyun mendadak pening. Ini tidak benar. Jika pemukiman itu turut dibumi-hanguskan, dimana Sena dan putrinya itu akan tinggal?

Sesuatu didalam dirinya ingin menolak dan berkata ini salah, tetapi iblisnya berkata, ‘peduli apa? memangnya dia siapa? ini proyekmu, Cho Kyuhyun, kau harus professional.’

Dan belum rampung dia berdebat dengan dirinya sendiri, sebuah suara gaduh mengacaukan pikirannya, lagi.

.

.

.

Sarang terhenti. Nafasnya bergerak tak teratur ketika kakinya sudah mulai menjerit lelah. Sedang tubuhnya, kini dia sandarkan pada tembok sebuah rumah kosong.

“Ibu… Sa-rang lelah… Ti-dak… kuat lagi… hh… hh…”

Sena yang juga memiliki nafas menderu tak teratur, menelan ludah. Kepalanya berputar pada arah mereka datang tadi. Lalu, jantungnya dibuat semakin berdetak tak karuan tatkala teriakan sarat amarah yang dilepaskan Haejin kembali terdengar oleh indranya, walau sayup-sayup.

“Apa kakimu sakit?” Dia berusaha setenang mungkin menyejajarkan tubuh mereka. Jujur, dia merasa begitu buruk saat ini. Bagaimana dia bisa melupakan kondisi gadis kecilnya?

Sarang mengangguk lesu. Bahkan bibirnya mengeluarkan ringisan.

“T-tapi—”

“Ibu pergilah cepat.”

Mata Sena membelalak. Apa maksudnya ini?

“Orang jahat itu mengincar ibu.” Sarang mengusap peluh yang ada di dahi Sena, meskipun dirinya sendiri sudah sangat kelelahan. “Sarang akan disini, bersembunyi dibalik tong sampah itu. Ibu pergilah.”

Sena menggulirkan irisnya pada tong sampah yang terletak disamping gang tikus. Hatinya mencelos. Dia tidak mungkin meninggalkan putrinya sendirian di tempat seperti ini.

“Sarang janji akan baik-baik saja. Kumohon, cepatlah pergi.”

“B-bagaimana mungk—”

“Ibu percaya ‘kan pada Sarang?”

Sena menelan ludah lagi. Bimbang menguasai hatinya kini. Disatu sisi dia takut pria bejat itu menemukan dirinya, tetapi disisi lain dia juga tak mungkin memaksa Sarang untuk terus berlari.

Dia tak mengerti mengapa malam yang dia pikir bisa dia habiskan baik-baik saja bersama Sarang harus berakhir seperti ini. Seolah masalah yang selalu datang padanya tak ada habisnya. Baru beberapa hari lalu dia terjebak dalam situasi tak menyenangkan bersama Cho Kyuhyun, lalu kini… dia harus bertemu dengan seseorang yang mirip sekali dengan psikopat.

Air mata itu bergulir.

“Sarang—”

“Ya! Jalang brengsek! Aku akan menemukanmu!”

Keduanya sama-sama membelalakan mata. Panik semakin melanda. Mereka harus cepat. Tidak, dia harus cepat jika sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi. Tetapi Sarang…

“Sarang akan menunggu ibu. Sarang akan meminta bantuan kakek Han atau Bibi Goo. Jadi ibu tidak perlu cemas. Sebelum orang jahat itu datang, ibu lekaslah pergi. Hm?”

Sena meloloskan isaknya yang setengah mati dia tahan. Pilu. Dia mengecup berulang kali kepalan tangan Sarang. Ada rasa tak rela meninggalkan gadis ini sendiri. Ini pertama kalinya dia berada dalam posisi sulit yang melibatkan Sarang. Dan rasanya sangat tidak karuan.

“Berjanjilah untuk baik-baik saja.”

Sarang mengangguk, lalu memutuskan untuk segera bersembunyi di balik tempat sampah. Dia membuat gerakan untuk mengusir Sena menjauh dari sana saat perempuan itu masih berdiam diri.

“Cepatlah…” bisiknya.

Walau hatinya terasa sangat berat meninggalkan Sarang sendiri ditempat sempit dan gelap seperti ini, tetapi Sena juga harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dirinya. Untuk menyelamatkan mereka. Maka, setelah meyakinkan diri bahwa Sarang akan baik-baik saja disana, sebelum Haejin semakin dekat pula dengannya, dia kembali berlari.

Dia tidak peduli lagi dengan kakinya yang terluka lantaran tak memakai alas saat memutuskan untuk pergi tadi. Atau pakaiannya yang compang-camping mengingat sempat disobek oleh tangan laknat pria itu. Karena yang dia pikirkan saat ini adalah mencari perlindungan.

Malam yang semakin dingin tak menghambat kerja tungkainya untuk terus berlari menghindar dari bahaya—walau perlahan demi perlahan kaki itu menjerit lelah. Membuatnya jatuh bangun melawan arus.

Hingga sampai pada sebuah titik, tubuhnya kembali melimbung kala dirinya menabrak seseorang. Ringisan perih terlontar dari bibirnya yang bergetar. Ingin berdiri, namun urung saat nyeri kembali datang.

Sena berusaha menopang tubuhnya dengan kedua lutut dan telapak tangannya. Mencari-cari sesuatu yang bisa membantunya. Namun, semua gerakan itu terhenti saat suara itu mengalun…

“Sudah kubilang, aku akan menemukanmu, Manis…”

Deg.

Sena mendongakkan kepala. Dan senyum keparat itu kembali memenuhi pandangannya. Sekali lagi, dia merasakan jantungnya terjun bebas.

Tubuhnya semakin bergetar. Tidak mungkin. Dia yakin dia sudah berlari sangat jauh, bagaimana bisa bajingan itu menemukannya?

Dia melirik ke sekitar. Lalu hatinya dibuat mencelos ketika sadar dia berlari ke tempat yang salah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disini. Tidak ada yang bisa dia mintai perlindungan.

Tempatnya berada sekarang adalah deretan gedung pertokoan kosong yang sudah tidak dipakai lagi oleh para pemiliknya.

“Kau sudah tidak bisa kemana-mana lagi, Nuna.”

Kalimat itu terlantun layaknya sengatan listrik. Sena kembali menatap waspada pria dihadapannya. Air mata itu kemudian jatuh, mengkhianati keberaniannya. Sena takut, tentu saja.

“K-kumohon, jangan sakiti aku. Jangan lakukan ini padaku—” suaranya bergetar hebat.

Pria itu berjongkok didepannya. Membelai wajahnya selembut mungkin—yang justru semakin membuat tubuh Sena kehilangan kendalinya. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Dan berharap seseorang bisa menolongnya saat ini juga.

“Aku hanya ingin bermain-main sebentar denganmu. Tidak boleh, ya?”

Bisa dia dengar tawa Haejin menggema. Melukai harga dirinya.

“A-apa salahku? Kenapa kau berlaku seperti ini padaku? Kau tahu, perbuatanmu ini salah.”

Haejin mendengus. Senyum keparat hadir kembali di wajahnya. “Kau bertanya apa salahmu?” Perlahan, dia menuntun tangannya untuk bergerak halus pada surai hitam Sena. Menggenggamnya lembut, untuk kemudian menariknya ke belakang.

“Akhh…” Sena memekik kesakitan.

Wajah Haejin berubah menjadi bengis. Tatapannya menajam. Pria itu kemudian berkata, “Gara-gara kau, aku harus mendekam dibalik jeruji. Dan membuat semua rencana hidupku berantakan, kau tahu. Dasar jalang!”

PLAKK

Haejin melakukannya dengan sangat baik. Hingga Sena bisa merasakan denyutan panas serta perih dan rasa asin dari darah yang ada di sudut bibirnya.

“Bukankah kau memang pantas mendapatkannya?” Sena tahu dia sama saja mencari mati dengan mengatakan kalimat tersebut. Terbukti dengan cengkraman tangan Haejin yang kian mengetat pada wajahnya.

Sakit.

Tetapi dia harus menahannya.

“Brengsek!”

Sekali lagi, pria itu melayangkan tamparannya. Kali ini lebih keras. Dia mencoba menguasai tubuh Sena lagi dengan mendorongnya hingga punggung ringkih itu menyentuh tanah.

“Lepass… hh…”

Sena menggigit bibirnya kuat-kuat saat tangannya berusaha menyingkirkan tangan Haejin yang ingin membuka roknya. Namun, tenaganya yang sudah mulai menipis ditambah dengan kekuatannya yang tak pernah sebanding dengan milik pria itu, membuatnya diserang frustasi berlebihan.

Dia tidak tahu akan menjadi seperti apa dirinya jika tidak bisa lolos dari si brengsek ini. Bagaimana cara Junghoon memandangnya nanti saat mengetahui bahwa perempuan yang masih berstatus istrinya telah disetubuhi oleh pria lain. Sena bahkan tidak bisa berpikir jernih ketika bayangan Junghoon yang semakin jijik padanya itu terlintas bagai lalat yang mengerubungi bangkai. 

Bagaimanapun, saat ini juga dia harus menyelamatkan dirinya. Harga dirinya.

Entah mendapat kekuatan darimana, ditengah-tengah kesibukan Haejin yang semakin membuatnya tersudut, dia berhasil mendorong pria itu menjauh. Membuat punggung lebarnya bertemu dengan seng yang sudah tidak terpakai lagi. Mencipta bunyi nyaring ditengah kesenyapan malam itu.

Prang!

“Akh!!! Perempuan sialan!” pekikannya menyusul kemudian.

Sena buru-buru menarik diri menjauh. Dia melempar benda apapun yang ada didekatnya untuk menghalau pergerakan Haejin, selagi tubuhnya sendiri bergerak gusar. Dan serampangan.

Dengan langkah tertatih, dia berlari lagi, mencoba menemukan jalan yang setidaknya ada sedikit keramaian disana.

Lima menit dia habiskan dengan baik-baik saja. Dia lolos.

Hanya tinggal sedikit lagi dia membelokkan tubuhnya pada sebuah jalan terang yang akan mengantarkannya mencari pertolongan, saat sebuah tangan kembali menarik bahunya. Dan belum sempat dia mengondisikan kakinya yang terkilir, sebuah tarikan pada rambutnya lagi-lagi dia rasakan. Disusul tamparan keras dua kali yang membuat kepalanya semakin pening.

“Jalang brengsek!”

Kini, bukan lagi nafsu birahi yang menguasai Haejin. Melainkan hasrat ingin menganiaya perempuan itulah yang mendominasi. Emosinya sudah terpancing saat Sena berani menantang kata-katanya, dan semakin terpancing saat perempuan itu kembali melukai tubuhnya.

“Jalang sepertimu memang seharusnya tidak perlu dikasihani! Sialan!” Dia menjambak rambut Sena—yang sudah mulai kusut itu—sekali lagi. Meniti wajah kesakitannya yang sedikit banyak membuatnya terhibur. Dan puas.

Sebelah tangannya, dia gunakan untuk memojokkan bahu Sena pada tembok agar ruang gerak perempuan itu semakin sempit.

Mata tajamnya kemudian turun, melihat gemetar bibir Sena yang merintih dan sedikit terbuka. Senyum licik kemudian muncul dia wajahnya, sebelum dia memutuskan untuk melumat material lembut itu dengan cara yang kasar.

“Hmph… Leph—Hmmph… Aakh—”

Sena menangis. Bibirnya terasa perih akibat gigitan tak manusiawi yang Haejin layangkan. Matanya tertutup rapat-rapat. Berusaha sekuat mungkin melepaskan pertautan itu.

Tuhan, tidak adakah yang bisa menolongnya kali ini?

Tubuhnya sudah lelah. Energinya sudah banyak terbuang. Dan kakinya sudah menjerit kesakitan. Dia tidak mampu lagi melarikan diri.

Haruskah dia melalui malam dingin ini dengan cara yang tidak lazim?

Haruskah dia mengulang mimpi buruknya?

Semangatnya sudah berada diujung. Dia sudah akan menyerah pada nasibnya kali ini, seperti yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu, ketika kemudian dia mendengar sebuah dentuman keras. Seperti bunyi tubuh yang terbanting ke atas tanah.

Isaknya terdengar semakin pilu.

Tetapi dia tidak merasakan apa-apa. Dia tidak tahu itu bunyi apa. Dia takut untuk membuka mata. Dia tidak ingin.

.

.

.

Kyuhyun tidak tahu apa yang membuat kakinya terus bergerak melangkah mencari asal suara gaduh itu. Saat dikeadaan lain, pikirannya justru menyuruhnya untuk segera berbalik pergi dan mengemudikan Jaguarnya. Bertemu dengan pemilik wajah yang sudah menghilang dari pandangannya akhir-akhir ini.

Urusan pentingnya. Alisa.

Entah karena rasa penasarannya yang tingggi. Atau saat tiba-tiba perasaannya berubah tak nyaman. Kyuhyun tidak tahu.

Dia hanya mengikuti naluri.

Tiba disebuah jalan kecil yang gelap dan kosong disamping gedung pertokoan tadi, intuisinya dibuat berkelana. Dia yakin kegaduhan tadi berasal dari sini. Dari suaranya yang bergema nyaring, seperti tubrukan antara benda berat dan benda yang terbuat dari logam, Kyuhyun yakin itu bukanlah suara yang hanya disebabkan oleh kucing liar. Atau parahnya tikus.

Sesuatu itu pastinya lebih besar dibanding kedua hewan tersebut.

Dia masih mengedarkan matanya untuk mencari tahu, saat kemudian kedua retinanya menangkap siluet tubuh seorang pria yang sedang berlari, berbelok ke arah gang lain.

Kyuhyun melipat bibirnya ke dalam. Dia sebenarnya tidak ingin berurusan dengan hal yang seperti ini. Toh memang ini bukan urusannya. Tetapi, kecurigaan justru semakin memerangkap otaknya yang cerdas. Dilihat dari cara berlarinya pria tadi, pasti ada yang tidak beres. Pria itu seperti mengejar sesuatu atau mungkin seseorang.

Lagipula sejak menghentikan mobilnya didepan pertokoan kosong ini, dan menghabiskan satu lintingan rokok, Kyuhyuntidak melihat seorang pun berlalu lalang. Jika benar ada seseorang yang berlari seperti itu di daerah sepi begini, maka kecurigaannya berdasar.

Menimbang selama berbelas-belas detik. Menghembuskan nafas panjang. Akhirnya dia memutuskan untuk terus maju. Rasa penasarannya tidak akan bisa hilang jika dia tidak segera mencari tahu.

Dengan kaki panjangnya, Kyuhyun menyusuri gang-gang sempit itu. Memasang telinga baik-baik, mengantisipasi suara gaduh yang mungkin saja akan datang lagi.

Dia kemudian membelokkan langkahnya searah dengan menghilangnya siluet pria tadi. Berjalan perlahan demi perlahan, dan semakin perlahan saat mendengar suara gemerisik dan… rintihan?

Kyuhyun berhenti sejenak, menimbang lagi; apakah dia harus melanjutkannya atau tidak?

Desahan lolos keluar dari mulutnya kemudian. Dia seperti penguntit saja.

Tetapi, saat sadar suara itu tidak jauh darinya dan merasa bahwa tempat berdirinya sekarang tidak akan diketahui oleh siapapun, Kyuhyun pun memutuskan untuk mengintip. Setidaknya rasa penasarannya terbayar.

Anggap saja dia konyol. Tetapi sesuatu yang mengusik ditelinganya itu tidak terdengar konyol.

Kyuhyun merapatkan tubuhnya lagi pada dinding. Memiringkan kepalanya sedikit untuk sekadar melihat apa yang terjadi didepan sana.

Berselang tiga detik, alisnya dibuat mengerut. Matanya menatap malas. Disusul dengan dengusan sebal yang dia keluarkan. Kyuhyun menggeleng melihat adegan yang tersaji didepannya. Walaupun pencahayaannya remang—bahkan cenderung gelap—tetapi melalui gerakan tubuh pun semua orang bisa tahu apa yang terjadi didepan sana.

“Bajingan gila.” Desisnya jijik.

Kyuhyun memang tak pernah menganggap dirinya lebih baik. Dia sadar bahwa dirinya pun pria brengsek. Yang suka bergonta-ganti teman seks. Tetapi memaksa perempuan untuk melayani nafsunya, seperti yang dilakukan pria lain didepan sana, adalah hal yang sangat ditentangnya. Jelas itu bukan gayanya.

Karena itu sama saja dengan tindakan pemerkosaan.

Merasa bahwa ini bukanlah urusan yang penting, mengingat dia tidak terlalu peduli pada kaum wanita—kecuali tiga nama saja—Kyuhyun memutuskan untuk pergi. Namun baru selangkah dia ambil, langkahnya terhenti.

“Hmph… Lepha—hmmph… Aakh—”

Deg.

Kyuhyun seperti mengenal pemilik suara itu.

Untuk alasan yang tidak dia mengerti, debaran jantungnya berdetak lebih cepat. Panas menjalar pada kedua matanya. Dan nafasnya—mulai terenggut oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Suara itu… bukan miliknya ‘kan?

Sedikit takut, Kyuhyun menoleh lagi pada dua siluet yang berjarak 50 meter didepannya. Memfokuskan retinanya hanya pada si wanita. Dan benar saja, didetik dia mengetahuinya, didetik itu pula nyawanya seolah tercabut. Tergantikan oleh amarah yang menguasai.

Mata elangnya yang semula menatap nanar, bertransformasi menjadi lebih tajam. Rahangnya ikut mengetat erat. Kyuhyun menggertakan giginya rapat saat melihat Sena berdiri tak berdaya didepan sana dengan tangis mengisak pilu.

Nyeri itu kembali datang. Menampar telak kesadarannya.

Disertai dengan panas yang menjalar pada seluruh tubuhnya, tanpa menunggu lebih lama lagi, Kyuhyun melangkahkan kedua kakinya lebar-lebar. Cepat dan gegap. Kedua tangannya dia kepalkan di masing-masing tubuh. Menahan emosi yang bergejolak. Hingga…

Bugh!

Satu tendangan terayun keras, menjatuhkan lawannya. Lalu seolah tidak peduli pada ringisan nyeri yang keluar dari si brengsek, pukulan telak Kyuhyun menghantam wajah itu berkali-kali tanpa ampun.

“Brengsek!” teriaknya.

Dia meraih jaket yang dikenakan pemuda tersebut sebelum sekali lagi menendangnya. Nafasnya memburu dan matanya mulai memerah. Anggap saja dia seperti babi hutan yang mengamuk, toh dia tidak peduli. Karena saat ini, yang dia inginkan adalah menghabisi pria yang sudah kurang ajar melecehkan Sena-nya. 

“Apa yang kau lakukan, hah?!” Kyuhyun menginjak perut Haejin tanpa rasa iba. Apatis pada akibat yang terjadi setelahnya.

“AAKH!!!”

Haejin bisa merasakan sakit luar bisa yang menghantam abdomennya. Seolah seluruh organ yang berada didalam sana keluar secara suka rela.

Semakin tak berdaya tubuhnya dibuat, semakin menjadi-jadi amukan itu Kyuhyun layangkan padanya. Mata pria itu bahkan sudah memerah sepenuhnya. Bukan hanya karena dikuasai oleh amarah, melainkan sebuah likuid asin yang tiba-tiba menyerang kerja fokusnya. Yang sebisa mungkin dia simpan dalam-dalam agar tak terjatuh.

Sena dilecehkan hingga tak berdaya seperti itu, apa yang lebih buruk baginya? Kyuhyun bahkan bisa melihat darah kering disudut bibirnya. Atau bekas tamparan yang tercetak dikedua pipinya.

Hati Kyuhyun mencelos. Tubuhnya semakin memanas.

“Bajingan sialan!” Kyuhyun menjambak rambut pemuda itu. Membawanya berdiri dibahwah titahnya. Lantas mencekiknya semampu yang dia bisa.

“Uhuk… A—akh… K-kumohon, lepa—ssh… kan-uhuk—”

Kyuhyun kian mengetatkan cekikannya, sebelum kemudian melempar kembali tubuh itu ke atas tanah saat isakan Sena menyapa indranya.

Dia terdiam. Seperti ada sesuatu yang menahannya. Membuatnya membeku dengan nafas tak beraturan.

Setelah emosi dalam dirinya mereda, tidak lagi mendominasi, Kyuhyun membawa dirinya mendekat pada perempuan itu. Membungkukkan tubuhnya agar bisa meneliti wajahnya baik-baik.

Dan seperti luka basah yang ditaburi oleh garam, hati Kyuhyun kembali merasakan sakitnya saat melihat kondisi perempuan itu ternyata jauh dari kata baik-baik saja. Selain sudut bibirnya yang berdarah dan kedua pipinya yang memerah, tubuhnya kini bergetar. Entah karena malam yang semakin dingin sementara pakaiannya sobek di beberapa tempat atau karena rasa takutnya yang belum menghilang. Telapak kakinya pun tak jauh berbeda, ada banyak luka dan darah disana.

Kyuhyun tak peduli lagi pada pemuda yang jatuh terkapar itu, fokusnya kini beralih pada Sena sepenuhnya. Dia ingin menolong perempuan ini—dengan sisa rasa percaya dirinya.

Sedikit ragu, Kyuhyun mengulurkan tangannya pada surai hitam milik Sena. Namun baru saja—hanya—menyentuh, jeritan Sena mengundang nyerinya.

“Jangan sentuh aku! K-kumohon, j-jangan…”

Dia mengepalkan tangannya di udara, meredam rasa ingin membunuh pria yang telah berbuat sebegini buruknya pada Sena.

“Ini aku—” ucapnya lirih. Sekali lagi dia mencoba, sekali lagi pula Sena menjerit. Bahkan tubuh gemetarnya meringkuk lebih dalam.

“J-jangan paksa aku, kumohon… Berhenti…”

Mata Kyuhyun memerih. Nyatanya, gumpalan air asin yang ditahannya itu jatuh, tak kuasa melawan gravitasi.

Dia menarik nafas dalam. Melepas sesak yang mengikat kuat paru-parunya.

“Sena—”

“Pergi…”

“Sena, buka matamu.”

“Tidak!” Perempuan itu menggeleng.

“Buka matamu dan lihat aku.”

Dia kembali menggeleng.

Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus membawa Sena pergi darisini. Malam semakin dingin sementara…

Sekali lagi, Kyuhyun mencoba peruntungan dengan menyentuh kedua bahunya. Namun teriakan Sena justru semakin keras. Perempuan itu bahkan menggunakan kakinya agar Kyuhyun menjauh.

“Lepaaass!!!”

Tetapi Kyuhyun tidak akan menyerah. Tenaganya masih utuh walau tadi sempat digunakan untuk membuat orang lain terkapar.

“Sena, buka matamu!”

“Tidak!! Lepaskan aku! Lepaaass…”

“Sena! Berhenti memberontak!” bentaknya kemudian. Kyuhyun tahu, tubuh itu pasti sudah terlalu lelah saat ini. Jadi tidak perlu ditambah dengan adanya perlawanan lagi untuk membuatnya semakin lelah.

“Aku tidak mau! Pergiiii!”

“Buka matamu dulu, kumohon! Hei, ini aku!”

Perempuan itu terisak. “Pergi! Jangan lakukan ini padaku… J-jang—“

“Ini aku, Cho Kyuhyun!” finalnya kemudian seraya mencengkram dagu tersebut. Memaksa wajah itu untuk melihat kearahnya. “Lihat aku. Buka matamu.”

Dan… berhasil.

Sena bersikap kooperatif kali ini. Bahkan kedua matanya yang memerah dipenuhi likuid duka, perlahan-lahan membelalak lebar.

Hening tercipta.

Kyuhyun terpaku dan tidak tahu harus melakukan apa.

Ini pertama kalinya mereka berada dalam jarak sedekat ini dengan mata sama-sama terbuka, setelah bertahun-tahun lamanya. Nafas Sena yang tidak beraturan menerpa wajahnya kuat. Menghantarkan gelenyar aneh bagi dirinya.

“O-oppa.” Lirih perempuan itu.

Namun Kyuhyun tetap diam. Yang dia lakukan hanya memaku iris coklat miliknya. Sampai kemudian telinganya mendengar isak tangis itu lagi.

Sena menggeleng kuat. Memegang kedua lengannya erat.

Kyuhyun mengerutkan alis bingung. “Sena, ada ap—”

“Kumohon, jangan lakukan ini padaku. J-jangan… Apa yang kau lihat… kau harus mendengarkan penjelasanku…”

“Sena, apa maksudmu? Hei, tenang—”

“Ini tidak benar, Oppa. Percaya padaku. Jangan lakukan ini… Berhenti…”

“Ap—”

“Kumohon, berhenti…”

Deg.

Kyuhyun tahu dialog ini. Dia ingat. Apa Sena…?

Hatinya kembali mencelos.

“Se—”

“Jangan. Ber… henti… Kumoh—”

Sena tahu dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat rasa pening luar biasa menghantam kepalanya, lagi. Ditambah dengan malam dingin yang juga ikut serta menyengat tubuh ringkihnya.

Hal terakhir yang dia dengar saat semuanya berangsur menjadi gelap adalah umpatan Kyuhyun yang sarat akan kepanikan.

“Sialan! Buka matamu!”

—tbc

Advertisements

90 thoughts on “Intemporel – 6 (A)

  1. Dari pertama sampai sekarang tiap baca ceritanya berasa tegang. emosi ngumpul jadi satu. apalagi kalau ngelihat sarang bawaannya pengen nangis. beneran penasaran, kenapa mereka bisa pisah? kenapa sena bisa menikah dengan junghoon? dan sarang anak siapa? kyuhyun datang disaat yang tepat. setidaknya kyuhyun tau kondisi sena yang benar2 memprihatinkan. emosi sena yang selama ini dia pendam. ditunggu kelanjutannya kak.

    Like

  2. Cute moment waktu kyuhyun nemuin sena cccciieer
    Aku sangat suka bagian itu
    Please update kelanjutan nya di percepat ya
    Sedih banget nie cerita
    Dan maaf baru komen soal nya baru buka blog
    Please ….please kelanjutan kalu bisa besok ya…yayaya
    Makasih

    Like

  3. Klw nggak salah ya, kayany Sena punya cerita yg sama dgn ke jadian ini ya…
    Dan Kyuhyun ngeliat kejadianny, dan salah paham trus ninggalin Sena….
    Trus itu jgn2 Sarang anak org yg udh ngelecehin Sena dulu….

    Uhhh 😂😂😂😂😂
    Mewek asli, semoga dgn kejdian ini Kyuhyun bisa lebih baik lg ke Sena…
    Kasian Sena, harus di benci sampai sebegitunya, karna perbuatan org lain….

    Like

  4. aku penasaran sebenarnya ada apa dengan Sena dan Kyuhyun sampai Kyuhyun bisa benci banget sama dia? Dan juga ayahnya Sarang yg sekarang, aku pengen tau kisah rumit antara mereka.
    Itu adegan menegangkan sekali, kasihan sena Takutnya nanti dia jadi trauma. Dan kalau Sena dibawa sama Kyuhyun terus Sarang gimana coba? Terus pengen tau kisah Sena Kyuhyun sebelum pisah. Dan pengen ngerti sebenarnya perasaan Kyuhyun ke Alisa seperti apa.
    next story ditunggu😊 fighting^^

    Liked by 1 person

  5. makin kesini makin kasian ama sena,,gabisa ngebayangin kalo jadi sena, punya suami tapi suaminya gapernah ada buat dia, ngurus sarang sendirian,kerja banting tulang 😭😭

    masih banyak misteri yg belum terkuak antara sena-kyuhyun, apakah kyuhyun benar” ayah biologis dari sarang? dan apa yg terjadi sama sena saat ini adalah hal yg pernah terjadi juga 8 tahun yg lalu sehingga membuat sena trauma?

    jempol deh buat authornya,bisa bikin readers nebak” sendiri,, hwaiting yaa 😀😀

    Liked by 1 person

  6. makin kesini kok makin gc tega ama sena … kasian Hidupnya … Ngurus anak punya suami yang gc tau diri dan keterlauannya yang super -_- dan yang lebih greget lagi itu kyuhyun sena Sarang menyimpan mistery banget duh gc sabar nunggu kelanjutannya … semangat untuk kelanjutannya

    Like

  7. Jadi si sena dulu pernah diperkosa atau hampir(?) dan kyuhyun salah paham. trus kejadiannya terulang lagi.geeezzz makin penasaran si sarang itu anaknya siapa(????)

    Like

  8. “tidak terlalu peduli pada kaum wanita—kecuali tiga nama saja..” siapa aja tu?
    ga nyangka adegan sena – haejin bakal segitu jauhnya, ngebayanginnya miris bner jd sena😢😢

    Like

  9. Kasihan liat hidup sena yang selalu menderita, sebenarnya dia salah apa sehingga orang2 berbuat seperti itu padanya, kyuhyun sebenarnya masih mencintai sena walaupun dia berusaha melupakan sena dan membenci sena tapi nyatanya cinta itu masih sama seperti dulu

    Like

  10. Aku udah rada lupa juga, tapi masih bisa nyambung dg chapter ini. Sera separah ini kehidupan dia. Ya, awas aja kalo abis ini kyuhyun malah menjauh dr Sera. Dan, Sarang gimana dia?
    Tetep di lanjut ya, kak.

    Like

  11. Sempet lupa ama jln ceritanya😭😭😭….mungkinkah itu trauma sena di masalalu yg ada hubungnnya ama kyu??? Mungkinkah penyebab kyu membenci sena karna dia salah paham dgn kejadian yg tidak diinginkan😭😭😭huaaaaa g sabar buat part selanjutnya….

    Like

  12. Cerita yang aku tunggu2 bgt, OMG ga sabar buat baca selanjutnya, semakin tambah part semakin penasaraaan akan masalalu mereka yg awalnya sweet kenapa jadi jauh kaya sekarang, terus sena dulu knp, aaaah tambah penasaran dari awal udah tagang pas baca, di tinggu bgt chingu kelanjutannya 😊😊

    Like

  13. Sebenrnya kenape ini sena ?? Kenapa kyuhyun ? Siapa ayah biologisnya sarang ? Keterkaitan donghae sm mereka be2 apa ???
    Tulung tuluuung mak….

    Harap segera diperjelas …hehehehe
    Sekarat krna penasaran niiih ….

    Btw thanksssss !

    Like

  14. Aku kok nangis ya bacanya ?? Kok ini sedih nya si sarang kasian banget.. anak sekecil itu harus melihat ibunya di lecehkan.. ayo kita berantas para kurang ajar itu.

    Ini akhirnya dipost juga ff nya.. udah lama juga ya author gak muncul in ff ini..

    Liked by 1 person

  15. Nyesek banget bacanya 😭 apalagi pas sena dikejar” sma heejin jd greget sendiri berharap kyuhyun cepet nolongin sena 😔
    Jadi penasaran sm part yg terakhir. Apa lg sm dialog yg kyuhyun inget. Apa jangan” karna dialog itu kyuhyun benci sena?.. Huhuhu jadi penasaran sm cerita selanjutnya😂
    Ditunggu yaa kak next chapternya.. Semangat kak nulisnya 💪💪😉

    Like

  16. sena kenapa?sedih bngt baca ff ini ga tega liat kehidupan nya sena sama sarang smga dgn kejadian ini kyuhyun mau maapin sena dan mrka sama sma lgi kyk dlu. semangat terus lanjutin ff nya kak ^^

    Like

  17. Pingback: Intemporel – 6 (B) | DREAM & ENDLESS

  18. Sebenarnya siapa laki-laki itu kenapa sih dia jahat sama Sena, terus kenapa Sena gak cerai saja buat apa mempertahankan suami seperti itu, kl emang rumahnya gak mau di tempati berikan saja sama Sena dan sarang

    Like

  19. daeri awal baca ff ini tuh selalu dibikin deg deg an….setelah menanti ceritanya makin seru dan bikin penasaran… terima kasih sudah memberi kesempatan untuk baca kelanjutan ff ini… semoga tetap semangat ya untuk menulis ^___^

    Like

  20. ya ampuun…ga bisa ngomong deh, deg2an , nangis juga ..aduuhh..kapan penderitaan sena dan sarang berakhir.. aduh pengen najong tuh sih jung itu..trus di bagian akhir ..apakah sena pernah mengalami pemerkosaan sebelumnya? ko kaya yang trauma gitu?
    bikin penasaran asli..

    Like

  21. setelah kemaren baca yg part B dan sekarang baru baca yg A. ternyata masa lalu sena bikin sedih. apa jangan2 sena pernah di perk**a kah? dialognya mengarah kesitu

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s