Intemporel – 6 (B)

tumblr_omaume2WKi1spqhdqo2_1280

How much I can hurt because of you?

My days are struggle…

C A S T

CHO KYUHYUN ¤ LEE SENA

LEE DONGHAE

R A T E:

PG-17 | Mature Content

AU | Multi-Chaptered

G E N R E:

Romance, Hurt, Drama, Family

R E L A T E D  S T O R Y:

Love is Punishment (A)

N O W [P L A Y I N G]

LOVE IS PUNISHMENT


“Hyung… apa… yang harus kulakukan?”

Donghae berlari.

Berawal dari lima padanan kata terpatah-patah sekaligus lirih yang didengarnya melalui ponsel, dia kini menggerakan dua tungkainya secepat mungkin. Memilih menyingkir sejenak dari keriuhan malam yang menjadi dunianya. Bahkan tak sempat menghiraukan teriakan Hyukjae yang memanggil namanya berulang kali lantaran terkejut melihatnya tiba-tiba pergi seperti dikejar oleh malaikat maut.

Yang dia ingat, selepas mendengar suara itu, otaknya tak bisa bekerja lagi selain memerintahkan kakinya untuk lekas pergi. Sistem komputer lunaknya sudah disabotase oleh kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dia sendiri pun tidak tahu itu apa. Dia hanya ingin segera menemuinya. Tidak ada waktu baginya untuk tetap berdiam diri sementara panggilan tersebut—terdengar sangat—membutuhkannya.

Kalimat itu, dia sudah pernah mendengarnya delapan tahun lalu. Terlontar dari mulut yang sama. Dan dengan intonasi yang sama.

Pedih.

Bukan dia ingin mendahului kuasa Tuhan dengan mengorek kisah apa yang terjadi dibalik punggungnya saat ini. Tetapi sudah mengenal sangat baik pemilik suara itulah yang mengantarkannya pada satu premis. Hingga kalimat sarat pertolonganlah yang bisa dia tangkap selanjutnya.

Satu kali dalam hidupnya, hanya ada satu nama yang mampu membuat Cho Kyuhyun kepalang tidak berdaya.

Dan dia yakin, kali ini pun disebabkan oleh hal yang sama. Satu nama itu yang melibatkan Kyuhyun harus berakhir menghubunginya.

Jarak yang hanya sepelemparan batu, kini menjadi terasa begitu panjang saat intuisinya semakin dipenuhi oleh pikiran berkecamuk tak tertolong. Dia ingin segera menemui Kyuhyun. Menanyakan apa yang telah terjadi. Dan apa yang telah dia lewatkan, sekali lagi.

Barulah sekitar lima belas menit bergelung didalam mobil, berusaha sekeras mungkin terhindar dari keramaian jalan utama di pusat kota, kini seluruh tubuhnya dibuat berhenti bekerja. Hanya dada bidangnya saja yang bergerak naik turun kehabisan nafas. Pun tidak lupa dengan kedua tungkainya yang bergetar lantaran lelah dipaksa berlari.

Tubuhnya mengkaku diambang pintu, sedang matanya membelalak tak percaya. Nanar.

Disana, di atas ranjang yang berada di salah satu kamar penthouse miliknya, terdapat satu sosok yang terbaring lemah. Sangat rapuh meskipun sedang terpejam, seolah tak ada lagi nyawa didalamnya.

Melalui kedua mata telanjangnya, Donghae bisa melihat ada banyak luka di wajah rupawan itu. Bahkan tulang pipinya terlihat membiru, seperti baru saja terkena pukulan keras oleh tangan tak manusiawi. Dahinya lecet dan bibirnya mengering seiring darah yang berada disudutnya meninggalkan bekas.

Donghae menelan ludah. Berat. Perih menyerang kedua matanya. Hentakan keras pun tak ikut ketinggalan untuk menghujam dadanya yang belum sempat membaik.

Apa yang terjadi? Hanya itulah pertanyaan yang menguasai otak cerdasnya kini. Bagaikan idiot yang tidak tahu apa-apa.

Sungguh, terakhir kali dia bertemu dengannya, dia sudah meyakinkan diri bahwa perempuan itu baik-baik saja—dalam jangkauannya. Dia sudah menjanjikan hal itu. Dan dia tidak akan membiarkan Cho Kyuhyun untuk melukai sekali lagi hatinya yang—mungkin—masih berdarah. Tetapi mengapa sekarang wajah itu datang, menyapa lagi dirinya, dengan kondisi yang seperti ini?

Bibirnya bergetar rapat. Tak mampu memilah kata. Menolak untuk percaya bahwa sosok yang terbaring itu adalah seseorang yang sangat ingin dia jaga.

Donghae menghela nafas. Menit-menit dia habiskan hanya untuk memandanginya. Menikmati setiap rasa sakit yang dia bayangkan saat perempuan itu menerima luka-luka tersebut. Mencoba meresapinya dalam-dalam. Barulah setelah merasa tidak mampu lagi, matanya dia gulirkan pada sosok gegap yang berada di dalam kamar itu pula. Sedang berdiri menghadap luar jendela. Diam membisu dengan salah satu tangan yang berada disaku celana. Sementara tangan lainnya sibuk mencengkram erat gorden tak besalah. Bukti bahwa ada sejumput amarah terpendam yang sosok itu tahan didalam sana, yakinnya.

Menarik nafas dalam sekali lagi, mengusir gemuruh yang meraung, Donghae pun melewati pintu kamar tersebut dengan langkah kaki perlahan. Dia ingin melihat kondisinya lebih dekat. Menghapus jarak yang terentang diantara mereka.

Langkah itu terhenti tepat saat emosi datang menyambutnya. Diam-diam menyelinap masuk ke dalam rongga dada tatakala wajah Sena sudah sepenuhnya hadir didepan kedua bola mata. Menggantikan sesak yang menghujam.

Dia, mungkin, sama seperti Kyuhyun. Hanya bisa menahan amarah saat mengetahui bahwa perempuan itu jauh dari kata baik-baik saja. Sangat jauh.

Tuhan, Keparat seperti apa yang berani melukainya separah ini?

Menyimpan sejenak pertanyaan itu dalam intuisinya, Donghae pun memilih mendudukan diri di kursi kosong yang ada disamping tempat tidur—yang dia yakini sebelumnya telah ditempati oleh seorang dokter yang datang untuk memeriksanya.

Lalu tangan itu terulur, meraih jemari Sena yang terasa dingin. Kemudian menggenggamnya erat.

“Apa yang terjadi—padanya?” tanyanya lirih.

Kyuhyun memejamkan mata. Tangannya semakin mencengkram erat kain yang berada didalam genggamannya.  Garis wajahnya pun ditekan keras-keras untuk meredam rasa sakit yang kembali menggaung. Kilasan memori beberapa saat lalu yang berpadu pada kejadian masa lalu kembali memenuhi pandangannya. Menyiksanya dengan cara yang paling indah.

Ada geraman yang dia tahan dalam diam. Agar hanya dia sendiri yang bisa menikmatinya.

Pilu itu kembali datang saat kenyataan justru menamparnya telak. Percayalah, dosa bajingan itu tak seberapa jika dibandingkan dengan dosanya dimasa lalu. Keinginan untuk memberikan balasan yang setimpal dengan rasa sakit dan hina yang diterima oleh perempuan itu bahkan akan breakhir sia-sia jika membunuh monster dalam dirinya pun dia tidak mampu.

Dulu, dia lebih dari ini. Cho Kyuhyun, melakukannya dengan cara yang paling baik. Menjadi seorang bajian dalam semalam, lantas menghancurkan segala yang telah mereka miliki bersama. Hingga mampu mencipta satu mimpi buruk yang enggan pergi.

Meski rasa sakit hatinya masih sama. Meski memaafkannya adalah hal yang tersulit. Tetapi penyesalan tetap akan selalu menyertainya, menggelayut erat dalam dadanya, terlebih jika mengingat kesalahan fatal yang telah dia lakukan. Lubang itu akan semakin menganga saat kesadaran membawanya lagi pada fakta bahwa kebiadabannya lah yang telah merenggut rajutan mimpi indah itu. Mengundang sebuah kebencian yang dia layangkan untuk seseorang yang seharusnya tidak dia benci. Karena sejatinya, dialah yang patut untuk dibenci. Entah kebencian dari dirinya sendiri ataupun orang lain.

Lalu kini, saat dirinya dihadapkan pada perkara yang sama, hatinya justru menolak untuk menerima. Rasanya ingin mencekik diri sendri. Dia seperti melihat monster berwujud dirinya didalam tubuh keparat itu. Amarah lain yang selama ini dia tekan dalam-dalam, yang dia jaga agar tak keluar, kembali muncul ke permukaan saat melihat bagaimana Sena dilecehkan dan disiksa seperti tadi.

Bukan hanya sekadar rasa tak rela dan emosi buruk yang menggerayanginya, tetapi perasaan amat bersalah lah yang mendominasi. Dan melihatnya sekali lagi lemah dalam kuasa iblis, itu sama saja dengan membuka inti luka yang disimpannya selama ini.

Dia tidak bisa melihat Sena-nya dihina seperti itu meskipun dia pernah melakukan hal yang sama. Dia tidak ingin mimpi buruk datang padanya lagi lalu membuatnya menyerah melawan takdir.

“—Kyuhyun, apa yang terjadi?”

Suara Donghae kembali mengalun. Pria itu bahkan sudah memberikan fokus penuhnya pada tubuh Kyuhyun yang mengkaku. Dia butuh kejelasan atas semua ini. Bagaimana Sena bisa berakhir dengan keadaan begitu buruk. Apa yang membuatnya dipertemukan kembali dengan Sena. Dan mengapa harus penthouse-nya yang menjadi tempat singgah sementara.

Donghae bukan tidak ingin Sena berada disini, mengisi salah satu kamarnya. Dan terlelap. Atau mungkin hilang kesadaran di atas tempat tidur miliknya. Hanya saja, ada banyak pilihan rumah sakit yang bisa merawat keadaannya saat ini karena dia yakin, luka-luka yang diterima perempuan itu, bukan luka yang hanya bisa diobati dalam sehari. Bahkan kini, di salah satu tangannya terdapat selang infus.  

“Aku mengerti sekarang… bagaimana rasanya menjadi kau.”

“Apa yang kau katakan?”

Donghae mengernyitkan alis. Dia jelas tak mengerti arah pembicaraan ini akan kemana. Dia hanya menginginkan sebuah konfirmasi; mengapa Sena berakhir disini dengan banyak luka di wajah serta tubuhnya. Itu saja.

Memutuskan untuk menunggu namun hanya berbalaskan kebisuan setelah puluhan detik berlalu, dia pun menghela nafas. Donghae kemudian mengangkat tubuhnya untuk berdiri disamping pria itu. Hanya saja, kata-kata yang sudah dia siapkan untuk terlontar, harus tertahan di tenggorokan tatkala dia terpana melihat genangan air memenuhi pelupuk mata Kyuhyun. Yang berusaha pria itu tekan kuat-kuat dengan memanipulasi wajah sekeras mungkin agar tak terjatuh.

Donghae ikut membisu sesaat, lantas berdeham. Mengalihkan pandangan. Menggunakan kedua netranya untuk menyusuri gemerlap lampu yang berada dibawah sana.

Sesuatu yang menggelegak menguasai tubuhnya saat ini.

Mungkinkah, yang terburuk terjadi, lagi?

Baiklah, saat mendengar suara Kyuhyun ditelepon tadi, dia memang sudah menyimpulkan ada sesuatu yang tidak beres. Dan dia tidak berusaha untuk mengelak hal itu. Namun saat mendapati wajah Kyuhyun tengah menahan kesakitan seorang diri seperti sekarang ini, Donghae pun dibuat mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menjadi saksi kejatuhannya, sekali lagi.

“Kyuhyun—”

“Keparat itu,” Kyuhyun menggulirkan matanya untuk menatap Donghae. Memerlihatkan betapa kencang rahang miliknya itu mengetat. “Dia hampir memerkosanya. Didepan kedua mataku…”

Jantung Donghae menghentak dengan irama cepat. Mulutnya terbuka sebesar jari kelingking. Matanya, menatap lagi sosok yang tengah berbaring. Tidak, dia tidak salah dengar bukan? Sena tidak mungkin mendapatkan perlakuan seperti itu lagi. Dan, bagaimana bisa semua yang dipikirkannya menjadi nyata begini?

Donghae mengerjapkan mata, menggeleng sebentar untuk sekadar menolak kabar tersebut. Membuangnya jauh-jauh dari sang indra.

Tetapi, semua itu terbantahkan saat Kyuhyun kembali melanjutkan kalimatnya. Memberikan sebuah cubitan kecil yang membuatnya memekik dalam diam.

“Aku melihat monster itu. Mengejekku dengan tingkahnya yang berada diluar kendali. Aku… aku ingin sekali membunuhnya… t-tapi—”

Tidak ada kata-kata yang bisa merampungkan. Kyuhyun jatuh tertunduk bersama arogansinya yang runtuh berceceran di atas lantai. Mulutnya terasa pahit. Tenggorokannya sakit. Dan air mata yang disimpannya dengan apik, kini telah lelah menahan gravitasi. Menghinakan egonya untuk terjun ke dasar lantai.

Sesak menyiksa kemudian.

Dia harus apa saat melupakan rasa sakit itu sulit, sementara penyesalan malah memperumit? Bagaimana caranya dia memaafkan saat Sena pun mengkhianatinya begitu dalam?

Donghae ikut terdiam. Sekali lagi, kesulitan memilah kata. Jujur, dia merutuki dirinya sendiri sekarang. Karena, semua ini berawal dari kesalahannya.

Jika saja saat itu dia tidak pernah mengajak Kyuhyun ke kelab untuk melupakan patah hatinya sejenak, mungkin mereka tidak akan dipertemukan pada kondisi rumit. Jika seandainya dulu dia mampu mencegahnya melakukan hal itu, dan dia berada disana, mungkin semua tidak akan seperti ini. Mungkin benang yang mengikat mereka tidak akan berakhir kusut. Kyuhyun tidak akan menjalani hari-harinya dengan cara yang paling menjijikan hanya untuk membalas rasa kecewanya. Dan Sena tidak akan bergelung pada kenyatan pahit setelah Kyuhyun lebih memilih pergi paska merenggut harga dirinya.

Tetapi semua bergerak di luar kendali. Sena justru ada disana, saat Kyuhyun masih menangisinya dalam diam. Saat hatinya masih terluka atas keputusannya yang sepihak. Lalu, seolah takdir tak kalah kejam dengan memisahkan mereka, iblis pun datang dengan membawa satu penawaran yang berujung mimpi buruk. Melenyapkan batasan yang seharusnya tidak Kyuhyun lalui.

“Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak melakukan apapun untuk membuatku cacat, padahal kau tahu, aku telah melukai gadis kesayanganmu itu, hng? Kenapa kau tidak sepertiku yang ingin sekali membunuh keparat itu?”

Donghae melipat bibirnya kedalam. Menahan desakan panas yang perlahan memenuhi dua kelopak matanya. Pilu pun ikut menyerang tenggorokannya, seperti ada sesuatu yang mengganjal disana.

Mendengar rentetan pertanyaan Kyuhyun itu, rasanya dia ingin sekali memaksa Sena untuk membuka matanya saat ini juga dan melihat bagaimana pria itu kesulitan; dilemma atas perasaannya sendiri. Donghae ingin Sena tahu bahwa Kyuhyun masih mencintainya, meski benci mengiringi. Dia ingin perempuan itu paham pada kondisi Kyuhyun yang sebenar-benarnya, bukan yang hanya terlihat oleh mata dan didengar oleh telinga.

“Aku ingin, Kyuhyun.” Donghae menghela nafas dalam. Memakukan tatapannya pada netra kelam Kyuhyun yang memerah. “Aku ingin sekali menghukummu. Membuatmu menyesal seumur hidup. Sampai kau lupa caranya bernafas, karena hidupmu hanya akan disibukkan dengan menyalahkan diri sendiri. Tetapi aku tidak bisa—”

Kyuhyun tersenyum, masam. Tentu. Tanpa Donghae melakukannya pun dia sudah merasakannya. Tidak perlu ada hukuman tambahan untuk membuat hidupnya semakin dipenuhi penyesalan. Mungkin sepupunya itu sudah melihat betapa kacau hidupnya ini sehingga lebih memilih diam tanpa sekalipun mau menyinggung kesalahannya dulu. Mungk—

“Bukan karena aku kasihan padamu.” Donghae kembali berkonfrontasi. Namun matanya tak lagi fokus, hanya memandang jauh langit malam yang sejajar dengannya lewat jendela besar itu. “Tetapi karena aku tahu, aku lah yang bersalah disini.

“Kalau saja aku tidak membawamu ke tempat itu, mungkin kau tidak akan bertemu dengannya. Kau tidak akan merasa dikhianati begitu parah, Kyuhyun.”

Mata Kyuhyun memejam sekali lagi, meremas kepalan tangannya. Menghalau amukan yang bergejolak didalam tubuh. Apakah benar seperti itu? Dia tak pernah menyangka bahwa Donghae akan turut menyalahkan dirinya dalam permasalahan ini. Karena sejatinya pria itu hanya terdiam, menganggap semua yang telah terjadi di masa lalu tidak pernah ada.

“Dan kalau saja aku tidak pergi, aku tidak datang terlambat, mungkin aku bisa menyelamatkannya. Dari monster itu.” Pria berdada bidang tersebut menelan ludah, sekali lagi mengadukan pandangannya pada sosok rapuh yang berada disampingnya. “Aku juga bersalah disini, Kyuhyun. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik.”

.

.

.

Masih di malam yang sama, namun tempat berbeda, sesosok gadis kecil duduk meringkuk seorang diri didepan rumah. Di atas sebuah meja besar berkaki pendek itulah dia disana. Dengan kaki tertekuk, untuk kemudian dia peluk seerat mungkin demi menghalau dingin yang semakin merajuk.

Mata beningnya sudah lelah menangis. Yang tersisa kini hanya kebisuannya dalam menunggu. Berharap sebesar-besarnya bahwa orang yang dia nantikan sejak tadi lekas datang dan memeluk tubuh ringkihnya yang mendamba sebuah dekapan.

Setelah memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya, Sarang berlari ke arah rumah lagi, mencari sebuah pertolongan untuk menyelamatkan ibunya. Tetapi yang dia dapat hanyalah tangan kosong. Kakek Han tidak ada di rumahnya, dia lupa bahwa pria tua itu pergi mengunjungi rumah cucunya yang berada di Incheon. Sedang Bibi Goo, dia pun sama, tidak berada di rumah dan Sarang tidak tahu kemana perempuan itu pergi.

Ingin mengetuk rumah lain, tetapi Sarang tidak berani. Dia tidak terlalu mengenal mereka dan malam semakin larut. Dia tidak bisa menjamin apa yang akan dia katakan bisa membuat mereka percaya, lalu disinilah dia berakhir. Menunggu dan terus menunggu sosok itu datang.

Jika bukan karena kecacatan yang dimilikinya ini, mungkin mereka masih bisa bersama-sama sampai sekarang. Tidak peduli pada bahaya apa lagi yang akan datang menerjang didepan sana, Sarang hanya ingin berada disamping ibunya. Bukan meringkuk sendirian seperti ini. Menanti pada hal yang tidak pasti.

Berjam-jam dia menunggu. Beratus-ratus menit dia terdiam. Sampai akhirnya, suara pagar yang dibuka mengusik telinganya. Dan…

“Ibu!” Serunya seraya mengangkat kepala yang semula tertunduk.

Namun, senyum itu berangsur menghilang dan tergantikan dengan raut waspada. Bukan ibunya yang datang, melainkan seorang pria—yang tidak dikenalnya, lagi.

Sarang terburu-buru mengangkat tubuhnya. Semakin beringsut ke belakang saat pria itu melangkahkan kakinya mendekat. Masih dengan bibir yang bergetar ketakutan, dia berkata, “P-paman siapa?”

Satu senyum menenangkan dia dapatkan kemudian. Mata Sarang mengerjap dua kali. Pria ini tidak menakutkan. Matanya teduh dan… garis wajahnya lembut. Siapa dia?

“Apa kau putri dari Lee Sena?”

Mendengar nama ibunya disebut, Sarang melupakan rasa takutnya. Dia justru mendekati pria itu dengan langkahnya yang serampangan hingga membuatnya hampir mencium tanah jika saja tubuhnya tidak segera ditangkap.

“Hati-hati, Gadis Kecil.”

“Paman mengenal ibuku?” Mengabaikan nasihat itu, Sarang malah sibuk menanyakan ibunya.

Pria itu kembali tersenyum. Lantas berjongkok didepannya dengan satu lutut yang dia biarkan menyentuh bumi.

“Paman jawab Sarang, apa Paman mengenal ibu?” Mata yang semula berangsur baik-baik saja, kini dipenuhi lagi oleh sejumput likuid yang siap tumpah. Ada kekhawatiran sekaligus lega disaat bersamaan. Orang ini mengenal ibunya, dan orang ini kelihatan baik, mungkin dia bisa meminta tolong padanya.

“Ibu dikejar oleh orang jahat, Paman,” tangisnya pecah.  Isak menyusul kemudian. “Sarang tidak tahu ibu kemana. Sarang hanya menunggu disini tapi ibu tidak kembali. B-bisakah… Paman menolong ibu? Sarang mohon…”

Pedih menghentak dada Donghae. Dia melipat bibir kedalam, lantas mendongakkan kepalanya sejenak. Menghalau air hangat yang tiba-tiba saja datang dan ingin meluncur dari kedua pelupuk matanya. Menarik nafas dalam, memberikan usapan sayang pada gadis kecil itu, dia pun mengangguk.

“Ibumu baik-baik saja,” ujarnya.

Setelah kalimatnya rampung, Sarang menghentikan tangisnya. Begitu cepat. Dan… tepat. Tidak ada jeda. Tidak ada isak lagi disana, atau bahkan air mata yang mengalir. Gadis itu mengganti wajahnya menjadi sebuah raut kaget nan lucu, yang justru mengundang dirinya untuk tertawa diatas kepedihan.

Ayolah, bagaimana bisa ada seorang gadis yang seperti ini? Didetik lalu, Donghae dibuat ikut merasakan sakitnya saat dia menangis lalu, masih dengan gadis yang sama pula, dia malah harus dibuat menahan tawa detik selanjutnya.

“Ng… Ibu baik-baik saja?” Sarang membeo.

M-hm,” Donghae mengangguk. “Dia sekarang ada di rumah Paman. Tertidur nyenyak. Makanya Paman kesini untuk menjemputmu.”

Alis Sarang mengerut. “Paman tidak sedang menipuku, bukan?”

Dan kini, Donghae diberi hadiah dengan raut wajah semi-menjengkelkan miliknya. Gadis itu menatapnya seolah-olah dia adalah penipu yang sedang menyamar dan patut untuk dicurigai. Tidak mengherankan memang, mengingat beberapa jam lalu dia baru saja melewati satu tantangan dalam hidupnya dan berkaitan dengan orang asing yang mencoba melukai ibunya. Tetapi wajah jelek itu, justru mengantarkan Donghae pada satu premis, yang sangat ingin dia buktikan kebenarannya.

Dia menghela nafas, menyiapkan kata-kata untuk membalas pertanyaan itu, namun harus urung saat Sarang kembali bersuara. Dengan nada lirih.

“Kenapa ibu suka sekali begitu?”

Sekarang berganti Donghae yang mengerutkan alis. “Begitu, bagaimana maksudnya?”

“Membuat Sarang cemas.” Bibirnya mengerucut. “Paman tahu, sejak tadi Sarang duduk disini. Menungugunya. Dan kedinginan. Tapi ibu malah asyik tidur. Menyebalkan, bukan?”

Donghae tersenyum, patah. Lantas berdiri menjulang dihadapan gadis itu. “Sekarang Sarang mau ikut Paman untuk menemuinya?”

Sarang mengangguk, dengan menggigit-gigit kecil bibirnya. “Sarang ingin bersama ibu. Memastikan bahwa dia benar-benar baik-baik saja.”

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi saat Donghae memarkirkan Audi-nya di dalam basement.

Menarik perseneling yang berada di sampingnya, mata Donghae kemudian bergulir pada sosok kecil yang sejak tadi menemani perjalanannya dengan kondisi terjaga. Gadis cilik itu tidak tertidur sama sekali meskipun Donghae sudah menyuruhnya untuk memejamkan mata dan akan membangunkannya saat mobil sudah mencapai tempat tujuan. Entah itu sebagai salah satu caranya mengantisipasi—karena mungkin di dalam otaknya berkeliaran bahwa Donghae akan menculiknya—atau memang dia tidak mengantuk lantaran masih cemas pada ibunya.

Namun, menilik dari beberapa percakapan mereka tadi, Donghae membuat satu kesimpulan bahwa gadis ini memang gadis cilik keras kepala yang beruntungnya memiliki sikap dewasa.

Lima detik dia memandanginya, Sarang pun ikut menoleh kepadanya. Memberikan secuil senyum manis yang membuatnya mau tak mau mendengus geli.

“Ayo masuk!” ajaknya kemudian.

Mereka berjalan beriringan menuju lift yang terletak tidak jauh dari mobilnya terparkir. Dan begitu memasuki boks tersebut, Sarang dibuat takjub saat dirinya merasakan tubuhnya melayang selepas Donghae menekan tombol berangka 7.

“Kenapa, Sarang?” tanya Donghae begitu melihat wajah Sarang syok.

Gadis itu menggeleng. Lantas kembali tersenyum.

Sebelumnya, Sarang tidak pernah memasuki alat seperti ini. Dan saat pertama kali merasakannya, dia justru dibuat melayang. Bukankah mengasyikkan?

Namun, kenikmatan itu hanya terjadi sementara saat Donghae melangkahkan kakinya dan pintu terbuka. Belum rampung dia menikmati sisa-sisa sensasi didalam lift, saat kedua matanya disajikan pada satu koridor lurus berkarpet merah yang ada didepannya.

Ditambah dengan lampu-lampu kuning pucat yang berjejer diatas kepala dan tembok halus yang diukir indah, sekali lagi Sarang dibuat berdecak kagum.

Ini cantik sekali. Gumamnya.

“Jadi, rumah Paman ada didalam gedung ya?” ujarnya memecah hening.

“Masa? Memangnya ini didalam gedung, ya?”

Sarang mengangguk. “Tadi sebelum Paman memarkirkan mobil, Sarang melihat gedung tinggi yang banyak lampunya. Gedung itu, tempat kita berjalan sekarang ‘kan?”

Donghae tersenyum. “Ya, kau benar.”

Lalu, mereka berhenti didepan sebuah pintu bernomor 703. Sarang memerhatikan Donghae menekan kombinasi angka untuk mendapatkan akses masuk. Begitu dipersilahkan, matanya lagi-lagi membelalak.

Tempat tinggal paman ini sangat, sangat, sangat indah. Bagus sekali.

Sebentar, Sarang dibuat memaku. Mengedarkan pandang pada segala arah. Sekali lagi menikmati hasil kerja tangan manusia yang begitu apik membuat ruangan ini menarik perhatiannya.

“Tempat tinggal paman besar sekali. Dan bagus,” gumamnya saat Donghae menuntunnya berjalan.

“Rumah Jasmine lebih bagus.” Sahutnya.

Sarang berhenti bergerak, kepalanya sontak mendongak. Memerhatikan Donghae dengan seksama, membuat pria itu turut menghentikan langkah.

“Paman mengenal Jasmine?”

“Tentu saja.”

“Bagaimana bisa?”

“Karena ayahnya Jasmine adalah sahabat Paman.”

Sarang membulatkan bibir, menggaruk pipinya yang memiliki semburat merah. “Apa karena itu, paman mengenal ibu?” tanyanya kemudian.

Oh, satu hal yang lupa dia tanyakan. Bagaimana caranya paman ini mengenal ibunya. Saat Donghae mengatakan bahwa ibunya berada disini, dia bahkan tidak bisa berpikir apa-apa lagi dan langsung mengiyakan ajakannya. Alpa pada identitas pria ini sebenarnya siapa.

Lalu, pertanyaannya itu terbalas hanya dengan satu senyuman lembut. Donghae malah menuntunnya untuk memasuki lebih dalam unit tersebut. Berselang sepuluh detik, langkahnya harus terhenti lagi saat melihat sosok tak asing sedang terlelap di atas sofabed yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Dengan kemeja abu-abu yang berantakan, rambut tidak tertata rapi serta tangan yang memiliki banyak luka, wajah itu terlihat damai dalam tidurnya.

Sarang mengenal orang itu.

Dahinya kemudian berlipat. Matanya pun menyipit saat memori-memori dalam otaknya bekerja cepat, hingga…

“Bukankah itu— pamannya Jasmine?” tanya Sarang, lagi.

Donghae ikut menggulirkan matanya pada sosok Kyuhyun yang sedang tertidur. Tadi, sebelum menjemput Sarang di rumahnya, dia memang memaksa pria itu untuk beristirahat. Karena wajahnya terlihat lelah.

Sebenarnya, Kyuhyun lah yang memiliki ide awal menjemput anak ini. Seolah tahu bahwa mungkin, Sarang akan sendirian di rumah, yang ternyata memang benar. Atau Sena yang mungkin akan kelimpungan memikirkan nasib putrinya setelah sadar.

Namun, Donghae melarang. Dan berakhir dengan dirinya yang memutuskan untuk membawa Sarang kemari.

“—dia yang waktu itu mengantar Sarang bersama Jasmine dan… Snow White.”

“Snow White?” Donghae mengalihkan fokus. Menatap Sarang dengan wajah bodohnya.

Sarang mengangguk.

“Siapa itu?”

“Paman tidak mengenalnya?”

Donghae—terpaksa harus—menggeleng. Karena memang benar-benar tidak tahu.

Sarang menghembuskan nafas. Wajahnya sok tua, seolah dia lebih tahu dibanding pria berusia tiga puluh tahun itu.

“Itu lho perempuan cantik yang rambutnya pendek. Masa Paman tidak tahu. Aneh! Paman baru saja bilang sendiri kalau paman mengenal Jasmine, bersahabat dengan ayahnya, dan pamannya Jasmine yang sedang tertidur itu ada disini, mana mungkin paman tidak mengenalnya.” Jelasnya panjang lebar tak menentu. Padahal yang Donghae tanyakan adalah ‘siapa’ kenapa jadi dia yang disalahkan.

Tetapi mendengar kalimat perempuan cantik yang berambut pendek, membuatnya seketika paham siapa yang dimaksud oleh anak ini.

Tak mau memperpanjang masalah, dia pun lebih memilih mengalah.

“Baiklah, paman tahu. Paman paham. Sekarang, kita temui ibumu. Sarang ingin melihatnya bukan?”

Setelah mendapatkan anggukan dari gadis itu, Donghae menuntunya kembali berjalan pada salah satu kamar. Meski terkadang, dengan matanya, Sarang mencuri pandang pada Kyuhyun yang sedang tertidur. Barulah, setelah dihadapkan langsung pada sosok yang terbaring diatas tempat tidur, kecemasan yang sempat menghilang dari benaknya itu, terkumpul kembali menjadi satu.

Sesuatu mendesak matanya, lagi. Pandangan yang semula baik-baik saja, perlahan memburam.

Ibunya ada disana. Memejamkan mata dengan jarum infus yang berada di salah satu tangannya. Sementara wajah indah yang selama ini dikaguminya dirusak oleh rona biru keungunan dan luka kering.

Air mata pun tak kuasa untuk tetap bertahan. Benda cair itu jatuh seiring dengan langkah kakinya yang secara perlahan mendekati Sena. Sarang sudah tidak peduli lagi pada Donghae yang ada dibelakangnya. Keinginannya sekarang adalah berbaring disamping perempuan itu. Memeluknya erat.

Menyeret tubuhnya yang sudah lepas dari bantuan kruk, Sarang bergerak semakin dekat. Lalu, dengan bahasa halus, tubuhnya dia baringkan tepat disamping ibunya. Tangan kecilnya pun tak lupa untuk ikut terulur memeluk leher itu renggang.

Isaknya pecah saat dia sadar, bahwa dia tidak akan pernah bisa kehilangan sosok ini. Dia takut.

“Maaf, Sarang baru bisa menemui ibu… Ibu, jangan marah… J-jangan seperti ini…”

Donghae memalingkan wajah. Tak kuasa menahan emosi dalam dirinya. Dia tahu sekarang darimana Sarang mendapatkan sifat polos dan sensitif itu. Sena menurunkannya dengan sempurna.

Satu senyum patah terpatri di wajahnya kemudian.

Menenangkan jantungnya yang dihentak rasa pedih, Donghae pun ikut melangkahkan kakinya mendekat. Duduk di kursi kosong yang sama sekali belum dipindahkan darisana. Mulutnya terbuka, hampir mengucapkan kalimat saat tahu-tahu Sarang sudah menyelanya dengan suara sengau.

“Paman bilang, ibu baik-baik saja. Tapi kenapa… kenapa wajah ibu seperti ini? Kenapa ada jarum di tangan ibu?”

“Ibumu memang baik-baik saja, Gadis Kecil. Paman tidak bohong. Sungguh. Ibumu hanya… mengalami dehidrasi dan anemia makanya ada jarum disana. Besok juga ibumu akan bangun, jadi Sarang tidak usah menangis begitu.”

Sarang menggeleng berat, wajahnya dia benamkan lagi pada ceruk leher Sena. “Tapi ibu terlihat kesakitan. Wajahnya… kenapa banyak sekali luka, Paman? Apa orang jahat itu yang melakukannya?”

Donghae kembali tersenyum masam. Merelakan genangan air yang memenuhi matanya terjatuh ke atas lantai. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

Saat pertama kali melihat Sena , dia pun memiliki pertanyaan yang sama seperti gadis itu. Dia tidak tega tetapi dia juga tidak mampu.

“Sarang—”

“Kenapa banyak sekali orang yang jahat pada ibu? Memangnya ibu salah apa?”

“Ibumu tidak salah. Dia hanya terlalu baik.”

“Bukankah orang baik harusnya disayangi?”

Donghae mengangguk.

“Lalu kenapa—”

“Sarang.” Donghae menyela. Bukan karena tidak suka. Dia hanya tidak mau mendengar pertanyaan-pertanyaan lugu gadis itu yang justru memojokkannya pada sebuah fakta. Sarang masih terlalu kecil untuk mengerti bagaimana dunia bisa berlaku dengan kejam terhadap orang-orang seperti mereka.

“Apa kau menyayanginya?” pertanyaannya dibalas dengan anggukan patah-patah oleh gadis itu lantaran terlalu sibuk menahan isak. Donghae menghembuskan nafas, melanjutkan, “Jika memang menyayanginya, maukah kau berhenti menangis?”

Sarang memfokuskan mata pada Donghae dengan alis berkerut. Dibalas senyum oleh sang pemilik wajah.

“Berhentilah. Percaya pada paman, ibumu baik-baik saja, hng? Sekarang, Sarang lebih baik tidur. Istirahat. Sarang tidak mau ‘kan membangunkan ibu lalu membuatnya cemas saat melihat air mata itu?”

Sarang kembali mengangguk. Lalu, sama seperti tadi; tanpa jeda gadis itu mengubah raut wajahnya menjadi lebih baik lagi.

“Tidurlah. Ini sudah hampir pagi.” Donghae mengusak sejenak puncak kepala Sarang, lantas membawa kakinya menjejak petak marmer. Pergi dari kamar itu, sebelum suaranya kembali menginterupsi.

“Paman.” Donghae menoleh. “Terima kasih sudah menolong ibu. Sarang janji, tidak akan pernah melupakan malam ini. Terima kasih.”

.

.

.

Sena mengerjapkan mata berulang kali saat cahaya panas menyerang tubuhnya. Pening pun mendera tatkala mencoba membuka kelopak. Sejenak, dia memejam; menetralisir rasa berdenyut itu. Kemudian, sekali lagi, berusaha membuka mata.

Pandangannya buram. Semua terlihat saru, termasuk wajah itu.

Tunggu. Wajah?

Gelengan kepala dia lakukan kemudian agar mendapatkan fokus, namun pening itu justru kembali datang. Hingga dia harus membawa sebelah tangannya ke kepala, menahan rasa sakit.

“Ahh…” rintihnya.

“Kau baik-baik saja?”

Tangannya hangat. Dan suaranya mengalun lembut.

Lagi, dia membuka kedua matanya perlahan. Beradaptasi pada terangnya ruangan saat ini. Setelah mendapatkan lagi fokusnya, barulah dia memberanikan diri menatap si pemilik wajah. Desahan lega lolos dari bibirnya kemudian.

Bukan. Pria didepannya bukan Jung Haejin. Sena berusaha menenangkan detak jantungnya yang sempat menggila. Mengucap syukur sebanyak-banyaknya saat tahu bahwa dia sudah lepas dari bahaya yang mengincarnya semalam.

Bibirnya kemudian terbuka, hendak membuka suara, namun urung lantaran tenggorokannya yang kering kini terasa sakit. Seperti ada sekop yang berusaha mengeruk bagian dalam lehernya. Dia mencoba menelan ludah, namun rasanya justru semakin sakit.

“Kau mau minum?”

Hanya anggukan yang dia berikan. Lalu, dengan dibantu untuk duduk di atas ranjang, dia pun meneguk sebanyak-banyaknya air mineral yang diberikan oleh pria itu.

“Akhirnya kau sadar juga.”

Sena menoleh pada Donghae yang masih setia duduk di sampingnya.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

Perempuan itu terdiam sejenak, matanya menyusuri keadaan tubuhnya saat ini sampai iris itu terpaku pada jarum infus yang tertanan di punggung tangannya. Apa yang terjadi padanya?

“Anemia-mu kambuh. Dan kau mengalami dehidrasi,” seakan tahu apa yang ada di dalam kepala Sena, Donghae pun menjawab. “Sarang ada disini. Aku menjemputnya semalam. Dan sekarang anak itu sedang menonton TV di ruang tengah.”

“Sarang?” tanyanya serak.

Donghae mengangguk, lantas tersenyum kecil. “Aku tahu kau pasti akan mencarinya begitu sadar.”

“Apa dia baik-baik saja?”

“Sempat menangis. Tetapi dia baik-baik saja sekarang.”

Sena menyentuh dadanya. Merasa bersalah lantaran telah meninggalkan anak itu sendiri. “Dia pasti ketakutan.”

“Tidak. Dia anak yang penurut. Berani. Dan bisa menjaga diri.”

Sena merenung. Kejadian malam tadi, benar-benar membuatnya ketakutan. Dan hilang akal. Dia bahkan sudah lelah untuk berharap. Dia pikir semua akan terulang seperti yang terjadi delapan tahun lalu saat dia pikir usahanya akan sia-sia. Beruntung Tuhan masih mau memberikan kemurahan hati-Nya sehingga dia bisa bernafas dengan normal saat ini.

Entah apa yang akan terjadi jika pria itu benar-benar melakukannya. Sena mungkin tidak akan punya muka lagi untuk berdiri dihadapan Junghoon. Dan mempertahankan rumah tangganya yang berangsur runtuh. Lebih buruk lagi jika Haejin memang berniat membunuhnya, mengingat wajah pria itu dikuasai oleh amarah, bisa jadi semalam akan menjadi momen terakhirnya untuk bersama Sarang.

Sekali lagi, Sena mengucap syukur. Tidak ada yang lebih dia khawatirkan kecuali meninggalkan Sarang hidup sendiri di dunia yang—katanya—kejam ini. Karena mereka hanya memiliki satu sama lain. Sarang tempatnya kembali. Dan dia adalah tempat berlindungnya gadis kecil itu saat ada tokoh lain yang berusaha untuk mengucilkannya.

“Sena, kau tidak apa-apa?” Donghae beringsut lebih dekat saat melihat air mata Sena menjadi perlahan. Ada kekhawatiran yang tumpah melalui tatapannya. Memberanikan diri, dia pun meraih punggung ringkih itu untuk masuk ke dalam dekapannya. Berusaha menenangkannya.

“Aku takut, Oppa. Sarang tidak bisa sendiri. Sarang membutuhkanku. Bagaimana jika saat itu tidak ada yang menolongku? Bagaimana jika saat itu dia membunuhku? Sarang akan bersama siapa? Aku tidak bisa lagi menjaganya. Aku—”

“Sena, kau aman disini. Tenanglah. Kalian baik-baik saja. Dan akan selalu baik-baik saja. Kau bisa memegang janjiku ini. Hm?”

Sena balas mengeratkan pelukan itu beberapa saat, menikmati rengkuhan hangatnya, sebelum kemudian meregangkannya. Menatap tepat manik Donghae yang berwarna coklat gelap. Sementara pria itu berusaha menghapus jejak air mata di pipinya yang memiliki luka.

“Berhenti menangis. Mata ini pasti sudah lelah memproduksinya tahu!” ucapnya diiringi senyuman tipis.

“Terima kasih sudah menolongku. Aku tidak tahu akan menjadi apa jika kau tidak datang.”

Gerakan tangan Donghae terhenti. Tatapannya berubah, tak lagi memancarkan sorot jenaka. Kini yang ada hanya raut terkejut.

“M-maksudmu?”

Tunggu. Ada yang salah.

Donghae tidak mengerti mengapa Sena tiba-tiba mengatakan bahwa dia yang menolongnya semalam, sementara yang terjadi sesungguhnya, Kyuhyun lah yang berada disana. Menghajar si keparat itu hingga tidak sadarkan diri. Bahkan dengan tolol membawanya kesini, bukan ke rumah sakit atau apartemennya.

“Aku beutang budi padamu, Oppa. Kau menyelamatkanku. Bahkan kau membawa putriku kesini hanya agar tidak membuatku cemas. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa.”

Nafas Donghae menjadi berat. Apakah… ini artinya Sena tidak mengingat Cho Kyuhyun? Sama sekali?

Donghae mengatupkan bibirnya. Ingin berkata tidak, namun sulit. Seperti ada yang melarangnya untuk berbicara. Bagaimana mungkin Sena tidak bisa mengingat ada Kyuhyun semalam? Tidak mungkin Sena mangalami amnesia ‘kan? Perempuan itu masih mengingat kejadian semalam, mengingat siapa dirinya, bahkan nama putrinya.

Ada sesuatu yang tidak beres.

“Mungkin, jika ada Junghoon Oppa, aku tidak akan merepotkanmu.” Sena kembali berbicara.

“Junghoon?” alis Donghae bertaut.

Tersenyum patah, lantas menghirup nafas dalam, Sena pun berkata, “Suamiku.”

A-a. Donghae membuka mulutnya sebesar kelingking. Hampir mengutuk—terkejut. Oh. Dia bahkan melupakan fakta bahwa Sena sudah menikah. Perempuan itu sudah terikat dengan pria yang bisa bebas sesuka hati menyentuhnya.

Batinnya menyumpah dalam hening. Dia benci mengakui fakta itu. Sungguh. Karena yang ter-setting didalam isi kepalanya selama mereka dipertemukan kembali, Sena adalah seorang single-parent. Dengan status Sarang—putrinya—adalah buah dari hasil perbuatan Kyuhyun dimasa lalu.

“Suami?” Donghae mendengus. Menjauhkan sedikit jaraknya dengan Sena. Lantas, dengan rahang yang mengetat dia berujar kembali, “Pria macam apa yang kau sebut suami itu, Sena? Dia bahkan tidak ada disana saat kau ditempatkan dalam kondisi terdesak. Dan suami macam apa pula yang membiarkan istrinya bekerja siang-malam?”

“Oppa, kau kenapa?”

“Kau yang kenapa!”

Dahi Sena mengernyit. Setelah tahu apa yang dimaksud oleh pria itu, dia pun berujar, “Oppa, Junghoon tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Apa kau membelanya?”

Sena terdiam. Tidak berusaha untuk menyangkal atau memberikan sederet pembelaan demi mengembalikan harga diri suaminya ke permukaan. Donghae memang benar, tetapi baginya selalu ada alasan dibalik sebuah tindakan. Dan Junghoon memilikinya.

“Sekarang katakan padaku, dimana dia saat kau sibuk banting tulang mencari uang? Kemana pria itu saat kau terancam dan putrimu hanya bisa meringkuk diam? Seorang diri. Aku tidak mengerti kenapa kau bisa menikahi orang seperti itu.”

“Oppa!”

Ada raut terkejut pada wajahnya. Tidak percaya pada apa yang didengarnya barusan. Karena setiap kata yang Donghae lantunkan seperti sebuah ribuan jarum yang datang menghujam. Sena tahu, reputasi Junghoon memang sudah sangat buruk bagi orang-orang yang berada disekelilingnya. Bagi orang-orang yang sudah mengetahui bagaimana dirinya harus berjuang melawan arus bersama putrinya.

Tetapi mendengar setiap hinaan itu, Sena tidak bisa menerimanya. Junghoon masih suaminya. Dan pria itu adalah ayah dari putrinya. Mereka adalah keluarga. Bagaimana mungkin dia bisa diam saja menanggapi semua itu meski, apa yang mereka katakan adalah kebenaran untuk kebaikannya sendiri.

Donghae kembali mendengus. Amarahnya sudah terpancing saat mengingat fakta-fakta tersebut. Donghae telah menganggap perempuan dihadapannya ini seperti adik kandungnya. Lalu saat ada orang lain memperlakukannya dengan cara yang tak lazim, apa dia harus menerimanya dengan ikhlas? Dia, sudah jelas, tidak terima.

Sena itu perempuan rapuh. Tidak ada alasan untuk orang lain agar bisa lebih menyakitinya lebih dalam. Dan menghancurkan segala pertahanannya.

“Sena, aku tahu kau adalah orang yang ceroboh. Kau selalu gegabah dalam mengambil keputusan. Dan suamimu, Junghoon, dia adalah keputusan gegabahmu bukan?”

Hening menguasai.

Perempuan itu menipiskan bibir. Dan iris mereka saling beradu.

Setelah berpuluh-puluh detik tak memberi jawaban, dia pun berujar singkat, “Tidak. Bukan.”

Kini berganti Donghae memejamkan mata. Berusaha menarik nafas dalam demi menahan rasa ingin membentak perempuan itu. “Sena, jangan menahan dirimu.” Ujarnya kemudian.

“Aku tidak menahan.”

“Ini semua bisa menjadi bumerang, kau tahu?”

“Apa yang sebenarnya kau permasalahkan, Oppa? Dia suamiku! Bagaimanapun kau tidak menyukainya, dia tetap suamiku!” suara Sena hampir frustasi saat mengatakannya. Sebisa mumngkin dia menahannya agar Sarang diluar sana tidak terpancing dengan percakapan ini. Bahkan jika dia tidak sedang dalam kondisi lemah, mungkin dia sudah memilih untuk keluar saja dari kamar ini. Dan menghindari pertengkaran yang menyulut diantara mereka.

Tetapi dia bisa apa, saat tubuhnya sendiri pun tidak mau mendukung. Justru membuatnya harus terjebak dalam situasi rumit, yang sulit dia hindarkan.

Donghae kembali bungkam, namun tidak dengan matanya yang mendingin. Berselang sepuluh detik, tawa miliknya pun meluncur. Terdengar sinis. Diiringi dengan anggukan yang Sena lihat seperti sebuah ejekan.

Tuhan, sebenarnya apa yang sedang mereka bahas saat ini? Kenapa tiba-tiba Donghae menjadi berbeda di matanya?

“Kau pernah bilang padaku, pernikahan kalian terjadi enam minggu setelah kejadian itu—“

Kini Sena menggeleng. Semakin tak mengerti dengan apa mau pria dihadapannya sekarang.

“—jika aku boleh berprasangka, kau menikahinya, itu… hanya untuk menutupi kehamilanmu. Benar?”

Bisa Donghae rasakan tubuh Sena menegang ditempat. Matanya yang membelalak, pun semakin menguatkan dugaannya. Terdengar kejam memang, tetapi memang reaksi seperti inilah yang diinginkannya.

Bibir perempuan itu mengatup. Pakem bahasa yang dipelajarinya, berfungsi saat ini juga. Dia sudah kehilangan vokal untuk membalas pernyataan Donghae.

“Sarang. Dia… apa dia… darah daging Cho Kyuhyun?”

Sena memejamkan mata. Meloloskan air asin yang beberapa saat lalu sudah ditahannya. Bibir bergetar itupun terlipat ke dalam, sebisa mungkin menahan erangan. Sementara tangannya dia gunakan untuk menutupi wajah.

Apa lagi sekarang?

Kenapa masalah ini harus disangkut-pautkan dengan pria itu? Sena sudah mencoba mematikan hatinya. Dan dia tidak beharap akan mendengar nama itu lagi, terlebih dengan membawa-bawa Sarang didalamnya. Dia tidak ingin nama mereka bersandingan.

Karena masih segar dalam ingatannya, bagaimana Cho Kyuhyun menghina putrinya begitu kejam. Menuduh apa yang tidak dia lihat dengan kedua mata telanjangya. Demi Tuhan, Sena ingin membencinya sejak saat itu.

“Oppa…”

“Kumohon, Sena, jangan tutupi semua ini.”

Perempuan itu kembali menggeleng. Tak percaya.

“Mungkin kau bisa menipu semua orang, termasuk Kyuhyun. Tapi tidak denganku.” Donghae menghela nafas, menyentuh kedua bahu Sena. Sebelum melanjutkan, “Hanya beberapa jam aku mengenalnya, aku bisa mengetahui, ada banyak persamaan yang mereka miliki.”

“Tidak. Oppa, mereka—”

“Demi Tuhan, Lee Sarang, putrimu yang berusia tujuh tahun itu, dia adalah benih dari seorang Cho Kyuhyun! Aku benar bukan? Kau tidak bisa menahan dirimu leb—”

“Kenapa kau selalu mengatakan bahwa Sarang adalah anak kandung Cho Kyuhyun?” potong Sena cepat. Wajahnya kentara sekali menahan amarah. Ada banyak emosi yang tersimpan didalam benaknya sana. Kecewa, sedih, marah. Semuanya bercampur jadi satu.

Dia menarik nafas dalam. Melawan detak jantungnya yang menghentak hebat. Dan berusaha meredam pilu, meski harus kesulitan.

“Banyak pria yang sudah menyetubuhiku, Oppa. Menanamkan benihnya di rahimku.”

Donghae tertegun. Bahkan untuk sesaat dia lupa caranya bernafas.

Cengkraman tangannya pada bahu Sena mengendur, untuk kemudian, perlahan demi perlahan jatuh mengikuti hukum gravitasi.

Nyeri menghantam ulu hatinya kini. Mencoba meminta pertolongan pun tidak mungkin. Indranya sudah terlanjur mendengar satu fakta yang dulu sempat dia tak pedulikan.

Lalu, seolah belum cukup membuatnya menjadi idiot, Sena kembali berujar dengan suaranya yang semakin serak, “Aku dijual. Dan mereka memperkosaku secara bergantian. Mereka menghukumku selayaknya aku ini adalah barang yang bisa mereka mainkan sesuka hati. Aku masih ingat semuanya, Oppa. Aku bahkan sudah kotor saat Kyuhyun Oppa melakukannya.”

Donghae tak kuasa menahan air mata. Bibirnya hanya terbuka tak bisa berkata-kata. Tangannya mengepal ingin melampiaskan kemarahan yang datang tiba-tiba. Diperkosa? Secara bergantian?

Dia tersedak oleh kepiluannya sendiri. Kenapa Sena harus melalui hal seperti itu? Tidakkah ini terlalu kejam?

“Percayalah, aku pergi, bukan tanpa alasan. Aku malu pada diriku sendiri, Oppa. Aku merasa tidak pantas untuknya. Hubungan kami, sudah memiliki banyak perbedaan. Dia pria kaya, sementara aku hanya gadis biasa. Dia bisa membeli segala, sedang aku hanya bisa berharap. Tidak perlu ditambah dengan status hina yang melekat pada tubuhku untuk membuat perbedaan itu semakin nyata dan—”

“Sena, hentikan. Kumohon. Hentikan.” Pinta Donghae frustasi. Memohon dengan sangat.

Tangis ikut Sena meledak. Pada akhirnya, dia memang harus membocorkan rahasia itu pada Lee Donghae, pria yang dulu dia harapkan ada untuk menolongnya namun tidak pernah datang. Kini, meski terdengar menyakitkan untuk diulang, setidaknya dia memiliki satu alasan untuk menyanggah.

Sarang memang putrinya. Tetapi mengungkap tabir siapa pemilik darah yang mengalir didalam tubuh itu, biarlah hanya menjadi satu rahasia besar miliknya. Biarkan dia menyimpannya dalam-dalam. Kalau perlu sampai kisah ini berakhir.

Keduanya masih sama-sama menikmati sayatan luka masa lalu itu. Berkubang dalam duka. Dan berbagi tangis bersama. Tanpa mereka tahu, sepasang indra dari pemeran lain, telah mendengar semuanya dibalik dinding. Mencicit dengan irama pedih yang tidak bisa dia tolak kehadirannya.

Karena sejatinya, kenyataan memang lebih menyakitkan dibanding sebuah angan.

Dia, Cho Kyuhyun, melebur dalam nestapa.

—tbc


Ha! Akhirnyah… Ke posting juga. Greget saya sama cerita ini. Serius. Kalian gitu juga gak? Karena momen Kyuhyun x Sena disini tuh terkesan hina banget ampe udah ngetik berpart-part pun bagian mereka di satu scenes, masih aja jarang. Sekalinya ada, pengennya nabok Kyuhyun. Beda lah sensasinya ama FH. Disana Kyu-Na nya banyak. Dan sama-sama kuat karakternya. Fiyuuhh~~

Btw, ini cerita saya persingkat. Mudah-mudahan aja tadi masih enjoy ihihi. Makasih ya yang udah baca dan bersedia nge-like + komen 💕 well, meskipun tulisan saya makin hari makin gak enak~

 

Advertisements

90 thoughts on “Intemporel – 6 (B)

  1. OMG..
    Drama banget sih ini..
    Nangis bombay. Gilakkk nguras emosi banget.
    Kejutan apalagi coba??

    Tragis banget sih nasib sena. Gregetan parah. Sumfehhh!!!
    Itu gmn ntar reaksi kyuhyun yahh??
    Ya ampun ep-ep nie kek puzle habis tau nggak sih.
    Suka banget gw..

    Like

  2. sempat kaget waktu ada notif masuk. ga gaunya duh yang ditunggu.. tetep yakin sih kalau sarang anaknya kyuhyun. semoga aja kyuhyun diam2 tes dna. pengen cepat tahu kebenarannya. perlahan kisah mereka dimasa lalu semakin jelas.

    Liked by 1 person

  3. Aduh.. Nyesek banget baca ceritanya.. Adminnya bikin aku nangis. Hiks hiks…
    Kasian sena menghadapi cobaan yg dia lalui. Kenapa sih kyuhyun begitu membencinya tanpa tahu alasan sena sebenarnya. Next chingu. Nggak sabaran nunggu part selanjutnya.

    Like

  4. Ohh jadi itu toh awal mimpi buruknya.
    Siapa yang udah tega jual sena?
    Gimana reaksi kyu pas tau yang sebenarnya?
    Pantes aj dulu sena pernah minta kyu ngebunuh dia aja, jadi dia itu korban perdagangan manusia, trus kyu nyangka’a sena itu kerja kaya gitu, nyari uang dengan cara kaya gitu, yang nyebabin kyu jadi benci ama orang miskin.

    Liked by 1 person

  5. Aduhhhhh
    Kasian bnget ama nasib sarang n sena

    Mereka terlalu baik utk disakiti

    Kejam bnget yg nyakitin merekaaaaa

    Untung ad donghae dtg jemput sarang

    Ga kebayang

    Pasti ketakutan banget srang nya
    Kyu udh dnger semuanyaaaa

    Bisakah kyu selidikin sarang

    Snow white ama yg lain aj jgn ama kyu

    Biarkan kyu ama sena

    Jgn dipercepat dong chingu

    Masih mau baca terus ceritamu yg ini
    Please

    Like

  6. Ahhh makin greget😣😣😣 kyu denger tuh di balik pintu . Reaksinya gimana yahh?? Apa bakal nerima sarang atau memang gabakal percaya lgii??? Sbnrnya mereka msh sling cintaaa cmn kenapa ego nya gede😭😭 persatukan mereka lagii plisss❣💕

    Like

  7. Hidup sena rumit banget … semoga kyuhyun mendemgar pembicaraan Sena ama donghae … Suami sena emang bener bener gc tau diri -_- … Semangat kelanjutannya

    Like

  8. tuh kaaaann…iihhh…Sena menderita banget, ternyata Kyuhyun pelakunya. Ya Ampun hukuman kyuhyun karean ‘dikhianati’ Sena ngeri banget. walau aku ragu sena benar2 mengkhianati kyuhyun atau tidak ( aku rasa tidak- semoga bener) dan Ayah sarang aku sih yakin Kyuhyun. sedikit2 mulai terkuak masa lalu dan rahasia mereka. dan kalo udah gini aku pengen Kyuhyun sendiri yang wajib membahagiakan sena setelah menyiksanya sampe seperti itu! dan mengenai suami sena ..buang aja kelaut!
    seperti kata authornya ff ini bikin greget dan aku juga ngerasain itu…
    hiatus baca ff..pecah telor setelah temen infoin ff ini udah sampe part 6B (ga nengok blog soalnya hehe) ditungguuuu banget lanjutannya ya..:D

    Liked by 1 person

  9. Yahh nyesel abis Tuh kyuhyun yakinnn, Sumpah Gregetan Parah, rasanya Mau neriakin ke kyuhyun ato donghae ato siapa pun Kalo Sena itu Sakit bangetttt. Kalo Sena itu nutupin semua rahasia Buat kenyamanan semua orang, Buat Jaga Harga diri dia yg Terakhir, Meskipun dihina Tapi dia Tetep nerima, Parah parahhhh sumpahhjjj ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh

    Like

  10. Dan Kyuhyun making berkubang dalam luka. Making parah dan terus bertambah. Sena separah ini hidup masa lalunya, huh, dan apa Donghae emang cuma ‘penyelamat’ rasanya Donghae terlalu khawatir sama Sena. Peluk Kyuhyun. Kenyataan emang pahit, hyun.

    Like

  11. Waduhhh udah mulai kebuka dikit2 nihh, mungkin kyuhyun salah paham perna kepergok sena waktu samo cowok lain wajtu s3na di jual. Mungkin juga ada yang ngomporin kyuhyun biar gak percaya sena..

    Kasian sarang dan sena..moga kyuhyun lebih perhatiin sarang deh kesian sarang gak pern ngerasaain punya bapak 😢😢😢

    Like

  12. Sedari awal baca cerita ini selalu sedih… dan ternyata kehidupan Sena memang sangat miris, tapi siapa yg membuat Sena menjadi demikian. Masih banyak sekali yang belum terjawab…. ditunggu kelanjutannya.

    Like

  13. Akhirnya rahasia ff ini mulai terkuak satu persatu, seperti reader lain aku maunya sarang anak kyuhyun sm sena. Yah walaupun siapapun jg gak papa, yg penting sarang,,, oh ya ampun ini anak dewasa banget!!!
    kyu, kyu, kyu, lagi ngrasain penyesalan yg banget ya????
    yukk, aku temenin meratapi semua kesalahan kamu ahahaha
    ditunggu part selanjutnya ya

    Like

  14. gx cuma greget eon rasanya ff mu ini mau gue makan wkwk duhhhhhh kyu kenapa bisa sena di jual??? apa kyu gx tau permasalah sena or keluarganya???
    sepertinya kyuna bkl susah bersatu walaupun bisa rintangan yg mereka hadapi lbh besar jadi sedih ㅠㅠㅠㅠ sarang kasihan dia msh kecil udh ngerasain penderitaan kadang tuhan gx adil ya knpa nyiptain org ada yg kaya/miskin cantik/jelek kenapa gx sama aja???

    Like

  15. Nangisss 😥 ya allah ini bener-bener ngena banget. Aku gak bisa jadi Sena, dia menderit banget. Kapan dia bahagianya? Kak, buat Kyuhyun pertahani Sena please, dia udah tahu kebenarannya. Aku yakin disini Sena juga psti msih sayang bnget sm kyuhyunn…

    Like

  16. Pingback: Intemporel – 7 | DREAM & ENDLESS

  17. untung kyuhyun ada ditempat jdi bisa menolong sena, dn juga kirain mereka bakalan lupa sana sarang huhh untunglah sarang nggak sampai menghilang juga.. kyuhyun sangat khawatir banget saat sena hampir diperkosa. di bingung hubungan sena sama donghae dulu apa yaa? semoga sarang beneran anak kyuhyun.. biar bisa menyatukan mereka tapi sampai kapan menutupi sarang itu anaknya siapa 😦

    Like

  18. Aku harap kyu masih di sna dengerin keluh kesahnya sena setidaknya dia harus tau gmn menderitanya sena, hidup sena enggk ada enaknya sama sekali terus menderita
    Trus sarang berrti bneran anak kyu??
    Ckckkc seandainya kyu tau

    Like

  19. Yakin seyakin yakinnya sarang anaknya kyuhyun. Bahkan donghae pun yang baru kenal beberapa saat langsung bisa ngeliat kesamaan mereka. Sena dijual? Diperkosa oleh banyak orang what the? Jadi selama ini konfliknya astagaaa 😥😥😥 ditambah kyuhyun malah ngelakuin itu jyga ke sena. Sumpah sena itu wanita kaya apa sih ? Kuat bangetttt 😢😢😢 pokokmya garela kalau sampai endingnya ga happy 😖😖😖

    Like

  20. walaupun sena ttep bantah, klo srang bukan anak ny kyuhyun
    tpi ko aku msih yakin sarang anak kyuhyun yh,donghae ja lngsung nydar ps prtama kli ngliat, mreka punya ksmaan.

    jdi kyu prnah nglakuin itu ke sena, trus dya nyesel??

    Like

Leave Some Lovely Feedback (ɔˇ³ˇ)ɔ

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s